Anda di halaman 1dari 15

A. B.

PRAKTIKUM KE JUDUL

:4 : Flora Normal Tubuh Manusia :

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui keberadaan flora normal pada tubuh manusia. 2. Untuk mengetahui bentuk koloni flora normal tubuh manusia. D. DASAR TEORI 1. Pengertian Flora Normal Manusia secara konstan berhubungan dengan beribu-ribu mikroorganisme. Mikroba tidak hanya terdapat dilingkungan, tetapi juga menghuni tubuh manusia. Mikroba yang secara alamiah menghuni tubuh manusia disebut flora normal, atau mikrobiota (Pelczar, 2009: 545). Kebanyakan mikroba asli di dalam tubuh manusia adalah komensal, mereka memanfaatkan hubungan dengan inang, tetapi inangnya tidak terpengaruh. Mikroba komensal memperoleh makanannya dari sekresi dan produk-produk buangan tubuh manusia (Pelczar, 2009: 547). Menurut Massofa (2008), Mikroflora pada tubuh berdasarkan bentuk dan sifat kehadirannya dapat digolongkan menjadi 2 yaitu : a. Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous) Yaitu mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian tubuh tertentu dan pada usia tertentu. Keberadaan mikroorganismenya akan selalu tetap, baik jenis ataupun jumlahnya, jika ada perubahan akan kembali seperti semula. Flora normal/tetap yang terdapat pada tubuh merupakan organisme komensalisme. Flora normal yang lainnya bersifat mutualisme. Flora normal ini akan mendapatkan makanan dari sekresi dan produk-produk buangan tubuh manusia, dan tubuh memperoleh vitamin atau zat hasil sintesis dari flora normal. Mikroorganisme ini umumnya dapat lebih bertahan pada kondisi buruk dari lingkungannya. Contohnya : Streptococcus viridans, S. faecalis, Pityrosporumovale, Candida albicans.

b. Mikroorganisme sementara (transient flora) Yaitu mikroorganisme nonpatogen atau potensial patogen yang berada di kulit dan selaput lendir/mukosa selama kurun waktu beberapa jam, hari, atau minggu. Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba (tidak tetap) dapat disebabkan oleh pengaruh lingkungan, tidak menimbulkan penyakit dan tidak menetap. Flora sementara biasanya sedikit asalkan flora tetap masih utuh, jika flora

tetap berubah, maka flora normal akan melakukan kolonisasi, berbiak dan menimbulkan penyakit. Tabel 1. Perbedaan antara flora bersifat menetap dan tidak menetap Flora Menetap Komensal (penting bagi tubuh) Memegang peranan tertentu dalam mempertahankan kesehatan dan fungsi normal. Bila terganggu dari tempatnya, maka flora akan segera tumbuh kembali Flora Tidak Menetap

Tidak patogen atau cenderung patogen Hanya dalam waktu tertentu Kurang berarti selama flora penghuni normal utuh, bila flora penghuni terganggu, flora sementara dapat berploriferasi menimbulkan sakit.

Menurut Pelczar (2009: 545), Mikrobiota normal tubuh manusia yang sehat perlu diketahui karena alasan-alasan berikut: a. Diketahuinya hal ini dapat membantu menduga macam infeksi yang mungkin timbul setelah terjadinya kerusakan jaringan pada situs-situs yang khusus. b. Hal ini memberikan petunjuk mengenai kemungkinan sumber dan pentingnya mikroorganisme yang teramati pada beberapa infeksi klinis. Sebagai contoh, Escherichia coli tidak berbahaya di dalam usus tetapi bila memasuki kandung kemih dapat menyebabkan sistitis, suatu peradangan pada selaput lendir organ ini. c. Hal ini dapat membuat kita menaruh perhatian lebih besar terhadap infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang merupakan mikrobiota normal atau asli pada inang manusia.

2. Asal Mula Mikrobiota Manusia

Bila seekor hewan dilahirkan dengan pembedahan perut (caesarian operations), dan dijaga supaya tidak terjadi kontaminasi oleh mikrobe, kemudian dipelihara di suatu lingkungan bebas kuman serta diberi makan hanya makanan yang sudah disterilkan, maka hewan tersebut tidak membentuk mikrobiota (Irianto, 2007: 164).

Pada keadaan alamiah, janin manusia mula-mula memperoleh mikroorganisme ketika lewat sepanjang saluran lahir. Jasad-jasad renik itu diperolehnya melalui kontak permukaan, penelanan atau penghisapan. Mikroba-mikroba ini segera disertai oleh mikrobamikroba lain dari banyak sumber yang langsung berada di sekeliling bayi yang baru lahir tersebut. Mikroorganisme yang menemukan lingkungan yang sesuai, pada permukaan luar atau dalam tubuh, dengan cepat berbiak dan menetap (Pelczar, 2009: 547). Jadi di dalam waktu beberapa jam setelah lahir, bayi memperoleh flora mikroba yang akan menjadi mikrobiota yang asli. Setiap bagian tubuh manusia, dengan kondisi lingkungan yang khusus, dihuni berbagai macam mikroorganisme tertentu. Sebagai contoh, di rongga mulut berkembang populasi mikroba alamiah yang berbeda dengan yang ada di usus. Dalam waktu singkat, bergantung kepada faktor-faktor seperti berapa seringnya dibersihkan, nutrisinya, penerapan prinsip-prinsip kesehatan, serta kondisi hidup, maka anak tersebut akan mempunyai mikrobiota normal yang macamnya sama seperti yang ada pada orang dewasa (Pelczar, 2009: 547). Flora normal biasanya ditemukan di bagian-bagian tubuh manusia yang kontak langsung dengan lingkungan misalnya kulit, hidung, mulut, usus, saluran urogenital, mata, dan telinga.

1. Kulit

Kulit secara konstan berhubungan dengan bakteri dari udara atau dari benda-benda, tetapi kebanyakan bakteri ini tidak tumbuh pada kulit karena kulit tidak sesuai untuk pertumbuhannya. Pada umumnya bakteri yang ada pada kulit mampu bertahan hidup lama karena kullit mengeluarkan substansi bakterisida. Sebagai contoh, kelenjar keringat mengekskresikan lisozim, yaitu suatu enzim yang dapat menghancurkan sel bakteri. Kelenjar lemak mengekskresikan lipid yang kompleks, yang diurai sebagian oleh beberapa bakteri. (Irianto, Koes. 2006: 166).

Gambar 2. simbion mikroba utama yang dijumpai pada kulit manusia (sumber: (Pelczar, Michael. 1988: 548).

Kulit manusia terlihat lebih mudah pecah atau rusak bila dibandingkan dengan kulit hewan, seperti badak, gajah, dan kura-kura. Namun kulit manusia memiliki sifat sebagai pertahanan (barier) yang sangat efektif terhadap infeksi. Dalam kenyataanya, tidak ada bakteri yang dapat menembus kulit utuh yang telanjang tanpa pelindung.

(http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html).

Kulit bersifat sedikit asam dengan pH 5 dan memiliki temperatur kurang dari 37C. Lapisan sel-sel yang mati akan membuat permukaan kulit secara konstan berganti sehingga bakteri yang berada dibawah permukaan kulit tersebut akan juga dengan konstan terbuang dengan sel mati. Lubang-lubang alami yang terdapat di kulit, seperti pori-pori, folikel rambut, atau kelenjar keringat memberikan suatu lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri. Namun lubang-lubang tersebut secara alami dilindungi oleh lisozim (enzim yang dapat merusak peptidoglikan bakteri yang merupakan unsur utama pembentuk dinding sel bakteri gram positif) dan lipida toksik. ( http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html)

Pelindung lain terhadap kolonialisasi kulit oleh bakteri patogen adalah mikroflora normal kulit. Mikroflora tersebut merupakan suatu kumpulan dari bakteri nonpatogen yang normal berkolonisasi pada setiap area kulit yang mampu mendukung pertumbuhan bakteri. Bakteri patogen yang akan menginfeksi kulit harus mampu bersaing dengan mikroflora normal yang ada untuk mendapatkan tempat kolonisasi serta nutrien untuk tumbuh dan berkembang. Mikroflora normal kulit terutama terdiri dari bakteri gram positif. Tetapi bakteri gram negatif seperti Escherichia coli yang habitatnya ada di dalam usus manusia, juga bisa terdapat pada kulit manusia karena adanya kontaminasi kotoran manusia.

(http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html)

Walaupun ada pertahanan tersebut di atas, beberapa bakteri patogen dapat berkolonisasi sementara pada kulit dan dapat mengambil manfaat dari luka yang ada pada permukaan kulit untuk memperoleh jalan masuk ke jaringan yang ada di bawah kulit. Di bawah kulit, mereka akan menghadapi sejumlah sel yang telah terspesifikasi yang disebut dengan skin-associated lymphoid tissue (SALT). Fungsi SALT adalah mencegah bakteri patogen tidak sampai ke area yang lebih jauh di bawah kulit dan mencegah mereka tidak sampai ke aliran darah. Relatif sedikit yang diketahui tentang sel-sel yang menyusun SALT. Salah satu tipe selnya adalah sel yang memaparkan antigen yang terspesialisasi yang membantu tipe sel yang lain, specialized skin- seeking lymphocyte, untuk memproduksi antibodi. Sel-sel limfosit tersebut juga memproduksi sitokin, protein yang merangsang sel-sel dari sistem imun dan memiliki sejumlah efek lain. Komponen SALT yang lain adalah

keratinosit yang banyak terdapat pada lapisan epidemis dan bertanggung jawab untuk memelihara lingkungan mikrokulit yang bersifat asam. Keratinosit memproduksi sitokin dan juga mampu untuk ingesti dan membunuh bakteri.

(http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html)

Pentingnya pertahanan kulit ini diilustrasikan paling baik dengan pengaruh luka bakar yang parah, yang akan mengeliminasi semua bentuk pertahanan kulit termasuk SALT. Seseorang yang mengalami luka bakar tingkat dua dan tiga yang ekstensif dan orang yang bertahan hidup dari trauma inisial yang berhubungan dengan luka bakar masih belum terbebas dari bahaya. Banyak korban luka bakar mati karena infeksi bakterial yang terjadi sebelum kulit terbakar mengalami penyembuhan. Hilangnya pertahanan kulit dan tereksposnya lapisan jaringan di bawah kulit yang basah dan kaya nutrien merupakan hal yang ideal untuk kolonisasi bakteri pada area yang terbakar. Penyebab yang paling umum pada infeksi kulit yang terbakar adalah Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus, dua spesies bakteri yang terdapat di mana-mana pada lingkungan rumah sakit. Kedua spesies juga dikenal resisten terhadap antibiotik. Antibiotik paling efektif bila aksi antibakterial mereka didukung dengan aktivitas pembunuhan oleh sistem imun. Efek kombinasi dari kerusakan SALT dan resistensi alami bakteri telah membuat infeksi luka bakar sulit untuk ditangani dengan efektif. Infeksi tersebut merupakan suatu penyebab utama kematian di antara penderita luka bakar. Bahkan, bila tidak bersifat fatal, infeksi bakterial pada jaringan yang terbakar meningkatkan jumlah kerusakan jaringan dan mencegah penyembuhan area kulit yang terbakar. (http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html)

Staphylococcus epidermidis yang bersifat nonpatogen pada kulit namun dapat menimbulkan penyakit saat mencapai tempat-tempat tertentu seperti katup jantung buatan dan sendi prostetik (sendi buatan). Bakteri ini lebih sering ditemui pada kulit dibandingkan dengan kerabatnya yang bersifat patogen yaitu Staphylococcus aureus. (www.wikipedia.org)

2. Hidung dan Nasofaring (nasopharynx)

Bakteri yang paling sering dan hampir selalu dijumpai didalam hidung ialah difteroid. Stafilokokus yaitu, yaitu Stafilokokus aureus. Ada juga ditemukan Stafilokokus epidermidis. Didalam bagian kerongkongan hidung, dapat juga dijumpai bakteri Brauhamella catarrhalis (suatu kokus gram negatif) dan Haemophilus influenzae (suatu batang gram negatif). (Pelczar, Michael 1988: 549).

3. Mulut

Kelembapan yang paling tinggi, adanya makanan terlarut secara konstan dan juga partikel-partikel kecil makanan membuat mulut merupakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Mikrobiota mulut atau rongga mulut sangat beragam banyak bergantung pada kesehatan pribadi masing-masing individu. (Pelczar, Michael. 1988: 549)

Diperolehnya mikrobiota mulut pada waktu lahir, rongga mulut pada hakikatnya merupakan suatu inkubator yang steril, hangat, dan lembap yang mengandung sebagai substansi nutrisi. Air liur terdiri dari air, asam amino, protein, lipid, karbohidrat, dan senyawasenyawa anorganik. Jadi, air liur merupakan medium yang kaya serta kompleks yang dapat dipergunakan sebagai sumber nutrien bagi mikroba pada berbagai situs di dalam mulut. (Air liur itu sendiri pada umumnya mengandung jasad-jasad renik transient, artinya hanya singgah sebentar yang datang dari situs-situs lain rongga mulut, terutama dari permukaan lidah bagian atas). (Pelczar, Michael. 1988: 549-550).

Tabel 2. Spesies mikrobe predominan yang dijumpai di berbagai daerah anatomi manusia
DAERAH MIKROORGANISME % TIMBULNYA

Kulit

Staphylococcus epidermidis S. Aureus Propionibacterium acnes Korinebakteri (difteroid) Aerobik

85-100 45-100 55 90 20 - 85

Hidung dan Nasofaring

Staphylococcus epidermidis S. aureus Korinebakteri (difteroid) Aerobik Branhamella catarrhalis Haemophilus influenzae

12 12 75 - 100 Umum 100 100 Banyak 100 95 Umum 25 - 100 Umum Umum Umum 15 - 90 Umum 30 - 70 35 - 40 50 - 90 0 - 50 25 - 99

Mulut (air liur dan permukaan gigi)

Staphylococcus epidermidis S. aureus Streptococcus mitis dan Streptokokus alfa-hamolitik lainnya S. Salivarus Peptostreptokokus Veillonella alcalescens Laktobasilus Actinomyces israelii Haemophilus influenzae Bacterioides fragilis B. Melaninogenicus B. Oralis Fusobacterium nucleatum Candida albicans Treponema denticola dan T. Vicentii

Orofaring

Staphylococcus apidermidis S. aureus Difteroid Streptococcus pneumoniae Sterptokokus -alfa dan nonhemolitik Branhamella catarrhalis Haemophilus influenzae H. Parainfluenzae Neisseria meningitidis

20 - 35 0 - 15

Sumber: (Pelczar, Michael 1988: 550)

Tabel 2 (lanjutan)
DAERAH Usus halus kosong (jejunum) MIKROORGANISME Bakteri gram positif fakultatif (enterokokus, laktobasilus, difteroid) Candida albicans % TIMBULNYA Jumlahnya Sedikit 20 40

Usus halus gelung (ileum) Usus besar

Bagian yang jauh dapat mengandung sejumlah kecil Enterobacteriaceae dan bakteri anaerobik gram negatif Basilus gram negatif: Bacteroides fragilis, B. Melaninogenicus, B. Oralis, Fuso bacterium, F. Necrophorum Basilus gram negatif: Laktobasilus Clostridium perfringens Eubacterium limosum Bifidobacterium bifidum Peptostreptokokus Enterokokus (streptokokus kelompok D) Eischerichia coli Klebsiella spp. Enterobacter spp. Proteus spp. Candida albicans 15 30 50 75 60 80 15 30 30 40 45 75 35 80 30 80 18 40 30 50 20 60 25 35 30 70 30 70 Umum 100 100 40 80 40 80 100

Vagina dan leher rahim

Laktobasilus Bacteroides spp. Clostridium spp. Peptostreptokokus Difteroid Staphylococcus epidermidis Streptokokus kelompok D Enterobacteriaceae Candida labicans Trichomonas vaginalis

Sumber: (Pelczar, Michael 1988: 551)

Gambar 3. Bakteri yang melekat pada permukaan gigi sebagaimana nampak pada mikrograf elektron payar. Terlihat kokus menyelubungi beberapa bakteri filamentus, sehingga memberikan penampilan tongkol jagung. (Pelczar, Michael 1988: 556)

Gigi merupakan tempat bagi menempelnya mikroba. Ada dua spesies bakteri yang dijumpai berasosiasi dengan permukaan gigi: Streptococcus sanguis dan S. mutans, diduga merupakan unsur etiologis (penyebab) utama kerusakan gigi, atau pembusuk gigi. Sifat menempel ini sangat penting bagi kolonialisasi bakteri di dalam mulut. (Pelczar,Michael. 1988: 552)

Baik S. sanguins maupun S. mutans menghasilkan polisakarida ekstraselular yang disebut dekstrans yang bekerja seperti perekat, mengikat sel-sel bakteri menjadi satu dan juga melekatkan mereka pada permukaan gigi. Tertahannya bakteri dapat juga terjadi karena terperangkapnya secara mekanis di dalam celah-celah gusi, atau di dalam lubang dan retakan gigi. Agregasi bakteri semacam itu serta bahan organik pada permukaan gigi disebut plak (plague). (Pelczar, Michael. 2008: 552).

4. Orofaring (oropharinx)

Orofaring

(bagian

belakang

mulut)

juga

dihuni

sejumlah

besar

bakteri

Staphylococcus aureus dan S. epidermidis. Tetapi kelompok bakteri terpenting yang merupakan penghuni asli orofaring ialah streptokokus -hemolitik, yang juga dinamakan

Streptokokus viridans. Biakan yang ditumbuhkan dari orofaring juga akan memperlihatkan adanya Branchamella catarrhalis, spesies Haemophilus, serta (Streptococcus pneumonia). (Irianto, Koes. 2006: 170).

Bagian terdalam saluran pernapasan (ranting tenggorok atau bronkiolus yang lebih halus serta alveoli atau gelembung paru-paru) tidak mengandung mikroorganisme. Hal ini disebabkan karena saluran pernapasan berlapiskan silia, yaitu embel-embel seperti rambut,

yang menyapu mikroorganisme dan bahan-bahan lain dari bagian sebelah dalam saluran ke bagian sebelah atas untuk dibuang. Rambut bersama dengan lendir di dalam lubang hidung itulah yang pertama-tama membantu melindungi saluran pernapasan dengan cara menyaring bakteri dari udara yang dihirup. (Pelczar, Michael. 1988: 555).

5. Perut

Isi perut yang sehat pada praktisnya steril karena adanya asam hidroklorat di dalam sekresi lambung. Setelah ditelannya makanan, jumlah bakteri bertambah tetapi segera menurun kembali dengan disekresikannya getah lambung dan pH zat alir perut pun menurun. (Pelczar, Michael. 1988: 556).

Gambar 4. Penyebaran mikrobiota normal tubuh manusia. (Pelczar, Michael. 1988: 555).

6. Usus Kecil

Usus kecil bagian atas (atau usus dua belas jari) mengandung beberapa bakteri. Di antara yang ada, sebagian besar adalah kokus dan basilus gram positif. Di dalam jejunum atau usus halus kosong kadang kala dijumpai spesies-spesies enterokokus, laktobasilus, dan difteroid. Khamir Candida albicans dapat juga dijumpai pada bagian usus kecil ini. (Pelczar, Michael. 1988: 556).

7. Usus Besar

Di dalam tubuh manusia, kolon atau usus besar mengandung populasi mikroba yang terbanyak. Telah diperkirakan bahwa jumlah mikroorganisme di dalam spesimen tinja adalah kurang lebih 1012 organisme per gram. (Pelczar, Michael. 1988: 556).

Basilus gram negatif anaerobik yang ada meliputi spesies Bacteroides (B. fragilis, B. melaninogenicus, B. oralis) dan Fusobacterium. Basilus gram positif diwakili oleh spesiesspesies Clostridium (termasuk Cl. Perfringens yang mempunyai kaitan dengan kelemayuh, suatu infeksi jaringan disertai gelembung gas dan keluar nanah) serta spesies-spesies Lactobacillus. (Pelczar, Michael. 1988: 556) Sangatlah menarik perhatian bahwa mikrobiota usus seorang bayi yang disusui oleh ibunya hampir seluruhnya terdiri dari laktobasilus. Dengan diberikan susu botol, jumlah laktobasilus menurun dan akhirnya, dengan diberikannya makanan padat serta nutrisi tipe dewasa, maka mikrobiota gram negatif menjadi predominan. (Pelczar, Michael. 1988: 557) Spesies-spesies anaerobik fakultatif yang dijumpai di dalam usus tergolong dalam genus Escherichia, Proteus, Klebsiella, dan Enterobacter. Peptostreptokokus (streptokokus anaerobik) juga umum. Khamir Candida albicans juga dijumpai. (Pelczar, Michael. 1988: 557) Flora saluran pencernaan berperan dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen empedu dan asam empedu, absorpsi zat makanan serta antagonis mikroba pathogen. Pada penyakit diare, akibat dari pergerakan isi perut yang cepat, maka mikrobiota usus mengalami perubahan yang besar. Perubahan mikrobiota ini juga terjadi pada orang-orang yang menerima pengobatan antibiotik. Sayangnya, organisme yang rentan dapat tergantikan oleh resisten.

8. Saluran Kemih Kelamin Pada orang sehat, ginjal ureter dan kandung kemih bebas dari mikroorganisme, namun bakteri pada umumnya dijumpai pada uretra bagian bawah baik pada pria maupun wanita. (http://imadanalyzeartikelkesehatan.blogspot.com/2008/03/mikro-flora-normal.html). Tetapi jumlahnya berkurang di dekat kandung kemih, agaknya disebabkan efek antibakterial yang dilancarkan oleh selaput lendir uretra dan seringnya epitelium terbilas oleh air seni. Ciri populasi ini berubah menurut variasi daur haid. Penghuni utama vagina dewasa adalah laktobasilus yang toleran terhadap asam. Bakteri ini mengubah glikogen yang dihasilkan epitelium vagina, dan di dalam proses tesebut menghasilkan asam. Penumpukan glikogen pada dinding vagina disebakan oleh kegiatan indung telur; hal ini tidak dijumpai

sebelum masa akil balig ataupun

setelah menopause (mati haid). Sebagai akibat

perombakan glikogen, maka pH di dalam vagina terpelihara pada sekitar 4.4 sampai 4,6. Mikrooganisme yang mampu berkembang baik pada pH rendah ini dijumpai di dalam vagina dan mencakup enterokokus, Candida albicans, dan sejumlah besar bakteri anaerobik. (Pelczar, Michael. 1988: 557)

Sistem urinari dan genital secara anatomis terletak berdekatan, suatu penyakit yang menginfeksi satu sistem akan mempengaruhi sistem yang lain khususnya pada laki-laki. Saluran urine bagian atas dan kantong urine steril dalam keadaan normal. Saluran uretra mengandung mikroorganisme seperti Streptococcus, Bacteriodes, Mycobacterium, Neisseria dan enterik. Sebagian besar mikroorganisme yang ditemukan pada urin merupakan kontaminasi dari flora normal yang terdapat pada kulit. Keberadaan bakteri dalam urine belum dapat disimpulkan sebagai penyakit saluran urine kecuali jumlah mikroorganisme di dalam urine melebihi 105 sel/ml. (http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html)

A.

Peran Flora Normal Tubuh Manusia

Streptococcus viridans, bakteri yang tersering ditemukan di saluran nafas atas, bila masuk ke aliran darah setelah ekstraksi gigi atau tonsilektomi dapat sampai ke katup jantung yang abnormal dan mengakibatkan subacute bacterial endocarditis. Bacteroides yang normal terdapat di kolon dapat menyebabkan peritonitis mengikuti suatu trauma. (Staf Pengajar FKUI,1993: 30)

Mikroorganisme yang secara tetap terdapat pada permukaan tubuh bersifat komensal. Pertumbuhan pada bagian tubuh tertentu bergantung pada faktor-faktor biologis seperti suhu, kelembapan dan tidak adanya nutrisi tertentu serta zat-zat penghambat. Keberadaan flora tersebut tidak mutlak dibutuhkan untuk kehidupan karena hewan yang dibebaskan (steril) dari flora tersebut, tetap bisa hidup.

(http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html).

Flora yang hidup di bagian tubuh tertentu pada manusia mempunyai peran penting dalam mempertahankan kesehatan dan hidup secara normal. Beberapa anggota flora tetap di saluran pencernaan mensintesis vitamin K dan penyerapan berbagai zat makanan. Flora yang menetap diselaput lendir (mukosa) dan kulit dapat mencegah kolonialisasi oleh bakteri

patogen dan mencegah penyakit akibat gangguan bakteri. Mekanisme gangguan ini tidak jelas. (http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html). Mungkin melalui kompetisi pada reseptor atau tempat pengikatan pada sel penjamu, kompetisi untuk zat makanan, penghambatan oleh produk metabolik atau racun, penghambatan oleh zat antibiotik atau bakteriosin (bacteriocins). Supresi flora normal akan menimbulkan tempat kosong yang cenderung akan ditempati oleh mikroorganisme dari lingkungan atau tempat lain pada tubuh. Beberapa bakteri bersifat oportunis dan bisa menjadi pathogen. (http://oelanakmyu.blogspot.com/2010/11/flora-normal-tubuh-manusia.html) Saluran pencernaan adalah lingkungan yang agak memusuhi bagi mikroorganisme namun sebagian besar flora normal kita mendiami wilayah ini dari tubuh. Bahkan, usus mungkin mengandung 109 untuk 1011 bakteri per gram bahan. Sebagian besar (95 - 99,9%) di antaranya Anaerob, diwakili oleh Bacteroides, Bifidobacterium, streptokokus anaerob dan Clostridium. Organisme ini menghambat pertumbuhan patogen lain, tetapi beberapa dapat oportunistik (misalnya C. difficile dapat menghasilkan pseudomembranosa kolitis). Urogenital. Saluran urogenital biasanya steril dengan pengecualian vagina dan distal 1 cm dari uretra. Berbagai anggota dari genusLactobaci ll us menonjol dalam vagina. Organisme ini umumnya lebih rendah pH sekitar 4-5, yang optimal untuk lactobacilli tetapi penghambatan untuk pertumbuhan bakteri lainnya. Hilangnya efek perlindungan ini oleh terapi antibiotik dapat menyebabkan infeksi olehCandida ( "ragi infeksi"). Uretra sebagian besar kulit dapat mengandung mikroorganisme termasuk staphylococci, streptokokus dan diphtheroid. (http://biologi-exellent.blogspot.com/).

Mikroorganisme tidak saja terdapat dan hidup di lingkungan, akan tetapi juga di tubuh manusia. Tubuh manusia tidaklah steril atau bebas dari mikroorganisme, begitu manusia dilahirkan ia langsung berhubungan dengan mikroorganisme. Mikroorganisme yang secara alamiah terdapat di tubuh manusia disebut flora normal atau mikrobiota. (http://biologi-exellent.blogspot.com/).

c.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. WAKTU DAN TEMPAT Waktu Tempat : Rabu, 28 Desember 2011 pukul 12.30 WIB : Laboratorium Universitas Muhammadiyah Palembang

2. ALAT DAN BAHAN Alat :

a. Autoklaf b. Inkubator c. Cawan petri d. Sprayer e. Bunsen f. Pinset

g. Korek api Bahan :

a. Media NA b. Aquades c. Kapas lidi steril d. Kertas label e. Spiritus f. Alkohol 70%

g. Flora normal tubuh.

3. CARA KERJA Flora normal yang berasal dari rambut kepala a. Panaskan pinset dalam di dalam api bunsen supaya steril. b. Ambil sehelai rambut kepala dengan pinset steril. c. Letakkan rambut kepala pada permukaan media NA secara aseptis. d. Bungkus cawan petri secara terbalik, inkubasi dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 37 c. e. Setelah inkubasi 24 jam, amati bentuk koloni (bentuk, tepian, elevasi, warna, jumlah dan diameter). Flora normal yang berasal dari sekret vagina a. Lalukan kapas lidi diatas api bunsen

b. Usapkan kapas lidi steril pada labia mayora dan labia minora dengan cara diputar dengan kapas lidi dan dilakukan dekat bunsen. c. Usapkan kapas lidi tadi pada permukaan media NA secara aseptis. d. Bungkus cawan petri secara terbalik, inkubasi dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 37 c. d. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. HASIL PRAKTIKUM 2. PEMBAHASAN e. KESIMPULAN