Anda di halaman 1dari 20

BAB I Pendahuluan

Diskusi kami berlangsung selama 4 jam dibagi dalam dua sesi pertemuan yang bertempat di Ruang 101 lantai 1 FK Trisakti. Setiap sesi berlangsung dalam waktu 2 jam. Diskusi sesi pertama diikuti oleh 13 orang mahasiswadan pada sesi 2 diikuti oleh 14 orang peserta. Diskusi dibimbingi oleh dr. Jan T.R dengan topik yang dibahas adalah Seorang wanita yang mengeluh jantungnya kadang-kadang berdebar dan nyeri dada dan beliau memberikan pengarahan yang baik sepanjang diskusi berlangsung. Pada sesi pertama, diskusi dilaksanakan pada hari Selasa, 21 september 2010 jam 10.00 WIB sampai 11.55 WIB. Sedangkan sesi kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 22 september 2010 jam 13.00 WIB sampai 14.50. Sepanjang diskusi berlangsung, semua mahasiswa mengikuti jalannya diskusi dengan baik. Diskusi kelompok ini dipimpin Annisa Oktantiani, sekertaris oleh Anindya Dinovita. Topik diskusi yang diberikan adalah seorang wanita yang mengeluh jantungnya kadang-kadang berdebar-debar dan nyeri dada. Hal-hal yang terjadi selama diskusi berlangsung adalah perdebatan antara anggota diskusi dalam menguraikan masalah pasien sampai penyaranan prosedur kepada pasien dan keluarganya.

BAB II LAPORAN KASUS A. Anamnesis Identitas pasien Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat Status : Ny. Ana : 52 tahun : Perempuan :::Menikah

Keluhan utama jantungnya kadang-kadang berdebar dan nyeri dada Riwayat Penyakit Sekarang Saat ini jantung pasien kembali berdebar-debar dan tadi pagi ia seperti akan pingsan Palpitasi akibat perubahan yang cepat dari denyut jantung normal (aritmia) Beberapa hari yang lalu, tinjanya berwarna hitam Diakibatkan oleh perdarahan saluran cerna bagian atas yang kemungkinan disebabkan oleh pemakaian obat golongan AINS, dimana efek samping golongan AINS berupa saluran cerna (dispepsia, erosi, ulserasi, perdarahan atau perforasi mukosa lambung) dan kardiovaskuler (perburukan klinis hipertensi dan payah jantung serta meningkatkan kejadian perdarahan) Riwayat Penyakit Dahulu Sejak beberapa bulan terakhir, pasien merasakan bahwa jantungnya kadangkadang berdebar-debar dan nyeri dada palpitasi akibat perubahan yang cepat dari denyut jantung normal (aritmia)
2

Pasien pernah berobat ke dokter dan dinyatakan menderita penyakit jantung

Riwayat Medikamentosa Pasien diberikan obat yang harus diminum 3 kali sehari tetapi setelah beberapa hari dihentikan karena menyebabkan sakit kepala kemungkinan diberikan obat aritmia Pasien juga diberi obat yang harus diminum 1 kali sehari tetapi setelah seminggu juga dihentikan karena perutnya terasa sakit, pedih, dan nafsu makannya hilang kemungkinan diberikan obat golongan AINS

B. Pemeriksaan fisik KU tampak sakit sedang, kurus, kelihatan cemas Tanda vital :
o o o o

TD 145/65 mmHg Hipertensi grade 1 RR 20x/menit Normal Suhu 37,3oC Subfebris HR 112x/menit, tidak teratur, vol. berubah-ubah takikardia, aritmia

GDS 210 mg/dl Meningkat (N < 200 mg/dl) Paru-paru Jantung

: tidak ada kelainan :

o HR sulit ditentukan o Irama tidak teratur sama sekali o BJ I dan II tidak konstan o Bising (-)

Abdomen : lemas, hepar dan lien tidak teraba Ekstremitas : edema -/-

C. Pemeriksaan laboratorium Hb : 10,5 g/dl Lekosit : 6300/mm SGOT : 36 u/L SGPT : 45 u/L Ureum : 40 mg/dl Kreatinin : 0,7 mg/dl C X R : CTR = 62% dengan elongation aorta, pada paru tak nampak infiltrate EKG - QRS rate :120x/minit - Pada lead II panjang tidak tampak gelombang P - ST elevasi/depresi (-) - Gelombang Q patologis (-)

Interpretasi Masalah

Palpitasi o Dapat dibedakan menjadi 2 yaitu keadaan fisiologis dan patologis. o Pada keadaan fisiologis contohnya setelah melakukan aktifitas yang berat seperti olahraga. o Keadaan patologis bisa disebabkan oleh aritmia jantung.
Aritmia jantung

perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis Berdasarkan hasil pemeriksaan nadi yang meningkat dengan irama yang tidak teratur dan volume yang berubah-ubah, nyeri dada

Kemungkinan penyebab : Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemi) Gangguan endokrin (hipertiroid) Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang mempengaruhi kerja dan irama jantung Gangguan psikologi (stress) a. Coronaria tersumbat (oklusi)

Efek samping obat o Berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien setelah meminum obat yang diberi oleh dokter (sakit kepala, perut tersa sakit, pedih, nafsu makan hilang, tinja berwarna hitam) o Kemungkinan penyebab Dokter salah mendiagnosis penyakit pasien ini sehingga memperparah sakit pasien

sakit perut dan melena


Berdasarkan keluhan pasien mengenai tinjanya yang berwarna hitam Kemungkinan penyebab :

Kelainan lambung dan duodenum : tukak lambung dan duodenum, keganasan, dan lain-lain

Pemakaian obat golongan AINS/NSAID ibuprofen yang dapat menyebabkan gastritis erosif

Kemungkinan obat yang diberikan tersebut adalah anti aritmia dan AINS. Obat golongan AINS menyebabkan iritasi pada mukosa

lambung/ gastritis erosif sehingga Ny. Ana merasakan perutnya sakit, pedih dan tinjanya berwarna hitam. suhu tubuh normal batas atas
Bisa disebabkan karena metabolisme yang meningkat yang menyebabkan

panas tubuh lebih tinggi seperti pada Hipertiroid

hipertensi grade I
Berdasarkan hasil pemeriksaan TD 145/65 mmHg Kemungkinan penyebab :

Hipertiroid yang menyebabkan terjadi peningkatan sensitivitas terhadap katekolamin

suspek diabetes mellitus


Berdasarkan pemeriksaan GDS 210 mg/dl Kemungkinan peyebab :

Kurangnya produksi insulin atau resistensi insulin

Hasil Pemeriksaan Fisik


o

Tampak cemas, kurus dengan pandangan matanya yang terus diarahkan ke doktergejala hipertiroid

Kelenjar tiroid tidak membesar pada inspeksi maupun palpasitidak ada struma

o o

HR sulit ditentukan HR tidak teratur Irama tidak teratur sama sekaliaritmia

o BJ I dan II tidak konstan o Bising (-) Hasil Pemeriksaan Penunjang


o o o o o o

Hb:10,5 g/dlmenurun (anemia), N 12-16 g/dl Lekosit:6300/mm N SGOT : 36 u/L N SGPT : 45u/L Meningkat (N<40) Ureum : 40 mg/dl N Kreatinin : 0,7 mg/dl N

CXR: CTR 62% dengan elongation aorta cardiomegali (hipertrofi konsentrik), elongation aorta

EKG:
o o

QRS rate 120 x/m fase depolarisasi ventrikel meningkat Pada lead II panjang tidak tampak gelombang P tidak ada depolarisasi atrium kanan dan kiri

o o

ST elevasi/depresi (-) tidak ada infark miokardium dan angina pectoris Gelombang Q patologis (-) tidak ada infark miokardium

PEMERIKSAAN LANJUTAN Rencana tindakan yang akan dilakukan meliputi : Anamnesis tambahan

o Riwayat penyakit sekarang Bagaimana sifat nyeri dada yang dirasakan? Tajam seperti ditusuktusuk atau tumpul seperti merasa ditindih beban berat? Keluhan berdebar-debar dan nyeri dada sudah berlangsung selama berpa bulan? Berapa lama nyeri dada tersebut timbul? Nyeri dada yang terjadi dirasakan setelah melakukan aktivitas berat atau muncul secara tiba-tiba tanpa sebarang pencetus. Dimana lokasi pasti nyeri dada tersebut? Apakah ada keluhan lain yang dirasakan selain jantung berdebar-debar dan nyeri dada? o Riwayat penyakit dahulu Apakah pasien menderita Diabetes Melitus? Apakah pasien mempunyai riwayat hipertensi? Apakah pasien punya penyakit yang melibatkan lambung seperti tukak lambung,gastritis? o Riwayat kebiasaan Apakah ada perubahan dalam pola makan? Apakah ada perubahan dalam pola tidur? Apakah ada perubahan dalam pola BAB?

o Riwayat medikamentosa Pernah menkonsumsi obat sebelumnya?apa aja?

Melakukan pemeriksaan fisik

o Inspeksi Kepala : apakah matanya jarang berkedip, apakah bola matanya menonjol keluar/eksoftalmus, ekspresi wajah seperti waspada berlebihan Leher : apakah ad pembesaran kelenjar tiroid

o Palpasi Leher : apakah ada pembesaran kelenjar tiroid atau teraba nodul tiroid

o Auskultasi Jantung : memeriksa bunyi jantung dan irama jantung

Melakukan pemeriksaan penunjang o Pemeriksaan laboratorium darah


Darah rutin Hb, leukosit, hitung jenis Gula darah puasa Mengkorfirmasi apakah Ny. Ana menderita DM Profil lipid Kadar kolesterol, TG, LDL yang meningkat dan HDL yang menurun menandakan hiperlipidemia yang berisiko untuk terjadinya aterosklerosis

Enzim jantung Bertambahnya cKMB dan troponin T menandakan adanya penyakit jantung

o EKG Melihat apakah ada kelainan konduksi jantung

o Roentgen thorax Melihat kelainan pada paru dan jantung

o USG kelenjar tiroid


9

Melihat pembesaran kelenjar tiroid

MASALAH dan HIPOTESIS PENYEBAB Masalah Ny.Ana sekarang setelah didapatkan pemeriksaan yang lebih lengkap: Hipertiroid
o

Berdasarkan keluhan tubuh yang semakin kurus, sulit tidur, ekspresi wajah yang tampak cemas, pandangan mata yang terus diarahkan ke dokter, ISH, aritmia (dari pemeriksaan fisik dan EKG),palpitasi,kadar TSH yang menurun dan FT4 yang meningkat.

o Kemungkinan penyebab:

Konsumsi obat amiodaron merupakan struktur derivate benzofuranik yang strukturnya mirip dengan T4 dan mengandung 37% (berat) iodium, yang menyebabkan Amiodaron Induced Thyrotoxicosis (AIT) dengan gejala perburukan pada kardik(takiaritmia,angina) dan dapat menyebabkan gangguan pada kelenjar tiroid.
10

Tiroiditis limfositik subakut tanpa rasa sakit (Silent Thyroiditis). Biasanya terjadi pada laki-laki atau wanita yang mempunyai gejala hipertiroid ringan kurang dari 2 bulan tanpa pembesaran tiroid atau membesar ringan dan tidak ada oftalmopati. Faktor pencetus antara lain intake iodium yang berlebihan dan sitokin. TLSTRS dapat terjadi pada pasien yang mendapat terapi amiodaron, litium, interferon alfa.

Hipertensi grade I o Berdasarkan: 145/65 mmHg


o

Kemungkinan penyebab: hipertiroid (terjadi peningkatan sensitivitas terhadap katekolamin), pola hidup yang tidak sehat (banyak mengkonsumsi garam), umur pasien (berkurangnya arterial compliance)

Anemia o Berdasarkan: Hb 10,5 g/dl o Kemungkinan penyebab:perdarahan saluran cerna bagian bawah(melena)

PATOFISIOLOGI Ny. Ana merasakan jantungnya sering berdebar-debar dan disertai nyeri dada sejak beberapa bulan terakhir yang kemungkinan disebabkan oleh adanya gangguan suplai darah pada arteri koronaria jantung dan gangguan pada konduksi jantung sehingga frekuensi meningkat dengan irama yang tidak teratur. Selain itu, hormon tiroid yang berlebih juga dapat meningkatkan katekolamin sehingga kontratilitas otot jantung meningkat menyebabkan denyut nadi meningkat dan jantung berdebar-debar. Tekanan darah yang meningkat mungkin disebabkan akibat kerja perangsangan jantung dan curah jantung (CO) Sebelumnya Ny. Ana pernah berobat ke dokter dan dinyatakan menderita penyakit jantung sehingga diberikan obat untuk meredakan gejalanya. Obat yang diminum tersebut kemudian dihentikan oleh karena efek samping yang ditimbulkan. Kemungkinan obat yang diberikan tersebut adalah anti aritmia dan AINS. Obat golongan AINS menyebabkan iritasi pada mukosa lambung sehingga Ny. Ana merasakan perutnya sakit, pedih dan tinjanya

11

berwarna hitam. Obat anti aritmia yang diberikan kemungkinan adalah amiodaron, dimana obat ini dapat menyebabkan gangguan pada kelenjar tiroid (hipertiroidisme) Tubuh Ny. Ana kelihatan kurus mungkin karena hipertiroidisme akan meningkatkan enzim proteolitik sehingga menyebabkan proteolisis yang berlebihan dengan peningkatan pembentukan dan ekskresi urea. Maka massa otot akan berkurang dan berlakunya penurunan berat badan. Selain itu penurunan berat bdan juga pada sisi yang lain adalah disebabkan lipolisis yang dirangsang oleh hormon tiroid. Sementara itu konsentrasi VLDL,LDL dan kolesterol akan berkurang.Pada hipertiroidisme, metabolisme yang meningkat bisa menyebabkan gangguan siklus haid seperti yang dialami Ny. Ana. Sulit tidurnya mungkin karena jantungnya yang sering berdebar-debar disebabkan terjadinya hipermetabolik tubuh. Pandangan mata Ny. Ana yang terus diarahkan ke arah dokter adalah suatu symptom awal eksoftalmus yang juga bisa disebabkan oleh hipertiroid. Semua kelainan jantung yang terjadi pada Ny. Ana merupakan kelainan jantung sekunder akibat hipertiroid. Anemia yang dialami pasien adalah akibat melena juga kurangnya intake makanan. Hormon tiroid merangsang glikonenolisis dan glukoneogenesis. Maka pada hipertiroid akan terjadinya peningkatan glukosa dalam darah sehingga memudahkan terjadinya Diabetes Melitus seperti pada pasien ini yang mana gula darah sewaktunya sudah meningkat.

TATA LAKSANA Rencana tindakan yang akan dilakukan sekarang :

Pemeriksaan laboratorium berupa tes antibodi terhadap reseptor TSH mengkorfirmasi penyebab hipertiroid akibat autoimun

USG tiroid Memastikan apakah ada struma/pembesaran kelenjar tiroid yang tidak ditemuka pada inspeksi dan palpasi

Medikamentosa
o

Obat antitiroid golongan tionamid Propiltiourasil (PTU) dengan dosis awal 100-150 mg setiap 6 jam. Setelah 4-8 minggu, dosis dikurangi menjadi 50-200 mg 1-2x/hari. PTU dapat menghambat konversi T4 menjadi T3 sehingga efektif

12

dalam menurunkan kadar hormon tiroid dengan cepat. Ini tidak dapat dilakukan oleh Methimazol. Efek samping berupa agranulositosis (jarang), gangguan fungsi hati, ikterus kolestatik, atralgia akut
o

Obat golongan penyekat beta propanolol hidroklorida, sangat bermanfaat untuk mengendalikan manifestasi klinis tirotoksitosis seperti palpasi, tremor, cemas, dan intoleransi panas melalui blokadenya pada reseptor adrenergic. Selain itu, juga dapat, meskipun sedikit, menurunkan kadar T-3 melalui penghambatannya terhadap konversi T-4 ke T-3. Dosis awal propanolol umumnya berkisar 20-80 mg/hari

Non-medikamentosa o Obat yang diberikan untuk merawat keluhan jantungnya yang berdebar-debar itu dihentikan o Pemakaian obat golongan AINS yang menyebabkan perdarahn saluran cerna bagian atas(melena) juga dihentikan o Pemberian air mata buatan untuk mencegah kekeringan pada bola mata o Lindungi mata dari debu, asap rokok dan benda kotor lain untuk mencegah iritasi pada mata o Diet tinggi kalori, yaitu memberikan kalori 26000-3000 per hari, baik dari makanan maupun suplemen. o Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 g(2,5 g/kg BB) per hari untuk mengatasi proses pemecahan protein jaringan seperti susu dan telur. o Olahraga teratur o Mengurangi rokok,alcohol, dan kafein yang dapat meningkatkan kadar metabolisme o Konsul ke spesialis endokrin untuk monitor dan observasi lebih lanjut tentang penyakit hipertiroid pasien

13

Prognosis

Ad vitam : Dubia ad bonam dengan pengobatan yang adekut, gejala-gejala hipertiroid dapat membaik lagi. Penyakitnya juga masih belum benar-benar serius

Ad sanasionam : Dubia ad bonam observasi dan monitor pada terpai yang diberikan dapat mencegah kekambuhan pasien

Ad fungsionam : dubia ad malam karena sudah terjadi komplikasi pada janung berupa hipertrofi otot-otot jantung yang nantinya dapat mengakibatkan gangguangangguan lebih lanjut pada fungsi jantung serta ditambah dengan adanya hipertensi

BAB III PEMBAHASAN

14

Kelenjar tiroid adalah sejenis kelenjar endokrin yang terletak di bawah bagian depan leher yang memproduksi hormone tiroid dan calcitonin. Hormon tiroid berfungsi untuk mengendalikan kecepatan metabolism tubu. Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolism tubuh melalui dua cara : 1. Merangsang hamper setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein. 2. Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel Untuk menghasilkan hormone tiroid, kelenjar tiroid memerlukan iodium. Hormon tiroid dibentuk melalui penyatuan satu atau dua molekul iodium ke sebuah glikoprotein besar yang disebut tiroglobulin yang dibuat di kelenjar tiroid dan mengandung asam amino tirosin.Kompleks yang mengandung iodium ini di sebut iodotirosin. Dua iodotirosin kemudian menyatu untuk membentuk dua jenis hormone tiroid dalam darah yaitu : Tiroksin (T4), triiodotironin (T3). Dua jenis hormone ini dipengaruhi oleh hormone TSH (Thyroid Stimulating Hormone) dan TRH (Thyrotropin Releasing Hormone). Tubuh memiliki mekanisme yang rumit untuk menyesuaikan kadar hormone tiroid dalam darah. Tirotoksikosis merupakan suatu keadaan di mana didapatkan kelebihan hormone tiroid karena ini berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokomiawi yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan. Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksi tiroid, yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan. Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme yang paling berat mengancam jiwa, umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan dasar penyakit Graves atau struma multinodular toksik, dan berhubungan dengan factor pencetus: infeksi,operasi , trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus, stress emosi, penghentian obat anti tiroid, ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit serebrovaskular/strok, palpasi tiroid kuat. 1.Etiologi

15

Penyebab yang paling umum dari hipertiroidisme (lebih dari 70% orang) adalah produksi berlebih dari hormone tiroid oleh keseluruhan kelenjar tiroid. Kondisi ini juga dikenal sebagai Graves disease. Hipertiroidisme pada adalah akibat antibody reseptor TSH yang merangsang aktivitas TSH (thyroid Stimulating Hormone) untuk mengeluarkan terlalu banyak hormone tiroid. Penyebab hipertiroidisme lainnya adalah Struma multinodular toksik Adenoma toksik Obat: yodium lebih, litium Karsinoma tiroid yang berfungsi Hormone tiroid yang berlebih Tiroiditis subakut Tirotoksikosis gestasi

2.Gejala dan Tanda Gejala yang sering terjadi pada hipertiroidisme: Gugup Cemas Tidak tahan panas Tremor Hiperaktif Palpitasi Berat badan menurun walaupun nafsu makan meningkat Oligomenorrhea

16

Sulit tidur Sering buang air besar, kadnag disertai diare

Tanda yang terdapat pada hipertiroidisme: Hyperaktif Takikardia atau atrial aritmia chycardia Sistolik hipertensi Kulit Tremor Kelemahan otot Terjadi perubahan pada mata: bengkak di sekitar mata, bertambahnya pembentukan air mata, iritasi dan peka terhadap cahaya. 3.Diagnosa Tanda-tanda vital (suhu, nadi, laju pernafasan, tekanan darah) menunjukkan peningkatan. Tekanan darah sistolok bias meningkat. Pemeriksaan fisik bias menunjukkan adanya pembesaran kelenjar tiroid atau gondok.Untuk menilai fungsi tiroid dilakukan pemeriksaan laboratorium darah terhadap: -TSH serum(biasanya menurun) -T3, T bebas (biasanya meningkat) -Tiroid scan untuk melihat pembesaran kelenjar tiroid -Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum 4.Penatalaksanaan Tujuan terapi hipertiroidisme adalah mengurangi sekresi kelenjar tiroid.Sasaran terapi dengan menekan produksi hormone tiroid atau merusak jaringan kelenjar dengan yodium radioaktif atau pengangkatan kelenjar.

17

Adapun penatalaksanaan terapi hipertioidisme meliputi terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi.Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan: 1.Diet yang diberikan harus tinggi kalori, yaitu memberikan kalori 2600-3000 kalori per hari, baik dari makanan maupu supplemen. 2.Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 gr (2,5 gr/kg berat badan) per hari untuk mengatasi proses pemecahan protein jaringan seperti susu dan telur. 3.Olahraga secara teratur. 4.Mengurangi rokok, alcohol dan kafein yang dapat meningkatkan kadar metabolism. Penatalaksanaan hipertiroidisme secara farmakologi menggunakan empat kelompok obat ini yaitu: obat antitiroid, penghambat transport iodida, iodide dalam dosis besar menekan fungsi kelenjar tiroid, yodium radioaktif yang merusak sel-sel kelenjar tiroid. Obat antitiroid bekerta dengan cara menghambat pengikatan (inkorporasi) yodium pada TBG (Thyroxine binding globulin) sehingga akan menghambat sekresi TSH (Thyroid Stimulating Hormone) sehingga mengakibatkan berkurang produksi atau sekresi hormone tiroid. Antitiroid digunakan untuk: Mempertahankan remisi pada strauma dengan tirotoksikosis Mengendalikan kadar hormone pada pasien yang mendapat yodium radioaktif Menjelang pengangkatan tiroid

5.Komplikasi Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis tirotoksik (thyroid storm). Hal ini dapat berkembang secara spontan pada pasien hipertiroid yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien hipertiroidyang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah pelepasan hormone tiroid dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor, hipertermia (sampai 106F), dan, apabila tidak diobati menyebabkan kematian. Komplikasi yang lain adalah penyakit jantung hipertiroid oftalmopati Graves, infeksi karena agranulositosis pada pengobatan dengan obat antitiroid.

18

BAB IV DAFTAR PUSTAKA


1. James Nourman. Hyperthyroidism: Overactivity of the Thyroid Gland. Available at:

www.endocrineweb.com/hyper3.html. Accessed on September 20 th, 2010. 2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, et al, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta: FKUI; 2006; p. 1939-43, 1949-51.
3. Hyperthyroidism.

Available at: www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000356.htm. Accessed on September 20th, 2010. L. Lee. Hyperthyroidism. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/121865-treatment. Accessed on September 20th, 2010. What is hyperthytoidism? Available at: st http://endocrine.niddk.nih.gov/pubs/Hyperthyroidism/. Accessed on May 21 , 2010.

4. Stephanie

5. -.

19

BAB V Penutup dan Ucapan Terima Kasih

Setelah dilakukan diskusi dengan dua kali pertemuan, kelompok kami menyimpulkan bahwa ada 2 hipotesa penyebab hipertiroidisme pada kasus ini. Pertama hipertiroidisme yang disebabkan oleh tiroiditis limfositik subakut tanpa rasa sakit dan kedua adalah konsumsi obat amiodaron. Untuk memastikan apa penyebab hipertiroidisme pada kasus ini, kelompok kami masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut berupa pemeriksaan imunologi terhadap antibody yang menyerang reseptor TSH dan USG tiroid serta memastikan apa obat yang dikonsumsi oleh pasien terseebut benar amiodaron. Hipertiroidisme pada pasien sudah menyebabkan gangguan pada jantung pasien berupa peningkatan tekanan darah, denyut jantung, pembesaran jantung, dan elongatio aorta. Diagnosa ditegakkan berdasarkan kadar FT4 yang meningkat dan TSH yang menurun. Prognosis pasien bisa berjalan baik jika pasien menjalani pengobatan dengan patuh karena penatalaksanaan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai gejala bisa membaik. Demikian makalah ini kami buat. Kami kelompok II mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan tutor yang telah membimbing dan mengarahkan kami selama diskusi dan pembuatan makalah ini, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Kami juga mohon maaf apabila ada kesalahan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, saran dan kritik kami perlukan untuk perbaikan bagi kelompok kami selanjutnya.

20