Nama : Schatzi Lovina R.
Ardita
NIM : 0506012210048
PEMAKNAAN RASISME DALAM FILM
(ANALISIS RESEPSI FILM GET OUT)
● Isu yang Dibahas
Isu utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah diskriminasi rasial yang dialami oleh karakter
Afrika-Amerika dalam film "Get Out". Film ini menggambarkan bagaimana orang kulit hitam
diperlakukan secara diskriminatif oleh orang kulit putih, serta perjuangan mereka untuk melawan
perlakuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penonton menginterpretasikan
nilai-nilai rasisme yang ditampilkan dalam film dan posisi mereka terhadap isu tersebut.
● Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode ini bertujuan untuk
memahami fenomena sosial dari perspektif subjek penelitian, yaitu penonton film. Analisis yang
digunakan adalah analisis resepsi berdasarkan teori Stuart Hall, yang menekankan pada bagaimana
audiens mengkonsumsi dan memberikan makna terhadap pesan media. Penelitian ini juga
mengidentifikasi posisi audiens dalam menerima pesan rasisme melalui tiga kemungkinan posisi
decoding: dominan, negosiasi, dan oposisi.
● Teori yang Digunakan
Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Resepsi dari Stuart Hall. Teori ini
menyatakan bahwa makna pesan media tidak selalu sesuai dengan maksud pengirim, dan dapat bervariasi
tergantung pada latar belakang budaya dan pengalaman audiens. Dalam konteks penelitian ini, penonton
film "Get Out" diharapkan memiliki interpretasi yang beragam terhadap tema rasisme berdasarkan
pengalaman dan pandangan mereka sendiri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan berada pada posisi oposisi terhadap
rasisme yang ditampilkan dalam film, meskipun ada beberapa yang berada pada posisi hegemonik
dominan.
POLIGAMI DALAM FILM (ANALISIS RESEPSI AUDIENS TERHADAP ALASAN POLIGAMI
DALAM FILM INDONESIA TAHUN 2006-2009)
● Isu yang Dibahas
Penelitian ini membahas resepsi audiens terhadap alasan poligami yang ditampilkan dalam tiga film
Indonesia, Berbagi Suami, Ayat-Ayat Cinta, dan Perempuan Berkalung Sorban. Film-film tersebut
menggambarkan berbagai alasan di balik praktik poligami, termasuk ketaatan agama, ekonomi, empati,
dan nafsu. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami bagaimana penonton dari latar belakang budaya yang
berbeda memaknai alasan poligami yang ditampilkan dalam film tersebut.
● Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis resepsi khalayak, yang merupakan
pendekatan kualitatif untuk mengkaji bagaimana khalayak memaknai pesan media. Penelitian ini
melibatkan enam informan dengan latar belakang agama dan pendidikan yang bervariasi: tiga informan
beragama Islam dan tiga beragama Katolik. Melalui wawancara mendalam, peneliti mengumpulkan data
tentang bagaimana masing-masing informan menafsirkan alasan poligami dalam film.
● Teori yang Digunakan
1. Teori Encoding-Decoding: Teori ini dikembangkan oleh Stuart Hall, yang menjelaskan proses
dimana media mengirimkan pesan (encoding) dan bagaimana audiens menguraikan (decoding)
pesan tersebut.
2. Analisis Resepsi: Metode ini menempatkan audiens sebagai subjek aktif dalam menghasilkan
makna dari teks media berdasarkan latar belakang budaya mereka. Ini mencakup pemahaman
bahwa makna tidak bersifat tetap dan dapat bervariasi antara individu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat berbagai pemaknaan alasan poligami di antara informan.
Informan beragama Islam cenderung berada pada posisi dominant-hegemonic, sementara informan
beragama Katolik lebih sering berada pada posisi oppositional. Beberapa informan juga menunjukkan
posisi negotiated, di mana mereka menerima beberapa alasan poligami tetapi menolak lainnya.
RESEPSI KHALAYAK TERHADAP KARAKTER DIFABEL DALAM FILM “WONDER”
● Isu yang Dibahas
Penelitian ini menyoroti bagaimana khalayak aktif memaknai karakter difabel dalam film “Wonder”. Film
ini berusaha menunjukkan karakter difabel sebagai individu yang memiliki potensi, namun juga
menampilkan mereka sebagai objek stigma dan diskriminasi. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan
perbedaan pemaknaan antara khalayak difabel dan non-difabel terhadap karakter tersebut. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa informan non-difabel cenderung memaknai karakter difabel melalui perspektif
negosiasi, sementara informan difabel lebih dominan dalam pemaknaan mereka, menekankan kesetaraan
dan potensi yang dimiliki.
● Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis resepsi. Data
dikumpulkan melalui analisis teks menggunakan semiotika televisi John Fiske, wawancara mendalam
dengan subjek penelitian yang terdiri dari khalayak difabel dan non-difabel.
● Teori yang Digunakan
1. Teori Penerimaan Pesan (Reception Theory): Menjelaskan bagaimana audiens mendekode pesan
media dengan tiga posisi yaitu posisi Dominan Hegemoni dimana audiens menerima pesan secara
utuh. Lalu posisi Negosiasi dimana audiens mengakui ideologi dalam pesan tetapi menerapkan
pengecualian. Dan posisi Oposisi dimana audiens menolak pesan dominan dan memaknai sesuai
perspektif sendiri.
2. Teori Stereotip: Menggambarkan bagaimana stereotip mempengaruhi cara orang memahami
kelompok tertentu, berdasarkan pandangan masyarakat yang telah ada sebelumnya.
3. Teori Representasi: Menjelaskan hubungan antara makna, bahasa, dan budaya, serta bagaimana
representasi memproduksi makna di antara anggota masyarakat.