Anda di halaman 1dari 36

Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual Di SMA Negeri 1 Kadugede

Proposal Penelitian

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

DEDEN SUKENDAR 742003.S.09013

AKADEMI KEPERAWATN DHARMA HUSADA CIREBON Jalan Perjuangan Majasem Kota Cirebon 2011

LEMBAR PERSETUJUAN

Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual Di SMA Negeri 1 Kadugede

Deden Sukendar 742003.S.09013

Telah disetujui oleh Pembimbing Proposal Penelitian Untuk Diajukan Pada Tanggal .

Mengetahui Pembimbing

Ibu Vivi Sofiah, S.Kep NIK

Koordinator Mata Kuliah Metodologi Penelitian

LEMBAR PENGESAHAN

Telah Diujikan Dan Disyahkan Oleh Penguji Proposal Penelitian Akademi Keperawatan Dharma Husada Cirebon

Mengetahui Penguji I

Nama NIK

Penguji II

Nama NIK

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas proposal penelitian ini dengan baik. Adapun judul proposal penelitian ini adalah Gambaran Tingkat Pengtahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual Di SMA Negeri 1 Kadugede. Tugas propsal ini disusun guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Metodologi Penelitian. Dalam kesempatan ini juga penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. Bapak H. Iman Zaenudin, AMK, MPd. Selaku Direktur Akademi Keperawatan Dharma Husada Cirebon. 2. Bapak Drs.Mrayanto,M.SI selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kadugede Kab. Kuningan. 3. Seluruh Staf karyawan SMA Negeri 1 Kadugede Kab. Kuningan. 4. Ibu Vivi Sofiah S, Kep selaku dosen pembimbing. 5. Ibu.. selaku koordinator mata kuliah Metodologi Penelitian. 6. Rekan rekan mahasiswa/I yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca Cirebon, Januari 2012

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR.... DAFTAR ISI... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian. D. Manfaat Penelitian... BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN A. Pengetahuan. B. Pengertian Remaja...
C. Pengertian penyakit menular seksual

i ii

1 4 4 5

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Desain Penelitian.. B. Waktu dan Tempat...

C. Populasi, Sample, Dan Sampling. D. Identifikasi Variabel. E. Pengumpulan Data

F. Analisa Data.
G. Pengolahan Data... H. Masalah etika penelitian I.

Keterbatasan.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran.. DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju indonesia sehat adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduk yang hidup dan berperilaku dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia ( Depkes RI, 2000 ).

Peningkatan derajat kesehatan bertitik tolak dari perilaku masyarakat tersebut terhadap kesehatan. Salah satu prioritas pemerintah dalam peningkatan derajat kesehatan dengan upaya penignkatan kesehatan ( promotif ) dan pencegahan penyakit ( preventif ) dari pada penyembuhan penyakit ( kuratif ) dan pemulihan kesehatan ( rehabilitatif ). Saat

ini yang menjadi sorotan pemerintah adalah pencegahan penyakit menular dikarenakan kasus tersebut semula menurun atau tidak ditemukan, pada akhir akhir ini cenderung meningkat terutama pada penyakit menular seksual ( Depkes RI, 2000 ).

Penyakit menular seksual atau infeksi menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Sejak tahun 1998, istilah STD mulai berubah menjadi STI (Sexually Transmitted Infection), agar dapat menjangkau penderita asimtomatik (Daili, 2009). Menurut WHO ( 2009 ), terdapat kurang lebih 30 jenis mikroba ( bakteri, virus, dan parasit ) yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhea, chalmydia, syphilis, tricomoniasis, chancroid, herpes genetalia, infeksi human immunodeficiency virus ( HIV ) dan hepatitis B. beberapa diantaranya, yakni HIV dan syphilis, dapat juga ditularkan dari ibu ke anaknya selama kehamilan dan kelahiran, dan melalui darah serta jaringan tubuh.

Sampai sekarang infeksi menular seksual masih menjadi masalah kesehatan, sosial maupun ekonomi di berbagai negara ( WHO, 2003 ). Peningkatan insiden infeksi menular seksual dan penyebarannya di seluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. Di beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang

intensif akan menurunkan insidens infeksi menular seksual atau paling tidak insidensnya relatif tetap. Namun demikian, di sebagian besar negara insidens infeksi menular seksual masih relatif tinggi ( Hakim, 2003 ). Angka penyebaran sulit sumbernya, sebab tidak pernah dilakukan registrasi terhadap penderita yang ditemukan.

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu dari sepuluh penyebab pertama penyakit yang tidak menyenangkan pada dewasa muda laki- laki dan penyebab kedua terbesar pada dewasa muda perempuan di negara berkembang. Dewasa dan remaja (15- 24 tahun) merupakan 25% dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi memberikan kontribusi hampir 50% dari semua kasus IMS baru yang didapat. Ini mencerminkan keterbatasan screening dan rendahnya pemberitaan akan IMS (Da Ros, 2008). Di Indonesia sendiri, telah banyak laporan mengenai prevalensi infeksi menular seksual ini. Beberapa laporan yang ada dari beberapa lokasi antara tahun 1999 sampai 2001 menunjukkan prevalensi infeksi gonore dan klamidia yang tinggi antara 20%-35% (Jazan, 2003). Selain klamidia, sifilis maupun gonore , infeksi HIV/AIDS saat ini juga menjadi perhatian karena peningkatan angka kejadiannya yang terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es, yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada jumlah sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia yang sebenarnya belum diketahui secara pasti. Diperkirakan jumlah orang dengan HIV di Indonesia pada akhir tahun 2003 mencapai 90.000 130.000 orang. Sampai dengan

Desember 2008, pengidap HIV positif yang terdeteksi adalah sebanyak 6.015 kasus. Sedangkan kumulatif kasus AIDS sebanyak 16.110 kasus atau terdapat tambahan 4.969 kasus baru selama tahun 2008. Kematian karena AIDS hingga tahun 2008 sebanyak 3.362 kematian (Depkes, 2009).

Penyakit menular seksual juga merupakan penyebab infertilitas yang tersering, terutama pada wanita. Antara 10% dan 40% dari wanita yang menderita infeksi klamidial yang tidak tertangani akan berkembang menjadi pelvic inflammatory disease (WHO, 2008). Dari data dan fakta di atas, jelas bahwa infeksi menular seksual telah menjadi problem tersendiri bagi pemerintah. Tingginya angka kejadian infeksi menular seksual di kalangan remaja dan dewasa muda, merupakan bukti bahwa masih rendahnya pengetahuan remaja akan infeksi menular seksual. Hal ini mungkin disebabkan masih kurangnya penyuluhan- penyuluhan yang diakukan oleh pemerintah dan badan-badan kesehatan lainnya. Tidak adanya mata pelajaran yang secara khusus mengajarkan dan memberikan informasi bagi murid sekolah menengah atas, terutama siswi, juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kejadian infeksi menular seksual di kalangan remaja.

Oleh karena itu, peneliti mengambil judul Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual di SMA Negeri I Kadugede Kabupaten Kuningan.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja tentang penyakit menular seksual di SMA Negeri 1 Kadugede Kabupaten Kuningan.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan remaja tentang penyakit menular seksual di SMA Negeri 1 Kadugede Kabupaten Kuningan. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja tentang pengertian penyakit menular seksual di SMA Negeri I Kadugede Kabupaten Kuningan.
b. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja tentang penyebab penyakit menular

seksual di SMA Negeri I Kadugede Kabupaten Kuningan.


c. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja tentang jenis - jenis penyakit

menular seksual di SMA Negeri I Kadugede Kabupaten Kuningan.


d. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja tentang gejala penyakit menular

seksual di SMA Negeri I Kadugede Kabupaten Kuningan.

e. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja tentang cara penularan penyakit

menular seksual di SMA Negeri I Kadugede Kabupaten Kuningan.


f. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja tentang pencegahan penyakit

menular seksual di SMA Negeri I Kadugede Kabupaten Kuningan.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi siswa/i di SMA Negeri I Kadugede Dapat memberikan manfaat akan pentingnya pengetahuan tentang penyakit menular seksual juga dampak dan sikap perilaku siswa/i dalam pencegahan penyakit menular seksual. 2. Peneliti Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual dalam rangka menurunkan angka penyebaran penyakit menular seksual.

3. Bagi Masyarakat Hasil penelitian ini menyediakan informasi bagi masyarakat tentang penyakit menular seksual pada remaja. 4. Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi disiplin ilmu keperawatan dalam mengembangkan keilmuan khususnya ilmu keperawatan komunitas, agar para mahasiswa ilmu keperawatan dapat mengetahui

penatalaksanaan penyakit menular seksual serta perannya sebagai seorang perawat yaitu memberikan penkes ( pendidikan kesehatan ), mempromosikan dan pencegahan ( preventif ) penyakit menular seksual.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Konsep Dasar 1. Pengetahuan a. Definisi Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( Notoatmodjo, 2005 )

Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. ( Meliono, Irmayanti, dkk. 2007 )

b. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo ( 2005 ) pengetahuan mencangkup didalamnya domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni : 1) Tahu ( Know )

Tahu artinya sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall ) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 2) Memahami ( Comprehension ) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi ( Aplication ) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari situasi atau kondisi sebenarnya. 4) Analisis ( Analysis ) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau subyek kedalam komponen komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis ( Syntesis ) Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6) Evaluasi ( Evaluation ) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penelitian itu berdasarkan suatu kriteria kriteria yang telah ada.

c. Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan Menurut Nasution ( 1999 ), faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan dalam masyarakat yaitu : 1) Sosial ekonomi Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang. Bila ekonomi baik maka tingkat pendidikan atau tinggi dan pengetahuan akan tinggi pula. 2) Kultur ( budaya dan agama ) Budaya akan sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang karena informasi informasi yang didapat akan disaring terlebih dahulu apakah sesuai atau tidak dengan budaya atau agama masyarakat tersebut.

3) Pendidikan Semakin tinggi pendidikan maka seseorang akan mudah menerima hal baru dan akan mudah menyesuaikan hal baru tersebut. 4) Pengalaman Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. Pendidikan yang tinggi maka pengalaman yang diperoleh juga akan lebih luas, sedangkan semakn tua seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. 2. Remaja

a. Definisi Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Disebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya

dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun (Notoatdmojo, 2007). Menurut Soetjiningsih (2004) Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak - anak yang dimulai saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang dewasa muda. Berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat defenisi tentang remaja yaitu :

1)

Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefenisikan remaja adalah

bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun dan umur 12-20 tahun anak laki- laki. 2) Menurut undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak,

remaja adalah yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah.


3)

Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah

mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal.
4)

Menurut undang-undang perkawinan No.1 tahun 1979, anak dianggap

sudah remaja apabila cukup matang, yaitu umur 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk anak-anak laki-laki.
5)

Menurut dinas kesehatan anak dianggap sudah remaja apabila anak sudah

berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus sekolah menengah.


6)

Menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-18 tahun.

(Soetjiningsih, 2004).

b. Tahap tahap perkembangan remaja Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap perkembangan remaja : 1) Remaja awal (early adolescent)

Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahan perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan- dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang

berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap ego menyebabkan para remaja awal ini sulit dimengerti dan dimengerti orang dewasa. 2) Remaja madya (middle adolescent) ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau

Pada tahap

banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimistis atau pesimistis, idealis atau materialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari oedipus complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa anak - anak) dengan mempererat hubungan dengan kawan - kawan.

3)

Remaja akhir (late adolescent)

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu : Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.

Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman- pengalaman baru. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti

dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.


Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan

masyarakat umum (Sarwono, 2010). Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap yaitu : 1)

Masa remaja awal (10-12 tahun) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya. Tampak dan merasa ingin bebas. Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan

tubuhnya dan mulai berpikir yang khayal (abstrak). 2)

Masa remaja tengah (13-15 tahun) Tampak dan ingin mencari identitas diri. Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis. Timbul perasaan cinta yang mendalam.

3)

Masa remaja akhir (16-19 tahun) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri. Dalam mencari teman sebaya lebih selektif. Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya. Dapat mewujudkan perasaan cinta. Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak.

(Widyastuti dkk, 2009).

c. Tugas tugas Perkembangan Remaja Terdapat perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock (1991) adalah sebagai berikut : 1) Mampu menerima keadaan fisiknya. 2)
3)

Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang

berlainan jenis.
4)

Mencapai kemandirian emosional.

5)
6)

Mencapai kemandirian ekonomi. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat

diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat. 7) tua.


8)

Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang

Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk

memasuki dunia dewasa. 9) 10) Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan

keluarga.

Tugas - tugas perkembangan fase remaja ini

amat berkaitan dengan

perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan tugastugas perkembangan, diperlukan kemampuan kreatif remaja. Kemampuan kreatif ini banyak diwarnai oleh perkembangan kognit ifnya (Ali dan Asrori, 2009).

3.

Penyakit menular seksual

a. Definisi Penyakit Menular Seksual atau infeksi menular seksual didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena adanya invasi organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar menular melalui hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesama jenis. (Aprilianingrum, 2002).

Terdapat lebih kurang 30 jenis mikroba(bakteri, virus, dan parasit) yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhea, chlamydia, syphilis,trichomoniasis, chancroid, herpes genital,

infeksi human immunodeficiensy virus (HIV) dan hepatitis B. HIV dan syphilis juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya selama kehamilan dan kelahiran, dan juga melalui darah serta jaringan tubuh ( WHO,2009 ).

b. Etiologi Penyakit Menular Seksual Menurut Handsfield(2001) dalam Chiuman (2009), Penyakit menular seksual dapat diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, yakni : 1) Dari golongan bakteri, yakni Chlamydia Gardnerella trachomatis, vaginalis, Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum, urealyticum, Shigella Mycoplasma sp, hominis, sp,

Ureaplasma Salmonella

sp,

Campylobacter

Streptococcus group B, Mobiluncus sp.

2) Dari golongan protozoa, yakni Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica,

Giardia lamblia.
3) Dari golongan virus, yakni Human Immunodeficiency Virus ( tipe 1 dan 2 ),

Herpes Simplex Virus (tipe 1 dan 2), Human papiloma Virus, Cytomegalovirus, Epstein-barr virus, Molluscum contagiosum virus. 4) Dari golongan ektoparasit, yakni Phthirus pubis dan Sarcoptes scabei

c. Penularan Penyakit Menular Seksual Menurut Karang Taruna(2001), sesuai dengan sebutannya cara penularan Penyakit Menular Seksual ini terutama melalui hubungan seksual yang tidak terlindungi, baik pervaginal, anal, maupun oral. Cara penularan lainnya secara perinatal, yaitu dari ibu ke bayinya, baik selama kehamilan, saat kelahiran ataupun setelah lahir. Bisa melalui transfuse darah atau kontak langsung dengan cairan darah atau produk darah. Dan juga bisa melalui penggunaan pakaian dalam atau handuk yang telah dipakai

penderita Penyakit Menular Seksual ( PMS ). Perilaku seks yang dapat mempermudah penularan PMS adalah : 1) Berhubungan seks yang tidak aman (tanpa menggunakan kondom). 2) Gonta-ganti pasangan seks. 3) Prostitusi.

4) Melakukan hubungan seks anal (dubur), perilaku ini akan menimbulkan luka atau radang karena epitel mukosa anus relative tipis dan lebih mudah terluka disbanding epitel dinding vagina. 5) Penggunaan pakaian dalam atau handunk yang telah dipakai penderita PMS (Hutagalung, 2002).

d. Jenis-Jenis Penyakit Menular Seksual Secara garis besar Penyakit Menular Seksual dapat dibedakan menjadi empat kelompok, antara lain :
1)

PMS yang menunjukkan gejala klinis berupa keluarnya cairan yang keluar

dari alat kelamin, yaitu penyakit Gonore dan Uretritis Non Spesifik ( UNS ). 2) PMS yang menunjukkan adanya luka pada alat kelamin misalnya penyakit

Chanroid(Ulkus mole), Sifilis, LGV, dan Herpes simpleks. 3) PMS yang menunjukkan adanya benjolan atau tumor, terdapat pada

penyakit Kondiloma akuminata. 4) PMS yang memberi gejala pada tahap permulaan, misalnya penyakit

Hepatitis B (Daili, 2007). e. Gejala-Gejala Umum Penyakit Menular Seksual Pada anak perempuan gejalanya berupa :

1) Cairan yang tidak biasa keluar dari alat kelamin perempuan warnanya kekuningan

- kuningan, berbau tidak sedap. 2) Menstruasi atau haid tidak teratur. 3) Rasa sakit di perut bagian bawah. 4) Rasa gatal yang berkepanjangan di sekitar kelamin. Pada anak laki-laki gejalanya berupa : 1) Rasa sakit atau panas saat kencing. 2) Keluarnya darah saat kencing. 3) Keluarnya nanah dari penis. 4) Adanya luka pada alat kelamin. 5) Rasa gatal pada penis atau dubur (Hutagalung, 2002).

f. Pencegahan Penyakit Menular Seksual Adapun upaya pencegahan Penyakit Menular Seksual yang dapat dilakukan adalah : 1) Tidak melakukan hubungan seks. 2) Menjaga perilaku seksual (seperti: penggunaan kondom). 3) Bila sudah berperilaku seks yang aktif tetaplah setia pada pasngannya. 4) Hindari penggunaan pakaian dalam serta handuk dari penderita PMS.

5) Bila Nampak gejala-gejala PMS segera ke dokter setempat (Ningsih,1998).

atau petugas kesehatan

g. Penatalaksanaan Penyakit Menular Seksual Menurut WHO(2003), penanganan pasien infeksi menular seksual terdiri dari dua cara, bisa dengan penaganan berdasarkan kasus (case management) ataupun penanganan berdasarkan sindrom (syndrome management). Penanganan berdasarkan kasus yang efektif tidak hanya berupa pemberian terapi antimikroba untuk menyembuhkan dan mengurangi infektifitas mikroba, tetapi juga diberikan perawatan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Sedangkan penanganan berdasarkan sindrom didasarkan pada identifikasi dari sekelompok tanda dan gejala yang konsisten, dan penyediaan pengobatan untuk mikroba tertentu yang menimbulkan sindrom. Penanganan infeksi menular seksual yang ideal adalah penanganan berdasarkan mikrooganisme penyebnya. Namun, dalam kenyataannya penderita infeksi menular seksual selalu diberi pengobatan secara empiris (Murtiastutik, 2008). Antibiotika untuk pengobatan PMS adalah : 1) Pengobatan gonore: penisilin, ampisilin, amoksisilin, seftriakson, spektinomisin, kuinolon, tiamfenikol, dan kanamisin (Daili, 2007). 2) Pengobatan sifilis: penisilin, sefalosporin, termasuk sefaloridin, tetrasiklin,

eritromisin, dan kloramfenikol (Hutapea, 2001).

3) Pengobatan 2003).

herpes genital: asiklovir, famsiklovir, valasiklovir (Wells et al,

4) Pengobatan klamidia: azithromisin, doksisiklin, eritromisin (Wells et al., 2003) . 5) Pengobatan trikomoniasis: metronidazole (Wells et al., 2003). Resisten adalah suatu fenomena kompleks yang terjadi dengan pengaruh dari mikroba, obat antimikroba, lingkungan dan penderita. Menurut Warsa (2004), resisten antibiotika menyebabkan penyakit makin berat, makin lama menderita, lebih lama di rumah sakit, dan biaya lebih mahal.

BAB III METODE PENELITIAN

J. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau mendeskripsikan tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005, p.138). Dengan pendekatan cross sectional adalah suatu penelitian dimana variabel-variabelnya diobservasi sekaligus pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2005, p. 148) Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau mendeskripsikan tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005, p. 138). Dengan pendekatan cross sectional adalah suatu penelitian dimana variabel - variabelnya diobservasi sekaligus pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2005, p. 148)

K. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada Januari 2012 di SMA Negeri I Kadugede Kabupaten Kuningan.

L. Populasi, Sample, Dan Sampling 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti tersebut (Notoatmodjo, 2005, p.79). Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2006, p.130). Menurut Azwar (2009, p31) populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kadugede. 2. Sample Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap memenuhi seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005, p.79). Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006, p.131). Sedangkan menurut Azwar (2009, p.32) sampel adalah sebagian dari populasi. Teknik pengambilan sample pada penelitian kali ini adalah dengan quota sampling yaitu sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili populasi. Pengambilan sample dalam penelitian ini adalah sebagian remaja yang ada di SMA Negeri I Kadugede. Dalam menghitung besarnya sampel untuk mengukur proporsi dengan derajat akurasi pada tingkatan statistik yang bermakna (significance)

dengan menggunakan formula yang sederhana, Karena populasi lebih kecil dari 10.000, dapat menggunakan formula seperti berikut ( Notoatmodjo, 2005, pp.79-91)

Keterangan : n = Jumlah sample

N = Populasi D = Tingkat signifikasi(p)

Responden

Jadi sample yang dipergunakan adalah 169 Responden

M. Identifikasi Variabel Variabel penelitian merupakan bagian penelitian dengan cara menentukan variabel variabel yang ada dalam penelitian ( A. Aziz Alimul H, 2003 ). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu tingkat pengetahuan remaja tentang penyakit menular seksual.

N. Pengumpulan Data 1. Instrumen penelitian Menurut Arikunto (2006, p.149), instrument penelitian adalah alat pada waktu penelitian menggunakan suatu metode. Alat pengumpulan data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah kuesioner pengetahuan remaja tentang penyakit menular seksual. Pertanyaan kuesioner terdiri dari 12 pertanyaan. Pertanyaan merupakan pertanyaan tertutup dimana diberikan jawaban B jika benar, S jika salah. Pertanyaan kuesioner berisi tentang pertanyaan mengenai penyakit menular seksual yang meliputi pengertian, jenis, cara penularan, gejala, dan cara mencegah penyakit menular seksual, semua berjumlah 12 soal. 2. Pengumpulan data a. Data Primer Data primer yaitu data yang langsung diambil secara langsung dari responden dengan menggunakan metode kuesioner. Sebelum mengisi kuesioner responden diberi penjelasan terlebih dahulu dan diminta kesediaannya untuk mengisi

kuesioner yang telah disediakan ( Notoatmojo, 2005 ). Setelah data terkumpul melalui kuesioner kemudian ditabulasikan dan dikelompokan sesuai dengan variabel yang diteliti, jawaban responden dijumlahkan dan pertanyaan yang dijawab dengan benar akan mendapat nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Dan dibandingkan dengan jumlah jawaban yang diharapkan ( Arikunto, 1998 ).

b. Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh sebagai pendukung hasil penelitian, sumber data sekunder diperoleh dari catatan, literatur, artikel dan tulisan ilmiahyang relevan dengan topik penelitian yang dilakukan ( Notoatmodjo, 2005 ).

O. Analisa Data Adapun data dianalisa secara univariat. Analisis univariat dimaksudkan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan proporsi dari ariabel variabel yang diamati. Tujuan dari analisis univariat ( deskriftif ) adalah menjelaskan / mendeskriftifkan karakteristik masing masing variabel yang diteliti. Pada dasarnya analisis ini digunakan untuk meringkas data menjadi ukuran tengah dan ukuran variasi. Ringkasan tersebut selanjutnya dibandingkan dengan gambaran dari subjek yang lain.

Analisa yang diajukan terhadap tiap tiap variabel hasil penelitian ( Notoatmodjo, 2002 ). Analisa yang dilakukan untuk memperoleh gambaran umum kejadian penyakit menular seksual. Presentasi atau proporsi akan menjadi distribusi relatif jika data yang digunakan adalah data kuantitatif maka digunakan analisa data distribusi frekuensi relatif yang dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan : N Nk P : : : jumlah seluruh pertanyaan jumlah jawaban yang dijawab ya presentasi kejadian variabel penelitian. ( Nursalam, 2003 ).

P. Pengolahan Data Data yang dikumpulkan diolah dengan langkah langkah sebagai berikut : 1. Editing Adalah memeriksa data terlebih dahulu meliputi mengecek kelengkapan identitas subyek penelitian, mengecek macam isian data dari kuesioner yang telah dibagikan. 2. Coding

Setelah dilakukan pemeriksaan data, langkah selanjutnya yang akan dilakukan adalah pengkodean data. Hal ini bertujuan untuk memudahkan peneliti agar tidak terjadi kekeliruan. 3. Skoring Adalah kegiatan yang dilakukan dengan memberi skor berdasarkan jawaban responden dengan mengelompokan dari jawaban menempatkannya pada tempat yang semestinya. 4. Tabulating Hasil dari jawaban ditabulasi dengan skor jawaban sesuai dengan jenis pertanyaan, kemudian digambarkan dalam bentuk diagram dan tabel. Untuk melengkapi hasil penelitian diberikan pertanyaan atau penyajian tentang karakteristik responden. yang ada dan kemudian

Q. Masalah etika penelitian Etka dalam penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan sebuah penelitian, mengingat penelitian keperawatan akan berhubungan langsung dengan manusia. Oleh karena itu, segi etika penulisan harus dipeerhatikan karena manusia mempunyai hak asasi dalam kegiatan penelitian. Masalah etika dalam penelitian meliputi :

1. Informed Consent ( persetujuan ) Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan memberikan lembar persetujuan. Tujuannya adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. menghormati hak pasien. 2. Anomity ( tanpa nama ) jika subjek bersedia, maka mereka harus mendatangani lembar persetujuan. jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus

Memberikan jaminan dalam penggunaan subjek

penelitian dengan cara tidak

memberikan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya memberikan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajiakan. 3. Confidentiality ( kerahasiaan ) Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Alimul, 2007, pp.8283)

R. Keterbatasan 1. Instrumen / Alat ukur Alat ukur dengan menggunakan kuesioner memiliki keterbatasan dimana responden tidak mengisi kuesioner apa adanya dan juga memungkinkan responden tidak mengerti dengan pernyataan yang dimaksud sehingga hasilnya kadang sulit untuk disimpulkan dan kurang mewakili secara kualitatif. 2. Waktu Wakktu yang tersedia untuk penelitian ini sangat terbatas sehingga sample yang didapat sangat terbatas jumlahnya dan juga kurang kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh peneliti sehingga hasilnya kurang sempurna dan memuaskan.