Anda di halaman 1dari 13

1

Makalah individu

TAFSIR METODE PEMBELAJARAN AL-QURAN
Di ajukan sebagai salah satu syarat mendapatkan nilai tambahan
dengan mata kuliah tafsir









Oleh :

RESKI AMALIA
(10.1100.066)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PAREPARE
2012








2


KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt., atas limpahan Rahmat dan
Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelasaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang
telah ditentukan.
Shalawat dan salam kepada junjungan Nabiullah Muhammad saw., sebagai pembawa
misi kebenaran dalam mengangkat harkat dan martabat umat manusia dipermukaan bumi ini,
sehingga menuju kepada kehidupan yang terang benderang di bawah Nur Ilahi.
Ucapan terima kasih tak lupa kami haturkan kepada semua pihak yang telah
membantu terselesaikannya makalah ini, kami menyadari makalah ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan maka dari itu kami mengharapkan saran dan kritiknya dalam penulisan ini
yang dapat membangun bagi kami, demi penyempurnaan penulisan selanjutnya.


Parepare, 20 Januari 2012

Penulis







3


DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Metode pembelajaran dalam al-quran......................................................... 3
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ............................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................












4



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Metode merupakan hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di
lembaga pendidikan. Apabila proses pendidikan tidak menggunakan metode yang tepat
maka akansulit untuk mendapatkan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Sinyalemen ini
seluruh pendidik sudah maklum, namun masih saja di lapangan penggunaan metode
mengajar ini banyak menemukan kendala.Kendala penggunaan metode yang tepat dalam
mengajar banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor ; keterampilan guru belum memadai,
kurangnya sarana dan prasarana,kondisi lingkungan pendidikan dan kebijakan lembaga
pendidikan yang belum menguntungkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Apa yang ditemukan oleh Ahmad Tafsir (1992) mengenai kekurangtepatan
penggunaan metode ini patut menjadi renungan. Beliau mengatakan pertama,
banyak siswa tidak serius, main-main ketika mengikuti suatu meteri pelajaran, kedua
gejala tersebut diikuti oleh masalah kedua yaitu tingkat penguasaan materi yang rendah,
dan ketiga para siswa pada akhirnya akan menganggap remeh mata pelajaran
tertentu1.Kenyataan ini menunjukan betapa pentingnya metode dalam proses belajar
mengajar.Tetapi betapapun baiknya suatu metode tetapi bila tidak diringi dengan
kemampuan guru dalam menyampaikan maka metode tinggalah metode.
Ini berarti faktor guru juga ikut menentukan dalam keberhasilan proses kegiatan
belajar mengajar. Sepertinya kedua hal ini saling terkait. Metode yang baik tidak akan
mencapai tujuan bila guru tidak serius menyampaikannya. Begitu juga sebaliknya metode
yang kurang baik dan konvensionalakan berhasil dengan sukses, bila disampaikan oleh
5

guru yang kharismatik danberkepribadian, sehingga peserta didik mampu mengamalkan
apa yang disampaikannya tersebut. Sesuai dengan Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam
di dalamnya memuat berbagai informasi tentangseluruh kehidupan yang berkaitan dengan
manusia. Karena memang Al-Quran diturunkan untuk umat manusia, sebagai sumber
pedoman, sumber inspirasi dan sumber ilmu pengatahuan. Salah satunya adalah hal yang
berkaitan dengan pendidikan.
B. RumusanMasalah
1. Bagaimanakah metode pembelajaran berdasarkan surah al-Maidah : 67?

















6



BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode Pembelajaran Dalam al-Quran
Pembelajaran dan pengajaran dalam presfekif Al Quran, Metode pembelajaran dan
mengajar dalam Islam tidak terlepas dari sumber pokok ajaran yaitu Al-Quran. Al-Quran
sebagai tuntunan dan pedoman bagi umat telah memberikan garis-garis besar mengenai
pendidikan terutama tentang metode pembelajaran dan metode mengajar.
Secara etimologi metode berasal dari bahasa Greeka, yaitu Metha artinya melalui
atau melewati dan Hodos artinya jalan atau cara.Dalam kajian keislaman metode berarti
juga Thoriqoh, yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk
melakukan suatu pekerjaan. Dengan demikian metode mengajar dapat diartikan sebagai
cara yang digunakan oleh guru dalam membelajarkan peserta didik saat berlangsungnya
proses pembelajaran.Adapun secara terminologi, para ahli pendidikan mendefinisikan
metode sebagai berikut :
1. Hasan Langgulung mendefinisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus
dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan.
2. Abd. Al Rahman Ghunaimah mendefinisikan bahwa metode adalah cara-cara yang
praktis dalam mencapai tujuan pengajaran.
3. Ahmad Tafsir mendefinisikan metode mangajar adalah cara yang paling tepat dan
cepat dalam mengajarkan mata pelajaran.
1


Ada beberapa landasan dasar dalam menentukan metode yang tepat dalam mengajar
diantaranya diulas oleh Abu Ahmadi, beliau mengatakan bahwa landasanuntuk pemilihan

1
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992, hlm. 135
3
7

metode ialah Sesuai dengan tujuan pengajaran agama, sesuai dengan jenis-jenis kegiatan,
menarik perhatian murid, maksud metodenya harus dipahami siswa.
2

1. Surah Al Maidah ayat 67
B)0X_Bb1BX0
@f.;Ff,VVB@6
1=JB;PBb,
B1BbNfBbN),)_fBb
NBb
Artinya:
Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu
tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanah-
nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia, sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
a. TafsiranMufrodat
Hai Rasul
Sampaikanlah
Apa yang di turunkan kepadamu
Dari Tuhanmu.
Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu)
Kamu tidak menyampaikan
Amanat-Nya
Allah memelihara kamu
Dari (gangguan) manusia
. Sesungguhnya Allah
Tidak memberi petunjuk
Kepada orang-orang yang kafir
b. Asbhabunnuzul
Dijelaskan dalam hadist dari Hasan, bahwa Rasullulahsaw, pernah bersabda,
sesungguhnya allah telah mengutusku untuk membawah risalah-nya hal ini membuatku
merasa susah, dan aku telah mengetahui bahwa orang-orang pasti mendustakan diriku,

2
Abu Ahmadi, Metodik Pengajaran.

8

akhirnya Allah memberikan ultimatum kepadaku, apakah aku menyampaikannya
ataukah dia mengazabku. Kemudian Allah menurunkan ayat :
Hai Rasul sampaikan apa yang diperintahkan oleltuhan-mu
Dari mujahid telah menceritakan takalah ayat ini diturunkan Nabi saw berkata:
Wahai Tuhanku, apakah yang harus saya perbuat sedangkan diriku ini seorang diri dan
mereka adalah orang-orang yang banyak yang berada di sekelilingkuTerus turunlah
ayat: Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang menjadi perintahku itu, berarti kamu
tidak menyampaikan risalah/amanat-Nya).
Ibnu Hibban mengetengahkan dalam kitab shahinya dari Abu Hurairahr.a
mengatakan, bahwa kami jika berada dalam suatu perjalanan bersama Rasullullahsaw,
kami berikan buat beliau saw. Pohon yang paling besar dan rindang untuk tempat
berteduh beliau, kemudian pada suatu ketika beliau sawdibawah sebuah pohon dan
menggantungkan pedangnya di pohan itu, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki
baduimenghanus pedangnya, lalu lelaki itu berkata : Wai Muhammad, siapa yang bisa
mencegah diriku terhadapmu ? Rasullullahsaw menjawab: hanya Allah yang bisa
mencegahmu dariku. Sekarang letakkanlah pedangmu, lelaki itu menurut apa yang
dikatakan beliau dan meletakkan pedangnya, setelah kejadian itu maka turunlah ayat,
Allah memeliharamu dari(gangguan) manusia
3

c. Kandungan ayat
Kata-kata baligh dalam bahasa Arab itu merupakan pernyataan yang sangat
jelas apalagi bentuknya fiil amr. Dalam tafsir Al-Jalalinlafadz baligh terselip
kandungan (seluruhnya). Berarti nabi harus menyampaikan secara keseluruhan
yang telah diterima dari Allah SWT. Tidak boleh ada yang disembunyikan sedikitpun
dari Nabi ( . Dalam Tafsir Ibnu Katsir juga dijelaskan bahwa makna

3
Jalaluddin as-suyuthi,1990,Tafsirjalalain,Kota:Bandung,SinarBaru,hal 482.
9

baligh dalam surat Al-Maidah merupakan fiil amr yang terkandung makna untuk
menyampaikan seluruh yang diterima dari Allah SWT.
4

Maksudnya: Hai Rasul, sampaikanlah kepada semua orang segala yang telah
diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu yang memiliki perkaramu, dan menyampaikan
kamu pada kesempurnaan, dan jangan kamu khawatir dalam menyampaikan itu
terhadap seorang pun, dan janganlah takut kamu ditimpa bahaya karenanya. Dan kalau
kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan kepadamu, yakni
menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu, umpamanya kamu sembunyikan,
sekalipun hanya untuk sementara, karena takut disatiti orang, baik dengan perkataan
atau perbuatan, maka sudah perbuatan dosa bagimu bila kamu menyampaikan risalah
dan tidak melaksanakan apa yang diperintahkanmu karena kamu diutus.
Tersirat dalam Surat Al-Maidah ini mengandung makna bahwa menyampaikan
risalah itu merupakan perintah Tuhan. Allah memerintahkan Nabi untuk
menyampaikan risalah kenabian kepada umatnya jika tidak maka nabi termasuk orang
yang tidak menyampaikan amanat. Peringatan Allah kepada nabi mengakibatkan beliau
sangat ketakutan sehingga dada nabi terasa sesak, saking beratnya tugas ini.
Pada awalnya Nabi merasa takut untuk menyampaikan risalah kenabian. Namun
karena ada dukungan lansung dari Allah maka keberanian itu muncul. Dukungan dari
Allah sebagai pihak pemberi wewenang menimbulkan semangat dan etos dakwah nabi
dalam menyampaikan risalah. Nabi tidak sendirian, di belakangnya ada semangat
Agung, ada pemberi motivasi yang sempurna yaitu Allah SWT. Begitu pun dalam
proses pembelajaran harus ada keberanian, tidak ragu-ragu dalam menyampaikan
materi.

4
Ahmad Tafsir,Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam,Bandung :Remaja Rosda Karya,1992, hlm.131
10

Dengan hal ini, dalam proses pendidikan dapat kita ambil sebagai metode
pembelajaran, pendidik menyampaikan sesuai dengan apa tema, sub yang di pelajari
dengan keberanian, semangat, dan tidak ragu-ragu karena itu merupakan suatu yang
benar artinya penyampaian dengan bahasa kepada peserta didik. Hal yang kedua agar
komunikasi dalam proses pembelajaran dapat diterima peserta didik dengan semangat
pula sehingga terjadi proses belajar mengajar yang efiktif dan efesien.



















11

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan merupakan salah satu sendi dalam beragama. Ajaran Islam bisa bertahan
sampai saat ini salah satunya karena ada proses pendidikan disamping dakwah tentunya.
Islam berkambang dan hidup mencapai masa keemasan karena ada tradsisiilmiyah, tradisi
intelektual dengan semangat mengamban amanat suci menyebarkan ajaran Islam ke
penjuru dunia. Para dai yang menyebar ke seluruh penjuru dunia tersebut menggunakan
Al-Quran sebagai pedoman baik dari segi orientasi, tujuan, cara atau metode
penyampaian, media dan alat bahkan materi yang terkandung dalam penyampaiannya pun
diambil dari Al-Quran.
Dalam menyampaikan risalah tersebut Nabi Muhammad SAW, kami dapat
memperoleh pedoman yang sangat berharga yaitu berupa prinsip-prinsip dasar dalam
metode menyampaikan materi ajaran Islam yang tercantum dalam surat An-Nahl ayat 125.
Ayat ini memuat tentang prisnsip-prinsip (berdakwah, mengajar, mendidik ) yang terdiri
dari Al-Hikmah (arif-bijaksana bersumber dari Al-Quran), Maudzoh Hasanah (perkataan
yang baik, lemah lembut) dan Mujadalah (diskusi, dialog bila perlu berdebat ).
Imam MurtadhaMutahhari (ulama besar Iran) mengatakan bahwa untuk menghadapi
cendekiawan yang cinta kebenaran dan berfikir kritis, mereka ini harus dipanggil dengan
hikmah yakni pendidik harus menyampaikan sesuatu dengan alasan-alasan, dalil-dalil, dan
hujjah yang dapat diterima oleh mereka. Menghadapi golongan awam, orang kebanyakan
yang belum dapat berfikir secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap
pengertian-pengertian yang tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mauidzahhasanah,
Pendidik harus menyampaikan sesuatu sebagai anjuran dan didikan yang baik-baik,
dengan ajaran-ajaran yang mudah difahami.
12

Adapun menghadapi golongan yang tingkat kecerdasannya diantara kedua golongan
tersebut, mereka ini dipanggil dengan mujadalahbillatihiyaahsan, yakni Pendidik ketika
melakukan sesuatu dengan bertukar pikiran guna mendorong supaya berfikir secara sehat
dengan cara-cara yang lebih baik.
Prinsip dasar inilah yang berkembang menjadi beberapa inspirasi dalam konteks
kekinian baik dalam bidang dakwah, komunikasi, publicrelition, pendidikan dan hal-hal
lain yang berhubungan dengan interaksi sesama manusia. Pendidikan sebagai salah satu
bagian dari dakwah yaitu mengajak manusia dalam hal kebaikan dan mencegah keburukan
tidak terlepas dari penggunaan beberapa prinsip tersebut di atas. Sehingga peserta didik
bisa mendapatkan ilmu serta terjadi perubahan tingkah laku yang diharapkan dari setiap
proses kegiatan belajar mengajar.












13

DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad. 1992. IlmuPenddikanDalamPerspektif Islam.Bandung: RemajaRosdaKarya.

as-Suyuti, Jalaluddin. 1990. TafsirJalalain.Bandung :SinarBaru.