Anda di halaman 1dari 7

SINOPSIS TUTORIAL Blok : 21 UP : UP 4

Nama : Julyana Dwi Ruti H.

No Mhs : 08/269048/KH/5989

Learning Objective 1. Mengetahui tentang penyakit Mareks Disease 2. Mengetahui diferensial diagnosa dari Mareks Disease

Ringkasan Belajar A. Mareks Disease Penyakit marek disebut juga fowl paralysis, neurolymphomatosis, acute leukosis atau range paralisis. Marek merupakan penyakit infeksius yang sangat menular.Sering menyerang pada ayam umur antara 8 24 minggu, tetapi dapat juga menyerang pada ayam yang lebih muda maupun yang lebih tua. Ayam yang telah sembuh dari penyakit (gejala klinis sudah tidak ada) di dalam alat tubuhnya masih ada perubahan sehingga produktivitasnya menurun. Juga ayam yang telah sembuh dari sakit bisa menjadi pembawa bibit penyakit bagi yang lain (Anonim, 2011). Etiologi Penyakit marek disebabkan oleh herpes virus yang mempunyai struktur DNA. Di alam terdapat berbagai strain virus yang mempunyai virulensi (tingkat keganasan) yang berbeda-beda, bervariasi dari yang tidak ganas (avirulent) sampai yang sangat ganas (virulent). Kekebalan dapat terjadi setelah vaksinasi atau infeksi alam (Anonim, 2011). Herpesvirus ini memiliki 3 antigen: Antigen A dapat ditemukan pada

permukaan dan sitoplasma sel yang terinfeksi dengan MDV dan tidak mempunyai hubungan dengan onkogenesitas. Antigen B mungkin mengimbas pembentukan antibody netralisasi dan diperkirakan mempunyai peranan dalam pembentukan kekebalan hasil vaksinasi, walaupun diperlukan bukti yang lebih terperinci. Antigen MATSA dapat dideteksi pada sel tumor limfoid yang ditimbulkan oleh MDV dan lymphoblastoid cell lines yang berasal dari tumor limfoid (Tabbu, 2000). Patogenesis Pada hari ke 14 setelah infeksi, ayam penderita akan membebaskan virus ke kandang. Sehingga debu kandang mengandung virus dan virus mengkontaminasi alat-

alat di dalam kandang. Virus bisa berada di dalam epithel (sisik) kulit kantung bulu yang terlepas dan ayam lain akan tertular apabila memakan epithel tersebut. Penularan juga bisa terjadi melalui pernapasan dengan cara inhalasi debu yang mengandung virus. Penularan antar ternak sekandang (horisontal) terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara tidak langsung bisa melalui tinja atau kumbang sebagai vektor. Kumbang yang berperan sebagai vektor yaitu Alphitobius diaperinus. Penularan secara vertikal (dari induk kepada keturunannya atau transovarial) tidak terjadi di sini (Tabbu, 2000). Faktor yang mempengaruhi keparahan penyakit ini adalah galur virus, dosis, jalur infeksi, umur ayam, jenis kelamin ayam, status kekebalan, dan kerentanan genetik dari ayam. Sel epitel dari saluran pernapasan terinfeksi secara produktif dan mendorong terjadinya viremia. Hari keenam, terjadi infeksi produktif dari sel limfoid pada berbagai organ, meliputi timus, bursa fabricius, sumsum tulang, dan limpa yang mengakibatkan imunosuppresif. Selama minggu kedua setelah infeksi, terjadi viremia terkait sel yang menetap diikuti oleh pelipatgandaan sel limfobalstoid sel T dan seminggu kemudia mulai terjadi kematian, walalupun dapat juga terjadi regresi (Fenner, 1995). Gejala klinis Gejala klinis dari MD bisa dibedakan tergantung dari tipenya: 1. Cutaneous: folikel bulu membesar dan merah, terdapat tonjolan putih pada kulit sehingga membentuk seperti ketombe. 2. Neural: paralisis unilateral atau bilateral pada ekstremitas dan atau leher, berat badan turun, susah bernapas, diare dan kematian. 3. Ocular: mata kelabu (gray eyes), iris ireguler, berat badan turun, kebutaan dan kematian. 4. Viseral: tumor pada organ viseral termasuk hati, ovarium, jantung, paru-paru, ginjal dan limpa. Terkadang hati dan ginjal membengkak tanpa adanya tumor. Gejala lain yang terlihat depresi, paralisis, nafsu makan turun, berat badan turun, anemia(pial pucat), dehidrasi dan kadang diare. Beberapa ayam mengalami kematian tanpa adanya gejala klinis terlebih dahulu (Anonim, 2009; Savage, 2011) Diagnosis Diagnosis dapat didasarkan pada sejarah, umur, gejala klinis dan perubahan pasca
2

mati yang dapat dipastikan dengan pemeriksaan histopatologi. Penentuan antigen virus dengan imunofluoresensi merupakan prosedur diagnosis yang paling sederhana. Berbagai metode dapat digunakan untuk mengisolasi virus yaitu dengan inokulasi dari biakan sel, membrane korioalantois atau kantung kuning telur dari telur berembrio umur 4 hari dengan suspensi sel darah putih atau sel limpa. Keberadaan virus dapat didemonstrasikan dengan immunofluoresensi atau mikroskop electron (Fenner, 1995). Perubahan Pasca Mati Perubahan pasca mati yang bisa diamati pada unggas penderita Mareks antara lain (1) pada bentuk syaraf, ditemukan syaraf-syaraf (nervus-nervus/n), seperti n.

Vagus, n. Mesentericus, n. Intercostalis dan plexus-plexus, seperti plexus ischiadicus dan plexus brachialis terlihat membulat dan membesar, kelabu kekuningan, bersifat unilateral atau bilateral (2) pada bentuk visceral, maka terlihat benjolan-benjolan atau tumor pada indung telur, hati, limpa, pankreas, jantung, paru-paru, proventrikulus, ginjal dan usus. Warna organ menjadi putih kelabu dengan bidang sayatan keras dan kering. Bursa fabricius mengalami atrofi. Kejadian Mareks yang banyak ditemukan adalah bentuk visceral daripada bentuk syaraf (Tabbu, 2000) Perubahan histopatologik pada MD akut dan klasik pada dasarnya sama. Pada awalnya, penyakit ini ditandai dengan proliferasi sel-sel limfoid, yang menjadi progresif pada sejumlah kasus tetapi mengalami regresi pada sejumlah kasus lainnya. Lesi tipe A mempunyai karakter neoplastik, yang terdiri atas sel limfoid yang berproliferasi, meliputi limfosit ukuran kecil, menengah dan besar; beberapa limfoblas, sel-sel reticular primitive dan sel-sel yang telah mengalami aktivasi. Lesi tipe B tersifat oleh adanya edema di antara serabut saraf, infiltrasi limfosit dan sel plasma yang bersifat ringan sampai moderat. Demielinasi primer pada sel schwann yang ditemukan pada lesi tipe A dan B dapat menyebabkan paralysis. Lesi tipe C terdiri atas kumpulan sejumlah kecil limfosit dan sel plasma yang tersebar di antara serabut saraf. Tipe ini biasanya tidak menimbulkan gejala klinik tertentu. Lesi pada otak biasanya bersifat fokal, meliputi perivascular cuffing yang mengandung limfosit ukuran kecil yang tercat gelap atau noduli yang terdiri atas kumpulan limfosit dan mikrogliosis (Calnek, 2003). Penanggulangan Tindakan pencegahan terhadap penyakit Mareks adalah melalui program vaksinasi. Vaksinasi dilakukan terhadap anak ayam yang baru menetas atau DOC. Di pasaran tersedia dua macam vaksin Mareks, yaitu bentuk basah (cell- associated) dan
3

bentuk kering (cell free). Berdasarkan serotipe virus yang terkandung, terdapat tiga kelompok vaksin Mareks, yang dapat digunakan secara tunggal atau dengan sistem kombinasi. Tiga kelompok tersebut, antara lain (1) vaksin Marekss serotipe 1, terdiri dari 3 jenis, yaitu: virulen, setengah virulen dan sangat ganas. Contoh strain virulen adalah strain HPRS-16, strain yang setengah virulen, misalnya : strain CVI-988, sedangkan yang sangat virulen dibuat dari strain vv-MDV. Strain vv-MDV ini memiliki kemampuan mencegah serangan penyakit Marekss yang virulen maupun sangat virulen (2) vaksin Marekss serotipe 2, yang dibuat dari strain virus Marekss yang non patogen, yang secara normal dapat diisolasi dari peternakan-peternakan ayam. Strain virus Marekss non patogen yang sering digunakan untuk pembuatan virus adalah strain SB-1, dikenal pula strain lain, yaitu 301B/I (3) vaksin Marekss serotipe 3, dibuat dari virus herpes yang diisolasi dari kalkun. Salah satu strain yang digunakan untuk pembuatan vaksin adalah FC-126, yang bisa mencegah serangan penyakit Marekss dari virus yang virulen (v-MDV), namun tidak efektif mencegah serangan penyakit marekss dari vvMDV yang jauh lebih ganas. Pengobatan terhadap ayam yang terserang penyakit neoplastik belum ditemukan. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara yang didukung oleh manajemen ketat, termasuk pengamanan biologis yang optimal. Perlindungan optimal terhadap MDV tergantung pada beberapa faktor yaitu sanitasi/desinfeksi yang ketat, waktu Vaksin MD biasanya diberikan pada anak ayam umur 1 hari, tetapi dapat juga diberikan secara in ovo pada telur ayam bertunas umur 18 hari. Semua jenis vaksin MD diberikan secera parenteral dengan dosis minimal 1000 plaque forming units (PFU)/anak ayam (Tabbu, 2000).

B. Diferensial Diagnosa Perbedaan Mareks Disease Lymphoid Leukosis Reticuloendothellos is Umur Semua usia. Biasanya < 6 minggu atau lebih Paralisis >5% pada floks yang tidak divaksinasi Sering >16 minggu >16 minggu

Gejala klinis Kejadian

Tidak spesifik Jarang di atas 5%

Tidak spesifik Jarang terjadi

Lesi makroskopik - Neural involvement - Bursa fabricius Tumor pada kulit, otot dan proventrikulus grey eyes Lesi mikroskopik - Neural involvement - Tumor hati - Ginjal - Bursa fabricius -

Tidak ada

Tidak sering Tumor nodular Tidak ada

Atropi atau bengkak Tumor nodular difus Mungkin muncul Tidak ada

Iya Perivascular Difus Interfoliculer tumor dan/atau atropi folikel Iya Iya

Tidak ada Focal atau difus Focal Intrafoliculer tumor

Tidak sering Focal Fokal atau difus Intrafoliculer tumor

SSP Proliferasi limfoid pada kulit dan folikel bulu Cytologi tumor

Tidak Tidak

Tidak Tidak

Category of neoplastic lymphoid cell

Pleomorphic lymphoid cells, termasuk lymphoblasts, lymphocytes dan reticulum cells. Terkadang hanya limfoblast Sel T

Limfoblast

Limfoblast

Sel B

Sel B

(Anonim, 2010)
5

Daftar Pustaka Anonim. 2009. Mareks Disease. Diakses http://www.dpiw.tas.gov.au/inter.nsf/webpages/cart-6ptvyh?open 11 Januari 2012 Anonim. 2010. Mareks Disease. Diakses http://www.oie.int/fileadmin/Home/eng/Health_standards/tahm/2.03.13_MAREK_ DIS.pdf 11 Januari 2012 Anonim. 2011. Penyakit Ayam. Diakses http://nakstppmlg.weebly.com/penyakitayam.html 11 Januari 2012 Calnek. 2003. Disease of Poultry. Iowa State Press, A Blackwell State Press, Iowa Fenner, F.J., E.P.J Gibbs., F.A. Murphy., R. Rott., M.J. Studdert and D.O. White. 1993. Veterinary Virology. Edisi Kedua. Penerjemah D.K. Harya Putra. IKIP Semarang Press. Semarang. Savage, T. 2011. Mareks Disease. Diakses http://extension.unh.edu/resources/files/Resource000791_Rep813.pdf 11 Januari 2012 Tabbu, C. R. 2000. Penaykit Ayam dan Penanggulangannya Penyakit Bakterial, Mikal, dan Viral. Penerbit Kanisisus, Yogyakarta.