Anda di halaman 1dari 45

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan, vitamin A esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup. Di

seluruh dunia diantara anak-anak prasekolah diperkirakan terdapat sebanyak 6-7 juta kasus baru xeroftalmia tiap tahun (WHO, 1991), kurang lebih 10% diantaranya menderita kerusakan kornea. Diantara yang menderita kerusakan kornea ini 60% meninggal dalam waktu satu tahun, sedangkan diantara yang hidup 25% menjadi buta dan 50-60% setengah buta. (Almatsier S, 2002) Kekurangan vitamin A adalah kontributor utama penyebab kematian pada anak dibawah usia 5 tahun. Upaya untuk meningkatkan kekurangan vitamin A pada anak dengan menggunakan suplemen dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi kematian sampai dengan 23%. Pada tahun 2004, setidaknya 190 juta anak berusia 6-59 bulan menerima setidaknya satu suplemen dosis tinggi vitamin A, dengan cakupan global sebesar 68 %. Anak-anak yang hidup pada negara yang baru berkembang memiliki banyak keuntungan dimana programprogram suplementasi di negara-negara tersebut meningkat sampai dengan 75% untuk target anak yang menerima sedikitnya satu kapsul vitamin A. (Unicef, 2007) Kekurangan vitamin A adalah penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah pada anak-anak dan meningkatkan resiko penyakit dan kematian akibat infeksi berat. Pada wanita hamil kekurangan vitamin A menyebabkan kebutaan dan dapat meningkatkan risiko kematian ibu. Kekurangan vitamin A merupakan masalah kesehatan masyarakat di lebih dari setengah dari semua negara, khususnya di Afrika dan Asia Tenggara, terjadi pada sebagian besar anak-anak dan wanita hamil di negara-negara berpendapatan rendah. Penting bagi kelangsungan hidup ibu dan anak, penyediaan vitamin yang memadai A pada daerah-daerah berisiko tinggi sehingga dapat secara signifikan mengurangi angka

kematian. Sebaliknya, ketiadaannya menyebabkan risiko tinggi tidak perlu penyakit dan kematian. 250 juta anak-anak prasekolah kekurangan vitamin A dan kemungkinan bahwa di daerah yang sama terjadi pula kekurangan vitamin A pada sebagian besar ibu. Diperkirakan kekurangan vitamin A 250.000-500.000 IU menyebabkan anak menjadi buta setiap tahunnya, setengah dari mereka mati dalam waktu 12 bulan saat kehilangan penglihatan mereka. (WHO, 2011) Direktorat Bina Gizi Masyarakat bekerja sama dengan SEAMEO TROPMED RCCN Universitas Indonesia, UNICEF dan Micronutrient Initiative pada tahun 2007 melakukan survei di 3 provinsi terpilih yaitu Kalimantan Barat, Lampung dan Sulawesi Tenggara untuk melihat cakupan suplementasi Vitamin A dan mengevaluasi manajemen program Vitamin A. Hasil survei menunjukkan bahwa di provinsi Kalimantan Barat cakupan Vitamin A pada bayi (6-11 bulan) adalah sebesar 55,8% dan anak balita (12-59 bulan) sebesar 56,6%, sementara untuk provinsi Lampung cakupan pada bayi adalah 82,4% dan anak balita 80,4%, dan Sulawesi Tenggara adalah 70,5% pada bayi dan anak balita sebesar 62,2%. Hasil survei juga menemukan bahwa sebanyak 70,2% bayi umur 6-11 bulan dan 13,9% anak balita umur 12-59 bulan mendapatkan suplementasi Vitamin A dengan dosis yang tidak sesuai umur. (Kemenkes RI, 2009) Masalah gizi yang utama di Indonesia adalah kurang kalori protein (KKP), kekurangan vitamin A yang dapat mengakibatkan xeropthalmia (sakit mata karena kekurangan vitamin A), misalnya rabun senja dan kebutaan. Disamping itu masalah kekurangan vitamin A merupakan masalah terpenting kedua yang perlu diatasi, karena hal ini melanda penderita yang luas jangkauan, terutama anak-anak balita. (Winarno, 1995) Hasil survei nasional xeropthalmia telah menurun dengan tajam 1,3% pada tahun 1978 menjadi 0,33 pada tahun 1992. Dari prevalensi tersebut masalah kurang vitamin A sudah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat lagi. Namun demikian di beberapa propinsi masih menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi seperti di Sulawesi Selatan 2,9% maluku 0,8% dan Sulawesi Tenggara 0,6%. (Depkes. RI., 2000).

Masalah kurang vitamin A subklinis di beberapa propinsi masih cukup memprihatinkan, karena 50% Balita masih mempunyai status vitamin A rendah. Kurang vitamin A akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berpengaruh pada kelangsungan hidup anak. Penanggulangan masalah kurang vitamin A saat ini bukan hanya untuk mencegah kebutaan, tetapi juga dikaitkan dengan upaya memacu pertumbuhan dan kesehatan anak guna menunjang penurunan angka kematian bayi dan berpotensi terhadap peningkatan produktifitas kerja orang dewasa. (Depkes. RI., 2000) Strategi penanggulangan kurang vitamin A masih bertumpu pada pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi, yang diberikan pada bayi (611 bulan), balita (15 tahun) dan ibu nifas. Berdasarkan laporan tahun 1998/1999, cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita masih di bawah 70% (Depkes. RI., 2000). Situasi tidak tercapainya cakupan program pemberian kapsul vitamin A pada anak balita terjadi di sejumlah puskesmas di Kota Bandar Lampung pada tahun 2003 menunjukkan cakupan program pemberian kapsul vitamin A tidak mencapai terget 80 %. (Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, 2003) Program penanggulangan kekurangan vitamin A di Tangerang telah dimulai sejak tahun 1970-an namun sampai saat ini masalah kekurangan vitamin A masih menjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Kekurangan vitamin A tingkat berat (Xeropthalmia) yang dapat menyebabkan kebutaan sudah jarang ditemui, tetapi kekurangan vitamin A tingkat sub-Klinis yaitu kekurangan vitamin A yang belum menampakkan gejala nyata masih diderita oleh sekitar 50 % balita di Indonesia. Sampai saat ini strategi penanggulangan kekurangan vitamin A masih bertumpu pada pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi. Kapsul Vitamin A biru (100.000 IU) diberikan kepada bayi (6-11 bulan) satu kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari atau Agustus, sedangkan kapsul Vitamin A merah (200.000 IU) diberikan kepada anak balita (1-5 tahun) setiap bulan Februari dan Agustus, serta kepada ibu nifas paling lambat 30 hari setelah melahirkan. Cakupan pemberian vitamin A tahun 2009 terlihat sedikit perbedaan antara pencapaian cakupan bila dibandingkan dengan sasaran proyeksi dengan sasaran yang ada (sasaran proyeksi 83.28%, sasaran yang ada 97.25%), tetapi kondisi seperti itu

telah diantisipasi dengan menambah 10% untuk jumlah vitamin A yang dibutuhkan. (Dinkes Kab. Tangerang, 2009) Program pemberian kapsul vitamin A di Kecamatan Cipondoh telah rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Pada tahun 2010 total jumlah balita di Kecamatan Cipondoh sebesar 2.098 balita, sedangkan balita yang mendapatkan kapsul vitamin A sejumlah 1.525 balita. Sementara program suplementasi kapsul vitamin A pada Februari 2011, balita yang mendapatkan kapsul vitamin A sejumlah 561 balita. (Puskesmas Cipondoh, 2011) I.2 Perumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Pemberian kapsul vitamin A oleh balita tergantung pada pengetahuan, sikap dan perilaku ibu. Dimana faktor-faktor tersebut diyakini mempengaruhi kesadaran ibu untuk memberikan kapsul vitamin A pada balita. Dengan demikian, masalah penelitian ini adalah Bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang kapsul vitamin A dengan perilaku pemberian kapsul vitamin A pada balita di Puskesmas Cipondoh ?

I.3

Tujuan Penelitian Sehubungan dengan masalah yang terdapat di atas, maka penelitian ini

bertujuan : 1. Tujuan umum Untuk mendapatkan gambaran antara pengetahuan dan sikap ibu tentang kapsul vitamin A terhadap perilaku pemberian vitamin A pada balita. 2. Tujuan khusus a. Diketahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang kapsul vitamin A b. Diketahui gambaran sikap ibu tentang pemberian kapsul vitamin A c. Diketahui gambaran perilaku ibu tentang pemberian kapsul vitamin A

d. Diketahui hubungan antara pengetahuan ibu mengenai vitamin A terhadap perilaku pemberian kapsul vitamin A. e. Diketahui hubungan antara sikap ibu terhadap perilaku pemberian kapsul vitamin A.

I.4

Manfaat Penelitian 1. Untuk ibu yang memiliki balita di Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang Agar ibu-ibu yang memiliki balita dapat mengetahui kegunaan serta fungsi dari vitamin A, sehingga menurunkan resiko terserang penyakit dan menurunkan tingkat kematian balita. 2. Untuk pembaca dan masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi dan menambah wawasan mengenai hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu terhadap perilaku ibu terhadap konsumsi kapsul vitamin A. Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu agar mengkonsumsi vitamin A baik bagi ibu maupun balitanya sehingga dapat meminimalkan angka kecacatan dan kematian pada anak. 3. Untuk Kepala Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kebiasaan ibu dalam memberikan kapsul vitamin A kepada Balita di Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk pengembangan kembali program selanjutnya. 4. Untuk Peneliti Dapat digunakan untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman penelitian tentang ilmu kedokteran khususnya di bidang ilmu gizi dan ilmu kesehatan masyarakat mengenai pemberian kapsul vitamin A pada balita.

5.

Untuk Institusi Pendidikan Sebagai bahan informasi bagi mahasiswa tentang pemberian kapsul

vitamin A pada balita.

BAB II LANDASAN TEORI

II.1.

Tinjauan Pustaka 1. Definisi Vitamin A adalah vitamin yang larut dalam lemak yang berasal dari dua sumber : preformed retinoid dan karotenoid provitamin. Retinoid, seperti retina dan retinoic acid, ditemukan dalam sumber hewani seperti hati dan ginjal sapi, kuning telur, dan susu. Karotenoid seperti betakaroten (yang memiliki aktivitas tertinggi vitamin A) yang ditemukan di tanaman seperti sayuran berwarna hijau serta sayuran dan buah-buahan yang berwarna merah jingga. Retinoid alami terdapat di semua organisme hidup, baik sebagai vitamin A yang belum terbentuk atau karotenoid, dan diperlukan untuk sejumlah besar proses-proses biologis seperti visi dan pertumbuhan sel. Kekurangan vitamin A jarang terjadi di negara-negara industri namun tetap menjadi perhatian di negara-negara berkembang, khususnya di daerah di mana malnutrisi adalah umum. Kekurangan berkepanjangan dapat menyebabkan xeroftalmia (mata kering) dan akhirnya kebutaan malam atau kebutaan total, serta gangguan kulit, diare infeksi (seperti campak) dan gangguan pernapasan. (Mayo Clinic, 2011) 2. Manfaat Vitamin A Fungsi biologis utama vitamin A berperan dalam

penglihatan. Penelitian juga menunjukkan bahwa vitamin A dapat mengurangi tingkat kematian dari campak, mencegah beberapa jenis kanker, membantu pertumbuhan dan pembangunan, dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Diet harian yang disarankan untuk vitamin A tingkat asupan oral telah dibuat oleh Lembaga Amerika Serikat untuk Pengobatan dari National Academy of Sciences untuk mencegah kekurangan vitamin A.(mayoclinic, 2011)

Vitamin A membantu membentuk dan menjaga kesehatan kulit, gigi, tulang serta jaringan lunak, dan selaput lendir. Hal ini juga dikenal sebagai retinol karena menghasilkan pigmen dalam retina mata. Vitamin A membantu penglihatan yang baik terutama di cahaya rendah. Vitamin A juga diperlukan untuk reproduksi dan menyusui. Vitamin A dibutuhkan untuk perkembangan tulang dan sel epitel yang membentuk email dalam pertumbuhan gigi. Pada kekurangan vitamin A, pertumbuhan tulang terhambat dan bentuk tulang tidak normal. Pada anak-anak yang kekurangan vitamin A, terjadi kegagalan dalam pertumbuhannya. Dimana vitamin A dalam hal ini berperan sebagai asam retinoat. Pembentukan sperma pada pria serta pembentukan sel telur dan perkembangan janin dalam kandungan membutuhkan vitamin A dalam bentuk retinol. Wanita hamil dengan status vitamin A rendah beresiko mengalami keguguran atau kesukaran dalam melahirkan. Kemampuan retinoid mempengaruhi perkembangan sel epitel dan kemampuan meningkatkan aktivitas sistem kekebalan yang berperan dalam pencegahan kanker kulit, tenggorokan, paru-paru, payudara dan kandung kemih.Vitamin A berpengaruh dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada manusia. Kekurangan vitamin A dapat menurunkan respon antibody yang bergantung pada limfosit yang berperan sebagai kekebalan pada tubuh seseorang. (Almatsier, 2003) Vitamin A telah digunakan dalam pencegahan dan pengobatan khusus pada neoplasma pra-ganas, ganas, dan rekuren. Asam retinoid telah ditemukan efektif dalam menekan sel pra-ganas di leukoplakia oral, laring displasia, metaplasia bronkial dan displasia, dan rahim dysplasia. Retinoid mencegah perkembangan primer kedua kanker pada pasien kanker kepala, leher dan paru-paru yang telah dirawat. Terutama retinoid dalam kombinasi dengan Interferon, telah digunakan untuk mengobati karsinoma sel skuamosa pada kulit dengan persentase 50-68%. Respon terapi asam retinoid juga telah ditunjukkan secara signifikan untuk meningkatkan kelangsungan hidup anak-anak dengan neuroblastoma dengan menekan sisa penyakit setelah kemoterapi. Sebuah studi klinis selama tiga tahun

menggunakan asam retinoat pada pasien dengan xeroderma pigmentosum menghasilkan penurunan yang signifikan dalam jumlah tumor kulit primer dan rekuren (karsinoma sel basal dan sel skuamosa). Frekuensi tumor meningkat 8,5 kali lipat setelah asam retinoat dihentikan. Leukemia akut promyelocytic telah terbukti merespon semua asam retinoid yang ditambahkan ke kemoterapi. Tingkat ketahanan hidup dalam dua penelitian secara acak dari 1.000 pasien yang diobati dengan semua asam retinoid (45 mg/m2 per hari) di samping kemoterapi menunjukkan peningkatan harapan hidup. Karena kadar asam retinoid yang digunakan dalam onkologi sangat tinggi, (dosis rata-rata 45-50 mg/m2 luas permukaan tubuh per hari, sampai dengan 330.000 IU per hari) menggunakan retinoid sintetik dalam upaya untuk mangatasi gajala toksisitas sedang. Kombinasi percobaan vitamin A dan interferon telah digunakan dalam penelitian manusia di karsinoma sel skuamosa, kanker leher rahim, karsinoma sel ginjal, leukemia myelogenous kronis, dan laring dysplasia. Sebuah studi baru-baru ini pada pasien dengan tumor sel skuamosa kepala dan leher menggunakan alpha-tokoferol dalam upaya untuk mangatasi toksisitas moderat dari alpha-interferon dan asam

retinoid. Antioksidan, khususnya vitamin E, telah diketahui untuk mencegah gejala keracunan vitamin A. (Niles, RM, 2000 ) Vitamin A mempertahankan integritas selaput lendir, meningkatkan permukaan glikoprotein, merupakan bagian integral dari produksi sekresi IgA, dan terlibat dalam kekebalan humoral dan seluler. Dalam sebuah studi di AS, 50% anak-anak yang didiagnosis dengan virus campak akut akibat kekurangan vitamin A. Terapi vitamin A dalam campak telah dikonfirmasi dalam banyak studi dimana telah mengurangi angka kematian oleh sedikitnya 50%. Infeksi RSV telah berkorelasi dengan vitamin A level rendah pada anak yang darahnya kadar vitamin A dinormalkan dengan administrasi 25.000 IU. Suntikan Intramuskular dari 2.000 IU sehari untuk bulan pertama kehidupan pada bayi sangat rendah berat lahir prematur telah digunakan untuk secara efektif menurunkan

10

risiko untuk dysplasia. bronkopulmonalis Anak-anak dengan tidak ada indikasi kekurangan vitamin A (retinol serum normal), tetapi kerentanan terhadap infeksi pernafasan, diberi vitamin A 3.800 IU tiga kali seminggu selama 11 bulan, sehingga kejadian 20% lebih rendah. Pewarna karotenoid yang berwarna gelap (pigmen) yang ditemukan pada makanan nabati yang dapat berubah menjadi bentuk vitamin A. Ada lebih dari 500 karotenoid yang dikenal. Salah satu karotenoid tersebut adalah beta-karoten.
y

Beta-karoten adalah antioksidan. Antioksidan melindungi sel dari kerusakan yang disebabkan oleh zat yang disebut radikal bebas. Radikal bebas diyakini berkontribusi terhadap penyakit kronis tertentu dan berperan dalam proses penuaan.

Makanan sumber karotenoid seperti beta-karoten dapat mengurangi resiko kanker.

Suplemen Beta-karoten tampaknya tidak mengurangi risiko kanker. (Shenai JP, Kennedy KA, 1987 )

2.

Sumber Makanan Vitamin A berasal dari sumber hewani seperti kuning telur, daging, susu,

keju, krim mentega, hati sapi, ginjal sapi dan minyak ikan. Namun, semua sumber makanan tersebut kecuali krim mentega dan susu yang telah diperkaya dengan Vitamin A tinggi lemak jenuh dan kolesterol. Sumber-sumber termasuk beta-karoten :
y

Buah-buahan berwarna kuning cerah dan oranye seperti melon, jeruk merah muda, dan apricot.

y y

Sayuran seperti wortel, labu, ubi jalar, dan squash musim dingin. Sumber-sumber beta-karoten termasuk brokoli, bayam, serta sayuran berdaun dan berwarna hijau gelap.

Warna yang lebih intens dari buah atau sayuran maka semakin tinggi kandungan beta-karoten. Sayuran sumber beta-karoten adalah lemak dan kolesterol bebas. (Lotan R, 1996)

11

3.

Tanda dan Gejala Kekurangan Vitamin A Kekurangan Vitamin A merupakan penyakit sistemik yang merusak sel

dan organ tubuh dan menghasilkan metaplasi keratinasi pada epitel, saluran nafas, saluran kemih dan saluran cerna. Penyakit Kekurangan Vitamin A tersebar luas dan merupakan penyebab gangguan gizi yang sangat penting. Prevalensi Kekurangan Vitamin A terdapat pada anak-anak dibawah usia lima tahun. Sampai akhir tahun 1960-an Kekurangan Vitamin A merupakan penyebab utama kebutaan pada anak. (Arisman, 2002) Mahdalia (2003) menyatakan bahwa tanda-tanda khas pada mata karena kekurangan vitamin A dimulai dari rabun senja dimana penglihatan penderita akan menurun pada senja hari bahkan tidak dapat melihat di lingkungan yang kurang cahaya. Pada tahap ini penglihatan akan membaik dalam waktu 2-4 hari dengan pemberian kapsul vitamin A yang benar. Bila dibiarkan dapat berkembang menjadi xerosis konjungtiva. Selaput lendir atau bagian putih bola mata tampak kering, berkeriput, dan berubah warna menjadi kecoklatan dengan permukaan terlihat kasar dan kusam. Kornea mata terpengaruh secara dini oleh kekurangan vitamin A. kelenjar air mata tidak mampu mengeluarkan air mata sehingga terjadi pengeringan pada selaput yang menutupi kornea dengan tanda pemburaman. Pelapisan sel epitel kornea yang akhirnya berakibat melunaknya dan bisa pecah yang menyebabkan kebutaan total. Beberapa tanda dan gejala lain jika kekurangan vitamin A adalah kelelahan yang sangat, anemia, kulit menjadi kering, gatal dan kasar. Pada rambut dapat terjadi kekeringan dan gangguan pertumbuhan rambut dan kuku. Xerosis konjungtiva akan membaik dalam 23 hari dan kelainan pada mata akan menghilang dalam waktu 2 minggu dengan pemberian kapsul vitamin A yang benar. Bila tidak ditangani akan tampak bercak putih seperti busa sabun atau keju yang disebut bercak Bitot terutama di daerah celah mata sisi luar. Pada keadaan berat akan tampak kekeringan pada seluruh permukaan konjungtiva atau bagian putih mata, serta konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut-kerut. Bila tidak segera diberi vitamin A, dapat

12

terjadi kebutaan dalam waktu yang sangat cepat. Tetapi dengan pemberian kapsul vitamin A yang benar dan dengan pengobatan yang benar bercak bitot akan membaik dalam 2-3 hari dan kelainan pada mata akan menghilang dalam 2 minggu. Tahap selanjutnya bila tidak ditangani akan terjadi xerosis kornea dimana kekeringan akan berlanjut sampai kornea atau bagian hitam mata. Kornea tampak suram dan kering dan permukaannya tampak kasar. Keadaan umum anak biasanya buruk dan mengalami gizi buruk, menderita penyakit campak, ISPA, diare. Pemberian kapsul vitamin A dan pengobatan akan menyebabkan keadaan kornea membaik setelah 2-5 hari dan kelainan mata sembuh setelah 2-3 minggu. Bila tahap ini berlanjut terus dan tidak segera diobati akan terjadi keratomalasia atau kornea melunak seperti bubur dan ulserasi kornea atau perlukaan. Selain itu keadaan umum penderita sangat buruk. Pada tahap ini kornea dapat pecah. Kebutaan yang terjadi bila sudah mencapai tahap ini tidak bisa disembuhkan. Selanjutnya akan terjadi jaringan parut pada kornea yang disebut xeropthalmia scars sehingga kornea mata tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengempis. (Almatsier, 2003, hlm. 162) 4. Kebutuhan Cara terbaik untuk mendapatkan kebutuhan harian vitamin penting adalah dari makan berbagai macam makanan, buah-buahan, sayuran, susu, kacang-kacangan (biji kering), dan gandum. Menurut Dewan Pangan dan Gizi Amerika Serikat, asupan Vitamin A yang direkomendasikan : Bayi (konsumsi rata-rata):
y y

0 - 6 bulan: 400 mikrogram / hari 7 - 12 bulan: 500 mikrogram / hari

Anak-anak :
y y y

1 - 3 tahun: 300 mikrogram / hari 4 - 8 tahun: 400 mikrogram / hari 9 - 13 tahun: 600 mikrogram / hari

13

Remaja dan Dewasa :


y y

Pria usia 14 dan lebih tua: 900 mikrogram / hari Wanita usia 14 dan lebih tua: 700 mikrogram / hari

Berapa banyak dari setiap vitamin yang Anda perlukan tergantung dari usia dan jenis kelamin. Faktor-faktor lain, seperti kehamilan dan kesehatan Anda, juga penting. Tanyakan kepada dokter Anda apa dosis yang terbaik bagi Anda. (National library of medicine, 2011) 5. Biokimia dan Mekanisme Aksi Vitamin A ada dalam produk hewani sebagai ester retinil dan dalam makanan nabati sebagai prekursor karotenoid keluarga. Beta-karoten dibagi atas ester retinil dan asam retinoat dalam enterocyte dari usus kecil dan dibawa bersama dengan retinol yang belum terbentuk dari vitamin A untuk transportasi ke hati untuk penyimpanan. Jika diperlukan, retinol yang diangkut ke jaringan terikat dengan retinol proteine binding. Defisiensi seng mengganggu metabolisme retinol normal, dan suplemen dengan seng bermanfaat untuk rabun senja. Pada mata, retinol teroksidasi untuk retinaldehid, dasar pigmen rhodopsin visual dan iodopson. Hal ini juga dioksidasi menjadi asam retinoid, senyawa induk dari alam retinoids. (DiSepio D, 1998) 7. Efek samping dan Toksisitas Jika tidak mendapatkan cukup vitamin A, maka seseorang lebih mungkin untuk terserang penyakit menular dan gangguan penglihatan. Keracunan vitamin A akut biasanya terjadi ketika orang dewasa membutuhkan beberapa ratus ribu IU vitamin A. Gejala keracunan vitamin kronis mungkin terjadi pada orang dewasa yang secara teratur mengambil lebih dari 25.000 IU sehari. Bayi dan anak-anak lebih sensitif terhadap vitamin A, dan bisa mudah terserang penyakit bila mendapatkan vitamin A dosis rendah. (Lotan R, 1996) Vitamin A bersifat teratogenik, sehingga dosis yang direkomendasikan untuk wanita hamil di AS hingga 8.000 IU per hari, karena penelitian telah

14

menunjukkan setidaknya konsumsi sebanyak 20.000 IU sehari dapat meningkatkan resiko teratogenik. Satu studi dimana wanita mengambil dosis oral harian 30.000 IU tidak meningkatkan kadar asam retinoat di atas fisiologis normal. Gejala keracunan kronis adalah sakit kepala, alopesia, chelosis, pruritis, hepatomegali, nyeri tulang dan sendi. Setelah penghentian asupan, mayoritas kasus menunjukkan tanpa gejala kerusakan permanen. Toksisitas setelah pemberian dosis tunggal pediatrik 165,000-330,000 IU vitamin A hanya terbatas pada gejala sakit kepala, mual, muntah dan tidak sampai mengancam kehidupan, dan suatu penelitian untuk melihat toksisitas dosis tunggal 100,000-200,000 IU di prasekolah anak-anak memperlihatkan risiko yang minimal. Sebagian besar kasus keracunan kronis terjadi pada tingkat supplementasi sehari-hari dari dosis 12.000 sampai 600.000 IU pada anak, dan 50.000 sampai 1.000.000 IU pada orang dewasa. Gejala intoleransi dan keracunan Vitamin A yang terjadi setelah konsumsi kronis pada dosis 6.000 untuk 53.000 IU jarang terjadi dan dianggap terkait dengan cacat genetik atau metabolik terhadap vitamin A. (Olson JA, 1989) 8. Program Suplementasi Kapsul Vitamin A Rendahnya cakupan suplementasi vitamin A ini mengindikasikan bahwa manajemen dan sosialisasi program Vitamin A tingkat Kabupaten/Kota belum berjalan optimal. Berkaitan hal tersebut diperlukan pelatihan penyegaran terkait dengan manajemen suplementasi Vitamin A bagi petugas dalam rangka meningkatkan cakupan program khususnya pada Kabupaten/Kota dengan cakupan rendah. Suplementasi Vitamin A diberikan kepada seluruh anak balita umur 6-59 bulan secara serentak : Untuk bayi umur 6-11 bulan pada bulan Februari atau Agustus Untuk anak balita umur 12-59 bulan pada bulan Februari dan Agustus Sebelum dilakukan pemberian kapsul, tanyakan pada ibu balita apakah pernah menerima kapsul Vitamin A pada 1 (satu) bulan terakhir. Berikan kapsul biru (100.000 SI) untuk bayi dan kapsul merah (200.000 SI) untuk balita Potong ujung kapsul dengan menggunakan gunting yang bersih Pencet kapsul dan pastikan anak menelan semua isi kapsul (dan tidak

15

membuang sedikitpun isi kapsul). Untuk anak yang sudah bisa menelan dapat diberikan langsung satu kapsul untuk diminum. Tempat-tempat yang dapat mengadakan program suplementasi kapsul vitamin A diantaranya sarana fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), polindes/poskesdes, balai pengobatan, praktek dokter/bidan swasta), Posyandu Sekolah Taman Kanak-kanak, Pos PAUD termasuk kelompok bermain, tempat penitipan anak, dll. (Kemenkes RI, 2009) II.2. Pengetahuan, Sikap, dan perilaku 1. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah merupaka n hasil Tahu dan ini t erja di setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana penginderaan ini terjadi melalui pa nca inder a ma nus ia ya kni i nder a penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba yang sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoat modjo, 2003) b. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) membagi 6 tingkat pengetahuan. Ada 6 tingkat pengetahuan yang dicapai dalam domain kognitif yaitu : 1. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur bahwa seseorang, tabu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, sebagainya. 2. Memahami (Comprehention) menguraikan, mendefenisikan. menyatakan dan

16

Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar, orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenamya, aplikasi ini diartikan dapat sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 4. Analisis (Analysys) Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dapat menggambarkan, membedakan, mengelompokkan dan seperti

sebagainya. Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan sebagainya. 5. Sintesa (Syntesis) Adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang, baru dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formasi baru dari informasi-informasi yang ada misalnya dapat menyusun, dapat menggunakan, dapat meringkas ka n, dapa t

menyesuaika n terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

17

menggunakan kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responder kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat kita lithat sesuai dengan tingkatan-tingkatan diatas. 3. Sikap a. Pengertian Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Dapat disimpulkan bahwa sikap dapat dilihat secara langsung, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang ditutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat reaksi emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb, salah seorang psikologis sosial, menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan suatu rekasi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu terhadap suatu penghayatan terhadap objek. b. Komponen Sikap Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok, yaitu : 1. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek. 2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek. 3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to be have)

18

Ketiga komponen tersebut membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. c. Pengukuran Sikap Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. (Soekidjo Notoatmodjo, 2007) 3. Pengertian Perilaku Dalam sebuah buku yang berjudul Perilaku Manusia Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseorang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku. Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, di dalam tubuh manusia. Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing masing. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar. Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari

19

luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori S - O - R atau Stimulus Organisme Respon. Skiner membedakan adanya dua proses. 1. Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation karena menimbulkan respon respon yang relative tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosional misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya dengan mengadakan pesta, dan sebagainya. 2. Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atsannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya. (Notoatmodjo 2003) 4. Bentuk Perilaku Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1.

Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dakam

bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan / kesadaran, dan sikap yang terjadi belumbisa diamati secara jelas oleh orang lain.
2.

Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam

bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus

20

tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice). (Notoatmodjo, 2007) Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor factor yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1.

Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang

bersifat given atau bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
2.

Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik,

ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominanyang mewarnai perilaku seseorang. (Notoatmodjo, 2007) Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : 1) Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu. 2) Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus 3) Evaluation (menimbang nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya).Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. 4) Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru. 5) Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetanhuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting). (Notoatmodjo, 2003)

21

II.3. Hubungan Sikap dengan Perilaku. Pada mulanya secara sederhana diasumsikan bahwa sikap seseorang menentukan perilakunya (Sears, dkk, 1999). Sikap juga selalu dikaitkan dengan perilaku yang berada dalam batas kejiwaan dan kenormalan yang merupakan respon atau reaksi terhadap stimulus dari lingkungan. Dalam hal ini sikap tidak dapat terlepas dari perilaku, artinya dimana seseorang bersikap menolak suatu objek ia akan cenderung untuk menghindari objek tersebut atau bahkan sebaliknya jika seseorang menerima objek tersebut cenderung individu tersebut untuk melakukannya atau mendekati objek tersebut. Semakin komplek situasinya dan semakin banyak faktor yang akan ikut menjadi pertimbangan dalam bertindak maka semakin sulitlah

memprediksikan perilaku dan semakin sulit pula menafsirkannya sebagai indikator sikap seseorang. Respon perilaku tidak saja ditentukan oleh sikap individu, tetapi oleh norma subjektif yang berada dalam inidivu tersebut. (Saifuddin, 2003)

22

II.4 Kerangka Teori (Notoatmodjo, 2003, & Notoatmodjo, 2007)


    Faktor Predisposisi Pengetahuan Ibu Tingkat pendidikan ibu Pekerjaan Ibu Sikap ibu Faktor pemungkin  Kemampuan sumber daya  Ketersediaan sarana  keterjangkauan Faktor Penguat  Keaktifan petugas dalam memotivasi  Kedisiplinan petugas

STIMULUS INDIVIDU (IBU)


PENGETAHUAN (KOGNITIF)       Kesadaran Terhadap SIKAP (AFEKTIF) pemberian kapsul Vit. A     Menerima Merespon Menghargai Bertanggung Jawab PERILAKU (PSIKOMOTOR)  Awareness  Interest  Evaluation

Tahu (know) Memahami (Comprehension) Aplikasi (Application) Analisis (Analysis) Sintesis (Synthesis) Evaluasi (Evaluation)

Sikap terhadap pemberian kapsul Vitamin A

Sikap Terhadap kapsul vitamin A (-)

Sikap terhadap kapsul vitamin A (+)

Trial

Adopsi

Tidak memberikan kapsul vitamin A

Memberikan kapsul vitamin A

Bagan 1. Kerangka teori adopsi dari teori S-O-R, Bloom, Lawrance Green, dan Roger

23

II.5 Kerangka Konsep Variabel bebas / Independen Pengetahuan Ibu tentang kapsul vitamin A. Sikap ibu terhadap kapsul vitamin A. Bagan 2. Kerangka Konsep II.6 Hipotesis Hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. H1 : Ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap perilaku pemberian vitamin A pada balita di Puskesmas Cipondoh. 2. H2 : Ada hubungan antara sikap ibu terhadap perilaku pemberian vitamin A pada balita di Puskesmas Cipondoh. Variabel terikat / dependent Perilaku ibu terhadap pemberian kapsul vitamin A pada Balita di Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang

24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III. 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik. Suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mengetahui hubungan antar variabel (Sastroasmoro, 2008). Dimana penelitian analitik ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional, yaitu dengan cara membagikan kuesioner pada ibu yang membawa anaknya ke Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang.

III. 2. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang, pada Juni 2011.

III. 3. Subjek Penelitian 1. Populasi penelitian a. Populasi target Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran akhir penerapan hasil penelitian (Dahlan, 2008 & Sastroasmoro, 2008). Populasi target pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita berusia 1-5 tahun yang ada di Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang. b. Populasi terjangkau Populasi terjangkau adalah bagian dari populasi target yang dapat dijangkau oleh peneliti yang dibatasi ruang dan waktu (Dahlan, 2008 & Sastroasmoro, 2008). Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita berusia 1-5 tahun yang berkunjung ke Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang tanggal 14 Juni 2011.

25

2. Sampel Sample adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharni Arikunto). Besar sampel adalah total populasi (sampel jenuh). Sampel pada penelitian ini pun dapat ditentukan dengan rumus Slovin : n N e = = = Number of samples (jumlah sampel)

Total population (jumlah seluruh anggota populasi) Error tolerance (toleransi terjadinya galat; taraf

signifikansi)
n= N____ 1+ Ne2

3. a.

Kriteria inklusi dan eksklusi Kriteria Inklusi 0) Ibu yang mempunyai balita usia 1-5 tahun yang hadir dalam penelitian di Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang. b. Kriteria Eksklusi 1) Ibu yang sesuai dengan kriteria inklusi tetapi tidak hadir dalam penelitian di Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang. 1) Ibu yang mengisi kuesioner tidak lengkap.

III.4. Metode Pengambilan Sampel Teknik pengampilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling yaitu teknik penentuan sampel di mana seluruh elemen populasi memiliki kesempatan yang sama menjadi elemen sampel yang dipilih (Kustitianto, 1994). Pengambilan sampel ini dengan cara acak tanpa

memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi. Cara ini dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen, sebagai contoh bila populasinya homogen kemudian sampel diambil secara acak, maka akan didapatkan sampel yang representatif. Pengambilannya dapat dilakukan lotere. (Hidayat, 2007)

26

III.5. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survey dengan desain penelitian cross sectional (potong lintang) dimana variabel yang termasuk variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent) diobservasi sekaligus pada saat yang sama. (Dahlan, 2008 & Sastroasmoro, 2008) III.6. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel independent a. Pengetahuan ibu tentang kapsul vitamin A. b. Sikap ibu terhadap kapsul vitamin A. 2. Variabel dependent a. Perilaku ibu terhadap pemberian kapsul vitamin A pada Balita di Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang

27

III.7. Definisi Operasional


Tabel 1. Definisi Operasional Penelitian No Variabel Tingkat Pengetahuan ibu tentang vitamin A Definisi Operasional Segala sesuatu yang ibu ketahui tentang Vitamin A Alat Ukur Dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner tersebut diberi skor atau nilai jawaban masingmasing dengan sistem penilaian sebagai berikut : 0 : untuk jawaban salah. 1: untuk jawaban benar. Hasil Ukur Nilai minimal 0 dan nilai maksimal 10 1= Pengetahuan baik 80% 2= Pengetahuan kurang < 80% Skala Ukur Ordinal

1.

2.

Sikap Ibu tentang Vitamin A

Pandangan atau perasaan, penilaian positif atau negatif tentang konsumsi Vitamin A

Dengan menggunakan kuesioner.

Dilihat dari skala Likert : 0 : tidak setuju 1 : Kurang setuju 2 : Setuju 3 : Sangat Setuju Sikap responden dibagi menjadi : y Baik, bila jawabannya 80% benar y Kurang, bila jawabannya < 80% benar

Ordinal

3.

Perilaku Ibu terhadap Vitamin A

Tindakan ibu yang menunjukkan kegiatan atau aktifitas dalam konsumsi kapsul Vitamin A.

Dengan menggunakan kuesioner.

Tiap menjawab pilihan Ya pada variabel perilaku diberi nilai 1, jika menjawab pilihan Tidakdiberi nilai 0 Hasil penilaian dibagi atas :  Baik, jika total jawaban Ya 80 %  Kurang, jika total jawaban ya < 80 %

Ordinal

28

III.8. Instrumen Penelitian Data yang diambil adalah data primer dengan cara memberikan kuesioner kepada ibu yang mempunyai anak umur 1 sampai 5 tahun yang Puskesmas Cipondoh, Kota Tangerang. (terlampir kuesioner). III.9. Protokol Penelitian Penentuan judul yang akan diangkat dalam penelitian pembimbing disetujui oleh dosen datang ke

pengajuan proposal penelitian yang berisikan BAB I sampai BAB disetujui oleh dosen pembimbing pembuatan

III kepada dosen pembimbing

surat ijin penelitian untuk Puskesmas Cipondoh Kesatuan Bangsa Kota Tangerang Kota Tangerang

surat ijin disetujui oleh kepala

mendapat rekomendasi ke Dinas Kesehatan surat

surat ijin disetujui ke Dinas Kesehatan Kota Tangerang

diterima Puskesmas Cipondoh pengumpulan data

pengambilan data ( tgl 14 Juni 2011) data diedit, diberi kode dan dibersihkan pemasukan data di penyajian data

pengolahan data

untuk menghindari terjadinya kesalahan pengisian kuesioner SPSS (statistical product and Service Solution) versi 17.0 pembahasan laporan dalam bentuk penelitian III.10. Analisis Data presentasi.

Data yang diperoleh melalui kuesioner dianalisis dengan menggunakan program SPSS versi 17. SPSS, merupakan paket program statistik yang berguna untuk mengolah dan menganalisis data penelitian. Dengan SPSS, kebutuhan pengolahan dan analisis data dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat (Sutanto, 2001). Dalam prosesnya meliputi beberapa tahap sebagai berikut : 1. Editing Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isi kuesioner apakah kuesioner sudah diisi dengan lengkap, jelas jawaban dari responden, relevan dengan jawaban dengan pertanyaan. 2. Coding

29

Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan. Kegunaan coding adalah mempermudah peneliti pada saat analisis data dan juga saat entry data. 3. Processing Setelah data di coding maka langkah selanjutnya melakukan entry data dari kuesioner ke dalam program statistik komputer. 4. Cleaning Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak.

Analisis univariat dilakukan secara deskriptif dari masing-masing variabel dengan tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan independen. Uji yang digunakan yaitu uji Chi-square. Uji Chi-square digunakan karena variabel dependen dan independen dalam penelitian ini bersifat kategorikal. Proses pengujian chi-square membandingkan frekuensi yang terjadi (observasi) dengan frekuensi harapan (ekspektasi). Pembuktiannya dengan menggunakan rumus : X2 : (O-E)2 E Ket : O : nilai observasi E : Nilai ekspektasi (harapan)

Apabila syarat uji Chi-Square tidak terpenuhi maka akan digunakan uji alternative yaitu uji Fisher. Penelitian ini menggunakan batas bermakna secara statistik sebesar 5%. Sehingga secara diperoleh P > alpha, maka hasil perhitungan statistiknya tidak bermakna, artinya tidak ada hubungan signifikan antara variabel

30

dependen dengan variabel independen. Sebaliknya jika diperoleh nilai P < alpha, maka hasil perhitungan statistiknya bermakna antara variabel dependen dengan variabel independen.

31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1

Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Puskesmas Cipondoh, merupakan salah satu

Puskesmas dari jumlah total 25 Puskesmas di Kota Tangerang. Wilayah kerja Puskesmas Cipondoh meliputi 8 kelurahan, yaitu kelurahan Cipondoh, kelurahan Kenanga, Kelurahan Gondrong, Kelurahan Petir, Kelurahan Ketapang, Kelurahan Poris Jaya, Kelurahan Cipondoh Makmur, dan Kelurahan Poris Pelawat. Menurut data demografi pada tahun 2010 pada Kecamatan Cipondoh terdapat 2098 balita. Wilayah kerja Puskesmas Cipondoh berbatasan dengan : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Selatan Sebelah Timur : Kelurahan Poris Gaga : Situ Cipondoh : Kelurahan Kunciran : Kelurahan Meruya (DKI Jakarta)

Puskesmas Cipondoh berdiri sejak tahun 1970, hingga sekarang menjadi Puskesmas mandiri. Puskesmas Cipondoh memiliki beberapa program yang terdiri atas promosi kesehatan, pencegahan penyakit menular, pengobatan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, program upaya peningkatan gizi masyarakat, serta sanitasi dan kesehatan lingkungan. IV.2 Analisis Hasil Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak balita di Puskesmas Cipondoh sejumlah 59 orang. Analisis univariat pada penelitian ini

32

meliputi umur ibu, umur balita, tingkat pengetahuan ibu, sikap ibu, dan perilaku ibu terhadap konsumsi kapsul vitamin A.

1.

Analisis Univariat a. Umur Ibu Dari 59 balita, distribusi responden menurut umur yang terbanyak adalah ibu yang berumur 20 - 35 tahun sebanyak 54 orang ( 91.5 %), dan yang paling sedikit adalah ibu yang berumur < 20 tahun sebanyak 2 orang (3.4 %). Tabel 1. Tabel 1. Umur Ibu Umur Ibu < 20 tahun 20-35 tahun > 35 tahun Jumlah Jumlah 2 54 3 59 Persentase 3,4 91.5 5.1 100

b. Tingkat Pendidikan Ibu Dari 59 responden, kelompok responden dengan jenjang pendidikan SMA dengan proporsi terbanyak yaitu 32 (54.2%) responden. Proporsi terendah adalah jenjang pendidikan SD dengan proporsi sebanyak 4 (7.5%) responden. Tabel 2.

33

Tabel 2. Tingkat Pendidikan Ibu Jenjang Pendidikan SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah Jumlah 4 12 32 10 59 Persentase 7.5 20.3 54.2 17 100

c. Umur Balita Dari 59 balita, kelompok balita umur 13-24 bulan memiliki proporsi terbanyak yaitu 28 orang (47.5%). Proporsi terendah adalah balita berusia 2536 bulan dan 50-59 bulan sebanyak 10 (10 %) balita. Tabel 3. Tabel 3. Umur Balita Umur balita 13-24 bulan 25-36 bulan 37-49 bulan 50-59 bulan Jumlah Jumlah 28 10 11 10 59 Persentase 47.5 17 18.5 17 100

d. Tingkat Pengetahuan Ibu Balita tentang Kapsul Vitamin A Tingkat pengetahuan ibu tentang kapsul vitamin A di Puskesmas Cipondoh menunjukkan bahwa mayoritas ibu dapat menjawab soal mengenai

34

waktu pemberian, dengan 54 (91.5%) responden dapat menjawab dengan benar. Didapatkan pula responden tidak menjawab dengan benar pada soal mengenai tanda-tanda kekurangan vitamin A dengan, 37 (62.7%) responden menjawab salah. Tabel 4. Tabel 4. Pengetahuan Ibu tentang Kapsul Vitamin A Pengetahuan No Item Pertanyaan Salah N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Definisi Vitamin A Cara Pemberian Kapsul Vit. A Manfaat Vitamin A Tanda-tanda kekurangan Vit. A Waktu Pemberian Vitamin A Warna Sediaan Kapsul Vitamin A Sumber Hewani Vit. A Sumber Nabati Kelainan Akibat Kekurangan Vit. A Usia Pemberian Kapsul Vitamin A 7 7 7 37 5 11 10 16 39 16 % 11.9 11.9 11.9 62.7 8.5 18.6 17 27.2 66.1 27.2 Benar N 52 52 52 22 54 48 49 43 20 43 % 88.1 88.1 88.1 37.3 91.5 81.4 83 72.8 33.9 72.8

Keseluruhan nilai jawaban kuesioner responden dijumlahkan dan dikategorikan berdasarkan standar yang telah ditetapkan dalam definisi operasioenal. Dari hasil penelitian menunjukkan 38 (64.4%) ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik, dan sebanyak 21 (35.6%) ibu memiliki tingkat

35

pengetahuan yang kurang baik terhadap konsumsi kapsul vitamin A pada balita. tabel 5. Tabel 5. Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Kapsul Vitamin A Pengetahuan Ibu Kurang baik Baik Jumlah Jumlah 21 38 59 Persentase 35.6 64.4 100

e. Sikap Ibu tentang Kapsul Vitamin A untuk Balita Tingkat pengetahuan ibu tentang kapsul vitamin A di Puskesmas Cipondoh menunjukkan bahwa mayoritas ibu setuju pada soal mengenai manfaat vitamin A pada balita sebanyak 36 responden. Didapatkan pula responden mayoritas responden kurang setuju untuk mengikuti penyuluhan vitamin A sebanyak 11 responden. Tabel 6. Tabel 6. Sikap Ibu tentang Kapsul Vitamin A No Item Pertanyaan TS 1 2 3 4 5 6 Vit. A bermanfaat bagi Balita Mengkonsumsi sayuran Mengikuti Program Suplementasi Mencari Informasi tentang Vitamin A Memberikan ASI Eksklusif Membawa Balita ke Puskesmas 0 0 0 0 0 0 Sikap Ibu KS 0 2 2 2 2 4 S 26 28 35 29 30 32 SS 33 29 22 28 27 23 N 59 59 59 59 59 59

36

7 8 9 10

Mengikuti Penyuluhan Mengkonsumsi buah-buahan Vit A untuk Kesehatan Mata Balita Sumber Vit. A dari Makanan harian

1 0 2 2

11 2 1 2

19 36 23 32

28 21 33 23

59 59 59 59

Selanjutnya

keseluruhan

nilai

jawaban

kuesioner

responden

dijumlahkan dan dikategorikan berdasarkan standar yang telah ditetapkan dalam definisi operasional. Hasil penelitian menunjukkan 35 (59.4%) ibu mempunyai sikap yang baik dan 24 (40.6%) ibu mempunyai sikap yang kurang baik tentang konsumsi kapsul vitamin A. Tabel 7. Tabel 7. Tingkat Sikap Ibu tentang Kapsul Vitamin A Sikap Ibu Kurang baik Baik Jumlah Jumlah 24 35 100 Persentase 40.6 59.4 100

f. Perilaku Ibu Balita tentang Kapsul Vitamin A Tingkat perilaku ibu tentang kapsul vitamin A di Puskesmas Cipondoh menunjukkan bahwa mayoritas ibu menjawab ya mengenai perilaku datang ke Puskesmas dan menghadiri Penyuluhan sebanyak 58 (98.3%). Didapatkan pula mayoritas responden menjawab tidak mengenai perilaku memberikan ASI eksklusif sebanyak 14 (23.8%) responden menjawab. Tabel 8.

37

Tabel 8. Perilaku Ibu tentang konsumsi kapsul Vitamin A Perilaku Ibu No Pertanyaan N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Datang ke Puskesmas Menghadiri Penyuluhan Memberikan Kapsul berwarna Biru Memberikan Vit. A pada Balita Memberikan Aneka jenis Makanan Memberikan Balita Sayuran Berwarna Memberikan Protein Hewani Memberikan Balita Buah-buah Memberikan ASI Eksklusif Mencari Informasi Tentang Vitamin A 58 58 56 49 53 58 57 57 45 56 Ya % 98.3 98.3 95 83 90 98.3 96.6 96.6 76.2 95 N 1 1 3 10 6 1 2 2 14 3 Tidak % 1.7 1.7 5 17 10 1.7 3.4 3.4 23.8 5 59 59 59 59 59 59 59 59 59 59 N

Selanjutnya

keseluruhan

nilai

jawaban

kuesioner

responden

dijumlahkan dan dikategorikan berdasarkan standar yang telah ditetapkan dalam definisi operasional. Hasil penelitian menunjukkan 54 (91.5%) ibu memiliki perilaku yang baik, dan 5 (8.5%) ibu memiliki perilaku yang kurang baik tentang konsumsi kapsul vitamin A pada balita. Tabel 9.

38

Tabel 9. Tingkat Perilaku Ibu tentang Konsumsi kapsul Vitamin A pada Balita Perilaku Ibu Kurang baik Baik Jumlah Jumlah 5 54 59 Persentase 8.5 91.5 100

2.

Analisis Bivariat a. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Perilaku Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita. Hasil penelitian antara tingkat pengetahuan ibu tentang Kapsul Vitamin A terhadap perilaku konsumsi kapsul vitamin A, diperoleh 21 responden yang memiliki pengetahuan kurang baik tentang kapsul vitamin A, diantaranya 5 (8.5%) responden memiliki perilaku yang kurang baik, dan 16 (27.1%) responden memiliki perilaku yang baik. Diperoleh pula 38 responden yang memiliki pengetahuan yang baik, diantaranya 0 (0 %) responden yang memiliki perilaku yang kurang baik, dan 38 (64.4%) responden memiliki perilaku yang baik. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan nilai P-Value = 0.002 (p < ), namun karena terdapat 2 Cells dimana expected count 50% maka digunakan uji alternatif yaitu Fisher. Pada uji Fisher didapatkan nilai Fisher Exact Test sebesar 0.004 ( p < 0.05), maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara tingkat

39

pengetahuan ibu tentang kapsul vitamin A terhadap perilaku konsumsi kapsul vitamin A pada balita di Puskesmas Cipondoh. Hasil penelitian disajikan dalam tabulasi silang berikut : Tabel 10. Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Terhadap Konsumsi Kapsul Vitamin A pada Balita
Perilaku Konsumsi Pengetahuan Ibu Balita Tentang Kapsul Vitamin A N Kurang Baik Baik Jumlah 5 0 5 % 8.5 0 8.5 N 16 38 54 % 27.1 64,4 91.5 N 21 38 59 % 100 100 100 0.002 0.004 Kapsul Vitamin A Fishers Kurang Baik Baik Total P-Value Exact Test

b. Hubungan Sikap Ibu Tentang Kapsul Vitamin A Terhadap Perilaku Konsumsi Vitamin A pada Balita Hasil penelitian antara sikap ibu tentang Kapsul Vitamin A terhadap perilaku konsumsi kapsul vitamin A, diperoleh 24 responden yang memiliki sikap kurang baik tentang kapsul vitamin A, diantaranya 5 (8.5%) responden memiliki perilaku yang kurang baik, dan 19 (32.2%) responden memiliki perilaku yang baik. Diperoleh pula 35 responden yang memiliki sikap yang baik, diantaranya tidak ada (0 %) responden yang memiliki perilaku yang kurang baik, dan 35 (59.3%) responden memiliki perilaku yang baik. Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai P-Value = 0.005 (P < ), namun karena terdapat 2 Cells dimana terdapat expected count 50%, maka

40

uji alternatif yang digunakan yaitu uji Fisher, dimana nilai Fishers Exact Test = 0.008, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara sikap Ibu tentang Kapsul Vitamin A terhadap Perilaku Konsumsi Kapsul Vitamin A pada Balita. Hasil penelitian disajikan dalam tabulasi silang berikut : Tabel 11. Hubungan Sikap Ibu Tentang Kapsul Vitamin A Terhadap Perilaku Konsumsi Vitamin A pada Balita
Perilaku Konsumsi Sikap Ibu Balita Tentang Kapsul Vitamin A N Kurang Baik Baik Jumlah 5 0 5 % 8.5 0 8.5 N 19 35 54 % 32.2 59.3 91.5 N 24 35 59 % 100 100 100 0.005 0.008 Kapsul Vitamin A Fishers Kurang Baik Baik Total P-Value Exact Test

IV.3

Pembahasan

1. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Kapsul Vitamin A terhadap Konsumsi Kapsul Vitamin A pada Balita. Dari hasil uji statistik Fisher, menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna (Fisher Exact Test < 0.05) antara tingkat pengetahuan ibu tentang kapsul vitamin A dengan perilaku konsumsi kapsul vitamin A pada balita dengan nilai p = 0.004. Pada ibu dengan tingkat pengetahuan baik, Sebanyak 64.4% memiliki perilaku yang baik, namun pada ibu dengan tingkat pengetahuan yang kurang, sebanyak 27.1% juga memiliki perilaku yang baik.

41

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rika (2003) yang menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku pemberian kapsul vitamin A pada balita. Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku konsumsi kapsul vitamin A pada balita dapat disebabkan karena masih berjalannya program pemerintah khususnya instansi kesehatan dalam penyuluhan atau promosi kesehatan sehingga informasi kesehatan dapat diserap oleh masyarakat. Selain itu, dengan semakin banyaknya media informasi yang mudah didapatkan baik dari media cetak maupun media elektronik sehingga memungkinkan terserapnya informasi kesehatan oleh masyarakat. Terdistribusinya informasi-informasi yang terkait dengan promosi kesehatan khususnya suplementasi kapsul vitamin A pada balita juga dapat memberikan rangsangan kepada masyarakat untuk berperilaku sehat.

2. Hubungan Sikap Ibu tentang Kapsul Vitamin A dan Perilaku Konsumsi Kapsul Vitamin A pada Balita terhadap Konsumsi Kapsul Vitamin A pada Balita. Dari hasil uji statistik Fisher, menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna (< 0.05) antara tingkat pengetahuan ibu tentang kapsul vitamin A dengan perilaku konsumsi kapsul vitamin A pada balita dengan nilai p = 0.059. Pada ibu dengan sikap baik, sebanyak 59.3% memiliki perilaku yang baik. Namun pada ibu yang dengan sikap kurang baik, sebanyak 32.2% memiliki perilaku yang baik pula.

42

Meskipun belum ditemukan hasil penelitian lain yang menyatakan adanya hubungan antara sikap ibu terhadap perilaku konsumsi kapsul vitamin A pada balita, namun adanya hubungan antara sikap ibu dengan perilaku konsumsi vitamin A pada balita karena seseorang cenderung untuk bertindak setelah melalui beberapa tahapan yang diawalinya adanya pemahaman, dimana pada kasus ini mayoritas ibu memiliki pengetahuan yang baik terhadap kapsul vitamin A (Allport,1954). Selain itu proses perubahan perilaku pada hakikatnya adalah sama dengan proses belajar yang terdiri dari stimulus, reaksi tertutup (sikap) dan reaksi terbuka (perilaku), hal ini dapat menggambarkan bahwa adanya hubungan antara sikap dan perilaku, dimana pada kasus ini adalah sikap ibu dengan hubungannya dalam perilaku pemberian kapsul vitamin A pada balitanya. (Hosland, 1953) IV. 4 Keterbatasan Penelitian 1. Keterbatasan Penelitian Setiap penelitian tidak terlepas dari kemungkinan adanya keterbatasan yang dapat memengaruhi kualitas hasil penelitian. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi antara lain : a. Pengumpulan data menggunakan kuesioner bersifat subjektif sehingga sangat bergantung pada kejujuran responden. Untuk

kebenaran

mengantisipasinya maka sebelum mengisi kuesioner peneliti menjelaskan maksud dari pengambilan data, persetujuan dari responden untuk mengisi, dan tidak ada unsur pemaksaan.

43

b. Kuesioner bersifat tertutup sehingga responden menjadi tidak bebas menyatakan pendapat karena jawaban sudah tersedia dan responden tinggal memilih jawabannya. c. Rancangan penelitian cross sectional merupakan rancangan penelitian

yang paling lemah karena sulit untuk membedakan variabel yang menjadi penyebab atau variabel bebas dengan variabel yang menjadi akibat atau variabel terikat. Hal ini disebabkan karena variabel bebas dan terikat. Hal ini disebabkan karena variabel bebas dan terikat diukur pada saat yang sama.

44

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan Dari hasil dan pembahasan yang didapat dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan hal-hal sebai berikut: 1. Mayoritas ibu balita dalam penelitian ini berumur antara 20 tahun

sampai 35 tahun (91,5%). 2. Mayoritas tingkat pendidikan ibu balita dalmpenelitian ini, mayoritas

adalah SMA (54,2%) 3. Karakteristik balita dalam penelitian ini, mayoritas usia balita adalah

13 bulan sampai 24 bulan (47,5%) 4. Pengetahuan ibu balita tentang kapsul vitamin A sebagian besar baik

(62,7%) 5. Sebagian besar ibu balita mempunyai sikap yang baik dalam hal

pemberian kapsul vtamin A untuk balitanya (59,4%). 6. Perilaku ibu balita dalam pemberian kapsul vitamin A sebagian besar

baik (91,5%) 7. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu balita

terhadap perilaku pemberian kapsul vitamin A kepada balitanya, dengan nilai p < 0,05 (p = 0,004). 8. Terdapat hubungan yang bermakna antara sikap ibu balita terhadap

perilaku pemberian kapsul vitamin A kepada balitanya, dengan nilai p < 0,05 (p = 0,008). B. Saran 1. Bagi ibu balita di Puskesmas Cipondoh, Tangerang Mencari informasi kesehatan yang bermanfaat bagi balita terutama

tentang vitamin A. Mengikuti penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan oleh

lembaga kesehatan/Puskesmas 2. Bagi Puskesmas Cipondoh, Tangerang

45

Lebih meningkatkan ketersedian kapsul vitamin A, terutama pada

bulan pemberian kapsul vitamin A. Meningkatkan lagi kegiatan penyuluhan kesehatan, terutama

tentang vitamin A. 3. Bagi Peneliti lain Mengingat penelitian ini masih banyak terdapat kelemahan dan

kekurangan, maka disarankan bagi peneliti lain untuk meneliti faktorfaktor lain yang belum diteliti dalm penelitian ini.