Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Perdarahan selama kehamilan dianggap sebagai suatu keadaan akut yang dapat membahayakan ibu dan anak sehingga menimbulkan kematian. Wanita hamil yang mengalami perdarahan pada umur kehamilan < 20 minggu biasanya berakhir dengan abortus yaitu keluarnya hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dengan berat janin < 500 gram. Sampai saat ini kejadian abortus masih dianggap sebagai masalah kesehatan yang sangat serius dalam masyarakat terutama abortus inkomplit yang termasuk penyebab langsung kematian ibu yang apabila tidak mendapat penanganan segera dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas (http://www.library.usu.ac.id.online, diakses 14 April 2007). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) persentase terjadinya abortus cukup tinggi. Sekitar 15-40% angka kejadian diketahui pada ibu yang sudah dinyatakan positif hamil, dan 60-75% angka abortus terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu (Lestariningsih, 2008). Di Indonesia, diperkirakan terjadi sekitar 2-2,5 juta gugur-kandung setiap tahun, sehingga secara nyata dapat menurunkan angka kelahiran menjadi 1,7% per tahun. Sementara itu, kematian akibat gugur-kandung diduga sekitar 60.000-70.000

orang atau 1/3 dari kematian maternal. Estimasi nasional menyatakan setiap tahun terjadi 2 juta kasus abortus di Indonesia, artinya terdapat 43 kasus abortus per 100 kelahiran hidup perempuan usia 15 - 49 tahun. Sebuah penelitian yang dilakukan di 10 kota besar dan 6 kabupaten di Indonesia ditemukan bahwa insiden abortus lebih tinggi diperkotaan dibandingkan dipedesaan (Manuaba, 2008). Dari data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Sumatera Utara tahun 2007, angka kejadian abortus sebesar 132 kasus dengan kejadian abortus imminens sebanyak 106 kasus (86,17%), abortus komplit sebanyak 2 kasus (1,62%), abortus inkomplit sebanyak 12 kasus (9,75%) dan missed abortion sebanyak 3 kasus (2,44%) (Dinkes SU, 2007). Frekuensi terjadinya abortus bertambah dari 12 % pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26 % pada wanita diatas 35 tahun. Survey yang dilakukan dibeberapa kota khususnya di RSUD dr Pringadi, jumlah kasus abortus tercatat 270 kasus di RSUD dr Pirngadi ( Edison SH Mkes) Menunjukkan bahwa abortus dilakukan 89% pada wanita yang sudah menikah 11% pada wanita yang belum menikah dengan perincian: 45% akan menikah kemudian, dan 55% belum ada rencana menikah. Sedangkan golongan umur mereka yang melakukan abortus 34% berusia 30-46 tahun, 51% berusia antara 20-29 tahun dan sisanya 15% berusia dibawah 20 tahun. Hal ini disebabkan karena terjadinya perdarahan atau infeksi dan sepsis. Selain itu, banyak diantara mereka menikah diusia muda, kehamilan yang tidak diinginkan, serta pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, umur dan paritas (Depkes, 2010).

Hubungan Karakteristik Ibu berdasarkan umur dan paritas terhadap kejadian abortus inkomplitus pada umumnya di usia reproduksi sangat besar kemungkinan untuk mengalami abortus dimana di usia ini rahim dan fungsi kesehatan ibu sudah semakin menurun, sehingga tidak mampu untuk memproduksi dan rentan terhadap abortus. Demikian juga paritas merupakan salah satu faktor karena umumnya abortus terjadi pada wanita yang Grandipara ( Muhammad, 2009). Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 5 November 2011 dengan data yang diperoleh dari Rekam Medik RS Kesdam I Bukit Barisan Pematang Siantar pada bulan Maret sampai Oktober 2010 terdapat 40 kasus gangguan kehamilan pada Trimester I. Pada Abortus Imminens terdapat 4 orang, Abortus Insipiens terdapat 6 orang, Abortus Inkompletus 17 orang, Abortus Kompletus terdapat 2 orang, Mised Abortion 3 orang, Abortus Habitualis dan Abortus Infeksius terdapat 0. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengetahui Hubungan antara karakteristik Ibu dengan kejadian Abortus Inkompletus di Rumah Sakit Kesdam BBI Pematangsiantar Tahun 2010-2011 . 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada Hubungan antara Karakteristik Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus di Rumah Sakit Kesdam Bukit Barisan I Pematangsiantar tahun 2010-2011.

1.3.

Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan Karakteristik ibu dengan kejadian abortus Inkompletus di Rumah Sakit Kesdam Bukit Barisan I Pematangsiantar Tahun 20102011. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui hubungan umur ibu dengan kejadian abortus Inkompletus di Rumah Sakit Kesdam Bukit Barisan I Pematangsiantar Tahun 2010-2011. b. Untuk mengetahui hubungan paritas ibu dengan kejadian abortus Inkompletus di Rumah Sakit Kesdam Bukit Barisan I Pematangsiantar Tahun 2010-2011. 1.4. Manfaat Peneliti

a. Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini sebagai bahan bacaan bagi perpustakaan dan sebagai masukan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan Hubungan antara Karaktersik inkompletus. b. Bagi Instansi Rumah Sakit Merupakan bahan masukan bagi instansi Rumah Sakit Kesdam BBI Pematangsiantar sebagai informasi dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil. ibu dengan kejadian abortus

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1. Karakteristik 2.1.2. Defenisi Umur Umur adalah lamanya waktu hidup atau sejak di lahirkan sampai saat ini. Dalam reproduksi sehat di kenal bahwa usia yang aman selama kehamilan adalah 2035 tahun. Jadi wanita yang lebih muda dan wanita yang lebih tua mempunyai kemungkinan untuk terjadi abortus (Benson dan Pernol, 2008). 2.1.3. Defenisi Paritas Paritas adalah jumlah seluruh anak yang dilahirkan, berapa kali ibu melahirkan, dan berapa anak yang dilahirkan yang hidup maupun yang meninggal (Eni Setiati 2009) . Menurut kejadiannya abortus dapat di bagi menjadi abortus spontan, abortus buatan, dan abortus terapeuti. Biasanya abortus spontan di karenakan kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan di sengaja sebelum usia kehamilan 20 minggu. Abortus terapeutik merupakan pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik (Nugroho, 2010).

2.2.

Defenisi

2.2.1. Definisi Abortus Abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus mempunyai berat 400-1000 gram. Atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu (Pujiningsih, 2010). Abortus Inkomplitus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang tertinggal dalam uterus (Sujiyantini, 2009). Abortus menjadi tidak terhindarkan, jika perdarahan uterus disertai kontraksi uterus yang kuat dan menyebabkan dilatasi serviks. Ibu akan mengalami nyeri kolik uterus yang hebat dan pemeriksaan vagina akan menunjukkan dilatasi osteum serviks dengan bagian kantong konsepsi menonjol di dalamnya. Abortus yang tak terhindarkan ini dapat mengikuti tanda-tanda abortus mengancam atau yang lebih umum, mulai tanpa peringatan terlebih dahulu. Bila tanda-tanda abortus yang tak terhindarkan dapat terjadi abortus (Manuaba, 2008). 2.3. Jenis Abortus

2.3.1. Abortus Imminens Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi serviks. Pada umumnya terjadi perdarahan yang berasal dari hasil dari pembuahan (embrio) yang lepas sebagian atau terjadi perdarahan di belakang tempat embrio

menempel. Perdarahan seringkali hanya sedikit namun hal tersebut berlangsung beberapa hari atau minggu dapat juga di sertai rasa mulas ringan, sama dengan pada waktu menstruasi atau nyeri pinggang bawah (Prawirohardjo, 2008).

2.3.2. Abortus Insipiens Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Pada keadaan ini nyeri abdomen menjadi semakin sering dan lebih kuat. Perdarahan lebih banyak. Ostium uteri internum dan eksternum telah terbuka dan kantong ketuban menonjol keluar (Sujiyatini, dkk, 2009).

2.3.3. Abortus Inkompletus Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal di dalam uterus. Biasanya terjadi nyeri abdomen yang lebih nyeri dari pada his sewaktu partus dan ostium uteri internum dan eksternum telah terbuka. Perdarahan bisa sedikit dan banyak barupa darah beku. His yang terjadi melepaskan konseptus dari tempat implantasinya dan keluar melalui orifisium eteri (Pujiningsih, 2010).

2.3.4. Abortus Kompletus Semua hasil konsepsi sudah di keluarkan sehingga rahim kosong. Pada penderita di temukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah mengecil (Prawirohardjo, 2008). Pada penderita di temukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup dan tidak ada lagi gejala kehamilan dan disertai rasa nyeri pada bagian perut bawah dan pinggang (Sujiyatini, 2009). 2.3.5. Missed Abortion Kematian embrio atau janin berumur 20 minggu, tetapi janin mati tidak di keluarkan selama 8 minggu atau lebih. Pada beberapa kasus terjadi perdarahan antar korion dengan desidua dan darah yeng membeku membungkus kantong kehamilan yang mengandung embrio yang telah mati sehingga seluruhnya kelihatan dari luar seperti segumpal daging yang di sebut mola karnosa (Prawirohardjo, 2008). 2.3.6. Abortus Habitualis Kehilangan 3 atau lebih hasil kehamilan secara spontan dan berturut-turut (Benson dan Pernol, 2008). Pada umumnya penderita tidak sulit untuk hamil, namun kehamilannya berakir sebelum 28 minggu (Sujiyatini, 2009). Biasanya penyebabnya di perankan oleh faktor yang serupa walau kadang-kadang boleh di perankan oleh factor yang berbeda. Kejadiannya jarang di laporkan hanya 0,4 - 0,5 % dari seluruh kehamilan. 2.3.7. Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik

Abortus infeksiosus adalah abortus yang di sertai infeksi pada genitalia, sedangkan abrtus septik adalah abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum (Prawirohardjo, 2008).

2.3.

Etiologi Penyebab abortus sebagian besar tidak di ketahui penyebabnya, tetapi

terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan abortus yaitu sebagai berikut : 1. Infeksi

 Infeksi akut virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis  Infeksi bakteri, misalnya streptokokus  Parasit, misalnya malaria  Infeksi kronis sifilis biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua, tuberkolosis paru aktif, pneumonia. 2. Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll. 3. Penyakit kronis, misalnya hipertensi, diabetes, anemia berat, penyakit jantung 4. Syok, trauma fisik, kelainan alat kandungan, kelainan kromosom dan lingkungan yang kurang sempurna (Nugroho, 2010). 5. Pertumbuhan Hasil Konsepsi Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi di keluarkan, gangguan

pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena factor kromosom, factor lingkungan endometrium, pengaruh dari luar seperti infeksi endometrium atau pengaruh obat dan radiasi.

6. Kelainan pada Placenta Infeksi pada placenta dengan berbagai sebab sehingga placenta tidak dapat berfungi dengan baik. Gangguan pembuluh darah placenta di antaranya pada diabetes melitus dan hipertensi menyebabkan peredaran darah dan oksigenasi ke placenta terganggu sehingga menimbulkan abortus. 7. Kelainan yang terdapat pada rahim Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin. Dalam hal ini uterus di jumpai dalam keadaan abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkuatus, uterus sepsus, bekas operasi pada serviks dan robekan serviks post partum (Prawirohardjo, 2008). 2.4. Mekanisme Abortus Penyebab utama pada abortus adalah pelepasan embrio parsial atau komplit akibat perdarahan kecil di dalam desidua. Ketika terjadi kegagalan fungsi placenta uterus mulai berkontraksi sehingga proses abortus di mulai, jika terjadi sebelum minggu ke delapan embrio yang tertutup villi dan desidua cenderung di keluarkan dalam bentuk gumpalan yang disebut Blighted Ovum, walaupun sedikit produk

konsepsi dapat bertahan di dalam uterus, perdarahan uterus terjadi sewaktu proses pengeluaran. Antara mingu ke-8 dan ke-14, mekanisme di atas dapat terjadi atau membran ketuban dapat rupture sehingga mengeluarkan janin yang cacat tetapi gagal mengeluarkan placenta. Placenta ini dapat menonjol di ostium serviks eksterna atau tetap melekat pada dinding uterus. Tipe abortus ini dapat di ikuti perdarahan yang banyak. Antara minggu ke 14 dan ke 22 , janin biasanya di keluarkan dengan di ikuti placenta beberapa saat kemudian. Placenta lebih jarang tertahan. Biasanya perdarahan tidak hebat, tetapi rasa nyeri dapat hebat, sehingga menyerupai persalinan kecil (Williams, 2005). 2..5 Patofisiologi Abortus Abortus biasanya disertai dengan perdarahan didalam desidua basalis dan perubahan nekrotik didalam jaringan-jaringan berdekatan dengan tempat perdarahan. Ovum yang terlepas sebagian atau seluruhnya dan mungkin menjadi benda asing didalam uterus sehingga merangsang kontraksi uterus dan mengakibatkan pengeluaran janin (Sujiyatini, 2009). 2.6. Diagnosis Abortus dapat di duga bila seorang wanita dalam masa reprodusksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid yang terlambat, sering pula terdapat rasa mulas. Kecurigaan tersebut dapat di perkuat dengan di tentukannya

kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis atau imunologi bila mana hal itu dikerjakan. Harus di perhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks, dan adanya jaringan dalam kavum uterus atau vagina (Sujiyatini, 2009). 2.7. Penanganan Abortus 2.7.1. Abortus Imminens a. Bed rest (istirahat total) di tempat tidur. Hal ini dapat di lakukan untuk meningatkan aliran darah kerahim dan mengurangi ransangan mekanis. b. Memberikan terapi obat-obatan Obat-obat yang di berikan adalah obat penenang yaitu Penobarbital 3x30 mgr dan valium. Memberi obat anti perdarahan yaitu adona dan transamin. Memberi obat penguat placenta yaitu gestanon dan duphaston. Obat anti kontraksi rahim yaitu duvadilan, dan papaverin.

c. Evaluasi terhadap perdarahan. Mengulangi tes kehamilan dan berkonsultasi pada dokter ahli untuk penanganan lebih lanjut. Biasanya akan diperiksa menggunakan ultrasonografi. (Pujiningsih, 2010).

2.7.2. Abortus Insipiens

a. Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan di berikan morfin. b. Pada kehamilan kurang 12 minggu, yang biasanya di sertai dengan perdarahan, di sertai dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, di susul dengan kerokan memakai kuret tajam, suntikan ergometrin 0,2 mg intramuskular. c. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infuse oksitosin 10 IU nsesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit. d. Bila janin sudah keluar, tetapi placenta masih tertinggal, lakukan

pengeluaran placenta secara manual (Prawirohardjo, 2008).

2.7.3. Abortus Inkompletus a. Dalam keadaan gawat karena kekurangan darah, dapat dipasang infuse dan transfusi darah, untuk memulihkan keadaan umum. b. Di ikuti kerokan : langsung pada umur kehamilan kurang dari 14 minggu dan dengan induksi pada usia kehamilan diatas 14 minggu. c. Pengobatan dengan memberikan uterotonika dan antibiotic untuk menghindari infeksi.

2.7.4. Abortus Kompletus Keguguran kompletus berarti seluruh hasil konsepsi telah di keluarkan, sehingga tidak memerlukan tindakan. Untuk menangani pasien ini adalah dengan

terapi obat dan atibiotika. Pasien juga di anjurkan untuk diet protein tinggi, vitamin dan mineral (Pujiningsih, 2010).

2.7.5 Missed Abortion Dalam penanganan Missed Abortion perlu di perhatika bahwa sering placenta melekat erat dengan dinding uterus. a. Periksa kadar fibrinogen atau test perdarahan dan pembekuan darah sebelum tindakan kuretase, bila normal jaringan konsepsi bisa segera dikeluarkan, tapi bila kadarnya rendah (<159 mg%) perbaiki dulu dengan pemberian fibrinogen kering atau darah segar. b. Sebelum tindakan berikan antibiotika profilaksis. c. Dilatasi kanalis servikalis bisa dengan Bougie atau dengan batang laminaria tergantung besar kecilnya uterus. d. Tindakan kuretase di mulai dengan cunam abortus di lanjutkan dengan sendok kuret tajam. e. Sesudah tindakan di berikan uterotonika (Nugroho, 2010).

2.7.6. Abortus Habitualis Penanganan abortus habitualis yaitu pengobatan pada kelainan endometrium. Pada abortus habitualis lebih besar hasilnya bila di lakukan sebelum ada konsepsi. Merokok dan minum alcohol sebaiknya di berhentikan. Disamping pemeriksaan

umum dengan memperhatikan gizi dan bentuk badan penderita, dilakukan pula pemeriksaan suami-isteri, antara lain pemeriksaan darah dan urin rutin, pemeriksaan golongan darah, faktor Rh, dan tes terhdap sifilis dan pada suami diperiksa sperma (Prawirohardjo, 2005). 2.7.7. Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik a. Bila perdarahan banyak berikan transfuse darah dan cairan yang cukup. b. Berikan antibiotika yang cukup dan tepat (untuk pemeriksaan pembiakan dan uji kepekaan obat). c. Berikan suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 1 jam d. Berikan suntikan streptomisin 500 gram setia 12 jam atau antibiotika spectrum luas lainnya. e. 24 - 48 jam setelah di lindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi perdarahan banyak, lakukanlah dilatasi dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi. f. Infuse dan pemberian antibiotika di teruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita. g. Pada abortus septic terapi sama saja hanya dosis dan jenis antibiotika di tinggikan dan di pilih jenis yang tepat sesuai dengan hasil pembiakan dan uji kepekaan kuman.

h. Tindakan operatif melihat jenis komplikasi dan banyaknya perdarahan. Di lakukan bila keadaan umum membaik dan panas mereda (Pujiningsih, 2010).

2.8. Kerangka Konsep Kerangka konsep membahas ketergantungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain yang dianggap perlu untuk melengkapi situasi atau hal yang sedang atau yang akan diteliti (Hidayat, 2010). Adapun kerangka konsep penelitian ini adalah hubungan antara umur dan paritas ibu dengan kejadian abortus Inkomplitus di Rumah Sakit Kesdam BBI Pematangsintar tahun 2008-2010. Berdasarkan Karakteristik Ibu :

Umur Abortus Paritas

BAB III METODE PENELITIAN

3.1.

Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan racangan

penelitian retrospektif melalui uji hipotesa yaitu untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu dengan kejadian abortus. 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1. Lokasi Penelitian Peneliti ini dilakukan di Rumah Sakit Kesdam GBI Pematangsiantar Tahun 20112012. 1.2.2 Waktu Penelitian Penelitian dilakukan selama Mei 2012. 3.3. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh ibu yang mengalami gangguan kehamilan pada Trimester I yang dirawat di Rumah Sakit Kesdam GBI Pematangsiantar Tahun 2011-2012. Seluruh populasi menjadi objek penelitian. 3.4. Metode Pengumpulan Data Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Recam Medik di Rumah Sakit Kesdam GBI Pematangsiantar tahun 2011-2012.

3.5.

Defenisi Operasional

3.5.1. Umur Ibu Suatu batasan yang dihitung mulai tanggal lahir seorang ibu sampai tanggal masuk rumah sakit yang tertulis dalam medical record dengan ukuran : a. Beresiko ( < 20 tahun dan > 30 tahun ) b. Tidak beresiko ( 20 30 tahun ) 3.5.2. Paritas Ibu Paritas adalah berapa kali ibu melahirkan dan berapa anak yang di lahirkan. Dengan kriteria : a. Beresiko ( > 3 ) b. Tidak beresiko ( 3 ) 3.5.3. Abortus Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat-akibat tertentu sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan dengan kriteria: 3.5.3.1. Abortus 1. Abortus Imminens 2. Abortus Insipien 3. Abortus Inkompletus 4. Abortus Kompletus 5. Missed Abortion

6. Abortus Habitualis 7. Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik 3.5.3.2. 3.6. Tidak abortus

Hipotesis Penelitian Ho Ha = tidak ada hubungan umur dan paritas ibu dengan terjadinya abortus = ada hubungan umur dan paritas ibu dengan terjadinya abortus.

3.7.

Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti

dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah di olah (Hidayat, 2010). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar checklist disusun oleh peneliti yang di sesuaikan dengan tujuan khusus dari penelitian. 3.8. Pengolahan Data dan Analisa Data

3.8.2. Pengolahan data Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh di antarnya : 1. Editing Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau di kumpulkan.

Editing dapat di lakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. 2. Coding (pemberian kode) Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. 3. Data Entry Data Entry adalah kegiatan memasukkan data yang telah di kumpulkan kedalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi ferkuensi sederhana. 4. Melakukan teknik analisis Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian akan menggunakan ilmu statistik terapan yang di sesuaikan dengan tujuan yang hendak di analisis. 3.8.3. Analisa Data Analisa data yang di gunakan adalah: 1. Analisa Univariat Melakukan analisa pada seluruh variabel independent dan variabel dependent yang diteliti yaitu umur ibu, paritas dan abortus berdasarkan tabel distribusi frekuensi. 2. Analisa Bivariat

Untuk mengetahui hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent yaitu hubungan umur dan paritas ibu terhadap kejadian abortus. Dari hasil penelitian yang akan digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini yaitu dengan mengunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan taraf nyata ( = 0,05) (Hidayat, 2010).