Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

Kejang demam merupakan gangguan kejang yang paling lazim pada anak masa anak. Kejang demam ini secara spontan sembuh tanpa terapi tertentu, dengan prognosis yang sangat baik secara seragam. Namun kejang demam dapat menandakan penyakit infeksi akut serius yang mendasari seperti sepsis atau meningitis sehingga setiap anak harus diperiksa secara cermat dan secara tepat diamati penyebab demam yang menyertai. Kejang demam adalah tergantung umur dan jarang sebelum umur 9 bulan dan sesudah umur 5 tahun. Puncak umur mulainya adalah sekitar 17-23 bulan, dan insiden mendekati 3-4% anak kecil. Ada riwayat kejang demam keluarga yang kuat pada saudara kandung dan orang tua, menunjukkan kecenderungan genetik.1,2 Pada referat dengan judul Kejang Demam ini, penulis akan mengkaji definisi, epidemiologi, etiologi, faktor resiko, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan dan pencegahan yang berhubungan dengan kejang demam beserta prognosis pada kejang demam.

1|P a ge

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak. Terutama golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% daripada anak yang berumur dibawah 5 tahun pernah menderitanya. Terjadinya bangkitan kejang demam bergantung kepada umur, tinggi serta cepatnya suhu meningkat. Faktor hereditas juga mempunyai peranan. Lennox-Buchthal (1971) berpendapat bahwa kepekaan terhadap bangkitan kejang demam diturunkan oleh sebuah gen dominan dengan penetrasi yang tidak sempurna. Lennox (1949) berpendapat bahwa 41,2% anggota keluarga penderita mempunyai riwayat kejang sedangkan pada anak normal hanya 3%.2 II.2 Epidemiologi Kejang demam terjadi pada 2-4% populasi anak berumur 6 bulan 5 tahun. Paling sering pada usia 17-23 bulan. Sedikit yang mengalami kejang demam pertama sebelum umur 5-6 bulan atau setelah 5-8 tahun. Biasanya setelah usia 6 tahun pasien tidak kejang demam lagi.1,3 Sebanyak 80 % kasus kejang demam adalah kejang demam sederhana,dan 20 % nya kejang demam kompleks. Sekitar 8% berlangsung lama (> 15 menit), 16 % berulang dalam waktu 24 jam.3 Di Amerika serikat insiden kejang demam berkisar antara 2-5% pada anak umur kurang dari 5 tahun. Di asia angka kejadian kejang demam dilaporkan lebih tinggi sekitar 80-90%. Di jepang angka kejadian kejang demam adalah sebesar 9-10%.3

2|P a ge

II.3 Etiologi1,2 1. disebabkan oleh suhu yang tinggi 2. timbul pada permulaan penyakit infeksi (extra Cranial), yang disebabkan oleh banyak macam agent: a. Bakteri: Penyakit pada Tractus Respiratorius:  Pharingitis  Tonsilitis  Otitis Media  Laryngitis  Bronchitis  Pneumonia Pada G. I. Tract:  Dysenteri Baciller Pada tractus Urogenitalis:  Cystitis  Pyelonephritis b. Virus:  Varicella  Morbili  Dengue II.4 Patofisiologi Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau otak diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme. Bahan untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glukosa. Sifat proses ini adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kasdiovaskuler.1,2 Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses dipecahnya menjadi CO2 dan air.1,2

3|P a ge

Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh natrium (Na+) dan elektrolit lainnya. Kecuali ion klorida (Cl+) . Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel.1,2,4 Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh adanya:2,5 1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler 2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi, atau aliran listrik dari sekitarnya. 3. Perubahan patofisiologis dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan metabolisme basal 10%15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.2 Pada seorang anak berusia 3 tahun sirkulasi otak menncapai 65% dari keseluruhan tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepasan muatan listrik. Lepasan muatan listrik ini sedemkian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun kemembran sel tetangganya dengan bantuan neurotransmiter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejan yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang, seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38C sedangkan anak dengan ambang kejang yang tinggi baru terjadi pada suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.2

4|P a ge

Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertasi gejala apne, meningkatnya kebutuhan energi dan oksigen untuk ontraksi otot skelet yang akhirnya menjadi hipoksemi, hiperkapni, asidosis laktat disebabkan metabolik anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jangtung yang tidak teratur dan suhun tubuh semakin meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meninggkat. Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbulnya edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.1,2 Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari, sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menybabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi.1,2 II.5 Manifestasi Klinis Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis, furunkulosis, dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umunya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejanak. Tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf.1,2,5 II.6 Klasifikasi Livingston (1954, 1963) membuat kriteria dan membagi kejang demam atas dua golongan, yaitu:2 1. Kejang demam sederhana (simple febrile convulsion) 2. Epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsi trigered off by fever)
5|P a ge

Kriteria Livingston dipakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosa kejang demam sederhana ialah:2 1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun 2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit 3. Kejang bersifat umum 4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam 5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal 6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya satu minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan. 7. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tiddak melebihi 4 kali. Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria diatas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Kejang kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan tibulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetusnya saja.2 II.7 Faktor Resiko Faktor risiko berulangnya kejang pada kejang demam ialah2,3 1. Riwayat kejang demam dalam keluarga 2. Usia dibawah 18 tahun 3. Suhu tubuh saat kejang 4. Lamanya demam saat awitan kejang 5. Riwayat epilepsi dalam keluarga

6|P a ge

Faktor risiko terjadinya epilepsy dikemudian hari ialah2,3 1. Adanya gangguan neurodevelopmental 2. Kejang demam komplek 3. Riwayat epilepsi dalam keluarga 4. Lamanya demam saat awitan kejang 5. lebih dari satu kali kejang demam komplek II.8 Diagnosis Anamnesis :2 y y Demam (suhu > 380) Adanya infeksi di luar susunan saraf pusat (misalnya tonsillitis, tonsilofaringitis, otitis media akut, pneumonia, bronkhitis, infeksi saluran kemih). Gejala klinis berdasarkan etiologi yang menimbulkan kejang demam. y Serangan kejang (frekuensi, kejang pertama kali atau berulang, jenis/bentuk kejang, antara kejang sadar atau tidak,berapa lama kejang, riwayat kejang sebelumnya (obat dan pemeriksaan yang didapat, umur), riwayat kejang dengan atau tanpa demam pada keluarga, riwayat trauma) y Riwayat penyakit sebelumnya, riwayat penyakit keluarga, riwayat kehamilan ibu dan kelahiran, riwayat pertumbuhan dan perkembangan, riwayat gizi, riwayat imunisasi y Adanya infeksi susunan saraf pusat dan riwayat trauma atau kelainan lain di otak yang juga memiliki gejala kejang untuk menyingkirkan diagnosis lain yang bukan penyebab kejang demam y Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsy yang kebetulan terjadi bersama demam.

7|P a ge

Pemeriksaan fisik :2 y y Keadaan umum, kesadaran, tekanan darah ,nadi, nafas,suhu Pemeriksaan sistemik (kulit, kepala, kelenjer getah bening, rambut,mata , telinga, hidung, mulut, tenggorokan, leher, thorax : paru dan jantung, abdomen, alat kelamin, anus, ekstremitas : refilling kapiler, reflek fisiologis dan patologis, tanda rangsangan meningeal) y Status gizi (TB, BB, Umur, lingkar kepala) Pemeriksaan laboratorium :2,5 y y y Darah rutin ,glukosa darah, elektrolit Urin dan feses rutin (makroskopis dan mikroskopik) Kultur darah

Pemeriksaan penunjang :2,5 y Lumbal pungsi Untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis dan ensefalitis. Resiko terjadinya meningitis bakterialis 0,6-6,7 %. Pada bayi manifestasi meningitis bakterialis tidak jelas karena itu Lumbal Pungsi dianjurkan pada : 1. usia < 12 bulan : sangat dianjurkan 2. usia 12-18 bln : dianjurkan 3. usia > 18 bln : tidak rutin y EEG Pemeriksaan elektroensefalogram (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau memprediksi berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh karena itu tidak direkomendasikan.

8|P a ge

Pemeriksaan EEG dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas, misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau kejang demam fokal. y Pencitraan Foto X-ray, CT-Scan, MRI dilakukan atas indikasi : a. Kelainan neurologic fokal yang menetap (hemiparesis) b. Paresis nervus VI c. Papiledema II.9 Diagnosa Banding1,2 Menghadapai seorang anak yang menderita demam kejang, harus dipikirkan apakah penybab dari kejang itu di dalam atau diluar susunan saraf pusat (otak). Kelainan di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak dan lain-lain. Oleh sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan organis di otak. Baru sesudah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam sederhana atau epilepsi yang diprovokasi oleh demam. II.10 Penanggulangan Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan yaitu:2 1. Memberantas kejanng secepat mungkin 2. Pengobatan penunjang 3. Memberikan pengobatan rumatan 4. Mencari dan mengobati penyebab.

9|P a ge

Memberantas kejang secepat mungkin Bila penderita datang dalam keadaan status konvulsiv, obat pilihan utama adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Keampuhan diazepan yang diberikan secara intravena ini sudah tidak dipersoalkan lagi, karena keberhasilan untuk menekan kejang adalah sekitar 80% - 90%. Efek terapuetiknya sangat cepat, yaitu antara 30 detik sampai 5 menit dan efek toksik yang serius hapir tidak dijumpai apabila diberikan secara perlahan dan dosis tidak melebihi 50mg persuntikan.2 Dosis tergantung dari berat badan, yaitu kurang dari 10kg : 0,5-0,75mg/kgbb dengan minimal dalam semprit 2,5 mg; lebih dari 10kg: 0,5mg/kgbb dengan minimal dalam semprit 7,5mg. biasanya dosis rata-rata yang terpakai 0,3mg/kgbb/kali dengan maksimum 5mg pada anak berumur kurang dari 5 tahun dan 10 mg pada anak yang lebih besar.2 Setelah suntikan pertama secara intravena ditunggu 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan keduan dengan dosis yang sama, juga intravena. Setelah lima belas menit suntikan kedua masih kejang, diberikan suntikan ketiga dengan dosis yang sama akan tetapi pemberian diberikan secara intramuskuler. Dengan harapan kejang akan berhenti. Bila tidak berhenti dapat diberikan fenobarbital atau paraldehide 4% secara intravena.2 Efek samping diazepam adalah mengantuk, hipotensi, penekanan pada pusat pernafasan, laringospasme dan henti jantung. Penekanan pada pusat pernafasan dan hipotensi terutama terjadi bila sebelumnya anak telah mendapat fenobarbital.2 Diazepam diberikan langsung tanpa larutan pelarut dengan perlahan kira-kira 1ml/ menit dan pada bayi sebaiknya diberikan 1mg/menit. Pemberian diazepam secara intravena pada anak yang kejang seringkali menyulitkan, cara pemberian yang mudah, sederhana dan efektif melalui rektum telah dibuktikan keampuhannya. Hal ini dapat dilakukan baik oleh orang tua atau tenaga lain yang mengetahui dosisnya. Dosis tergantung dari berat badan yaitu berat badan kurang dari 10 kg: 5mg dan berat lebih dari 10kg: 10mg. rata-rata pemakaian 0,4-0,6mg/kgbb. Kemasan terdiri dari 5mg dan 10mg dalam rektiol. Bila kejang tidak berhenti dengan dosis pertama dapat derikan lagi setelah ditunggu lima menit dengan dosis yang sama dan bila tidak berhenti setelah ditunggu lima belas menit dapat diberikan secara intravena dengan dosis 0,3mg/kgbb. Pemberian dilakukan pada anak-bayi dalam posisi miring-menungging dan dengan rektiol yang ujungnya
10 | P a g e

diolesi vaselin, dimasukkanlah pipa saluran keluar rektiol ke rektum sedalam 3-5cm. kemudian rektiol dipijat hingga kosongg betul dan selanjutnya untuk beberapa menit lubang dubur ditutup dengan cara merapatkan kedua muskulus gluteus.2 Apabila diazepam tidak tersedia, dapat diberikan fenobarbital secara intramuskular dengan dosis awal untuk bayi baru lahir (neonatus) 30mg/kali, anak berumur satu bulan sampai satu tahun: 50mg/kali dan umur satu tahun keatas 75mg/kali. Bila kejang tidak berhenti setelah ditunggu lima belas menit, dapat diulangi dengan dosis yang sama. Hasil yang terbaik ialah apabila terrsedia fenobarbital yang dapat diberikan secara intravena dengan dosis 5mg/kgbb pada kecepatan 30mg/menit.2 Difinelhidantoin oleh banyak sarjana masih dipakai sebagai obat pilihan pertama untuk menanggulangi status konvulsiv karena tidak menggangu kesadaran dan tidak menekan pusat pernapasan. Tetapi mengganggu frekuansi dan irma jantung. Dosisnya adalah 18mg/kgbb dalam infus dengan kecepatan tidak melebihi 50mg/ menit. Dengan dosis tersebut kadar terapoetik dalam darah akan menetap selama 24 jam.2 Bila kejang tidak dapat dihentikan dengan obat-obat tersebut maka sebaiknya penderita dirawat di ruang intensiv untuk diberikan anastesi umum dengan tipental yang diberikan oleh seorang ahli anastesi.2

11 | P a g e

12 | P a g e

Pengbatan penunjang Sebelum memberantas kejang jangan lupa dengan pengobatan penunjang semua pakaian yang ketat dibuka. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung. Penting sekali mengutamakan jalan napas yang bebas agar oksigenisasi terjamin, kalau perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi. Pengisapan lendir dilakukan secara teratur dan pengobatan ditambah dengan pemberian oksigen.2 Fungsi vital seperti kesadaran, suhu, tekanan darah, pernapasan, dan fungsi jantung diawasi secara ketat. Cairan intravena sebaiknya diberikan dengan monitoring untuk kelainan metabolik dan elektrolit bila terdapat tanda tekanan intrakranial yang meninggi jangan diberikan cairan dengan kadar natrium yang terlalu tinggi. Bila suhu meninggi (hiperpireksia) dilakukan hibernasi dengan kopres es atau alkohol. Obat untuk hibernasi adalah clorpromazin 24mg/kgbb/hari dibagi dalam tigaa dosis; prometazin 4-6mg/kgbb/hari dibagi dalam tiga dosis secara suntikkan.2 Untuk mencegah terjadinya edema otak, diberikan kortikosteroid, yaitu dengan dosis 2030mg/kgbb/hari dibagi dalam tiga dosis atau sebiaknya glukocortikoid misalnya deksametason 0,5-1 ampul sampai keadaan membaik.2 Pengobatan rumatan Setelah kejang diatasi diusut dengan pengobatan rumat. Daya kerja diazepam sangat singkat yaitu berkisar 45-60 menit sesudah disuntik. Oleh sebab itu harus diberikan obat anti epilptik dengan daya kerja lebih lama misalnya fenobarbital dan difenilhidantoin. Fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti dengan diazepam. Dosis awal adalah neonatus 30mg; umur satu bulan satu tahun 50mg; dan umur satu tahun keatas 75mg semuanya secara intramuskular. Sesudah itu diberikan fenobarbital sebagai dosis rumat karena metabolisnya didalam tubuh perlahan, pada anak cukup diberikan dua dosis sehari dan kadar maksimal dalam darah terdapat setelah empat jam. Untuk mencapai kadar terapoetik secepat mungkin diperlukan dosis yang lebih tinggi dari dosis biasa. Dengan ganda 8-10mg/kgbb/hari kadar 10-20 g/ml, yaitu kadar efektif dalam darah tercapai dalam 48-72 jam.2

13 | P a g e

Lanjutan dari obat rumatan ini tergantung pada keadaan penderita. Pengobatan ini dibagi atas dua bagian:2 a. Profilaksis intermiten b. Profilaksis jangka panjang

A. Profilaksis intermiten Untuk mencegah terulangnya kejang kembali di kemudian hari, penderita yang menderita kejang demam sederhana, diberikan obat campuran anticonvulsan dan antipiretik yang harus diberikan pada anak bila demam lagi. Anti kovulsan yang diberikan ialah fenobarbital dengan disos 4-5mg/kgbb/hari yang mempunyai efek samping paling sedikit dibandingkan dengan obat anti konvulsan lainya. Obat anti piretik yang dipakai misalnya aspirin. Dosis aspirin adalah 60mg/umur/kali, sehari diberikan tiga kali atau bayi dibawah umur 6 bulan diberikan 10mg/bulan/kali, sehari diberikan tiga kali. Kadar maksimal dalam darah tercapai dalam dua jam pemberian oral.2 Sebenarnya pemberian anti konvulsan dan anti piretik seperti ini dianggap kurang tepat, oleh karena biasanya kejang pada kejang demam timbul didalam 16 jan pertama setelah anak demam. Akan tetapi pada penyelidikan kamfild dan kawan kawan pemberian anti piretikan tanpa anti konvulsan dibanding dengan yang diberi anti konvulsan ternyata pada golongan kedua, kejang dapat dicegah dengan hasilnya bermakna ( p <0,02). Untuk mendapat hasil yang lebih baik, sebenarnya diperlukan fenobarbital dengan dosis yang lebih tinggi yakni 10-15mg/kgbb/hari, tetapi dengan dosis tersebut didapatkan efek samping seperti mengantuk, penekanan pada pusat pernapasan dan sebagainya.2 Obat yang kini lebih ampuh dan banyak dipergunakan untuk mencegah terulangnya kejang demam sederhana ialah diazepam, baik diberikan secara rektal maupun oral pada waktu anak mulai demam.2 Profilaksis intermiten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk menderita kejang demam sederhana sangat kecil, yaitu sampai umur 4 tahun.2

14 | P a g e

B. Profilaksis jangka panjang Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil dan cukup didalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari.2 Diberikan pada keadaan:2 1. Epilepsi yang diprovokasi oleh demam 2. Keadaan yang telah disepakati pada konsensus (1980), yaitu pada semua kajang yang mempunyai ciri: a. Terdapatnya gangguan perkembangan saraf seperti secebral palsi, retardari mental, dan mikrosefali. b. Bila kejang berlangsung lebih dari 15menit, bersifat fokal atau diikuti kelainan saraf yang sementara atau menetap. c. Bila terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik pada orang tua atau saudara kandung d. Pada kasus tertentu yang dianggap perlu, yaitu bila kadang-kadang terdapat kejang berulang atau kejang demam pada bayi berumur dibawah 12 bulan. Bila diperhatikan keempat faktor tersebut diatas tidaklah berbeda dengan kriteria modifikasi livingston untuk kejang demam2 Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang adalah: 1. Fenobarbital, dosis 4-5mg/kgbb/hari. Efeksamping dari fenobarbital jangka panjang ialah perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur, dan kadang-kadang gangguan kogntif atau fungsi luhur. 2. Asam valproat, dapat menurunkan risiko terulangnya kejang dengan memuaskan, bahkan lebih baik dibandingkan dengan fenobarbital. Dosisnya ialah 20-30mg/kgbb/hari dibagi dalam tiga dosis. Kekurangan obat ini ialah harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan fenobarbital dan gejala toksik berupaa mual, kerusakan hepar, pankreas. 3. Fenitoin (dilantin), diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifat berupa hiperaktif sebagai pengganti fenobarbital. Hasilnya tidak atau kurang memuaskan.
15 | P a g e

pemberian antikonvulsan pada profilaksis jangka panjang ini dilanjutkan sekurangkurangnya tiga tahun seperti mengibati epilepsi. Menghentikan pemberian antikonvulsan harus perlahan-lahan dengan jalan mengurangi dosis selama 3 atau 6 bulan. Mencari dan mengobati penyebab Penyebab dari kejang demam baik kejang demam sederhana maupun epilepsi yang diprovokasi oleh demam biasanya infeksi tratus respiratorius bagian atas atau otitis media akut. Pemberian anti biotik yang tepat dan adekuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut.2 Secara akademis pada anak dengan kejang demam yang datang untuk pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi lumbal.2 Hal ini perlu untuk menyingkirkan faktor infeksi didalam otak misalnya meningitis Apabila menghadapi penderita dengan kejang lama, pemeriksaan yang intensif perlu dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap misalnya gula darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati.2 Selanjutnya bila belum memberikan hasil yang diinginkan dan untuk melengkapi data, dapat dilakukan pemeriksaan khusus, yaitu X-foto tengkorak, elektroforesis, ekoensefalografi, brain scan, pneumoensefalografi dan arteriografi.2 II.11 Prognosis Dengan penganggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan kematian. Dua penyelidikan masing-masing mendapat angka kematian 0,46% dan 0,74%2 Dari penelitian yang ada, frekuensi terulangnya kejang berkisar antara 25%-50% yang umunya terjadi pada 6 bulan pertama. Apabila melihat kepada umur, jenis kelamin dan riwayat keluarga, Lennox-Buchthal (1973) mendapatkan:2

16 | P a g e

Pada anak berumur dari 13 tahun, terulangnya kejang pada wanita 50% dan pria 33%. Pada anak berumur anntara 14 bulan dan 3 tahun dengan riwayat keluarga adanya kejang, terulangnya kejaang adalah 50%, sedang pada tanpa riwayat keluarga kejang 25%. Angka kejadian epilepsi berbeda-beda, tergantung dari cara penelitiannya, misalnya

lumbantobing (1975) pada penelitiannya mendapatkan 6%, sedangkan livingston 1945 mendapatkan dari golongan kejang demam sederhana hanya 2,9% yang menjadi epilepsi dan dari golongan epilepsi yang diprovokasi oleh demam ternyata 97% yang menjadi epilepsi.2 Risiko yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita kejang demam tergantung dari faktor:2 1. Riwayat penyakit kejang tanpa deman pada keluarga 2. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang demam. 3. Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal. Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut di atas, maka dikemudian hari akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13%, dibanding bila hanya terdapat 1 atau tidak sama sekali faktor tersebut di atas, serangan kejang tanpa demam hanya 2-3% (consensus statement on febrile seizures, 1981).2 Henmiparese biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari setengah jam) baik bersifat umum atau fokal. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi.2 Mula-mula keumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah dua minggu timbul spastisitas. Milichap melaporkan dari 1190 anak yang menderita kejang demam hanya 0,2% saja yang mengalami hemiparese sesudah kejang lama.2 Dari suatu penelitian terhadap 431 penderita dengan kejang demam sederhana, tidak terdapat kelainan IQ, tetapi pada penderita kejang demam yang sebelumnya telah terdapat gangguan perkembangan atau kelainan neurologis akan didapat IQ yang lebih rendah dibanding saudaranya. Apabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa demam, retardasi mental akan terjadi lima kali lebih besar.2
17 | P a g e

BAB III KESIMPULAN y Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. y Kejang demam terjadi pada 2-4% populasi anak berumur 6 bulan 5 tahun. Paling sering pada usia 17-23 bulan. y y Penyakit infeksi (extra Cranial) dapat karena bakteri, dan virus Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. y Klasifikasi kejang demam adalah kejang demam sederhana (simple febrile convulsion), epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsi trigered off by fever). y Diagnosis melalui anamesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang. Penanggulangan kejang demam Memberantas kejanng secepat mungkin, pengobatan penunjang, memberikan pengobatan rumatan, mencari dan mengobati penyebab. y Dengan penganggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan kematian.

18 | P a g e