Anda di halaman 1dari 29

DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 7 NAMA AMGGOTA : 1. 2. 3. 4. 5. Anita Bambang Herdianto Dedek Putri .

Z Fitri Aprianti Oscar Ari Wijaya

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIK BINA HUSADA PALEMBANG

KATA PENGHANTAR

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Alhamdulillah, segala puji kehadirat Allah SWT, pencipta alam semesta, tidak lupa selawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw.,karena atas rahmat dan karunia Allah makalah ini dapat kami selesaikan. Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada dosen, teman teman dan semua yang telah berpartisipasi dalam pembuatan Asuhan Keperawatan ini. Sehingga ASKEP yang berjudul KANKER PAYUDARA diselesaikan dengan lancar. Demikianlah Asuhan keperawatan ini kami susun. Dengan harapan asuhan keperawatan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Kami menyadari bahwa askep ini masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, semua krtik dan saran senantiasa kami harapkan untuk kesempurnaan agar menjadi lebih baik, jelas dan lebih sempurna. Kepada Allah SWT.,kami mohon rahmat dan hidayah-Nya. Semoga usaha yang dilakukan ini dalam keridaan-Nya selalu. Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Palembang , Mei 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............ DAFTAR ISI...... BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG........ 2. RUMUSAN MASALAH... 3. TUJUAN. BAB II TINJAUAN TEORI 1. DEFINIS......................................................................................... 2. ETIOLOGI..................................................................................... 3. TANDA DAN GEJALA............................................................... 4. PATOFLOW................................................................................. 5. PENCEGAHAN.......................................................................... 6. PENANGANAN......................................................................... 7. PENATALAKSANAAN............................................................... BAB III TINJAU KASUS 1. KONSEP DASAR KEPERAWATAN KANKER PAYUDARA 2. PENGKAJIAN KEPERAWATAN.............................................. 3. INTERVENSI............................................................................... 4. DIAGNOSA KEPERAWATAN................................................... 5. IMPLEMENTASI......................................................................... 6. EVALUASI.................................................................................. DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Kanker payudara merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh kaum wanita, penyebab kematian yang paling besar bagi perempuan berusia antara 18 hingga 54 tahun, perempuan yang berusia 45 tahun memiliki resiko terjangkit kanker payudara berjumlah 25% lebih tinggi dibandingkan perempuan yang lebih tua (Lee, 2008, hlm 38). Angka kejadian atau prevalensi kanker payudara akan selalu bertambah setiap tahun. Penyakit kanker adalah salah satu penyebab kematian di dunia. Saat ini, kanker payudara memiliki peringkat 5%-10% dari seluruh jenis kanker. Dilaporkan angka kejadian di seluruh dunia melompat 2 kali lipat, ini merupakan tingkat kenaikan tertinggi sepanjang 30 tahun terakhir, WHO (World Healthy Organization) memperkirakan angka kejadian dari tahun 2009 terdapat 11 juta yang terkena kanker dan tahun 2030 akan bertambah menjadi 27 juta kematian akibat kanker dari 7 juta menjadi 17 juta, sehingga akan didapatkan 75 juta orang yang hidup dengan kanker pada tahun 2030 nanti. Ditahun-tahun mendatang problem kesehatan yang khususnya bagi Negaranegara berkembang adalah kanker payudara, dengan peningkatan angka kejadian hingga 70%, dan pada tahun 2002 secara global tercatat 10,9 juta kasus kanker dengan angka kematian 6,7 juta orang (Yohanes, 2008). Kenaikan jumlah kasus kanker payudara terkait dengan kenaikan masa hidup wanita di seluruh dunia dan pertumbuhan populasi, selain itu, faktor kebiasaan merokok dan diet memberikan pengaruh yang signifikan terhadap terjadinya kanker payudara (Wibisono, 2009, hlm 71). Angka insiden tertinggi dapat ditemukan pada daerah di Amerika Serikat (mencapai diatas 100/100.000, berarti ditemukan 100 penderita dari 100.000

orang), The Amerika Cancer Society memperkirakan bahwa pada tahun 2000, 552.200 orang Amerika akan meninggal akibat kanker, dan 40.800 atau 7% di antaranya adalah perempuan penderita kanker payudara, ini berarti 15% perempuan yang meninggal disebabkan kanker payudara (Purwoastuti, 2008, hlm. 14). Ibrahim (2008) menyatakan bahwa, di Indonesia kanker payudara adalah jenis kanker yang menempati urutan kedua sesudah kanker leher rahim pada wanita, hasil penelitian membuktikan bahwa kanker payudara dari 26 kasus per 100.000 penduduk setiap tahunnya wanita yang mengalami kanker payudara. Karena di Indonesia tidak memprioritaskan penanggulangan masalah kanker dan masalah lain dianggap lebih penting, baik masalah ekonomi, politik, maupun masalah kesehatan lain misalnya infeksi.

1.2 RUMUSAN MASALAH a. pengertian dari kanker payudara ? b. sebutkan etiologi dari kanker payudara ? c. jelaskan tanda dan gejala dari kanker payudara ? d. bagaimana bentuk patoflow dalam kanker payudara ? e. bagaiman pencegahan dari kanker payudara ? f. bagaimana proses penatalaksanaan dari kanker payudara ?

1.3 TUJUAN a. Dapat mengetahui pengertian dari kanker payudara b. dapat mengetahui tentang etiologi dari kanker payudara c. mengetahui tentang tanda dan gejala dari kanker payudara d. patoflow e. mengetahui tentang pencegahan dari kanker payudara f. mengetahui penatalaksanaan dari kanker payudara

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 DEFINISI Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, selsel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005, hal : 39-40) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. (http//www.pikiran-

rakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk)

2.2 ETIOLOGI Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu : a. Tinggi melebihi 170 cm Wanita yang tingginya 170 cm mempunyai resiko terkena kanker payudara karena pertumbuhan lebih cepat saat usia anak dan remaja membuat adanya perubahan struktur genetik (DNA) pada sel tubuh yang diantaranya berubah ke arah sel ganas.

b. Masa reproduksi yang relatif panjang. y y Menarche pada usia muda dan kurang dari usia 10 tahun. Wanita terlambat memasuki menopause (lebih dari usia 60 tahun)

c. Wanita yang belum mempunyai anak Lebih lama terpapar dengan hormon estrogen relatif lebih lama dibandingkan wanita yang sudah punya anak. d. Kehamilan dan menyusui Berkaitan erat dengan perubahan sel kelenjar payudara saat menyusui.

e. Wanita gemuk Dengan menurunkan berat badan, level estrogen tubuh akan turun pula. f. Preparat hormon estrogen : Penggunaan preparat selama atau lebih dari 5 tahun. g. Faktor genetik Kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2 3 x lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita kanker payudara. (Erik T, 2005, hal : 43-46).  Anatomi fisiologi payudara i. Anatomi payudara Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus laktiferus, ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan. Pengaliran limfa dari payudara kurang lebih 75% ke aksila. Sebagian lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.

ii.

Fisiologi payudara Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan

pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas pengaruh ekstrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus. Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang. Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru. Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu. (Samsuhidajat, 1997, hal : 534-535)  Patofisiologi Kanker payudara bukan satu-satunya penyakit tapi banyak, tergantung pada jaringan payudara yang terkena, ketergantungan estrogennya, dan usia permulaannya. Penyakit payudara ganas sebelum menopause berbeda dari penyakit payudara ganas sesudah masa menopause (postmenopause). Respon

dan prognosis penanganannya berbeda dengan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Beberapa tumor yang dikenal sebagai estrogen dependent mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe ekstrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak manual pada jarngan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia. Kehadiran tumor Estrogen Receptor Assay (ERA) pada jaringan lebih tinggi dari kanker-kanker payudara hormone dependent. Kanker-kanker ini memberikan respon terhadap hormone treatment (endocrine chemotherapy, oophorectomy, atau adrenalectomy). (Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1589) 2.3 TANDA DAN GEJALA Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan payudara di sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki pinggiran yang tidak teratur. Pada stadium awal, jika didorong oleh jari tangan, benjolan bisa digerakkan dengan mudah di bawah kulit. Pada stadium lanjut, benjolan biasanya melekat pada dinding dada atau kulit di sekitarnya. Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang membengkak atau borok di kulit payudara. Kadang kulit diatas benjolan mengkerut dan tampak seperti kulit jeruk. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan adalah benjolan atau massa di ketiak, perubahan ukuran atau bentuk payudara, keluar cairan yang abnormal dari puting susu (biasanya berdarah atau berwarna kuning sampai hijau, mungkin juga bernanah), perubahan pada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu maupun areola (daerah berwana coklat tua di sekeliling puting susu), payudara tampak kemerahan, kulit di sekitar puting susu bersisik, puting susu tertarik ke dalam atau terasa gatal, nyeri payudara atau

pembengkakan salah satu payudara. Pada stadium lanjut bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan, pembengkakan lengan atau ulserasi kulit.

 Klasifikasi kanker payudara Tumor primer (T) 1. Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan 2. To : Tidak terbukti adanya tumor primer 3. Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor 4. T1 : Tumor < 2 cm T1a : Tumor < 0,5 cm T1b : Tumor 0,5 1 cm T1c : Tumor 1 2 cm

5. T2 : Tumor 2 5 cm 6. T3 : Tumor diatas 5 cm 7. T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorax atau kulit. T4a : Melekat pada dinding dada T4b : Edema kulit, ulkus, peau dorange, satelit T4c : T4a dan T4b T4d : Mastitis karsinomatosis  Nodus limfe regional (N) 1. Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan 2. N0 : Tidak teraba kelenjar axila 3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat. 4. N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu sama lain atau melekat pada jaringan sekitarnya. 5. N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral  Metastas jauh (M) 1. Mx : Metastase jauh tidak dapat ditemukan 2. M0 : Tidak ada metastase jauh 3. M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula

STADIUM Kanker Payudara : 1. Stadium I : tumor kurang dari 2 cm, tidak ada limfonodus terkena (LN) atau penyebaran luas. 2. Stadium IIa : tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak ada penyebaran jauh. Tumor kurang dari 2 cm dengan keterlibatan LN 3. Stadium IIb : tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor lebih besar dari 5 cm tanpa keterlibatan LN

4. Stadium IIIa : tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. semua tumor dengan LN terkena, tidak ada penyebaran jauh 5. Stadium IIIb : semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding dada atau kulit semua tumor dengan edema pada tangan atau keterlibatan LN supraklavikular. 6. Stadium IV : semua tumor dengan metastasis jauh. (Setio W, 2000, hal : 285)

2.4 PATOFLOW

2.5 PENCEGAHAN Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan di payudaranya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi, payudara agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan adalah sebagai berikut : a. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke dokter. b. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara. c. Bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah, dan periksa lagi. d. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah apakah ada benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau

pembengkakan pada ketiak kiri. e. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan

(www.vision.com jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Ramadhan) 2.6 PENANGANAN  Pembedahan a. Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena). b. Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor. c. Mastektomi radikal yang dimodifikasi d. Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial e. Mastektomi radikal : Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya : seluruh isi aksial. f. Mastektomi radikal yang diperluas Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.  Non pembedahan a. Penyinaran Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut; pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila. b. Kemoterapi Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut. c. Terapi hormon dan endokrin Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen,

antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi. (Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1596 1600).

2.7 PENATALAKSANAAN Biasanya pengobatan dimulai setelah dilakukan penilaian secara menyeluruh terhadap kondisi penderita, yaitu sekitar 1 minggu atau lebih setelah biopsi. Pengobatannya terdiri dari pembedahan, terapi penyinaran, kemoterapi dan obat penghambat hormon. Terapi penyinaran digunakan untuk membunuh sel-sel kanker di tempat pengangkatan tumor dan daerah sekitarnya, termasuk kelenjar getah bening. Kemoterapi (kombinasi obat-obatan untuk membunuh sel-sel yang berkembangbiak dengan cepat atau menekan perkembangbiakannya) dan obatobat penghambat hormon (obat yang mempengaruhi kerja hormon yang menyokong pertumbuhan sel kanker) digunakan untuk menekan pertumbuhan sel kanker di seluruh tubuh.

BAB III TINJAUAN KASUS 3.1 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN y PENGKAJIAN KEPERAWATAN Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara, pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, serta review catatan sebelumnya. Langkah-langkah pengkajian yang sistemik adalah pengumpulan data, sumber data, klasifikasi data, analisa data dan diagnosa keperawatan. a. Pengumpulan data Adalah bagian dari pengkajian keperawatan yang merupakan landasan proses keperawatan. Kumpulan data adalah kumpulan informasi yang bertujuan untuk mengenal masalah klien dalam memberikan asuhan keperawatan . b. Sumber data Data dapat diperoleh melalui klien sendiri, keluarga, perawat lain dan petugas kesehatan lain baik secara wawancara maupun observasi.Data yang disimpulkan meliputi :  Data biografi /biodata

Meliputi identitas klien dan identitas penanggung antara lain : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan dan alamat.  Riwayat keluhan utama.

Riwayat keluhan utama meliputi : adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak, nyeri.  Riwayat kesehatan masa lalu 1. Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. 2. Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama .  Pengkajian fisik meliputi : 1. 2. 3. 4.  Keadaan umum Tingkah laku BB dan TB Pengkajian head to toe

Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan darah hemoglobin biasanya menurun, leukosit meningkat, trombosit meningkat jika ada penyebaran ureum dan kreatinin.

 

Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan kreatinin meningkat. Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita carsinoma mammae adalah sinar X, ultrasonografi, xerora diagrafi, diaphanografi dan pemeriksaan reseptor hormon.

 

Pengkajian pola kebiasaan hidup sehari-hari meliputi : Nutrisi Kebiasaan makan, frekuensi makan, nafsu makan, makanan pantangan, makanan yang disukai, banyaknya minum. Dikaji riwayat sebelum dan sesudah masuk RS.

Eliminasi Kebiasaan BAB / BAK, frekuensi, warna, konsistensi, sebelum dan sesudah masuk RS.

Istirahat dan tidur Kebiasaan tidur, lamanya tidur dalam sehari sebelum dan sesudah sakit.

c. Klasifikasi Data Data pengkajian : o Data subyektif




Data yang diperoleh langsung dari klien dan keluarga, mencakup hal-hal sebagai berikut : klien mengatakan nyeri pada payudara, sesak dan batuk, nafsu makan menurun, kebutuhan sehari-hari dilayani di tempat tidur, harapan klien cepat sembuh, lemah, riwayat menikah, riwayat keluarga.

o Data obyektif  Data yang dilihat langsung atau melalui pengkajian fisik atau penunjang meliputi : asimetris payudara kiri dan kanan, nyeri tekan pada payudara, hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik. d. Analisa Data Merupakan proses intelektual yang merupakan kemampuan pengembangan daya pikir yang berdasarkan ilmiah, pengetahuan yang sama dengan masalah yang didapat pada klien. e. Diagnosa Keperawatan 1) Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor. 2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu. 3) Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh. 4) Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah 5) Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi. 6) Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan informasi. penyakitnya berhubungan dengan kurangnya

7) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat. f. Perencanaan Perencanaan keperawatan adalah pengembangan dari pencatatan

perencanaan perawatan untuk memenuhi kebutuhan klien yang telah diketahui.Pada perencanaan meliputi tujuan dengan kriteria hasil, intervensi, rasional, implementasi dan evaluasi. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor ditandai dengan : 1. DS : - Klien mengeluh nyeri pada sekitar payudara sebelah kiri menjalar ke kanan. 2. DO : - Klien nampak meringis - Klien nampak sesak - Nampak luka di verban pada payudara sebelah kiri Tujuan : Nyeri teratasi. Kriteria : 1) Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang 2) Nyeri tekan tidak ada 3) Ekspresi wajah tenang 4) Luka sembuh dengan baik Intervensi : 1) Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.

Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya. 2) Beri posisi yang menyenangkan. Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri. 3) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam. Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan. 4) Ukur tanda-tanda vital Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri. 5) Penatalaksanaan pemberian analgetik Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu.Ditandai dengan :  DS : - Klien mengeluh sakit jika lengan digerakkan. - Klien mengeluh badan terasa lemah. - Klien tidak mau banyak bergerak.  DO : - klien tampak takut bergerak.

Tujuan : Klien dapat beraktivitas Kriteria : - Klien dapat beraktivitas sehari hari.

- Peningkatan kekuatan bagi tubuh yang sakit. Intervensi : 6) Latihan rentang gerak pasif sesegera mungkin. Rasional : Untuk mencegah kekakuan sendi yang dapat berlanjut pada keterbatasan gerak. 7) Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan Rasional : Menghemat energi pasien dan mencegah kelelahan. 8) Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur. Rasional : Untuk menghindari ketidakseimbangan dan keterbatasan dalam gerakan dan postur. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.Ditandai dengan : 1. DS :
y y y

Klien mengatakan takut ditolak oleh orang lain. Ekspresi wajah tampak murung. Tidak mau melihat tubuhnya.

2. DO : klien tampak takut melihat anggota tubuhnya. Tujuan : Kecemasan dapat berkurang. Kriteria : 1. Klien tampak tenang 2. Mau berpartisipasi dalam program terapi 3. Intervensi :

1. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya. Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan, sehingga pasien dapat membuat rencana untuk masa depannya. 2. Diskusikan tanda dan gejala depresi. Rasional : Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan dapat dikenali dan diukur. 3. Diskusikan tanda dan gejala depresi Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan gambaran diri, takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap perubahan tubuh. 4. Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau pemakaian prostetik. Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang lengkap, mendekati normal. 5. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah Ditandai dengan : 1) DS : klien mengatakan malu dengan keadaan dirinya 2) DO : - Klien jarang bicara dengan pasien lain - Klien nampak murung. Tujuan : klien dapat menerima keadaan dirinya.

Kriteria : o Klien tidak malu dengan keadaan dirinya. o Klien dapat menerima efek pembedahan. Intervensi : 9) Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap penyakitnya. Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah. 10) Tinjau ulang efek pembedahan Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai proses adaptasi. 11) Berikan dukungan emosi klien. Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya. 12) Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien. Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi. Ditandai dengan : DS : Klien mengeluh nyeri pada daerah sekitar operasi. DO : Adanya balutan pada luka operasi. Terpasang drainase

Warna drainase merah muda Tujuan : Tidak terjadi infeksi. Kriteria :1.Tidak ada tanda tanda infeksi. 2.Luka dapat sembuh dengan sempurna. Intervensi : 13) Kaji adanya tanda tanda infeksi. Rasional : Untuk mengetahui secara dini adanya tanda tanda infeksi sehingga dapat segera diberikan tindakan yang tepat. 14) Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur tindakan. Rasional : Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi. 15) Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik. Rasional : Untuk menghindari kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi 16) Penatalaksanaan pemberian antibiotik. Rasional : Menghambat perkembangan kuman sehingga tidak terjadi proses infeksi.Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta

pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi. Ditandai dengan : DS : Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. DO : Ekspresi wajah murung/bingung.

Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya. Kriteria :1.Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya. 2.Klien dapat memahami tentang proses penyakitnya dan

pengobatannya. Intervensi : 17) Jelaskan tentang proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan datang. Rasional : Memberikan pengetahuan dasar, dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi, dan dapat berpartisipasi dalam program terapi. 18) Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makanan dan pemasukan cairan yang adekuat. Rasional : Memberikan nutrisi yang optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk mengingatkan regenerasi jaringan atau proses penyembuhan. 19) Anjurkan untuk banyak beristirahat dan membatasi aktifitas yang berat. Rasional : Mencegah membatasi kelelahan, meningkatkan penyembuhan, dan meningkatkan perasaan sehat. 20) Anjurkan untuk pijatan lembut pada insisi/luka yang sembuh dengan minyak. Rasional : Merangsang sirkulasi, meningkatkan elastisitas kulit, dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan rasa pantom payudara. 21) Dorong pemeriksaan diri sendiri secara teratur pada payudara yang masih ada. Anjurkan untuk Mammografi.

Rasional

Mengidentifikasi

perubahan

jaringan

payudara

yang

mengindikasikan terjadinya/berulangnya tumor baru. 22) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, ditandai dengan : DS : Klien mengeluh nafsu makan menurun Klien mengeluh lemah. DO : -Setengah porsi makan tidak dihabiskan. -Klien nampak lemah. -Nampak terpasang cairan infus 32 tetes/menit. -Hb 10,7 gr %. Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria :1.Nafsu makan meningkat 2.Klien tidak lemah 3.Hb normal (12 14 gr/dl) Intervensi : i. Kaji pola makan klien

Rasional : Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi klien dan merupakan asupan dalam tindakan selanjutnya. ii. Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering

Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi sedikit. iii. Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.

Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan. iv. Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.

Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga. v. Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien

Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.

Implementasi

Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dimana rencana keperawatan dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan, pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan klien. Agar implementasi perencanaan dapat tepat waktu dan efektif terhadap biaya, pertama-tama harus mengidentifikasi prioritas perawatan klien, kemudian bila perawatan telah dilaksanakan, memantau dan mencatat respons pasien terhadap setiap intervensi dan mengkomunikasikan informasi ini kepada penyedia perawatan kesehatan lainnya. Kemudian, dengan menggunakan data, dapat mengevaluasi dan merevisi rencana perawatan dalam tahap proses keperawatan berikutnya.

Evaluasi

Tahapan evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang diinginkan dan respons pasien terhadap dan keefektifan intervensi keperawatan kemudian mengganti rencana perawatan jika diperlukan. Tahap akhir dari proses keperawatan perawat mengevaluasi kemampuan pasien ke arah pencapaian hasil.

DAFTAR PUSTAKA Doenges M., (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta Dixon M., dkk, (2005), Kelainan Payudara, Cetakan I, Dian Rakyat, Jakarta. Mansjoer, dkk, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta. Sjamsuhidajat R., (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta Tapan, (2005), Kanker, Anti Oksidan dan Terapi Komplementer, Elex Media Komputindo, Jakarta.