Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Proses kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses persalinan Dalam proses kehamilan seorang ibu memiliki kehamilan resiko tinggi serta penyakit yang menyertai kehamilan seperti penyakit Hiperemesis Gravidarum merupakan keadaan dimana penderita mual dan muntah/tumpah yang berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat,sehingga mengganggu kesehatan dan pekerjaan sehari-hari (Arief.B, 2009). Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanitahamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya menjadi buruk karena terjadi dehidrasi (Mochtar, 1998).

B. Rumusan Masalah 1. Proses kehamilan dan perkembangan janin dalam kandungan 2. Perubahan fisik dan psikologis selama kehamilan 3. Asuhan keperawatan kehamilan normal 4. Asuhan Keperawatan Hiperemesis Gravidarum

BAB II PEMBAHASAN 2.1..PROSES KEHAMILAN DAN PERKEMBANGAN JANIN DALAM

KANDUNGAN Proses kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses persalinan. Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Usia kehamilan sendiri adalah 38 minggu, karena dihitung mulai dari tanggal konsepsi (tanggal bersatunya sperma dengan telur), yang terjadi dua minggu setelahnya. Dalam dunia kedokteran, proses kehamilan dibagi menjadi tiga fase sesuai dengan pertumbuhan fisik bayi. Masing-masing fase tersebut disebut trimester. 1. Trimester Pertama (Minggu 0 12) Dalam fase ini ada tiga periode penting pertumbuhan mulai dari periode germinal sampai periode terbentuknya fetus.

a. Periode Germinal (Minggu 0 3) Proses pembuahan telur oleh sperma yang terjadi pada minggu ke-2 dari hari pertama menstruasi terakhir. Telur yang sudah dibuahi sperma bergerak dari tuba fallopi dan menempel ke dinding uterus (endometrium). b. Periode Embrio (Minggu 3 8 ) Proses dimana sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai terbentuk seperti mata, mulut dan lidah mulai terbentuk, sedangkan hati mulai memproduksi sel darah. Janin mulai berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3 cm dengan kepala yang besar c. Periode Fetus (Minggu 9 12) Periode dimana semua organ penting terus bertumbuh dengan cepat dan saling berkaitan dan aktivitas otak sangat tinggi. 2. Trimester kedua (Minggu 12 24) Pada trimester kedua ini terjadi peningkatan

perkembangan janin. Pada minggu ke-18 kita bisa

melakukan pemeriksaan dengan ultrasongrafi (USG) untuk mengecek kesempurnaan janin, posisi plasenta dan kemungkinan bayi kembar. Jaringan kuku, kulit dan rambut berkembang dan mengeras pada minggu ke 20 21. Indera penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi. Kelopak mata sudah dapat membuka dan menutup. Janin (fetus) mulai tampak sebagai sosok manusia dengan panjang 30 cm. 3. Trimester ketiga (24 -40) Dalam trimester ini semua organ tubuh tumbuh dengan sempurna. Janin menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi seperti menendang atau menonjok serta dia sudah memiliki periode tidur dan bangun. Masa tidurnya jauh lebih lama dibandingkan masa bangun. Paru-paru berkembang pesat menjadi sempurna. Pada bulan ke-9 ini , janin mengambil posisi kepala di bawah dan siap untuk dilahirkan. Berat bayi lahir berkisar antara 3 -3,5 kg dengan panjang 50 cm. Untuk lebih jelasnya lihat Perkembangan bayi dalam kandungan (Sumber: Majalah Kesehatan).

2.2 PERUBAHAN FISIK DAN PSIKOLOGIS SELAMA KEHAMILAN 1. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester I a. Perubahan Fisik 1. Morning Sickness, mual dan muntah Hampir 50% wanita hamil mengalami mual dan biasanya mual dimulai sejak awal kehamilan. Mual muntah diusia muda disebut morning sickness tetapi kenyataannya mual muntah ini dapat terjadi setiap saat. Mual ini biasanya akan berakhir pada 14 mingggu kehamilan. Pada beberapa kasus dapat berlanjut sampai kehamilan trimester kedua dan ketiga. 2. Pembesaran Payudara Payudara akan membesar dan mengencang, karena terjadi peningkatan hormon kehamilan yang menimbulkan pelebaran pembuluh darah dan untuk mempersiapkan pemberian nutrisi pada jaringan payudara sebagai persiapan menyusui. 3. Sering buang air kecil Keinginan sering buang air kecil pada awal kehamilan ini dikarenakan rahim yang membesar dan menekan kandung kencing. Keadaan ini akan menghilang pada trimester II dan akan muncul kembali pada akhir kehamilan, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.
3

4. Konstipasi atau Sembelit Keluhan ini juga sering dialami selama awal kehamilan, karena peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan relaksasi otot sehingga usus bekerja kurang efisien. Adapun keuntungan dari keadaan ini adalah memungkinkan penyerapan nutrisi yang lebih baik saat hamil. 5. Sakit Kepala/Pusing Sakit kepala atau pusing sering dialami oleh pada ibu hamil pada awal kehamilan karena adanya peningkatan tuntutan darah ke tubuh sehingga ketika akan mengubah posisi dari duduk / tidur ke posisi yang lain (berdiri) tiba-tiba, sistem sirkulasi darah merasa sulit beradaptasi. Sakit kepala / pusing yang lebih sering daripada biasanya dapat disebabkan oleh faktor fisik maupun emosional. Pola makan yang berubah, perasaan tegang dan depresi juga dapat menyebabkan sakit kepala. 6. Kram Perut Kram perut saat trimester awal kehamilan seperti kram saat menstruasi di bagian perut bawah atau rasa sakit seperti ditusuk yang timbul hanya beberapa menit dan tidak menetap adalah normal. Hal ini sering terjadi karena adanya perubahan hormonal dan juga karena adanya pertumbuhan dan pembesaran dari rahim dimana otot dan ligamen merenggang untuk menyokong rahim. 7. Meludah Keinginan meludah yang terjadi pada ibu hamil yang terus menerus dianggap normal sebab hal ini termasuk gejala morning sickness. 8. Peningkatan Berat Badan Pada akhir trimester pertama wanita hamil akan merasa kesulitan memasang kancing / rok celana panjangnya, hal ini bukan berarti ada peningkatan berat badan yang banyak tapi karena rahim telah berkembang dan memerlukan ruang juga, dan ini semua karena pengaruh hormon estrogen yang menyebabkan pembesaran rahim dan hormon progresteron yang

menyebabkan tubuh menahan air (Suririnah, 2008) b. Perubahan Psikologis pada Trimester I (Periode Penyesuaian) 1. Ibu merasa tidak sehat dan kadang-kadang merasa benci dengan kehamilannya

2. Kadang muncul penolakan, kecemasan dan kesedihan. Bahkan kadang ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja 3. Ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil. Hal ini dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya 4. Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian dengan seksama 5. Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seseorang yang mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau bahkan merahasiakannya (Sulistyawati, 2009).

2. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester II a. Perubahan Fisik pada Trimester II 1. Perut semakin membesar Setelah usia kehamilan 12 minggu, rahim akan membesar dan melewati rongga panggul. Pembesaran rahim akan tumbuh sekitar 1 cm setiap minggu. Pada kehamilan 20 minggu, bagian teratas rahim sejajar dengan puser (umbilicus). Setiap individu akan berbeda-beda tapi pada kebanyakan wanita, perutnya akan mulai membesar pada kehamilan 16 minggu. 2. Sendawa dan buang angin Sendawa dan buang angin akan sering terjadi pada ibu hamil hal ini sudah biasa dan normal karena akibat adanya perenggangan usus selama kehamilan. Akibat dari hal tersebut perut ibu hamil akan terasa kembung dan tidak nyaman. 3. Rasa panas di perut Rasa panas diperut adalah keluhan yang paling sering terjadi selama kehamilan, karena meningkatnya tekanan akibat rahim yang membesar dan juga pengaruh hormonal yang menyebabkan rileksasi otot saluran cerna sehingga mendorong asam lambung kearah atas. 4. Pertumbuhan rambut dan kuku Perubahan hormonal juga menyebabkan kuku bertumbuh lebih cepat dan rambut tumbuh lebih banyak dan kadang di tempat yang tidak diinginkan, seperti di wajah atau di perut. Tapi, tidak perlu khawatir dengan rambut yang tumbuh tak semestinya ini, karena akan hilang setelah bayi lahir.

5. Sakit perut bagian bawah Pada kehamilan 18-24 minggu, ibu hamil akan merasa nyeri di perut bagian bawah seperti ditusuk atau tertarik ke satu atau dua sisi. Hal ini karena perenggangan ligamentum dan otot untuk menahan rahim yang semakin membesar. Nyeri ini hanya akan terjadi beberapa menit dan bersifat tidak menetap. 6. Pusing Pusing menjadi keluhan yang sering terjadi selama kehamilan trimester kedua, karena ketika rahim membesar akan menekan pembuluh darah besar sehingga menyebabkan tekanan darah menurun. 7. Hidung dan Gusi berdarah Perubahan hormonal dan peningkatan aliran darah ke seluruh tubuh termasuk ke daerah hidung dan gusi selama masa kehamilan akan menyebabkan jaringan disekitarnya menjadi lebih lembut dan lunak. Akibatnya, hidung dan gusi akan bisa berdarah ketika menyikat gigi. 8. Perubahan kulit Perubahan kulit timbul pada trimester ke-2 dan 3, karena melanosit yang menyebabkan warna kulit lebih gelap. Timbul garis kecoklatan mulai dari pusar ke arah bawah yang disebut linea nigra. Kecoklatan pada wajah disebut chloasma atau topeng kehamilan. Tanda ini dapat menjadi petunjuk kurangnya vitamin folat. Strecth mark terjadi karena peregangan kulit yang berlebihan, biasanya pada paha atas, dan payudara. Akibat peregangan kulit ini dapat menimbulkan rasa gatal, sedapat mungkin jangan menggaruknya. Strecth mark tidak dapat dicegah, tetapi dapat diobati setelah persalinan. Kulit muka juga akan menjadi lebih berminyak sehingga dapat menimbulkan jerawat. 9. Payudara Payudara akan semakin membesar dan mengeluarkan cairan yang kekuningan yang disebut kolostrum. Putting dan sekitarnya akan semakin berwarna gelap dan besar. Bintik-bintik kecil akan timbul disekitar putting, dan itu adalah kelenjar kulit. 10. Sedikit Pembengkakan Pembengkakan adalah kondisi normal pada kehamilan, dan hampir 40% wanita hamil mengalaminya. Hal ini karena perubahan hormon yang
6

menyebabkan tubuh menahan cairan. Pada trimester kedua akan tampak sedikit pembengkakan pada wajah dan terutama terlihat pada kaki bagian bawah dan pergelangan kaki. Pembengkakan akan terlihat lebih jelas pada posisi duduk atau berdiri yang terlalu lama (Suririnah, 2008) b. Perubahan Psikologis pada Trimester II (Periode Kesehatan Yang Baik). 1. Ibu merasa sehat, tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormone yang tinggi 2. Ibu sudah bisa menerima kehamilannya. 3. Merasakan gerakan anak 4. Merasa terlepas dari ketidaknyamanan dan kekhawatiran 5. Libido meningkat 6. Menuntut perhatian dan cinta 7. Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya 8. Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau pada orang lain yang baru menjadi ibu 9. Ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran, dan persiapan untuk peran baru (Sulistyawati, 2009)

3. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester III a. Perubahan Fisik pada Trimester III 1. Sakit bagian tubuh belakang Sakit pada bagian tubuh belakang (punggung-pinggang), karena

meningkatnya beban berat dari bayi dalam kandungan. 2. Konstipasi Pada trimester ini sering terjadi konstipasi karena tekanan rahim yang membesar kearah usus selain perubahan hormon progesteron. 3. Pernafasan Karena adanya perubahan hormonal yang memengaruhi aliran darah ke paru-paru, pada kehamilan 33-36 minggu, banyak ibu hamil akan merasa susah bernapas. Ini juga didukung oleh adanya tekanan rahim yang membesar yang berada di bawah diafragma (yang membatasi perut dan dada). Setelah kepala bayi turun kerongga panggul ini biasanya 2-3 minggu sebelum persalinan pada ibu yang baru pertama kali hamil akan merasakan
7

lega dan bernapas lebih mudah, dan rasa panas diperut biasanya juga ikut hilang, karena berkurangnya tekanan bagian tubuh bayi dibawah

diafragma/tulang iga ibu. 4. Sering buang air kecil Pembesaran rahim ketika kepala bayi turun ke rongga panggul akan makin menekan kandungan kencing ibu hamil. 5. Varises Peningkatan volume darah dan alirannya selama kehamilan akan menekan daerah panggul dan vena di kaki, yang mengakibatkan vena menonjol, dan dapat juga terjadi di daerah vulva vagina. Pada akhir kehamilan, kepala bayi juga akan menekan vena daerah panggul yang akan memperburuk varises. Varises juga dipengaruhi faktor keturunan. 6. Kontraksi perut Braxton-Hicks atau kontraksi palsu ini berupa rasa sakit di bagian perut yang ringan, tidak teratur, dan akan hilang bila ibu hamil duduk atau istirahat. 7. Bengkak Perut dan bayi yang kian membesar selama kehamilan akan meningkatkan tekanan pada daerah kaki dan pergelangan kaki ibu hamil, dan kadang membuat tangan membengkak. Ini disebut edema, yang disebabkan oleh perubahan hormonal yang menyebabkan retensi cairan. 8. Kram pada kaki Kram kaki ini timbul karena sirkulasi darah yang menurun, atau karena kekurangan kalsium (Suririnah, 2008). b. Perubahan Psikologis pada Trimester III a. Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik. b. Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu. c. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan, khawatir akan keselamatannya. d. Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang mencerminkan perharian dan kekhawatirannya. e. Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya. f. Merasa kehilangan perhatian
8

g. Perasaan mudah terluka (sensitif) h. Libido menurun (Sulistyawati, 2009)

2.3 ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN NORMAL 1. Pengkajian a. Riwayat Obstetri Memberikan intormasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya agar perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilan-sekarang. Riwayat Obstetri meliputi hal-hal di bawali ini. 1. Gravida, para-abortus, dan anak hidup (GPAH). 2. Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi. 3. Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong persalinan. 4. Jenis anestesi dan kesulitan persalinan. 5. Komplikasi maternal seperti diabetes, hiperlensi, infeksi, dan perdarahan. 6. Komplikasi pada bayi. 7. Rencana menyusui bayi. b. Riwayat Menstruasi Riwayat menstruasi yang lengkap diperlukan untuk menentukan taksiran persalinan (TP). TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP berdasarkan HPHT dapat digunakan rumus Naegle, yaitu Hari ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun disesuaikan. Contoh: HPHT 30 Agustus 2004 berarti TP tanggal 6 Juni 2005. Aturan Naegle lebih akurat dilakukan pada ibu dengan siklus menstruasi yang teratur dengan 28 hari, kurang akurat pada ibu dengan siklus menstruasi yang tidak teratur. c. Riwayat Kontrasepsi Beberapa bentuk konirasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu, atau keduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didlapatkan pada saat kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut saat kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan organ seksual janin.

d. Riwayat Penyakit dan Operasi Kondisi kronis (menahun/terus menerus) seperti DM, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu adanya penyakit infeksi, prosedur infeksi dan trauma pada persalinan sebelumnya harus didokumentasikan. e. Riwayat Kesehatan 1. Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi hal-hal sebagai berikut. y Usia, ras, dan latar belakang etnik (berhubungan dengan kelompok risiko tinggi untuk masalah genelis seperti anemia sickle sel, talasemia). y Penyakit pada masa kanak-kanak dan imunisasi. y Penyakit kronis (menahun/terus-menerus), seperti asma dan jantung. y Penyakit sebelumnya, prosedur operasi, dan ccdera (pelvis dan pinggang). y Infeksi sebelumnya seperti hepatitis, penyakit menular seksual, dan tuberkulosis. y Riwayat dan perawalan anemia. y Fungsi vesika urinaria dan bowel (fungsi dan perubahan). y Jumlah konsumsi katein tiap hari seperti kopi, teh, coklat, dan minuman ringanlainnya,Merokok (Jumlah batang per hari). y Kontak dengan hewan peliharaan seperti kucing dapat meningkatkan risiko terinfeksi toxoplasma. y Alergi dan sensitif dengan obat. y Pekerjaan yang berhubungan dengan risiko penyakit. 2. Riwayat keluarga. Memberikan informasi tentang kesehatan keluarga, termasuk penyakit kronis (menahun/terus--menerus) seperti diabetes melilus dan jantung, infeksi seperti tuberkulosis dan hepatitis, serta riwayat kongenital yang perlu dikumpulkan. 3. Riwayat kesehatan pasangan. Untuk menentukan kemungkinan masalah kesehatan yang berhubungan dengan masalah genetik, penyakit kronis, dan infeksi. Penggunaan obatobatan seperti kokain dan alkohol akan berpengaruh pada kemampuan
10

keluarga untuk menghadapi kehamilan dan persalinan. Rokok yang digunakan oleh ayah akan berpengaruh pada ibu dan janin, terutama mengalami komplikasi pernapasan akibat sebagai perokok pasif. Golongan darah dan tipe Rhesus ayah penting jika ibu dengan Rh negatif dan kemungkinan inkompabilitas darah dapat terjadi. 4. Pemeriksaan Fisik a. Tanda Tanda Vital 1). Tekanan darah Posisi pengambilan tekanan darah sebaiknya ditetapkan, karena posisi akan memengaruhi tekanan darah pada ibu hamil. Sebaiknya tekanan darah diukur pada posisi duduk dengan lengan sejajar posisi jantung. Pendokumentasian perlu dicatat posisi dan tekanan darah yang didapatkan. 2). Nadi Frekuensi nadi normalnya 60-90 kali per menit. Takikardi bisa terjadi pada keadaan cemas, hipertiroid, dan infeksi. Nadi diperiksa selama satu menit penuh untuk dapat menentukan keteraturan detak jantung. Nadi diperiksa untuk menentukan masalah sirkulasi tungkai, nadi seharusnya sama kuat dan teratur. 3). Pernapasan Frekuesi pernapasan selama hamil berkisar antara 16-24 kali per menit. Takipnea terjadi karena adanya infeksi pernapasan atau penyakit jantung. Suara napas hams sama bilateral, ekspansi paru simetris, dan lapangan paru bebas dari suara napas abdominal. 4). Suhu Suhu normal selama hamil adalah 36,2-37,6 C. Peningkatan suhu menandakan terjadi infeksi dan membutuhkan perawatan medis. b. Sistem Kardiovaskuler Bendungan vena Pemeriksaan sistem kardiovaskular adalah observasi terhadap bendungan vena, yang bisa berkembang menjadi varises. Bendungan vena biasanya terjadi pada tungkai, vulva, dan rektum

11

Edema Edema pada tungkai merupakan refleksi dari pengisian darah pada ekstremitas akibat perpindahan cairan intravaskular ke ruang intertisial. Ketika dilakukan penekanan dengan jari atau jempol menyebabkan terjadinya bekas tekanan, keadaan ini disebut pitting edema. Edema pada tangan dan wajah memerlukan pemeriksaan lanjut karena merupakan tanda dari hipertensi pada kehamilan. c. Sistem Muskuloskeletal 1). Postur Mekanik tubuh dan perubahan postur bisa terjadi selama kehamilan. Keadaan ini mengakibatkan regangan pada otot punggung dan tungkai. 2). Tinggi dan berat badan Berat badan awal kunjungan dibutuhkan sebagai data dasar untuk dapat menentukan kenaikan berat badan selama kehamilan. Berat badan sebelum konsepsi kurang dari 45 kg dan tinggi badan kurang dari 150 cm ibu berisiko melahirkan bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Berat badan sebelum konsepsi lebih dari 90 kg dapat menyebabkan diabetes pada kehamilan, hipertensi pada kehamilan, persalinan seksio caesarea, dan infeksi postpartum. 3). Pengukuran pelviks Tulang pelviks diperiksa pada awal kehamilan untuk menentukan diameternya yang berguna untuk persalinan per vaginam. 4). Abdomen Kontur, ukuran, dan tonus otot abdomen perlu dikaji. Tinggi fundus diukur jika fundus bisa dipalpasi diatas simfisis pubis. Kandung kemih harus dikosongkan sebelum pemeriksaan dilakukan untuk menetukan keakuratannya. Pengukuran metode Mc Donald dengan posisi ibu berbaring. d. Sistem neurologi Pemeriksaan neurologi lengkap tidak begitu diperlukan bila ibu tidak memiliki tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya masalah. Pemeriksaan refleks tendon sebaiknya dilakukan karena hiperefleksi menandakan adanya komplikasi kehamilan
12

e. Sistem Integumen Warna kulit biasanya sama dengan rasnya. Pucat menandakan anemis, jaundice menandakan gangguan pada hepar, lesi,

hiperpigmentasi seperti cloasma gravidarum, serta linea nigra berkaitan dengan kehamilan dan strie perlu dicatat. Penampang kuku ber warna merah muda menandakan pengisian kapiler baik. Sistem endokrin Pada trimester kedua kelenjar tiroid membesar, pembesaran yang berlebihan menandakan hipertiroid dan perlu pemeriksaan lebih lanjut. f. Sistem Gatsrointestinal Mulut Membran mukosa berwarna merah muda dan lembut. Bibir bebas dari ulserasi, gusi berwarna kemerahan, serta edema akibat efek peningkatan estrogen yang menyebabkan hiperplasia. Gigi terawat dengan baik, ibu dapat dianjurkan ke dokter gigi secara teratur karena penyakit periodontal menyebabkan infeksi yang memicu terjadinya persalinan prematur. Trimester kedua lebih nyaman bagi ibu untuk melakukan perawatan gigi. Usus Stetoskop yang hangat untuk memeriksa bising usus lebih nyaman untuk ibu hamil. Bising usus bisa berkurang karena efek progesteron pada otot polos, sehingga menyebabkan konstipasi. Peningkatan bising usus terjadi bila menderita diare. g. Sistem Urinarius Protein Protein seharusnya tidak ada dalam urine. Jika protein ada dalam urine, hal ini menandakan adanya kontaminasi sekret vagina, penyakit ginjal, serta hipertensi pada kehamilan. Glukosa Glukosa dalam jumlah yang kecil dalam urine bisa dikatakan normal pada ibu hamil. Glukosa dalam jumlah yang besar membutuhkan pemeriksaan gula darah.

13

Keton Keton ditemukan dalam urine setelah melakukan aktivitas yang berat atau pemasukan cairan dan makanan yang tidak adekuat. Bakteri Peningkatan bakteri dalam urine berkaitan dengan infeksi saluran kemih yang biasa terjadi pada ibu hamil. h. Sistem reproduksi 1). Ukuran payudara, kesimetrisan, kondisi puling, dan pengeluaran kolostrum perlu dicatat. Adanya benjolan dan tidak simetris pada payudara membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. 2). Organ reproduksi eksternal

2.4

HYPEREMESIS GRAVIDARUM

1. Definisi Hyperemesis adalah suatu kondisi yang dikarateristikkan mual dan muntah yang berlebihan diikuti dengan penurunan berat badan dan dehidrasi. Biasanya sering ditemui pada pasien yang diabetes berat, anoreksia nervosa atau bulimia, atau penyakit gastrointestinal seperti radang dinding lambung (Gilbert,Elizabeth Stepp,2011)

Mual dan muntah pada kehamilan belum diketahui penyebabnya secara pasti, namun dapat disebabkan oleh relaksasi otot perut dan peningkatan level estrogen, progesteron, dan human chorionic gonadotropin (hCG). Kehamilan yang disebabkan mual dan muntah lebih menguntungkan dibandingkan jika tidak terdapat gejala mual muntah (Gordon,2007)

Ketika terjadi muntah yang berlebihan selama kehamilan akan menyebabkan terjadinya penurunan berat badan, ketidakseimbangan elektrolit, defisiensi nutrisi, dan ketourinaria yang disebut dengan Hyperemesis Gravidarum.

2. Etiologi Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Beberapa teori telah dikemukakan sebagai penyebab, namun tidak satu pun yang menjelaskan tentang penyakit hyperemesis gravidarum. Hyperemesis gravidarum mungkin berhubungan
14

dengan peningkatan level estrogen atau hCG dan mungkin disebabkan oleh hypertyroid selama kehamilan. Disritmia lambung, aliran balik esophageal, dan penurunan motility lambung mungkin juga berpengaruh pada perkembangan penyakit hyperemesis gravidarum (Kelly & Savvides,2009)

Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan : a. primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. b. Faktor organik, yaitu alergi, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi, perubahan metabolik karena kehamilan, dan resistensi ibu yang menurun. c. Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, d. Faktor psikologik, memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup. e. Level hormon -hCG yang tinggi. Hormon ini meningkat cepat pada triwulan pertama kehamilan dan dapat memicu bagian dari otak yang mengontrol mual dan muntah f. Peningkatan level estrogen. Mempengaruhi bagian otak yang mengontrol mual dan muntah g. Perubahan saluran cerna. Selama kehamilan, saluran cerna terdesak karena memberikan ruang untuk perkembangan janin. Hal ini dapat berakibat refluks asam (keluarnya asam dari lambung ke tenggorokan) dan lambung bekerja lebih lambat menyerap makanan sehingga menyebabkan mual dan muntah h. Diet tinggi lemak. Risiko HG meningkat sebanyak 5 kali untuk setiap penambahan 15 g lemak jenuh setiap harinya i. Helicobacter pylori. Penelitian melaporkan bahwa 90% kasus kehamilan dengan HG juga terinfeksi dengan bakteri ini, yang dapat menyebabkan luka pada lambung.

15

3. Manifestasi klinis Wanita dengan hiperemesis gravidarum biasanya mengalami penurunan berat badan yang significant dan dehidrasi. Membran mukosa kering, penurunan tekanan darah, peningkatan denyut nadi, dan turgor kulit yang buruk. Biasanya tidak mampu memasukkan cairan normal lewat mulut. Tes laboratorium akan menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan elektrolit (Cashion, Lowdermilk Perry,2010)

Mual dan muntah berat terutama pada trimester pertama kehamilan, muntah setelah makan atau minum, kehilangan berat badan >5% dari bb ibu hamil sebelum hamil, (rata-rata kehilanagn bb 10%), dehidrasi, penurunan jumlah urine, sakit kepala, bingung, pingsan, jaundise, lab : proteinurine, ketonuria, urobilinogen. biasanya terjadi pada minggu ke 6-12.

Derajat hiperemesis gravidarum Hiperemesis gravidarum terbagi atas beberapa derajat sesuai dengan tanda dan gejala yang dialaminya, yaitu :

Derajat 1 Muntah terus menerus (muntah > 3-4 kali/hari, dan mencegah dari masuknya makanan atau minuman selama 24 jam) yang menyebabkan ibu menjadi lemah, tidak ada nafsu makan, berat badan turun (2-3 kg dalam 1-2 minggu), nyeri ulu hati, nadi meningkat sampai 100x permenit, tekanan darah sistolik menurun, tekanan kulit menurun dan mata cekung Derajat 2 Penderita tampak lebih lemah dan tidak peduli pada sekitarnya, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit kuning. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tekanan darah turun, pengentalan darah, urin berkurang, dan sulit BAB. Pada napas dapat tercium bau aseton Derajat 3 Keadan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat, dan tekanan darah turun. Pada jabang bayi dapat terjadi ensefalopati Wernicke dengan gejala: nistagmus, penglihatan ganda, dan perubahan mental. Keadaan ini akibat kekurangan zat makanan termasuk vitamin B kompleks. Jika sampai ditemukan kuning berarti sudah ada gangguan hati.
16

4. Patofisiologi Penyebab pasti terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat beberapa faktor predisposisi seperti : faktor hormon yaitu terjadi peningkatan kadar hormon estrogen dan human chorionic gonadotropin (hCG) ; faktor psikologi / psikosomatik dimana terjadi peningkatan stres yang tidak dapat dikontrol ; faktor sosial ; faktor organik ; alergi ; dan perubahan metabolisme yaitu terjadi defisiensi Vit. B6 dan penurunan fungsi hepar dalam metabolisme. Keseluruhan faktor predisposisi ini menyebabkan motilitas gastrointestinal menurun yang merangsang terjadinya mual dan muntah sehingga terjadilah hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menyebabkan terjadinya metabolisme

karbohidrat dan lemak meningkat, cadangan karbohidrat dan lemak akan menurun, sehingga terjadi penurunan berat badan, oksidasi lemak tidak sempurna dan terjadilah ketosis. Selain itu terjadi robekan selaput lendir dan esofagus dan terjadilah perdarahan gastrointestinal. Hiperemesis gravidarum juga menyebabkan peningkatan pengeluaran cairan sehingga terjadilah dehidrasi. Hemokonsentrasi dan ketidakseimbangan elektrolit akan terjadi akibat penurunan cairan ekstra sel dan plasma sehingga suplai O2 & nutrisi ke jaringan berkurang, dan terjadilah penurunan suplai O2 & nutrisi trans plasenta Hipokolemi juga akan terjadi sehingga akan menurunkan kontraktilitas miokardium, penurunan volume sekuncup, penurunan cardiac output, akibatnya terjadilah Gagal jantung yaitu gagal ventrikel kiri, sehingga penurunan aliran darah dari atrium kiri menurun, penurunan tekanan atrium kiri akan terjadi , sehingga membendung vena pulmonal, dan menggeser cairan ke rongga paru yang mengakibatkan terjadinya Edema paru yaitu gagal ventrikel, arteri pulmonalis tidak bisa masuk, terjadi bendungan arteri pulmonalis, darah tertahan di vena kava, venous return menurun, penurunan tek. Intravaskuler, menginvasi pada hepar, tekanan vena akan terganggu, maka metabolisme hepar akan terganggu dan terjadilah kerusakan hati. Selain itu, estrogen yang meningkat + berkurangnya pengosongan lambung menyebabkan mual dan muntah serta intake menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan CES dan plasma menurun serta Na, K,
17

dan Cl menurun. Hal ini menimbulkan terjadinya gangguan elektrolit dan alkalosis hipokloremik. Dalam hal ini, karbohidrat dan cadangan lemak habis terpakai untuk energi. Karena oksidasi lemak tak sempurna maka asam aseto asetik, sidroksi butirikdan aseton tertimbun dalam darah sehingga menyebabkan ketosis. Dehidrasi juga menyebabkan hemokonsentrasi yang menyebabkan aliran darah ke jaringan menurun sehingga terjadi hipoksia jaringan dan menyebabkan zat toksik tertimbun.

Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama.

Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan.

Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, disamping faktor hormonal. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang berat.Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Natrium dan Khlorida darah turun, demikian pula Khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Kekurangan Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan (http://zerich150105.wordpress.com/).

18

Patologi Otopsi wanita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum diperoleh hasil: a. Hati, pada tingkat ringan, hanya ditemukan degenerasi lemak tanpa nekrosis, degenerasi lemak senri lobuler b. Jantung, jantung atrofi, lebih kecil dari biasa, kadang kala ditemukan perdarahan sub endokardial c. Otak, terdapat bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti ensefalopati wernicke d. Ginjal, tampak pucat, degenerasi lemak pada tubula kontorti

5. Penatalaksanaan Hyperemesis Gravidarum Tujuan : a. Menurunkan rasa mual dan muntah b. Mengganti kehilangan cairan dan elektrolit c. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan mengatasi kehilangan BB ibu hamil Saran-saran yang diberikan pada ibu yang mengalami HG adalah: a. Menyarankan ibu hamil untuk mengubah pola makan menjadi lebih sering dengan porsi kecil b. Menganjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dan teh hangat dan menghindari makanan berminyak serta berbau lemak c. Jika dengan cara diatas tidak ada perbaikan maka ibu hamil tersebut diberi obat penenang, vitamin B1 dan B6, dan antimuntah (ex: metoclopramide) d. Perawatan di Rumah sakit bila keadaan semakin memburuk e. Cairan infus yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein. Bila perlu ditambahkan vitamin B kompleks, vitamin C, dan kalium f. Terapi psikologis apabila penanganan dengan pemberian obat dan nutrisi yang adekuat tidak memberikan respon Hospitalisasi diperlukan untuk mengatasi hyperemesis gravidarum yang parah. Semua makanan dan minuman dihentikan sementara untuk mengistirahatkan GI track. Pencegahan Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah
19

merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Obat-obatan Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin Isolasi Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Tidak diberikan makan/minuman setama 24 -28 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. Terapi psikologik Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. Cairan parenteral Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Penghentian kehamilan Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.

20

Diet a. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 -- 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat - zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. b. Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D. c. Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium. Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah : a. Roti panggang, biskuit, crackers b. Buah segar dan sari buah c. Minuman botol ringan, sirop, kaldu tak berlemak, teh dan kopi encer d. Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, III adalah makanan yang umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam. e. Bahan makanan yang mengandung alkohol, kopi, dan yang mengadung zat tambahan(pengawet, pewarna, dan bahan penyedap) juga tidakbdianjurkan.

6. Prognosis Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

7. Komplikasi Dehidrasi, ikterik, takikardi, alkalosis, kelaparan, menarik diri, depresi, ensefalopati wernicke yang ditandai oleh adanya nistagmus, diplopia, perubahan mental, suhu tubuh meningkat, gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga

21

8. Asuhan Keperawatan Hyperemesis Gravidarum A. Pengkajian 1. Identitas klien : terdiri dari nama pasien, umur, pekerjaan, nama suami, alamat, dll

2. y y y y y y

Keluhan utama Muntah yang hebat menganggu aktivitas sehari-hari Mual, muntah pada pagi hari dan setelah makan Nyeri epigastrik Merasa haus Tidak nafsu makan Muntah makanan/cairan asam

3. Riwayat Kesehatan a. Riwayat kesehatan sekarang : meliputi keluhan yang tengah dirasakan pasien seperti rasa mual muntah yang berlebihan dan mengganggu aktivitas klien sehari-hari yang terjadi selama masa kehamilan b. Riwayat kesehatan dahulu : meliputi penyakit yang pernah diderita sebelumnya dan mungkin mempunyai pengaruh pada hyperemesis

gravidarum atau yang memperparah. c. Riwayat kehamilan : meliputi pengkajian berapa umur kehamilan ibu saat ini, dan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan.

4. y y y y

Faktor predisposisi Umur ibu < 20 tahun Multiple gestasi Obesitas Trofoblastik desease

5. Pemeriksaan fisik y y y Asidosis metabolik yang ditandai dengan sakit kepala, disorientasi Takikardi, hypotensi, vertigo Konjungtiva ikterik
22

Gangguan kesadaran, delirium

Tanda-tanda dehidrasi : Kulit kering, membran mukosa bibir kering Turgor kulit kembali lambat Kelopak mata cekung Penurunan BB Peningkatan suhu tubuh Oliguria, ketonuria Urin pekat Data laboratorium:Proteinuria, Ketonuria, Urobilinogen, Penurunan kadar potasium, sodium, klorida, dan protein, Kadar vitamin menurun, Peningkatan Hb dan Ht

6. Pola Fungsional Gordon a) Pola persepsi dan manajemen kesehatan :  Kaji tentang pandangan ibu mengenai kesehatan terutama kesehatan dalam kehamilan, bagaimana ibu mempersepsikan proses kehamilan itu sendiri, bagaimana manajemen kesehatan yang dilakukan ibu selama kehamilan.  Biasanya ibu akan berusaha mencari informasi seputar kesehatan kehamilan dengan rajin konsultasi pada tim kesehatan dan terkadang ibu akan mempunyai keraguan mengenai penyakit-penyakit yang berhubungan dengan proses kehamilan. b) Pola nutrisi-metabolik  Kaji intake output nutrisi dan cairan pada klien sehari-hari.  Klien akan mengalami mual muntah yang berlebihan, terjadi penurunan berat badan(5 10 Kg), intake output tidak seimbang, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh, rasa haus yang berlebihan, dehidrasi, dan tidak nafsu makan, nyeri epigastrium, membran mukosa mulut iritasi dan merah, Hb dan Ht rendah, nafas berbau aseton, turgor kulit berkurang, mata cekung dan lidah kering. c) Pola eliminasi  Kaji pola eliminasi klien, frekuensi,konsistensi BAB dan BAK klien.

23

 Klien akan mengalami perubahan pada konsistensi; defekasi, peningkatan frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine. d) Pola aktivitas latihan  Kaji aktivitas klien sehari-hari. Apakah ada gangguan atau tidak. Kaji bagaimana klien menjalankan aktivitas sehari-hari. Apakah klien memerlukan bantuan atau tidak dalam beraktivitas.  Klien mengalami Tekanan darah sistol menurun, denyut nadi meningkat (> 100 kali per menit). Frekuensi pernapasan meningkat. Suhu kadang naik, badan lemah, icterus dan dapat jatuh dalam koma e) Pola istirahat tidur  Kaji bagaimana kualitas dan kuantitas tidur klien sehari-hari. Berapa lama klien tidur dan istirahat, adakah penggunaaan obat tidur atau tidak  Klien akan mengalami gangguan dengan pola tidurnya akibat

ketidaknyamanan karena mual dan muntah yang berlebihan. f) Pola persepsi-kognitif  Kaji fungsi penginderaan dan kognitif klien. Adakah gangguan atau tidak dan apakah ada penggunaan alat bantu atau tidak.  Klien tidak mengalami gangguan dengan pola persepsi kognitif. g) Pola Persepsi-konsep diri  Kaji bagaimana klien memandang dirinya sendiri. Bagaimana persepsi klien terhadap dirinya sendiri.  Klien akan merasa terbebani dengan penyakit yang dideritanya. Klien akan merasa dirinya hanya merepotkan orang lain serta sangat menggangggu aktivitasnya sehari-hari. Juga terjadi perubahan persepsi tentang kondisinya. h) Pola peran hubungan  Kaji bagaimana klien menjalani peran dan berhubungan dengan orangorang yang ada di sekitarnya.  Klien akan mengalami gangguan dalam berinteraksi dengan sesama. Klien merasa tidak mau membebani orang lain, sehingga klien lebih memilih untuk menjalankan aktivitas dan berinteraksi dengan dirinya sendiri. Terjadi konflik interpersonal keluarga,

24

i) Pola coping-toleransi stres  Kaji bagaimana klien mengenal dan menangani stres sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.  Klien akan cemas dan takut yang berlebihan berhubungan dengan kesehatannya sendiri dan janin yang dikandungnya serta efek yang berakibat buruk terhadap kehamilannya. Namun, klien akan berusaha untuk bertanya dan mencari informasi tentang bagaimana menangani stres yang dideritanya. j) Pola reproduksi seksualitas  Kaji bagaimana pola reproduksi dan seksualitas klien. Kaji pola menstruasi klien dan hal-hal yang berhubungan proses reproduksi. Kaji penyakit reproduksi klien.  Klien akan mengalami penghentian menstruasi, bila keadaan ibu membahayakan maka dilakukan abortus terapeutik k) Pola nilai keyakinan  Kaji bagaimana klien menjalankan aktivitas sehari-hari. Apakah ada gangguan dalam menjalankan aktivitas atau tidak.  Biasanya klien akan terganggu dalam menjalankan ibadah sehari-hari akibat ketidaknyamanan yang tengah dialaminy.

2. Diagnosa Keperawatan a. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nutrisi dan cairan yang berlebihan dan intake yang kurang. b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. c. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan. d. Gangguan rasa nyaman : nyeri ulu hati berhubungan dengan frekuensi muntah yang sering. e. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan. a. Takut berhubungan dengan pengaruh hyperemesis terhadap kesehatan janin f. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat.

25

NANDA Gangguan kebutuhan dengan nutrisi tubuh kurang

NOC dari Status Nutrisi

NIC Terapi Nutrisi Aktivitas:  Mengontrol makanan/cairan menghitung intake penyerapan dan kalori

berhubungan Indikator: nutrisi dan y Intake nutrisi Intake makanan dan cairan y Energi Massa tubuh Berat tubuh

kehilangan

cairan yang berlebihan dan intake y yang kurang.

harian, jika diperlukan  Memantau ketepatan urutan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian  Menentukan jumlah kalori dan jenis zat makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan berkolaborasi nutrisi, dengan ketika ahli

Data penunjang y y y y y y y y y y BB sebelum kehamilan BB sekarang / saat hamil Elastisitas turgor kulit Lingkar lengan Lidah kering dan kotor Mual dan muntah Kesadaran Anoreksia Mata cekung / konjungtiva TTV : TD : Pols : Temp : RR :

y y

makanan, jika diperlukan  Menetukan makanan pilihan dengan mempertimbangkan budaya dan agama  Memberi pasien makanan dan minuman tinggi protein, tinggi kalori, dan bernutrisi yang siap dikonsumsi, jika diperlukan  Membantu memilih pasien makanan untuk lembut,

lunak dan tidak asam, jika diperlukan  Memastikan makanan  Melakukan perawatan mulut sebelum diperlukan makan, jika keadaan

terapeutik terhadap kemajuan

26

 Anjurkan pasien untuk minum dalam sering. Defisit volume cairan dengan cairan yang Keseimbangan cairan Kriteria hasil: y Keseimbangan intake dan output 24 jam y y Berat badan stabil Tidak haus berlebihan y Elektrolit dalam normal  Hidrasi kulit tidak ada serum batas ada rasa yang Pemantauan cairan elektrolit Aktifitas:  Memonitor seimbangan asam basa  Identifikasi elektrolit  Memonitor kehilangan cairan dan dihubungkan dengan kehilangan elektrolit  Konsultasi dengan dokter kemungkinan ketidak jumlah sedikit tapi

berhubungan kehilangan berlebihan.

penyebab ketidakseimbangan

jika ada tanda dan gejala dari ketidakseimbangan atau elektrolit  Monitor  Lengkapi serum dan cairan

osmolalitas urin nutrisi makanan

dan cairan secara teratur Pengelolaan cairan Aktifitas:  Pantau berat badan biasanya dan kecendrungannya  Mempertahankan intake dan output pasien  Pantau ststus hidrasi  Memonitor MAP, PAP, dan PCWP  Pantau pasien tanda-tanda vital status hemodynamic termasuk CVP,

27

 Pantau status nutrisi pasien Intoleransi aktivitas berhubungan Outcome yang disarankan dengan kelemahan. Data penunjang
y y y y

1. Terapi aktivitas  Kolaborasi dengan ahli

y y y y

Toleransi aktivitas Daya tahan Konservari energy Perawatan diri:

terapi dalam rencana dan memonitor aktivitas, sesuai kebutuhan.  Menentukan frekuensi aktivitas  Membentu mengeksplorasi pribadi dilakukan yang favorit  Membantu aktivitas dengan yang fisik, memilih konsisten psikologis, kegiatan atau untuk makna yang kegiatan dan komitmen

BB Kelemahan Skala aktivitas Mual muntah

Aktivitas sehari-hari y Perawatan peralatan diri: dalam

pasien untuk meningkatkan rentang

aktivitas sehari-hari

dan kebutuhan.  Membantu dilakukan  Membantu pasien untuk pasien untuk

focus terhadap apa yang

mengidentifikasi preferensi untuk aktifitas  Membantu pasien untuk

mengidentifikasi meaningfull/kegunaan/arti aktivitas  Intruksikan pasien/keluarga tentang bagaimana melakukan aktivitas

28

 Membantu beradaptasi lingkungan

pasien

untuk dengan

2. Manajemen energi  Menentukan kemampuan pasien  Menentukan persepsi kelelahan  Menentukan kelelahan  Memonitor intake nutrisi yang adekuat  Memonitor kepatenan tidur pasien  Monitor lokasi penyebab pasien tingkat terhadap batas

ketidaknyamanan dan nyeri yang terjadi saat bergerak  Berikan lingkungan yang relaks  Atur waktu/periode tidur

dan istirahat  Rencanakan periode

aktivitas untuk pasien

29

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Proses kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses persalinan.Dalam dunia kedokteran, proses kehamilan dibagi menjadi tiga fase sesuai dengan pertumbuhan fisik bayi. Masing-masing fase tersebut disebut trimester. 1. Trimester Pertama (Minggu 0 12) 2. Trimester kedua (Minggu 12 24) 3. Trimester ketiga (24 -40) Perubahan Fisik dan Psikologis terjadi pada tiap Trimester, trimester I,II dan III. Dalam proses kehamilan seorang ibu memiliki kehamilan resiko tinggi serta penyakit yang menyertai kehamilan seperti penyakit Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanitahamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya menjadi buruk karena terjadi dehidrasi (Mochtar, 1998). Hiperemesis diartikan sebagai muntah yang terjadi secara berlebihan selama kehamilan (Farrer, 1999). Hiperemesis Gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan muntah/tumpah yang berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat,sehingga mengganggu kesehatan dan pekerjaan sehari-hari (Arief.B, 2009).

B. Saran Berdasarkan isi dari makalah banyak kekurangan yang terdapat pada isi yang dijelaskan dan bahasa yang di gunakan penulis sebagian besar masih teksbook. Hal ini di sebabkan karena kurangnya pemahaman dari penulis sendiri. Hendaknya dimasa yang akan datang diharapkan para penulis dan penerus selanjutnya lebih memahami lagi terhadap materi yang akan dibuatnya serta dapat menggunakan penulisan yang lebih efektif sehingga lebih mudah dipahami pembaca.

30

DAFTAR PUSTAKA

Babak, Lowdermik, Jensen, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4:Jakarta, EGC Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification (NIC). St. Louis :Mosby Year-Book. Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby Year-Book Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10.Jakarta:EGC Manuaba, Ida Bagus, 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Jakarta : Arcan Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obsetri, Jilid I, Jakarta: EGC Prawirohardjo, Sarwono, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta; Tridasa Printer Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 3. EGC : Jakarta. Sulistyawati, Ari. (2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta : Salemba Medika. Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 20092011, NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd

31