Anda di halaman 1dari 5

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efisiensi Metabolisme Hewan Invertebrate Kemelimpahan cacing tanah pada suatu lahan dipengaruhi oleh

ketersediaan bahan organik, keasaman tanah, kelembaban dan suhu atau temperatur. Cacing tanah akan berkembang dengan baik bila faktor lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Cacing ini hidup didalam liang tanah yang lembab, subur dan suhunya tidak terlalu dingin. Untuk pertumbuhannya yang baik, cacing ini memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau pH 6-7,2. Kulit cacing tanah memerlukan kelembaban cukup tinggi agar dapat berfungsi normal dan tidak rusakyaitu berkisar 15% - 30%. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan antara 15oC25oC. 1. Pengaruh pH Cacing tanah memiliki sistem pencernaan yang kurang sempurna, karena sedikitnya enzim pencernaan. Oleh karena itu cacing tanah memerlukan bantuan bakteri untuk merubah/memecahkan bahan makanan. Aktivitas bakteri yang kurang dalam makanannya menyebabkan cacing tanah kekurangan makanan dan akhirnya mati karena tidak ada yang membantu pencernaan senyawa karbohidrat dan protein. Namun bila makanan terlalu asam sehingga aktivitas bakteri berlebihan. Hal ini akan menyebabkan terjadinya pembengkakan tembolok cacing tanah dan berakhir dengan kematian pula. Keadaan makanan atau lingkungan yang terlalu basah, mengakibatkan cacing tanah kelihatan pucat dan kemudian mati. Untuk pertumbuhan yang baik dan optimal diperlukan pH antara 6,0 sampai 7,2. 2. Pengaruh kelembaban Sebanyak 85 % dari berat tubuh cacing tanah berupa air, sehingga sangatlah penting untuk menjaga media pemeliharaan tetap lembab (kelembaban optimum berkisar antara 15 - 30 %). Tubuh cacing mempunyai mekanisme untuk menjaga keseimbangan air dengan mempertahankan kelembaban di permukan tubuh dan mencegah kehilangan air yang berlebihan. Cacing yang terdehidrasi akan kehilangan sebagian besar berat tubuhnya dan tetap hidup walaupun kehilangan 70 - 75 % kandungan air tubuh. Kekeringan yang berkepanjangan memaksa cacing tanah untuk bermigrasi ke lingkungan yang lebih cocok.Kelembaban sangat diperlukan untuk menjaga agar kulit cacing tanah

berfungsi normal. Bila udara terlalu kering, akan merusak keadaan kulit. Untuk menghindarinya cacing tanah segera masuk kedalam lubang dalam tanah, berhenti mencari makan dan akhirnya akan mati. Bila kelembaban terlalu tinggi atau terlalu banyak air, cacing tanah segera lari untuk mencari tempat yang pertukaran udaranya (aerasinya) baik. Hal ini terjadi karena cacing tanah mengambil oksigen dari udara bebas untuk pernafasannya melalui kulit. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15% sampai 30%. 3. Pengaruh Suhu Faktor lingkungan lain yang berpengaruh bagi kehidupan cacing tanah adalah temperatur tanah. Adanya perubahan temperatur harian dapat mengakibatkan distribusi vertikal fauna tanah. Banyak fauna tanah dengan terjadinya penurunan khususnya hewan yang lebih besar seperti cacing tanah dan Isoptera masuk ke lapisaan tanah yang lebih dalam, yang lebih hangat dan membangun lubang-lubang untuk tempat tinggal mereka (Kevan, 1962), pada temperatur yang terlalu tinggi menyebabkan beberapa proses fisiologis seperti aktivitas reproduksi, metabolisme, respirasi akan terganggu. Suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan mempengaruhi proses-proses fisiologis seperti pernafasan, pertumbuhan, perkembangbiakan dan metabolisme. Suhu rendah menyebabkan kokon sulit menetas. Suhu yang hangat (sedang) menyebabkan cepat menetas dan pertumbuhan cacing tanah setra perkembangbiakannya akan berjalan sempurna. Suhu yang baik antara 15oC-25oC. Suhu yang lebih tinggi dari 25oC masih baik asalkan ada naungan yang cukup dan kelembaban yang optimal. 4. Seresah Seresah dianggap sebagai sumber makanan yang paling baik bagi cacing tanah karena karbohidratnya relatif tinggi dan rendah kandungan lignoselulosenya. Cacing tanah tidak mampu makan seresah segar yang baru jatuh dari pohon. Seresah tersebut membutuhkan periode tertentu untuk lapuk atau terurai sampai cacing tanah mampu memakannya (Edward & Lofty,1972). Engelstad (1991) menjelaskan bahwa materi organik yang sedikit mengalami dekomposisi merupakan sumber makanan yang paling disukai oleh cacing tanah. Pada sebuah penelitian daun sengon merupakan seresah dengan jumlah individu cacing tanah tertinggi, yang berarti bahwa daun sengon disukai oleh cacing tanah. Hal ini diduga karena lambatnya proses dekomposisi seresah tanaman

sengon sehingga mampu mensuplai makanan bagi cacing tanah dalam waktu yang panjang. 5. Ketersediaan Nutrisi Secara alami, ketersediaan nutrisi cacing tanah dipenuhi oleh hasil aktivitas organisme lain seperti mesofauna tanah. Mesofauna memecah bahan organik kasar menjadi serpihan yang lebih halus, yang selanjutnya berubah menjadi koloid-koloid organik sehingga menyediakan nutrisi bagi cacing tanah. Selanjutnya cacing mendistribusikan nutrisi tersebut (membawanya ke dalam liang cacing) ke areal sekitarnya sehingga merangsang perkembangan mikroorganisme tanah. Berbagai aktivitas mikroorganisme tanah, mikroflora dan fauna saling mendukung keberlangsungan proses siklus hara, membentuk biogenic soil structure yang mengatur proses fisik, kimia, dan hayati tanah. 6. Intensitas Cahaya Cahaya berpengaruh terhadap pembelahan pada cacing tanah. Menurut Anonim (2005e), kegelapan bisa merangsang pembelahan. Cahaya yang dikenakan secara terus menerus pada pembelahan planaria mempunyai dampak yang berbeda dibandingkan jika cahaya yang dikenakan diselingi dengan kegelapan. Menurut anonim (2005) radiasi sinar x mempengaruhi kemampuan planaria untuk beregenerasi dan terjadinya kematian beberapa minggu setelah irradiasi. Wolff dan Dubois dalam Newmark 2005 menunjukkan bahwa neoblast, satu-satunya sel yang mengganda pada binatang, yang mudah terpengaruh oleh irradiasi. Ketika neoblast rusak, planaria akan kehilangan kemampuanya baik untuk regenerasi maupun untuk memperbarui sel-selnya. Dengan perlindungan pada proses pembelahan dari irradiasi dan kemudian menguji kemampuan regenerasi pada binatang terradiasi, hasilnya menunjukkan bahwa lama waktu yang dibutuhkan untuk regenerasi menyesuaikan dengan lama tempat tersebut di irradiasi. 7. Keberadaan Neoblast Cacing tanah mampu tetap berregenerasi karena memiliki sel embrionik ynag disebut neoblast (Newmark, 2005). Neoblast ini jumlahnya tergantung pada spesiesnya dan akan meningkat menjadi 30% dari jumlah total sel pada cacing dewasa. Sel ini bersifat totipotent yang menyebar diseluruh badan cacing dan mampu tumbuh menjadi

tipe sel apapun. Neoblast ini memiliki dua peran yaitu mereka menggantikan sel yang telah mati (dalam kondisi normal) dan yang kedua sebagai kumpulan seluler untuk regenerasi dan menyembuhkan luka. 8. Suplai Nutrisi Cacing tanah sama dengan makhluk hidup lainnya, memerlukan suplai nutrisi sebagai sumber energi dan pertumbuhan selnya. Unsur-unsur dasar tersebut adalah : karbon, nitrogen, hidrogen, oksigen, sulfur, fosfor, zat besi, dan sejumlah kecil logam lainnya. Ketiadaan atau kekurangan sumber - sumber nutrisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan cacing tanah hingga pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.

DAFTAR PUSTAKA
http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/27/tingkah-laku-cacing-tanah/ http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH9990.dir/doc.pdf http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/ip012089.pdf