Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIK KEPERAWATAN MATERNITAS DI RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO

OLEH : DICKY HELMI S. 22020111200018

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Implantasi plasenta normalnya terletak di bagian fundus (bagian puncak atau atas rahim). Plasenta dapat terletak sedikit ke kiri atau ke kanan, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah rahim atau mungkin sampai menutupi jalan lahir. Pada beberapa kasus plasenta abnormal letaknya menutupi jalan lahir, baik itu sebagian ataupun keseluruhan dari bagian plasenta. Kasus seperti itu disebut Plasenta previa, plasenta previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan antepartum pada trimester ketiga. Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Perdarahan antepartum merupakan salah satu faktor penyebab kematian pada wanita hamil dan bersalin. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama kematian wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Angka kematian ibu merupakan tolok ukur untuk menilai keadaan pelayanan obstetri disuatu negara. Bila AKI (Angka Kematian Ibu) masih tinggi berarti sistim pelayanan obstetri masih buruk, sehingga memerlukan perbaikan. Perawat sebagai salah satu tenaga terbanyak, yang mempunyai kontribusi besar untuk memberikan pelayanan pada perawatan maternal terutama kegawatan pada ibu pasca persalinan yang membutuhkan penanganan secara cepat dan tepat. Periode pascapartum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali kekeadaan normal sebelum hamil. Pada periode ini seorang ibu mempunyai masalah tersendiri seperti terjadi perubahan-perubahan fisik yaitu, ibu akan merasa sakit pinggang dan perut,

merasa kurang enak, capai, lesu, tidak nyaman badan, tidak bisa tidur enak, sering mendapatkan kesulitan dalam bernafas dan perubahan-perubahan psikis yaitu merasa ketakutan sehubungan dengan dirinya sendiri, takut kalau terjadi bahaya atas dirinya pada saat persalinan, takut tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya, takut yang dihubungkan dengan pengalaman yang sudah lalu misalnya mengalami kesulitan pada persalinan yang lalu. Perawat sebagai salah satu tenaga terbanyak, yang mempunyai kontribusi besar untuk memberikan pelayanan pada perawatan maternal terutama kegawatan pada ibu pasca persalinan yang membutuhkan penanganan secara cepat dan tepat. Perawat memberikan asuhan keperawatan secara holistik agar membantu seorang wanita dalam beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu pasca persalinan. Perawat merupakan salah satu tenaga dari team pelayanan kesehatan yang keberadaanya paling dekat dengan ibu mempunyai peran penting dalam mengatasi masalah melalui proses perawatan. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan postpartum spontan. 2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan post partum spontan. b. Mahasiswa mampu menentukan masalah keperawatan pada klien dengan postpartum spontan. c. Mahasiswa mampu menetapkan dan menerapkan perencanaan asuhan keperawatan pada klien dengan postpartum spontan. d. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi dan menganalisa kasus klien dengan postpartum spontan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

POSTPARTUM Periode postnatal / postpartum atau masa nifas adalah interval 6 minggu antara kelahiran bayi dan kembalinya organ reproduksi ke keadaan normal sebelum hamil. Nifas / puerperium adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat-alat reproduksi yang lamanya kurang lebih sekitar 6 minggu.

PERIODE Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.

TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN 1. Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. 2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,

mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. 3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. 4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

TANDA DAN GEJALA a. Sistem Reproduksi y y Uterus Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Kontraksi

Waktu TFU Konsistensi After pain Segera setelah Pertengahan simpisis Terjadi lahir dan umbilikus 1 jam setelah Umbilikus Lembut lahir 12 jam setelah 1 cm di atas pusat lahir setelah 2 hari Turun 1 cm/hari keras Berkurang Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. Lochea y Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe. y Tahap a. Rubra (merah) : 1-3 hari. b. Serosa (pink kecoklatan) c. Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. y -

Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml.

Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal.

Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Serviks

Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. Perineum y Episiotomi Penyembuhan dalam 2 minggu. y Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot

TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal b. Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. c. Sistem Endokrin Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post partum.

d. Sistem Kardiovaskuler Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 500 cc, sesaria : 600 800 cc. Perubahan hematologik Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat. Jantung Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu. e. Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. f. Sistem Gastrointestinal Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. Nafsu makan kembali normal. Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.

g. Sistem Urinaria Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam. Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.

h. Sistem Muskuloskeletal Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum. i. Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang.

Adaptasi Psikologis Adaptasi ibu terhadap kelahiran bayi dibagi menjadi 3 fase, yaitu : a. Fase Taking In Waktu refleksi bagi ibu. Perhatian ibu terutama terhadap kebutuhan dirinya, mungkin pasif dan tergantung, berlangsung selama 1-2 hari. Hal ini disebabkan karena ibu mengalami ketidaknyamanan fisik setelah persalinan seperti nyeri perineum, hemoroid, afterpain. Pada akhirnya ibu tidak mempunyai keinginan untuk merawat bayinya. Ibu belum mengirimkan kontak dengan bayinya bukan berarti tidak memperhatikan. Ibu masih fokus terhadap persalinan dan merasa kagum dengan bayinya. Apakah benar bayi tersebut adalah anaknya? Apakah persalinan telah berakhir? Dalam fase ini yang diperlukan ibu adalah informasi tentang bayinya, bukan cara merawat bayinya. Ibu mengenang pengalaman melahirkan yang baru dialaminya. Untuk pemulihan diperlukan tidur dan istirahat cukup. b. Fase Taking Hold Setelah melewati fase pasif, ibu memulai fase aktifnya, dimulai dengan memenuhi kebutuhan sehari dan dapat mengambil keputusan. Ibu berusaha mandiri dan berinisiatif, perhatian lebih pada kemampuan mengatasi fungsi tubuhnya, misalnya kelancaran buang air besar, buang air kecil, melakukan berbagai aktivitas, duduk, berjalan dan keinginan belajar tentang perawatan dirinya sendiri dan bayinya. Pada fase ini juga ibu dapat diberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan bayi dan mempraktekkan dengan pengawasan seperti mendukung kepala bayi, menyusui dengan benar, atau menyendawakan bayi. Timbul rasa kurang percaya diri dalam perawatan bayinya sehingga reinforcement positif dapat diberikan pada ibu supaya ibu dapat meningkatkan kemampuannya dalam merawat bayi. Fase ini berlangsung sekitar 10 hari. c. Fase Letting Go Pada fase ketiga ibu mulai mendefinisikan kembali perannya. Ibu mulai melepaskan perannya yang dahulu dan mempersiapkan kelahiran menjadi

ibu yang memiliki anak. Ibu menerima anak tanpa membandingkan dengan harapan terhadap anak pada saat menanti kelahiran. Ibu merasakan bahwa bayinya tidak terpisah dari dirinya, mendapat peran dan tanggung jawab baru. Terjadi peningkatan kemandirian dan perawatan diri sendiri dan bayinya. Ibu yang berhasil melewati fase ini akan mudah melakukan peran barunya.

Perawatan Poatpartum 1. Early Ambulation (Mobilisasi Dini) Early Ambulation adalah kebijakan untuk membimbing penderita untuk selekas mungkin berjalan. Mobilisasi postnatal memiliki variasi tergantung pada komplikasi persalinan, nifas, sembuhnya luka. 2. Diet / Nutrisi Selama nifas, ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang bermutu dan bergizi, cukup kalori dan protein. Hal ini mempengaruhi pembentukan air susu dan mempercepat proses penyembuhan ibu. 3. Miksi Hendaknya BAK dapat dilakukan sendiri secepatnya 6 jam postpartum. Kadang-kadang ibu mengalami sulit kencing karena uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi. Bila kandung kemih penuh dan ibu sulit kencing sebaiknya dilakukan kateterisasi. 4. Defekasi Bila 3-4 hari postpartum klien sulit buang air besar dan terjadi obstipasi, maka dapat dilakukan klisma air sabun atau gliserin. 5. Perawatan Payudara Perawatan payudara dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Anjurkan ibu untuk selalu membersihkan puting susu dengan air hangat setaip kali sebelum dan sesudah menyusui. 6. Discharge Planning Penyuluhan tentang diet, latihan, pembatasan aktivitas, perawatan payudara,

aktivitas seksual dan kontrasepsi, pengobatan dan tanda-tanda komplikasi.

PLASENTA PREVIA A. Definisi Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum). Cara mendeteksi plasenta previa dengan pemeriksaan USG. Jika ditemukan Plasenta Previa maka dilakukan pemantauan untuk melihat posisi plasentanya setiap bulan. Gejala dari plasenta previa berupa perdarahan tanpa adanya rasa nyeri. Timbulnya perdarahan akibat perbedaan kecepatan pertumbuhan antara segmen atas rahim yang lebih cepat dibandingkan segmen bawah rahim yang lebih lambat. Hal ini mengakibatkan ada bagian plasenta yang terlepas dan mengeluarkan darah. Perdarahan ini akan lebih memicu perdarahan yang lebih banyak akibat darah yang keluar (melalui trombin) akan merangsang timbulnya kontraksi. Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu 1. Plasenta previa totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta. 2. Plasenta previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta. 3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir. 4. Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan jalan lahir. B. Etiologi Beberapa faktor dan etiologi dari plasenta previa tidak diketahui. Tetapi diduga hal tersebut berhubungan dengan abnormalitas dari vaskularisasi

endometrium yang mungkin disebabkan oleh timbulnya parut akibat trauma

10

operasi/infeksi. Perdarahan berhubungan

dengan

adanya

perkembangan

segmen bawah uterus pada trimester ketiga. Plasenta yang melekat pada area ini akan rusak akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim. Kemudian perdarahan akan terjadi akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim untuk berkonstruksi secara adekuat. Faktor risiko plasenta previa termasuk: 1. Riwayat plasenta previa sebelumnya. 2. Riwayat seksio sesarea. 3. Riwayat aborsi. 4. Kehamilan ganda. 5. Umur ibu yang telah lanjut, wanita lebih dari 35 tahun. 6. Multiparitas. 7. Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim, sehingga mempersempit permukaan bagi penempatan plasenta. 8. Adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya. Misalnya dari indung telur setelahkehamilan sebelumnya atau endometriosis. 9. Adanya trauma selama kehamilan. 10. Sosial ekonomi rendah/gizi buruk,

C. Patologi Perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot uterus yang menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada pada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan dimulai. D. Tanda dan Gejala Gejala Utama Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri.

11

Gejala Klinik 1. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga. 2. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasasakit. 3. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang. 4. Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin letak janin (letak lintang atau letak sungsang). 5. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati tergantung banyaknya perdarahan, sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.

E. Penatalaksanaan plasenta previa 1. Konservatif bila : y y Kehamilan kurang 37 minggu. Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal). y y Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh perjalanan selama 15 menit).

2. Penanganan aktif bila : Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan. y y Umur kehamilan 37 minggu atau lebih. Anak mati

Perawatan konservatif berupa : 3. Istirahat. 4. Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia. 5. Memberikan antibiotik bila ada indikasii. 6. Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit.

12

Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama. Penanganan aktif berupa :
y y

Persalinan per vaginam. Persalinan per abdominal.

Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : 1. Plasenta previa marginalis 2. Plasenta previa letak rendah 3. Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit perdarahan maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada partus per vaginam bila gagal drips (sesuai dengan protap terminasi kehamilan). Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan seksio sesar. Indikasi melakukan seksio sesar :
y y y y y

Plasenta previa totalis Perdarahan banyak tanpa henti. Presentase abnormal. Panggul sempit. Keadaan serviks tidak menguntungkan (belum matang)

BAB III PROSES ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN Tanggal masuk ruang edelweis Tanggal pengkajian : 19 November 2011 pukul 05.30 : 19 November 2011 pukul 20.00

A. DATA UMUM 1. Identitas Klien Inisial Klien Umur Status Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat No. CM : Ny. S : 36 tahun : Menikah : Jawa : Islam : SD : Ibu Rumah Tangga : Jlarong 3/3 Tempurejo Kalibawang : 512151

Tanggal masuk : 18 November 2011 Terapi medic : Terlampir

2. Penanggung jawab Nama Usia Jenis kelamin Pekerjaan Hubungan dengan Ny. S : Tn. A : 40 tahun : Laki-laki : Wiraswasta : Suami

18

19

B. Riwayat Keperawatan 1. Riwayat persalinan Pada tanggal 18 November 2011, jam 18.00 WIB Ny. S diantar suami datang ke IGD dengan perdarahan pada jalan lahir. Ny. S mengatakan hamil 9 bulan. Ny. S belum merasakan kenceng-kenceng teratur, air ketuban belum pecah, multigravida, usia kehamilan 37 minggu lebih 1 hari, HPHT 9 februari 2011, HPL 16 November 2011 G3P2A0. Riwayat obstetric anak pertama usia 19 tahun lahir dengan bantuan dukun, anak kedua usia 12 tahun lahir sehat dengan bantuan bidan setempat berat badan saat baru lahir 3300 gram, anak ketiga hamil ini. Dilakukan pemeriksaan, keadaan umum Ny. S baik, composmentis, sadar, anemis, TD: 130/80 mmHg, N: 84x/menit, T: afebris. Pemeriksaan palpasi janin tunggal, memanjang, puka, preskep, DJJ 150x/menit, His(-). Hasil USG menunjukkan plasenta di anterior janin sebagian menutupi OUI, air ketuban masih cukup, kesan plasenta previa parsial. Pukul 00.00 WIB Ny. S menjalani persalinan spontan, bayi lahir pervagina/spontan dengan jenis kelamin laki-laki, berat badan 3500 gram, PB: 51cm, dengan APGAR Score 4/6. Ny. S masuk ruang Edelweis pukul 05.30 WIB dengan kesadaran composmentis, posisi duduk, episiotomy jahitan dalam jelujur terkunci, jahitan luar satu-satu. Mendapat terapi Amoxcilin 3x500 mg, Asam mefenamat 3x500mg dan viliron 1gr 1x1 TTV saat pengkajian TD: 110/70 mmHg, Nadi: 88 x/menit, RR: 20x/menit, T: 36,8 oC.

2.

Status Obstetrikus Jenis Kelamin Bayi

: Nifas hari ke 0 P3 A0 BB Lahir 3500 gr Tahun lahir Keadaan bayi waktu lahir Tidak terkaji Komplikasi nifas Umur sekarang 20 jam

Tipe Persalinan Partus spontan pervagina

dg laki-laki

2011

Tidak ada

20

3.

Masalah kehamilan sekarang

Ny. S tidak memiliki riwayat preeklamsi berat atau kelainan selama usia kehamilan. 4. 5. 6. Riwayat KB : Suntik Rencana KB : Ny. S ingin melakukan sterilisasi. Riwayat pernikahan : lama menikah sudah 21 tahun.

C. DATA POSTNATAL 1. Oksigenasi Tanda vital : 110/70 mmHg, Nadi: 88 x/menit, RR: 20x/menit, T: 36,8 oC. Nutrisi dan cairan a. Fundus Uteri : Fundus Uteri Tinggi H0 (19/11/11) Setinggi pusar Posisi Kontraksi Konsistensi Medial Kuat Padat

b. Asupan nutrisi yang masuk y Sebelum masuk rumah sakit Ny. S biasanya makan 3 x sehari dengan variasi menu yaitu nasi, lauk pauk dan sayur. y Setelah di Rumah sakit Post partum hari ke 0, pada waktu pengkajian pukul 20.00 WIB, Ny. S sudah makan. Sebelumnya Ny. S hampir pingsan saat ke kamar kecil karena saat dipindah ke ruang Edelweiss Ny. S dalam keadaan puasa untuk persiapan SC. c. Jumlah cairan yang masuk y BB sebelum melahirkan 55,5 kg dan setelah melahirkan dengan

21

spontan BB= 46,5 kg IWL = BB x 15 = 46,5 x 15 = 29,125 /jam 24 24

IWL 15 jam = 29,125 x 15= 436.875 cc y Perdarahan pervaginam /PPV Ny. S mengatakan telah menggunakan pembalut ukuran M yang disediakan oleh rumah sakit dan dalam seharian ganti 3 x pembalut yang terisi darah haid sebanyak sepertiga bagian (15 jam). Jenis pembalut yang dikenakan Ny. S memiliki daya serap + 250 cc. Tanggal/jam Input output Balance cairan/15 Jam Input - output 19/11/11 jam 20.30 (05.3020.30) a. Makan : 450cc b. Minum:1200cc 1600 cc + a. BAK 900 cc b. PPV 250 cc c. IWL 436.875 cc+ 1586.875cc +13.125 cc

d. Pengeluaran ASI Tanggal 19 November 2011 Pengeluaran ASI Kolostrum Laktasi Bayi masih terpisah, Ibu belum menyusui. e. Pemeriksaan payudara 1) Kesimetrian Bentuk payudara simetris. 2) Palpasi massa: pada payudara tidak teraba adanya engorgement, tidak teraba massa patologis. 3) Putting susu : putting susu menonjol

4) Pengeluaran : ASI belum keluar sejak post partum, hanya kolostrum yang keluar dalam jumlah sedikit. Scoring LATCH : tidak terkaji (ibu dan bayi terpisah)

22

2. Stress dan koping a. Perubahan psikologi ibu Ny. S mengatakan merasa sangat lega bayinya dapat dilahirkan, setelah proses persalinannya yang lancar. Ny. S merasa nyeri pada luka saat bergerak saja atau ketika perutnya ditekan untuk diperiksa. b. Bonding attachment Ibu dan bayi dirawat terpisah, sehingga bonding attachment tidak dapat terjalin dengan baik. Ibu sangat menyayangi bayinya, dan mengharapkan segera dirawat gabung agar langsung menyusui bayinya saat bayi menangis. Ibu menanyakan terus apakah bayinya di ruang terpisah dalam kondisi baik.

3. Komunikasi Komunikasi antara ibu dan bayi tidak terkaji, bayi dan ibu terpisah. Ibu dan suami menjalin komunikasi yang baik, tidak ada hal yang mengganjal di antara kedua pihak. Tidak ada masalah komunikasi antara Ny. S dengan orang-orang yang berhubungan dengan Ny. S di rumah sakit.

4. Konsep diri Ny. S merasa memiliki kekurangan, tidak bisa langsung menyusui dan menidurkan bayinya. Ny. S memiliki harapan segera dirawat gabung dan ASInya keluar dalam porsi banyak untuk memenuhi kebutuhan anaknya.

5. Eliminasi BAK Sebelum hospitalisasi : dalam 1 hari + 5 - 7 kali Saat hospitalisasi : + 2-4 kali BAB Sebelum hospitalisasi : Ny. S biasa BAB 1 hari sekali. Saat hospitalisasi :

Warna urin pekat (2 jam setelah post partum) Ny. S BAB 1 kali. beralih menjadi kuning

23

6. Aktifitas dan latihan Saat pengkajian, Ny. S sudah bergerak terbatas, indeks KATZ Ny. S berada dalam kategori A dimana Activity Daily Life Ny. S dilakukan dengan mandiri. Ny. S bisa makan sendiri dan mobilitas ringan. Ny. S tidak terpasang kateter DC, BAK dilakukan di kamar mandi tidak lagi di pispot.

7. Higiene/integritas kulit a. Ny. S mengatakan biasanya mandi 2x sehari dan keramas sehari sekali. Ketika di ruang Edelweis, Ny. S disibin oleh keluarganya dengan air hangat tanpa sabun. Saat pengkajian Ny. S sudah melakukan mandi tidak lagi disibin. b. Lokea Hari Jumlah H0 (19/11/11) 167 cc ganti 2x pembalut terisi 1/3 bagian Warna Konsistensi Merah segar Cair dan ada sedikit lender darah Bau c. Perineum Perinium Ny. R dalam keadaan utuh, tidak ada tanda-tanda REEDA, kebersihan alat vital bersih, dan tidak ada hemorhoid. H0 (19/11/11) Terdapat luka post episiotomi pada Ny. R, dengan kondisi luka yaitu : jahit dalam jelujur terkunci, jahit luar satu-satu sebanyak 7 jahitan. Amis (khas)

8. Istirahat tidur Sebelum hospitalisasi Pola tidur Gangguan tidur Teratur Tidak ada Saat hospitalisasi Teratur Tidak ada.

24

Cara mengatasi

Tidak ada

Tidak ada

9. Termoregulasi Suhu Ny. S saat pengkajian (19/11/2011) adalah 36,80 C.

10. Persepsi, sensori, kognitif H 0 (19/11/2011) Ny. S mengatakan adanya nyeri : Provokatif: sakit terasa bila kaki digerakkan Paliatif : berkurang jika tidak digerakkan atau dalam kondisi istirahat. Q: Perih, seperti tersayat. R: pada luka jahitan (episiotomi) S: skala 6 T: dalam waktu tertentu, terutama saat gerak atau mobilisasi. Ekspresi wajah: meringis ketika kaki dan panggul digerakkan, Ny. S menjadikan nyeri sebagai keluhannya, namun nyeri yang sedang. Ny. S mengatakan sebenarnya tidak ingin melakukan aktivitas tetapi sesuai nasihat perawat bahwa harus belajar untuk melakukan aktivitas agar cepat sembuh.

11. Kebutuhan informasi a. Riwayat KB b. Rencana KB c. Laktasi : suntik : Ny. S ingin melakukan sterilisasi. : Ny. S mengatakan sudah terbiasa menyusui anak-

anaknya, tetapi Ny. S tidak mengetahui apakah cara menyusuinya sudah tepat atau belum. Ny. S juga belum mengetahui cara perawatan payudara. d. Perawatan bayi : Ny. S mengatakan sudah mengetahui tentang

perawatan bayi, dan sudah terbiasa menggendong serta memandikan bayi. e. Kebutuhan lain : Ny. S membutuhkan pendidikan kesehatan

mengenai perawatan luka episiotomi.

25

D. PEMERIKSAAN FISIK IBU POSTNATAL 1. Pemeriksaan umum: a. Kesadaran : Composmentis b. Tanda-tanda vital : TD : 110/70 mmHg Nadi : 88 x/menit Suhu : 36,8 0C RR : 20 x/menit 2. Pemeriksaan kepala dan rambut: a. Bentuk kepala : mecosephal, tidak ada benjolan/massa b. warna rambut : Hitam panjang tergerai. c. Kebersihan rambut : Rambut tampak kusut dan cukup bersih d. Distribusi : merata 3. Mata: a. Konjungtiva : anemis b. Sklera 4. Telinga a. Kebersihan : Bersih b. Keluaran : tidak mengeluarkan cairan infeksi, seperti nanah. : Tidak ikterik

c. Pendengaran : Baik, tidak mengalami gangguan pendengaran 5. Hidung a. Kebersihan : Bersih b. Keluaran : Tidak mengeluarkan cairan dari hidung 6. Mulut dan bibir: a. Warna mukosa mulut dan bibir : mukosa bibir kering b. Sariawan/tidak : tidak ada sariawan c. Gusi berdarah/tidak : Gusi tidak berdarah d. Gigi berlubang/tidak : tidak ada gigi berlubang e. Kelenjar tyroid terdapat pembesaran/tidak : Tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid 7. Leher dan aksila: Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening

26

8. Pemeriksaan dada Paru-paru I Jantung

: pengembangan dada simetris kanan I : IC tak tampak Pa : IC tak teraba Pe : pekak Au : BJ I dan BJ 2 murni, tidak

dan kiri Pa : taktil fremitus kanan dan kiri sama Pe : sonor

Au : suara vesikuler, tidak terdapat bunyi ada suara tambahan tambahan 9. Abdomen Inspeksi : perut membesar terdapat striae diantara simfisis pubis dan umbilikus. Auskultasi Palpasi Perkusi : bising usus 12 kali/ menit : supel, TFU: setinggi pusat. : tidak terkaji

10. Pemeriksaan ekstremitas Kedua kaki Ny. S tidak tampak edema, capillary refill 2 detik , tidak terdapat varises, reflek patella positif, tanda homans (-). Ekstremitas bersih, kuku tidak panjang dan tidak kotor.

E. HASIL LABORATORIUM 18 November 2011 Hb Leukosit Eosinofil Basofil Netrofil Limfosit Hematokrit Eritrosit Trombosit : 10.9 g/dL (L) : 8.9 x 103/uL : 1.6 % (L) : 0.5 % : 71.3 % (H) : 20.9 % (L) : 34 % (L) : 4 x 106/uL : 270 x 103/uL

27

MCV MCH MCHC

: 85 fL : 28 pg : 33 g/dL

Gula sewaktu : 73

19 November 2011 Hb : 9.0 g/dL (L)

F. TERAPI Farmakoterapi Terapi 19/11/2011 P S 18 P 06

Asam mefenamat 12 3x 500 mg, Oral Amoxicillin 3 x 500 mg, oral Viliron 1 x 1, oral 12 12

18

06

18

06

28

PATHWAYS POST PARTUM

post partum

Letting go phase

Estrogen & Progesteron menurun Involusi uterus Oksitosin meningkat Kontraksi uterus lambat Atonia uteri Kontraksi uterus Laserasi jalan lahir Prolaktin meningkat

Kehadiran anggota baru

cemas Isapan bayi adekuat Oksitosin meningkat Duktus & alveoli kontraksi Isapan bayi tidak adekuat Pembendungan ASI Payudara bengkak perubahan pola peran

Pelepasan jaringan endometrium Vol. darah turun Lokhea keluar Kurang perawatan Invasi bakteri

perdarahan

Servik & vagina

Vol. Cairan turun

Anemia akut

Port of the entri

Perub. Perfusi jaringan

Hb O2 turun

Resiko infeksi efektif Tidak efektif Gang. Rasa nyaman nyeri

hipoksia

ASI keluar Kuman mudah masuk

ASI tidak keluar

Resiko syok hipovolemik

Daya tahan tubuh turun

Kelemahan umum

Intoleransi aktivitas

Defisit perawatan diri

29

PATHWAY KASUS POSTPARTUM

Post episiotomy atau luka insisi jalan lahir

Estrogen dan progesterone menurun

Perubahan psikologi postpartum

Bayi rawat terpisah Prolaktin meningkat Port de entry Gangguan rasa nyaman nyeri Risiko infeksi Gangguan mobilisasi ASI belum lancar Cemas

Risiko ketidakefektifan menyusui

30

II. ANALISA DATA Inisial Klien Usia : Ny. S : 36 tahun Data focus Ruang : Edelweis Diagnosa keperawatan Ttd

No. Tanggal/hari Dx 1 19/11/2011 20.30

DS: y Ny. S berharap ASI-nya keluar tetapi sedikit, dan kurang lancar. DO: y Pada payudara tidak terlihat dan tidak teraba adanya engorgement y ASI belum keluar sejak post partum spontan, hanya kolostrum yang keluar dalam jumlah sedikit. y Ibu dan bayi rawat terpisah S: Ny. S mengeluhkan nyeri senut-senut pada luka jahitan. Provokatif: sakit terasa bila kaki digerakkan Paliatif : berkurang jika tidak digerakkan Q: senut-senut,perih R: pada luka jahitan (episiotomi) S: skala 5 T: dalam waktu tertentu, Ekspresi wajah: meringis ketika kaki dan panggul

Risiko ketidakefektif Dicky menyusui berhubungan dengan bayi rawat terpisah, ASI kurang lancar.

19/11/2011 20.30

Nyeri berhubungan Dicky dengan luka insisi episiotomy, trauma jalan lahir

31

digerakkan, Ny. S menjadikan nyeri sebagai keluhannya, namun nyeri yang sedang. Ny. S mengatakan sebenarnya tidak ingin melakukan aktivitas tetapi sesuai nasihat perawat bahwa harus belajar untuk melakukan aktivitas agar cepat sembuh. O: Ny. S tampak kesakitan wajah meringis saat mobilisasi, tangan memegangi pangkal paha kanannya. TD : 110/70 mmHg, Nadi : 88 x/menit, Suhu : 36,8 0C, RR : 20 x/menit 3 19/11/2011 20.30 S: Ny. S bertanya mengenai kondisi bayinya yang dirawat di ruang perinatal, apakah bayinya menangis ataukah tenang. Ny. S mengatakan ingin menjenguk bayinya yang dirawat di ruang perinatal atau ruang bayi. O: Ny. S tampak cemas, dan sesekali bertanya kepada perawat tentang kondisi bayinya. Cemas berhubungan Dicky dengan krisis situasional (ketidaktahuan kondisi bayinya; terpisah dari bayinya)

III. PRIORITAS MASALAH 1. Nyeri berhubungan dengan luka insisi episiotomy, trauma jalan lahir 2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional (ketidaktahuan kondisi bayinya; terpisah dari bayinya) 3. Risiko Ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan bayi rawat terpisah, ASI kurang lancar.

32

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN No. Diagnosa Keperawatan 1. 2. 3. Nyeri berhubungan dengan luka insisi episiotomy, trauma jalan lahir Tanggal ditemukan
19/11/ 2011

Tanggal diselesaikan
Discharge Planning

Cemas berhubungan dengan krisis situasional (ketidaktahuan kondisi bayinya; 19/11/ 2011 terpisah dari bayinya) Risiko ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan bayi rawat terpisah, ASI 19/11/ 2011 kurang lancar.

19/11/2011 Discharge Planning

V. RENCANA KEPERAWATAN Inisial Klien Usia : Ny. S : 36 tahun Ruang : Edelweis

No. Diagnosa keperawatan 1.

Tujuan

Intevensi

Kode NIC

Ttd

Nyeri berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Simple Relaxation Therapy 6040 dengan luka insisi selama 2x 24 jam, maka nyeri teratasi dengan 1. Mengajarkan manajemen nyeri non farmakologi: tarik nafas dalam saat nyeri episiotomy, trauma jalan kriteria hasil : muncul. - Ny. S melaporkan sudah tidak lahir Pain Management 1400 merasakan nyeri

Dicky

33

Skala 0 2. Anjurkan untuk beristirahat sejenak disela Tanda vital Ny. S tetap dalam rentang beraktivitas. normal 3. Kolaborasi pemberian asam mefanamat Ny. S tampak lebih rileks, 4. Monitor TTV 5. Memberikan atau menciptakan lingkungan yang nyaman untuk klien.

2.

Cemas berhubungan dengan krisis situasional (ketidaktahuan kondisi bayinya; terpisah dari bayinya)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Anxiety Reduction 5820 selama 1x7 jam, Ny. S sudah tidak cemas yang 1. Jelaskan pada Ny. S tentang pentingnya ditandai dengan: rawat terpisah bayi di ruang perinatal. - Ny. S tampak tenang, tidak menanyakan 2. Berikan informasi mengenai kondisi bayi kondisi bayinya setiap kali perawat datang. yang dirawat di ruang perinatal. - Ny. S dapat melakukan aktivitas seperti 3. Berikan informasi pada Ny. S bahwa biasanya. dapat menengok bayi pada jadwal yang - Tanda vital Ny. S tetap dalam rentang sudah ditentukan. normal Setelah dilakukan perawatan selama 2 x 24 jam Lactation Counseling 5244 proses laktasi Ny. S efektif, ditandai dengan: 1. Lakukan breast care sekaligus pendidikan kesehatan kepada Ny. S y Ny. S melaporkan mampu mengeluarkan mengenai teknik breast care yang dapat ASI dilakukan Ny. S secara mandiri. y Terdapat engorgement pada payudara Ny. S y Bayinya mendapatkan ASI secara teratur 2. Anjurkan masase punggung pada Ny. S untuk merangsang keluarnya ASI. dari ibu. 3. Berikan penjelasan kepada Ny. S jika y Ny. S rutin mengirimkan ASI yang keluar bayi sudah rawat gabung, isapan bayi ke ruang perinatal. pada puting susu ibu dapat merangsang produksi ASI. 4. Saat bayi sudah rawat gabung, Anjurkan Ibu untuk tetap menyusukan bayinya

Dicky

Risiko ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan bayi rawat terpisah, ASI kurang lancar.

Dicky

34

sesering mungkin ketika bayi meminta atau ketika 2 jam bayi belum minum ASI, walau ASI belum lancar keluar. 5. Anjurkan kepada ibu untuk mengirimkan ASI yang keluar kepada bayi di ruang perinatal. 6. Jika mampu, anjurkan ibu untuk menjenguk bayi di ruang perinatal.

35

VI. IMPLEMENTASI Inisial Klien Usia : Ny. S : 36 tahun Implementasi Melakukan pengkajian tingkat Nyeri Ny. S Ruang : Edelweis Evaluasi formatif TTD

Diagnosa Tanggal/jam 1 19/11/11 20.10

S: Dicky Provokatif: sakit terasa bila kaki digerakkan Paliatif : berkurang jika tidak digerakkan Q: senut-senut,perih R: pada luka jahitan (episiotomi) S: skala 5 T: dalam waktu tertentu, terutama saat gerak. O: Ny. S tampak meringis menahan sakit saat mobilisasi.

20.20

Mengajarkan manajemen nyeri non farmakologi: S: Ny. S mengatakan badannya tadi siang tarik nafas dalam. lemes. Ny. S bersedia diajari teknik relaksasi. O: Ny. S melakukan nafas dalam dengan benar. Menganjurkan untuk beristirahat disela aktivitas S: Ny. S mengatakan biasanya jika

Dicky

20.30

36

Diagnosa

Tanggal/jam

Implementasi

Evaluasi formatif dirinya sedang beraktivitas langsung berhenti dan bersandar saat merasakan nyeri. Ny. S mengatakan belum berani melakukan aktivitas yang berat-berat dulu. O: Ny. S tampak berhati-hati saat berjalan maupun duduk.

TTD

Dicky

21.00

Memberikan atau menciptakan lingkungan yang S: Ny. S mengatakan masih terasa sedikit nyaman untuk klien. nyeri. Dicky O: Memotivasi klien untuk melakukan manajemen S: nyeri non farmakologi saat timbul nyeri. Ny. S mengatakan akan melakukan relaksasi sendiri saat timbul nyeri. O: Ny. S kooperatif. Kolaborasi pemberian asam mefanamat S: O: as. Mefenamat telah diberikan

20/11/11 05.00

Dicky

05.10

Dicky
05.30 Memonitor TTV S: Ny. S mengatakan masih agak lemes, jalan lahir juga masih sakit, skala 3, nyeri saat bergerak. O: TD= 110/70 mmHg, N= 76

Dicky

37

Diagnosa Tanggal/jam 2 19/11/11 20/00

Implementasi

Evaluasi formatif

TTD

Menjelaskan pada Ny. S tentang pentingnya rawat S: Ny. S mengatakan cemas terhadap terpisah bayi di perinatalogi. bayinya yang dirawat terpisah di perinatal. O: Ny. S tampak tenang setelah diberikan informasi tentang anaknya. Berikan informasi Ny. S dapat menengok bayi S: Ny. S berencana untuk sesekali pada jadwal yang sudah ditentukan. menengok ke ruang perinatal. O: Memberi tahukan kepada Ny. S mengenai teknik S: breast care yang dapat dilakukan Ny. S secara Ny. S mengatakan akan mandiri seperti yang sudah di ajarkan. mempraktikannya sendiri supaya ASI dapat keluar denganlancar. O: Ny. S kooperatif. Menganjurkan masase punggung saat Ny. S S: Ny. S mengatakan akan meminta sedang menyusui untuk merangsang keluarnya bantuan keluarga untuk membantu memasase punggung. ASI. O: Ny. S kooperatif.

Dicky

20.10

Dicky

19/11/11 20.00

Dicky

20.15

Dicky

20.30

Memberikan penjelasan kepada Ny. S bahwa S: Ny. S mengtakan baru mengetahui Dicky isapan bayi pada puting susu ibu dapat informasi tersebut. O: Ny. S tampak antusias mendengarkan. merangsang produksi ibu. Menganjurkan Ibu saat bayinya sudah drawat S: Ny. S mengatakan akan memberikan gabung untuk tetap menyusukan bayinya sesering ASI eksklusif selama 6 bulan.

20.40

Dicky

38

Diagnosa

Tanggal/jam

Implementasi Evaluasi formatif mungkin ketika bayi meminta atau ketika 2 jam O: Ny. S kooperatif. bayi belum minum ASI, walau ASI belum lancar keluar. Menganjurkan kepada ibu untuk mengirimkan S: Ny. S mengatakan sangat ingin sekali ASI yang keluar kepada bayi di ruang perinatal. melihat bayinya, dan akan mengirimkan ASInya secara teratur untuk bayinya. Menganjurkan ibu untuk menjenguk bayi di ruang O: Ny. S tampak senang karena perinatal. diperbolehkan untuk menjenguk bayinya saat jam kunjung.

TTD

20/11/11 06.00

Dicky

39

VII. EVALUASI Inisial klien Usia Tanggal/hari 20/11/2011 07.00 : Ny. S : 36 tahun Diagnose Keperawatan Evaluasi Ruang : Edelweis TTD

20/11/2011 07.00

Nyeri berhubungan dengan S: Klien mengatakan nyeri berkurang dengan tarik nafas, dan masasse. Dicky luka insisi episiotomy, P : sakit setelah melahirkan Q : sakit seperti tersayat, perih. trauma jalan lahir R : perut bagian bawah dan pangkal paha kanan. S : skala 2 T : saat bergerak O: Klien tampak lebih rileks, Sudah diberikan Asam mefanamat 500mg TD= 110/70, N= 76 x/menit, RR= 18 x/ menit, T= 36,4oC A: Masalah belum Teratasi P: Pertahankan intervensi, 1. Kaji ulang karakteristik nyeri Discharge Planning 2. Anjurkan untuk menggunakan teknik nafas dalam apabila dirasakan nyeri datang. 3. Menganjurkan untuk beristirahat disela aktivitas. 4. Menganjurkan untuk konsumsi makanan tinggi protein. Cemas berhubungan S: Dicky dengan krisis situasional - Klien mengatakan ia sudah lega mendengar kabar dari bayinya, (ketidaktahuan kondisi semoga bayinya segera sembuh. bayinya; terpisah dari - Klien mengatakan semoga bayinya segera sembuh, dan bertanya bayinya) masih berapa lama dirawat di bawah. O: - Klien tampak tersenyum setelah mendengar kabar bayinya.

40

20/11/2011 07.00

Risiko ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan bayi rawat terpisah, ASI kurang lancar.

- Klien tampak rileks, tidak ada tanda-tanda cemas lagi. A: masalah teratasi P: Pertahankan intervensi. Ijinkan klien untuk menjenguk bayinya di ruang perinatal sesuai jam kunjung. S: Dicky - Ny. S mengatakan ASInya keluar tetapi belum lancer. - Ny. S mengatakan yang keluar hanya sedikit saja. - Ny. S selalu berusaha menampung ASInya untuk diberikan kepada anaknya di perinatal O: - Keluar kolostrum dari payudara Ny. S. - Klien memperhatikan penjelasan perawatan payudara. A: masalah berisiko P: Lanjutkan intervensi Discharge Planning 1. Anjurkan Ny. S untuk melakukan breast care setiap hari 2. Anjurkan kepada keluarga untuk melakukan masase punggung untuk merangsang keluarnya ASI. 3. Anjurkan Ny. S untuk selalu mengirimkan ASI ke ruang perinatal.

BAB IV PEMBAHASAN

Pada tanggal 18 November 2011, jam 18.00 WIB Ny. S diantar suami datang ke IGD dengan perdarahan pada jalan lahir. Ny. S mengatakan hamil 9 bulan. Ny. S belum merasakan kenceng-kenceng teratur, air ketuban belum pecah, multigravida, usia kehamilan 37 minggu lebih 1 hari, HPHT 9 februari 2011, HPL 16 November 2011 G3P2A0. Riwayat obstetric anak pertama usia 19 tahun lahir dengan bantuan dukun, anak kedua usia 12 tahun lahir sehat dengan bantuan bidan setempat berat badan saat baru lahir 3300 gram, anak ketiga hamil ini. Dilakukan pemeriksaan, keadaan umum Ny. S baik, composmentis, sadar, anemis, TD: 130/80 mmHg, N: 84x/menit, T: afebris. Pemeriksaan palpasi janin tunggal, memanjang, puka, preskep, DJJ 150x/menit, His(-). Hasil USG menunjukkan plasenta di anterior janin sebagian menutupi OUI, air ketuban masih cukup, kesan plasenta previa parsial. Pukul 00.00 WIB Ny. S menjalani persalinan spontan, bayi lahir pervagina/spontan dengan jenis kelamin laki-laki, berat badan 3500 gram, PB: 51cm, dengan APGAR Score 4/6. Ny. S masuk ruang Edelweis pukul 05.30 WIB dengan kesadaran composmentis, posisi duduk, episiotomy jahitan dalam jelujur terkunci, jahitan luar satu-satu. Mendapat terapi Amoxcilin 3x500 mg, Asam mefenamat 3x500mg dan viliron 1gr 1x1 TTV saat pengkajian TD: 110/70 mmHg, Nadi: 88 x/menit, RR: 20x/menit, T: 36,8 oC. Setelah dilakukan pengkajian didapatkan diagnosa keperawatan yang pertama adalah nyeri berhubungan dengan luka insisi episiotomy; trauma jalan lahir. Data yang mendukung masalah ini yaitu adanya laporan dari klien yang mengtakan bahwa jalan lahirnya terasa nyeri senut-senut dan perih. Klien juga mengeluh pangkal paha sampai pinggang sebelah kanan terasa nyeri, nyeri bertambah saat melakukan mobilisasi, skala nyeri 5, nyeri berkurang saat istirahat, terdapat luka episiotomy di perineum klien. Data di atas telah sesuai dengan batasan karakter dari suatu

diagnosa nyeri sendiri yaitu adanya indikasi nyeri yang dapat diamati misal ekspresi wajah, sikap tubuh melindungi dan melaporkan nyeri secara verbal. Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah nyeri pada Ny. S yaitu dengan mengajarkan teknik relaksasi serta kolaborasi pemberian analgetik yaitu asam mefenamat. 41

42

Teknik relaksasi napas dalam dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme: 1) Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostalglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemik. 2) Teknik relaksasi napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opioid endogen yaitu endorphin dan enkefalin. 3) Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat karena relaksasi melibatkan sistem otot dan respirasi dan tidak membutuhkan alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu. 4) Nafas dalam membantu individu mendapatkan irama nafas yang reguler,

cakupan O2 masuk yang banyak dan keluaran CO2 yang seimbang. Efek dari relaksasi nafas dalam ini diharapkan mampu membantu menurunkan nyeri yang dirasakan. Intervensi lainnya yaitu memotivasi klien untuk beristirahat disela aktivitas. Saat dilakukan implementasi Ny. S kooperatif, klien mampu melakukan kembali apa yang telah di ajarkan, hambatan yang dihadapi yaitu pada saat Ny. S melakukan teknik relaksasi. Dalam melakukan teknik relaksasi Ny. S tidak benarbenar fokus dan hal ini diperburuk dengan kondisi lingkungan yang terlalu bising oleh keluarga pasien lain. Pada tanggal 20 November 2011 setelah dilakukan evaluasi, masalah nyeri belum teratasi yaitu dengan ditunjukkan oleh penurunan skala nyeri menjadi 2 , TD= 110/70, N= 76 x/menit, RR= 18 x/ menit, T= 36,4oC. Klien mengatakan nyeri masih terasa tetapi sudah mendingan, dari dokter klien diperbolehkan untuk pulang. Masalah keperawatan yang kedua yaitu cemas berhubungan dengan krisis situasional (ketidaktahuan kondisi bayinya; bayi dirawat terpisah). Batasan karakteristik dari diagnosa cemas sendiri yaitu dari klien menunjukkan kekhawatiran dan bingung. Dalam kasus ini bayi klien dirawat secara terpisah di ruang perinatal, hal ini mengakibatkan kekhawatiran tersendiri pada Ny. S. klien menanyakan apakah bayinya baik-baik saja dibawah? klien juga bertanya apakah diperbolehkan jika menjenguk bayinya yang dirawat dibawah?. Masalah cemas ini berkaitan dengan

43

perubahan psikologis ibu postpartum dimana 1-2 hari postpartum ibu akan masuk kedalam fase Taking In yaitu memusatkan perhatian pada kebutuhan dirinya setelah ibu mengalami ketidaknyamanan fisik setelah melahirkan. Setelah fase Taking In ibu akan memasuki fase Taking Hold dimana pada fase ini ibu berusaha mandiri dan berinisiatif, ibu mulai untuk melakukan perawatan bayi secara mandiri. Intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah cemas ini yaitu dengan memberikan informasi terkait perawatan yang dilakukan terhadap bayinya sekarang. Memberikan penjelasan kepada klien bahwa klien juga dapat menjenguk. Setelah dilakukan evaluasi, masalah cemas dapat teratasi dengan ditunjukkan klien tidak lagi bertanya berulang tentang kondisi bayinya, klien juga mengatakan bahwa dirinya tidak lagi khawatir dan akan segera menjenguk bayinya dibawah. Diagnosa yang ketiga yang muncul yaitu Risiko laktasi tidak efektif berhubungan dengan bayi rawat terpisah, ASI kurang lancar. Hal ini didukung dengan data bahwa saat dilakukan pengkajian bayi klien dirawat di ruang perinatal. Klien juga mengatakan bahwa ASI keluar tetapi sedikit, setelah dilakukan pengkajian hanya kolostrum yang baru keluar. Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan memberikan edukasi dan pengajaran tentang perawatan payudara dan latihan breastcare. Selain itu juga diberitahukan kepada klien tentang teknik masase punggung untuk memperlancar pengeluaran ASI. Memotivasi klien untuk tidak menyia-nyiakan kolostrum yang keluar walaupun sedikit dengan ditampung dan dikirim ke ruang perinatal dan diberikan kepada bayinya. Klien diberikan penjelasan bahwa saat bayi sudah diperbolehkan untuk dirawat mandiri isapan dari bayi pada puting susu ibu dapat merangsang pengeluaran ASI. Evaluasi yang dilakukan menunjukkan bahwa masalah ketidakefektifan laktasi masih menjadi risiko. Hal ini ditunjukkan dengan ASI ibu yang masih kurang lancar, keluar kolostrum dari payudara Ny. S. Rencana tindak lanjut yang diberikan yaitu memotivasi klien untuk melakukan perawatan payudara dan latihan breastcare secara mandiri serta memotivasi suami atau keluarga untuk melakukan masase punggung untuk memperlancar produksi ASI.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Potpartum/ nifas / puerperium adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat-alat reproduksi yang lamanya kurang lebih sekitar 6 minggu. 2. Masalah-masalah keperawatan yang timbul pada ibu postpartum dengan persalinan normal sama dengan teori yang ada. Akan tetapi perbedaan yang terdapat pada tiap pasien dengan persalinan normal adalah mekanisme koping ibu terhadap nyeri fisiologis pada postpartum, dukungan keluarga serta pengetahuan ibu mengenai fase postpartum itu sendiri. 3. Penetapan rencana perawatan yang sesuai dengan masalah yang timbul pada ibu postpartum disesuaikan dengan kondisi ibu secara komprehensif. 4. Mempersiapkan peningkatan derajat kesehatan ibu dan kelurga melalui discharge planning.

B. Saran 1. Ibu dan keluarga diharapkan menjalankan apa yang disampaikan dalam discharge planning (catatan pulang) agar didapatkan kesehatan ibu dan keluarga yang optimal. 2. Perawat sebaiknya memberikan informasi yang benar-benar dibutuhkan oleh klien sebagai bentuk dari catatan pulang klien.

44

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, Lowdermilk, Jensen. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Alih Bahasa; Maria A. Wijayarini. Ed. 4. Jakarta: EGC. Diagnosa keperawatan: definisi dan klasifikasi 2009-2011. 2011. Alih bahasa; Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Estu tiar. Jakarta: EGC. Haen F. 1999. Perawatan Maternitas Edisi 2: Jakarta: EGC. http://ilmukeperawatan.net/index.php/artikel/3-maternitas/1-plasenta-previa.html. diakses tanggal 23 November 2011. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/placenta.previa.pada.keha milan/001/001/642/1/4. diakses tanggal 23 November 2011. http://www.lusa.web.id/plasenta-previa/. diakses tanggal 23 November 2011. Kedaruratan Kebidanan. 1996. Buku Ajar Untuk Program Pendidikan Bidan Perdarahan Antepartum Buku II. Jakarta. Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.