Anda di halaman 1dari 7

DISTOSIA Distosia merupakan persalinan yang abnormal/sulit atau disebut juga persalinan lama.

Penyebabnya dapat dibagi menjadi 3 yaitu:buku merah, wiliams 1. Kelainan tenaga (kelainan his) berupa his yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya. 2. Kelainan janin dapat berupa kelainan dalam letak atau dalam bentuk janin. 3. Kelainan jalan lahir berupa kelainan dalam ukuran atau bentuk jalan lahir.

Sumber: wiliams Jenis-jenis kelainan hisbuku merah His yang normal dimulai dari salah satu sudut di fundus uteri kemudian menjalar merata simetris ke seluruh korpus uteri dengan dominasi kekuatan pada fundus uteri (lapisan otot uterus paling dominan) kemudian terdapat relaksasi secara merata dan menyeluruh. Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida tua. Kelainan anatomis uteri juga menghasilkan kelainan his. Pada multipara lebih banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat menyebabkan inersia uteri. Inersia uteri Pada inersia uteri terdapat 2 keadaan yaitu inersia uteri primer dan inersia uteri sekunder. Inersia uteri primer atau disebut juga hypotonic uterine contraction adalah keadaan saat his didominasi fundus namun kontraksi yang terjadi lebih singkat dan jarang daripada biasanya. Sedangkan pada inersia uteri sekunder

kontraksi yang lebih singkat dan jarang itu muncul setelah his kuat dalam waktu yang lama. Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan, harus diperiksa keadaan serviks, presentasi serta posisi janin, turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul. Kemudian disusun rencanan persalinannya. Bila ada disproporsi sefalopelvik yang berarti sebaiknya dilakukan seksio sesarea. Namun bila tidak ada atau ada disproporsi ringan dapat diambil sikap lain. Selanjutnya dapat diberikan oksitosin untuk mempebaiki his sehingga serviks dapat membuka. Oksitosin diberikan sebanyak 5 IU dalam larutan dekstrose 5% IV dengan kecepatan kira-kira 12 tetes per menit (tpm) dan perlahan dapat dinaikkan hingga 50 tpm tergantung hasilnya. Infus harus dihentikan bila kontraksi uterus berlangsung lebih dari 60 detik atau denyut jantung janin menjadi cepat atau menjadi lambat. Tidak dianjurkan memberikan oksitosin pada panggul sempit, terdapat regangan segmen bawah uterus, grande multipara, serta riwayat seksio sesarea atau miomektomi. His terlampau kuat (hypertonic uterine contraction) His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu singkat. Partus yang sudah selesai kurang dari 3 jam dinamakan partus presipitatus. Bahaya partus presipitatus bagi ibu adalah perlukaan luas pada jalan lahir terutama vagina dan perineum. Sedangkan bayinya bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena pelepasan kompresi dalam waktu yang terlalu singkat. Batas antara bagian atas dan segmen bawah rahim atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi dinamakan lingkaran retraksi patologik atau lingkaran Bandl. Regangan yang melampaui kekuatan segmen bawah uterus dapat menyebabkan terjadinya ruptur uteri. Incoordinate uterine action Sifat his berubah, tonus otot uterus meningkat dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi kontraksi bagianbagiannya sehingga his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. Selain itu, tonus otot uterus yang meningkat akan menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu serta dapat pula menyebabkan hipoksia janin. Kelainan

ini hanya dapat diobati secara simptomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional bagian-bagian uterus. Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita seperti dengan pemberian analgesik. Kelainan kala satu Menurut Friedman terdapat 3 tahap fungsional pada persalinan, yaitu:buku
williams merah,

1. Tahap persiapan yaitu saat hanya terjadi sedikit pembukaan serviks (fase laten). Fase laten didefinisikan saat ibu merasakan kontraksi yang teratur dan berlangsung bersama perlunakan serta pendataran serviks. Kriteria minimum Friedman untuk fase laten ke fase aktif adalah kecepatan pembukaan serviks 1,2 cm/jam bagi nulipara dan 1,5 cm/jam bagi multipara. Disebut fase laten berkepanjangan bila lama fase ini lebih dari 20 jam pada nulipara dan lebih dari 14 jam pada multipara. 2. Tahap pembukaan/dilatasi yaitu saat pembukaan berlangsung paling cepat (fase aktif). Pada fase aktif dapat terjadi beberapa gangguan diantaranya gangguan protraction (berkepanjangan/berlarut-larut) dan arrest (macet, tak maju). Protraksi didefinisikan sebagai kecepatan pembukaan atau penurunan yang lambat, untuk nulipara kecepatan pembukaannya 1,2 cm/jam atau penurunan kurang dari 1 cm/jam sedangkan untuk multipara kecepatan pembukaan kurang dari 1,5 cm/jam atau penurunasnnya kurang dari 2 cm/jam. Kemacetan pembukaan didefinisikan sebagai tidak adanya perubahan serviks dalam 2 jam sedangkan kemacetan penurunan adalah tidak adanya penurunan janin dalam 1 jam. Faktor yang mempengaruhinya antara lain sedasi berlebihan, anestesia regional dan malposisi janin.

Sumber: wiliams Sebelum diagnosis kemacetan pada persalinan kala 1 ditegakkan, kedua kriteria dibawah ini harus dipenuhi (ACOG): Fase laten telah selesai dengan pembukaan serviks 4 cm atau lebih Sudah terjadi pola kontraksi uterus sebesar 200 satuan Montevideo atau lebih dalam periode 10 menit 3. Tahap panggul berawal dari fase deselerasi pembukaan serviks. Pada saat ini terjadi cardinal movement.

Sumber: wiliams Kelainan kala dua Kala dua memanjang Tahap kala dua berawal saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir dengan keluarnya janin. Median durasinya adalah 50 menit untuk nulipara dan 20 menit untuk multipara. Pada seorang ibu dengan panggul sempit atau janin besar atau dengan kelainan gaya ekspulsif akibat anestesia regional atau sedasi

yang berat maka kala dua dapat sangat memanjang. Kala dua pada nulipara dibatasi 2 jam sedangkan multipara 1 jam. Penyebab kurang adekuatnya gaya ekspulsif Kekuatan yang dihasilkan oleh kontraksi otot abdomen dapat terganggu secara bermakna sehingga bayi tidak dapat lahir secara spontan melalui vagina. Sedasi berat atau anestesia regional kemungkinan besar mengurangi dorongan refleks untuk mengejan. Dampak persalinan lama pada ibu-janinbuku merah Infeksi intrapartum Infeksi dapat mengancam ibu dan janinnya pada partus lama terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis. Pneumonia pada janin akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi mungkin saja terjadi. Pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukkan bakteri vagina ke uterus. Ruptur uteri Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya selama partus lama terutama pada ibu dengan paritas tinggi dan riwayat seksio sesarea. Apabila disproporsi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak engaged dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterus menjadi sangat teregang kemudian dapat menyebabkan ruptur. Pembentukan fistula Fistula terjadi apa bila bagian terbawah janin menekan kuat pintu atas panggul dalam waktu yang cukup lama sehingga bagian jalan lahir yang terletak diantaranya dan dinding panggul mengalami tekanan yang berlebihan. Tekanan tersebut menyebabkan gangguan sirkulasi lalu dapat terjadi nekrosis dan beberapa hari setelah melahirkan akan terbentuk fistula vesikovaginal, vesikoservikal atau rektovaginal. Cedera otot-otot dasar panggul Saat kelahiran bayik, dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala janin serta tekanan ke bawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya ini

meregangkan dan melebarkan dasar panggul sehingga terjadi perubahan fungsional dan anatomik otot,saraf dan jaringan ikat. Efek dari keadaan pada otot dasar panggul selama melahirkan ini akan menyebabkan inkontinensia urin dan alvi serta prolaps organ panggul. Kaput suksedaneum Hal ini bisa terjadi bila keadaan panggul sempit dan dapat hilang dalam beberapa hari. Molase kepala janin Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain di sutura-sutura besar. Hal itu dinamakan molase. Molase dapat tidak menimbulkan laserasi kerugian pembuluh namun darah dapat janin, juga dan menyebabkan robekan tentorium,

perdarahan intrakranial pada janin. Faktor-faktor yang berkaitan dengan molase adalah nuliparitas, stimulasi persalinan dengan oksitosin, dan pengeluaran janin dengan ekstrasi vakum. Kelainan jalan lahircurrent Kelainan jalan lahir dapat berkaitan dengan bentuk dan ukuran tulang pelvis, kelainan jaringan lunak pada jalan lahir, massa pada traktus reproduksi atau neoplasma serta lokasi plasenta. Kelainan tulang pelvis adalah penyebab tersering terjadinya distosia.

Jenis-jenis panggul Sumber: current

Pelvimetri klinis dilakukan untuk memperkirakan dimensi pelvik. Untuk menilai pintu atas panggul dapat digunakan konjugata diagonal yang diperoleh dengan mengukur jarak tepi bawah simfisis pubis ke promontorium. Konjugata obstetri merupakan jarak dari bagian yang paling menonjol dari simfisi pubis ke promontorium, berkisar 1,5 - 2 cm lebih pendek daripada konjugata diagonal. Ukuran konjugata obstetri harus lebih besar dari 10 cm. Pintu bawah panggul dapat dinilai dengan menggukur diameter intertuberositas dan palpasi arkus subpubik. Diameter intertuberositas lebih dari 8 cm dan arkus subpubik yang luas merupakan karakteristik pintu bawah panggul yang adekuat. Midpelvik dievaluasi secara klinis berdasarkan konvergensi dinding samping, penonjolan spina isiadika dan konkafnya sakrum. Kontraksi pelvik dapat muncul karena presentasi verteks yang tidak disertai penurunan saat kelahiran, presentasi abnormal atau prolaps tali pusat atau ekstremitas. Pada kelahiran yang berkepanjangan disertai dengan kontraksi pelvik dapat ditemukan kepala bayi dengan molase, pembentukan kaput suksedaneum dan ruptur membran yang berkepanjangan. Jika terus berlanjut maka dapat terjadi ruptur uteri karena adanya penipisan abnormal dari segmen bawah uterus dan terbentuknya cincin retraksi Bandl. Pada kala dua yang lama dapat terbentuk fistula. Distosia juga dapat disebabkan oleh kelainan anatomis dari saluran reproduksi seperti yang disebut distosia jaringan lunak. Hal itu karena kelainan kongenital dari vagina atau uterus, bekas luka pada jalan lahir, massa di pelvik atau plasenta letak rendah.

Sumbernya current: Current Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology, Tenth Edition. 2007 by The McGraw-Hill Companies. United States of America. Editor: Alan H. DeCherney,Lauren Nathan,T. Murphy Goodwin,Neri Laufer. Dystocia.