Anda di halaman 1dari 13

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

Tujuan Praktikum
1. Memahami konsep perakitan (assembly). 2. Memahami dan mampu menyusun assembly chart (AC) dan Bill of Material (BOM). 3. Membuat assembly secara bottom-up (parts to assembly). 4. Mendalami konsep mating (mate). 5. Menguasai edit, move, rotate assembly. 6. Mengenalkan proses top-down assembly.

Teori Singkat
Proses manufaktur (manufacturing processes) dapat dibagi dalam dua tipe dasar, yaitu operasi permesinan (processing operations) dan operasi perakitan (assembly operations).

Gambar 1 Proses Manufaktur dan Jenisnya


Operasi permesinan mengubah material dari status awal ke status berikutnya hingga menjadi produk akhir yang diinginkan dengan memanfaatkan energi (mekanik, termal, kimia, maupun elektrik). Pada operasi permesinan, nilai tambah (value added) dihasilkan melalui perubahan geometri, sifat, ataupun penampilan dari material awal. Operasi perakitan merupakan penggabungan dari dua atau lebih entitas menjadi entitas baru yang disebut subassembly, assembly, ataupun istilah lain yang berhubungan dengan operasi perakitan (contohnya: hasil perakitan) baik bersifat permanent (menggunakan welding, soldering, dan lain-lain) ataupun semipermanen (menggunakan fastener: screws, bolts, nuts, dan lainlain). Untuk mempermudah proses perakitan, dapat digunakan dua tools: Assembly Chart (AC) dan Bill of Material (BOM).

Halaman ke-1 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

ASSEMBLY CHART (AC)


Assembly chart merupakan sebuah diagram yang menggambarkan urutan perakitan komponenkomponen menjadi subassembly-subassembly, yang akhirnya dirakit menjadi assembly akhir (produk jadi). Format assembly chart dicantumkan di gambar 2. Pada struktur assembly chart, nomor-nomor part dicantumkan dalam lingkaran-lingkaran paling kiri (huruf xx). Lingkaran-lingkaran yang berisi nomor part ini diletakkan segaris vertikal, dan di sebelah kiri setiap lingkaran dicantumkan nama part yang sesuai dengan nomor dalam lingkaran tersebut. Lingkaran-lingkaran bertuliskan SiAj merupakan entitas baru hasil assembly dua entitas lain. Pada lingkaran-lingkaran SiAj, penomoran i bertambah dari kanan ke kiri; penomoran j bertambah dari atas ke bawah.

Gambar 2 Assembly Chart

Halaman ke-2 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

BILL OF MATERIAL (BOM)


Bill of Material adalah definisi produk akhir yang terdiri dari daftar item, bahan, atau material yang dibutuhkan untuk merakit, mencapur, atau memproduksi produk akhir. BOM terdiri dari berbagai bentuk dan dapat digunakan untuk berbagi keperluan. BOM dibuat sebagai bagian dari proses desain dan dapat digunakan oleh manufacturing engineer untuk menentukan item yang harus dibeli atau dibuat. Accounting menggunakan BOM untuk menentukan harga produk. Untuk aktivitas perencanaan dan pengendalian produksi, BOM merupakan input dasar yang diperlukan, dan keakurasiannya sangat krusial. BOM terdiri dari berbagai bentuk dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Pada praktikum kali ini, digunakan format BOM dengan tabel yang kolom-kolomnya memuat informasi mengenai: 1. Part number (nomor part), 2. Description (nama part dan keterangan lain yang perlu dicantumkan), 3. Quantity (Kuantitas part untuk setiap satu produk jadi), dan 4. Unit of measure (Unit ukuran part). Bila ditinjau dari komponen-komponen pentusun produknya, BOM dibedakan menjadi dua macam, yaitu Single Level Bill of Material dan Multilevel Bill of Material.

Single Level Bill of Material


Format sederhana Bill of Material disebut sebagai Single Level BOM. Format ini menggambarkan produk yang tidak memiliki subassembly. Format Single level Bill of Material dicantumkan pada Tabel 1. ABC Lamp Company Bill of Material, Part LA01 Quantity for Each Assembly 1 1 1 Unit of Measure Each Each Each

Part Number B100 S100 A100

Description Base assembly 14 Black shade Socket assembly

Tabel 1 Contoh Single Level Bill of Material

Multilevel Bill of Material


Produk-produk yang memiliki subassembly tidak dapat digambarkan dalam bentuk Single Level BOM. Untuk produk-produk dengan subassembly, digunakan Multilevel Tree dan Multilevel Bill of Material. Multilevel tree berupa pohon dengan beberapa level yang menggambarkan struktur produk. Produk akhir berada pada level 0 (nol), dan nomor level bertambah untuk level-level di bawahnya. Format Multilevel Tree dicantumkan pada Gambar 3, sedangkan format Multilevel Bill of Material dicantumkan pada Gambar 4.

Halaman ke-3 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

Gambar 3 Contoh Multilevel Tree

ABC Lamp Company Bill of Material, Part LA01

Part Number

Description

Quantity for Each Assembly 1 1 26 1 1 4 1 1 1 1 1 12 1

Unit of Measure Each Each Inches Each Each Each Each Each Each Each Each Feet Each

B100 1100 2100 1200 1300 1400 S100 A100 1500 1600 1700 2200 2300

Base assembly Finished shaft 3/8 Steel tubing 7-Diameter steel plate Hub -20 Screws 14 Black shade Socket assembly Steel holder One-way socket Wiring assembly 16-Gauge lamp cord Standard plug terminal

Tabel 2 Contoh Multilevel Bill of Material

Halaman ke-4 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

ASSEMBLY DENGAN SOLIDWORKS


Software SolidWorks menawarkan feature Assembly Modeling untuk memudahkan proses assembly. Topik Assembly Modelling yang akan dibahas dalam modul 4 ini adalah : 1. Tipe assembly 2. Penempatan entitas pada file assembly 3. Pengaturan entitas pada file assembly 4. Langkah-langkah assembly 5. Pengecekan interference

Tipe assembly
Ada dua tipe assembly yang dapat digunakan, yaitu: 1. Bottom-up Assembly Bottom-up Assembly adalah tipe assembly yang paling sering digunakan. Pada tipe ini, semua entitas yang akan dirakit dibuat pada file-file yang terpisah, kemudian entitas-entitas ini ditempatkan pada file assembly sebagai entitas eksternal. 2. Top-down Assembly Pada top-down assembly, semua entitas yang akan di-assembly dibuat pada file assembly yang sama. Pada praktikum Modul 4 ini, tipe assembly yang digunakan adalah tipe yang pertama (bottom-up assembly), sedangkan tipe kedua (top-down assembly) hanya akan dijelaskan secara singkat.

Penempatan Entitas pada File Assembly (untuk Bottom-up Assembly)


Ada beberapa teknik untuk menempatkan komponen pada file assembly, namun yang umum digunakan adalah cara 1, 2, 3, atau 4. 1. Menempatkan Entitas Menggunakan Insert Component Property Manager Klik button Insert Component, lalu cari file entitas yang akan dimasukkan dalam file assembly. Entitas yang pertama kali dimasukkan dalam file assembly merupakan basis (base) atau entitas utama dari entitas-entitas lainnya. Entitas yang dimasukkan dapat berupa part atau hasil assembly lain (subassembly). 2. Membuat File Assembly dari File suatu Part / Assembly Buka file base part (entitas utama) atau file subassembly yang sudah ada, kemudian klik button make assembly from part/assembly dari Standard Toolbar. 3. Menempatkan entitas dengan Dragging dari Windows Explorer Klik part/subassembly di Windows Explorer dan drag langsung ke lembar kerja assembly Solidworks. 4. Menempatkan entitas menggunakan file yang terbuka Buka file-file yang akan di-assembly, kemudian pada menu Window pilih Tile Horizontally atau Tile Vertically. Klik entitas dan drag langsung ke lembar kerja Assembly. 5. Menempatkan komponen dari Internet Explorer 6. Placing the Additional Instances of Existing Component in the Assembly 7. Placing the Component Using the Feature Pallet Window

Halaman ke-5 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

Pengaturan Entitas pada File Assembly


A. Move component Entitas dapat dipindahkan dengan cara : y y Pilih suatu entitas dan langsung drag entitas tersebut ke lokasi yang diinginkan. Klik button Move Component, kemudian pindahkan entitas dengan memanfaatkan option-option pada Move Component Property Manager. B. Rotate component Entitas dapat diputar dengan cara: y Klik kanan pada suatu entitas dan tahan, kemudian putar entitas ke posisi yang diinginkan y Klik button Rotate Component, kemudian putarkan entitas dengan memanfaatkan option-option pada Rotate Component Property Manager

C. Memindahkan dan Memutar Entitas Menggunakan Triad y y y Pilih suatu entitas, lalu klik kanan untuk menampilkan shortcut menu Pilih option Move with Triad dari shortcut menu dan triad akan muncul pada komponen Triad dapat digunakan untuk moving atau rotating komponen dengan arah seperti pada Gambar 4

Gambar 4 Triad dan ArahD. Mengedit Entitas y y Pilih suatu entitas, lalu klik button Edit Component Entitas yang dipilih bisa langsung diedit di lembar kerja Assembly

arahnya

Langkah-Langkah Assembly
a. Assembly komponen dengan menggunakan MatePropertyManager Mate adalah fitur yang digunakan untuk menentukan posisi sebuah komponen terhadap komponen lainnya. Jenis mates terdiri atas Standard Mates dan Advanced Mates. Ada 6 bentuk standard mates (Concentric, Parallel, Perpendicular, Tangent, Angle, Distance, dan Coincident). Klik Mate button pada Assemblies Command Manager. Mate Property Manager ditampilkan di Gambar 5.

Halaman ke-6 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI Standard Mates

Gambar 5 Mate Property Manager

Pilih dua feature yang akan di assembly. Kedua feature ini akan muncul pada kolom Mate Selections. Toolbar Mate ditampilkan pada Gambar 6.

Gambar 6 Mate Toolbar

1. Concentric Digunakan untuk bidang-bidang atau garis-garis yang berbentuk lingkaran (seperti lubang atau poros) sehingga kedua bidang atau garis ini memiliki center point yang sama (sepusat). Contoh:

Halaman ke-7 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI 2. Parallel Digunakan untuk memposisikan kedua bidang atau garis yang dipilih supaya menjadi sejajar (parallel) antara yang satu dengan lainnya. Contoh:

3. Perpendicular Digunakan untuk memposisikan dua bidang atau garis yang dipilih supaya menjadi tegak lurus antara yang satu dengan lainnya. Contoh:

4. Tangent Digunakan jika salah satu bidang yang dipilih berbentuk cylindrical, conical, atau spherical agar bidang tersebut dapat menempel pada bidang atau garis lainnya. Contoh:

Halaman ke-8 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI 5. Angle Digunakan untuk memberikan sudut antar dua bidang yang diinginkan. Contoh:

6. Distance Digunakan untuk memberikan jarak antar dua bidang yang diinginkan. Contoh:

7. Coincident Digunakan untuk menempelkan dua bidang, sisi, atau titik yang yang diinginkan. Contoh:

Halaman ke-9 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

Pengecekan Interference
Untuk memeriksa apakah entitas-entitas pada suatu assembly beririsan (interference) atau tidak, klik buttonn Interference Detection pada Assemblies Command Manager. Interference Detection Property Manager ditampilkan di samping. Jika ada interfernce pada entitas-entitas suatu assembly, interference tersebut akan ditampilkan pada entitas-entitas assembly; dan list semua interference yang ada ditampilkan pada kotak Interfernce Results.

Top-Down Assemblies
1. Pada Assembly Command Manager, pilih New Part. Dengan menggunakan left mouse button, tempatkan komponen pada salah satu plane pada Feature Manager Design Tree. Plane tempat komponen tersebut dipilih sebagai sketching plane dan sketcher environment akan terbentuk secara otomatis. 2. Buat sketch dari base feature pada sketching environment, atau keluar dari sketcing environment tersebut dan pilih sketcing plane lain untuk membuat sketch. Setelah membuat sketch dari base feature, keluarlah dari sketching environment. 3. Tampilkan Features toolbar pada skethcing environment untuk pembuatan feature yang berasal dari sketch yang telah dibuat. Dengan cara yang sama, buat feature lainnya. 4. Komponen yang dibuat dengan top-down assembly selalu fix dengan menggunakan Inplace Mate.

Halaman ke-10 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

Latihan Plummer Block

Part Number 1 2 3 4 5 6

Description Nut Lock Nut Bolt Cap Brasses Casting

Quantity 2 2 2 1 1 1

Unit of Measure Each Each Each Each Each Each

Double Bearing

Part Number 1 2 3 4

Description Cap Base Bushing Bolt

Quantity 1 1 2 6

Unit of Measure Each Each Each Each

Halaman ke-11 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

Shaft

Part Number 1 2 3 4 Multilevel Hinge

Description Base Rod Ring Screw

Quantity 1 1 2 6

Unit of Measure Each Each Each Each

Part Number 1 2 3 4 5 6 7 8

Description Bracket U-Support Pivot Bolt Bushing Washer Nut Self-Lock Nut

Quantity 1 1 1 1 2 1 1 1

Unit of Measure Each Each Each Each Each Each Each Each
Halaman ke-12 dari

13 halaman

Modul Basic Assembly PRAKTIKUM TI 1221 DASAR PERANCANGAN TEKNIK INDUSTRI

Wheel Support

Part Number 1 2 3 4 5 6 7 8

Description Base Support Wheel Shoulder Screw Bolt Nut Bushing Washer

Quantity 1 2 1 1 4 1 1 1

Unit of Measure Each Each Each Each Each Each Each Each

Halaman ke-13 dari

13 halaman