Anda di halaman 1dari 5

Ciri-Ciri Umum Golongan yang Meninggalkan Ahli Sunnah wal

Jamaah
06/28/2002 - Arsip Tauhid

Golongan yang meninggalkan Ahli Sunnah wal Jamaah mempunyai


cici-ciri secara umum sebagai berikut.

1. Tidak mengetahui kebenaran dan berhukum dengan hawa nafsu.


Orang-orang yang menyempal dari Ahli Sunnah wal Jamaah
disebabkan dua hal. Pertama, kerena jahil terhadap kebenaran,
sehingga memutuskan hukum berdasarkan prasangka atau
tanpa ilmu. Kedua, memperturutkan hawa nafsu sehingga dalam
menentukan hukum mereka bertindak zalim dan berbuat tidak
adil.
Kali pertama munculnya orang-orang yang keluar dari jama'ah
pada masa Rasulullah adalah ketika mereka melihat pembagian
hasil rampasan perang yang dilakukan oleh Rasulullah. Salah
seorang dari mereka berkata, " Hai Muhammad, berbuat adillah,
karena Anda telah berlaku tidak adil." Maka Nabi saw berkata
kepadanya, "Aku telah berbuat sia-sia dan rugi jika aku berlaku
tidak adil." Kemudian, sebagian sahabat berkata kepada Nabi,
"Wahai Rasulullah, biarlah aku potong leher orang munafik ini."
Lalu Nabi bersabda, "Sesungguhnya akan keluar dari tempat-
tempat ini suatu kaum yang salah seorang di antara kalian
meremehkan salatnya dan salat mereka, puasanya bersama
puasa mereka, dan bacaannya bersama bacaan mereka."

Jadi, awal munculnya bid'ah adalah mencela Sunah dengan


mengikuti prasangka hawa nafsu, sebagaimana iblis mencela
perintah Rabb-Nya dengan pendapatnya sendiri dan hawa
nafsunya.

2. Saling membenturkan pendapat mereka, bertafaruk, dan


bermusuhan.
Orang-orang yang memisahkan diri dari Ahli Sunah wal Jamaah
mempertahankan kebodohan dan hawa nafsu yang menyeret
mereka kepada pertikaian pendapat, saling memukul, dan
ikhtilaf (berselisih), disamping juga menyeret kepada
perpecahan (tafarruq) dan saling bermusuhan.

Setiap manusia dapat diikuti dan ditinggalkan ucapannya kecuali


Rasulullah saw. Lebih-lebih generasi mutaakhirin yang tidak
mengetahui Kitab dan Sunah, tidak bisa membedakan antara
hadis sahih dan cacat (dhaif) dan antara qiyas yang dapat
direima (maqbul) dan qiyas yang tidak dapat direima (mardud).
Selain itu, juga dikuasai oleh hawa nafsu, memperbanyak
pendapat, mempertajam ikhtilaf, menimbulkan perpecahan dan
permusuhan.

Penyebab-penyebab itulah yang memperkokoh kebodohan dan


kezaliman, dua hal yang telah disifati Allah dalam firman-Nya,
"Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya
manusia itu amat zalim dan amat bodoh." (Al-Ahzab: 72)

3. Bersikap berlebihan dalam beragama.


Faktor ini juga merupakan sebab orang-orang meninggalkan Ahli
Sunah wal Jamaah. Pada masa Rasulullah dan Khulafaur
Rasyidin banyak orang yang berlebih-lebihan dalam beragama
sehingga meninggalkan sunah. Meskipun banyak beribadah, Nabi
malah menyuruh memerangi mereka.

Di zaman sekarang banyak orang-orang seperti itu. Mereka


mengaku Ahli Sunah, padahal bukan dari golongan itu, bahkan
sebenarnya telah keluar dari golongan itu. Hal itu disebabkan
sikap berlebihan dalam beragama.

Firman Allah SWT yang artinya, "Wahai Ahli kitab, janganlah


kamu melampui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu
mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar." (An-Nisa': 171)

Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kamu melampui batas


(berlebihan) dalam agama, karena orang-orang sebelum kamu
telah binasa disebabkan sifat seperti itu." (HR Muslim)

4. Jahil terhadap kebenaran dan berperilaku munafik.


Orang-orang yang menyempal dari Ahli Sunah wal Jamaah
diantaranya adalah orang-orang yang jahil terhadap ad-dien
(agama), termasuk di dalamnya orang-orang munafik.
Adakalanya terjadi perselisihan dalam menjelaskan Alquran.
Kadang-kadang perselisihan itu terjadi di kalangan ulama-ulama
kaliber (mu'tabarin) dalam masalah ijtihad. Terkadang juga
perselisihan itu terjadi di kalangan orang-orang jahil terhadap
agama, atau orang-orang munafik, atau orang-orang yang setia
kepada golongan munafik. Allah telah memberi tahu bahwa di
antara kita ada segolongan orang yang setia kepada kaum
munafik.
Kebanyakan orang-orang jahil yang menyia-nyiakan kebenaran
dan menyimpangkan pembicaraan terdapat cabang
kemunafikan. Kedua kelompok ini berlaku sesat dan perkataan
mereka menjadi fitnah. Mereka meyakini bahwa apa yang
dikatakan mereka merupakan puncak tujuan ilmu agama,
sehingga orang-orang yang buta agama boleh jadi mengikuti
sebagian kesesatan mereka. Inilah hal-hal yang menyebabkan
perubahan pada agama-agama, kecuali dienul Islam yang akan
tetap terpelihara.

5. Fanatisme yang disertai perlakuan keji terhadap penentang


mereka.
Orang-orang yang menyempal dari Ahli Sunah wal Jamaah
melampui batas dalam menaati pribadi-pribadi tertentu tanpa
didasarkan pada ilmu dan keadilan. Mereka berlebih-lebihan
dalam fanatisme (ta'ashshub) terhadap persoalan-persoalan
yang diperbolehkan ijtihad disertai dengan tindakan keji dan
permusuhan terhadap penentang mereka.

Barangsiapa mencintai dan menyepakati seseorang selain


Rasulullah--yang sikap dan tindakannya sesuai dengan Alquran
dan Sunah--maka dia termasuk Ahli Sunnah wal Jamaah. Dan
barang siapa menentangnya, dia termasuk ahli bid'ah dan firqoh,
sebagaimana dijumpai pada kelompok-kelompok yang mengikuti
para imam dalam pembicaraan dan lainnya, padahal mereka
termasuk ahli bid'ah, sesat, dan tafarruq (pecah-belah).

Barangsiapa yang mendukung orang yang sejalan dengan


pendapatnya, memusuhi orang yang menentangnya, dan
memisahkan diri dari jamaah muslimin, kemudian menghukum
kafir dan fasiq orang-orang yang menentangnya yang tidak
selaras dengan pendapatnya dalam persoalan-persoalan ijtihad
dan berpendapat, serta menghalalkan darah mereka, maka ia
termasuk ahli tafarruq dan ikhtilaf (pemecah-belah jamaah).

6. Mengagung-agungkan seseorang atau pendapat yang dapat


memecah-belah umat.
Orang-orang yang menyempal dari Ahli Sunah mendukung dan
memusuhi orang lain disebabkan mereka mengagung-agungkan
seseorang selain Rasulullah, mengagungkan perkataan yang
bukan kalamullah, bukan sabda Rasulullah, serta bukan yang
telah disepakati umat.
Diriwayatkan dari Imam Malik rahimahullah bahwa Nabi saw
bersabda, "Jika terdapat sedikit ilmu maka akan muncul
kebencian dan kebatilan, dan jika pengetahuan atsar (hadits dan
riwayat) sedikit maka akan muncul berbagai kemauan hawa
nafsu. Oleh karena itu, akan didapati satu kaum yang jumlahnya
banyak, yang mencintai satu kaum dan membenci kaum lain
hanya berdasarkan nafsu, tanpa mengetahui makna dan
dalilnya. Bahkan mereka mendukung (umumnya) atau
memusuhi tanpa mengambil hadis sahih dari Nabi dan salaf
umat ini, tanpa memikirkan maknanya, tidak pula mengetahui
kewajiban dan ketentuannya."

Sebab itulah muncul pendapat-pendapat yang tidak berdasarkan


nash, kemudian dijadikan sebagai mazhab-mazhab yang
diserukan kepada orang lain agar mengikuti, mendukung,
memusuhi berdasarkan hal itu. Padahal telah ditagaskan dalam
hadis sahih bahwa Nabi saw pernah berkata di dalam
khotbahnya, "Sesungguhnya sebenar-benar kalam ( perkataan)
adalah kalamullah …."

Islam dibangun di atas kitabullah, sunah rasulullah dan ijma'


(konsesus) ulama. Inilah tiga sumber pokok yang terbebas dari
kesalahan. Oleh karena itu, segala sesuatu yang menjadi
perselisihan dikalangan umat ini, hendaknya dikembalikan
kepada Allah dan rasul-Nya.

7. Bertindak zalim, suka permusuhan, dan ceroboh.


Orang-orang yang menyempal dari Ahli Sunah wal Jamaah
bertindak berlebihan dan zalim, disamping ceroboh dan jahil.
Kebanyakan ahli bid'ah, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah,
Jahamiyah dan yang semisal mereka, meyakini suatu kesesatan
sebagai kebenaran, serta menganggap kafir orang yang
menentangnya. Maka muncullah dikalangan mereka orang yang
memiliki sifat kuat, seperti ahli kitab, dalam mengingkari
kebenaran dan menganiaya sesama manusia. Kebanyakan
mereka mengafirkan dengan perkataan yang sebenarnya tidak
mereka pahami hakikatnya dan tidak mengetahui hujjahnya.

Orang-orang yang menuduh kafir dengan cara batil sebenarnya


tidak mengetahui Ahli Sunah wal Jamaah sebagaimana
mestinya, atau kalaupun mereka mengetahuinya hanyalah
sebagian saja. Dan apa yang mereka ketahui mengenai Ahli
Sunah tidak dijelaskan kepada orang lain, bahkan mereka
menyembunyikannya. Mereka juga tidak mencegah perbuatan
bid'ah yang bertentangan dengan kitab dan sunah. Tidak pula
mencela ahli bid'ah dan memvonis mereka. Namun, anehnya,
mereka bahkan mencela pembicaraan tentang sunah dan
prinsip-prinsip ad-dien (agama) secara mutlak. Mereka tidak
membedakan antara apa yang ditunjukkan Alquran, Sunnah, dan
Ijma dengan apa-apa yang dikatakan ahli bid'ah dan ahli firqah.

8. Mengafirkan dan menuduh fasik penentang mereka dalam ijtihad


dan takwil.
Orang-orang yang menyempal dari Ahli Sunah wal Jamaah tidak
mau menerima ijtihad dan takwil yang bertentangan dengan
mereka. Bahkan, mereka cenderung meninggalkan sunah
dengan mengikuti keyakinan-keyakinan batil: mengkafirkan dan
menuduh fasik para penentang mereka. Kemudian,
menempatkan hal itu sebagai hukum yang mereka ada-adakan
untuk menghalalkan darah, harta, dan kehormatan lawan
mereka.
9. Menyejajarkan antara kesalahan dengan dosa.
Menurut Sunah dan Ijma, ahli bid'ah lebih buruk dibandingakan
ahli maksiat yang memperturutkan hawa nafsunya. Kaidah ini
ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang telah disebut
sebelumnya. Sesungguhnya dosa ahli maksiat disebabkan
karena melanggar sebagian larangan Allah, seperti mencuri,
berzina, minum khamr, memakan harta secara batil, dan lain-
lain. Sedangkan dosa-dosa ahli bid'ah disebabkan meninggalkan
apa-apa yang diperintahkan Allah (syariat), seperti mengikuti
sunah dan jamaah mukminin. Bila perbuatan ini disertai itikad
(keyakinan) yang diharamkan, seperti mengafirkan orang lain,
menuduh fasik, dan menganggap orang Islam yang berdosa
kekal di dalam neraka, maka dalam hal ini kedudukan mereka
terhadap Ahli Sunah bagaikan orang kafir terhadap orang
mukmin.
10.Mereka keluar dari sunah dan jamaah serta menuduh ahli
sunnah dengan cara zalim, keji, dan permusuhan.
Orang-orang yang menyempal dari Ahli Sunnah wal Jamaah
bertindak mendahului ketentuan Allah dan rasul-Nya.

Sumber: Ahlus Sunnah wal Jamaah Ma'alimul Inthilaqah al-Kubra,


Muhammad Abdul Hadi al-Mishri