RIWAYAT HIDUP Didi Suryadi, lahir di Tasikmalaya pada tanggal 1 Februari 1959, sebagai anak sulung dari empat

bersaudara. Lulus SD tahun 1971, SMP tahun 1974, dan SMA tahun 1977 di Tasikmalaya, Sarjana Pendidikan Matematika dari IKIP Bandung tahun 1983, M.Ed dalam Pendidikan Matematika dari La Trobe University tahun 1996 di Melbourne Australia, dan Dr. dalam bidang Pendidikan Matematika dari SPs UPI tahun 2005. Jabatan Guru Besar dalam Pendidikan Matematika diraih pada tahun 2007. Selain Pendidikan formal, dia juga pernah mengikuti pendidikan tambahan yaitu pelatihan tentang Matematika Diskrit di ITB tahun 1987 dan pelatihan dalam Pendidikan Matematika di Gunma University Jepang tahun 2000. Karir di bidang pendidikan dimulai pada tahun 1983 sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI. Karya ilmiah terpenting yang pernah ditulisnya antara lain sebagai berikut: (1) Mathematical Problem Solving and Primary School Children: Some Essencial Issues. GUNMA University Journal: Vol. 18 h.47-62, 2001(ditulis bersama Izumi Nishitani, Kiyoshi Koseki, dan Koichiro Otake), (2) Classroom-Based Studies on Teaching Mathematical Thinking and Problem-Solving in Japan and Possible Implementations in Indonesian School Mathematics. Artikel Jurnal yang diterbitkan oleh Japan Society of Mathematical Education. Vo. 8 No. 1, June 2001. (3) A Review of Process Variable Studies in the Area of Mathematical Problem Solving. Artikel Jurnal yang diterbitkan oleh Japan Society of Mathematical Education. June 2003. Kegiatan penelitian yang pernah dan sedang dilakukannya antara lain sebagai berikut: (1) Sebagai anggota peneliti dalam penelitian Hibah Bersaing berjudul "Pengembangan Model Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematik Tingkat Tinggi Siswa SD" tahun 1998-2000, (2) Sebagai anggota peneliti dalam penelitian yang dibiayai Dikdasmen berjudul "Pengkajian Kurikulum dan Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar" tahun 20022003, (3) Sebagai peneliti utama dalam penelitian Hibah Bersaing berjudul "Pengembangan Bahan Ajar dan Kerangka Kerja Pedagogis Matematika untuk Menumbuhkembangkan Kemampuan Berpikir Matematik Tingkat Tinggi Siswa SLTP" tahun 2003-2005, (4) Sebagai peneliti utama dalam penelitian Hibah Bersaing dengan judul “Pengembangan model komunitas riset matematika di Perguruan Tinggi” tahun 2008-2010. Selain itu, melalui aktivitas lesson study di Kabupaten Sumedang dan Karawang dia juga secara aktif melakukan pengkajian tacit knowledge bersifat didaktis maupun pedagogis dalam bidang pembelajaran MIPA. Beradasarkan penelitian, pengkajian, pengamatan langsung, serta diskusi dengan guru-guru dan para ahli dari Jepang saat ini dia telah berhasil mensintesis hasil-hasil pemikiran yang diperoleh selama ini menjadi suatu rumusam baru yang
1

fleksibilitas. Metapedadidaktik adalah kemampuan guru untuk: (1) memandang komponen-komponen segitiga didaktis yang dimodifikasi yaitu Antisipasi Didaktis-Pedagogis (ADP). yakni. Gambar 5. dan Pendekatan Pembelajaran MIPA dalam Konteks Indonesia. (4) melakukan tindakan didaktis dan pedagogis lanjutan berdasarkan hasil analisis respon siswa menuju pencapaian target pembelajaran. Metapedadidaktik. Komponen kesatuan berkenaan dengan kemampuan guru untuk memandang sisi-sisi segitiga didaktis yang dimodifikasi sebagai sesuatu yang utuh dan saling berkaitan erat. Karena metapedadidaktik ini terkait dengan suatu peristiwa pembelajaran. atau tidak ada satupun yang sesuai prediksi. guru tentu melakukan proses berpikir tentang skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan. sebagian sesuai prediksi. Pada saat guru menciptakan sebuah situasi didaktis. Metapedadidaktik Dilihat dari Sisi ADP. Semua kemungkinan ini tentu harus sudah terpikirkan oleh guru sebelum peristiwa pembelajaran terjadi. Kedua hal tersebut telah diuraikan secara singkat dalam sebuah buku yang diterbitkan FPMIPA dan JICA tahun 2010 berjudul Teori. (3) mengidentifikasi serta menganalisis respon siswa sebagai akibat tindakan didaktis maupun pedagogis yang dilakukan.diperlekenalkan sebagai Teori Metapedadidaktik dan Didactical Design Research (DDR). Berikut adalah gambaran singkat tentang Metapedadidaktik dan Didactical Design Research. dan bagaimana pula jika apa yang diprediksikan ternyata tidak terjadi. maka hal ini dapat digambarkan sebagai sebuah limas dengan titik puncaknya adalah guru yang memandang alas limas sebagai segitiga didaktis yang dimodifikasi (Gambar 5). Berdasarkan prediksi tersebut selanjutnya guru juga berpikir tentang antisipasi atas berbagai kemungkinan yang akan terjadi. (2) mengembangkan tindakan sehingga tercipta situasi didaktis dan pedagogis yang sesuai kebutuhan siswa. dan koherensi. bagaimana jika hanya sebagian yang diprediksikan saja yang muncul. Paradigma. 2 . Dalam suatu peristiwa pembelajaran. guru tentu saja akan memulai aktivitas sesuai skenario yang memuat antisipasi didaktis dan pedagogis. terdapat tiga kemungkinan yang bisa terjadi terkait respon siswa atas situasi tersebut yaitu seluruhnya sesuai prediksi guru. Hal terpenting yang dilakukan dalam proses tersebut adalah berkaitan dengan prediksi respon siswa sebagai akibat tindakan didaktis maupun pedagogis yang akan dilakukan. bagaimana jika respon siswa sesuai dengan prediksi guru. dan HP Metapedadidaktik meliputi tiga komponen yang terintegrasi yaitu kesatuan. Prinsip. Sebelum peristiwa pembelajaran terjadi. Hubungan Didaktis (HD). dan Hubungan Pedagogis (HP) sebagai suatu kesatuan yang utuh. HD.

Situasi seperti ini tentu menjadi tantangan bagi guru untuk mampu mengidentifikasi setiap kemungkinan yang terjadi. Hal ini sangat penting untuk dilakukan sebagai konsekuensi logis dari pandangan bahwa pada hakekatnya siswa memiliki otoritas untuk mencapai suatu memampuan sesuai kapasitasnya sendiri. ada yang responnya tidak sesuai prediksi. Dengan demikian. serta antisipasinya yang sudah dipikirkan sebelum peristiwa pembelajaran terjadi pada hakekatnya hanyalah sebuah rencana yang belum tentu sesuai kenyataan. akan tetapi pada kenyataannya respon siswa tersebut tidak mungkin muncul seragam untuk setiap siswa. maka akan ada siswa yang memberikan respon sesuai prediksi. respon siswa tidak selalu sesuai prediksi guru sehingga berbagai antisipasi yang sudah disiapkan perlu dimodifikasi sepanjang perjalanan pembelajaran sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Artinya apabila respon siswa seluruhnya sesuai dengan prediksi guru. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. antisipasi yang sudah disiapkan perlu senantiasa disesuaikan dengan situasi didaktis maupun pedagogis yang terjadi. kelompok. maka akan terjadi situasi didaktis dan pedagogis baru. situasi didaktispun akan berkembang pada tiap milieu sehingga muncul situasi yang 3 . selama proses pembelajaran berjalan guru akan senantiasa berpikir tentang keterkaitan antara tiga hal yaitu antisipasi didaktis-pedagogis. Komponen kedua dari metapedadidaktik adalah fleksibilitas. menganalisis situasi tersebut. Skenario. hanya bisa melakukan tindakan didaktis atau pedagogis pada saat siswa benar-benar membutuhkan yaitu ketika berusaha mencapai kemampuan potensialnya. atau kelas. hubungan didaktis siswa-materi. bisa bersifat didaktis maupun pedagogis. prediksi renspon siswa. dan hubungan pedagogis guru-siswa. Dengan kata lain. Akibat dari tindakan yang dilakukan tersebut tentu akan menciptakan situasi baru yang sangat tergantung pada jenis tindakan serta sasaran yang dipilih. dan mungkin pula ada yang tidak memberikan respon. maka milieu yang terbentuk pastilah akan sangat bervariasi. jika dilihat dari sisi siswanya. Sementara guru sebagai fasilitator. Dengan demikian. atau kelas. dan tindakan apa yang akan diambil setelah sebelumnya melakukan identifikasi serta analisis yang cermat. Pada saat suatu situasi didaktis dan atau pedagogis terjadi. Tindakan yang diambil guru setelah melakukan analisis secara cepat terhadap berbagai respon yang muncul. Karena kejadian tersebut berkembang sepanjang proses pembelajaran dan sasaran tindakan yang diambil guru bisa bersifat individual. bukan berarti setiap siswa memberikan respon yang sama melainkan secara akumulasi respon yang diberikan siswa sesuai prediksi. Komponen ketiga adalah koherensi atau pertalian logis. Dalam kenyataannya. yang menjadi sasaran tindakan tersebut juga bisa bervariasi tergatung hasil analisis guru yaitu bisa kepada individu. kelompok. ada siswa yang sebagian responnya sesuai prediksi. keterkaitan respon siswa dengan prediksi serta antisipasinya. Situasi didaktis yang diciptakan guru sejak awal pembelajaran tidaklah bersifat statis karena pada saat respon siswa muncul yang dilanjutkan dengan tindakan didaktis atau pedagogis yang diperlukan.Walaupun secara keseluruhan hanya ada tiga kemungkinan seperti itu. maka pada saat yang sama guru akan berpikir tentang respon siswa yang mungkin beragam. serta mengambil tidakan secara cepat dan tepat. Dengan demikian.

metapedadidaktik pada hakekatnya merupakan strategi yang bisa digunakan guru untuk memperoleh tacit didactical and pedagogical knowledge sebagai bahan refleksi pasca pembelajaran. Namun demikian. Agar proses tersebut dapat mendorong terjadinya situasi belajar yang lebih optimal. menganalisis. serta mengaitkan proses berpikir pada peristiwa sebelum pembelajaran (antisipasi didaktis dan pedagogis). Untuk mencapai hal tersebut. Dengan kata lain. serta keputusan-keputusan yang diambil guru selama proses pembelajaran berlangsung. tacit didactical and pedagogical knowledge hanya bisa diperoleh melalui peristiwa pembelajaran yang dialami guru secara langsung. Sebagai contoh. Gagasan tentang tacit pedagogical knowing dalam konteks profesionalitas guru yang diteliti oleh Toom (2006) memberikan gambaran bahwa tacit pedagogical knowledge yang diperoleh guru selama melaksanakan proses pembelajaran merupakan pengetahuan sangat berharga sebagai bahan refleksi untuk perbaikan kualitas pembelajaran berikutnya. seseorang yang pada awal belajar konsep segitiga hanya dihadapkan pada model 4 . menggambarkan bahwa proses berpikir guru yang terjadi selama pembelajaran tidaklah sederhana. metapedadidaktik pada dasarnya merupakan suatu strategi pengembangan diri menuju guru matematika profesional. maka diperlukan suatu upaya maksimal yang harus dilakukan sebelum pembelajaran. dan hasil refleksi pasca pembelajaran. Jika orang tersebut dihadapkan pada konteks berbeda. epistimological obstacle pada hakekatnya merupakan pengetahuan seseorang yang hanya terbatas pada konteks tertentu. Didactical Design Research (DDR). dan setelah pembelajaran berlangsung. Toom juga menjelaskan bahwa proses berpikir didaktis dan pedagogis dapat terjadi pada tiga peristiwa yaitu sebelum pembelajaran berlangsung. 1997).berbeda-beda. tacit knowledge yang diperoleh pada peristiwa pembelajaran. Salah satu aspek yang perlu menjadi pertimbangan guru dalam mengembangkan ADP adalah adanya learning obstacles khususnya yang bersifat epistimologis (epistimological obstacle). Proses pengembangan situasi didaktis. Namun demikian. maka pengetahuan yang dimiliki menjadi tidak bisa digunakan atau dia mengalami kesulitan untuk menggunakannya. Jika seorang guru mampu mengidentifikasi. ADP pada hakekatnya merupakan sintesis hasil pemikiran guru berdasarkan berbagai kemungkinan yang diprediksi akan terjadi pada peristiwa pembelajaran. Dengan demikian. Menurut Duroux (dalam Brouseau. Upaya tersebut telah digambarkan di atas sebagai Antisipasi Didaktik dan Pedagogis (ADP). analisis situasi belajar yang terjadi sebagai respon atas situasi didaktis yang dikembangkan. pada saat pembelajaran berlangsung. maka guru harus memperhatikan aspek pertalian logis atau koherensi dari tiap situasi sehingga proses pembelajaran dapat mendorong serta memfasilitasi aktivitas belajar siswa secara kondusif mengarah pada pencapaian hasil belajar yang optimal. maka hal tersebut akan menjadi suatu strategi yang sangat baik untuk melakukan pengembangan diri sehingga kualitas pembelajaran dari waktu ke waktu senantiasa dapat ditingkatkan. perbedaan-perbedaan situasi yang terjadi harus dikelola sedemikian rupa sehingga perubahan situasi sepanjang proses pembelajaran dapat berjalan secara lancar mengarah pada pencapaian tujuan.

dan segitiga DEF. ABD. maka kemungkinan besar kesulitan yang tidak diharapkan akan muncul. serta bagaimana kemungkinan antisipasinya. serta pengembangan ADP. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak selamanya dapat diterapkan pada sembarang konteks. dan See sebenarnya dapat dikaitkan dengan proses berpikir guru pada tiga fase yaitu sebelum. Sebagai contoh. 5 . Garis CF dan AE sejajar. tidak seluruhnya bisa menjawab dengan benar. dan setelah pembelajaran. ketika sejumlah mahasiswa tingkat pertama dihadapkan pada soal di bawah ini. Refleksi yang dilakukan setelah pembelajaran. Proses berpikir sebelum pembelajaran dapat difokuskan pada pengembangan disain didaktis yang merupakan suatu rangkaian situasi didaktis. terdapat segitiga ABC. menunjukkan pengembangan rencana pembelajaran sebenarnya tidak hanya terkait dengan masalah teknis yang berujung pada terbentuknya RPP. perlu diperkenalkan beberapa model segitiga yang bervariasi. Analisis terhadap disain tersebut akan menghasilkan ADP. Do. Proses berpikir yang dilakukan guru tidak hanya terbatas pada fase sebelum pembelajaran. pada saat. Hal tersebut lebih menggambarkan suatu proses berpikir sangat mendalam dan komprehensif tentang apa yang akan disajikan. Ketika suatu saat dia dihadapkan pada permasalahan berbeda. melainkan juga pada saat pembelajaran dan setelah pembelajaran terjadi. serta analisis interaksi yang berdampak terhadap terjadinya perubahan situasi didaktis maupun belajar. bagaimana kemungkinan respon siswa. Proses pengembangan situasi didaktis.konvensional dengan titik puncaknya di atas dan alasnya di bawah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya learning abstacle yang mungkin muncul dikemudian hari. Pada gambar di atas. analisis situasi belajar sebagai respon siswa atas situasi didaktis yang dikembangkan. Segitiga manakah yang luasnya paling besar? Dengan mempertimbangkan adanya learning obstacle ini. menggambarkan pikiran guru tentang apa yang terjadi pada proses pembelajaran serta kaitannya dengan apa yang dipikirkan sebelum pembelajaran terjadi. analisis prediksi respon siswa atas situasi didaktis yang dikembangkan. Aktivitas Lesson Study yang meliputi tiga langkah Plan. Proses berpikir pada saat pembelajaran pada hakekatnya merupakan analisis metapedadidaktik yakni analisis terhadap rangkaian situasi didaktis yang berkembang di kelas. maka concept image yang terbangun dalam pikiran siswa adalah bahwa segitiga tersebut selalu harus seperti yang digambarkan. maka dalam merancang situasi didaktis terkait konsep segitiga (termasuk luas daerahnya).

Juni 1996. 21 April 2001. Peserta Konperensi Internasional tentang “Issues in Education of Pluralistic Society and Responses to the Global Challenges toward the Year 2020”. Penyaji makalah berjudul “A Review of Recent Research in The Area of Mathematics Problem Solving” pada seminar yang diselenggarakan PPIA Australia. rangkaian aktivitas tersebut selanjutnya dapat diformulasikan sebagai Penelitian Disain Didaktis atau Didactical Design Research (DDR). diselenggarakan oleh Australian Curruculum Studies Association. Diselenggarakan oleh PPIA Australia. diselenggarakan oleh PPIA Australia. Dari ketiga tahapan ini akan diperoleh Disain Didaktis Empirik yang tidak tertutup kemungkinan untuk terus disempurnakan melalui tiga tahapan DDR tersebut. Penyaji Mangalah berjudul “Pembelajaran Terpadu dan Pemecahan Masalah Matrematika Sebagai Suatu Alternatif Untuk Menghadapi Abad 21” pada seminar yang diikuti oleh guru-guru sekolah menengah di Jawa Barat. Peserta Konferensi internasional Psychology of Mathematics Education-24 di Hiroshima Jepang tahun 2000.          Kegiatan ilmiah yang pernah diikutinya antara lain sebagai berikut: Perserta Seminar tentang “ Language and Social Problems”. 26 September 1995 Peserta Konperensi Internasional tentang “Curriculum”. Juli 1996 di Melbourne Australia. 22 Juni 1996 Psererta Konperensi Internasional tentang: Technology in Mathematics Education” . Diselenggarakan oleh Mathematics Education Research Group of Australia. Penyaji makalah berjudul “Beberapa Isu Menarik Mengenai Pendidikan di Amerika dan Australia” di FPMIPA IKIP Bandung. 22 Juni 1996. Penyaji Makalah berjudul “Mengembangkan Kemampuan Berpikir Matematik Tingkat Tinggi Melalui Kegiatan Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar” pada seminar nasional yang diselenggarakan Universitas Negeri Yogyakarta. (2) analisis metapedadidaktik. 1996. Peserta seminar tentang “Developing Human Resources in Indonesia Through Education”. 11-14 Juli 1995. maka ketiga proses tersebut sebenarnya dapat diformulasikan sebagai rangkaian langkah untuk menghasilkan suatu disain didaktis baru. Penelitian Disain Didaktis pada dasarnya terdiri atas tiga tahapan yaitu: (1) analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran yang wujudnya berupa Disain Didaktis Hipotetis termasuk ADP. dan hasil analisis dari proses tersebut berpotensi menghasilkan disain didaktis inovatif. Dengan demikian. Diselenggarakan oleh Mathematics Education Lectures’ Association. Peserta Konperensi Internasional tentang “Mathematics Education in Changing Times” . 11-13 November 1996.Menyadari bahwa proses berpikir yang dilakukan guru terjadi pada tiga fase. 6   . Diselenggaralkan oleh IKIP Bandung dan LA TROBE Univesity Australia. 1996. dan (3) analisis retrosfektif yakni analisis yang mengaitkan hasil analisis situasi didaktis hipotetis dengan hasil analisis metapedadidaktik.

Anggota Pengembang soal dan Tim Juri pada Olimpiade Matematika SD Tingkat Nasional dan Tingkat ASEAN tahun 2003.       Peserta Konferensi Internasional ICME-9 di Makhuhari Tokyo Jepang. tahun 2007. tahun 2000. Penyaji pada Conferensi Internasional bertema Best Practises on Mathematics and Science Teaching dengan peserta perwakilan negara-negara APEC di Tokyo Jepang tahun 2006. Sebagai salah seorang pembicara kunci pada Konferensi Guru Matematika yang diselenggarakan Asosiasi Guru Matematika Indonesia tahun 2007. Diundang untuk menyajikan makalah berjudul “Critical Issues on Mathematical Communication: Lesson Learned from Lesson Study Activities in Indonesia” yang diselenggarakan oleh ICRME-APEC di Thailand tahun 2008. 7 . Sebagai pembicara undangan pada Konferensi Guru Indonesia dengan judul “ School Community Culture” yang diselenggarakan Sampoerna Foundation Teacher Institute. Anggota Pengembang soal dan Tim Juri pada Olimpiade Matematika SD Tingkat Nasional dan Internasional tahun 2004 sampai sekarang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful