0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan12 halaman

Hikayat Hang Tuah dan Puteri Kuning

Diunggah oleh

herfina assadiyah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan12 halaman

Hikayat Hang Tuah dan Puteri Kuning

Diunggah oleh

herfina assadiyah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HIKAYAT HANG TUAH

Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak Hang Mahmud. Mereka
bertempat tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang di Sungai Duyung mendengar kabar
tentang Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya.
Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama
Dang Merdu, ”Ayo kita pergi ke Bintan, negeri yang besar itu, apalagi kita ini orang yang miskin. Lebih
baik kita pergi ke Bintan agar lebih mudah mencari pekerjaan.” Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud
bermimpi bulan turun dari langit.
Cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah. Hang Mahmud pun terbangun dan mengangkat
anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wangi-wangian. Siang harinya,
Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada istri dan anaknya. Setelah mendengar kata
suaminya, Dang Merdu pun langsung memandikan dan melulurkan anaknya.
Setelah itu, ia memberikan anaknya itu kain, baju, dan ikat kepala serba putih. Lalu Dang Merdu
memberi makan Hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam, ibunya juga memanggil para pemuka agama
untuk mendoakan selamatan untuk Hang Tuah. Setelah selesai dipeluknyalah anaknya itu. Lalu kata Hang
Mahmud kepada istrinya, ”Adapun anak kita ini kita jaga baik-baik, jangan diberi main jauh-jauh.”
Keesokan harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk persediaan. Lalu ada
pemberontak yang datang ke tengah pasar, banyak orang yang mati dan luka-luka. Orang-orang pemilik
toko meninggalkan tokonya dan melarikan diri ke kampong. Gemparlah negeri Bintan itu dan terjadi
kekacauan di mana-mana. Ada seorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah, ”Hai,
Hang Tuah, hendak matikah kau tidak mau masuk ke kampung?”
Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu, ”Negeri ini memiliki prajurit dan pegawai yang akan
membunuh, ia pun akan mati olehnya.” Waktu ia sedang berbicara, ibunya melihat bahwa pemberontak
itu menuju Hang Tuah sambil menghunuskan kerisnya. Maka ibunya berteriak dari atas toko, katanya,
”Hai, anakku, cepat lari ke atas toko!”
Hang Tuah mendengarkan kata ibunya, ia pun langsung bangkit berdiri dan memegang kapaknya
menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya
bertubi-tubi. Maka Hang Tuah pun melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu
mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelah kepala orang itu dan mati.
Maka kata seorang anak yang menyaksikannya, “Dia akan menjadi perwira besar di tanah Melayu
ini.” Terdengarlah berita itu oleh keempat kawannya, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang
Lekiu. Mereka pun langsung berlari-lari mendapatkan Hang Tuah. Hang Jebat dan Hang Kesturi bertanya
kepadanya, ”Apakah benar engkau membunuh pemberontak dengan kapak?”
Hang Tuah pun tersenyum dan menjawab, “Pemberontak itu tidak pantas dibunuh dengan keris,
melainkan dengan kapak untuk kayu.”
Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri adanya sang Hang Tuah. Jika ia tidak
datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja. Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan
pegawai-pegawai lain yang juga iri hati kepada Hang Tuah. Setelah diskusi itu, datanglah mereka ke
hadapan Sang Raja.
Maka saat sang Baginda sedang duduk di tahtanya bersama para bawahannya, Tumenggung dan
segala pegawai-pegawainya datang berlutut, lalu menyembah Sang Raja, “Hormat tuanku, saya mohon
ampun dan berkat, ada banyak berita tentang pengkhianatan yang sampai kepada saya. Berita-berita itu
sudah lama saya dengar dari para pegawai-pegawai saya.”
Setelah Sang Baginda mendengar hal itu, maka Raja pun terkejut lalu bertanya, “Hai kalian semua, apa
saja yang telah kalian ketahui?”
Maka seluruh menteri-menteri itu menjawab, “Hormat tuanku, pegawai saya yang hina tidak berani
datang, tetapi dia yang berkuasa itulah yang melakukan hal ini.”
Maka Baginda bertitah, “Hai Tumenggung, katakan saja, kita akan membalasnya.”
Maka Tumenggung menjawab, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat, untuk datang saja
hamba takut karena yang melakukan hal itu, tuan sangat menyukainya. Baiklah kalau tuan percaya pada
perkataan saya karena jika tidak, alangkah buruknya nama baik hamba, seolah-olah menjelek-jelekkan
orang itu.”
Setelah Baginda mendengar kata-kata Tumenggung yang sedemikian itu, maka Baginda bertitah,
“Siapakah orang itu, Sang Hang Tuah kah?” Maka Tumenggung menjawab, “Siapa lagi yang berani
melakukannya selain Hang Tuah itu. Saat pegawai-pegawai hamba memberitahukan hal ini pada hamba,
hamba sendiri juga tidak percaya, lalu hamba melihat Hang Tuah sedang berbicara dengan seorang
perempuan di istana tuan ini. Perempuan tersebut bernama Dang Setia. Hamba takut ia melakukan
sesuatu pada perempuan itu, maka hamba dengan dikawal datang untuk mengawasi mereka.”
Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya berwarna merah padam. Lalu ia
bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu, “Pergilah, singkirkanlah Si Durhaka itu!” Maka Hang
Tuah pun tidak pernah terdengar lagi di dalam negeri itu, tetapi si Tuah tidak mati karena si Tuah itu
perwira besar, apalagi dia menjadi wali Allah.
Kabarnya sekarang ini Hang Tuah berada di puncak dulu Sungai Perak, di sana ia duduk menjadi raja
segala Batak dan orang hutan. Sekarang pun Raja ingin bertemu dengan seseorang, lalu ditanyainya
orang itu dan ia berkata, “Tidakkah Tuan ingin mempunyai istri?” Lalu jawabnya, “Saya tidak ingin
mempunyai istri lagi.”
HIKAYAT BUNGA KEMUNING
Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja
dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak
mampu untuk mendidik anak-anaknya. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka
bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran
sering terjadi diantara mereka.
Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon.
Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah
Merona dan Puteri Kuning,
Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah
tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri
Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum
ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-
kakaknya.
Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. "Aku hendak
pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?" tanya raja.
"Aku ingin perhiasan yang mahal," kata Puteri Jambon.
"Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau," kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-
mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu
memegang lengan ayahnya.
"Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat," katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan
mencemoohkannya.
"Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan
hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.
Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang
pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri
yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya
karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai
membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan
pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap
berkeras mengerjakannya.
Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya
kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. "Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang
yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri
Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu.
Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa
merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya. "Kalian
ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya
mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah.
"Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning
seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang.
Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri
Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku
yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya
warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja.
Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak
pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan
bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah
kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi.
Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari
hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan
hadiahnya.
Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus
benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya
dengan perasaan iri.
Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning.
Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan
menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya
berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian,
Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya.
Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. "Astaga! Kita harus
menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya
di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.
Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya
pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. "Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!"
teriaknya. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-
bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih.
"Aku ini ayah yang buruk," katanya." Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan
mengasah budi pekerti!" Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang
jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang
hilang tak berbekas.
Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya.
"Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau,
bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah,
kuberi nama ia Kemuning.!" kata raja dengan senang.
Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa
digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah,
sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih
memberikan kebaikan.
HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK
Menurut sahibul hikayat, pada zaman dahulu ada seorang datu yang sakti mandraguna sedang
bertapa di tengah laut. Namanya Datu Mabrur. Ia bertapa di antara Selat Laut dan Selat Makassar. Siang-
malam ia bersamadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai
topan. Ia memohon kepada Sang Pencipta agar diberi sebuah pulau. Pulau itu akan menjadi tempat
bermukim bagi anak-cucu dan keturunannya, kelak.
Di malam hari, ada kalanya tubuh Datu Mabrur seakan membeku. Cuaca dingin, angin, hujan, embun
dan kabut menyelimuti tubuhnya. Siang hari, terik matahari membakar tubuhnya yang kurus kering dan
hanya dibungkus sehelai kain. Ia tidak pernah makan, terkecuali meminum air hujan dan embun yang
turun. Di hari terakhir pertapaannya, ketika laut tenang, seekor ikan besar tiba-tiba muncul dari
permukaan laut dan terbang menyerangnya. Tanpa beringsut dari tempat duduk maupun membuka
mata, Datu Mabrur menepis serangan mendadak itu.
Ikan itu terpelanting dan jatuh di karang. Setelah jatuh ke air, ikan itu menyerang lagi. Demikian
berulang-ulang. Di sekeliling karang, ribuan ikan lain mengepung, memperlihatkan gigi mereka yang
panjang dan tajam, seakan prajurit siap tempur. Pada serangannya yang terakhir, ikan itu terpelanting
jatuh persis saat Datu Mabrur membuka matanya.
“Hai, ikan! Apa maksudmu mengganggu samadiku? Ikan apa kamu?”
“Aku ikan todak, Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Samadimu membuat lautan bergelora.
Kami terusik, dan aku memutuskan untuk menyerangmu. Tapi, engkau memang sakti, Datu Mabrur. Aku
takluk...,” katanya, megap-megap. Matanya berkedip-kedip menahan sakit. Tubuhnya terjepit di sela-sela
karang tajam.
“Jadi, itu rakyatmu?” Datu Mabrur menunjuk ribuan ikan yang mengepung karang.
“Ya, Datu. Tapi, sebelum menyerangmu tadi, kami telah bersepakat. Kalau aku kalah, kami akan
menyerah dan mematuhi apa pun perintahmu.” Datu Mabrur mengangguk.
Dipandanginya ikan-ikan yang berenang di sekeliling karang itu. Gigi, sirip dan sisik mereka
berkilauan saat melompat di permukaan laut. Siang menjelang. Matahari mulai garang. Ini hari terakhir
pertapaannya, tapi belum ada tanda-tanda permohonannya akan terkabul. Pulau yang diimpikannya
belum tampak. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya birunya laut, keluasan samudera dan
cakrawala.
“Datu, tolonglah aku. Obati luka-lukaku dan kembalikanlah aku ke laut. Kalau terlalu lama di darat, aku
bisa mati. Atas nama rakyatku, aku berjanji akan mengabdi padamu, bila engkau menolongku...” Raja
Ikan Todak mengiba-iba. Seolah sulit bernapas, insangnya membuka dan menutup.
“Baiklah,” Datu Mabrur berdiri. “Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, aku akan menolongmu.”
“Apa pun permintaanmu, kami akan memenuhinya. Datu ingin istana bawah laut yang terbuat dari emas
dan permata, dilayani ikan duyung dan gurita? Ingin berkeliling dunia, bersama ikan paus dan lumba-
lumba?”
“Tidak. Aku tak punya keinginan pribadi, tapi untuk masa depan anak-cucuku nanti....” Lalu, Datu Mabrur
menceritakan maksud pertapaannya selama ini.
“Kami akan memenuhi permintaanmu!”
“Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?”
“Akan kukerahkan rakyatku, seluruh penghuni lautan dan samudera. Sebelum matahari terbit esok pagi,
impianmu akan terwujud. Aku bersumpah!”
“Wah... Kamu bersumpah?”
“Ya! Aku takkan berdusta. Ini sumpah raja!”
Datu Mabrur tak dapat membayangkan, bagaimana Raja Ikan Todak akan memenuhi sumpahnya
itu. “Baiklah. Tapi kita harus membuat perjanjian: sejak sekarang kita harus sa-ijaan, seiring sejalan. Seia
sekata, sampai ke anak-cucu kita. Kita harus rakat mufakat, bantu membantu, bahu membahu. Setuju?”
“Setuju, Datu...,” sahut Raja Ikan Todak yang tergolek, lemah. Ia sangat membutuhkan air. Mendengar
jawaban itu, Datu Mabrur tersenyum.
Dengan hati-hati, dilepaskannya tubuh Raja Ikan Todak dari jepitan karang, lalu diusapnya lembut.
Ajaib! Dalam sekejap, darah dan luka di sekujur tubuh Raja Ikan Todak itu mengering! Kulitnya licin
kembali seperti semula, seakan tak pernah luka. Ikan itu menggerak-gerakkan sirip dan ekornya dengan
gembira.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Datu Mabrur mengangkat Raja Ikan Todak itu dan
mengembalikannya ke laut. Ribuan ikan yang tadi mengepung karang, kini berenang mengerumuninya,
melompat-lompat bersuka ria.
“Sa-ijaan!” seru Raja Ikan Todak sambil melompat di permukaan laut.
“Sa-ijaan!” sahut Datu Mabrur.
Setelah lompatan ketiga, Raja Ikan Todak, bersama ribuan ikan yang mengiringinya, menyelam ke
dalam lautaan. Sebelum tengah malam, sebelum batas waktu pertapaannya berakhir, Datu Mabrur
dikejutkan oleh suara gemuruh yang datang dari dasar laut. Gemuruh perlahan, tapi pasti.
Laut tenang, gelombang tak ada, hanya alunan ombak dan riak-riak kecil saja. Riak-riak itu kian
memanjang ke segenap penjuru. Langit terang benderang oleh ribuan bintang dan cahaya purnama,
hingga Datu Mabrur dapat dengan jelas menyaksikan peristiwa di depan matanya. Gemuruh suara itu
terdengar bersamaan dengan timbulnya sebuah daratan, dari dasar laut! Kian lama, permukaan daratan
itu kian tampak. Naik dan terus naik! Lalu, seluruhnya timbul ke permukaan! Di bawah permukaan air,
ternyata jutaan ikan dari berbagai jenis mendorong dan memunculkan daratan baru itu dari dasar laut.
Sambil mendorong, mereka serempak berteriak, “Sa-ijaan! Sa-ijaan! Sa-ijaaan...!”
Datu Mabrur tercengang di karang pertapaannya. Raja Ikan Todak telah memenuhi sumpahnya!
Bersamaan dengan terbitnya matahari pagi, daratan itu telah timbul sepenuhnya. Berupa sebuah pulau.
Lengkap dengan ngarai, lembah, perbukitan dan pegunungan. Tanahnya tampak subur. Pulau kecil yang
makmur.
Datu Mabrur senang dan gembira. Impiannya tentang pulau yang akan menjadi tempat tinggal
bagi anak-cucu dan keturunannya, telah menjadi kenyataan. Permohonannya telah dikabulkan. Dengan
memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Pencipta, ia menamakannya Pulau Halimun.
Alkisah, Pulau Halimun kemudian disebut Pulau Laut. Sebab, ia timbul dari dasar laut dan
dikelilingi laut. Sebagai hikmahnya, kata sa-ijaan dan ikan todak dijadikan slogan dan lambang
Pemerintah Kabupaten Kotabaru.
HIKAYAT SRI RAMA MENCARI SITA DEWI
Pada suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Mereka berjalan menelusuri hutan
rimba belantara namun tak juga mendapat kabarkeberadaan Sita Dewi. Saat Sri Rama dan Laksamana
berjalan di dalam hutan, mereka bertemu denganseekor burung jantan dan empat ekor burung betina.
Lalu Sri Rama bertanya pada burung jantan tentang keberadaan Sita Dewi yang diculik orang. Burung
jantanmengatakan bahwa Sri Rama tak bisa menjaga istrinya dengan baik, tak sepertidia yang memiliki
empat istri namun bisa menjaganya. Tersinggunglah Sri Ramamendengar perkataan burung itu.
Kemudian, Sri Rama memohon pada DewataMulia Raya agar memgutuk burung itu menjadi buta hingga
tak dapat melihatistri-istrinya lagi. Seketika burung itu buta atas takdir Dewata Mulia Raya.
Malam tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor bangau yang
sedang minum di tepi danau. Bertanyalah Sri Rama pada bangau itu.Bangau mengatakan bahwa ia
melihat bayang-bayang seorang wanita dibawa olehMaharaja Rawana. Sri Rama merasa senang karena
mendapat petunjuk dari cerita bangau itu. Sebagai balas budi, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia
Rayauntuk membuat leher bangau menjadi lebih panjang sesuai dengan keinginan bangau. Namun, Sri
Rama khawatir jika leher bangau terlalu panjang maka dapat dijerat orang.
Setelah Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan perjalanan. Tak lamakemudian datanglah
seorang anak yang hendak mengail. Tetapi, anak itu melihat bangau yang sedang minum kemudian
menjerat lehernya untuk dijual ke pasar.Sri Rama dan Laksamana bertemu dengan anak itu dan
membebaskan bangaudengan memberi anak itu sebuah cincin.
Ketika dalam perjalanan, Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untukmencarikannya air.
Sri Rama menyuruh Laksamana untuk mengikuti jatunya anak panah agar dapat menemukan sumber air.
Setelah berhasil mendapatkan air itu,Laksamana membawanya pada Sri Rama. Saat Sri Rama meminum
air itu,ternyata air itu busuk. Sri Rama meminta Laksamana untuk mengantarnya ketempat sumber air
dimana Laksamana memperolehnya. Sesampai di tempat itu,dilihatnya air itu berlinang-linang. Sri Rama
mengatakan bahwa dulu pernah ada binatang besar yang mati di hulu sungai itu. Kemudian, Sri Rama
dan Laksamanamemutuskan untuk mengikuti jalan ke hulu sungai itu.
Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambatsayapnya dan yang
sebelah rebah. Sri Rama bertanya padanya mengapa sampaiJentayu seperti itu. Jentayu menceritakan
semuanya pada Sri Rama tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana. Setelah Jentayu selesai
bercerita, ialalu memberikan cincin yang dilontarkan Sita Dewi saat Jentayu gugur ke bumisaat
berperang dengan Maharaja Rawana. Kemudian, cincin itu diambil oleh Sri Rama. Bahagialah Sri Rama
melihat cincin itu memang benar cincin istrinya, SitaDewi.
Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri LangkaPuri, Sri Rama tidak
boleh singgah ke tepi laut karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam. Di dalam bukit
tersebut ada saudara Jentayu yang bernama Dasampani sedang bertapa. Jentayu tak ingin saudaranya
itu mengetahui bahwa dirinya akan segera mati. Setelah Jentayu selesai berpesan, ia pun mati.
Sri Rama menyuruh Laksamana mencari tempat yang tidak terdapat manusiadengan memberinya
sebuah tongkat. Tetapi, Laksamana tidak berhasilmenemukan tempat itu. Lalu ia kembali pada Sri Rama.
Laksamana mengatakan pada Sri Rama bahwa ia tidak dapat menemukan tempat sesuai perintah Sri
Rama.Kemudian, Sri Rama menyuruh Laksamana untuk menghimpun semua kayu apidan meletakkannya
di tanagn Sri Rama. Lalu diletakkannya bangkai Jentayu diatas kayu api itu dan di bakar oleh Laksamana.
Beberapa lama kemudian, api itu padam. Laksamana heran melihat kesaktian Sri Rama yang tangannya
tidak terluka bakar sedikitpun. Kemudian, mereka melanjutkan perjalananmeninggalkan tempat itu.
HIKAYAT RORO JONGGRANG

Alkisah, terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteram dan
damai. Tetapi, Kerajaan Prambanan kemudian diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman
Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan
Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung
Bondowoso.
Bandung Bondowoso adalah seorang yang suka memerintah dengan kejam. “Siapapun yang tidak
menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!”, ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya.
Bandung Bondowoso juga merupakan orang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama
berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang
cantik jelita. “Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku,” pikir Bandung Bondowoso.nEsok
harinya, Bondowoso mendekati Roro Jonggrang.
“Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?”, Tanya Bandung Bondowoso kepada Roro
Jonggrang. Roro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso.
“Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya”,
ujar Roro Jonggrang dalam hati.
“Apa yang harus aku lakukan ?”. Roro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia
menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat
Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Roro Jonggrang memang tidak suka
dengan Bandung Bondowoso.
“Bagaimana, Roro Jonggrang?” desak Bondowoso. Akhirnya Roro Jonggrang mendapatkan ide.
“Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya,” Katanya.
“Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?”.
“Bukan itu, tuanku, kata Roro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah.
“Seribu buah?” teriak Bondowoso.
“Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.” Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang,
bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya
membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya.
“Saya percaya tuanku bisa membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!”, kata penasehat. “Ya, benar
juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!”
Setelah perlengkapan disiapkan, Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua
lengannya dibentangkan lebar-lebar. “Pasukan jin, Bantulah aku!” teriaknya dengan suara menggelegar.
Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah
mengerumuni Bandung Bondowoso.
“Apa yang harus kami lakukan Tuan?”, tanya pemimpin jin.
“Bantu aku membangun seribu candi,” pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana
kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat, bangunan candi sudah tersusun
hampir mencapai seribu buah.
Sementara itu, diam-diam Roro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui
Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. “Wah, bagaimana ini?”, ujar Roro Jonggrang dalam hati. Ia mencari
akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. “Cepat bakar
semua jerami itu!” perintah Roro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung.
Dung… dung… dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk,
sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.
Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. “Wah, matahari akan terbit!” seru jin. “Kita harus
segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari,” sambung jin yang lain. Para jin tersebut
berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan
pasukan jin.
Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Roro Jonggrang ke tempat candi. “Candi yang kau minta
sudah berdiri!”. Roro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999
buah!. “Jumlahnya kurang satu!” seru Loro Jonggrang.
“Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan”. Bandung Bondowoso terkejut
mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. “Tidak mungkin…”, kata Bondowoso sambil
menatap tajam pada Roro Jonggrang. “Kalau begitu, kau saja yang melengkapinya!” katanya sambil
mengarahkan jarinya pada Roro Jonggrang. Ajaib! Roro Jonggrang langsung berubah menjadi patung
batu. Sampai saat ini, candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah,
dan disebut Candi Roro Jonggrang.
HIKAYAT INDERA BENGSAWAN
Pada suatu hari Raja Indera Bungsu dari kerajaan Negeri Kobat Syahrial menginginkan anak.Beliau
lantas mengutus orang - orang yang diperintah oleh patihnya untuk membaca do'aQunut dan
bersedekah kepada fakir miskin. Tak lama kemudian istrinya, Puteri Sitti Kendihamil dan melahirkan
putra kembar laki- laki. Putra yang sulung lahir dengan sebuah anak panah dan diberi nama Syah Peri.
Putra yang bungsu lahir dengan sebilah pedang dan diberinama Indera Bangsawan.
Sejak kecil kedua anak baginda itu dididik dengan baik. Mereka tumbuh dengan akhlak dan perilaku
yang baik. Saat usia mereka telah mencapai tujuh tahun, Raja Indera Bungsumemerintahkan kedua
putranya untuk belajar mengaji kepada Mualim Sufian. Setelah beberapa lama, mereka belajar pula ilmu
kesaktian dari guru mereka.
Sang ayah mulai bimbang untuk menentukan siapa yang pantas menggantikannyamemerintah
kerajaan. Kembimbangan itu karena kedua putranya sama- sama pandai dan berakhlak baik. Pada suatu
malam, sang Baginda Raja bermimpi tentang buluh perindu. Sang Raja sangatterpesona dengan buluh
tersebut yang memiliki suara sangat merdu. Keesokan harinya,Baginda Raja menceritakan mimpinya
tersebut pada kedua anaknya. Ia pun membuat sebuahsayembara untuk kedua putranya, barangsiapa
yang bisa mendapat buluh perindu, dialahyang akan menggantikan dirinya untuk menjadi raja. Kedua
putranya itu kemudian memohonkepada Baginda Raja untuk memulai pengembaraan mencari buluh
perindu yang diinginkanayahnya. Dalam perjalanan mereka selalu bersama hingga suatu saat karena
angin topan,hujan lebat, dan awan gelap gulita mereka jadi terpisah.
Syah Peri berjalan dan terus berjalan hingga ia menemukan suatu taman dan sebuah
mahligai.Dalam mahligai itu, Syah Peri menemukan sebuah gendang. Dipukulinya gendang
tersebutkeras-keras. Pada saat dia sedang memukul gendang itu didengarnya suara lain yang berasaldari
dalam gendang. Syah Peri lalu merobek gendang tersebut dengan pisaunya. Betapakagetnya Syah Peri
karena dia mendapati seorang Putri dan dayang-dayang nya sedang bersembunyi di dalam gendang.
Setelah dikeluarkan dari dalam gendang, Sang Putri bercerita bahwa dia disembunyikan di dalam
gendang oleh ayahnya untuk menghindari seranganraksasa Garuda yang telah meluluh-lantahkan
kerajaan mereka.
Tak lama kemudian raksasa Garuda datang hendak membunuh sang Putri. Syah Peri
segeramenyelamatkan Sang Putri dan bertarung melawan raksasa Garuda. Raksasa Garuda itupundapat
dikalahkannya. Syah Peri selanjutnya menikahi Putri Ratna Sari dengan disaksikan olehdayang-dayang
Sang Putri.
Di lain tempat, Indera Bangsawan menemukan suatu padang yang tidak cukup luas. Di
dalam padang itu terdapat sebuah gua yang dihuni oleh raksasa perempuan. Indera Bangsawan bertemu
dengan raksasa perempuan itu. Dijadikannya raksasa perempuan itu sebagaineneknya. Selama mereka
bersama, raksasa tersebut banyak memberikan pengalaman baiknya, memberikan ilmu-ilmu,
memberikan buluh perindu, dan memberikan sebuah senjata berupa sarung kesaktian untuk melawan
Buraksa. Raksasa tersebut bercerita bahwa InderaBangsawan sedang berada di negeri antah berantah
yang diperintah oleh Raja Kabir, sebuahkerajaan yang akan dihancurkan oleh Buraksa. Raksasa meminta
Indera Bangsawan untuk membantu kerajaan tersebut.
Raja Kabir akan menyerahkan putrinya, Putri Kemala Sari kepada Buraksa sebagai upeti
agarkerajaan itu tidak di hancurkan oleh Buraksa. Setelah Indera Bangsawan berhasil masuk diwilayah
kerajaan dengan menyamar sebagai budak berambut keriting.
“Barangsiapa yang bisa membunuh Buraksa dan membawa mata dan hidungnya yang berjumlah tujuh,
maka dia akan dinikahkan denga Puteri Kemala Sari” kata Raja Kabir.
Indera Bangsawan segera bergegas untuk mengejar dan mencari Buraksa tersebut.
Dengankepandainnya, Indera Bangsawan berhasil menemukan Buraksa lebih dulu dari yang lain,
danakhirnya ia dapat mengalahkan Buraksa. Indera Bangsawan juga memotong mata dan hidungBuraksa
yang berjumlah tujuh itu untuk dipersembahkan kepada Raja Kabir.
Sampai di istana Indera Bangsawan segera menghadap Raja Kabir. Raja Kabir bahagiakarena ada
orang yang dapat menyelamatkan putrinya. Pada saat itu juga Putri Kemla Sarisegera dinikahkan dengan
Indera Bangsawan.
Indera Bangsawan sudah mendapatkan buluh perindu yang diinginkan ayahnya, maka iamengajak
istrinya untuk kembali ke kerajaan Kobat Syahrial untuk menghadap ayahnya.Ternyata Indera Bangsawan
mendadak jatuh sakit.
Di tempat berbeda Syah Peri beberapa hari tidak dapat tidur dengan nyenyak dan
selalumemimpikan adiknya, Indera Bangsawan. Dalam mimpinya, Indera Bangsawan sedang sakitkeras
dan membutuhkan pertolongannya. Maka berangkatlah ia mencari Indera Bangsawan.
Setelah berhari-hari mencari, sampailah Syah Peri di kerajaan antah-berantah itu. Iamenemukan
Indera Bangsawan sedang tergeletak sakit tak berdaya dengan ditemani istrinya.Syah Peri lalu berusaha
untuk menyembuhkan Indera Bangsawan.
Selang beberapa hari, Indera Bangsawan berangsur-angsur sembuh. Syah Peri dan istrinyalantas
mengajak Indera Bangsawan dan istrinya untuk kembali ke kerajaan Kobat Syahrial.Baginda raja Indera
Bungsu sangat bahagia melihat kepulangan kedua putranya yangdidampingi juga oleh istrinya.
Indera Bangsawan langsung menyerahkan buluh perindukepada sang ayah. Sang ayah bertambah
bahagia dan langsung mengangkat InderaBangsawan menjadi raja untuk menggantikannya menjadi raja
Kobat Syahrial. Untukmembalas kebaikan hati kakaknya, Indera Bangsawan memberi Syah Peri sebuah
batuhikmat. Batu hikmat tersebut dapat dimanfaatkan Syah Peri untuk dijadikan sebuah kerajaanlengkap
dengan abdi kerajaan, rakyat, dan perlengkapan kerajaan. Akhirnya, kedua kerajaanitu berkembang
bersama saling bahu-membahu untuk menciptakan kerukunan, kemakmuran,dan perdamaian.

Anda mungkin juga menyukai