Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi dalam satu situasi, bahkan dalam satu ruang hampa. Belajar mengajar merupakan suatu proses yang sangat kompleks, karena dalam proses tersebut siswa tidak hanya sekedar menerima dan menyerap informasi yang disampaikan oleh guru, tetapi siswa dapat melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran dan tindakan pedagogik yang harus dilakukan, agar hasil belajarnya lebih baik dan sempurna. Tentunya semua ini agar dapat tercapai harus didukung dengan kualitas pendidikan yang baik. Upaya untuk memacu peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab berbagai komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Pada dasarnya terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pendidikan, diantaranya seperti guru, siswa, sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan dan kurikulum. Guru dalam kegiatan proses pembelajaran di sekolah menempati kedudukan yang sangat penting dan tanpa mengabaikan faktor lainnya, guru sebagai subyek pendidikan sangat menentukan keberhasilan pendidikan itu sendiri (Widoyoko, 2009). Profesi guru adalah profesi yang sangt mulia dan terhormat di mata masyarakat. Namun, status sosial tersebut merupakan suatu beban tanggung jawab yang berat di kehidupan masyarakat, karena tanggung jawab kualitas pendidikan ada

di pundak guru. Guru dan kualitas pendidikan ibarat dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, keduanya senantiasa saling berhubungan. Peningkatan prestasi belajar siswa akan dipengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran di kelas. Dari proses pembelajaran tersebut siswa dapat menghasilkan suatu perubahan yang bertahap dalam dirinya, baik dalam bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap. Adanya perubahan tersebut terlihat dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa berdasarkan evaluasi yang diberikan oleh guru. Oleh karenanya untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, proses pembelajaran di kelas harus berlangsung dengan baik, efektif dan efisien. Proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik jika didukung oleh guru yang memiliki kompetensi dan kinerja yang tinggi, karena guru merupakan ujung tombak dan pelaksana terdepan pendidikan anak di sekolah, sekaligus sebagai pengembang kurikulum. Guru yang memiliki kinerja yang baik akan mampu menumbuhkan semangat dan motivasi belajar siswa menjadi lebih baik, yang nantinya akan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai keinginan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Boleh jadi siswa yang memiliki intelegensi yang cukup tinggi menjadi gagal karena kekurangan motivasi, sebab hasil belajar itu akan optimal bila terdapat motivasi yang tepat. Menurut Sardiman (1990), motivasi menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Karenanya, bila siswa mengalami kegagalan dalam belajar,

hal ini bukanlah semata-mata kesalahan siswa, tetapi mungkin saja guru tidak berhasil dalam membangkitkan motivasi siswa. Untuk dapat membangun motivasi belajar yang kuat pada diri siswa diperlukan guru yang memiliki kompetensi mengajar sesuai dengan tuntutan profesionalisme agar terjalin interaksi belajar mengajar yang optimal, sehingga dapat berdampak positip terhadap prestasi belajar siswa. Guru yang profesional harus memiliki kemampuan dalam mengelola proses pembelajaran. Guru yang profesional akan dipandang dan diyakini sebagai faktor kunci yang mampu membentuk interaksi kondusif dalam membelajarkan siswa. Dalam hal ini, peran utama guru adalah memfasilitasi siswa sehingga dapat belajar secara optimal. Atas fenomena tersebut, diperlukan sosok guru yang profesional yang mampu memotivasi dan membangkitkan rasa percaya diri siswa. Guru yang memiliki kinerja yang baik yang berlandaskan pada standar kompetensi sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Kompetensi guru dimaksud terdiri dari kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Kompetensi dalam mengajar guru menarik untuk dikaji, mengingat guru sebagai sentral dalam proses belajar mengajar. Guru dipandang sebagai gudangnya ilmu dan metodologi, sekaligus tempat bertanya siswa. Oleh karenanya, kemampuan guru mengajar menjadi keharusan yang harus terpenuhi. Artinya, guru harus memenuhi standar kompetensi minimal sebagai seorang guru.

Banjarbaru yang mengedepankan pendidikan dalam visinya sebagai kota empat dimensi yang mandiri dan terdepan, sebagaimana termuat dalam situs resmi Pemerintah Kota Banjarbaru www.banjarbarukota.go.id, yaitu Banjarbaru sebagai (1) kota pendidikan; (2) kota jasa, industri dan perdagangan; (3) kota pemukiman; dan (4) kota pemerintahan, tentunya dituntut tidak hanya harus dapat menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, namun juga harus didukung dengan kualitas guru yang memiliki tingkat pendidikan dan kinerja sesuai dengan standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007. Oleh karena itu, sasaran dari kegiatan penelitian ini difokuskan pada gambaran kinerja guru di sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru berdasarkan standar kompetensi guru dan kaitannya dengan prestasi belajar siswa. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang dan agar kegiatan penelitian dapat menjadi lebih terarah dan sistematis maka dibuat suatu rumusan masalah, sekaligus untuk membatasi arah daripada kegiatan penelitian ini. Permasalahan yang dirumuskan pada kegiatan penelitian ini membahas: 1. Seperti apa kinerja guru berdasarkan standar kompetensi di sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru? 2. Bagaimana prestasi belajar siswa sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru?

3. Bagaimana hubungan antara kinerja guru berdasarkan standar kompetensi dengan prestasi belajar siswanya? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui kinerja guru berdasarkan standar kompetensi di sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru. 2. Mengetahui prestasi belajar siswa sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru. 3. Menganalisis hubungan antara kinerja guru berdasarkan standar kompetensi dengan prestasi belajar siswanya. D. Manfaat Penelitian Manfaat dari kegiatan penelitian ini diantaranya: 1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan menambah kekayaan pustaka di bidang pendidikan yang berkaitan dengan kompetensi guru sekolah menengah pertama. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak terkait, yaitu: a. Bagi pemerintah kota, diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi guna

pembinaan sumberdaya manusia guru, dan dapat menjadi dasar pertimbangan untuk penentuan kebijakan dalam peningkatan mutu guru sekolah menengah pertama.

b.

Bagi sekolah, diharapkan dapat menjadi bahan referensi dalam

penetapan pembelajaran. c. Bagi guru, diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk evaluasi

diri terkait dengan standar kompetensi guru.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Kinerja Guru Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah guru. Guru mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap kualitas pembelajaran, karena guru yang bertanggung jawab terhadap pembelajaran di kelas dan sekaligus sebagai penyelenggara pendidikan di sekolah. Menurut Supriadi (1999), diantara berbagai input yang menentukan kualitas pendidikan (ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa) sepertiganya ditentukan oleh guru. Faktor guru yang paling dominan mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah kinerja guru. Istilah kinerja dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata job performance yang diartikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2000). Menurut Sianipar (1999), kinerja dapat diartikan sebagai hasil kerja atau prestasi kerja yang diperlihatkan seseorang atau sekelompok orang (organisasi atau lembaga) atas suatu pekerjaan pada waktu tertentu. Dikemukakannya bahwa kinerja dapat berupa produk akhir (barang dan jasa) atau berbentuk perilaku, kecakapan kemampuan kerja, kompetensi, sarana dan keterampilan spesifik yang dapat mendukung pencapaian tujuan dan sasaran.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, kinerja dapat diartikan sebagai sesuatu wujud perilaku seseorang atau organisasi dengan orientasi prestasi. Menurut Gomes (2003), kinerja seseorang erat kaitannnya dengan dua faktor utama, yaitu kesediaan atau motivasi seseorang itu untuk bekerja yang menimbulkan usaha, dan kemampuan seseorang untuk melaksanakannya. Dengan kata lain, kinerja merupakan interaksi antara faktor kemampuan, kemauan dan manusia. Guru merupakan suatu profesi atau suatu pekerjaan/keahlian dalam bidang pendidikan dan pembelajaran yang ditekuni sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup (Kusnandar, 2007). Dengan demikian, kinerja guru dapat diartikan sebagai hasil atau prestasi kerja seorang guru dalam menjalankan profesinya di bidang pendidikan dan pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi yang dipersyaratkan agar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Menurut Gibson et al (1989) didalam Indrawati (2006), untuk mencapai kinerja yang baik ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja, yaitu (1) variabel individu yang meliputi kemampuan dan keterampilan, latarbelakang keluarga, tingkat sosial dan pengalaman, serta umur, etnis dan jenis kelamin; (2) variabel organisasi yang mencakup antara lain sumberdaya, kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan; dan (3) variabel psikologis yang terdiri dari presepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi. Kualitas kinerja individu dapat dinilai dengan meninjau beberapa indikator. Indikator-indikator tersebut diantaranya, menurut Sulistyorini (2001), meliputi penguasaan materi, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara penyesuaian diri, dan kepribadian untuk melaksanakan tugasnya dengan

baik. Ditambahkannya, kinerja guru sangat penting untuk diperhatikan dan dievaluasi karena guru mengemban tugas profesional. Artinya tugas-tugas hanya dapat dikerjakan dengan kompetensi khusus yang diperoleh melalui program pendidikan. Indikator kinerja guru ini diuraikan sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. Kemampuan membuat perencanaan dan persiapan mengajar Penguasaan materi yang akan diajarkan kepada siswa Penguasaan metode dan strategi mengajar Pemberian tugas-tugas kepada siswa Kemampuan mengelola kelas, dan Kemampuan melakukan penilaian dan evaluasi.

2. Standar Kompetensi Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didik mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Dengan kompetensi tersebut, maka akan menjadikan guru profesional, baik secara akademis maupun non akademis.

10

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999), kompetensi diartikan sebagai kewenangan/kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu. Kompetensi, yang dalam bahasa Inggris competency, diartikan pula sebagai kemampuan atau kecakapan. Usman (1993) mendefinisikan kompetensi sebagai suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karenanya, kompetensi guru dapat diartikan sebagai kewenangan atau kemampuan seorang guru dalam melaksanakan profesinya. Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. Ini karena kurikulum pendidikan harus disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. Tujuan, program pendidikan, sistem penyampaian, evaluasi, dan sebagainya, hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin (Hamalik, 2006). Dikemukakannya pula bahwa dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa, kompetensi guru berperan penting. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal.

11

Agar tujuan pendidikan tercapai, yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif, maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya sesuai kriteria menurut Sudjana (1989) berikut ini: 1. Kompetensi kognitif, yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual 2. Kompetensi afektif, yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap, menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai yang berkenaan dengan tugas dan profesi 3. Kompetensi psikomotorik, yaitu kemampuan guru dalam berbagai

keterampilan atau berperilaku. Menurut Rosyada (2004), secara umum guru harus memenuhi dua kategori, yaitu memiliki capability dan loyality. Guru itu harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik dari mulai perencanaan, implementasi sampai evaluasi, dan memiliki loyalitas keguruan terhadap tugas-tugas yang tidak hanya di dalam kelas. Kedua kategori tersebut, terkandung dalam macam-macam kompetensi guru. Samana (1994) mengemukakan bahwa terdapat sepuluh kemampuan dasar guru yang menjadi tolok ukur kinerjanya sebagai pendidik yang berkompeten, yang dikembangkan melalui kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Kesepuluh kompetensi dasar pengalaman belajar, yaitu: 1. Menguasai bahan, baik bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah maupun bahan pengayaan atau penunjang bidang studi 2. Mengelola program belajar mengajar tersebut kemudian dijabarkan melalui berbagai

12

3. Mengelola kelas 4. Menggunakan media/sumber 5. Menguasai landasan pendidikan 6. Mengelola interaksi belajar mengajar 7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran 8. Mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan 9. Mengenal dan mnyelenggarakan administrasi sekolah 10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. Kesepuluh kompetensi guru tersebut merupakan hasil pengembangan yang didasarkan atas analisis tugas-tugas yang harus dikuasai oleh guru profesional dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Kualitas kompetensi guru akan berkembang dan meningkat tergantung pada guru itu sendiri. Guru akan berkualitas jika senantiasa mencari peluang untuk meningkatkan kualitasnya sendiri. Tentunya hal ini harus dengan dukungan dari pemerintah, asosiasi pendidikan dan guru, serta satuan pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru menyebutkan standar kompetensi guru yang dikembangkan secara utuh yang terdiri dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional, yang mana keempatnya terintegrasi dalam kinerja guru. Menurut Niam (2006), yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi ini meliputi

13

pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya, yang sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Pemahaman wawasan/landasan kependidikan 2. Pemahaman terhadap peserta didik 3. Pengembangan kurikulum/silabus 4. Perancangan pembelajaran 5. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis 6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran 7. Evaluasi Hasil Belajar (EHB) 8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Setiap perkataan, tindakan dan tingkah laku positip akan meningkatkan citra diri dan kepribadian seseorang, selama hal tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran. Kepribadian, menurut Daradjat (1980) didalam Sagala (2008), disebut sebagai sesuatu yang abstrak, sukar dilihat secara nyata, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan dan ucapan ketika menghadapi suatu persoalan. Kepribadian mencakup semua unsur, baik fisik maupun psikis, yang akan dapat menentukan seorang guru dapat disebut pendidik yang baik atau sebalik. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik (Niam, 2006). Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan

14

perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi kepribadian ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumberdaya manusia, serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara, dan bangsa. Seorang guru harus memiliki sikap kepribadian yang mantap sehingga mampu menjadi sumber intensifikasi bagi subyek. Dengan kata lain seorang guru harus memiliki kepribadian yang pantas untuk diteladani, seperti pepatah ing ngarso sung tulodho (di depan memberikan contoh/teladan yang baik), ing madyo mangun karsa (di tengah dan memberikan bimbingan), tut wuri handayani (di belakang memberi semangat dan motivasi). Hal ini berarti guru adalah teladan bagi anak didiknya, sehingga harus memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan dalam seluruh segi kehidupannya. Oleh karenanya, guru harus selalu berusaha memilih dan melakukan perbuatan yang positip agar dapat mengangkat citra baik dan kewibawaannya, terutama bila di depan anak didiknya. Kenyataan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Usman (1993) bahwa kepribadian guru terkait dengan penampilan sosok guru sebagai individu yang mempunyai kedisiplinan,

berpenampilan baik, bertanggung jawab, memiliki komitmen dan menjadi teladan bagi anak didiknya. Kompetensi sosial dimaksudkan bahwa guru mampu memfungsikan dirinya sebagai makhluk sosial di masyarakat dan lingkungannya sehingga mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik,

15

tenaga kependidikan, orang tua dan wali peserta didik, serta masyarakat sekitar (Mulyasa, 2007). Lebih jauh disampaikannya pula bahwa guru sebagai bagian dari masyarakat sekurang-kurangnya harus memiliki kompetensi untuk: 1. Berkomunikasi secara lisan, tulisan dan isyarat 2. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional 3. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik; dan 4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. Guru adalah salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, meningkatkan mutu pendidikan berarti juga meningkatkan mutu guru. Meningkatkan mutu guru tidak hanya dari segi kesejahteraannya, tetapi juga profesionalitasnya. Sebagai seorang profesional guru harus memiliki kompetensi keguruan yang cukup. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memiliki pengetahuan luas dan mendalam terhadap materi yang diajarkan, dan juga dalam hal penguasaan metologis. Artinya, guru harus memiliki pengetahuan konsep teoritik dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Menurut Niam (2006), kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, yang memungkinkan untuk membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan. Adapun ruang lingkup kompetensi profesional adalah sebagai berikut:

16

1. Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi, psikologis, sosiologis, dan sebagainya 2. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai perkembangan peserta didik 3. Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya 4. Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi 5. Mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat, media dan sumber belajar yang relevan 6. Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran 7. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik 8. Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik. Terkait dengan penilaian kinerja guru yang didasarkan pada standar kompetensi guru yang meliputi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional, pemerintah mengaturnya melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam peraturan tersebut dilampirkan format penilaian kompetensi guru yang terdiri dari: 1. Pedagogik, meliputi: Menguasai karakteristik peserta didik Menguasasi teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang

mendidik Pengembangan kurikulum

17

Kegiatan pembelajaran yang mendidik Pengembangan potensi peserta didik Komunikasi dengan peserta didik Penilaian dan evaluasi

18

2. Kepribadian, meliputi: Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan

nasional Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan. Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru

3. Sosial, meliputi: Bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif. Komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua,

peserta didik, dan masyarakat. 4. Profesional, meliputi: Penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang

mendukung mata pelajaran yang diampu. Mengembangkan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif.

3. Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni prestasi dan belajar, yang mempunyai arti yang berbeda. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999) mendefinisikan prestasi sebagai hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Menurut Djamarah (1994), prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.

19

Belajar, menurut Slameto (2003), adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan. Hal senada juga dikemukakan oleh Soemanto (1990) bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman. Belajar dapat juga diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan secara sadar dan rutin oleh seseorang sehingga akan mengalami perubahan secara individu, baik pengetahuan, keterampilan, sikap maupun tingkah laku, yang dihasilkan dari proses latihan dan pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Kamus Besar Bahasa Indonesia juga mendefinisikan prestasi belajar sebagai penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini, prestasi belajar merupakan suatu kemajuan dalam perkembangan siswa setelah ia mengikuti kegiatan belajar dalam waktu tertentu. Seluruh pengetahuan, keterampilan, kecakapan dan perilaku individu terbentuk dan berkembang melalui proses belajar. Aktivitas belajar siswa tidak selamanya berlangsung wajar, kadang-kadang lancar dan kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa sulit untuk dipahami. Dalam hal semangat pun kadang-kadang tinggi dan kadang-kadang sulit untuk bisa berkosentrasi dalam belajar. Demikian kenyataan yang sering dijumpai pada setiap siswa dalam kehidupannya sehari-hari dalam aktivitas belajar mengajar.

20

Setiap siswa memang tidak ada yang sama, perbedaan individual ini yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan siswa, sehingga menyebabkan perbedaan dalam prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terdapat sejumlah faktor yang saling mempengaruhi, tinggi rendahnya prestasi belajar siswa tergantung pada faktor-faktor tersebut. Sabri (2001) dan Muhibbinsyah (2002) menyampaikan bahwa proses dan hasil belajar siswa di sekolah secara garis besarnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu (1) faktor internal, meliputi kondisi jasmani dan rohani dari dalam diri siswa sendiri; dan (2) faktor eksternal, terdiri dari faktor lingkungan, baik sosial maupun non sosial, dan faktor instrumental. Prestasi belajar itu sendiri, menurut Purwanto (2001), dapat dinilai dengan cara (1) penilaian formatif, yakni kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang telah dilaksanakan; dan (2) penilaian sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai di mana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan oleh guru dalam jangka waktu tertentu. B. Hipotesis Penelitian Berdasarkan uraian pada latar belakang, perumusan masalah dan landasan teori, maka untuk memudahkan pencapaian tujuan penelitian dibuat hipotesis yang menduga bahwa:

21

1. Sebagian besar kinerja guru sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru belum memenuhi standar kompetensi. 2. Prestasi belajar siswa sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru masih banyak yang kurang baik. 3. Terdapat hubungan yang erat antara kinerja guru berdasarkan standar kompetensi dengan prestasi belajar siswanya.

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah metode survei, yaitu suatu pengamatan atau penyelidikan langsung untuk mendapatkan keterangan jelas dan valid terhadap suatu kegiatan (Sugiyono, 2005). Penelitian survei dilakukan terhadap suatu populasi dengan mempelajari data dari populasi tersebut secara keseluruhan atau sebagian saja dari populasi tersebut (data sampel), sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan antara variabel sosiologis maupun psikologis. Penelitian survei dapat dilakukan melalui teknik wawancara terstruktur (menggunakan kuesioner) dan/atau observasi langsung terhadap obyek penelitian. B. Teknik Pengumpulan Data Data yang akan dikumpulkan adalah data cross section atau data yang dikumpulkan pada waktu tertentu untuk menggambarkan keadaan atau kegiatan pada waktu itu (Sudjana, 1992). Berdasarkan sumber datanya, data yang dikumpulkan adalah data primer karena bersumber langsung dari obyek penelitian, dan data sekunder sebagai data pendukung yang bersumber dari studi pustaka atau laporan penelitian terdahulu.

23

Lokasi sampel ditentukan secara sengaja (purposive sampling), yakni SMP Negeri Banjarbaru sebagai salah satu sekolah menengah pertama yang berpretasi di Kota Banjarbaru. Responden penelitian juga ditentukan secara sengaja, yakni seluruh guru bidang studi yang mengajar di SMP Negeri 1 Banjarbaru. Sedangkan data prestasi belajar siswa diambil dari nilai evaluasi murni semester sesuai dengan bidang studi yang diajarkan oleh masing-masing guru. C. Teknik Analisis Data Untuk menjawab tujuan pertama, yakni mengetahui kinerja guru berdasarkan standar kompetensi sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru; dan kedua, yakni prestasi belajar siswa sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru, diukur dari skor atas observasi terhadap guru yang menjadi responden, dan pengelompokkan nilai evaluasi murni semester siswa SMP Negeri 1 Banjarbaru. Indikator untuk penilaian kinerja guru meliputi standar kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional sesuai dengan format penilaian kompetensi guru yang dilampirkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010. Masing-masing indikator diberi skor antara 1 - 3 (skala Likert, skala yang digunakan untuk mengukur sikap/pendapat/persepsi seseorang/kelompok). Total skor seluruh indikator ini selanjutnya dibagi atas tiga kelas interval dengan panjang kelas interval yang sama, dan diberi atribut atau kategori sesuai standar, cukup sesuai standar dan kurang sesuai standar.

24

Nilai evaluasi murni semester siswa SMP Negeri 1 Banjarbaru juga dikelompokkan atas tiga kelas interval dengan panjang kelas interval yang sama, dan diberi atribut atau kategori baik (70 - 100); cukup baik (60 - 69) dan kurang baik (< 60). Untuk menguji perbedaan masing-masing kelas kelompok (kinerja atau prestasi belajar) digunakan uji chi square ( 2) dengan rumus (Sudjana, 1992):

2 =
dimana: xi x

( xi x ) 2 .....................................................................................
x

(1)

= frekuensi pada kelas interval i = rata-rata total frekuensi

Hipotesis yang diuji: H0: x3 < x1, x2 H1: x3 > x1, x2 Kriteria pengujian: 1. Terima H0 jika probabilitas (pvalue) > 0,05; yang berarti bahwa jumlah guru yang kinerjanya sesuai/cukup sesuai standar atau siswa yang prestasi belajarnya tergolong baik/cukup lebih banyak dari atau setara dengan jumlah yang tergolong kurang sesuai/baik, sehingga hipotesis bahwa sebagian besar kinerja guru sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru belum memenuhi standar kompetensi, atau prestasi belajar siswa sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru masih banyak yang kurang baik ditolak. 2. Terima H1 jika pvalue < 0,05; yang berarti bahwa jumlah guru yang kinerjanya sesuai/cukup sesuai standar atau siswa yang prestasi belajarnya tergolong

25

baik/cukup lebih sedikit daripada jumlah yang tergolong kurang sesuai/baik, sehingga hipotesis bahwa sebagian besar kinerja guru sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru belum memenuhi standar kompetensi, atau prestasi belajar siswa sekolah menengah pertama di Kota Banjarbaru masih banyak yang kurang baik diterima. Untuk menjawab tujuan ketiga, yakni menganalisis hubungan antara kinerja guru berdasarkan standar kompetensi dengan prestasi belajar siswanya, digunakan uji kontingensi yang diinterpretasikan dalam daftar kontingensi seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Daftar kontingensi hubungan antara kinerja guru dan prestasi belajar siswa
Kategori/ Atribut Kinerja Guru Berdasarkan Standar Kompetensi Sesuai Standar Cukup Sesuai Standar Kurang Sesuai Standar O1 E1 O2 E2 O2 E2 Prestasi Belajar Siswa Cukup Baik Kurang Baik OBK12 (nK2 x nB1)/n OBK22 (nK2 x nB2)/n OBK32 (nK2 x nB3)/n nK2 OBK13 (nK3 x nB1)/n OBK23 (nK3 x nB2)/n OBK33 (nK3 x nB3)/n nK3 n nB3 nB2

Baik OBK11 (nK1 x nB1)/n OBK21 (nK1 x nB2)/n OBK31 (nK1 x nB3)/n nK1

Jumlah nB1

Jumlah

Sumber: Sudjana (1992)

Hipotesis yang akan diuji adalah: H0 : faktor kinerja guru tidak berhubungan erat dengan atau tidak mempengaruhi prestasi belajar siswanya. H1 : faktor kinerja guru berhubungan erat dengan atau mempengaruhi prestasi belajar siswanya.

26

Untuk menguji hipotesis digunakan distribusi chi-kuadrat ( 2) dengan rumus seperti persamaan (2):
=
2

(O

BKij

E BKij

E BKij

..........................................................................

(2)

dimana: OBKij = frekuensi pengamatan pada baris i dan kolom j EBKij = frekuensi harapan pada baris i dan kolom j

27

dengan ketentuan: 1. Terima H0 jika pvalue 2. Terima H1 jika pvalue


2 hit.

> 0,05; atau < 0,05

hit..

D. Operasionalisasi Variabel 1. Kinerja guru adalah hasil/prestasi kerja seorang guru dalam menjalankan profesinya di bidang pendidikan dan pembelajaran di sekolah dengan pokok bahasan mengenai kondisi sosial kemasyarakatan berdasarkan pada standar kompetensi guru, yang dinyatakan secara kualitatif dalam bentuk atribut/kategori sesuai standar, cukup sesuai standar dan kurang sesuai standar. 2. Standar kompetensi guru adalah standar yang dipersyaratkan atas kewenangan atau kemampuan guru dalam melaksanakan profesinya,

sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 dan diperinci dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010, yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. 3. Prestasi belajar adalah kemajuan dalam perkembangan siswa setelah mengikuti kegiatan belajar dalam waktu tertentu, yang ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru, yang dinyatakan secara kualitatif dalam bentuk atribut/kategori baik, cukup baik dan kurang baik.

DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta. Djamarah, S.B., 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Usaha Nasional, Surabaya. Gomes, F.C., 2003. Manajemen Sumberdaya Manusia. ANDI, Yogyakarta. Hamalik, O., 2006. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Bumi Aksara, Jakarta. Indrawati, Y., 2006. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru Matematika dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada Sekolah Menengah Atas Kota Palembang. Jurnal Manajemen dan Bisnis Sriwijaya Vol. 4 No. 7, Juni 2006. Kusnandar, 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Mangkunegara, A.P., 2000. Manajemen Sumberdaya Manusia Perusahaan. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Muhibbinsyah, 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Mulyasa, E., 2007. Standar Kompetensi Sertifikasi Guru. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Niam, A., 2006. Membangun Profesionalitas Guru. ELSAS, Jakarta. Purwanto, M.N., 2001. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Rosyada, D., 2004. Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Prenada Media, Jakarta Sabri, M.A., 2001. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangannya. Sagala, S., 2008. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Pemberdayaan Guru, Tenaga Kependidikan dan Masyarakat dalam Manajemen Sekolah. Alfabeta, Bandung. Samana, A., 1994. Profesionalisme Guru. Kanisius, Yogyakarta. Sardiman, A.M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar. CV. Rajawali, Jakarta. Sianipar, J.P., 1999. Perencanaan Peningkatan Kinerja. Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.

29

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta, Jakarta. Soemanto, W., 1990. Psikologi Pendidikan. Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta. Sudjana, 1992. Metoda Statistika. Tarsito, Bandung. Sudjana, N., 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru, Bandung. Sugiyono, 2005. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta, Jakarta. Sulistyorini, 2001. Hubungan antara Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah dan Iklim Organisasi dengan Kinerja Guru. Jurnal Ilmu Pendidikan Tahun 28 Nomor 1. Supriadi, D., 1999. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Adicita Karya Nusa, Yogyakarta. Usman, U., 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Remaja Rosda Karya, Bandung. Widoyoko, S.E.P., 2009. Analisis Pengaruh Kinerja Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa. Publikasi Ilmiah. Universitas Muhammadiyah Purworejo, Purworejo.

TUGAS MATA KULIAH METODE PENELITIAN PROPOSAL PENELITIAN HUBUNGAN KINERJA GURU DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KOTA BANJARBARU

Oleh: MARLIYANA NIM. A1E209469

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN 2012

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL....................................................................................... DAFTAR GAMBAR................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... I. PENDAHULUAN............................................................................. A. B. C. D. Latar Belakang............................................................................. Rumusan Masalah........................................................................ Tujuan Penelitian......................................................................... Manfaat Penelitian....................................................................... iii iv v 1 1 4 5 5 6 6 6 8 16 18 20 20 20 21 24 25 27

II. KAJIAN PUSTAKA.......................................................................... A. Landasan Teori............................................................................ 1. Kinerja Guru.......................................................................... 2. Standar Kompetensi............................................................... 3. Prestasi Belajar...................................................................... B. Hipotesis Penelitian..................................................................... III. METODE PENELITIAN................................................................... A. B. C. D. Desain Penelitian......................................................................... Teknik Pengumpulan Data.......................................................... Teknik Analisis Data................................................................... Operasional Variabel...................................................................

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. LAMPIRAN................................................................................................