Anda di halaman 1dari 33

I.

JUDUL SKRIPSI : KAJIAN INTRUSI AIR LAUT DI KAWASAN PESISIR

KECAMATAN REMBANG KABUPATEN REMBANG II. LATAR BELAKANG Air merupakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilaksanakan secara bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang. Aspek penghematan dan pelestarian sumber daya air harus ditanamkan pada segenap pengguna air (Effendi, 2003:11), sedangkan sumberdaya air merupakan bagian dari sumberdaya alam yang mempunyai sifat yang berbeda dengan sumberdaya alam lainnya (Kodoatie, 2001:27). Jumlah air di bumi relatif tetap, yakni sebesar 1,4 miliar km3 . Hampir 97,5% air di dunia dalam keadaan asin. Dari jumlah sebesar itu, hanya 2,5% air di dunia yang bersifat tawar. Sekitar 1,7% tersimpan dalam bentuk es, terutama didaerah kutub, sedangkan 0,1% berada di atmosfer sebagai uap air. Dari seluruh air tawar di bumi, sekitar 2/3 berwujud es di kutub. Sementara sebagian besar dari 1/3 sisa air tawar berupa air tanah yang berada pada kedalaman 200-600 m di bawah permukaan tanah (Sunaryo, 2004: 20-21). Dari keseluruhan air tawar, hanya 0,0006% yang mengalir di permukaan bumi, sementara kandungan air tawar dalam tubuh mahkluk hidup seluruhnya hanya sebesar 0,0003% yakni sekitar 1/2 dari jumlah air tawar di danau, sungai dan rawa-rawa yang ada di bumi. Jumlah tersebut

relatif kecil jika dibandingkan dengan seluruh jumlah air di dunia (Sunaryo, 2004: 21). Kenaikan muka air laut efek dari pemanasan global (global warming) merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi dalam masalah lingkungan hidup untuk jangka panjang. Untuk membedakan kenaikan muka air laut akibat pasang atau pemanasan global, beberapa ahli tetap memakai istilah Sea Level Rise untuk menggambarkan akibat keduanya. Beberapa issue menyebutkan bahwa telah terjadi kenaikan yang cukup signifikan pada muka air laut yang pada akhirnya terjadi intrusi air laut yang mempengaruhi kualitas air tanah. Studi dampak kenaikan muka air laut merupakan tema penting untuk mengetahui sejauh mana dampak tersebut berpengaruh terutama di kota-kota yang berbatasan langsung dengan laut seperti kawasan pesisir. Kawasan pesisir secara topografi merupakan dataran rendah dan dilihat secara morfologi berupa dataran pantai. Secara geologi, batuan penyusun dataran umumnya berupa endapan aluvial yang terdiri dari lempung, pasir dan kerikil hasil dari pengangkutan dan erosi batuan di bagian hulu sungai. Umumnya batuan di dataran bersifat kurang kompak, sehingga potensi airtanahnya cukup baik. Akuifer di dataran pantai yang baik umumnya berupa akuifer tertekan, tetapi akifer bebas pun dapat menjadi sumber airtanah yang baik terutama pada daerah-daerah pematang pantai/gosong pantai. Permasalahan pokok pada kawasan pesisir adalah keragaman sistem akuifer, posisi dan penyebaran penyusupan/intrusi air laut baik

secara alami maupun secara buatan yang diakibatkan adanya pengambilan airtanah untuk kebutuhan domestik, nelayan, dan industri. Oleh karena itu, kondisi hidrogeologi di kawasan ini perlu diketahui dengan baik, terutama perbandingan antara kondisi alami dan kondisi setelah ada pengaruh eksploitasi. Pertumbuhan penduduk yang pesat di kawasan pesisir

menyebabkan penyediaan air bersih menjadi penting bagi kelayakan hidup masyarakatnya. Pada kawasan pesisir yang penduduknya relatif mampu secara ekonomi, masyarakat dapat memperoleh air karena investasi untuk mempeluas dan meningkatkan pelayanan air memiliki dana yang lebih dari cukup. Dengan sendirinya, masyarakat mendapat air dengan nilai ekonomis yang murah. Namun, hal itu sama sekali berbeda bila dibandingkan dengan kawasan pesisir yang belum terjangkau jaringan pipa dan penduduknya miskin. Mereka harus membayar dengan harga yang relatif mahal untuk mendapatkan layanan air (Sunaryo, 2007:45). Kondisi sumber daya air di kawasan pesisir Kecamatan Rembang sangat dipengaruhi oleh musim. Wilayah Kabupaten Rembang merupakan dataran rendah di bagian Utara Pulau Jawa, maka wilayah tersebut memiliki jenis iklim tropis dengan suhu maksimum 33 C dan suhu ratarata 23 C. Dengan bulan basah 4 sampai 5 bulan, sedangkan selebihnya termasuk kategori bulan sedang sampai kering. Terdapat hujan selama 1 tahun yang tidak menentu, sehingga implikasinya sering terjadi kekeringan di wilayah Kabupaten Rembang. Masalah kekeringan inilah yang menyebabkan kawasan pesisir di Kabupaten Rembang menjadi kawasan

yang rawan terhadap intrusi air laut yang meliputi Kecamatan Kaliori, Rembang, Lasem, Sluke, Kragan dan Sarang (www.rembangkab.go.id). Pemanfaatan air sumur di kawasan pesisir Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang sebagian besar dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari untuk mandi, mencuci dan lain-lain. Jumlah penduduk Kecamatan Rembang yang tinggal di kawasan pesisir lebih banyak daripada penduduk yang tinggal di daerah hulu atau di dataran tinggi. Hal itu menyebabkan kebutuhan dasar akan air bersih di kawasan pesisir Kecamatan Rembang jadi semakin besar, sehingga air tanah di kawasan tersebut memungkinkan masuknya air asin ke dalam air tanah yang tidak mampu menahan desakan pasang surut air laut. Selain itu kawasan pesisir di Kecamatan Rembang sebagian besar hutan mangrove dan pantainya sudah hilang karena aktifitas manusia dan perubahan penggunaan lahan dari pantai dan hutan mangrove menjadi tambak, pemukiman atau yang disebut reklamasi pantai. Hal itulah yang mempercepat lajunya intrusi air laut di kawasan pesisir Kecamatan Rembang. Pencemaran air sumur yang terjadi di kawasan pesisir Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang yang disebabkan oleh intrusi air laut, berdampak pada menurunnya kualitas air sumur untuk kebutuhan seharihari penduduk. Kualitas air sumur di daerah penelitian jika dilihat dari komponen dan sifatnya yaitu pencemaran fisik berupa air yang agak keruh dan rasa air yang asin. Pada akhirnya dengan kualitas air sumur yang

demikian penduduk didaerah penelitian sulit mendapatkan suplai air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Berdasarkan permasalahan diatas penulis tertarik untuk meneliti seberapa jauh intrusi air laut yag terjadi didaerah tersebut dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya intrusi air laut tersebut. Dalam penelitian ini penulis memberi judul : KAJIAN INTRUSI AIR LAUT DI KAWASAN PESISIR KECAMATAN REMBANG KABUPATEN REMBANG.

III.

PERMASALAHAN Berdasarkan uraian diatas pokok permasalahan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana distribusi spasial daerah rawan intrusi air laut di daerah penelitian ? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya intrusi air laut di daerah penelitian ?

IV.

TUJUAN PENELITIAN Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : 1. Mengetahui distribusi spasial daerah rawan intrusi air laut di daerah penelitian. 2. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya intrusi air laut di daerah penelitian.

V.

MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis. 1. Secara teoritis a. Sebagai sumbangan pikiran dan bahan masukan bagi masyarakat di kawasan pesisir Kabupaten Rembang tentang intrusi air laut daerah tersebut. b. Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang, terutama mengenai intrusi air laut. c. Menambah wawasan ilmu pengetahuan penulis dalam menganalisa masalah intrusi air laut. 2. Secara Praktis a. Memberikan alternatif bagi instansi yang terkait, terutama pemerintah daerah di Kabupaten Rembang dalam penentuan kebijakan tentang sumber daya air di daerah pesisir agar sejalan dengan program kebijakan konservasi sumber daya air. b. Memberikan gambaran tentang distribusi spasial daerah rawan intrusi air laut, sehingga dapat dijadikan masukan dalam mengembangkan kebijakan konservasi sumber daya air.

VI.

PENEGASAN ISTILAH Judul penelitian yang dipilih yaitu Kajian Intrusi Air Laut di Kawasan Pesisir Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang, untuk

membatasi penafsiran istilah supaya tidak terjadi salah tafsir, maka istilah dalam judul akan diperjelas sebagai berikut: A. Kajian Kajian atau Penyelidikan merupakan suatu proses langkah-langkah yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data bagi mendapat serta meningkatkan lagi kepahaman ke atas sesuatu topik atau isu. Kajian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengkaji tentang proses terjadinya intrusi air laut dan faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya intrusi air laut. B. Intrusi Air Laut Intrusi air laut adalah proses masuknya air laut ke air tanah, karena air laut mampu mendesak air tanah dan masuk ke air tanah. Wilayah pesisir dan pantai rawan akan gejala intrusi tersebut. Intrusi terjadi apabila air tanah banyak diambil keluar, sehingga air laut mampu mendesak dan masuk ke dalam rongga-rongga air tanah (Setyowati, 2007:76). Intrusi air laut yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses masuknya air laut ke air tanah melalui sumur penduduk di kawasan pesisir Kabupaten Rembang yang meliputi rasa air sumur, nilai Daya Hantar Listrik, nilai TDS dan nilai Salinitas (kandungan unsur kimia Cl). C. Kawasan Pesisir Kawasan pesisir adalah suatu kawasan peralihan antara daratan dan lautan. Apabila ditinjau dari garis pantai (coast line), maka suatu kawasan pesisir memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu batas yang sejajar

garis pantai (long shore) dan batas yang tegak lurus dengan garis pantai (cross shore) (Dahuri, 2001:6). Menurut kesepakatan Internasional, kawasan pesisir didefinisikan sebagai kawasan peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencangkup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut meliputi daerah paparan benua (continental self) (Beatley et al, 1994). Dalam penelitian ini, kawasan pesisir yang dimaksud adalah kawasan pesisir yang terletak di Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang.

VII.

TELAAH PUSTAKA 1. Airtanah Airtanah merupakan salah satu fase dalam siklus hidrologi, yaitu suatu peristiwa yang selalu berulang dari urutan tahap yang dilalui air dari atmosfer ke bumi dan kembali lagi ke atmosfer. Pada proses siklus hidrologi tersebut airtanah berinteraksi dengan air permukaan serta komponen-komponen lain yang terlibat dalam siklus hidrologi termasuk bentuk topografi, jenis tanah, penggunaan lahan, jenis vegetasi penutup, serta manusia yang berada di permukaan bumi (Setyowati, 2007:7-8). Pada dasarnya, airtanah dapat berasal dari air hujan (presipitasi), baik melalui proses infiltrasi secara langsung ataupun secara tak langsung dari air sungai, danau, rawa, dan genangan air lainnya. Pergerakan air tanah pada hakekatnya terdiri atas pergerakan horizontal airtanah; infiltrasi, sungai, danau, dan rawa ke lapisan akifer; dan menghilangnya

atau keluarnya airtanah melalui spring (sumur), pancaran airtanah (mata air), serta aliran airtanah memasuki sungai dan tempat-tempat lain yang merupakan tempat keluarnya airtanah (Effendi, 2003:46). Kecenderungan memilih airtanah sebagai sumber air bersih, dibandingkan air permukaan, mempunyai keuntungan sebagai berikut: a. Tersedia dekat dengan tempat yang memerlukan, sehingga kebutuhan bangunan pembawa/distribusi lebih murah. b. Debit (produksi) sumur biasanya relatif stabil. c. Lebih bersih dari bahan cemaran (polutan) permukaan. d. Kualitasnya seragam. e. Bersih dari kekeruhan, bakteri, lumut, atau tumbuhan dan binatang liar. (Suripin, 2001:141). Penyebaran airtanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu (1) Penyebaran secara vertikal, merupakan deskripsi penyebaran airtanah di permukaan bumi yang diidentifikasi dalam suatu kolom tanah dari permukaan tanah sampai kedalaman tanah tertentu; (2) Penyebaran secara horisontal, merupakan deskripsi penyebaran airtanah di permukaan bumi yang diidentifikasi secara horisontal dari suatu tempat ke tempat lain (Setyowati, 2007:12-13). Airtanah ditemukan pada formasi geologi permeabel (tembus air) yang dikenal sebagai akuifer (juga disebut reservoir air tanah, formasi pengikat air, dasar-dasar yang tembus air) yang merupakan formasi pengikat air yang memungkinkan jumlah air yang cukup besar untuk bergerak melaluinya pada kondisi lapangan yang biasa (Seyhan,

1990:256). Adapun tipe-tipe akifer yang dibagi menjadi 4, yaitu sebagai berikut: 1) Akifer tidak tertekan: Akifer ini (disebut juga bebas, freatik atau nonartesis) batas-batas adalah muka airtanah. Kelengkungan dan

kedalaman muka airtanah beragam tergantung dari kondisi-kondisi permukaan, luas pengisian kembali, debit, pemompaan dari sumur, permeabilitas, dan lain-lain. 2) Akifer tertekan: Akifer ini disebut juga akifer artesis atau akuifer tekanan dimana airtanah tertutup antara 2 lapisan yang relative kedap air. Airnya ada di bawah tekanan dan bagian atasnya dibatasi oleh permukaan piezometrik. Kawasan yang memasok air ke akuifer tertekan disebut daerah pengisian kembali. 3) Akifer melayang: Akifer ini merupakan kasus khusus yang terjadi pada akifer tak terbatas yang terjadi di mana tubuh aitanah dipisahkan dari tubuh utama airtanah oleh lapisan yang relatif kedap air dengan luas yang kecil. Lensa-lensa liat yang deposit sedimen mempunyai tubuh air yang dangkal yang melapisinya. 4) Akifer semi-tertekan: Akifer ini ini merupakan kasus khusus akifer bertekanan yang dibatasi oleh lapisan-lapisan semi-permeabel

(Seyhan, 1977:259-260). 2. Geohidrologi Geohidrologi merupakan ilmu yang mempelajari persebaran dan pergerakan airtanah dalam tanah dan batuan di kerak Bumi yang pada umumnya airtanah yang ada di sistem akifer (Setyowati, 2007:6).

10

Geohidrologi dalam kaitannya dengan intrusi air laut meliputi pola gerakan airtanah, karakteristik batuan akifer, fluktuasi airtanah dan tinggi rendahnya kedalaman muka airtanah. 3. Air Laut Air laut adalah air dari laut atau samudera. Air laut memiliki kadar garam rata-rata 3,5%. Artinya dalam 1 liter (1000 mL) air laut terdapat 35 gram garam (terutama, namun tidak seluruhnya, garam dapur/NaCl). Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam mineral yang terdapat di dalam batu-batuan dan tanah. Contohnya natrium, kalium, kalsium, dan lain-lain. Apabila air sungai mengalir ke lautan, air tersebut membawa garam. Ombak laut yang memukul pantai juga dapat menghasilkan garam yang terdapat pada batu-batuan. Lama-kelamaan air laut menjadi asin karena banyak mengandung garam

(www.wikipedia.com). Didalam kadar garam rata-rata 3,5% terdiri dari : Senyawa Klorida 55%, Senyawa sulfat 7,7%, Sodium 30,6%, Calcium 1,2%, Potassium 1,1%, Magnesium 3,7%, dan Lain-lain 0,7%. Maka dapat dipastikan bahwa komposisi air laut umumnya mengandung ion klorida yang merupakan musuh bebuyutan umumnya logam-logam komersial seperti baja karbon, baja stainless dan lain-lain (www.oceanografi.com). 4. Intrusi Air Laut Pertemuan lapisan tanah permeabel yang mengandung air (akifer) dengan perairan laut merupakan daerah vital dalam konservasi air bawah tanah. Dalam banyak kejadian, ketika air tanah diambil secara berlebihan

11

dan kawasan pesisir tidak tertutup vegetasi pelindung, maka air asin dari laut meresap ke dalam akuifer atau disebut intrusi air laut (Sunaryo, 2007:45). Adapun intrusi diartikan sebagai perembesan air laut ke daratan, bahkan sungai sungai. Suatu kawasan yang awalnya air tanahnya tawar kemudian berubah menjadi lagang dan asin seperti air laut. Intrusi dapat berakibat rusaknya air tanah yang tawar dan berganti menjadi asin. Penyebabnya, antara lain penebangan pohon bakau, penggalian karang laut untuk dijadikan bahan bangunan dan kerikil jalan. Pembuatan tambak udang dan ikan yang memberikan peluang besar masuknya air laut jauh ke daratan. Intrusi air laut di daerah pantai merupakan suatu poses penyusupan air asin dari laut ke dalam airtanah tawar di daratan. Zona pertemuan antara air asin dengan air tawar disebut interface. Pada kondisi alami, airtanah akan mengalir secara terus menerus ke laut. Berat jenis air asin sedikit lebih besar daripada berat jenis air tawar, maka air laut akan mendesak air tawar di dalam tanah lebih ke hulu. Tetapi karena tinggi tekanan piezometric airtanah lebih tinggi daripada muka air laut, desakan tersebut dapat dinetralisir dan aliran air yang terjadi adalah dari daratan kelautan, sehingga terjadi keseimbangan antara air laut dan airtanah, sehingga tidak terjadi intrusi air laut. Intrusi air laut terjadi bila keseimbangan air laut dan air tanah terganggu. Aktivitas yang menyebabkan intrusi air laut diantaranya pemompaan yang berlebihan, karakteristik pantai dan batuan penyusun,

12

kekuatan airtanah ke laut, serta fluktuasi airtanah di daerah pantai. Proses intrusi makin panjang bisa dilakukan pengambilan airtanah dalam jumlah berlebihan. Bila intrusi sudah masuk pada sumur, maka sumur akan menjadi asin sehingga tidak dapat lagi dipakai untuk keperluan sehari-hari. Menurut (Vienastra, 2010), Intrusi air laut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : a. Aktivitas Manusia Aktivitas manusia terhadap lahan maupun sumberdaya air tanpa mempertimbangkan kelestarian alam tentunya dapat menimbulkan banyak dampak lingkungan. Bentuk aktivitas manusia yang berdampak pada sumberdaya air terutama intrusi air laut adalah pemompaan air tanah (pumping well) yang berlebihan dan keberadaannya dekat dengan pantai. Intrusi air laut merupakan bentuk degradasi sumberdaya air terutama oleh aktivitas manusia pada kawasan pantai. Hal ini perlu diperhatikan sehingga segala bentuk aktivitas manusia pada daerah tersebut perlu dibatasi dan dikendalikan sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan. b. Faktor Batuan Batuan penyusun akuifer pada suatu tempat berbeda dengan tempat yang lain, apabila batuan penyusun berupa pasir akan menyebabkan air laut lebih mudah masuk ke dalam airtanah. Kondisi ini diimbangi dengan kemudahan pengendalian intrusi air laut dengan banyak metode. Sifat yang sulit untuk melepas air adalah lempung sehingga intrusi air laut yang telah terjadi akan sulit untuk dikendalikan atau diatasi.

13

c. Karakteristik Pantai Pantai berbatu memiliki pori-pori antar batuan yang lebih besar dan bervariatif sehingga mempermudah air laut masuk ke dalam airtanah. Pengendalian air laut membutuhkan biaya yang besar sebab beberapa metode sulit dilakukan pada pantai berbatu. Metode yang mungkin dilakukan hanya Injection Well pada pesisir yang letaknya agak jauh dari pantai, dan tentunya materialnya berupa pasiran. Pantai bergisik/berpasir memiliki tekstur pasir yang sifatnya lebih porus. Pengendalian intrusi air laut lebih mudah dilakukan sebab segala metode pengendalian memungkinkan untuk dilakukan. Pantai berterumbu karang/mangrove akan sulit mengalami intrusi air laut sebab mangrove dapat mengurangi intrusi air laut. Kawasan pantai memiliki fungsi sebagai sistem penyangga kehidupan. Kawasan pantai sebagai daerah pengontrol siklus air dan proses intrusi air laut, memiliki vegetasi yang keberadaannya akan menjaga ketersediaan cadangan air permukaan yang mampu menghambat terjadinya intrusi air laut ke arah daratan. d. Fluktuasi Airtanah di Daerah Pantai Apabila fluktuasi airtanah tinggi maka kemungkinan intrusi air laut lebih mudah terjadi pada kondisi airtanah berkurang. Rongga yang terbentuk akibat airtanah rendah maka air laut akan mudah untuk menekan airtanah dan mengisi cekungan/rongga airtanah. Apabila fluktuasinya tetap maka secara alami akan membentuk interface yang keberadaannya tetap.

14

Menurut (Kodoatie, 1996:253), intrusi air laut disebabkan oleh faktor-faktor berikut: 1) Peningkatan industri, pemukiman, yang mengakibatkan kebutuhan air bersih meningkat. Hal tersebut menimbulkan pengambilan airtanah yang tidak terkendali, akibatnya terjadi intrusi air laut yang berkembang secara perlahan. 2) Pengurangan tingkat infiltrasi yaitu dengan membuat muka tanah menjadi kedap air, misalnya pembuatan paving blocks. 3) Pemadatan tanah, mengakibatkan tanah yang tadinya kedap air menjadi tidak kedap air. Hal ini juga merupakan efek tidak langsung dari peningkatan pembangunan bangunan-bangunan industri,

pemukiman dan lain-lain. 4) Pembangunan bangunan yang berlebihan akan mempengaruhi muka airtanah. Seperti diketahui bahwa di dalam tanah tegangan total adalah jumlah dari tegangan efektif dan tegangan pori. Umumnya, tegangan total ini adalah konstan, sehingga bila membangun bangunan disuatu tempat maka tegangan efektif akan berkurang dan tegangan pori akan meningkat. Hal ini menyebabkan muka airtanah akan naik mendekati permukaan. Bila intrusi air laut sudah sampai di daerah tersebut maka air tawar akan menjadi asin. 5. Parameter Intrusi Air Laut Parameter-parameter yang berkaitan dengan intrusi air laut dapat diuraikan sebagai berikut:

15

a. Rasa Rasa pada air ditimbulkan oleh beberapa hal yaitu adanya gas terlarut, organisme hidup, dan adanya limbah padat dan limbah cair. Rasa air dapat dideteksi oleh indera pengecap (lidah) dengan cara dimasukkan ke mulut, didiamkan sejenak dan kemudian dikeluarkan kembali. Cara tersebut akan dikenali rasa dari air yang dideteksi. Indera pengecap mudah mengenali rasa asin, manis dan asam serta pahit (Pitojo, 2003). b. Konduktivitas Konduktivitas (Daya Hantar Listrik/ DHL) adalah gambaran numerik dari kemampuan air untuk meneruskan aliran listrik. Oleh karena itu, semakin banyak garam-garam terlarut yang dapat terionisasi, semakin tinggi pula nilai DHL. Konduktivitas dinyatakan dengan satuan mhos/cm, dapat dideteksi dengan menggunakan alat EC meter (Elektric Conductance). Air suling (aquades) memiliki nilai DHL sekitar 1 mhos/cm, sedangkan perairan alami sekitar 20 -1500 mhos/cm (Boyd, 1988). Perairan laut memiliki nilai DHL yang sangat tinggi karena banyak mengandung garam terlarut. Limbah industri memiliki nilai DHL mencapai 10.000 mhos/cm (APHA, 1976 dalam Effendi, 2003). c. TDS (Total Dissolved Solids) Jumlah garam terlarut dapat ditentukan dengan pengukuran TDS (Total Dissolved Solids) karena jumlah konsentrasi garam dalam air sangat tinggi terutama air laut yang banyak mengandung senyawa kimia. Deteksi TDS pada air dengan menggunakan alat TDS scan yang berupa stik yang

16

bekerja secara otomatis dan mampu menunjukkan jumlah polutan didalam air. Air laut memiliki nilai TDS yang tinggi karena banyak mengandung senyawa kimia, yang juga mengakibatkan tingginya nilai salinitas dan daya hantar listrik (Effendi, 2003). d. Salinitas Salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat di perairan (Boyd, 1998). Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan ionida digantikan klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg atau promil (0/00). Termiologi yang mirip dengan salinitas adalah klorinitas atau kadungan ion Cl dalam air. Maka cara yang paling sederhana mengukur salinitas air laut adalah dengan kadar ion Cl dalam air. Menurut (APHA, 1976) hasil kadar Cl untuk menghitung salinitas dapat menggunakan rumus sebagai berikut: S = 0,03 + 1,805 klorinitas (0/00) S = Nilai Salinitas

Klorinitas = Kandungan ion Cl (Klorida)

17

VIII.

PENELITIAN SEBELUMNYA Tabel 2 Penelitian Sebelumnya Penulis Setyawan Purnama, 2005 Topik Distribusi Airtanah Asin di Dataran Pantai Kota Semarang dan Ketersediaan Membayar Penduduk dalam Perbaikan Kondisi Sumber Air. Tujuan 1. Mengidentifikasi dan menganalisis kondisi kualitas air tanah. 2. Menganalisis faktorfaktor yang menyebabkan terdapatnya airtanah asin di daerah penelitian. 3. Mengidentifikasi dan menganalisis daerahdaerah yang masih mempunyai kandungan air tawar. 4. Menghitung dan menganalisis besarnya ketersediaan membayar (WTP) penduduk di daerah penelitian dalam perbaikan kondisi sumber air. Metode Penelitian 1. Metode Revelle, untuk analisis distribusi air asin. 2. Metode Kloosterman, untuk analisis faktor penyebabnya. 3. Metode geolistrik, untuk mengidentifikasi keberadaan air tawar. 4. Metode CVM, untuk menghitung dan menganalisis besarnya kesediaan membayar (WTP). Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa airtanah di daerah penelitian mengandung DHL, kesadahan, kalsium, magnesium, natrium, kalium, klorida, sulfat dan salinitas dalam konsentrasi tinggi. Kesimpulan ini juga didukung oleh hasil analisis statistik. Diketahui juga bahwa sebagian besar airtanah di daerah penelitian telah tercemar air asin dengan tingkat keterpengaruhan yang bervariasi. Pencemaran air tersebut terutama disebabkan oleh air evaporit. Hasil analisis geolistrik menunjukkan bahwa di bawah lapisan air asin, dapat ditemukan lapisan air tawar dengan kedalaman dan produktivitas yang bervariasi. Selanjutnya, hasil analisis CVM menunjukkan bahwa penduduk daerah penelitian bersedia membayar perbaikan kondisi sumber air lebih tinggi daripada harga air dari PDAM yang berlaku pada saat ini.

18

(Lanjutan Tabel 2) Metode Penelitian

Penulis Soenarso Simoen, 2000

Topik Monitoring Intrusi Air Laut dalam Akifer Pantai dengan menggunakan Tehnik Geolistrik (Studi Kasus di Sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah, Indonesia).

Tujuan 1. Untuk menyelidiki apakah ada intrusi air laut ke dalam akifer pantai di sepanjang pantai utara Jawa Tengah. 2. Untuk mempelajari pergerakan intrusi air laut yang terjadi di kawasan pantai, terutama di daerah Brebes sampai daerah Kendal.

Hasil

Metode yang digunakan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dalam penelitian ini tahun 1989, dari 11 titik pengukuran hanya terdapat satu lokasi yang terindikasi antara air adalah metode geolistrik, tawar dan air laut. Itu terjadi pada potongan untuk memperoleh data nomor 5 yang berada di Pemalang. Sedangkan penampang lintang nilai pada tahun 1996, terdapat 6 lokasi yang terindikasi terjadi intrusi air laut. Kadar daya hantar listrik salinitas telah terdeteksi hampir di setiap terutama yang tegak potongan melintang dengan kedalaman yang lurus dengan garis pantai. bervariasi. Pengukuran dilakukan

pada tahun 1989 dan 1996, masing-masing 11 titik pengukuran sampel.

Sumber: Jurnal Geografi Indonesia Tahun 2000 dan 2005

19

IX.

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif studi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh intrusi air laut terhadap air sumur penduduk dan persebaran intrusi air laut serta faktor-faktor penyebab terjadinya intrusi air laut untuk kawasan pesisir yang ada di Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang. B. Populasi Populasi adalah himpunan individu atau objek yang banyaknya terbatas atau tidak terbatas. Himpunan individu atau objek yang terbatas merupakan himpunan individu atau objek yang dapat diketahui atau diukur dengan jelas jumlah maupun batasnya. Sedangkan Himpunan individu atau objek yang tidak terbatas merupakan himpunan individu atau objek yang sulit diketahui jumlahnya walaupun batas wilayahnya sudah diketahui (Tika, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah sumur penduduk yang berada di kawasan pesisir Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang yang berjumlah 20 sumur penduduk yang tersebar di daerah penelitian. C. Sampel Sampel adalah sebagian dari objek atau individu-individu yang mewakili suatu populasi (Tika, 2005). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagian dari seluruh sumur gali di kawasan pesisir yang terletak di kawasan pesisir Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang sebanyak 20 buah sumur gali.

20

Metode

pengambilan

sampel

dilakukan

secara

Purpossive

Sampling yaitu penentuan sumur dilakukan dengan memperhatikan berbagai pertimbangan kondisi serta keadaan daerah penelitian. Kondisi yang dominan pada lokasi penelitian adalah yang diduga dapat memberikan kontribusi terhadap intrusi air laut. Jarak pengambilan titik sampel satu ke titik sampel yang lain kurang lebih 300 meter (Ehsa, 2010). D. Variabel Penelitian Variabel adalah istilah yang menunjukkan pada gejala,

karakteristik atau keadaan yang kemunculannya berada pada setiap subyek. variabel yang dimaksud dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 variabel yaitu : 1. Variabel I adalah distribusi spasial daerah rawan intrusi air laut, meliputi: (a) Lokasi sampel sumur (koordinat sampel, jarak lokasi sumur dengan pantai dan kedalaman muka airtanah sumur); (b)

Karakteristik air sumur (rasa air sumur, DHL/ Daya Hantar Listrik, TDS/ Total Dissolved Solids dan kadar salinitas). 2. Variabel II adalah faktor-faktor penyebab terjadinya intrusi air laut, meliputi: (a) Aktivitas manusia; (b) Karakteristik pantai; (c) Faktor batuan; (d) Fluktuasi airtanah; (e) Pemadatan tanah. E. Jenis Data dan Peralatan Penelitian Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengukuran dan observasi langsung dilapangan, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-

21

instansi pemerintah yang terkait dengan penelitian, diuraikan sebagai berikut: 1. Data Primer Data primer, merupakan data yang diperoleh dari kegiatan pengukuran di lapangan meliputi: a. Data rasa air sumur. b. Data nilai TDS (Total Dissolved Solids) untuk menentukan jumlah garam terlarut dan salinitas airtanah dalam sumur. c. Data nilai DHL (Daya Hantar Listrik). d. Data kadar ion kimia Cl (klorida) pada airtanah dalam sumur. e. Data kedalaman muka air sumur. f. Wawancara dengan penduduk sekitar guna mendapatkan informasi penting lainnya. 2. Data Sekunder Data sekunder, diperoleh dari beberapa instansi terkait, data sekunder yang dikumpulkan antara lain: a. Peta Administrasi Kabupaten Rembang skala 1:100.000 b. Peta Topografi Kabupaten Rembang skala 1:100.000 c. Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Rembang skala 1:100.000 3. Peralatan Penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian lapangan meliputi: a. TDS scan untuk mengukur besarnya TDS (Total Dissolved Solids) dalam air sumur.

22

b. EC meter (Elektric Conductance) untuk mengukur Daya Hantar Listrik (DHL) atau besarnya kemampuan air untuk meneruskan aliran listrik. c. GPS (Global Processing System) untuk mengukur lokasi sumur dan ketinggian tempat. d. Meteran untuk mengukur kedalaman sumur dan tinggi muka air sumur. e. Kamera untuk dokumentasi pelaksanaan survei lapangan. f. Software yang diperlukan yaitu Arc View GIS 3.3 untuk melakukan pemetaan. F. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Observasi Cara dan teknik perolehan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian (Tika, 2005). Pengamatan dan cek lapangan yang dilakukan berdasarkan kondisi sumur yang sudah tercantum pada variabel penelitian. 2. Wawancara Cara dan teknik perolehan data dengan melakukan tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian (Nasution dalam Tika, 2005). Hal ini dilakukan untuk mengetahui rasa air sumur yang asin, sehingga perlu ditanyakan kepada warga yang punya memanfaatkan sumur di daerah penelitian minimal 5 responden.

23

3. Dokumentasi Cara dan teknik pengumpulan data melalui bahan tertulis ataupun film yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa karena merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong (Guba dan Lincoln dalam Moleong, 2005). Metode studi dokumentasi yang digunakan dan diolah adalah peta-peta tematik daerah penelitian yang diperoleh dari BAPPEDA. 4. Analisis laboratorium Cara dan teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data kadar salinitas air sumur melalui uji analisis kandungan Cl G. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Analisis Deskriptif Analisis data secara deskriptif diperlukan untuk menjelaskan fenomena atau gejala-gejala yang bersifat fisik, seperti proses terjadinya intrusi air laut dan penyebab terjadinya intrusi air laut. (Tika, 2005). 2. Analisis Komparatif Analisis yang dilakukan dengan membandingkan kondisi yang ada dilapangan dengan standar baku yang digunakan sebagai dasar pembanding. Pembanding digunakan untuk mempermudah peneliti mengetahui kondisi di lapangan (input data) dan mengolah data tersebut sesuai dengan kebutuhan. Parameter intrusi air laut di lapangan dapat diketahui dengan pengukuran rasa air sumur, Daya Hantar Listrik, nilai TDS (untuk

24

menentukan jumlah garam terlarut) dan nilai Salinitas (kandungan unsur kimia Cl) pada sumur penduduk yang dipilih sebagai sampel. Standar baku yang digunakan dalam analisis data tersebut, antara lain sebagai berikut: a. Rasa Air Sumur Analisis rasa air sumur bersifat kualitatif sehingga perlu adanya pendapat dari para responden untuk memperkuat apakah air sumur yang dijadikan sampel benar-benar berasa asin atau tidak. Maka diperlukan minimal 5 responden yang memanfaatkan air sumur yang dijadikan sampel penelitian untuk diwawancarai. Standar baku untuk rasa air sumur yang dipakai dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2 Kriteria Penilaian Rasa Air Sumur No. Rasa Air Sumur 1 Tawar 2 Payau 3 Asin Sumber: Simoun (1996) b. Nilai DHL/ Daya Hantar Listrik Analisis nilai DHL bersifat kuantitatif sehingga perlu adanya pengukuran langsung terhadap sampel air sumur di daerah penelitian. Pengukuran dilakukan langsung dilapangan dengan menggunakan alat EC meter (Elektric Conductance). Standar baku nilai DHL dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 3 Kriteria Penilaian (DHL) Daya Hantar Listrik Air Sumur No. DHL (mhos/cm ) 1 <650 2 650-1500 3 >1500 Sumber: Simoun (1996) 25 Macam air Air Tawar Air Payau Air Asin Macam air Air Tawar Air Payau Air Asin

c. Nilai TDS (Total Dissolved Solids) untuk Menentukan Jumlah Garam Terlarut dalam Air Sumur Analisis nilai TDS untuk menentukan jumlah garam terlarut juga bersifat kuantitatif sehingga perlu juga adanya pengukuran langsung terhadap sampel air sumur di daerah penelitian. Pengukuran dilakukan langsung dilapangan dengan menggunakan alat TDS scan. Standar baku nilai TDS dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 4 Kriteria Penilaian TDS (Total Dissolved Solids) untuk Menentukan Jumlah Garam Terlarut dalam Air Sumur No. Nilai TDS (Mg/l) Jenis air 1 < 1.000 Tawar (Fresh) 2 1.000 - <10.000 Payau (Brackish) 3 10.000 - 100.000 Sangat Payau (Salty) 4 >100.000 Asin (Briny) Sumber: Davis dan De Wirest (1966) dalam Setyowati (2007) d. Salinitas Air Sumur Dalam penelitian ini, analisis salinitas air sumur dapat ditentukan dengan 2 cara yaitu: 1) Nilai TDS (Total Dissolved Solids) Air yang asin memiliki nilai TDS yang tinggi (tabel4), hal itu terjadi karena banyak mengandung senyawa kimia, yang juga mengakibatkan tingginya nilai salinitas. Maka tingkat salinitas bisa ditunjukkan melalui nilai TDS (Total Dissolved Solids), untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut

26

Tabel 5 Kriteria Penilaian TDS (Total Dissolved Solids) untuk Menentukan Tingkat Salinitas Air Sumur No. Nilai TDS (Mg/l) Tingkat Salinitas 1 0 1.000 Air Tawar 2 1.001 3.000 Agak asin/ payau (slightly saline) 3 3.001 10.000 Keasinan sedang/ payau (moderately saline) 4 10.001 100.000 Asin (saline) 5 > 100.000 Sangat asin (brine) Sumber:Mc Neely et al, 1979 dalam Effendi (2003) 2) Perhitungan Rumus S = 0,03 + 1,805 klorinitas (0/00) Analisis salinitas air sumur dengan menggunakan perhitungan rumus, perlu adanya uji laboratorium untuk mendapatkan data kandungan ion kimia Cl (klorida/ klorinitas). Kemudian nilai kandungan ion tersebut dimasukkan dalam rumus untuk memperoleh nilai salinitas air sumur, kriteria penilaian salinitas air sumur tersebut dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 6 Kriteria Penilaian Salinitas Air Sumur Berdasarkan Kandungan Cl No. Salinitas (0/00) Jenis Air 1 < 0.5 Tawar 2 0.5 - < 30 Payau 3 30 - 40 Asin 4 > 40 Hiper Saline Sumber: Toad (1986) dalam Effendi (2003)

27

H. Tahapan Penelitian Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan penelitian, meliputi tahap persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, dan pembuatan laporan yang dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Tahap persiapan Tahap ini meliputi studi kepustakaan dan persiapan teknik survei lapangan. 2. Tahapan pengumpulan data Tahap ini dilakukan pengumpulan data melalui survei data primer yang didukung dan dilengkapi dengan data sekunder yang telah ada. a. Survei data primer, dengan melakukan pengamatan kondisi lapangan sebenarnya obyek penelitian pada saat ini dengan perubahanperubahan yang telah terjadi pada kondisi sekarang. b. Survei data sekunder dilakukan dengan dua metode yaitu metode kualitatif yaitu interpretasi peta, menyusun peta dan menafsirkan intrusi air laut, pengumpulan data dokumentasi dan peta wilayah data angka dari berbagai instansi terkait (survei institusional). Sedangkan metode kuantitatif yaitu cara menyusun peta dengan mengadakan pengharkatan pada masing-masing parameter intrusi air laut yang telah ditentukan dalam variabel penelitian. 3. Tahap Pengolahan Data Tahap ini meliputi kegiatan interpretasi peta; overlay peta-peta; perbaikan peta dari cek lapangan; analisis sampel air di lapangan dan laboratorium; pengelompokan karakteristik intrusi air laut; penentuan

28

kelas tingkat intrusi air laut; pembuatan isoline map, manajemen data dan analisis (spasial dan atribut). Penelitian ini menghasilkan model spasial agihan kawasan intrusi air laut di daerah pesisir Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang berupa peta tingkat intrusi air laut. 4. Tahapan Pembuatan Laporan Skripsi Tahap ini merupakan tahap akhir penelitian, meliputi pembuatan skripsi dan uraian pembahasan hasil penelitian.

29

I. Diagram Alir Penelitian Overlay Peta Topografi Kabupaten Rembang Skala 1:100.000 Peta Administrasi Kabupaten Rembang Skala 1:100.000 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Rembang Skala 1:100.000

- PETA LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL - PETA KAWASAN PESISIR KECAMATAN REMBANG

Analisa Air Sumur di Lapangan

Pengambilan Sampel Air Sumur Pengukuran Kedalaman Muka Air Sumur

Analisa Air Sumur di Laboratorium

- Rasa - DHL - TDS

Intrusi Air Laut Analisa Komparasi Tingkat Intrusi Air Laut Pembuatan Peta Isoline Tabulasi Peta Peta Kawasan Rawan Intrusi Air Laut Analisis Deskriptif Kuantitatif HASIL Kesimpulan dan Rekomendasi Gambar 1 Diagram Alir Penelitian

Salinitas (Kandungan Ion Kimia Cl)

30

X.

SISTEMATIKA SKRIPSI Sistematika Skipsi terdiri dari tiga bagian pokok yaitu bagian Pendahuluan, Isi dan bagian akhir Skipsi. Bagian pendahuluan Skipsi terdiri dari judul, sari, motto, dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan daftar lampiran. Bagian isi skripsi ini terdiri dari: BAB I Pendahuluan Pendahuluan yang berisi Latar Belakang, Permasalahan, Penegasan Istilah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian Dan Sistematika Skripsi. BAB II Landasan Teori Landasan Teori yang berisi tentang penjelasan mengenai kualitas air, Intrusi air laut, dan pemanfaatan air sumur. BAB III Metode Penelitian Metode Penelitian yang berisi pertanggung jawaban metode dalam penelitian yang meliputi : Populasi, Sampel, Variabel, Jenis Data, Metode Pengumpulan Data dan Metode Analisis Data. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian merupakan temuan dari hasil penelitian sedangkan pembahasan menjelaskan tentang hasil penelitian dan pembahasannya. BAB V Penutup Penutup yang berisi tentang simpulan dari hasil penelitian dan saran. Sedangkan bagian akhir skripsi ini terdiri dari daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

31

DAFTAR PUSTAKA Dahuri, Rokhmin. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: KANISIUS. Ehsa., 2010. Metode Pengambilan Sampel Air. http://ehsablog.com/metodepengambilan-sampel-air.html (15 Maret 2011). Kabupaten Rembang., 2011. Kondisi Geografis. http://www.rembangkab.go.id/ profil-daerah/kondisi-geografis (14 Maret 2011). Kodoatie, Robert. 2005. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta. Kodoatie, Robert. 1996. Pengantar Hidrogeologi. Yogyakarta: ANDI

Yogyakarta. Moleong, L.J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosda: Bandung. Oseanografi., 2005. Salinitas Air Laut. http://oseanografi.blogspot.com/2005/07/ salinitas-air-laut.html (7 Maret 2011). Pitojo, Setijo. 2003. Deteksi Pencemar Air Minum. Semarang: Aneka Ilmu. Purnama, Setiawan. 2005. Distribusi Airtanah Asin di Dataran Pantai Kota Semarang dan Ketersediaan Membayar Penduduk dalam Perbaikan Kondisi Sumber Air, Majalah Geografi Indonesia. Vol 19. No. 1. Maret 2005. Halaman 41 46. Yogyakarta: UGM. Setyowati, Dewi Liesnoor. 2007. Buku Ajar Geohidrologi. Semarang: UNNES. Seyhan, Ersin. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi. Yogyakarta: UGM.

32

Simoun, Soenarso. 2000. Monitoring The Seawater Intrusion Into Coastal-Aquifer Using Geo-Electrical Sounding, A Case Study Of The Northern-Coastal Area of Central Java Indonesia, The Indonesian Journal of Geography, Vol 32, No. 78 90, June 2000 Desember 2000, Pp. 13 47. Yogyakarta: UGM. Sunaryo, Trie. 2007. Pengelolaan Sumber Daya Air. Malang: Bayumedia Publising. Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Semarang: ANDI Yogyakarta. Tika, Pabundu. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: BUMI AKSARA.. Vienastra., 2010. Intrusi Air Laut. http://vienastra.wordpress.com/2010/07/06/ intrusi-air-laut/ (15 Maret 2011). Wikipedia, 2001. Air Laut. http://id.wikipedia.org/wiki/Air_laut (7 Maret 2011).

33