Anda di halaman 1dari 13

1

Referat Kecil Psikiatri Adiksi

Relapse Prevention Therapy Pada Sindrom Ketergantungan Zat Adiktif & Psikoaktif

Presentan Pembimbing Penelaah Penyanggah Tanggal Tempat

: Untung Sentosa : Tatang Muchtar, dr. SpKJ. (K) : Veranita Pandia , dr. SpKJ. (K) : Tuti Kurnianingsih, dr. SpKJ. : 21 Juni 2011 : Ruang Sidang Bagian Psikiatri RS Dr. Hasan Sadikin Bandung

BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN RS Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG 2011

DAFTAR ISI

BAB I. BAB II. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. BAB III

Pendahuluan................................................................................................. Tinjauan Pustaka Definisi Insidensi Fakto-faktor yang mempengaruhi Kekambuhan Program Relapse Prevention Therapy Pelatihan Relapse Prevention Therapy Kesimpulan Lampiran DAFTAR PUSTAKA

3 4 4 6 7 10 11

BAB I. Pendahuluan Jakarta - Seorang tahanan Rutan Cipinang, Teddy Setiawan Arianto (32), kedapatan menyimpan narkotika jenis putau seberat 4 gram di saku celananya. Teddy sendiri saat itu baru selesai menjalani sidang perkara narkotika di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (1) Kecanduan obat merupakan gangguan sistem pusat saraf kronis, ditandai dengan episode berulang kambuh di mana individu melanjutkan mencari obat-dan obat-perilaku pengambilan, bahkan dalam menghadapi konsekuensi yang merugikan dan pahala berkurang. (2) 70 90 % pasien akan kambuh dalam 1 tahun pertama. (3) Kekambuhan tidak lagi dipandang sebagai suatu kegagalan terapi dan merupakan suatu bagian dari proses pemulihan.(4) Oleh karena itu penanganan pasien ini tidak hanya terpaku pada penanganan ketergantungan namun juga pada pencegahan terjadinya kekambuhan. Beberapa psikofarmaka telah terbukti dapat mencegah timbulnya kekambuhan pada sindroma ketergantungan zat psikoaktif. Namun efektifitas psikofarmaka tersebut masih terbatas, efektifitas akan meningkat jika disertai dengan psikoterapi dan dukungan sosial.(2) Salah satu bentuk psikoterapi adalah Relapse Prevention Therapy (RPT) yang pertama kali diperkenalkan oleh Marlat & Gordon pada tahun 1985. Terapi ini berdasarkan pandangan bahwa perilaku adiksi merupakan hal yang didapat, suatu kebiasaan hasil pembelajaran yang terus menerus, yang dipengaruhi serta memiliki konsekuensi biologis, psikologis dan sosial. Marlat. Suatu penelitian pada Pusat Rehabilitasi Narkoba di Shanghai Relapse Prevention Therapy dapat memperbaiki nilai Self-Rating Scale Kecemasan, Skala Self-Efficacy, dan Skala Self-Esteem dan meningkatkan abstinence rate selama dan setelah pengobatan ketergantungan heroin. (5) Tulisan ini akan membahas konsep dasar serta contoh bentuk penerapan dari RPT.

BAB II Tinjauan Pustaka

2.1. Definisi Kambuh Kambuh/relaps adalah suatu kondisi kembali ke keadaan sebelumnya atau bahkan perburukan. Singh membuat kriteria tentang kambuh, yaitu : jika terdapat 3 atau lebih dari kondisi sebagai berikut : Adanya keinginan yang kuat menggunakan zat psikotropika, Adanya ketidak-mampuan mengendalikan penggunaan, atau Adanya gejala withdrawal, Adanya peningkatan dosis Mengabaikan melakukan kegiatan-kegiatan lain, dan Melakukan perilaku beresiko Penggunaan sesekali dan pada dosis yang tidak menyebabkan ketergantungan tidak termasuk pada katagori kambuh. (6) 2.2. Insidensi Penelitian di Malaysia menemukan bahwa 70 90 % pasien, yang telah mendapatkan program rehabilitasi, mengalami kambuh pada tahun pertama. (3). Hal ini berbeda dengan hasil penelitian di Texas tingkat kekambuhan 33 % untuk jangka waktu 3 tahun. (2) Penelitian Gossop dkk di Inggris menyimpulkan bahwa sekitar sepertiga dari sampel (34%) menggunakan heroin heroin dalam waktu 3 hari setelah meninggalkan tempat pengobatan, 45% menggunakannya dalam waktu 7 hari dan 50% menggunakannya dalam waktu 14 hari dan setelah 30 hari, 57% sampel telah menggunakan heroin.(7) Penelitian Singh di India menyimpulkan survival time pasien ketergantungan campuran alkohol dan opioid lebih pendek (17 minggu) dibanding pasien ketergantungan opioid (34 minggu) dan pasien ketergantungan Alkohol (37 minggu) (6)

menghentikan atau tingkat penggunaan,

Laporan

Badan

Narkotika

Nasional

menyebutkan

bahwa

terdapat

peningkatan yang nyata jumlah kasus penyalahgunaan narkotik dan psikotropik, pada tahun 2003, 3.929 kasus narkotik dan 2590 kasus psikotropik menjadi meningkat 3 kali pada tahun 2008, 20.006 kasus narkotik dan 9.780 kasus psikotopik (8).

Gambar 1. Jumlah Kasus Penyalah-gunaan Narkotik dan Psikotropik di Indonesia Poliklinik Terapi Rumatan Metadon RSHS, mulai sejak 2006, sejak 2006 sampai tahun 2010, terdapat kecenderungan peningkatan rata-rata kunjungan pasien ke dan adanya penurunan pasien Drop out.

Gambar 2. Kunjungan Pasien & Drop out pada PTRM RSHS Bandung 2.3. Fakto-faktor yang mempengaruhi Kekambuhan Penelitian Ibrahim di Malaysia menyimpulkan bahwa self efficacy, dukungan masyarakat, dukungan keluarga dan dukungan atasan mempunyai hubungan dengan kecenderungan kambuh.(3,9) Self-efficacy merupakan kontributor utama terhadap kecenderungan kecanduan kambuh antara pecandu di Malaysia. Self efficacy rendah akan memudahkan mereka kambuh. Hanya 7 % pasien yang memiliki keyakinan untuk melakukan sesuatu seperti yang direncanakan. (3),

Studi penggunaan zat remaja kambuh menunjukkan bahwa faktor penyebab kekambuhan remaja berbeda dan orang dewasa. Stres dan faktor psikologis tampaknya lebih penting pada orang dewasa, sementara faktor sosial, termasuk tekanan sosial untuk digunakan dan paparan zat-menggunakan teman sebaya, adalah prediktor terkuat kambuh remaja. Beberapa studi telah menemukan bahwa remaja dengan psikopatologi komorbid, terutama depresi, akan meningkatkan risiko untuk kambuh, walaupun depresi, kecemasan, dan simtomatologi psikotik batas dikaitkan dengan keterlibatan rendah posttreatment substansi. (2) Jenis dan cara pemberian psikofarmaka juga mempengaruhi kecenderungan kambuh. Penelitian Lobmaier dkk pada 46 narapidana menyimpulkan bahwa Naltrexon implan dan metadon dapat mengurangi penggunaan heroin dan benzodiazepin, keduanya namun tidak mempunyai hubungan yang bermakna terhadap penggunaan amfetamin dan prilaku kriminal. Pada penelitian ini terungkap bahwa hanya 7 dari 23 napi yang tidak melanjutkan niatnya melaksanakan terapi implan, hal ini lebih rendah dibandingkan kelompok metadon, 10 dari 21 napi tidak melanjutkan niatnya melaksanakan terapi dan drop out sebelum bebas, 60 % dari mereka menyatakan berniat untuk melanjutkan terapi namun tidak memberi kejelasan kapan menjalani terapi metadon. (10) Penelitian Keifer pada 160 pasien ketergantungan alkohol menyimpulkan bahwa pengobatan acamprosate atau kombinasi acamprosate dan naltrexone efektif meningkatkan rata-rata waktu untuk mengkonsumsi alkohol kembali dan rata-rata waktu kambuh pada pasien dengan ketergantungan alkohol subtipe Lesch I. Pemberian naltrexon monoterapi hanya efektif pada pasien ketergantungan alkohol subtipe Lesch III dan IV. (11) 2.4.Program Relapse Prevention Therapy Terapi Pencegahan Kekambuhan (RPT) adalah suatu pendekatan kognitifperilaku untuk pengobatan perilaku adiktif yang secara khusus membahas sifat dasar proses kekambuhan dan menyarankan suatu koping strategis yang

bermanfaat dalam mempertahankan perubahan. Terapi ini berdasarkan pandangan bahwa perilaku adiksi merupakan hal yang didapat, suatu kebiasaan hasil pembelajaran yang terus menerus, yang dipengaruhi serta memiliki konsekuensi biologis, psikologis dan sosial. Pada perilaku adiktif terdapat reward segera yang meningkatkan kesenangan dan atau mengurangi nyeri. Reward ini menyebabkan frekuensi, intensitas dan durasi yang berlebihan, yang menyebabakan dampak negatif yang sangat parah dan bertahan lama. RPT dirancang untuk membekali klien untuk mengubah kebiasaannya dengan membekali mereka tools dan keterampilan untuk mencapai tujuan mereka. RPT terdiri dari komponen-komponen berikut, (12): 1. RPT mengajarkan strategi coping (cara konstruktif berpikir dan berperilaku) untuk menangani masalah-masalah mendesak yang muncul pada tahap awal tahapan mengubah kebiasaan seperti mengatasi dengan dorongan dan keinginan untuk alkohol dan obat-obatan. 2. RPT menyediakan klien dengan peta yang menunjukkan lokasi berbagai godaan, situasi, perangkap, dan hal-hal membahayakan yang bisa menyebabkan kekambuhan. RPT akan memberikan informasi cara-cara menghindari godaan dan membantu mereka untuk berhasil mengatasi tantangan, tahan terhadap godaan atau menyerah pada proses mengubah kebiasaan sama sekali. 3. RPT mengajarkan klien untuk mengenali sinyal peringatan dini yang mengingatkan mereka terhadap bahaya kambuh dan mengajarkan klien bagaimana mereka dapat belajar untuk mengidentifikasi dan mengatasi distorsi kognitif. 4. RPT membantu klien membuat perubahan penting gaya hidup sehari-hari mereka, sehingga kepuasan yang mereka peroleh dari alkohol atau obat digantikan dengan hal-hal yang lainnya yang tidak merusak serta lebih memuaskan. RPT mengajarkan klien metode baru mengatasi stres dan bagaimana untuk meningkatkan jumlah "keinginan" atau diinginkan, diri memenuhi aktivitas dalam gaya hidup sehari-hari.

5. Akhirnya, RPT membantu klien mengantisipasi dan bersiap jika kemudian terjadi kekambuhan. RPT mendorong klien untuk mengambil pendekatan yang lebih realistis, belajar untuk mengantisipasi dan mengatasi kondisi jalan yang mungkin menyebabkan slip atau kaambuh. Dan, jika semua tindakan pencegahan gagal dan terjadi kecelakaan, RPT mengajarkan klien cara melakukan perbaikan dan pemeliharaan, serta belajar dari pengalaman, dan terus menjalankan program. Tujuan utama RPT adalah perubahan perilaku, oleh karena itu sangat penting pemahaman tentang tahapan perubahan. Teori perubahan yang sering digunakan adalah "Transtheoretical Model of Change" oleh Prochaska and DiClemente. Tahapan perubahan tersebut adalah : prekontemplasi, kontemplasi, tahap persiapan, tahap aksi, tahap pemeliharan dan relaps. Masing-masing tahapan memiliki tanda-tanda tersendiri. Lampiran 1. dan masing-masing menuntut perlakuan dan keterampilan yang berbeda. Lampiran 2.(4) Kekambuhan tidak terjadi secara tiba-tiba. Kebanyakan didahului tandatanda peringatan yang progresif. Oleh karena itu pengenalan tanda-tanda peringatan akan adanya relaps menjadi sangat penting. Terence T. Gorski menyebutkan bahwa Ada sembilan langkah mengenali dan menghentikan tandatanda peringatan dini kambuh. (13) Langkah pertama : Stabilisasi: Perencanaan pencegahan kekambuhan tidak akan bekerja sebelum pasien pulih dan dapat mengendalikan diri. Langkah kedua : Penilaian: Proses penilaian dirancang untuk mengidentifikasi pola berulang dari masalah yang menyebabkan kambuh masa lalu dan mengatasi rasa sakit yang terkait dengan masalah tersebut. Hal ini dilakukan dengan merekonstruksi masalah presentasi, sejarah kehidupan, alkohol dan sejarah penggunaan obat dan sejarah kambuh pemulihan. Langkah ketiga : Pendidikan tentang Kekambuhan : Pasien perlu memahami tentang kekambuhan, bagaimana proses kambuh dan bagaimana mengelolanya. tahapan

Langkah keempat : Identifikasi tanda-tanda dini kekambuhan : Pasien perlu mengidentifikasi masalah yang menyebabkan kambuh. Langkah kelima : Identifikasi cara untuk mengatasi pikiran-pikiran irasional, perasaan tidak terkendali, dan self-mengalahkan perilaku yang menemani setiap tanda peringatan Langkah keenam : menyusun perencanaan pemulihan. Sebuah rencana pemulihan berupa jadwal kegiatan pasien untuk mengadakan kontak rutin dengan orang-orang yang akan membantu mereka menghindari alkohol dan penggunaan narkoba. Langkah ketujuh adalah pelatihan inventarisasi. Kebanyakan pasien merasa terbantu dengan kebiasaan melakukan inventarisasi pagi dan sore. Tujuan dari inventarisasi pada pagi adalah persiapan untuk mengenali dan mengelola tanda-tanda peringatan. Tujuan dari inventarisasi sore hari untuk meninjau kemajuan dan masalah. Hal ini memungkinkan pasien untuk tetap mengantisipasi situasi berisiko tinggi dan memonitor tanda-tanda peringatan kambuh. Langkah kedelapan adalah keterlibatan keluarga. Sebuah keluarga yang mendukung dapat membuat perbedaan antara pemulihan dan kambuh. Langkah terakhir adalah tindak lanjut. Tanda-tanda peringatan dini akan berubah seperti sesuai kemajuan dalam pemulihan. Setiap tahap pemulihan memiliki tanda-tanda peringatan yang unik. Kemampuan kita untuk menangani dengan tanda-tanda peringatan satu tahap pemulihan tidak menjamin bahwa kita akan mengenali atau mengetahui bagaimana mengelola tanda-tanda peringatan dari tahap berikutnya. Rencana pencegahan kekambuhan kita perlu diperbarui secara berkala, setiap bulann untuk tiga bulan pertama, kuartalan untuk dua tahun pertama, dan setiap tahun setelahnya. (13). 2.5. Pelatihan Relapse Prevention Therapy

10

Pelatihan RPT, umumnya berlangsung selama 3 5 hari. Department of Human Resources (DHR), Division of Family and Children Services (DFCS), Negara Bagian Georgia, Amerika Serikat membuat pelatihan Working With Families: A Substance Abuse, suatu pelatihan selama 3 hari untuk penanganan penyalah-gunaan zat. RPT merupakan pendekatan yang digunakan pada pelatihan tersebut.(14) Terence T. Gorski, seorang psikolog pakar internasional di bidang substance abuse, mental health, violence, & crime, mengadakan program pelatihan RPTFive-day Advanced Clinical Skill Training Workshop, selama 5 hari. (15)

11

BAB III Penutup Gangguan ketergantungan zat adiktif dan psikoaktif merupakan brain disease yang mudah mengalami kekambuhan. Kekambuhan tidak lagi dipandang sebagai suatu kegagalan terapi. Relapse Prevention Therapy dapat mengurangi kejadian kekambuhan.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Detik.com, Baru Divonis Hakim, Napi Rutan Cipinang Kedapatan Bawa 4 Gram Putau http://www.detiknews.com/read/2011/06/21/195236/1665528/10/barudivonis-hakim-napi-rutan-cipinang-kedapatan-bawa-4-gram-putau 2. Sadock BJ, & Sadock VA.: Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of Psychiatry, 9th Edition Lippincott Williams & Wilkins, 2009 3. Ibrahim F, Factors Effecting Drug Relapse in Malaysia: An Empirical Evidence, Asian social science, vol. 5 no 12, 2009, http://www.ccsenet.org/journal/index.php/ass/article/view/3903/3880 4. the Georgia Department of Human Services, Substance Abuse: Working with Families During Case Planning and Relapse, http://www.dhr.state.ga.us/DHRDFCS/DHR_DFCS-Edu/Files/Substance%20Abuse%20PG.pdf 5. Min Z, Xu L, Chen H, Ding X, et al, A pilot assessment of relapse prevention for heroin addicts in a Chinese rehabilitation center, Am J Drug Alcohol Abuse. 37(3):141-7, 2011. 6. Singh SM, Mattoo SK, Dutt A et al. Long-term outcome of in-patients with substance use disorders: A study from North India. Indian J Psychiatry, 20; 269-73, 2008 7. Gossop M, Stewart D, Browne N Marsden J Factors associated with abstinence, lapse or relapse to heroin use after residential treatment: protective effect of coping responses, Addiction. 97. 1259 1267, 2002 8. Badan Narkotika Nasional, Press Release Akhir Tahun Badan Narkoba Nasional, http://www.bnn.go.id/portalbaru/portal/konten.php? nama=PressRelease&op=detail_press_release&id=94&mn=2&smn=e. 9. Guo S, Jiang Z & Wu Y, Efficacy of Naltrexone Hydrochloride for Preventing Relapse Among Opiate-dependent Patients After Detoxification, Hong Kong J Psychiatry 1 1(4):2-8, 2001 10. Lobmaier PP, Kune N, Gossop M et al., Naltrexone Implants Compared to Methadone: Outcomes Six Months after Prison Release, Eur Addict Res; 16:139145, 2010 11. Kiefer F, Helwig H, Tarnaske T, et al,. Pharmacological Relapse Prevention of Alcoholism: Clinical Predictors of Outcome Eur Addict Res; 11:8391, 2005 12. Marlatt GA, Parks GA & Witkiewitz K, Clinical Guidelines for Implementing Relapse Prevention Therapy, A Guideline Developed for the Behavioral Health Recovery Management Project, 2002, http:// www.bhrm.org/guidelines/RPT guideline.pdf. 13. Gorski TT, How To Develop A Relapse Prevention Plan, Alcoholism & Addiction Magazine, 1989,

13

http://www.tgorski.com/gorski_articles/developing_a_relapse_prevention_pla n.htm 14. the Georgia Department of Human Services, Working With Families: A Substance Abuse Curriculum, http://www.dhr.state.ga.us/DHRDFCS/DHR_DFCS-Edu/Files/SA PG MASTER 05-10-07.pdf 15. Gorski TT, RPT-Five-day Advanced Clinical Skill Training Workshop http://www.tgorski.com/courses/rpt/rpt_3_day_advanced_skills.htm