Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia
Pada dasarnya Kolonialisme dan Imperialisme memiliki arti yang sama yaitu Penjajahan atau
penguasaan terhadap suatu daerah dan suatu bangsa oleh bangsa lainnya. Namun mempunyai
sejarah perkembangan sendiri- sendiri dengan tujuan yang berbeda.
a. Pengertian Kolonialisme
Kata Koloni berasal dari bahasa Latin yaitu Colonia yang artinya Tanah atau Tanah
Pemukiman atau tanah Jajahan.
Menurut catatan sejarah, sistem koloni ini sudah lama muncul atau muncul pada zaman
Yunani Kuno. Pada saat itu para petani Yunani berpindah tempat dari negerinya yang tandus
ke wilayah atau daerah yang lebih subur dengan tujuan mereka adalah mengolah tanah di
daerah baru agar dapat meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik.
Dari daerah baru itu mereka masih tetap berhubungan dengan negara asalnya. Bahkan
negara aslanya memandang bahwa daerah baru itu sebagai daerah koloni dan setiap tahun
masyarakat yang berada di daerah baru mempersembahkan upeti atau hadiah dari hasil
olahan tanahnya kepada negara asal atau induknya.
Dalam sejarah perkembangan koloni, politik koloni moderen mulai tumbuh semarak yaitu
sejak abad ke 16. Cikal bakal atau awal munculnya koloni moderen adalah dengan adanya
berbagai penemuan besar yang dilakukan oleh pedagang bangsa barat ( eropa ). Mereka
haus dengan nama besar, kejayaan dan kekayaan. Dan bangsa yang disebut sebagai
Kolonisator pertama adalah bangsa Portugis dan spanyol.
Sedangkan pada abad ke 19 merupakan puncak perkembangna kolonialisme karena hampir
seluruh wilayah kawasan benua Afrika dikuasai oleh bangsa- bangsa barat.
Sejak awal muncul dan berkembangnya politik koloni moderen yang dilkukan oleh bangsa-
bangsa Eropa semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu “ Menguras sumber- sumber
kekayaan daerah koloni demi perkembangan industri dan memenuhi kejayaan dari
negara- negara yang melaksanakan politik koloni tersebut.”
Mereka tidak pernah memperhatikan kesejahteraan dan pendidikan rakyat di daerah
koloninya, sehingga hidupnya rakyat di daerah koloni menjadi tetap miskin dan penuh
dengan penderitaan.
Jadi pengertian Kolonialisme adalah “ Suatu sistem dimana suatu negara menguasai rakyat
dan sumber daya negeri lain tapi masi tetap berhubungan dengan negara asalnya.
b. Pengertian Imperialisme
Kata Imperialisme berasal dari kata Imperator yang artinya Memerintah. Dan juga ada kata
Imperium yang diartikan sebagai sebuah kerajaan besar dengan memiliki daerah jajahan
yang amat luas.
Dalam perkembangan selanjutnya Imperialisme memiliki arti “ Suatu sistem penjajahan
langsung suatu negara terhadap negara lain.
b. Imperialisme ekonomi
Yaitu Suatu upaya untuk dapat menguasai perekonomian negara lain
c. Imperialisme Kebudayaan
Yaitu Suatu upaya untuk menguasai mentalitas atau jiwa dari negara lain
d. Imperialisme Militer
Yaitu Upaya untuk menguasai daerah- daerah dari negara lain yang dianggap
strategis dengan menggunakan kekuatan angkatan bersenjata
Merkantilisme ini merupakan sebuah cara untuk mengatur kegiatan ekonomi melalui
campur tangan pemerintah dalam pertumbuhan kapitalisme pada masa awal barat
memasuki abad pencerahan ( moderen)
Sekitar abad ke 16 dan 17, banyak negara- negara eropa menemukan bentuk dan identitas
serta telah menjadi negara Nasional. Tiap- tiap negara berusaha untuk memperkuat
kedudukan di dalam negaranya. Di dalam negara mereka juga terdapat banyak masalah yang
dihadapai sehingga untuk mengatasi masalah tersebut, mereka harus berusaha mencari dana
untuk menyelesaikannya, karena untuk menyelesaikan masalah itu harus butuh biaya yang
sangat besar. Dan cara yang ditempuh pada saat itu adalah dengan cara berdagang
Ada kebijakan yang harus ditempuh oleh bangsa bangsa eropa yaitu : Berusaha memiliki
logam mulia sebanyak- banyaknya. Dengan cara inilah maka kekayaan mulai mengalir ke
negara eropa. Apalagi dengan prinsip bahwa negara- negara yang kaya adalah negara yang
kuat
Setelah selesai perang Salib tahun ( 1096 – 1291 ), muncul kekuasaan baru di asia
barat yaitu kekuasaan kerajaan Turki Usmani. Selanjutnhya bangsa Turki
mempersulit kedatangan pedagang – pedagang eropa di daerah kekuasaannya
sehinggah perdagangan antara eropa dan asia mengalami kemunduran. Oleh karena
itu, wilayah sekitar laut tengah yang sebelumnya ramai menjadi sepi. Akhirnya
bangsa eropa mencari dan berusaha menemukan jalur pelayaran langsung ke asia
untuk mencari rempah- rempah melalui penjelajahan samudera
Konstantinopel yang merupakan ibukota Bizantium Romawi Timur dari tahun 324 M sampai
abad ke 15 M yang terletak antara benua Asia dan eropa( letak yang sangat strategis) baru
ditaklukan oleh turki Utsmani yaitu pada masa pemerintahan Muhammad al Fatih atau Sultan
Mehmed II pada tahun 1453 M.
Mehmed II atau Muhammad Al Fatih adalah sultan ke 7 dari Turki Utsmani dan usianya
sangat muda yaitu 20 tahun.
Ia lahir pada 30 Maret 1432 dan wafat 3 Mei 1481. Dia mulai berkuasa pada tahun 1451 ketika
umurnya 20 tahun. Dan kemudian sekitar tahun 1453 di berhasil menaklukan Konstantinopel
Turki Utsmani merupakan salah satu Dinasti Islam terakhir dan berdiri sekitar hamper 500 tahu
setelah Daulah Umayyah, daulah Abasiyyah dan Dinasti Maliki
Konstantinopel sangat sulit di taklukan karena memiliki bentyeng pertahanan yang sangat kuat yaitu
sekitar 3 lapis sehingga Mehmed II juga mempersiapan kekuatannya dengan 4 strategi
1. Mempersiapkan persenjatan yang lengkap terutama Meriam yang diperkirakan bisa
merobek dinding pertahanan konstantinopel. Konon katanya Mehmed II mengundang
beberapa pakar persenjataan yang mampu menciptakan Meriam dengan ukuran terbesar
pada waktu itu.
2. Persiapan hampir 400 an armada laut. Untuk menyiapkan armada laut yang dikuasi oleh
Romawi, Mehmed menyelundupkannya lewat darat dengan cara pembalakan hutan lalu
perahu2 itu dibawanya lewat darat sampai tembus ke laut
3. Tantara yang di rekrut Mehmed Ii dilatih sejak kecil
4. Diplomasi atau pendekatan dulu dengan negara2 disekitarnya.
Agar terfokus ke Konstantinopel.
Penaklukan dimulai tanggal 6 April 1453 dengan jumlah pasukan 150 00 tentara.
Setelah dikepung 50 hari, konstantinopel akhirnya di taklukan pada tanggal 29 Mei 1453.
Namanya sebuah industri sudah pasti menghasilkan sesuatu barang dan untuk
menghasilkan barang itu harus ada barang atau bahan mentah. Sedangkan pada saat
itu kurang sekali bahan mentah maka mereka harus keluar mencari bahan mentah
dengan cara berdagang dan membentuk kolonialisme dan imperialisme
d. Dari segi Agama ( Gospel ) Ambisi bangsa Eropa kekawasan Asia Timur( Nusantara
) berkaitan dengan adanya semangat bangsa- bangsa eropa untuk melanjutkan
perang salib ( perang Islamn vs Kristen ) dan sekaligus menyebarkan agama Kristen
Ada beberapa faktor lain yang mendorong terjdinya penjelajahan samudera yaitu :
1. Ingin mendapatkan rempah – rempah dengan harga yang lebih murah
karena langsung ke pusatnya
2. Adanya kemajuan dalam bidang IPTEK yaitu penemuan kompas atau alat
penunjuk arah
3. Adanya keinginan untuk menyebarkan Agama Kristen
4. Untuk membuktikan pendapat bahwa bumi itu bulat.
5. Adanya semangat 3G. ( Gold , Gospel, Glory )
1. Kedatangan Belanda pertama kali ke Indonesia pada tahun 1596 dibawah pimpinan
Cornelis De Houtman
2. Kedatangan Belanda pada tahun 1596 di daerah Banten Jawa Barat
3. Kedatanganya disambut baik oleh masyarakat Banten, namun sempat diusir dari Banten
dan bagi yang belum mendapatkan rempah – rempah harus mundur dan menuju ke
Maluku
4. Pada tanggal 2 OKTOBER 1596 Belanda kembali lagi ke Banten untuk mengadakan
perjanjian persahabatan dengan Banten
5. Orang –orang belanda yang sempat ditahan saat kedatangan pertama berhasil di
bebaskan setelah belanda membayar tebusan
6. Namun suasana damai tersebut tidak berlangsung lama karena sejak tanggal 28 oktober
1596 terjadi ketegangan antara Belanda dan Portugis yang saling merebut pengaruh
terhada sultan Banten
7. Dalam konflik tersebut Portugis berhasil mengusir Belanda dan pada tanggal 28
November 1598 rombongan 8 kapal Belanda tiba lagi di Banten dibawa pimpinan Jacob
Van Neck dan Van Waerwyck
8. Pada saat itu hubungan Banten dan Portugis memburuk sehingga kedatangan Belanda
diterima dengan baik oleh Banten dan akhiirnya bisa membawa pulang rempah –
rempah ke negara asalnya.
9. Keberhasilan perdagangan rempah – rempah mendorong orang- orang Belanda semakin
banyak datang ke Indonesia
10. Tapi dalam kenyataannya semakin banyak pedagang – pedagang Belanda di Indonesia
membuat semakin ketat persaingan antara pedagang belanda itu [Link] dilain pihak
Belanda juga harus bersaing dengan bangsa Portugis, Spanyol dan Inggris yang
mengakibatkan tidak maksimal hasil yang mereka peroleh.
11. Untuk menjaga persaingan yang tidak sehat antara sesama pedagang Belanda maka atas
prakarsa pembesar Belanda yang bernama Olden Barneveldt bahwa semua
persekutuan dagang Belanda yang ada di Indonesia harus disatukan menjadi sebuah
persekutuan besar yang dikenal dengan nama VOC ( Vereenigde Oost Indische
Compagnie )
12. VOC ini dibentuk pada tanggal 20 Maret 1602 dan membuka kantor pertamanya di
banten pada tahun 1602 yang dikepalai oleh Francois Wittert.
Dalam berbagai kebijakannya, VOC selalu berusaha untuk mencari kkeuntungan yang sebanyak –
banyaknya. Seiring dengan perubahan permintaan dan kebutuhan di Eropa dari rempah – rermpah ke
tanaman industry, yaitu kopi, gula, dan the maka pada abad 18 VOC mengalihkan perhatiannya untuk
menanam ketiga jenis barang komoditi tersebut. Misalnya, tebu di Batavia, kopi dan the di daerah
Priangan. Dalam melaksanakan pemerintahan, VOC banyak mempergunakan tenaga Bupati.
Sedangkan bangsa Cina dipercaya untuk memungut pajak dengan cara menyewakan desa untuk
beberapa tahun lamanya. Selanjutnya, kebijakan kongsi dagang Brlanda di Hindia timur dilakukan
dengan mengadakan eksploitasi agraris di seluruh Indonesia, antara lain :
A. VOC menentukan luas areal penanaman rempa – rempah.
B. VOC menentkan jumlah tanaman rempah – remapah.
C. VOC melarang rakyat Maluku menjual rampah -rempahnya kepada bangsa Eropa lainnya.
D. VOC mengadakan ekstirpasi, yaitu penebangan tanaman yang melebihi produksi.
E. Penyerahan upeti wajibstiap tahunnya dari kerajaan yang tunduk kepada VOC atau kerajaan
yang telah mengikat perjanjian dengan VOC.
F. Rakyat diwajibka menanam tanaman tertentu dan menjualnya Kembali dengan harga tertentu
kepada VOC saat panen. Misalnya, penanaman kopi di daerah Priangan dana penanaman
tebu di daerah Banten serta Mataram.
Akibat eksploitasi agraris oleh para raja dan bupati serta penarikan berbagai jenis pungutan di wilayah
Mataram, para pegawai VOC mendapat peluang besar untk memperkaya diri. Para bupati dan pegawai
pengumpul pajak dan upeti juga semakin kaya, sedangkan rakyat semakin hidup menderita. Keadaan
ini menyebabkan timbulnya perasaan tidak puas terhadap Belanda semakin meluas dinkalangan rakyat
sehingga mereka selalu menunggu munculnya pemimpin dan penggerak masa untuk memberontak
terhadap Belanda.
Setelah berpusat di Batavia, VOC melakukan perluasan kekuasaan dengan pendekatan serta campur
tanga terhadap kerajaan – kerajaan di Indonesia, seperti Mataram, Bnaten, Sumatra, Gowa (Makasar),
dan Maluku. Untuk menghadapi perlawanan bangsa Indonesia, VOC meningkatkan kekuatan
militernya serta membangun benteng – benteng seperti Ambon, Makasar, Jayakarta, dan lain – lain.
Pada tahun 1605, VOC berhasil menguasai daerah pertamanya di IINdonesia, yaitu benteng milik
POrtugis di Ambon. Selanjutnya, untuk memperlancar kegiatan monopolinya, VOC mengangkat
pemimpin dengan pangkat gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal VOC yang pertama adalah Pieter
Both (1610-1614). Gubernur Jenderal VOC berada di pangkalan dagang VOC yang paling kuat, yaiut di
Ambon. Namun, letak Ambon setelah beberapa waktu diraskan kurang strategis sehingga VOC
berkeingnan menguasai daerah lain untuk dijadikan pangkalan dagangnya yang paling kuat seperti
Jayakarta yang merupakan wilayah kerajaann Banten.
VOC di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1619 berhasil merebut
Jayakarta. Untuk dapat menguasai Jayakarta, J. P Coen kemudian membangun benteng – benteng di
sekitar loji VOC, sehingga loji semakin besar. Oleh VOC, orang – orang Banten yang berada di
Jayakarta diusir dan kota Jayakarta dibakar pada tanggal 30 mei 1619. Selanjutnya, J.P. Coen
mengganti nama JAyakarta menjadi Batavia sesuai dengan nama nenek moyang bangsa Belanda,
yaitu bangsa BAtaf dan menjadikan Batavia sebagai markas besar VOC.
Setelah menguasai Jayakarta, usaha VOC juntuk menguasai perdagangan rempah – rempah menjadi
semakin mudah. VOC terus mengadakan perluasan wilayah kekuasaan sehingga pusat – pusat
perdagangan penting di nusantara berhasil dikuasai, seperti Malaka (1641), Padang (1662), dan
Makasar (1667).
Untuk semakin memperbesar kekuasaannya di Indonesia, VOC ,melakukan cara – cara politik devide
et impera atau politik adu domba dan tipu muslihat. Apabila ada persengketaan antara kerajaan yang
satu dengan kerajaan yang lain, mereka mencoba membantu salah satu pihak. Dari jasanya itu,
mereka mendapatkan imbalan berupa penguasaan daerah. Hal ini berlangsung terus sehingga di
Indonesia semakin banyak daerah koloni orang – orang Eropa, terutama Belanda. Sebagai contoh,
kerajaan Mtaram di Jawa yang dikenal sebagai kerajaan yang besar dan kuat pun akhirnya berhasil
dikendalikan VOC. Hal ini terjadinya setelah dengan kelicikannya VOC untuk menandatangani
penyerahan kekuasaan kerajaan Mataram kepada VOC.
Akibat hak monopoli yang dimilikinya, VOC juga menguasai daera – daerah pedalaman seperti
kerajaan Mataram dan Banten yang banyak menghasilkan beras dan lada. Dengan politik adu
dombanya, VOC berhasil menanamkan kekuasaan dan memaksakan monopolinya di Banten. Untuk
melebrkan sayap kolonialisme dan imperialismenya di Sumatra, VOC berusaha mengalahkan Portugis
di MAlaka. Akhirnya pada tahun 1641, VOC berhasil menguasai Malaka. Dari Malaka, kekuatan VOC
dikonsentrasikan untuk melebrkan pengaruh kekuasaannya ke Aceh. Sementara di Indonesia bagian
Timur, VOC semakin kuat setelah berhasil mengalahkan perlawana Sultan Hasanudin dari Gowa.
Kekuasaan VOC berkembang di KAlimanta Selatan setelah VOC berhasil memaksa kontrak dan
monopoli dengan Raj Sulaiman (1787). Di Maluku, dengan taktik mengadu domba para penguasa,
yakni VOC menbantu putra Alam untuk memerangi Sultan Nuku, akhirnya Maluku dapat dikendalikan.
Untuk mempertahankan kegiatan monopoli dan kekuasaan, VOC selalu menggunakan kekerasan.
Misalnya, menindak keras para pedagang MAkasar di daerah Misol. Bahkan raja dan kapten Laut Misol
juga ditawan (1702).
Selain itu VOC juga terus melaksanakan kebijakan monopoli dagang rempah – rempah di Maluku.
Peraturan – peraturan yang telah ditetapkan oleh VOC dalam pelaksanaan monopoli di Maluku, antara
lain VOC melakukan kebijakan ekstripasi karena penduduk Maluku berusaha melepas areal tanaman
rempah – rempah sehingga terjadi kelebihan produksi menyebabkan kemerosotan harga rempah –
rempah. Untuk mencegah terjadinya pelanggaran terhadap peraturan monopolonya, VOC mengadakan
patrol yang disebut pelayran Hongi menggunakan perahu tradisional yang disebut kora – kora.
Selanjutnya rakyat Maluku yang nerasa dirugikan oleh kebijakan VOC mulai melakukan perlawanan
bersenjata. Dalam upaya menumpas pemberontakan tersebut, VOC tidak sgan – segan melakukan
pembunuhan masal terhadap rakyat Maluku. Misalnya pada tahun 1621, VOC di bawah pimpinan J.P.
Coen melakukan pembunuhan massal terhadap 1.000 orang rakyat Banda.
Pada abad ke 18, Inggris ternyata juga lebih berkuasa di perairan Asia Tenggara daripada Belanda.
Akibatnya, setelah tahun 1700 sebagian besar dari perdagangan luar negeri kompeni runtuh,
sedangkan daerah – daerah kekuasaannya di Kawasan Asia juga banyak yang ikut hilang, seperti di
India yang terdesak oleh Ingris dan Prancis uang kekuatannya semakin bertambah.
Berdasarkan alasan di atas VOC dibubarkan pada tanggal 31 desember 1799 dengan utang 136,7 jta
gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, Gudang, benteng, kapal serta daerah
kekuasaan di IIndonesia. Setelah VOC dibubarkan, Indonesia langsung dikendalikan oleh pemerintah
Belanda. Sejak saat itu, secara politis wilayah Idonesia dikuasai oleh pemerintah Belanda.
Sejak Belanda dikuasai Prancis, kaisar Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya Bernama Louis
Napoleon menjadi penguasa Belanda. Louis Napoleon merasa khawatir pulau Jawa sebagai jajahan
Belanda direbut oleh Iinggris. Inggris pada saai itu sudah menduduki wilayah Bengkulu, Padang, Pulau
Pinang, Ternate, dan Maluku. Louis Napoleon segera mengirimkan seorang ahli militer yang Bernama
Herman Willem Daendels ke pulau JAwa sebagai Gubernur Jenderal. Kedatangan Daendels di
Indonesia sebagai gubernur jenderal adalah untuk mempertahankan pulau JAwa agar tidak jatuh ke
tangan Inggris dan memperbaiki keadaan tanaj jajahan. Kebijakan Daendels dalam usaha
mempertahankan pulau JAwa dari serangan Inggris, antara lain :
A. Membuat jalan raya dari Anyer sampai Panarukan.
B. Mendirikan benteng – benteng pertahanan.
C. Membangun pangkalan Angkatan Laut di Merak dan Ujung Kulon.
D. Memperkuat pasukan yang beranggotakan orang Indonesia.
E. Mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya.
Selain dalam bidang pertahanan dan kemiliteran, Daendels juga berusahamemperbaiki keadaan Pulau
Jawa dengan cara, antara lain :
a. Membangun PUlau JAwa menjadi Sembilan prefektur (daerah).
b. Mengangkat para bupati di seluruh Jawa sebagai pegawai pemerintahan Belanda.
c. Memperbaiki gaji pegawai, memberantas korupsi, dan memberi hukuman yang berat bagi para
pegawai yang melakukan praktik korupsi.
d. Mendirikan badan – bdan pengaadilan yang sesuai dengan adat istiadat Indonesia.
Usaha untuk memajukan dan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris membutuhkan dana
yang cukup besar. Karena tidak mendapatkan bantuan dari Negeri Belanda, DAendels kemudian
berusaha memperoleh biaya yang diperlukan dengan cara – cara, antara lain :
A. Menerapkan aturan menyerahkan Sebagian hasil bumi sebagai pajak (contingenten) dan
aturan penjualan paksa hasil bumi kepada pemerintah dengan harga yang telah ditetapkan
(verpliche leverantie).
B. Mengadakan kerja paksa (rodi) bagi penduduk Indonesia.
C. Menjual tanah – tanah luas kepada pengusaha swasta Belanda dan Tionghoa.
D. Memperluas areal penanaman tanaman kopi.
Daendels dikenal sebagai penguasa pemerintah yang sangat disiplin, keras, dan kejam. Selain itu,
akibat tindakannya menjual tanah milik negara kepada pengusaha swasta asing, ia telah melanggar
undang – undang negara. Belanda menerima banyak proses akibat Tindakan – Tindakan Daendels
yang sangat kejam dan sewenang – wenang kepada rakyat Indonesia. Kebijakan Daendels yang paling
banyak memakan korban adalah kerja rodi dalam pembangunan jalan raya dari Anyer sampai
PAnarukan. Dengan kegiatan itu rakyat menderita, tersiksa, bahkan tidak sedikit yang mati kelaparan.
Pada tahun 1811 Daendels ditarik Kembali ke negeri Belanda dan digantikan Gubernur Jenderal
Yansens. Pada saat Yansens memerintah, kedudukan Inggris di Nusantara semakin kuat untuk
menguasai pulau JAwa. Ternyata Yansens tidak mampu menghadapi seragan Inggris dan akhirnya
Belanda menyerah kepada INggris di Tuntang (Salatiga). Penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada
INggris ditandai dengan perjanjian Tuntang (1811) yang isinya, antara lain :
1. Pulau Jawa dan sekitsrnya yang dikuaisai Belanda jatuh ke tangan Inggris.
2. Semua tantara Belanda menjadi tantara Inggris.
3. Orang – orang Belanda dapat dipekerjakan oleh Inggris.
Sejak penandatanganan perjanjian Tuntang tersebut wilayah Hindia Belanda menjadi jajahan Inggris.
Tidak lama setelah penandatanganan kapitulasi Tuntang, INggris secara resmi beerkuasa atas wilayah
Hindia Belanda. Pemerintahan Inggris dipimpin oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles
(1811 – 1816). Kebijakan politik pemerintahan Raffles berddassarkan assas – asas liberal yang
menekankan kebebasan dan persamaan manusia. Sesuai dengan kebijakan politik itu, Raffles ingin
menerapkan kebijakan ekonomi seperti kebijakanInggris di India karena India dan Indonesia sama –
sama berciri agraris. Kebijakan Raffles tersebut dikenal dengan nama system pajak tanah
(Landrentsystem)atau system sewa tanah (Landelijk Stelsel). Prinsip kebijakansanaan Raffles di Hindia
Belanda berpatokan pada tiga asas, antara lain sebagai berikut :
A. Segala bentuk penyerahan wajib dan kerja paksa dihapuskan sehingga rakyat diberi
kebebasan untuk menanam tanaman yang dianggap menguntungkan.
B. Peranan para bupati sebagai pemungut pajak dihapuskan dan mereka dijadikan bagian yang
integral dari pemerintahan colonial dengan fungsi – fungsi pemerintahan yang sesuai dengan
birokraasi pemerintahan dinegeri barat.
C. Para petani yang menggarap tanah dianggap sebagai penyewa (tenant) yang memiliki
kewajiban untuk membayar sewa tanah (landrent) atau pajak tanah.
Perubahan tersebut bersifat revolusioner karena dihilangkannya unsur paksaan atas rakyat dan diganti
dengan suatu system hubungan ekonomi antara pemerintah dengan rakyat yang didassarkan atas
kontrak secara sukarela. Perubahan ini bukan perubahan ekonomi semata – mata, tetapi merupakan
perubaan soaial budaya yang menggantikan ikatan – ikatan adat yang tradisional dengan ikatan
kontraktual yang belum pernah dikenal sebelumnya. Dasar kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia
yang bersifat tradisional akan digsnti dengan system kapitalisme. Kebijakan ekonomi pemerintahan
Raffles bertujuan untuk, antara lain :
Keuntungan system sewa tanah bagi rakyat, antara lain sebagai berikut :
a. Rakyat bebas menanam tanaman yang menguntungkan sesuai dengan keterampilan yang
dimilikinya.
b. Rakyat membayar sewa sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa rasa khawatir aanya
pemungutan liar atau pemerasan.
c. Rakyat akan tergerak untuk terus meningkatkan hasil pertanian karena akan meningkatkan
taraf kehidupannya.
Ternyata system sewa tanah yang dicetuskan Raffles mengalami kegagalan, antara lain sebagai
berikut :
a. Pemerintah colonial mengalami kesulitan menemukan jumlah pajak bagi setiap pemilik tanah.
Untuk menentukan pajak harus diadakan pengukuran tanah dan penelitian kesuburaan tanah
yang membutuhkan pegawai yang cukup banyak.
b. Pajak tanah harus dibayar dengan uang, sedangkan masyarakat pedesaan di Indonesia
merupakan masyarakat tertutup yang belum mengenal peredaran uang.
c. Kepemilikan tanah masih bersifat tradisional, yaitu berdasarkan warisan adat sehingga
pemerintah colonial mengalami kesulitan dalam prosedur pengambilalihan tanah.
Jelaslah kiranya, bahwa pemerintah colonial tidak bersedia untuk menerapkan asas – asas liberal
secara konsisten jika hal ini mengandung kerugian material yang besar. Megingat bahwa Raffles
hanya berkuasa untuk waktu yang singkat di Jawa, yaitu lima taun, maka tidak mengheranka bahwa
Raffles akhirnya tidak sanggup melaksanakan segala peraturan yang bertalian dengan system sewa
tanah itu. Selama memerintah di Indonesia, Raffles sangat tertarik pada kebudayaan JAwa. Ia
Menyusun sebuah buku sejarah berjudul History of Java (sejarah Jawa) pada tahun 1817. Ia juga
menemukan bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai bunga Rafflesia Arnoldi. Raffles juga sangat
berperan dalam penemuan Candi Borobudur yang saat itu tertimbun tanah.
Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa di Indonesia (1830-1870)
Penjajahan IInggris di Indonesia berakhir saat kekuasaan kaisar Napoleon Bonaparte di Prancis jatuh
pada tahun 1814. Saat pemerintahan raja Louis Napoleon di Negeri Belanda berakhir, negeri Belanda
tidak lagi dikuasai oleh bangsa Prancis. Oleh karena itu, Belanda dan Inggris kemudian Kembali
mengadakan perjanjian London pada tahun 1814. Dalan konvensi itu, disebutkan bahwa Belanda akan
menerima Kembali daerah jajahannya yang dahulu diserahkan kepada Inggris dalam perjanjian
Tuntang tahun 1811. Selain itu, serah terima kekuasaan antara Inggris dan Belanda akan dilakukan
pada tahun 1816. Dengan demikian, sejak tahun 1816, pemerintah Belanda berkuasa Kembali di
Indonesia.
Pemerintah Belanda menindaklanjuti hasil pertemuan di London tersebut dengan membentuk KOmisi
Jenderal untuk menerima penyerahan wilayah. Komisi Jenderal juga mendapat tugas dari pemerintah
Belanda untuk mengelola Indonesia. Anggota Komisi Jenderal itu terdiri atas Elout, Buyskers, dan van
der Capellen. Perbaikan ekonomi ditanah jajahan menjdai tugas utama Komisi Jenderal. Hal itu
disebabkan pada saat yang sama, keadaan dalam negeri Belanda juga kurang menguntungkan. Utang
negara menumpuk tidak terbayar dan kas negara sedang kosong. Itu semua terjadi karena besarnya
biaya yang dilakukan Belanda dalam melakukan perang Yang melibatkannya.
Van der Capellen memegang peranan penting di dalam menjalankan pemerintahan colonial di
Indonesia. Van der Capellen berusaha mengeksploitasi kekayaan alam dan penduduk Indonesia
secara besar – besaran untuk memperoleh pemasukan uang sebesar – besarnya. Salah satu
kebijakannya adalah menyewakan tanah kepada para pengusaha Eropa. System sewa tanah (Lndelijk
Stelsel) yang dilaksanakan Van der Capellen sebenarnya meneruskan kebijakan Letnan Gubernur
Raffles saat Inggris berkuasa di Indonesia.
Namun pemerintahan van der Capellen dianggap gagal oleh pemerintah Belanda. Oleh karena itu,
pada tahun 1826 pemerintah Belanda menetapkan Komisaris Jenderal du Bus Gisignies untuk
memimpin pemerintah colonial. Beban untuk memperoleh peamsukan sebesar – besarnya guan
menutupi kas negara yang kosong ternyata juga gagal dilaksanakan du Bus de Gisignies.
Tahun 1830 pemerintah Hindia Belanda mengalami kesulitan keuangan dan pemerintah Negeri
Belanda sendiri tidak dapat membantu karena sedang mengalami kesulitan keuangan. Sebab – sebab
kesulitan keuangan Hindia Belanda dan Negeri Belanda, antara lain :
a. Pemerintah HIndia Belanda banyak mengeluarkan biaya untuk perang Diponegoro (1825-
1830)
b. Pemerintah di Negeri Belanda banyak mengeluarkan biaya perang menghadapi
pemberontakan rakyat Belgia.
Untuk mengatasi kwsulitan keuangan itu, Johanes van Den Bosch mengusulkan kepada pemerintah
Belanda agar produksi tanaman ekspor di Indonesia ditingkatkan dengan melaksanakan Culturstelsel
yang kemudian oleh bangsa Indinesia dinamakan tanam paksa. Van Den Bosch menjamin bahwa hasil
system tanam oaksa akan dapat menolong keuangan pemerintah Belanda. Usulan Van Den Bosch itu
disetujui oleh pemerintah Belanda dan selanjutnya ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia
Belanda dengan tugas pokok untuk melaksanakan culturstelsel. Setibanya di Indonesia pada tahun
1830, Van Den Bosch Menyusun program kerja tanah jajahan, antara lain sebagai berikut :
A. System sewa tanah dengan uang harus dihapuskan karena pelaksanaannya sangat sulit
sehingga tidak banyak memberi keuntungan.
B. System tanaman bebas diganti dengan tanaman wajib yang sudah ditentukan oleh pemerintah
Hindi Belanda.
C. Pajak tanah harus dibayar rakyat dengan menyerahkan Sebagian hasil tanamannya kepada
pemerintah Hindia Belanda.
D. Kerja wajib dihidupkan Kembali untuk menunjang kelancaran system penanaman wajib dan
kepoentingan Belanda lainnya.
Tujuan diberlakukannya system Tanam PAksa adalah untuk memperoleh pendapatan sebanyak –
banyaknya dari Indonesia dalam waktu relative singkat guna menutup kekosongan kas negara dan
membayar utaang negara. Ciri utama system Tanam Paksa adalah keharusan bagi rakyat Indonesia
untk membayar pajak mereka dalam bentuk barang berupa hasil – hasil pertanian (natura). Oleh
karena itu, pemerintah colonial mengerahkan rakyata tanah jajahan untuk mengusahakan penanaman
tanaman ekspor yang hasilnya dapat dijual dipasaran dunia. Adapun jenis tanaman yang ditanam
harus mengikuti ketentuan pemerintah. Misalnya, kopi dan indigo (nila).
Ketentua – ketentuan pokok dari system Tanam Paksa diatur dalam Staatblad (Lembaran Negara)
tahun 1834 No. 22. Adapun isi dari ketentuan – ketentuan tersebut, antara lain sebagai berikut :
1. Persetujuan akan diadakan dengan penduduk untuk menyediakan Sebagian tanahnya yang
akan ditanami dengan tanaman perdagangan yang dapat dijual di pasaran Eropa (tanaman
ekspor)
2. Tanah petani yang disediakan untuk tanaman wajib tidak boleh lebih dari seperlima tanah
miliknya.
3. Lahan yang disediakan untuk tanaman wajib dibebaskan dari pembayaran pajak tanah.
4. Pekerjaan untuk menanam tanaman perdagangan tidak melebihi pekerjaan yang diperlukan
dalam menanam padi.
5. Jika nilai hasil – hasil tanaman perdagangan yang ditaksir melebihi pajak tanah yang harus
dibayar, selisihnya harus diserahkan kepada rakyat.
6. Panen tanaman perdagangan yang gagal harus dibebankan kepada pemerintah, jika
kegagalan tidak disebabkan oleh kemalasan rakyat.
7. Penggarapan tanah untuk tanaman perdagangan akan diawasi langsung oleh kepala pribumi,
sedangkan pegawai – pegawai Eropa hanya mengawasi pembajakan tanaj, panen, dan
pengangkutan hasil.
Diatas kertas ketentuan – ketentuan tanam paksa memang kelihatan tidak menekan rakyat. Akan
tetapi, dalam praktik ternyata pelaksanaan tanam paksa sering kali menyimpang dari ketentuan –
ketentuan pokok yang telah ditetapkan sehingga rakyat banyak dirugikan. Adapun penyeba terjadinya
penyelewengan adalah karena adanya peraturan Culturprocenten menetapkan bahwa setiap pegawai
pengawas akan mendapat persen atau hadiah apabila dapat menyerahkan hasil tanaman lebih dari
yang ditentukan. Oleh karena itu, semakin banyak setoran maka semakin banyak pula hadiah bagi
para pegawai pemerintah. Hal ini mengakibatkan para pamong praja menindas rakyat untuk menindas
rakyat untuk mengejar cultuurprocenten. Penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan tanam paksa,
antara lain sebagai berikut :
1. Penggunaan tanah untuk tanaman ekspor tanpa melalui persetujuan dengan petani yang
luasnya melebihi seperlima bagian yang paling subur. Akibatnya, padi hanya bisa ditanam di
sisa lahan yang kurang suubur.
2. Kegagalan panen tanaman wajib tetap dibebankan kepada petani sehingga petani harus
menanggung kerugian yang besar.
3. Setiap kelebihan hasil panen dari jumlah pajak yang harus dibayar tidak dibayarkan Kembali
kepada rakyat.
4. Lahan yang disediakan untuk tanaman wajib tetap dikenakan pajak tanah.
5. Rakyat yang tidak memiliki tanah harus bekerja melebihi waktu yang telah ditentukan.
6. Rakyat lebih banyak mencurahkan perhatian, tenaga dan waktunya untuk tanaman berkualitas
ekspor sehingga tidak sempat mengerjakan sawah dan ladangnya sendiri.
Dampak Tanam Paksa
Pelaksanaan system tanam paksa banyak menyimpang dari ketentuan pokoknya sehingga
mengakibatkan banyak penderitaan bagi rakyat Indonesia. Penderitaan yang timbul akibat
pelaksanaan system tanam paksa berupa pemiskinan rakyat; kewajiban kerja rodi yang membebani
petani, pembayaran pajak yang memberatkan petani, bahaya kelaparan yang terjadi di Cierbon yahun
1843, Demak tahun 1849, dan Grobogan tahun 1859, yang menyebabkan penurunan penduduk secara
drastic.
System culturstelsel ini sangat menguntungkan Hindia Belanda. Dari hasil penanaman dapat menutupi
semua hutang – hutang. System tanam paksa ini dijadikan sebagai suatu pengaturan kehidupan
ekonmi di Hindia Belanda yang diselenggarakan untuk menunjang dan meningkatkan tingkat
kemakmuran nerei Belanda.
Kesengsaraan yang diderita bangsa Indonesia akibat system tanam paksa pada umumnya tidak
diketahui oleh rakyat Belanda, namun sejak tahun 1850 rakyat Belanda mulai mengetahui keadaan
yang sbenarnya karena berita mengenai Tindakan sewenag – wenag pegawai pemerintah colonial dan
penderitaan penduduk Indonesia akhirnya sampai ke Belanda.
Berita – berita tersebut mengundang kecaman golongan liberalism yang terdiri atas kalangan humanis
dan kapitalis. Kecaman itu diungkapkan dengan protes menentang diberlakukannya sstem tanam
paksa. Kalanin humanis menuntut agar system tanam paksa harus dihapuskan karena menindas
rakyat tanah jajahan. Golongan kapitalis agar system tanam paksa dihapuskan karena tidak
menciptakan kehidupan ekonomi yang sehat. Tokoh – tokoh yang menentang system tanam paksa di
tanah jajahan adalah BARON VAN HOUVELL, E. F. E. DOUWES DEKKER (MULTATULI) yang
menulis buku Max Havelaar dan FRANSENS VAN DER PUTTE yang menulis buku Suiker Contrancen.
Berkat kecaman kaum liberal pemerintah colonial terpaksa memerhatikan penderitaan penduduk
Indonesia. Akhirnya pemerintah menghapuskan system tanam paksa secara berangsur – angsur,
misalnya tanam paksa laba dihapuskan 1860, Nila dan the dihapuskan 1865, dan yang lainnya
dihapuskan kecuali kopi pada tahun 1870. Tanaman paksa kopi baru dihapuskan 1917.
Tahun 1870 dianggap sebagai tahun berakhirnya tanam paksa secara resmi setelah dilaksanakan
selama 40 tahun.
Usaha kaum liberal di negeri Belanda yang menuntut agar system tanam paksa dihapuskan telah
berhasil pada tahun 1870. Namun, tujuan yang hendak dicapai oleh kaum liberal tidak hanya sebatas
penghapusan system tanam paksa. Mereka mempunyai tujuan yang lebih luas dalam bidang ekonomi
antara lain :
1. Pemerintah tidak melakukan campur tangan dalam kegiatan ekonomi.
2. Kegiatan ekonomi harus ditangani oleh pihak swasta.
3. Factor yang dapat menghambat kehidupan masyarakat seperti system tanam paksa, kerja rodi,
dan pajak yang berlebihan harus dihapuskan.
4. Tugas negara adalah memelihara ketertiban uumum dan menegakkan hukum agar sector
ekonomi berjalan lancar.
Karena Gerakan liberal di negeri Belanda dipelopori oleh para pengusaha swasta, system tanam paksa
dihapuskan kaum liberal di Belanda agar pengusaha swasta dapat mulai menanamkan modalnya di
Indonesia, terutama dibidang perkebunan.
Beberapa factor yang mendorong pemodal swasta Belanda untuk menanamkan modalnya di
Indonesia, antara lain :
1. Kemajuan industry dan perdagangan di Belanda
2. Lancarnya hubungan Indonesia- Belanda akibat dibukanya terusan Suez.
3. Terselenggaranya dinas pos ( 1868 ) dan dinas telegraf (1856)
4. Berlakunya undang – undang agraria (1870)
Para pengusaha perusahaan gula diberi kesempatan lebih luas dengan dikeluarkannya undang –
undang gula (suiker wet) pada tahun 1870. Undang – undang gula menetapkan bahwa perusahaan –
perusahaan gula milik pemerintah akan dihapuskan secara bertahapa dan pada tahun 1891 semua
perusahaan gula milik pemerintah haus diambil alih oleh pihak swasta.
Sejak keluarnya dua buah undang – undang itu bermunculan perkebunan – perkebunan swasta asing
di Indonesia. Seperti tembakau di Deli, tebu di Jawa Tengah dan Jawa Timur, karet di daerah Serdang,
Kina di Jawa Barat. Perkebunan – perkebunan swasta tersebut bukan hanya milik orang Belanda tetapi
juga di miliki orang Inggris dan Jerman.
Sejak dikeluarkan undang – undang agrarian dan gula pada tahun 1870, Indonesia semakin terbuka
bagi usaha pengusaha swasta Eropa. Oleh karena itu, politik pemerintah Belanda pada pasca tahun
1870 itu dinamaka Politik Pintu Terbuka.
Politik Pintu Terbuka tersebut didorong oleh paham liberal sehingga masa antara tahun 1870 – 1900
disebut zaman lieralisme. Dengan dilaksanakan politik pintu terbuka di Indonesia dimulailah era
komersiaklisasi, modernisasi, dan industrialisasi.
Untuk mendukung pengembangan usaha swasta dibangun sarana dan prasarana irigasi, jalan raya,
jembatan, dan kereta api. Angkutan laut juga dikembangkan melalui pembangunan Pelabuhan Jakarta
(tanjung Priok), Medan (Belawan), dan Padang (Teluk Bayur).
Selama zaman liberal berlangsung (1870-1900) usaha perkebunan swasta di Indonesia mengalami
kemajuan pesat dan mendatangkan keuntungan besar bagi paara pengusaha. Tanaman ekspor yang
mengalami perkembangan pesat adalah gula, kopi, the, kopra, dan kina. Indonesia menghasilkan
hamper 90 persen kina dunia. Kekayaan alam Indonesia terus mengalir ke Belanda sehingga Belanda
menjadi produsen hasil perkebunan yang paling pentng di dunia. Selain membawa dampak positif,
pelaksanaan proses industrialisasi di Indonesia pada masa colonial juga membawa dampak negative.
Perkembangan perekonomian yang begitu pesat pada masa colonial sayangnya tidak begitu banyak
menyentuh kehidupan bangsa Indonesia. Taraf hidup dan kesejahteraan bangsa Indonesia tetap saja
masih jauh dari sejahtera. Berbagai kebijakan ekonomi hanya untuk kepentiingan pemerintah Belanda.
Dengan demikian, rakyat Belanda saja yang menikmati kemakmuran.
Pada perkebunan di Sumatra Timur, tenaga kerjanya didatangkan dari Cina di bawah system kontrak.
Dengan dihapuisnya system perbudakan, maka system kerja kontrak adalah gaji jalan yang paling logis
bagi perkebunan – perkebunan Sumatra Timur untuk memperoleh jaminan bahwa mereka dapat
memperoleh dan menahan pekerja – pekerja untuk beberapa tahun.
Dalam tahun 1888 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan pertama mengenai hubungan
kerja kuli kontrak di Sumatra Timur yang disebut Koeli Ordonnantie. Koeli Ordonnantie memberi
jaminan – jaminan tertentu pada majikan terhadap kemungkinan [pekerja – pekerja melarikan diri
sebelum massa kerja mereka menurut kontrak kerja habis. Ancaman hukuman yang dapat dikenakan
pada pekerja – pekerja perkebunan yang melanggar ketentuan kontrak kerja kemudian terkenal
sebagai Poenale Sanctie. Poenale Sanctie berisi ketentuan bahwa pekerja – pekerja yang melarika diri
dari perkebunan – perkebunan Sumatra Timur dapat ditangkap oleh polisi da dibawa ke,bali ke
perkebunan dengan kekerasan jika mereka megadakan perlawanan.
Terbentuknya kota – kota baru di Indonesia, seperti ibu kota kabupaten, bandar Pelabuhan, dan kota
perdagangan juga ikut mendorong terjadi mobilisasi penduduk melalui urbanisasi. Penduduk pedesaan
(terutama di Jawa) berharap adanya perbaikan dengan meninggalkan desa mereka yang mereka
banyak menjadi gelandangan di kota. Bagi rakyat Indonesia, khususnya di Jawa, praktik liberalism
ternyata telah membawa kemerosotan kehidupan penduduk. Hal ini sangat terasa sejak terjadinya
Krisis perkebunan pada tahun 1885 yang mengakibatkan uang sewa tanah, upah tenaga kerja di
pabrik, dan harga hasil – hasil perkebunan menurun. Satu – satunya keuntungan praktik liberalism
adalah pada masa itu rakyat Indonesia sudah mengenal ekonomi uan gdari hasil sewa tanah dari para
pengusaha Eropa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penghapusan tanam paksa yang
digantikan dengan system politik liberal ternyata tidak mengubah kehidupan rakyat Indonesia yang
tetap ditindas. Pada system tanam paksa rakyat diperas oleh pemerinta Hindia Belanda. Pada zaman
liberalism yan gmelahirkan politik pintu terbuka, rakyat diperas oleh para pengusaha swasta Eropa.
Politik Etis
Pada akhir aad ke 19muncul kritik kepada pemerintah HIndia Belanda berkaitan dengan praktik
liberalismenya yang gagal dalam memperbaiki tingkat kehidupan rakyat Indonesia. Eksploitasi secara
besar – besaran terhadap rakyat Indonesia menumbuhkan reaksi dari golongan sosialis Belanda yang
semakin meningkat menjelang awal abad ke 20. Mereka meminta agar negara Belanda menerapkan
politik balas budi atau politik Etis kepada Indonesia karena telah banyak membantu dalam mengatasi
kesulitan keuangan dan ekonomi Belanda. Pada tahun 1899 Van Deventer memaparkan gagasannya
dalam majalah De Gids. Ia mengemukakan ide Een Erschuld (utang budi), yaitu utang yang harus
dilunasi untuk menjaga kehormatan. Dalam artikel tersebut, ia menjelaskan bangsa Bellanda berutang
budi pada bangsa Indonesia yang telah memberikan keuntungan yang besar bagi bangsa Belanda.
Utang budi tersebut harus dibalas dengan memajukan Indonesia melalui sector pengajaran, pengairan,
dan pemindahan penduduk (edukasi, irigasi, dan transmigrasi) yang dikenal dengan Trias Van
Deventer.
Pollitik Etis kemudian dijalankan sejak tahun 1900 sejalan dengan semakin meningkatnya penanaman
modal asing di Indonesia. Belanda seakan – akan membalas budi kepada bangsa Indonesia menurut
usul Van Deventer. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya ternyata pemerintah Belanda melaksanakan
politik etis menurut kepentingannya sendiri. Pendidikan dilaksanakan uuntuk memenuhi kebutuhan
pegawai rendahan. Perbaikan dibidang irigasi ditujukan untuk perkebunan swasta dan transmigrasi
dilakukan untuk membuka areal perkebunan baru badi perusahaan swasta. Meskipun politik etis lebih
menguntungkan pemerintak colonial, namun masih ada manfaat yang dapat diperoleh bangsa
Indonesia, dibidang Pendidikan, rakyat Indonesia memperoleh kesempatan megenyam Pendidikan
modern. Golongan terpelajar hasil politik etis tersebut mulai tumbuh kesadaran kebangsaannya
setelah mengenyam Pendidikan modern. Sejak pemerintah colonial menggalakan Pendidikan dengan
membuka sekolah – sekolah bagin rakyat Indonesia pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 trjadi
mobilitas social rakyat Indonesia. Mereka yang telah mengenyam pemdidikan menjadi golongan
intelektual yang mengisi berbagai jabatan dibidang birokrasi pemerintah Hindia Belanda.
Sebelum lahirnya golongan terdidik bangsa Indonesia, posisi tersebut hanya bisa diisi oleh bangsa
Belanda dan Indo saja. Berkat Pendidikan colonial, bangsa Indonesia membuktikan sederajat dengan
bangsa Belanda. Proses mobilitas sisoal akibat Pendidikan tersebut meningkatkan status social
bangsa Indonesia menjadi sederajat dengan bangsa Belanda karena golongan terpelajar bangsa
Indonesia mampu menduduki posisi – posisi di dalam birokrasi dan pemerintahan yang sebelumnya
hanya diduduki oleh bangsa Belanda. Golongan terpelajar mendapat Pendidikan menurut system
Eropa sehingga mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi. Lambat laun mereka menyadari
kepincangan yang terjadi di Indonesia sebagai akibat politik penjajahan. Pmeskioun jumlahnya masih
sangat sedikit, namun golongan terpelajarlah yang akhirnya mempelopori pergerakan nasional
Indonesia yang menentang penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan dengan cara – cara yang
modern.