Anda di halaman 1dari 13

RISET KELOMPOK KASUS 2 PERIKATAN AUDIT

OLEH: Kurnia Eka Wulandari M. Ibnu Fajril Jabin Mellyana Wahyuni (0810230087) (0810230095) (0810230103)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

NO 1. Peer review adalah review yang dilakukan oleh auditor terhadap kepatuhan suatu kantor akuntan public pada sistem pengendalian kualitasnya. Tujuan dari dilakukannya menurut PSPM no.3 adalah untuk meningkatkan mutu kinerja anggota IAI dalam perikatan audit, atestasi, akuntansi dan review, konsultansi. Tujuan program ini dicapai melalui tindakan pendidikan dan perbaikan, serta tindakan koreksi. Tujuan tersebut digunakan untuk melayani kepentingan masyarakat umum dan sekaligus untuk meningkatkan arti pentingnya keanggotaan IAI. Lima elemen pengendalian kualitas yang akan direview ialah: 1. Independensi, integritas, dan objektivitas 2. Personnel management 3. Penerimaan dan kelanjutan dari klien dan penugasan 4. Kinerja penugasan 5. Monitoring peer review penting dilakukan karena dengan dilakukannya peer review didapatkan beberapa manfaat, antara lain mengurangi resiko litigation, memberikan pengalaman kerja, meningkatkan moral pekerja, memberikan competitive edge, dan lebih meyakinkan klien atas kualitas jasa yang diberikan Tipe pengujian yang dilakukan menggunakan On Site Quality Review, tipe ini dipilih karena KAP yang akan direview diasumsikan memberikan pelayanan jasa audit atas laporan keuangan tahunan klien.

NO 2. Financial Accounting Standard Board (FASB) mendefinisikan materialitas sebagai berikut: Besarnya suatu penghilang atau salah saji informasi akuntansi yang dipandang dari keadaan-keadaan yang melingkupinya, memungkinkan pertimbangan yang dilakukan oleh orang yang mengandalkan pada informasi menjadi berubah atau dipengaruhi oleh penghilang atau salah saji tersebut.

Dalam menentukan materialitas, auditor harus mempertimbangkan : Keadaan yang berhubungan dengan satuan usaha Informasi yang diperlukan oleh mereka yang mengandalkan pada laporan keuangan yang telah di audit. Suatu jumlah yang material bagi suatu perusahaan tertentu, mungkin tidak material bagi perusahaan lain yang berbeda ukuran maupun sifatnya. Selain itu, tingkat meterialitas suatu perusahaan dapat berubah dari periode ke periode. PERTIMBANGAN AWAL TENTANG MATERIALITAS Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam perencanaan auditnya. Penentuan materialitas ini, yang seringkali disebut dengan materialitas perencanaan, mungkin dapat berbeda dengan tingkat materialitas yang digunakan pada saat pengambilan kesimpulan audit dan dalam mengevaluasi temuan audit karena (1) keadaan yang melingkupi berubah (2) informasi tambahan tentang klien dapat diperoleh selama berlangsungnya audit. Berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan:
1. 2.

Materialitas lebih merupakan konsep yang relative bukannya absolute Sejumlah dasar pertimbangan diperlukan untuk mengevaluasi tingkat materialitas Faktor-faktor kualitatif pun mempengaruhi tingkat materialitas. Contoh: nilai-nilai yang melibatkan kecurangan seringkali dianggap lebh penting daripada sejumlah nilai yang sama tetapi yang diakibatkan oleh kekeliruan yang tidak disengaja karena perbuatan kecurangan tersebut merefleksikan kejujuran serta realibilitas manajemen atau karyawan lain yang terlibat.

3.

MATERIALITAS PADA TINGKAT LAPORAN KEUANGAN Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. (1) auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit dan (2) pada saat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanan audit.

Pertimbangan materialitas menyangkut baik pertimbangan kuantitatif maupun pertimbangan kualitatif. Pedoman Kuantitatif Pada saat ini belum ada pedoman resmi yang berasal dari standard akuntansi mapun standard auditing terkait pengukuran meterialitas secara kuantitatif, berikut merupakan gambaran mengenai beberapa pedoman yang di gunakan dalam praktik: 5% hingga 10% dari laba bersih sebelum pajak (10% untuk laba yang lebih kecil, 5% untuk laba yang lebih besar) % hinga 1% dari total aktiva 1% dari ekuintas % hingga 1% pendapatan kotor

Suatu persentase variable berdasarkan mana yang lebih besar antara total aktiva atau total pendapatan

Pedoman Kualitatif Pendapatan kualitatif berhubungan dengan penyebab dari salah saji. Sala saji yang secara kuantitatif tidak material mungkin secara kualitatif akan material.misalnya ketika salah sji diakibatkan oleh sutu ketidakberesan (irregularities) atau tindakan melanggar hokum oleh klien. Penemuan atas terjadinya tersebut dapat mengakibatkan auditor menyimpulkan bahwa terdapat resiko yang signifikan akan adanya salah saji tambahan yang serupa. MATERIALITAS PADA TINGKAT SALDO AKUN Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep materialitas pada tingkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan dengan istilah saldo akun material. ALOKASI MATERIALITAS LAPORAN KEUANGAN KE AKUN

Dalam

melakukan

alokasi,

auditor

harus

mempertimbangkan

kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut. NO. 3 Auditor secara umum sama dengan profesi lainnya merupakan subjek hukum dan peraturan lainnya. Auditor akan terkena sanksi atas kelalaiannya, seperti kegagalan untuk mematuhi standar profesional di dalam kinerjanya. Profesi ini sangat rentan terhadap penuntutan perkara (lawsuits) atas kelalaiannya yang digambarkan sebagai sebuah krisis (Huakanala dan Shinneke,2003,h.69). Lebih lanjut Palmrose dalam Huanakala dan Shinneka menjelaskan bahwa litigasi terhadap kantor akuntan publik dapat merusak citra atau reputasi bagi kualitas dari jasa-jasa yang disediakan kantor akuntan publik tersebut. Kewajiban hukum dapat terjadi ketika seorang auditor memberikan jasa professional dalam bentuk apapun. Dalam hal ini beberapa kewajiban hukum auditor antara lain: a. KEWAJIBAN MENURUT COMMON LAW Common law seringkali diartikan sebagai hokum yang tidak tertulis. Hokum ini berdasarkan atas keputusan pengadilan dan bukan atas hokum yang dibuat dan disahkan oleh pihak legistatif. Prinsip-prinsip common law ditentukan oleh kebutuhan social masyarakat. a. KEWAJIBAN KEPADA KLIEN Jasa-jasa spesifik yang akan diberikan sebaiknya disebutkan dalam surat perikatan. Istilah hubungan pribadi dalam kontrak (privity of contract) menunjuk pada hubungan kontraktual yang ada antara dua atau lebih pihak yang terlibat dalam kontrak. Sesuai dengan SPAP tentang standar umum. Hukum Kontrak (Contract Law) Syarat-syaratnya adalah:

1.

menerbitkan laporan audit standar tanpa melakukan audit sesuai dengan GAAS. Tidak sesaui dengan SPAP standar pelaporan.

2. 3.

tidak mengirimkan laporan audit sesaui dengan batas waktu yang telah disepakati. melanggar hubungan kerahasian klien. Tidak sesuai dengan kode etik peraturan 301.

Hukum Kerugian (Tort Law) Tindakan yang merugikan: 1. kelalaian yang biasa, yaitu kelalaian untuk menerapkan tngkat kecermatan yang biasa dilakukan secara wajar oleh orang lain dalam kondisi yang sama. 2. 3. kelalaian kotor, kelalaian untuk menerapkan tingkat kecermatan yang paling ringan pada suatu kondisi tertentu. kecurangan, yaitu penipuan yang direncanakan. Tidak sesuai dengan SPAP standar pelaporan. b. KEWAJIBAN KEPADA PIHAK KETIGA Kewajiban auditor kepada pihak ketiga menurut common law merupakan hal yang penting dalam setiap pembahasan tentang kewajiban hukum auditor. Pihak ketiga disini dapat didefinisikan sebagai seseorang yang tidak mengetahui tetang pihak-pihak yang ada dalam kontrak. Pihak ketiga yang terdiri dari pemegang saham, calon pemegang saham, pemasok, bankir dan kreditor lain, karyawan, dan pelanggan. Konsep kewajiban tersebut antara lain sebagai berikut :

Doktrin ultramares, Kewajiban dapat timbul jika pihak ketiga primary beneficiary atau orang yang harus diberikan informasi audit Pemakai yang dapat diketahui sebelumnya, orang yang mengandalkan keputusannya pada laporan keuangan . Foreseeable users, pemakai yang dapat diketahui lebih dahulu mempunyai hak yang sama dengan pemakai laporan keuangan yang mepunyai hubungan kontrak .

GOLONGAN YANG TELAH DIKETAHUI SEBELUMNYA Konsep golongan yang telah diketahui sbelumnya tidak meliputi semua investor, pemegang saham, kreditor yang ada sekarang maupun yang akan datang. Putusan pengadilan tidak meminta pihak-pihak dirugikan harus diidentifikaasikan secara spesifik, namun kelompok orang-orang yang akan menjadi bagian para pihak yang harus dibatasi dan diketahui pada saat auditor memberikan informasi. PIHAK YANG DAPAT DIKETAHUI SEBELUMNYA Perorangan atau entitas yang diketahui ataupun yang akan diketahui auditor akan mengandalkan laporan audit dalam membuat keputusan bisnis dan investasi digolongkan sebagai pihak-pihak yang dapat diketahui sebelumnya. Sehingga auditor harus sesuai dengan SPAP standar umum dan standar pelaporan selain itu juga dengan kode etik peraturan 102, 201, 202, dan 203. c. KEWAJIBAN MENURUT UNDANG-UNDANG SEKURITAS SECURITIES ACT TAHUN 1933 Undang-undang ini dirancang untuk mengukur penawaran sekuritas kepada public melalui pos atau melalui interstate commerce. Mengajukan Gugatan Menurut Undang-undang Tahun 1933 Penggugat: 1. setiap orang yang membeli atau mengakuisisi sekuritas seperti yang diuraikan dalam laporan pendaftaran, tanpa memandang apakah ia merupakan klien auditor atau tidak. 2. harus mendasarkan gugatannya pada dugaan pemalsuan yang material atau laporan keuangan yang menyesatkan yang ada dalam laporan pendaftaran.

3. apabila pembelian sekuritas dilakukan sebelum penerbitan laporan laba-rugi yang meliputi periode setidaknya 12 bulan setelah tanggal efektif laporan pendaftaran, penggugat tidak harus membuktikan adanya ketergantungan pada keandalan laporan yang diderita diperkirakan sebagai akibat laporan keuangan tersebut. 4. tidak harus membuktikan bahwa auditor telah melakuakn kelalaian atau kecurangan dalam emngesahkan laporan keuangan terkait. Tergugat: 1. memiliki beban untuk menegakkan kebebasan dari kelalaian dengan cara membuktikan bahwa ia telah melakukan investigasi yang memadai dan sesuai dengan itu memiliki dasar yang memadai untuk percaya, dan memang percaya bahwa laporan keuangan yang disahkan adalah benar pada tanggal laporan tersebut serta pada saat laporan pendaftaran menjadi efektif 2. melalui pembelaan harus menunjukkan bahwa kerugian penggugat secara keseluruhan atau sebagian disebabkan oleh hal lain di luar laporan yang dianggap tidak benar atau menyesatkan tersebut. SECURITIES EXCHANGE ACT TAHUN 1934 Undang-undang tahun 1934 ini mewajibkan perusahaanperushaan yang termasuk dalam lingkup undang-undang ini untuk (1) mengarsipkan laporan pendaftaran apabila sekuritas tersebut diperdagangkan secara terbuka kepada masyarakat melalui pasar bursa efek atau pasar di luar bursa efek dan (2) menjaga agar arsip laporan pendaftaran tersebut tetap muktahir dengan cara mengarsip laporan tahunan, laporan kuartalan, dan informasiinformasi lain ynag berkaitan dengan SEC. Kewajiban dalam Pasal 18

Kewajiban dalam pasal 18 ini secara relatif memilki lingkup yang sempit karena hanya berkaitan denagn laporan yang tidak benar atau menyesatkan dalam dokumen yang diarsipkan pada SEC menurut undang-undang ini. Kewajiban dalam Pasal 10 Tindakan-tindakan yang tidak sah: 1. 2. menggunakan setiap alat, skema, atau tipu membuat setipa laporan yang tidak daya untuk menggelapkan. benar dari fakta yang material ataumengabaikan untuk menyatakan fakta material yang diperlukan agar laporan dapat menjadi jelas sesaui dengan lingkungan yang ada sehingga tidak menyesatkan. 3. yang terlibat dalam tindakan, praktik, atau uasah digunakan sebagai

bentuk kecurangan atau kebohongan kepada setiap orang kaitan dengan pembelian atau penjualn sekuritas apapun. Kewajiban dalam Pasal 32 Pasal 32(a) menetapkan kewajiban kejahatan yang dikukan dengan sengaja atau cerdik membuat pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan dalam laporan yang diarsipkan sesuai dengan Undang-undang tahun 1934. Mengajukan Gugatan Menurut Undang-undang Tahun 1934 Penggugat: 1. dapat terdiri dari setiap orang yang membeli atau menjual sekuritas. 2. harus dapat membuktikan adanya pernyataan yang secara material tidak benar atau menyesatkan. 3. harus membuktikan ketergantungan untuk mengandalkan laporan tersebut serta kerugian yang timbul karena mengandalkan laporan tersebut.

Tergugat: 1. telah bertindak denga jujur 2. tidak mengetahui tentang pernyataan tidak benar atau menyesatkan. PRIVATE SECURITIES LITIGATION REFORM ACT TAHUN 1995 Undang-undang ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko litigasi yang ceroboh bagi auditor, perusahaan yang menjual sekuritasnya kepada public dan para pihak yang berafiliasi dengan penerbit sekuritas. Kewajiban Proposional Reform Act ini memperkenalkan dan memulai suatu system kewajiban proposional dimana sesorang tergugat yang tidak mengetahui tindak pelanggaran atas hokum sekuritas tetap bertanggung jawab berdasarkan persentase tanggung jawab. Menutup Kerugian Aktual Reform Act meutup kerugian katual yang timbul menurut undang-undang sekuritas dan harga perdangan rata-rata selama periode 90 hari setelah tanggal informasi diterbitkan yang mengoreksi adanya salah saji dan pengabaian dalam laporan keuangan. Tanggung Jawab untuk Melaporkan Tindakan Melanggar Hukum Reform Act ini menetapkan persyaratan pelaporan baru kepada auditor yang mendeteksi atau menyadari adanya tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh pihak yang menerbitkan sekuritas. Perubahan Lain yang Diberikan oleh Reform Act Kelonnggaran lain bagi profesi akuntan:

1.

mewajibkan penggugat membayar imbalan dan pengeluaran yang layak bagi penasehat hukum yang digunakan oleh tergugat yang secara langsung terkait dengan litigasi yang diputuskan oleh pengadilan sebagai ceroboh dan tidak benar.

2.

memberikan tenggang waktu untuk berusaha menyelesaikan masalah yang ada, sehingga dapat mengurangi biaya yang seringkali mendorong pihak yang tidak bersalah untuk mengajukan gugatan classaction.

3. 4. 5.

membatasi kerugian akibat tindakan hukum. membatasi hak pihak ketiga untuk menggugat. perubahan tata cara bagaimana pengadilan menunjuk wakil penggugat dalam suatu classaction.

d. Kewajiban Kriminal Pemerintah federal menuntut auditor karena mengetahui bahwa laporan audit yang diterbitkan auditor tidak benar. Beberapa undang-undang seperti Uniform Securities Acts, Securuties Acts 1933 dan 1934, Federal Mail Fraud Statute dan Federal False Statement Statute menyebutkan bahwa menipu orang lain dengan sadar terlibat dalam laporan keuangan yang palsu adalah perbuatan kriminil . Sedangkan kewajiban hukum yang mengatur akuntan publik di Indonesia secara eksplisit memang belum ada, akan tetapi secara implisit hal tersebut sudah ada seperti tertuang dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), Standar Akuntansi Keuangan (SAK), Peraturan-Peraturan mengenai Pasar Modal atau Bapepam, UU Perpajakan dan lain sebagainya yang berkenaan dengan kewajiban hukum akuntan (Rachmad Saleh AS dan Saiful Anuar Syahdan,2003).

Alasan hubungan auditor dengan kewajiban hokum semakin meningkat:

Salah satu alasan yang paling mendasari adalah kurangnya independensi auditor dalam menyajikan kualitas jasa audit. Dimungkinkan auditor semakin banyak terlibat kewajiban hokum karena tidak mampu mempertahankan independensinya dalam memberikan jasa audit. Selain itu, kelalaian auditor terhadap kepatuhan standard SPAP juga berkontribusi dalam alasan ini. Terbukti dalam kasus AP Drs Basyiruddin Nur yang dikenakan sanksi melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor: 1093/KM.1/2009 tanggal 2 September 2009. Kemudian AP Drs Basyiruddin Nur, telah dikenakan sanksi pembekuan selama tiga bulan karena yang bersangkutan belum sepenuhnya mematuhi Standar Auditing (SA)-Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan konsolidasian PT Datascrip dan anak perusahaan tahun buku 2007. Menkeu menilai hal itu berpotensi berpengaruh cukup signifikan terhadap laporan auditor independen. MEMINIMALKAN RISIKO LITIGASI 1. menggunakan surat perikatan untuk semua jenis jasa professional. Sesuai dengan SPAP standar umum dan kode etik peraturan 102. 2. melakukan investigasi yang emnyeluruh atas klien prospektif. Sesuai dengan SPAP standar pekerjaan lapangan 3. lebih menekankan mutu jasa daripada pertumbuhan 4. mematuhi sepenuhnya ketentuan professional 5. mengakui keterbatasan ketentuan profesional. 6. menetapkan dan menjaga standar yang tinggi atas pengendalian mutu. Sesuai dengan SPAP standar umum. 7. memperhatikan tindak pencegahan dalam perikatan tentang keterlibatan klien dalam kesulitan keuangan. 8. mewaspadai resiko audit. 9. Hanya berurusan dengan klien yang memiliki integritas 10. Mempekerjakan staf yang kompeten dan melatih serta mengawasi dengan pantas 11. Mempertahankan independensi

12. Memahami usaha klien 13. Mendokumentasika pekerjaan secara memadai 14. Mendapatkan surat penugasan dan surat pernyataan 15. Mempertahankan hubungan yang bersifat rahasia 16. Perlunya asuransi yang memadai; dan Mencari bantuan hukum