Anda di halaman 1dari 14

TEKNIK PRODUKSI MASSAL CACING TUBIFEX

Cacing Tubifex sp dikenal dengan nama cacing sutera maupun cacing rambut merupakan pakan alami yang belum tergantikan keberadaannya. Sejauh ini usaha budidaya cacing-cacing sutera belum banyak dilakukan dan hanya mengandalkan pasokan dari alam. Istilah produksi massal cacing tubifex adalah upaya menumbuhkan dan

mengembangbiakan cacing ini di dalam tempat (media) pemeliharaan yang terkontrol, berupa kubangan tanah berlumpur dan tergenang air. TAHAPAN KEGIATAN PRODUKSI CACING TUBIFEX SP: 1. SIAPKAN LAHAN : Lahan yang digunakan berupa saluran drainase permanen yan berukuran panjang 10 m, lebar 20 cm, dan tinggi (kedalaman ) 15 cm. 2. PEMBUATAN MEDIA KULTUR : Bahan yang digunakan sebagai media kultur terdiri dari lumpur, pupuk kandang, dedak halus, tepung ikan serta pakan buatan. Bahan yang telah disiapkan dicampur rata dan ditaruh secara merata pada tempat kultur yang sebelumnya telah dibuatkan sekat yang terbuat dari papan sebagai penahan lumpur. 3. MASUKKAN AIR SECARA PERLAHAN pada media kultur dengan mengalir. Media dibiarkan sampai 4 atau 5 hari untuk menghilangkan gas yang dihasilkan oleh pupuk kandang. 4. PENEBARAN BIBIT.Bibit tubifex sebanyak 200 gr dimasukkan ke dalam ember atau baskom kemudian disiram air agar gumpalan buyar. Cacing tubifex yang sudah terurai ini kemudian ditebar ke seluruh permukaan di media budidaya secara merata. Seterusnya atur aliran air yang masuk ke dalam media terus dikontrol jangan sampai tempat budidaya kering atau kelebihan air. 5. PASANG PAPAN PENUTUP di atas media kultur untuk menghindari cahaya matahari langsung. 6. PEMELIHARAAN . Masa pemeliharaan cacing tubifex sekitar 3-4 minggu. Bila kondisi lingkungan cocok dan jumlah pakannya cukup, bibit cacing itu akan berkembang pesat dan dapat dipanen setiap 5 hari sekali. 7. PANEN. Panen dilakukan dengan cara cacing tubifex diambil dengan tangan beserta lumpurnya. Kemudian ditaruh dalam seser larva yang halus dan dicuci di air mengalir. Dan lebih baiknya dicuci di atas media budidaya agar lumpurnya bias dimanfaatkan lagi. Cacing tubifex yang sudah dicuci tapi belum begitu bersih ditaruh di talang atau pada kotak steroform dan diisi

air setinggi 2-3 mm di atas gumpalan cacing dan lumpur, dan di atasnya ditaruh kain strimin. Tutup talang atau steroform selama 2-3 jam, maka cacing akan terpisah dari lumpur dan kotoran lainnya. Selanjutnya cacing yang sudah bersih disimpan pada steroform ayang dialiri air secara terus menerus.

Dhapnia Daphnia seringkali dikenal sebagai kutu air karena kemiripAn bentuk dan cara bergeraknya yang menyerupai seekor kutu. Pada kenyataannya daphnia termasuk dalam golongan udang-udangan dan tidak ada hubugannya dengan kutu secara taxonomi. Daphnia merupakan udang-udangan renik air tawar darigolongan brachiopoda. Mereka bisa dikatakan masih saudara dengan artemia,meskipun gerakannya tampak meloncat seperti seekor kutu sebenarnya binatang ini berenang dengan menggunakan kakinya (sering disebut antena). Daphnia merupakan sumber pakan bagi ikan kecil, burayak dan juga ikan kecil lainnya. Kandungan proteinnya bisa mencapai lebih dari 70% kadar bahan kering. Secara umum dapat dikatakan terdiri dari 95% air, 4% protein, 0.54%lemak, 0.67% karbohidrat dan 0.15% abu. Kepopulerannya sebagai pakan ikan selain karena kandungan gizi serta ukurannya adalah karena kemudahannya dibudidayakan sehingga dapat tersedia dalam jumlah mencukupi setiap saat.Adapun klasifikasi dari daphnia (menurut Mller, 1785), antara lain : Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Subfilum : Crustacea Klass : Branchiopoda Ordo : Cladocera Famili : Daphniidae Genus : Daphnia Spesies : Daphnia

Siklus Hidup Daphnia merupakan udang-udangan yang telah beradaptasi pada kehidupan badan perairan yang secara periodik mengalami kekeringan. Oleh karena itu, dalam perkembang biakannya (seperti halnya Artemia) dapat dihasilkan telur berupa kista maupun anak yang "dilahirkan". Telur berupa kista ini dapat bertahan sedemikian rupa terhadap kekeringan dan dapat tertiup angin kemana-mana, sehingga tidak mengherankan kalau tiba-tiba dalam genangan air disekitar rumah kita ditemukan Daphnia. Dalam keadaan normal, dimana kualitas air sesuai dan jumlah

pakancukup maka daphnia akan menghasilkan keturunannya tanpa perkawinan (aseksual/ parternogenesis). Dalam kondisi demikian hampir semua Daphnia yang ada adalah betina. Telur yang tidak dibuahi ini berkembang sedemikian rupa dalam kantung telur di tubuh induk, kemudian berubah menjadi larva. Seekor Daphnia betina bisa menghasilkan larva setiap 2 atau 3 hari sekali. Dalam waktu 60 hari/ekor betina bisa menghasilkan 13 milyar keturunan, yang semuanyabetina. Tentu saja tidak semua jumlah ini bisa sukses hidup hingga dewasa, keseimbangan alam telah mengaturnya sedemikian rupa dengan diciptakannya berbagai musuh alami Daphnia untuk mengendalikan populasi mereka. Daphniamuda mempunyai bentuk mirip dengan bentuk dewasanya tetapi belum dilengkapidengan "antena" yang panjang.Apabila kondisi lingkungan hidup tidak memungkinkan dan cadanganpakan menjadi sangat berkurang, beberapa Daphnia akan memproduksi telurberjenis kelamin jantan. Kehadiran jantan ini diperlukan untuk membuahi telur,yang selanjutnya akan berubah menjadi telur tidur (kista/aphippa). Seekor jantan bisa membuahi ratusan betina dalam suatu periode. Telur hasil pembuahan ini mempunyai cangkang tebal dan dilindungi dengan mekanisme pertahanan terhadap kondisi buruk sedemikian rupa. Telur tersebut dapat bertahan dalam lumpur, dalam es, atau bahkan kekeringan. Telur ini bisa bertahan selama lebihdari 20 tahun dan menetas setelah menemukan kondisi yang sesuai. Selanjutnyamereka hidup dan berkembang biak secara aseksual. Dan begitu seterusnya.

Persyaratan hidup Daphnia hidup pada selang suhu 18-240C, selang suhu ini merupakan suhu optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan daphnia. Diluar selang tersebut daphnia akan cenderung dorman. Daphnia membutuhkan PH sedikit alkalin yaitu antara 6.7 sampai 9.2. Seperti halnya hewan akuatik lainnya, pH tinggi dan kandunan ammonia tinggi akan menyebabkan daphnia mengalami kematian, oleh karena itu tingkat ammonia perlu dijaga dengan baik dalam suatu system budidaya. Seluruh spesies daphnia diketahui sangat sensitive terhadap ion-ionlogm seperti Mn, Zn dan Cu, dan bahan beracun terlarut lain seperti pestisida,bahan pemutih dan deterjen. Daphnia merupakan filter feeder, artinya mereka "memfilter" air untuk medapatkan pakannya berupa mahluk-mahluk bersel tunggal seperti algae, dan jenis protozoa lain serta detritus organik. Selain itu, mereka juga membutuhkan vitamin dan mineral dari dalam air. Mineral yang harus

ada dalam air adalah Kalsium, unsur ini sangat dibutuhkan dalam pembentukan "cangkang"nya. Olehkarena itu, dalam wadah pembiakan akan lebih baik apabila di tambahkanpotongan batu kapur, karang (koral) batu apung dan sejenisnya. Selain dapatmeningkatkan pH bahan tersebut akan memberikan suplai kalsium yang cukupbagi Daphnia. Beberapa jenis kotoran hewan yang sering dijadikan "media"

tumbuh Daphnia seringkali telah mengandung kalsium dalam jumlah cukup,dalam kondisi demikian kalsium tidak perlu lagi ditambahkan.Daphnia diketahui toleran dengan kadar oksigen terlarut rendah. Padakondisi untuk dengan kadar oksigen terlarut rendah, oksigen mereka dalam akan tubuh

membentuk hemoglobin

membantu

pendistribusian

mereka.Kehadiaran hemoglobin ini sering menyebabkan Daphnia berwarna merah. Hal initidak akan terjadi apabila kadar oksigen terlarut cukup. (Warna Daphnia seringkaliditentukan oleh jenis pakan yang dikonsumsi, sebagai contoh apabila merekamengkonsumsi algae, maka tubuhnya akan cenderung berwarna hijau).Suplai oksigen dapat diberikan pada kultur untuk menjamin kadar oksigenyang memadai. Oksigen dapat diberikan dalam bentuk gelembung besar, tanpamelalui distributor seperti batu berpori

Artemia merupakan kelompok udang-udangan dari phylum Arthropoda.Mereka berkerabat dekat dengan zooplankton lain seperti copepod dan daphnia(kutu air). Artemia hidup di danau-danau garam (berair asin) yang ada di seluruhdunia. Udang ini toleran terhadap selang salinitas yang sangat luas, mulai darinyaris tawar hingga jenuh garam. Secara alamiah salinitas danau dimana merekahidup sangat bervariasi, tergantung pada jumlah hujan dan penguapan yangterjadi. Apabila kadar garam kurang dari 6% telur artemia akan tenggelamsehingga telur tidak bisa menetas, hal ini biasanya terjadi apabila air tawar banyak masuk kedalam danau di musim penghujan. Sedangkan apabila kadar garam lebihdari 25% telur akan tetap berada dalam kondisi tersuspensi, sehingga dapatmenetas dengan normal.Adapun klasifikasi dari artemia antara lain : Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Subphylum : Crustacea Class : Branchiopoda Order : Anostraca Family : Artemiidae Genus : Artemia Spesies : Artemia salina Gambar 1 : Artemia jantan dan artemia betina (Golden Gate Frozen Brine Shrimp)

51.

Siklus HidupSiklus hidup artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur.Setelah 1520 jam pada suhu 25C kista akan menetas manjadi embrio. Dalamwaktu beberapa jam embrio

ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Padafase ini embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadinaupli yang sudah akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarnaorange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang barumenetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengansempurna. Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki tahaplarva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupamikro alga, bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli (tidak pemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahantersebut tersedia diair dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulitsebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasarata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepatmereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. Pada kondisi demikianBiomasnya akan mencapi 500 kali dibandingakan biomas pada fase naupli.Gambar 2 : Siklus hidup artemia(FAO Corporate Document Repsitory)

6Dalam tingkat salinitas rendah dan dengan pakan yang optimal, betinaArtemia bisa mengahasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masahidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10-11 kali. Dalam kondisi super ideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan danmemproduksi nauplii atau kista sebanyak 300 ekor (butir) per 4 hari. Kista akanterbentuk apabila lingkungannya berubah menjadi sangat salin dan bahan pakanasangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang dan malam

hari.Artemia dewasa toleran terhadap selang suhu -18 hingga 40C. Sedangkantempertur optimal untuk penetasan kista dan pertubuhan adalah 25-30C.Meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemiamenghendaki kadar salinitas antara 30-35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam airtawar salama 5 jam sebelum akhirnya mati.Variable lain yang penting adalah pH, cahaya dan oksigen. pH denganselang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 ataulebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal diperlukan dalamproses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi pertumbuhan mereka.Lampu standar grow-lite sudah cukup untuk keperluan hidup2.

Penetasan Kista ArtemiaKista artemia dapat ditetaskan secara optimal, apabila sarat-sarat yangdiperlukannya dapat dipenuhi. Beberapa syarat tersebut adalah:

a)Salinitas antara 20-30 ppt (parts per thousand) atau 1-2 sendok tehgaram per liter air tawar. Untuk buffer bisa ditambahkan magnesiumsulfate (20 % konsentrasi) atau 1/2 sendok teh per liter air. b)Suhu air 26-28C. c)Disarankan untuk memberikan sinar selama penetasan untuk merangsang proses. d) Aerasi yang cukup; untuk menjaga oksigen terlarut sekitar 3 ppm e)pH 8.0 atau lebih, apabila pH drop dibawah 7.0 dapat ditambahkansoda kue untuk menaikkan pH. f)Kepadatan sekitar 2 gram per liter.7 g)Sebelumnya dapat dilakukan proses dekapsulisasi untuk melunakancangkang

ROTIFERA Rotifera atau disebut juga hewan beroda, pertama kali diteliti oleh Antonio van Leeuwenhoek pada tahun 1675 yang menelitri tentang hewan-hewan air mikroskopis (Davis,1965). Rotifera juga pertama kali ditemukan oleh John Harris tahun 1696 yang waktu itu dikenal dengan nama bdelloid rotifer yaitu hewan mirip cacing. Rotifera adalah hewqan mikroskopis dengan struktur tubuh yang relatif sederhana. Dalam taksonomi hewan ini dikelompokkan dalam klass Rotifera ,dan memiliki tiga ordo, yaitu Monogonontida, Seisonoida, Bdelloida. Berikut klasifikasinya :
y y y y

Kingdom Filum Klass Ordo

: Animalia : Aschelmintes : Rotifera : Monogonontida, Seisonoida, Bdelloida

a. Monogonontida Memiliki beberapa famili, antara lain, 1. famili Brachionidae Contoh : Collotheca, Branchionus, Pedalia Spesies :
y y y y

Brochionus plicalitis Brachionus rubens Brachionus calicyflorus Brachionus quadridentatus

Genus Rhinogiena Spesies :


y y y

Trichocerca sp Asplanchna sp Anuraeopsis sp

2. Famili Collothecida 3. Famili Ploimida 4. Famili Flosculaariacea b. Seisonoida Contoh : Seison

c. Bdelloid Contoh : Rotifer, Rotatoria Struktur dan Bentuk Tubuh Rotifera

Struktur Tubuh Rotifera Rotifera berasal dari bahasa latin yang berarti roda pembawa, mereka juga dikenal dengan sebutan wheel animaculates (binatang beroda).Merupakan binatang cosmopolitan, banyak terdapat di air tawar, hidupnya soliter, berkoloni, dan sesil.Rotifera air tawar hidup pada tanaman air serta benda-benda dalam air .Beberapa jenis pelagis bentuknya menyerupai kantung, duri panjang, kaki menghilang atau dilipat.Rotifera yang bersifat epizoic atau ectoparasit , hidup pada insang crustacea kecil, sedangkan yang endoparasit hidup pada telur siput , helizoan, volvox, dan usus oligochaeta. Rotifera mempunyai ukuran tubuh 40 m 2,5 mm, rata- rata 200 m. Tubuh Rotifera di bagi menjadi tiga bagian , yaitu kepala (anterior) , badan (trunk) , dan kaki (posterior). Ciri-ciri umum :
y y y y y y

Merupakan hewan multiseluler Ukuran yang kecil sekitar 0,1-0,5 mm; 100-2500 micron Kecepatan renagn rendah Melayang dalam air Dapat dikultur pada kepadatan yang tinggi Pertumbuhan cepat dan berumur pendek

y y y

Dapat dilakukan pengayaan dengan asam lemak atau antibiotik yang dibutuhkan dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva Sangat toleran terhadap kondisi lingkungan Bersifat filter feeder, yaitu dapat menyaringt makanan dan air dengan menggunakan corona

1. Bagian anterior
y y y y y

Ditutupi lapisan kutikula, yang kadangkala ada hiasannya Adanya corona pada bagian anterior,bagian ini adalah yanga paling khas dari Rotifera Lingkaran cilia dibagian anterior diatas pedestal yang terbagi dua, disebut throcal disk Throcal disk bergerak membranela seperti dua roda yang berputar Throcal disk berfungsi untuk berenang dan makan , dan apabila tidak digunakan dimasukkan ke dalam

2. Bagian Trunk
y y y

Ada yang lurus, dan yang berbentuk bulat juga Terdapat 3 tonjolan kecil , 2 buah antena lateral dan sepasang antenna dorsal Adanya alat indera berupa rambut halus pada ujung antena

3. Bagian Posterior
y y y

Terdapat 1- 4 buah jari, pada rotifera jari ini berfungsi untuk menempel pada benda Mengandung 2 30 kelenjar perekat yang bermuara pada jari Pada rotifera sesil pedal gland (kelenjar kaki) berfungsi untuk membentuk cangkang.

4. Organ Sensori Organ sensori pada rotifera adalah sepasang mata yang berisi sel pigmen merah, selain sepasang mata, organ sensori yang lain adalah korona pada bagian belakang, dan lateral pada kaki 5. Mulut Mulut terdapat di bagian ventral dan dikelilingi sebagian korona ,berhubungan dengan pharynx atau mastax. Mastax ini berfungsi untuk menangkap dan mengelilingi makanan . Setelah memasuki bagian pharynx , kemudian makanan akan diteruskan ke dalam perut oleh saluran tubular osephagus yang menghubungkan pharynx dengan perut. 6. Alat Eksresi dan Otak Rotifera Alat exkresi pada rotifera terdiri dari 2 protonephridia, yang berfungsi sebagai osmoregulator , cairan buangannya setara dengan bobot binatang tersebut. Sedangkan otak rotifer merupakan suatu massa ganglion dorsal , terletak diatas mastax alat indera berupa sensory bristle, ciliated pit, dan mata .

7. Sistem Reproduksi Reproduksi Rotifera ialah reproduksi dioecious, yaitu individu jantan lebih kecil dari betina , proses kopulasi dengan hypodermic imphregnation ,terdapat 2 macam sperma : 1. Type pertama berfungsi dalam pembuahan 2. Type kedua berbentuk jarum berfungsi membantu sperma type pertama menembus dinding tubuh betina. Pada ordo monogonontida dan bdelloid tidak ada yang jantan , hanya menghasilkan telur yang menetas menjadi individu betina. Dihasilkan dua macam telur hasil parthenogenesis yaitu telur amictic dan mictic. Telur amictic bercangkang tipis , tidak dapat dibuahi , diploid dan menetas menjadi individu betina. Sedangkan telur mictic bercangkang tipis, haploid , apabila tidak dibuahi akan menetas menjadi jantan , apabila dibuahi menghasilkan cangkang yang tebal dan resisten terhadap lingkungan yang buruk disebut telur dorman. 8. Habitat Rotifera hidup pada perairan air tawar dan air payau. Rotifera air tawar hidup pada tanaman air serta benda-benda dalam air. Jenis pelagis bentuknya menyerupai kantung, duri panjang, kaki dilipat atau menghilang. Banyak terdapat pada permukaan tanaman air dan puing-puing. Konsumen penting yang utama pada ekosistem air. Mencapai kelimpahan terbesar di celah-celah basah pasir pantai. Rotifera yang bersifat epizoic atau ectoparasit hidup pada insang crustacea kecil, sedangkan yang endoparasit hidup pada telur siput , helizoan, volvox, dan usus olgochaeta. Rotifera jenis parasit kaki dan mastax mengalami modifikasi yaiitu sebagai alat pelekat dan corona mengecil. Peranan Rotifera dalam Bidang Kelautan Rotifera merupakan salah satu hewanmikroskopis yang sangat berperan dalam bidang Kelautan sebagai : 1. Sebagai pakan alami bagi pemeliharaan ikan. 2. Sebagai campuran dari bahan baku pakan ikan. Seperti: ragi roti. Gambar-gambar

rotifera