Anda di halaman 1dari 3

NORMANDY YUSUF H.

0911243064

Diplomacy and domestic politics: the logic of two-level games Robert D. Putnam

Introduction : the entanglements of domestic and international politics Hubungan antara politik domestic dan internasional terkadang saling melibatkan, tapi teori teori yang kita punya tidak cukup menjelaskannya, apakah politik domestic yang menentukan hubungan internasional ataukah sebaliknya. Bisa diambil contoh bagaimana diplomasi dan politik domestic saling melibatkan adalah saat Bonn summit conference pada tahun 1978. Pertemuan yang diadakan oleh lokomotif perekonomian dunia yaitu AS, Jerman, dan Jepang untuk menyikapi krisis minyak saat itu. Domestic-international entanglements : the state of art Banyak literatur yang bisa mengkaitkan hubungan antara kepentingan dalam negeri dan kepentingan luar negeri dengan suatu kebijakan luar negeri serta suatu pengamatan umum mengindikasikan bahwa urusan nasonal dan urusan internasional itu berhubungan. Orang pertama yang menaruh perhatian pada sisi ini adalah James Rosenau. Kemudian ada Karl Deutsch dan Ernst Haas. Haas, khususnya, menekankan dampak dari pihak dan kelompok kepentingan pada proses integrasi Eropa, dan gagasan tentang "spillover" mengakui umpan balik antara perkembangan domestik dan internasional. Kemudian ada Joseph Nye dan Robert Keohanne yang menekankan pada interdependensi dan transnasionalism, tapi pada kenyataannya peran domestic lambat laun menjadi kabur. Beberapa yang lainnya berfokus pada state centric yang mana merepresentasikan unitary action model . Kemudian, literatur state centric ini tadi menjadi dasar yang tak pasti untuk menjelaskan bagaimana interaksi antarapolitik domestic dan internasional. Singkatnya, Robert D. Putnam menjabarkan lebih lanjut mengenai teori yang dikemukakan oleh James Rosenau tentang pengaruh factor domestic mempengaruhi kebijakan internasional dan sebaliknya.

Two level games Robert D. Putnam memiliki gagasan dasar tentang teori two-level game, Dia menyatakan bahwa: "Politik negosiasi internasional dipahami sebagai sebuah two level game. Pada tingkat internasional, kelompok-kelompok kepentingan di dalam negeri mengejar kepentingan mereka dengan menekan pemerintah untuk mengadopsi kebijakan yang menguntungkan mereka, dan politisi mencari kekuasaan dengan membangun koalisi antar kelompok tersebut. Pada tingkat internasional, pemerintah nasional berusaha untuk memaksimalkan kemampuan mereka sendiri untuk memenuhi tekanan domestik, sambil meminimalkan dampak buruk pembangunan oleh pihak asing. Baik dari dua game bisa diabaikan oleh pengambil keputusan pusat, asalkan negara mereka tetap saling bergantung, namun berdaulat. Beliau juga menjelaskan kalau nantinya seorang negisiator akan menghadapi dua fase yang kita sebut tadi dengan two-level game, yakni : 1. Level (I) pertama, yaitu tawar menawar antar negosiator untuk mencapai tujuan sementara 2. Level (II) kedua, yakni membagi diskusi menjadi beberapa grup (dalam hal ini pemerintah, LSM, organisasi maupun pihak domestic lain) untuk meratifikasi persetujuan tersebut. Pembagian menjadi fase negosiasi dan fase ratifikasi memudahkan kita untuk tujuan jangka pendek, meskipun tidak akurat secara deskriptif. Perlu diingat, bahwa untuk meratifikasi suatu kebijakan harus dilakukan kedua kubu, karena kebijakan yang dihasilkan pada level II tidak bisa diamandemen dan harus melalui level I. Artinya, keberhasilan di level II sangat menentukan pada level I. Dari kedua fase tadilah Putnam lantas mengemukakan win-set. Win-set sendiri menngambarkan seberapa penting kesepakatan yang akan dicapai pada level II dan akan sangat berpengaruh terhadap level I dan mencapai suatu keberhasilan. Mengapa win-set ini tadi lantas menjadi penting?

Pertama, semakin besar win-set akan semakin memperbesar presentase keberhasilan suatu negosiasi. Maksudnya, ketika kesepakatan yang tercapai pada level domestic telah

benar benar mencapai satu kata sepakat, maka di level II tingkat keberhasilan suatau negosiasi akan lebih besar karena win-setnya besar. Dan apabila win set nya semakin kecil, maka semakin besar risiko yang timbul, termasuk kegagalan diplomasi. Kedua, ukuran relative win-set dari level II akan mempengaruhi distribusi dari

keuntungan dari tawar menawar di dunia internasional. Maksudnya, suatu saat negosiator akan mengalami kesulitan dalam bernegosiasi, maka sekecil apapun win-set dari domestic mungkin akan sangat berguna, bahkan sebagai suatu keuntungan. Ada 3 faktor yang sangat penting untuk memahami suatu keadaan / hiruk pikuk yang mempengaruhi win-set : Level II Preferences and coalitions ; yaitu Ukuran win-set tergantung dari distrubusi kekuasaan, preferensi, dan kemungkinan koalisi diantara konstituenkonstituen Level II. Level II Institutions ; yaitu Ukuran win-set tergantung pada institusi-institusi politik Level II. Level I Negotiators in turn ; yaitu Ukuran win-set tergantung pada strategi-strategi dari ngesiator Level I. Pada intinya, Robert D. Putnam mencoba menjelaskan tentang korelasi domestic dan internasional dalam sebuah pengambilan keputusan terkait kebijakan, akan tetapi masih belum ditemukan bagaimana menakurasikan korelasi keduanya. Mungkin penataan institusi yang mengarah kepada terciptanya mekanisme pembuatan keputusan yang jelas dan efektif, akan memberikan kontribusi bagi optimalitas pelaksanaan kebijakan luar negeri dan diplomasi