Anda di halaman 1dari 17

2011

Aloe vera Sebagai Penurun Kadar Glukosa Darah

DINA PERMATA W
FAUZIAH UTAMI NOVA YANTI

Lidah Buaya Tanaman lidah buaya (Aloe vera) lebih dikenal sebagai tanaman hias dan banyak digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan dan kosmetika, baik secara langsung dalam keadaan segar atau diolah oleh perusahaan dan dipadukan dengan bahan-bahan yang lain. Tanaman lidah buaya termasuk keluarga liliaceae yang memiliki sekitar 200 spesies. Dikenal tiga spesies lidah buaya yang dibudidayakan yakni Aloe sorocortin yang berasal dari Zanzibar (Zanzibar aloe), Aloe barbadansis miller dan Aloe vulgaris. Pada umumnya banyak ditanam di Indonesia adalah jenis barbadansis yang memiliki sinonim Aloe vera linn (Suryowidodo, 1988). Jenis Aloe yang banyak dikenal hanya beberapa antara lain adalah Aloe nobilis, Aloe variegata, Aloe vera (Aloe barbadansis), Aloe feerox miller, Aloe arborescens dan Aloe schimperi (McVicar, 1994).

Klasifikasi lidah buaya selengkapnya adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Bangsa : Liliales Suku : Liliaceae Marga : Aloe Jenis : Aloe vera (Hutapea, 1993).

Lidah buaya (Indonesia), jadam (Malaysia), crocodile tongue (Inggris) merupakan tanaman sukulen berbentuk roset (seperti bunga rose) dengan tinggi 30-60 cm dan diameter tajuk 60 cm atau lebih (McVicar, 1994). Daunnya berdaging, kaku, lancip (lanceolate) dengan warna daun hijau keabu-abuan dan memiliki bercak putih (Evans, 1993). Pada bagian pinggir daun terdapat duri-duri kecil berwarna hijau muda (Briggs dan Calvin, 1987). Tanaman lidah buaya memiliki batang yang tertutup oleh pelepah daun dan sebagian lagi tertimbun oleh tanah. Dari batang tersebut akan muncul tunas-tunas baru yang selanjutnya menjadi anakan (Sudarto, 1997). Di daerah subtropik, tanaman ini akan berbunga pada akhir musim dingin dan musim semi (McVicar, 1994). Bunga berbentu seperti lonceng berwarna kuning atau orange berukuran kirakira 2,5 cm dan tumbuh diatas tangkai bunga (raceme) yang tingginya mencapai 1 meter (Briggs dan Calvin, 1987; McVicar, 1994).

1. Morfologi Tanaman Lidah Buaya Lidah buaya termasuk suku Liliaceae. Liliaceae diperkirakan meliputi 4000 jenis tumbuhan, terbagi dalam 240 marga, dan dikelompokan lagi menjadi lebih kurang 12 anak suku. Daerah distribusinya meliputi keseluruh dunia. Lidah buaya sendiri mempunyai lebih dari 350 jenis tanaman. Tanaman lidah buaya dapat tumbuh di daerah kering, seperti Afrika, Amerika dan Asia. Hal ini di karenakan lidah buaya dapat menutup stomatamya sampai rapat pada musim kemarau untuk melindungi kehilangan air dari daunya. Lidah buaya juga dapat tumbuh di daerah yang beriklim dingin. Karena tanaman lidah buaya juga termasuk tanaman yang efesien dalam penggunaan air, karena dari segi fisiologis tumbuhan tanaman ini termasuk jenis tanaman CAM (crassulance acid metabolism) dengan sifat tahan kekeringan. Dalam kondisi gelap, terutama malam hari,stomata atau mulut daun membuka, sehingga uap air dapat masuk. Disebabkan pada malam hari udaranay dingin, uap air tersebut berbentuk embun. Stomata yang membuka pada malam hari memberi keuntungan, yakni tidak akan terjadi penguapan air dari tubuh tanaman, sehingga air yang berada di dalam tubuh daunya dapat dipertahankan. Karenanya dia mampu bertahan hidup dalam kondisi bagaimanapun keringnya. Kelemahan lidah buaya adalah jika ditanam di daerah basah dengan curah hujan tinggi, mudah terserang cendawan; terutama fusarium sp. Yang menyerang pangkal batangnya, sementara itu dari segi budidayanya tanaman lidah buaya relatif mudah dan relatif tidak memerlukan investasi yang cukup besar. Hal ini di sebabkan tanaman ini merupakan tanaman tahan yang dapat dipanen berulang-ulang dengan masa produksi 7-8 tahun. Tanaman lidah buaya termasuk semak rendah, tergolong tanaman yang bersifat sukulen dan menyukai hidup di tempat kering. Batang tanaman pendek, mempunyai daun yang bersap-sap melingkar (roset). Panjang daun 40-90cm, lebar 6-13cm, dengan ketebalan lebih kurang 2,5cm dipangkal daun, serta bunga berbentuk lonceng. a. Batang Batang tanaman lidah buaya berserat atau berkayu. Pada umumnya sanagt pendek dan hampir tidak terlihat karena tertutup oleh daun yang rapat dan sebagian terbenam dalam tanah. Namun, ada juga beberapa species yang berbentuk pohon dengan ketinggian 3-5m. Species ini dapat dijumpai di gurun Afrika Utara dan Amerika. Melalui batang iniakan tumbuh tunas yang akan menjadi anakan.

b. Daun Seperti halnya tanaman berkeping satu lainya, daun lidah buaya berbentuk tombak dengan helaian memanjang. Daunnya berdaging tebal tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan dan mempunyai lapisan lilin dipermukaan; serta bersifat sukulen, yakni mengandung air, getah, atau lendir yang mendominasi daun.Bagian atas daun rata dan bagian bawahnya

membulat(cembung). Di daun lidah buaya muda dan anak (sucker) terdapat bercak berwarna hijau pucat sampai putih. Bercak ini akan hilang saat lidah buaya dewasa. Namuntidak demikian halnya dengan tanaman lidah buaya jenis kecil atau lokal. Hal ini kemungkinan disebabkan faktor genetiknya. Sepanjang tepi daun berjajar gerigi atau duri yang tumpul dan tidak berwarna. c. Bunga Bunga lidah buaya berbentuk terompet atau tabung kecil sepanjang 2-3cm, berwarna kuning sampai orange, tersusun sedikit berjungkai melingkari ujung tangkai yang menjulang keatas sepanjang sekitar 50-100cm. d. Akar Lidah buaya mempunyai sistem perakaran yang sangat pendek dengan akar serabut yang panjangnya bisa mencapai 30-40cm.

Komposisi terbesar dari gel lidah buaya adalah air, yaitu 99,5 %. Sisanya adalah padatan yang terutama terdiri dari karbohidrat, yaitu mono dan polisakarida (Morsy, 1991). Nutrien yang terkandung dalam gel lidah buaya terutama terdiri atas karbohidrat, vitamin dan kalsium seperti yang tercantum pada Tabel. kandungan Kadar air Karbohidrat (g) Kalori (kal) Jumlah 99,5% 0,30 1,73 - 2,30

Lemak (g) Protein (g) Vitamin A (IU) Vitamin C (mg) Thiamin (mg) Riboflavin (mg) Niasin (mg) Kalsium (mg) Besi (mg)

0,05 - 0,09 0,01 - 0,06 2,00 - 4,60 0,50-4,20 0,003 - 0,004 0,001 - 0,002 0,038 - 0,040 9,920 - 19,920 0,060 - 0,320

Jika daun dilepas dari tanaman, maka akan keluar getah yang berwarna agak kekuningan di bagian yang terluka.Daun lidah buaya mengandung gel yang apabila daun tersebut dikupas akan terlihat lendir yang mengeras yang merupakan timbunan cadangan makanan (Sudarto, 1997). Daun lidah buaya sebagian besar berisi pulp atau daging daun yang mengandung getah bening dan lekat. Sedangkan bagian luar daun berupa kulit tebal yang berklorofil. Secara kuantitatif, protein dalam lidah buaya ditemukan dalan jumlah yang cukup kecil, akan tetapi secara kualitatif protein lidah buaya kaya akan asam-asam amino esensial terutama leusin, lisin, valin dan histidin. Selain kaya akan asam-asam amino esensial, gel lidah buaya juga kaya akan asam glutamat dan asam aspartat. Vitamin dalam lidah buaya larut dalam lemak, selain itu juga terdapat asam folat dan kholin dalam jumlah kecil (Morsy, 1991). Polisakarida gel lidah buaya terutama terdiri dari glukomanan serta sejumlah kecil arabinan dan galaktan. Monosakaridanya berupa D-glukosa, D-manosa, arabinosa, galaktosa dan xylosa (Morsy, 1991). Menurut dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Barat (1998), nutrisi yang terkandung dalam lidah buaya antara lain vitamin (A, B1, B2, B3, B12, C, E, Choline Inositol, Folic Acid), mineral (kalsium, magnesium, potasium, sodium, besi, seng, chromium), enzim (amilase, katalase, selulose, karboksipeptidase, karboksihelolase, bradykinase) dan asam amino (arginin, aspargin, asam aspartic, analine, serine, valine, glutamin, threonine, glycine, licyne, tyrozyne, phenylalanine, proline, histidine, leusin dan isoleusine). Kandungan mineral pada lidah buaya dapat dilihat pada Tabel.

Kalium merupakan mineral yang paling banyak terdapat dalam gel lidah buaya, jumlahnya hampir sebanyak dalam bayam. Kandungan

besinya lebih tinggi 30 % dari susu, yaitu 0,07-0,32 mg/100 g gel. Mineral lainnya berupa belerang 0,2% dan sejumlah kecil fosfor, silikon, mangan, alumunium, boron dan barium (Fit, 1983). Menurut Henry (1979), cairan lidah buaya mengandung unsur utama, yaitu aloin, emodin, gum dan unsur lain seperti minyak atsiri. Menurut Fly (1963), aloin merupakan bahan aktif yang bersifat sebagai antiseptik dan antibiotik. Skinner (1949) menyatakan bahwa senyawa aloin merupakan kondensasi dari aloe emodin dengan glukosa. Senyawa ini mempunyai rasa getir yang ditemukan pertama kali oleh Smith pada tahun 1841. Menurut Windholz (1976), kandungan aloin pada Aloe vera, Aloe perryi dan Aloe ferox Miller masing-masing sebesar 18-25%, 7,5-10 % dan 924,5%. Dan Anonymous (1983) menyatakan bahwa senyawa tersebut bermanfaat untuk mengatasi berbagai macam penyakit seperti demam, sakit mata, tumor, penyakit kulit dan obat pencahar. Lidah buaya banyak dimanfaatkan dalam perawatan kesehatan dan kecantikan serta pengobatan. Pemakaiannya dapat secara internal maupun eksternal. Secara internal lidah buaya dikonsumsi dalam bentuk juice yang diramu dengan berbagai bahan tambahan seperti madu, gula atau asam. Untuk pemakaian secara eksternal, gel lidah buaya dioleskan pada bagian tubuh yang memerlukan atau ditempelkan pada dahi, pelipis atau perut. Pemakaian secara eksternal antara lain untuk menyuburkan rambut, perawatan kulit, obat luka dan antimikroba. Sedangkan pemakaian secara internal digunakan sebagai minuman kesehatan, obat batuk dan pilek, dan berbagai penyakit lainnya (Yuliani dkk, 1996). Khasiat dari tanaman lidah buaya ini antara lain ialah menyembuhkan luka bakar dan merangsang regenerasi kulit (McVicar, 1994). Sudarto (1997), menambahkan bahwa khasiat

lidah buaya yang lain adalah menyembuhkan memar, bisul, menguatkan dan menyuburkan rambut, menghaluskan kulit, obat mata, membersihkan gigi, mengeluarkan cacing (antelmintik), mengeluarkan dahak (ekspektoran) dan menyembuhkan batuk. Bagian dari tanaman ini yang dimanfaatkan sebagai bahan obat dan kosmetik adalah bagian daunnya yang berdaging. Daun lidah buaya mengandung getah dan daging buah. Getah pada daun mengandung aloin berupa barbaloin (sejenis glikosid antrakinan) dan daun yang berisi pulp (gel) mengandung asam trisofan, glukomanan,asam amino dan vitamin serta mineral (Suseno, 1993). Kekayaannya akan bahan yang dapat berfungsi sebagai bahan kosmetik, obat dan pelengkap gizi menjadikan lidah buaya sebagai tanaman ajaib, konon tidak ada tanaman lain yang menguntungkan kesehatan selengkap yang dimiliki tumbuhan ini. Disamping itu ada kelebihan lain yang dimiliki yaitu kemampuannya untuk meresap dalam jaringan kulit. Collins dan Collins (1935), menyebutkan bahwa pemakaian lidah buaya untuk pengobatan cukup baik dan efektif dalam penyembuhan radang kulit dalam percobaannya selama lima minggu dengan menggunakan lidah buaya. Hasil yang sama juga disebutkan oleh Crewe (1937), bahwa lidah buaya mempunyai sifat antiseptik dan merangsang jaringan sel baru dari kulit. Menurut Lewis dan Lewis (1977), di Malaysia daun lidah buaya biasa dicampur dengan gula untuk mengobati penyakit asma. Selain itu Setright (1993), mengatakan bahwa juice lidah buaya jika dikonsumsi dapat menghilangkan gangguan gastro intestinal. Lidah buaya tidak menyebabkan keracunan pada manusia maupun hewan , sehingga dalam bahan industri, lidah buaya dapat diolah menjadi produk makanan dalam bentuk gel, juice dan ekstrak. Di Amerika dan Australia, produk minuman lidah buaya dikonsumsi sebagai minuman diet. Produk minuman ini mempunyai nilai kalori rendah (4 kkal/100 g gel), sehingga sangat sesuai bagi mereka yang menjalani diet, terutama yang mempunyai masalah kelebihan berat badan (Suryowidodo, 1988). Daging lidah buaya merupakan pencahar yang baik dan dapat meningkatkan serta membantu kegiatan usus besar (Mousert, 1988). Getahnya bila dicampur dengan gula dapat mengobati asma dan dalam dosis rendah sebagai tonik untuk dyspepsia dan obat batuk (Perry,1988). Pada dasarnya berbagai spesies lidah buaya mempunyai kandungan kimia yang sama. Peranan dan kegunaan komponenkomponen dalam lidah buaya dapat dilihat pada Tabel 3.

Komponen utama Lignin

Khasiat mampu menembus dan meresap ke dalam kulit agar terjaga kelembabannya

Saponin

mempunyai aktifitas antiseptik dan pembersih

Asam Salisilat (komponen seperti aspirin) Hormon (Auxins dan Giberellins)

sebagai penghilang rasa sakit mengurangi rasa sakit akibat luka dan anti inflammatory

Antrakuinon terdiri dari aloe emodin, bahan dasar obat yang mempunyai sifat Asam aloetic, Alion, Anthracine, Antranol, Barbaloin, Asam chrysophanat, Emodin, minyak Ethereal, ester asam sinamat, Isobarbaloin, Resistanol Mineral seperti Ca, K, Na, Mg, Mn, Zn, Berinteraksi dengan vitamin dan trace Cu, Fe dan Cr. elemen lainnya mendukung fungsi tubuh bagi kesehatan sebagai antibiotik, antibakterial, antifungi, dan penghilang rasa sakit.

Vitamin A, B1, B2, B6, cholin, asam folat, vitamin C, vitamin E

Diperlukan untuk fungsi metabolisme tubuh dan sebagai antiksidan

Sterol (cholesterol, campesterol, lupeol, Sebagai anti-inflamatory, bersifat antiseptik dan -Sitosol) Gula terdiri dari monosakarida (glukosa Untuk memenuhi kebutuhan metabolisme dan fruktosa), polisakarida (glukomanan/polymannose) Enzim : Alliase, alkalline phosphatase, amylase, carboxypeptidase, catalase, cellulase, lipase, peroxidase Membantu proses metabolisme dan pencernaan tubuh, sebagai katalisator dan membantu penyerapan gizi Tubuh dan penghilang rasa sakit

Asam amino : terdiri dari 20 dari 22 asam

Membantu penyusunan protein,

amino yang dibutuhkan manusia dan 7 dari pembentukan jaringan baru, mengganti selsel 8 asam amino esensial tubuh yang rusak dan tua

Adapun manfaat lain dari lidah buaya berdasarkan hasil penelitian lainnya adalah a. membantu menyembuhkan luka b. menyejukkan luka bakar c. meminimalkan kerusakan kulit akibat radang yang disebabkan oleh udara dingin d. melindungi kulit dari sinar X, karena aloe vera adalah antioksidan yang efektif, dapat membersihkan radikal bebas yang disebabkan oleh sinar radiasi X e. menyembuhkan penyakit kulit kronis f. meringankan masalah usus, mengurangi jumlah mikroorganisme berbahaya di perut, menetralkan keasaman perut dan dapat menghilangkan sembelit g. mengurangi gula darah pada penderita diabetes h. mengurangi pembengkakan pada radang sendi i. mengurangi infeksi akibat terserang HIV j. sebagai makanan penunjang untuk pasien AIDS k. mencegah timbulnya penyakit kanker l. mengatasi kecanduan dan stress

PENELITIAN LIDAH BUAYA SEBAGAI PPENURUN KADAR GLUKOSA DARAH Tumbuhan A. vera telah dikenal masyarakat mampu mengobati berbagai macam penyakit antara lain, anti diabetes, anti bakteri, anti inflamasi, anti kanker, antivirus (HIV), juga mampu mengobati excem, luka bakar, memperlancar buang air besar, batuk, radang tenggorokan, cacingan (Anonim,2001). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memperkaya kemanfaatan tumbuhan A. vera sebagai bagian bahan alam yang mampu berperan sebagai obat antara lain mampu menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar HDL tikus putih hiperlipidemia (Sunarsih & Istiadi, 2007), mampu menurunkan kadar kholesterol tikus hiperkholesterol (Sunarsih & Pamuji, 2007), menurunkan kadar gula darah (Ken, 2004), immunomodulator, hepatoprotektor. A vera sekarang banyak dikemas dalam makanan maupun minuman, dan mudah didapatkan, mudah dibudidayakan, serta murah harganya.Unsur utama dari cairan lidah buaya adalah aloin, emodin, resin, gum dan unsur lainnya seperti minyak atsiri. Dari segi kandungan nutrisi, gel atau lendir daun lidah buaya mengandung beberapa mineral sepertiZn, K, Fe, dan vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B12, C, E, inositol, asam folat, dan kholin. Gel lidah buaya mengandung 17 jenis asam amino penting (Tabel 4). Dengan kandungan nutrisi yang demikian lengkap dan bervariasi maka peluang diversifikasi produk lidah buaya sangat besar. Produk minuman dari lidah buaya mempunyai kalori yang sangat rendah (4 kal/100 g gel), sehingga sangat sesuai untuk program diet (Hartanto dan Lubis 2002). Di Kalimantan Barat, lidah buaya sudah diolah dalam berbagai bentuk makanan dan minuman seperti jus, koktail, gel lidah buaya dalam sirup, selai, jeli, dodol, dan manisan. Untuk memperpanjang umur simpannya telah dilakukan pula penelitian pembuatan tepung lidah buaya dengan penambahan bahan pengisi (Sumarsi et al. 1998). Gel lidah buaya juga telah dikembangkan dalam bentuk sediaan oral sebagai minuman kesehatan yang diklaim menyegarkan dan memberikan efek mendinginkan. Secara empiris lidah buaya digunakan sebagai obat luka bakar, panas dalam, asam urat serta afrodisiak dan malnutrisi karena kandungan asam amino dan vitaminnya. Gel lidah buaya juga memperlihatkan aktivitas antipenuaan karena mampu menghambat proses penipisan kulit dan menahan

kehilangan serat elastin serta menaikkan kandungan kolagen dermis yang larut air. Lidah buaya terbukti dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes (Okyar et al. 2001). Penggunaan gel lidah buaya yang umum adalah dengan mengoleskan gel pada bagian yang terinfeksi secukupnya, sedangkan untuk produk yang mengandung aloin dan aloe-emodin dengan diminum 13 sendok makan, 3 kali sehari.

Daun lidah buaya (Aloe vera L.) digunakan secara empiris untuk menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh decocta daun lidah buaya terhadap kadar glukosa darah kelinci yang dibebani glukosa. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan acak lengkap pola searah menggunakan kelinci jantan lokal dengan berat 1,32 kg. Setelah diberikan perlakuan sesuai dengan rancangan, cuplikan darah diambil dengan interval waktu dan volume tertentu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik parametrik Anava satu jalan dilanjutkan uji t-LSD dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa decocta daun lidah buaya segar konsentrasi 300 dan 532 %b/v tidak dapat menurunkan secara bermakna (P>0,05) kadar glukosa darah kelinci. Di lain pihak, pemberian konsentrasi 400%b/v mampu menurunkan secara bermakna (P<0,05) kadar glukosa darah kelinci sebesar 27,10 3,97 %, meskipun demikian efek hipoglikemiknya masih dibawah glibenklamid.

Diabetes mellitus ialah suatu kumpulan gejala klinis yang timbul karena adanya peningkatan kadar glukosa darah kronik akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 1999). Pada penderita DM apapun penyebabnya kadar glukosa darah jelas meningkat, akan menyebabkan timbulnya gejala dan keluhan klasik yang berupa : (1) banyak kencing, (2) rasa haus yang terus menerus, (3) penderita cepat lapar karena kalori dari makanan yang dimakan setelah dimetabolisme menjadi glukosa dalam darah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, (4) penurunan berat badan dan rasa lemah, karena glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel. Sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga, sehingga sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot. Cara diagnosis diabetes mellitus yang paling mudah adalah mendapatkan kadar gula darah puasa lebih dari 140 mg/dl atau 150 mg/dl pada dua kali pemeriksaan atau lebih. Kadar glukosa darah sewaktu lebih dari 200 mg/dl

merupakan gejala khas untuk diabetes mellitus (Widman, 1989). Salah satu obat tradisional yang terus dikembangkan kearah fitofarmaka adalah obat antidiabetes. Daun lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang secara empiris digunakan sebagai obat diabetes. Penyakit diabetes ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi a(hiperglikemik) sehingga pengobatannya dimaksudkan untuk menurunkan kadar glukosa darah (hipoglikemik). Untuk menjamin kebenaran penggunaan daun lidah buaya sebagai antidiabetes,maka perlu dilakukan penelitian ilmiah tentang khasiat dan keamanannya.Pemilihan bahan tanaman obat berbentuk tunggal atau ramuan dalam industri jamu biasanya didasarkan atas pemakaian empiris, yaitu pemakaian secara turun temurun oleh masyarakat. Dari beberapa sumber informasi, tanamantanaman obat yang bisa digunakan sebagai penurun glukosa darah antara lain : sambiloto, petai cina, pule,daun salam, brotowali dan lain-lain, dan tanaman tersebut ada yang telah diuji secara preklinis, bahkan ada penelitian yang telah sampai pada penemuan senyawa aktif yang bertangung jawab pada efek hipoglikemik, yaitu pada bawang putih (Alium sativum), pule (Alstonia scholaris), brotowali (Tinospora crispa) dan buah pare (Momordica charantia, L) (Soedarsoeno et al, 1996; Raza et al., 1999 cit Nugroho, 2002). Upaya pencarian dan uji khasiat berbagai tanaman obat telah banyak dilakukan penelitian, salah satunya adalah penelitian mengenai efek farmakologi daun lidah buaya (Aloevera L) yaitu efek hipoglikemik. Tanaman lidah buaya secara empiris digunakan untuk pengobatan tradisional antara lain getah atau daging daun digunakan untuk urus-urus, pemakaian luar digunakan untuk menyuburkan pertumbuhan rambut. Lumatan daun dan gel ekstrak digunakan untuk mengobati luka bakar dan anti radang. Daun lidah buaya dapat berfungsi sebagai anti radang, anti jamur, anti bakteri dan regenerasi sel. Di samping itu, lidah buaya bermanfaat untuk menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, mengontrol tekanan darah, menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker.. Bunga lidah buaya berkhasiat mengobati luka memar dan muntah darah. Akarnya berkhasiat sebagai obat cacing dan susah buang air besar/sembelit (Furnawanthi, 2002). Daun lidah buaya (Aloe vera L) mengandung lemak tak jenuh Arachidonic acid dan Phosphatidylcholine dalam jumlah relatif besar (Afzal et al, 1991cit Sudarsono, dkk, 1996). Daun dan akar mengandung saponin dan flavonoid, disamping itu daunnya juga mengandung tanin dan polifenol. Kandungan yang lain barbaloin, iso barbaloin, aloe-emodin, aloenin, aloesin,

aloin, aloe emodin, antrakinon, resin, polisakarida. (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991), kromium,inositol (Duke, 2002). Namun sampai saat ini belum ada informasi / penelitian ilmiah yang secara jelas menyebutkan bahwa daun lidah buaya dapat menurunkan kadar glukosa darah (Widowati dkk., 1997). Untuk lebih memberikan dasar bukti manfaatnya perlu dilakukan penelitian terhadap efek penurunan kadar glukosa darah dari decocta daun lidah buaya, agar informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pemilihan metode penyarian dengan teknik penyarian decocta berdasarkan pada penggunaan secara empiris di masyarakat yaitu dengan cara direbus. Adapun penggunaanya di masyarakat dengan cara satu pelepah daun lidah buaya dicuci bersih dan dibuang durinya kemudian dipotong-potong seperlunya dan direbus dengan 3 gelas air sampai menjadi 1,5 gelas, diminum 3kali sehari, masing-masing gelas sesudah makan (Furnawanthi, 2002).

METODOLOGI Bahan, Subjek, dan Alat uji Bahan yang digunakan ialah daun lidah buaya segar yang diambil dari daerah Boyolali pada bulan Juni 2004, glibenklamid (produksi Indofarma jenis generik), CMC Na (tehnis), D-glukosa anhidrat (p.a) pereaksi GOD-PAP (DiaSys), aquadest, EDTA, TCA. Subyek uji yang digunakan ialah kelinci jantan lokal, berat 1,3- 2 kg. Alat uji yang digunakan adalah peralatan gelas, jarum peroral, sentrifuse, spektrofotometer (StarDust FC DiaSys), scalpel blade, mikropipet, ependorf,vortex.

Pembuatan decocta daun lidah buaya segar Daun lidah buaya segar dicuci dengan air mengalir, dibersihkan dari kulit dan durinya, kemudian daging daunnya ditimbang sesuai dengan berat yang dikehendaki, lalu dihaluskan dengan cara diblender, kemudian dimasukkan ke dalam panci infusa, dan ditambah air 100 ml. Panci dipanaskan di dalam tangas air selama lebih dari 30 menit, dihitung mulai suhu di dalam panci mencapai 90oC, sambil sesekali diaduk. Penyaringan dilakukan selagi panas melalui kain flannel. Peringkat konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu decocta daun lidah buaya segar konsentrasi 300; 400; dan 532 % b/v. Cara Kerja

Pada penelitian ini digunakan rancangan penelitian acak lengkap pola searah. Hewan uji kelinci dikelompokkan menjadi 5 kelompok perlakuan. Setiap perlakuan terdiri dari 4 ekor. Subyek uji dipuasakan (12-18 jam) dengan tetap diberi minum ad libitum, terlebih dahulu sebelum perlakuan. Pembagian kelompok sebagai berikut : kontrol negatif (hewan uji diberi larutan CMC Na 1% secara oral; kontrol positif diberi suspensi glibenklamid dosis 0,233 mg/kgbb dalam CMC Na 1% secara oral dosis tunggal. Perlakuan I diberi decocta daun lidah buaya segar konsentrasi 300 % b/v, 5 ml/kgbb secara oral dosis tunggal. Perlakuan II diberi decocta daun lidah buaya segar konsentrasi 400 % b/v, 5 ml/kgbb secara oral dosis tunggal. Perlakuan III diberi decocta daun lidahbuaya segar konsentrasi 532 %b/v, 5 ml/kgbb secara oral, dosis tunggal. Semua kelompok mendapat pembebanan glukosa dengan pemberian glukosa 50%, 5 ml/kgbb pada menit 30 setelah pemberian perlakuan. Setelah pemberian beban glukosa, cuplikan darah diambil dari vena lateralis telinga kelinci sebanyak 150-250 l pada menit ke -30; 0; 30; 60; 90; 120; 180; 240;300; dan 360. Kadar glukosa darah ditetapkan dengan metode enzimatis dengan pereaksi GOD-PAP.

Data kuantitatif kadar glukosa darah dibuat kurva hubungan antara glukosa darah (mg/dl) per satuan waktu pengamatan (menit). Dari kurva tersebut, kemudian dihitung Area Under Curve0-360 atau AUC0-360 dari masing-masing hewan uji tiap kelompok. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Anava dan dilanjutkan menggunakan uji t-LSD dengan taraf kepercayaan 95%. Program statistik yang digunakan adalah perangkat lunak SPSS (for Windows) versi 11.00 Prosentase penurunan kadar glukosa darah (%PKGD) setiap perlakuan dihitung dengan mengurangi nilai AUC0-360 kontrol negatif dengan perlakuan, kemudian hasilnya dibagi AUC0-360 kontrol negatif dikalikan 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kadar glukosa darah ditetapkan dengan metode enzimatik mengguakan pereaksi GODPAP. Reaksi yang terjadi adalah glukosa dioksidasi oleh enzim glukosa oksidase (GOD) dengan adanya O2 menjadi asam glukonat disertai pembentukan H2O2. Dengan adanya enzim peroksidase (POD), H2O2 akan membebaskan O2 yang selanjutnya mengoksidase akseptor kromogen (4-aminoantipirin) menjadi chinonimin (senyawa berwarna merah). Besarnya

intensitas warna tersebut berbanding lurus dengan glukosa yang ada. Pengaruh pemberian decocta daun lidah buaya segar (Aloe vera L) terhadap kadar glukosa darah kelinci yang dibebani glukosa disajikan pada Tabel 1.

Purata Kadar Glukosa Darah (mg/dl) terhadap Waktu (menit) Setelah Perlakuan Kontrol Negatif, Kontrol Positif (Glibenklamid), Decocta Daun Lidah Buaya Segar Konsentrasi 300; 400; dan 532 %b/v. Data kadar glukosa darah dibuat kurva hubungan kadar glukosa darah (mg/dl) vs. waktu (menit). Profil kurva kadar glukosa darah kelinci setelah perlakuan decocta daun lidah buaya segar disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Profil Kurva Kadar Glukosa Darah vs . Waktu Setelah Perlakuan Kontrol Negatif, Kontrol Positif (Glibenklamid), Decocta Daun Lidah Buaya Segar Konsentrasi 300; 400; dan

532% b/v. Dari kurva tersebut, dihitung AUC0-360 setiap hewan uji dan dihitung prosentase penurunan kadar glukosa darah (PKGD), disajikan di tabel 2.

Tabel 2. Harga Luas Daerah di Bawah Kurva Kadar Glukosa Darah (Purata SE) terhadap Waktu (AUC0-360) Kontrol Negatif, Kontrol Positif (Glibenklamid), Decocta Daun Lidah Buaya Segar Konsentrasi 300; 400 dan 532%b/v.

Dari uji normalitas Kolmogorov Smirnov diperoleh harga D hitung < D tabel(0,126 < 0,294) yang berarti data terdistribusi normal. Kemudian dilanjutkan dengan uji statistik Anava satu jalan, diperoleh harga F hitung > F tabel (6,385 >3,06.

Tidak semua perlakuan dengan decocta daun lidah buaya segar menunjukkan efek hipoglikemik. Pola kurva kadar glukosa darah menit 0-360 kontrol positif berada dibawah kurva kontrol negatif (gambar 1). Nilai AUC0-360 kadar glukosa darah kontrol positif menunjukkan perbedaan bermakna dengan kontrol negatifnya (P<0,05) (Tabel II), menunjukkan bahwa pemberian glibenklamid secara nyata menurunkan kadar glukosa darah pada kelinci sebesar41,15 5,61%. (Aloe vera L) konsentrasi 400%b/v saja yang dapat menurunkan kadar glukosa darah secara bermakna (P<0,05) dibandingkan kontrol negatif yaitu sebesar 27,10 3,97%. Decocta daun lidah buaya segar konsentrasi 400%b/v mempunyai efek hipoglikemik tidak berbeda bermakna dengan kontrol positif (P>0,05) walaupun PKGD nya masih dibawah glibenklamid. Daun lidah buaya dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci yang dibebani glukosa, hal ini dikarenakan dalam daun lidah buaya mengandung beberapa senyawa aktif yang kemungkinan berefek sebagai hipoglikemik yaitu kromium, inositol (Duke, 2002).

Pada konsentrasi decocta daun lidah buaya segar 532%b/v ternyata efek hipoglikemiknya turun, hal ini berarti bahwa kenaikan konsentrasi decocta daun lidah buaya segar tidak menaikkan efek hipoglikemik. Hal ini kemungkinan dikarenakan reseptor telah jenuh. Suatu obat untuk dapat menimbulkan efek harus berikatan dengan reseptor, sedangkan kemampuan reseptor untuk dapat berikatan dengan obat adalah berbeda-beda. Jika suatu reseptor sudah jenuh, walaupun dosis obat ditingkatkan, maka reseptor tersebut sudah tidak mampu lagi untuk berikatan dengan obat sehingga efeknya menurun.