Anda di halaman 1dari 17

ACARA I

KEDUDUKAN BIJI DALAM BUAH KAKAO


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan tanaman perkebunan yang dewasa ini
mendapat perhatian besar karena termasuk salah satu komoditas penting bagi perekonomian
negara serta komoditas yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani
Perkembangan tanaman kakao di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini berlangsung
sangat cepat. Pada tahun 1986 luas perkebunan di Indonesia berjumlah 98.155 hektar,
sedangkan pada tahun 1996 jumlah tersebut menjadi 610.876 hektar.
Kuantitas dan kualitas hasil tanaman kakao yang memenuhi standar dapat
diperoleh dari tanaman kakao unggul. Tanaman kakao unggul dapat diperoleh melalui
program pemuliaan tanaman. Kesulitan yang dihadapi oleh para pemulia dalam
melakukan pemuliaan tanaman kakao antara lain disebabkan oleh lamanya waktu
seleksi yang diperlukan untuk mendapatkan tanaman unggul. Hal ini disebabkan
tanaman kakao merupakan tanaman tahunan, sehingga upaya untuk meningkatkan
frekuensi gen pembawa sifat kunggulan diperlukan waktu puluhan tahun.
Dalam pengembangan tanaman kakao diperlukan bibit dalam jumlah banyak
dengan kualitas baik, karena bibit merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
dalam penanaman di lapangan dan produksi nantinya.
Berdasarkan uraian di atas muncul pertanyaan, apakah biji bagian ujung dan
pangkal buah yang berukuran kecil dapat dimanfaatkan semuanya untuk benih ataukah
hanya sebagian saja serta apakah biji tersebut mempunyai tanggapan yang sama dengan
biji di bagian tengah buah selama perkecambahan dan pertumbuhan bibitnya.
Untuk itu perlu dilakukan percobaan untuk mengetahui hal tersebut, yaitu
dengan dilaksanakannya praktikum Acara I, yang berjudul Kedudukan Biji dalam Buah
Kakao.

B. Tujuan
Mengetahui kedudukan biji dalam buah yang menghasilkan perkecambahan dan
pertumbuhan bibit kakao yang terbaik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Biji Theobroma cacao digunakan untuk membuat coklat bubuk dan coklat
batangan. Awalnya Theobroma cacao merupakan pohon liar. Salah satu contoh tanaman
kakao yang liar adalah tanaman kakao yang didistribusikan dari Meksiko Tenggara ke
Amazon. Tetapi kajian terbaru menyatakan bahwa dari genetika Theobroma cacao
tampaknya menunjukkan jika tanaman berasal dari Amazon dan didistribusikan oleh
manusia di seluruh Amerika Tengah dan Mesoamerika (Anonim, 2010).
Perbanyakan secara generatif akan menghasilkan tanaman kakao semaian
dengan batang utama orototrop (pertumbuhan cabang atau tunas yang mengarah keatas)
yang tegak, mempunyai rumus daun 3/8, dan pada umur tertentu akan membentuk
perempatan (jorquet) dengan cabang-cabang pagiotrop yang mempunyai rumus 1/2 .
Rumus daun 3/8 artinya sifat duduk daun seperti spiral dengan letak duduk daun
pertama sejajar dengan daun ketiga pada jumlah daun kedelapan. Sementara itu, rumus
daun setengah artinya sifat duduk daun berseling dengan letak daun pertama sejajar
kembali setelah daun kedua (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2006).
Menurut Prawoto et al. (2003), pengaruh bahan tanam terhadap jumlah stomata
bersifat genetis, dan tampak beragam. Sifat aktivitas nitart reduktase (ANR)
menunjukkan perbedaan yang nyata antara bibit kakao berproduksi tinggi dengan bibit
kakao berproduksi rendah, karena sehingga seleksi tanaman kakao produksi tinggi dapat
dilakukan dengan mudah dan sedini mungkin.
Ekstrak daun kakao mempunyai aktivitas antioksidan yang mirip teh hijau.
Dengan manajemen pemangkasan yang tepat, limbah daun dari perkebunan kakao
dapat dimanfaatkan sebagai sumber baru ekstrak bioaktif alami (Osman et al., 2004).
Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana bila
dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao berasal
dari Ghana dan keunggulan kakao Indonesia tidak mudah meleleh sehingga cocok bila
dipakai untuk campuran. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao
Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata
lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong
pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka (Siregar, 2006).


III. METODOLOGI
Praktikum acara I yang berjudul Kedudukan Biji dalam Buah Kakao ini
dilaksanakan di Laboratorium Manajemen dan Produksi Tanaman, Jurusan Budidaya
Pertanian, Fakultas Pertanian, UGM pada hari Senin, 1 Maret 2010. Bahan yang
digunakan adalah buah kakao jenis mulia (fine/flavor) dan lindak (bulk), tanah Regosol,
pasir, pupuk kandang, abu gosok, Dithane M-45, Furadan 3G, dan Polibag. Alat yang
digunakan adalah Pisau, bak perkecambahan, ember kecil, kertas label, cangkul, cethok,
penggaris serta alat tulis.
Pod kakao dibelah menjadi 3 bagian yakni pangkal, tengah dan ujung, kemudian
biji dipisahkan atas tiga bagian tersebut. Biji dihilangkan pulpnya dengan abu gosok.
Setelah dibersihkan dengan air, biji dikecambahkan pada petridish masing-masing 15
biji tiap bagian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap
(RAL/CRD) dengan 3 perlakuan:
L
1
: biji bagian ujung
L
2
: biji bagian tengah
L
3
: biji bagian pangkal.
Sampel yang diambil dalam setiap perlakuan adalah 5 buah. Setelah biji dalam
petridish berkecambah sedikitnya 5 benih, segera dipindahkan 5 kecambah tersebut
dalam polybag yang telah diisi media tanam berupa tanah, pasir, pupuk kandang (1:1:1)
dengan 1 bibit tiap polybag. Dihitung juga gaya berkecambah dan indeks vigor setiap
perlakuan. Parameter tinggi tanaman dan jumlah daun diamati setelah bibit berumur 2
minggu dan diulang selama 3 kali pengulangan setiap minggu. Bibit dipanen setelah
berumur 5 minggu untuk diketahui berat basah dan berat kering tanaman setelah tiga
hari dioven. Data dianalisis sidik ragam pada = 5 % dan uji jarak ganda Duncan
(Duncan Multiple Range Test) pada = 5 %. Lalu gaya berkecambah (GB) dan indeks
vigornya (IV) dihitung dengan rumus sebagai berikut:
uaya beikecambah
}umlah biji beikecambah
}umlah biji yang uikecambahkan


Inueks vigoi
}umlah biji beikecambah haii ke i
Baii ke i



IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Tabel 4.1. Jumlah biji kakao dari bagian ujung yang berkecambah
Ulangan
Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
1 17 22 25 25 25 25 25
2 0 15 25 25 25 25 25
Rerata 8.5 18.5 25 25 25 25 25
GB 34 74 100 100 100 100 100
IV 8.5 5 2.17 0 0 0 0

Tabel 4.2. Jumlah biji kakao dari bagian tengah yang berkecambah
Ulangan
Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
1 0 7 19 25 25 25 25
2 0 18 25 25 25 25 25
Rerata 0 12.5 22 25 25 25 25
GB 0 50% 88% 100% 100% 100% 100%
IV 0 6.25 3.17 0.75 0 0 0

Tabel 4.3. Jumlah biji kakao dari bagian pangkal yang berkecambah
Ulangan
Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
1 11 17 23 25 25 25 25
2 0 7 25 25 25 25 25
Rerata 5.5 12 24 25 25 25 25
GB 22 48 96 100 100 100 100
IV 5.5 3.25 4 0.25 0 0 0


Berdasarkan data tersebut, biji kakao bagian ujung memiliki gaya berkecambah
paling tinjggi selama 3 hari pengamatan sedangkan yang terendah adalah bagian tengah.
Hal ini berbeda dengan teori yang mengatakan bahwa biji bagian tengah memiliki
kualitas biji paling baik. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor lain, seperti serangan
jamur mitoksin yang menyebabkan biji tidak dapat berkecambah secara optimal.

Hal serupa dapat kita lihat dari pengamatan Indeks Vigor, indeks vigor bibit
kakao bagian ujung memiliki indeks vigor tertinggi pada hari pertama, hari kedua
bagian tengah lalu hari ketiga bagian pangkal.

0
20
40
60
80
100
120
1 2 3 4 5 6 7
G
a
y
a

B
e
r
k
e
c
a
m
b
a
h

(
%
)
Gaya Berkecambah vs Hari Pengamatan
Ujung
Tangah
Pangkal
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1 2 3 4 5 6 7
I
n
d
e
k
s

V
i
g
o
r
Indeks Vigor vs Hari Pengamatan
Ujung
Tengah
Pangkal
Tabel 4.4. Hasil Uji Chi-square untuk bibit bagian ujung
Kelas
Batas
Bawah
Batas
Atas
Frekuensi
(O) Harapan (E) (O-E)
2
/E
1 0.677 0,8 2 0,5 4.5
2 0,8 0,923 2 0.8599191 1.511519
3 0,923 1,046 5 1.1260069 13.32836
4 1,046 1,169 4 0.3667232 35.99636
5 1,169 1,292 5 1.4946637 8.220834
6 1,292 1,415 4 0.9071524 10.54476
7 1,415 1,538 3 0 -
JUMLAH 25 -

Banyak
kelas 5,644 7
Lebar
kelas 0,123

X
2
tabel
= 11,0705
X
2
hitung
= -
Karena X
2
tabel
< nilai X
2
hitung
, maka data mengikuti distribusi normal.

Tabel 4.5. Hasil Uji Chi-square untuk bibit bagian tengah
Kelas
Batas
Bawah
Batas
Atas Frekuensi (O) Harapan (E) (O-E)2/E
1 1,25 1,30 2 2.8 0.228571
2 1,30 1,35 3 13.72619 8.381871
3 1,35 1,40 4 6.717168 1.099124
4 1,40 1,45 3 -9.40014 -16.3576
5 1,45 1,50 5 -8.28268 -21.301
6 1,50 1,55 6 1.336506 16.27241
7 1,55 1,60 2 14.31584 10.59525
JUMLAH 25 -1,08137

Banyak
kelas 5,644 7
Lebar
kelas 0,123

X
2
tabel
= 11,0705
X
2
hitung
= -1,08137
Karena X
2
tabel
> nilai X
2
hitung
, maka data mengikuti distribusi normal.












Tabel 4.6. Hasil Uji Chi-square untuk bibit bagian pangkal
Kelas
Batas
Bawah
Batas
Atas Frekuensi (O)
Harapan
(E) (O-E)2/E
1 1,0 1,12 1 1.193983 0.031516
2 1,12 1,25 3 0.711288 7.364391
3 1,25 1,37 5 0.220356 103.6731
4 1,37 1,49 7 0.775065 49.99557
5 1,49 1,61 3 2.102553 0.383063
6 1,61 1,74 4 1.328816 5.36961
7 1,74 1,86 2 0.480943 4.797937
JUMLAH 171,6152
Banyak kelas 5,644 7
Lebar kelas 0,123

X
2
tabel
= 11,0705
X
2
hitung
= 171,6152
Karena X
2
tabel
< nilai X
2
hitung
, maka data tidak mengikuti distribusi normal.

SUMMARY
Groups Count Sum Average Variance
Column 1 25 29.535 1.1814 0.03523
Column 2 25 36.15 1.446 0.007858
Column 3 25 34.44 1.3776 0.02874

ANOVA
Source of
Variation SS Df MS F P-value F crit
Between
Groups 0.943218 2 0.471609 19.69732
1.503E-
07 3.123907
Within Groups 1.723882 72 0.023943

Total 2.6671 74

DMRT Berat Benih Kakao
Perlakuan
Urutan
Rerata Notasi
PANGKAL 1.3776 C
UJUNG
1.1814
B
TENGAH 1,4426 A

2 3
SSR/tabel 2.821 2.971
LSR/DMRT 0.052 0.054


Kombinasi Jarak
Selisih
Rerata Nilai DMRT Kesimpulan
A-B 2 -0,2612 0.103 *
A-C 3 0.065 0.109 *
B-C 2 -0.1962 0.103 *
Berdasarkan hasil analisis DMRT diantara ketiga kombinasi bagian bibit
terdapat beda nyata, sehingga faktor kedudukan biji kakao berpengaruh terhadap
kualitas kakao.


1. Pengaruh Kedudukan biji kakao
Kedudukan biji kakao berpengaruh terhadap kualitas kakao yang akan tumbuh.
Hal ini dikarenakan biasanya biji bagian tengah dengan biji yang masih mengandung
pulp sekitar 2,5 gram digunakan sebagai benih. Alasannya karena biji bagian tengah
berukuran lebih besar yang berarti cadangan makanannya cukup banyak (bernas)
dibandingkan biji di bagian ujung dan pangkal yang berukuran lebih kecil. Namun
apabila ingin memproduksi bibit dalam jumlah banyak dengan hanya menggunakan biji
bagian tengah kemungkinan untuk mencapai target cukup sulit.
2. Pemanfaatan biji kakao sebagai benih
Tanaman kakao lebih senang ditanaman dari bijinya karena pertumbuhan tajuk
lebih baik. Selain itu tanaman kakao yang ditanam dengan benih mempunyai beberapa
keuntungan, anatar lain: (1) dapat diproduksi dalam jumlah banyak, (2) teknik
pelaksanaan mudah, (3) biaya relatif murah, (4) pemeliharaan dan pengawasan dapat
lebih intensif.
3. Perkembangan pertanaman kakao di Indonesia saat ini
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya
cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja,
sumber pendapatan dan devisa negara. Di samping itu kakao juga berperan dalam
mendorong pengembangan wilayan dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002,
perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi
sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur
Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor
perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai US $ 701 juta.
Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun
waktu 20 tahun terakhir dan pada tahun 2002 areal perkebunan kakao Indonesia tercatat
seluas 914.051 ha. Perkebunan kakao tersebut sebagianbesar (87,4%) dikelola oleh
rakyat dan selebihnya 6,0% perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar
swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak
dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan
Sulawesi Tengah. Di samping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan
besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana bila
dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao berasal
dari Ghana dan keunggulan kakao Indonesia tidak mudah meleleh sehingga cocok bila
dipakai untuk blending. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao
Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata
lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong
pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka. Meskipun demikian, agribisnis
kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain
produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama Penggerek buah Kakao (PBK),
mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir
kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk
mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao.
Pada tahun 2002 tersebut komposisi tanaman perkebunan kakao Indonesia
tercatat seluas 224.411 ha (24,6%) tanaman belum menghasilkan (TBM), 618.089 ha
(67,6%) tanaman menghasilkan (TM), dan 71.551 ha (7,8%) tanaman tua/rusak.
Produktivitas rata-rata nasional tercata 924 kg/ha, dimana produktivitas perkebunan
rakyat (PR) sebesar 963,3 kg/ha, produktivitas perkebunan besar negara (PBN) rata-rata
688,13 kg/ha dan produktivitas perkebunan besar swasta (PBS) rata-rata 681,1 kg/ha.
Guna membantu mengatasi masalah mutu benih kakao, Kementeraian Negara
Koperasi dan UKM telah melaksanakan program bantuan perkuatan bibit kakao kepada
masyarakat melalui koperasi. Program inidimulai sejak tahun anggaran 2005 di
Kabupaten Temanggung Propinsi Jawa Tengah melalui 2 koperasi sebanyak 2 juta
batang bibit kakao, dan dilanjutkan pada tahun anggaran 2006 di Kabupaten Jayapura
Propinsi Papua melalui 7 koperasi sebanyak 1,4 juta batang bibit kakao, Propinsi Jawa
Tengah sebanyak 2,64 juta batang bibit kakao yang tersebar di Kabuapaten Semarang (9
koperasi sebanyak 1.424.025 batang), Kabupaten Wonogiri (4 koperasi sebanyak
440.000 batang) dan Kabupaten Karanganyar (7 koperasi sebanyak 759.997 batang),
Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat (2 koperasi sebanyak 500.000 batang) serta
Kabupaten Lebak Propinsi Banten (6 koperasi sebanyak 1.420.005 batang). Selanjutnya
pada tahun anggaran 2007 Kementerian Negara Koperasi dan UKM masih melanjutnya
program bantuan perkuatan bibit kakao bermutu di daerah potensial kakao lainnya
sebanyak 5 juta batang yang tersebar di Propinsi Lampung (Kabupaten Lampung),
Propinsi Bengkulu (Kabupaten Kepahiang), Propinsi Sumatera Utara
(Kabupaten Tapanuli Tengah dan Mandailing Natal), Propinsi Jawa Barat (Kabupaten
Garut), Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Banjarnegara), Propinsi Sulawesi Tenggara
(kabupaten Konawe Selatan) dan Propinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Luwu). Di
samping itu, Kementerian Negara Koperasi dan UKM telah memberikan bantuan
perkuatan kepada koperasi berupa sarana pengolahan kakao tahun anggaran 2005 yang
tersebar di Propinsi Sulawesi Tengah (Kabupaten Donggala), Propinsi Papua
(Kabupaten Jayapura) dan Propinsi Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan)
serta pada tahun anggaran 2006 di Propinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Wajo).
Diprogramkan bantuan perkuatan bibit kakao ini dilanjutkan pada tahun-tahun yang
akan datang sehingga pemenuhan bibit kakao bermutu dapat terwujud dan produksi
kakao nasional dapat ditingkatkan.


V. KESIMPULAN
1. Bibit kakao yang berasal dari bagian tengah memiliki cadangan makanan yang
cukup banyak karena ukurannya besar.
2. Berdasarkan hasil pengamatan Gaya Berkecambah bibit bagian ujung tertinggi
dan yang terendah bagian tengah.
3. Hasil percobaan tidak sesuai dengan teori yang ada, bahwa biji bagian tengah
biasanya digunakan sebagai benih karena memiliki cadangan makanan paling
banyak dibandingkan lainnya, hal ini terjadi boleh jadi karena adanya faktor
lingkungan, seperti serangan jamur mitoksin.

DAFTAR PUSTAKA
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2006, Panduan Lengkap Budidaya Kakao
(Kiat mengatasi permasalahan praktis), PT. Agromedia Pustaka.

Anonim. 2010. Theobroma cacao. <http://en.wikipedia.org/wiki/Theobroma_cacao>.
Diakses tanggal 7 Maret 2010.

Osman H., R. Nasarudin, S.L. Lee. 2004. Extracts of cocoa (Theobroma cacao L.)
leaves and their antioxidation potential. Food Chemistry 86: 4146.

Prawoto, A.A.,A. Salam, dan Slameto. 2003. Respon semaian beberapa klon kakao
terhadap cekaman kekeringan. J. Pelita Perkebunan. 19 (2): 5566.

Tumpal H.S. Siregar dkk. 2006. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Coklat. Penebar
Swadaya, Jakarta.
















LAMPIRAN
Data Golongan A1
(UJUNG)
KELOMPOK 1
Rerata
bobot biji
Kel 1,kel 2
KELOMPOK 2
BOBOT BIJI PERKECAMBAHAN BIJI BOBOT BIJI PERKECAMBAHAN BIJI
NO BOBOT TANGGAL JUMLAH NO BOBOT TANGGAL JUMLAH
1 0.71 2 17 0.795 1 0.88 2 0
2 0.84 3 22 0.88 2 0.92 3 15
3 0.92 4 25 0.94 3 0.96 4 25
4 0.92 5 25 0.955 4 0.99 5 25
5 1 6 25 1.005 5 1.01 6 25
6 1.05 7 25 1.03 6 1.01 7 25
7 1.05 8 25 1.03 7 1.01 8 25
8 1.06 1.04 8 1.02
9 1.11 1.095 9 1.08
10 1.16 1.145 10 1.13
11 1.19 1.165 11 1.14
12 1.19 1.185 12 1.18
13 1.19 1.195 13 1.2
14 1.19 1.225 14 1.26
15 1.2 1.235 15 1.27
16 1.21 1.245 16 1.28
17 1.23 1.27 17 1.31
18 1.24 1.275 18 1.31
19 1.28 1.33 19 1.38
20 1.3 1.355 20 1.41
21 1.3 1.39 21 1.48
22 1.31 1.395 22 1.48
23 1.32 1.405 23 1.49
24 1.34 1.46 24 1.58
25 1.39 1.49 25 1.59
Total = 29,535
Rerata = 1,1814
Varian (S
2
) = 0,03523






(TENGAH)
KELOMPOK 3 Rerata
bobot
biji kel
3,kel 4
KELOMPOK 4
BOBOT BIJI
PERKECAMBAHAN
BIJI BOBOT BIJI
PERKECAMBAHAN
BIJI
NO BOBOT TANGGAL JUMLAH NO BOBOT TANGGAL JUMLAH
1
1.33
2 0 1.34 1
1.34
2 0
2
1.57
3 7 1.48 2
1.39
3 18
3
1.69
4 19 1.58 3
1.46
4 25
4
1.43
5 25 1.46 4
1.48
5 25
5
1.45
6 25 1.38 5
1.3
6 25
6
1.45
7 25 1.39 6
1.33
7 25
7
1.6
8 25 1.54 7
1.47
8 25
8
1.69
1.49 8
1.28

9
1.69
1.51 9
1.32

10
1.79
1.55 10
1.3

11
1.54
1.44 11
1.34

12
1.76
1.53 12
1.3

13
1.84
1.54 13
1.24

14
1.54
1.44 14
1.33

15
1.53
1.47 15
1.4

16
1.49
1.36 16
1.22

17
1.38
1.40 17
1.41

18
1.7
1.56 18
1.42

19
1.54
1.44 19
1.33

20
1.25
1.28 20
1.3

21
1.36
1.28 21
1.2

22
1.49
1.48 22
1.46

23
1.32
1.34 23
1.35

24
1.73
1.53 24
1.33

25
1.25
1.34 25
1.42

Total = 36,065
Rerata = 1,4426
Varian (S
2
) = 0,00794








(PANGKAL)
KELOMPOK 5
Rerata
bobot
biji kel
5, kel 6
KELOMPOK 6
BOBOT BIJI
PERKECAMBAHAN
BIJI BOBOT BIJI
PERKECAMBAHAN
BIJI
NO BOBOT TANGGAL JUMLAH NO BOBOT TANGGAL JUMLAH
1 1.18 2 11 1.095 1 1.01 2 0
2 1.24 3 17 1.135 2 1.03 3 7
3 1.26 4 23 1.145 3 1.03 4 25
4 1.27 5 25 1.175 4 1.08 5 25
5 1.31 6 25 1.235 5 1.16 6 25
6 1.31 7 25 1.265 6 1.22 7 25
7 1.32 8 25 1.275 7 1.23 8 25
8 1.33 1.28 8 1.23
9 1.36 1.295 9 1.23
10 1.37 1.32 10 1.27
11 1.38 1.33 11 1.28
12 1.38 1.34 12 1.3
13 1.41 1.355 13 1.3
14 1.42 1.365 14 1.31
15 1.43 1.375 15 1.32
16 1.47 1.4 16 1.33
17 1.5 1.45 17 1.4
18 1.53 1.465 18 1.4
19 1.56 1.485 19 1.41
20 1.57 1.525 20 1.48
21 1.6 1.545 21 1.49
22 1.61 1.56 22 1.51
23 1.67 1.6 23 1.53
24 1.76 1.655 24 1.55
25 1.78 1.77 25 1.76
Total = 34,44
Rerata = 1,3776
Varian (S
2
) = 0,0287398