Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN AKTIVITAS, ISTIRAHAT DAN TIDUR

Oleh : Ida Ayu Herna Kusuma W. (0802105004)

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana 2009


KONSEP DASAR KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

Aktivitas
Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan seseorang melakukan aktivitas, seperti berdiri, berjalan, dan bekerja. Kemampuan aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem saraf dan muskuloskeletal. Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak di mana manusia memerlukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Fisiologi pergerakan : Pergerakan merupakan rangkaian yang terintegrasi antara sistem muskuloskeletal dan sistem persarafan. Sistem skeletal berfungsi: Mendukung dan memberi bentuk jaringan tubuh Melindungi bagian tubuh tertentu seperti paru, hati, ginjal, otak, paru-paru Tempat melekatnya otot dan tendon Tempat produksi sel darah Ada 206 tulang dalam struktur tubuh manusia yang kemudian dikelompokkan menjadi tulang panjang seperti ekstremitas atas dan ekstrimitas bawah, tulang pendek seperti jari-jari tangan dan kaki, tulang keras seperti tengkorak, tulang ekstremitas, tulang tak beraturan seperti tulang-tulang spinal cord. Antara tulang satu dengan lainnya dihubungkan dengan sendi yang memungkinkan terjadinya pergerakan. Tulang dan sendi membentuk rangka, sedangkan sistem otot berfungsi sebagai: Pergerakan Membentuk postur Produksi panas karena adanya kontraksi dan relaksasi Sistem persarafan berfungsi: Saraf afferen menerima rangsangan dari luar kemudian diteruskan ke susunan saraf pusat Sel saraf atau neuron membawa impuls dari bagian tubuh satu ke lainnya Saraf pusat memproses impuls dan kemudian memberikan respons melalui saraf efferen Ada tiga faktor penting proses terjadinya pergerakan/kontraksi yaitu adanya stimuli dari otot motorik, transmisi neuromuskular dan eksitasi-kontraksi coupling.

Stimulasi saraf motorik Kontraksi otot dimulai karena adanya stimuli dari saraf motorik yang dikontrol oleh korteks serebri, cerebellum, batang otak dan basal ganglia. Upper motor neuron merupakan saraf yang berjalan dari otak ke sinaps pada bagian anterior horn medula spinal, sedangkan lower motor neuron merupakan saraf-saraf yang keluar dari medula spinalis menuju ke otot rangka. Signal listrik dan potensial aksi terjadi sepanjang mealin menuju sepanjang akson saraf motorik yang berjalan secara saltatory conduction. Impuls listrik berjalan dari saraf motorik ke sel otot melalui sinaps dengan bantuan neutransmiter asetilkolin. Transmisi neuromuskular Asetilkolin dihasilkan dari vesikel pada akson terminal. Adanya depolarisasi dan potensial aksi pada akson terminal merangsang ion kalsium dari cairan ekstraseluler kemudian terjadi perpindahan ke membran akson terminal. Bersamaan dengan itu, molekul asetilkolin masuk ke celah sinaps yang selanjutnya akan ditangkap oleh reseptor maka terjadilah potensial aksi pada sel otot dan terjadi kontraksi. Setelah terpakai, selanjutnya asetilkolin dipecah (dihidrolisis) oleh enzim asetilkolinetrase menjadi kolin yang kemudian ditranspor kembali ke akson untuk bahan pembentukan asetilkolin. Eksitasi kontraksi coupling Merupakan mekanisme molekuler peristiwa kontraksi. Adanya impuls di neuron motorik menimbulkan ujung akson melepaskan asetilkolin dan menimbulkan potensial aksi di serat otot. Potensial aksi menyebar ke seluruh serat otot sampai ke sistem T. Keadaan ini memengaruhi retikulum sarkoplasama melepasakan ion kalsium Yang kemudian diikat oleh troponin C, sehingga ikatan troponin I dengan aktif terlepas. Lepasnya ikatan troponin I dengan aktin menimbulkan tropomiosin bergeser dan terbukalah celah atau bidding side aktin sehingga terjadi ikatan anatara aktin dengan mosin serta kontraksi otot terjadi.

Tipe Kontraksi Kontraksi isometri terjadi saat otot membentuk daya atau tegangan tanpa harus

memendek untuk memindahkan suatu beban, misalnya gerakan mendorong meja dengan tangan lurus, tegangan yang terbentuk dalam otot untuk mepertahankan kepala dan tubuh untuk tetap tegak. Kontraksi isotonik adalah kontraksi yang terjadi saat otot memendek untuk mengangkat atau memindahkan suatu beban. Masalah yang terjadi berhubungan dengan otot: Atropi otot merupakan keadaan dimana otot menjadi mengecil karena tidak terpakai dan pada akhirnya serabut otot akan diinfiltrasi dan diganti dengan jaringan fibrosa dan lemak. Hipertropi otot merupakan pembesaran otot, terjadi akibat aktivitas otot yang kuat dan berulang, jumlah serabut tidak bertambah tetapi ada peningkatan diameter dan panjang serabut terkait dengan unsur-unsur filamen. Nekrosis (jaringan mati) terjadi akibat trauma atau iskemia dimana proses regenerasi otot sangat minim. Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan : Tingkat perkembangan tubuh Usia akan mempengaruhi tingkat perkembangan neuromuskuler dan tubuh secara proporsional, postur, pergerakan dan refleks akan berfungsi secara optimal. Kesehatan fisik Penyakit, cacat tubuh, dan imobilisasi akan mempengaruhi pergerakan tubuh. Keadaan nutrisi Kurangnya nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot, dan obesitas dapat menyebabkan pergerakan menjadi kurang bebas Emosi Rasa aman dan gembira dapat mempengaruhi aktivitas tubuh seseorang. Keresahan dan kesusahan dapat menghilangkan semangat yang kemudian sering dimanifestasikan dengan kurangnya aktivitas. Kelemahan neuromuskuler dan skletal Adanya abnormal postur seperti skoliosis, lordosis dan kifosis dapat berpengaruh terhadap pergerakan. Pekerjaan Seseorang yang berkerja di kantor kurang melakukan aktivitas bila dibandingkan

dengan petani atau buruh. Faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya pergerakan atau imobilisasi: Gangguan muskuloskeletal Osteoporosis Atrofi Kontaktur Kekakuan dan sakit sendi Gangguan kardiovaskuler Postural hipotensi Vasodilatasi vena Peningkatan penggunaan valsava manuver Gangguan sistem respirasi Penurunan gerak pernapasan Bertambahnya sekresi paru Atelektasis Hipostatis pneumonia

Istirahat dan Tidur


Istirahat adalah suatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun yang berakibat badan menjadi lebih segar. Sedangkan Tidur adalah suatu keadaan yang relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda. EEG, EMG, dan EOG dapat mengidentifikasi perbedaan signal pada level otak, otot dan aktivitas masa. Normalnya tidur dibagi menjadi 2 yaitu : Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement. Selama masa NREM seseorang terbagi menjadi 4 tahapan dan memerlukan kira-kira 90 menit selama siklus tidur. Sedangkan tahapan REM adalah tahapan terakhir kira-kira 90 menit sebelum tidur berakhir.

Tahapan Tidur NREM NREM tahap 1

- Tingkat transisi - Merespon cahaya - Berlangsung beberapa menit - Mudah terbangun dengan rangsangan - Aktivitas fisik menurun, tanda vital dan metabolisme menurun - Bila terbangun terasa sedang bermimpi NREM tahap 2 - Periode suara tidur - Mulai relaksasi otot - Berlangsung 10-20 menit - Fungdi tubuh berlangsung lambat - Dapat dibangunkan dengan mudah NREM tahap 3 - Awal tahap dari keadaan tidur nyenyak - Sulit dibangunkan - Relaksasi otot menyeluruh - Tekanan daraj menurun - Berlangsung 15-30 menit NREM tahap 4 - Tidur nyenyak - Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif - Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun Tahapan Tidur REM Lebih sulit untuk dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM Pada orang dewasa normal REM yaitu 20-25% dari tidur malamnya Jika individu terbangun pada tidur REM maka biasanya terjadi mimpi Tidur REM penting untuk kesimbangan mental, emosi juga berperan dalam belajar, memory dan adaptasi. Karakteristik tidur REM Mata : Cepat tertutup dan terbuka Otot-otot : Kejang otot kecil, otot besar imobilisasi Penapasan : Tidak teratur, kadang dengan apnea Nadi : Cepat dan irreguler

Tekanan darah : Meningkat atau fluktasi Sekresi gaster : Meningkat Metabolisme : Meningkat, temperatur tubuh baik Gelombang otak : EEG aktif Siklus Tidur : Sulit dibangunkan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tidur Penyakit Lingkungan Motivasi Kelelahan Kecemasan Alkohol Obat-obatan - Dieuretik menyebabkan insomnia - Anti Depresan : supresi REM - Kafein : meningkatkan saraf parasimpatis - Beta Bloker : menimbulkan insomnia - Narkotika : mensupresi REM Gangguan Tidur Insomnia Ketidakmampuan memperoleh sacara cukup kualitas dan kuantitas tidur. Hipersomia Berlebihan jam tidur pada malam hari, lebih dari 9 jam, biasanya disebabkan oleh depresi, kerusakan saraf tepi, beberapa penyakit ginjal, liver, dan metabolisme Parasomia Merupakan sekumpulan penyakit yang mengganggu tidur anak seperti samnohebalisme (tidur sambil berjalan) Narcolepsy Suatu keadaan / kondisi yang ditandai oleh keinginan yang tidak terkendali untuk tidur, misalnya tidur secara mendadak. Apnoe tidur dan mendengkur Mendengkur bukan dianggap sebagai gangguan tidur, namun bila disertai dengan

apnoe maka akan bisa menjadi masalah. Mengigau Hampir semua orang pernah mengigau, hal ini terjadi sebelum tidur REM.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN DS : Klien mengeluh pusing Klien mengeluh vertigo Klien melaporkan adanya kesulitan tertidur, memerlukan waktu sampai lebih dari 1 jam Klien mengaku tidak merasa beristirahat dengan baik Klien melaporkan terbangun 2-3 kali setiap malam, disertai kesulotan untuk kembali tidur DO : Klien sesak nafas Frekuensi pernafasan klien >20 x/menit Frekuensi nadi klien >100 x/menit Tekanan darah abnormal Klien tampak pucat dan terdapat sianosis Klien tampak lemas Klien tampak bingung DIAGNOSA KEPERAWATAN Intoleransi aktivitas Kemungkinan berhubungan dengan: Kelemahan umum Bedrest yang lama/imobilisasi Motivasi yang kurang Pembatasan pergerakan Nyeri Keletihan Kemungkinan berhubungan dengan: Menurunkan prosuksi metabolisme Pembatasan diet Anemia Ketidakseimbangan glukosa dan elektrolit Defisit perawatan diri Kemungkinan berhubungan dengan: Gangguan neuromuskuler Menurunnya kekuatan otot

Menurunnya kontrol otot dan koordinasi Kerusakan persepsi kognitif Depresi Gangguan fisik Gangguan pola tidur (sulit tertidur, sering terbangun) Kemungkinan berhubungan dengan : Kerusakan neurologi Kebisingan lingkungan Tempat yang asing Terpasangnya tube Prosedur invasif Nyeri Kecemasan Ketidaknormalan status fisiologi Pengobatan Tidak familiar dengan sumber informasi INTERVENSI
No. Dx 1 Tujuan Setelah diberikan askep selama ... x ... jam, diharapkan kebutuhan aktivitas pasien toleran dengan kriteria hasil: Klien tidak lemas Klien bisa beraktivitas dengan mandiri Klien mampu melakukan perawatan diri Kolaborasi dengan dokter dan fisioterapi dalam latihan aktivitas Lakukan istirahat yang adekuat setelah latihan dan aktivitas Berikan diet yang adekuat Membantu mengendalikan energi Intervensi Pantau keterbatasan aktivitas, kelemahan saat aktivitas Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sendiri Catat TTV sebelum dan sesudah aktivitas Mengkaji sejauh mana perbedaan peningkatan selama aktivitas Meningkatkan kerja sama tim dan perawatan holistik Pasien dapat memilih dan merencanakannya sendiri Rasional Untuk merencanakan intervensi dengan tepat

secara mandiri

dengan kolaborasi ahli diet Berikan health education tentang: Perubahan gaya hidup untuk menyimpan energi Penggunaan alat bantu pergerakan Pantau keterbatasan aktivitas, kelemahan saat aktivitas Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sendiri Catat TTV sebelum dan sesudah aktivitas Kolaborasi dengan dokter dan fisioterapi dalam latihan aktivitas Lakukan istirahat yang adekuat setelah latihan dan aktivitas Berikan diet yang adekuat dengan kolaborasi ahli diet Berikan health education tentang: Perubahan gaya hidup untuk menyimpan energi Penggunaan alat bantu pergerakan Lakukan kajian kemampuan pasien dalam perawatan diri terutama ADL Jadwalkan jam kegiatan

Metabolisme membutuhkan energi Meningkatkan pengetahuan dalam perawatan diri.

Setelah diberikan askep selama ... x ... jam, diharapkan pasien tidak merasa letih dengan kriteria hasil: Klien merasa tidak cepat letih selama beraktivitas

Untuk merencanakan intervensi dengan tepat Pasien dapat memilih dan merencanakannya sendiri Mengkaji sejauh mana perbedaan peningkatan selama aktivitas Meningkatkan kerja sama tim dan perawatan holistik Membantu mengendalikan energi Metabolisme membutuhkan energi Meningkatkan pengetahuan dalam perawatan diri.

Setelah diberikan askep selama ... x ... jam, diharapkan pasien

Memberikan informasi dasar dalam menentukan rencana keperawatan

dapat melakukan perawatan diri secara mendiri dengan kriteria hasil: Klien mampu mandi sendiri Klien mampu melakukan oral hygiene secara mandiri

tententu untuk ADL Jaga privasi dan keamanan pasien selama memberikan perawatan Berikan penjelasan sebelum melakukan tindakan Selama melakukan aktivitas berikan dukungan dan pujian kepada pasien Lakukan latihan aktif dan pasif Pantau TTV, tekanan darah sebelum dan sesudah ADL Berikan obat nyeri jika dalam aktivitas terasa nyeri engan kolaborasi dokter Berikan diet tinggi protein Monitor pergerakan usus dan bladder Berikan Health Education tentang : Perawatan diri seperti mandi Perawatan kuku, rambut dan lain-lain Latihan pasif dan aktif Keamanan aktivitas di rumah Komplikasi yang mungkin timbul Lakukan kajian masalah gangguan tidur pasien, karakteristik, dan penyebab kurang tidur

Perencanaan yang matang dalam melakukan aktivitas sehari-hari Memberikan keamanan

Meningkatkan self esteem dan motivasi Meningkatkan self esteem

Meningkatkan sirkulasi darah Mengecek perubahan keadaan pasien Pasien lebih kooperatif dalam beraktivitas

Meningkatkan dan membantu membantu jaringan tubuh Mengetahui fungsi usus dan bladder Meningkatkan pengetahuan dan motivasi dalam perawatan diri

Setelah diberikan askep selama ... x ... jam, diharapkan pola

Memberikan informasi dasar dalam menentukan rencana keperawatan

istirahat dan tidur pasien tidak terganggu dengan kriteria hasil: Klien tidak terbangun di malam hari Klien tidur nyenyak Klien bisa beristirahat dengan tenang

Lakukan persiapan untuk tidur malam seperti pada jam 9 malam sesuai dengan pola tidur pasien Lakukan mandi air hangat sebelum tidur Anjurkan makanan cukup 1 jam sebelum tidur Berikan susu hangat sebelum tidur Keadaan tempat tidur yang nyaman, bersih, dan bantal yang nyaman Bunyi telepon, alarm dikecilkan Berikan pengobatan seperti analgetik dan sedatif setengah jam sebelum tidur Lakukan massage pada daerah belakang, tutup jendela atau pintu bila perlu Tingkatkan aktivitas seharihari dan kurangi aktivitas sebelum tidur Pengetahuan kesehatan: jadwal tidur mengurangi strees, cemas dan latihan relaksasi

Mengatur pola tidur

Meningkatkan tidur Meningkatkan tidur Meningkatkan tidur Meningkatkan tidur

Mengurangi gangguan tidur Mengurangi gangguan tidur

Mengurangi gangguan tidur

Mengurangi tidur

Meningkatkan pola tidur

EVALUASI Setelah dilakukan implementasi selama batas waktu yang disesuaikan dengan kondisi pasien, maka hasil asuhan keperawatan yang diharapkan adalah : Klien tidak lemas Klien bisa beraktivitas dengan mandiri

Klien mampu melakukan perawatan diri secara mandir Klien merasa tidak cepat letih selama beraktivitas Klien mampu mandi sendiri Klien mampu melakukan oral hygiene secara mandiri Klien tidak terbangun di malam hari Klien tidur nyenyak Klien bisa beristirahat dengan tenang

DAFTAR PUSTAKA Carpenito. 2004. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC : Jakarta Doenges, E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3. EGC : Jakarta. Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima Medika : Jakarta Potter & Perry. Fundamental Keperawatan Ed. 4. Jakarta, EGC, 1999 Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta http://74.125.153.132/search?q=cache:Ganyba1VzjAJ:hidayat2.wordpress.com/2009/03/24/ konsep-aktivitas-isti Anonim. 2009. Askep DHF. http://keperawatan-agung.blogspot.com/2009/03/asuhankeperwatan-dhf.html. (Akses : 30 Mei 2009)