Anda di halaman 1dari 11

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

ESTIMASI BIAYA FOULING PADA ALAT PENUKAR PANAS UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR Zainus Salimin, Endang Nuraeni
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN

ABSTRAK
ESTIMASI BIAYA FOULING PADA ALAT PENUKAR PANAS UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR. Alat penukar panas digunakan untuk pengelolaan sumber panas, pengambilan panas dari fluida, dan aplikasi proses industri seperti pengolahan limbah. Pemekatan larutan melalui penguapan dengan alat tubular heating surface adalah cara efektif untuk dekontaminasi limbah radioaktif cair. Tahanan transfer panas alat yang baru hanya berasal dari lapisan film tipis fluida pada dinding bagian dalam dan luar dari tube, namun setelah alat dioperasikan timbul tahanan transfer panas deposit endapan atau kerak yang disebut fouling factor (Rd). Adanya kerak menyebabkan kebutuhan luas permukaan transfer panas (A) naik, dan kebutuhan tenaga pemompaan (-Ws) meningkat karena luas penampang aliran mengecil dan kehilangan tenaga karena friksi naik. Melalui penggunaan persamaan transfer panas overall selisih kebutuhan A tersebut dapat ditentukan dan melalui penggunaan persamaan aliran selisih kebutuhan tenaga Ws dapat dihitung, sehingga estimasi kenaikan biayanya dapat dihitung. Limbah fasilitas nuklir Serpong berkesadahan tetap CaSO4 dan MgSO4 pada nisbah 2:1 (w/w), bila dipekatkan menimbulkan kerak pada alat penukar panas E 22001 pada nilai Rd 0,002. Adanya fouling tersebut menimbulkan biaya tambahan yang meliputi biaya kapital alat penukar panas berharga 1,67 kali biaya kapital alat tanpa fouling karena luas permukaan transfer panasnya 1,67 kali luas permukaan tanpa fouling, biaya kebutuhan energi naik 1,69 kali dibanding biayanya tanpa fouling, dan kenaikan tenaga pemompaan 1,78 kali tenaga pemompaannya tanpa fouling. Selain itu adanya fouling memerlukan biaya tambahan 24 juta rupiah per tahun untuk penghilangan kerak, dan kehilangan waktu operasi 107 hari per tahun untuk penghilangan kerak. Dalam makalah ini diuraikan perhitungan biaya tambahan tersebut.

ABSTRACT
COST OF HEAT EXCHANGER FOULING FOR TREATMENT OF RADIOACTIVE LIQUID WASTE Heat exchanger are used in many heat sources, heat recovery from hot fluid, and another industrial process application including radioactive liquid waste treatment. Concentrating of solution by evaporation with tubular heating the surface heat exchanger is the effective method for decontamination of radioactive waste. Heat transfer resistance for new equipment comes from fluid thin layers on the inside and outside of tube walls, but after operating of equipment the heat transfer resistance of scale deposit provokes the increasing of heat transfer surface area (A) and pumping energy (-Ws) caused of decreasing of profil area and increasing of friction energy losses. By utilization of overalls heat transfer equation, the differences of A requirement can be calculated, and by utilization of flowing equation of Bernoulli the energy of Ws can be determined. Than the estimation of increasing of cost can be determined. The evaporation of liquid waste at Serpong nuclear facility having the permanent hardness of CaSO4 and MgSO4 with ratio of 2:1(w/w) generates scales or fouling on the heat exchanger of E 22001 with the value of Rd 0,002. The presence of fouling on the heat exchanger of E 22001 gives the additional cost i.e capital investment of equipment increased 1,67 than the capital without fouling cause its heat transfer surface area of 1,7 than the surface area without fouling, energy cost is 1,69 greater than the cost without fouling, and pumping power increased 1,78 than the power without fouling. The presence of fouling gives also additional cost of 24.000.000,00 rupiahs per year for descaling operation and lost of operating time of 107 days per year for descaling operation. These working paper describes the calculation of additional cost due to the presence of fouling.

310

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

I. PENDAHULUAN Alat penukar panas bentuk shell and tube atau tubular heating surface banyak digunakan di industri dalam proses produksi, pengelolaan sumber panas, dan aplikasi proses yang lain seperti pengolahan limbah. Bentuk-bentuk alat penukar panas yang ada meliputi antara lain heater, vaporizer, heat exchanger, evaporator, dan lain-lain. Pada operasional alat penukar panas terdapat dua macam fluida yaitu fluida panas (pemanas) dan fluida dingin (fluida yang dipanaskan dan atau diuapkan) yang masingmasing dialirkan di bagian tube atau shell tergantung pada kepentingan operasionalnya. Pemanas diprioritaskan dialirkan di bagian tube dan fluida yang dipanaskan dialirkan di bagian shell sehingga panas bisa ditransfer kearah luar (kearah fluida dingin yang ada di bagian shell) sehingga tidak ada urgensi dibutuhkannya isolator pada bagian shell. Namun apabila fluida yang dipanaskan tersebut dalam proses pemanasannya dan atau pengalirannya menimbulkan deposit endapan karena proses fouling, maka fluida yang dipanaskan tersebut dialirkan di bagian tube[1,2]. Akibatnya fluida pemanas harus dialirkan pada bagian shell sehingga dibutuhkan isolator sepanjang shell. Keberadaan deposit endapan di bagian tube mudah dibersihkan dengan sikat kawat dan kombinasi perendaman dengan zat kimia[1]. Fouling adalah pembentukan endapan atau deposit zat anorganik dan atau organik pada permukaan transfer panas. Fouling diklasifikasikan berdasarkan proses terjadinya menjadi 6 macam sebagai berikut[3,4,5] : 1. Fouling karena pengendapan pada suhu tinggi. Garam-garam yang termasuk kesadahan tetap seperti kalsium sulfat, magnesium sulfat, kalsium karbonat, magnesium karbonat, dan senyawa silikat kelarutannya turun oleh karena suhu. Dalam pemekatan larutan garam yang mengandung kesadahan tetap melalui proses evaporasi pada suhu didihnya, terjadi kenaikan konsentrasi garam dalam larutan sekaligus penurunan kelarutannya karena kenaikan suhu. Saat konsentrasi larutan bergerak dari kondisi jenuh ke superjenuh terjadilah nukleasi dan pertumbuhan kristal. Kristal bertambah besar dan setelah mencapai

2.

3.

4.

5.

6.

berat tertentu mengendap secara gravitasi. Pada waktu yang bersamaan karena kelarutannya turun akibat kenaikan suhu maka garam yang saat suhunya rendah dalam larutan akan mengendap. Fouling yang terjadi karena pengendapan pada suhu tinggi disebut juga scaling, dan deposit endapan yang didapat disebut scale atau kerak. Fouling karena sedimentasi partikel. Pemekatan larutan yang mengandung partikel padatan terdispersi melalui penguapan pelarutnya menghasilkan peningkatan kadar padatan dalam larutan. Keadaan tersebut menimbulkan resiko sedimentasi partikel padatan pada permukaan transfer panas, deposit padatan tersebut menempel secara adhesi pada dinding transfer panas. Fouling karena reaksi kimia. Bila larutan mengandung senyawa-senyawa yang dapat saling bereaksi pada suhu tinggi membentuk garam hasil reaksi berupa endapan, maka timbullah deposit endapan garam pada dinding transfer panas. Fouling yang terjadi karena reaksi kimia tersebut disebut salting. Fouling karena korosi. Korosi logam karena oksidasi terjadi pada permukaan logam yang mengandung besi sehingga terbentuk besi oksida (karat). Pada korosi permukaan dinding bagian dalam pipa, besi oksida yang terbentuk akan mengumpul dan menutupi penampang saluran pipa yang menyebabkan penahanan aliran sehingga terjadi penurunan tekanan. Fouling karena proses biologi. Deposit endapan dari proses biologi dapat terjadi pada sistem yang menggunakan air tanah atau air perairan yang mengandung mikroorganisme. Kumpulan jamur, ganggang, dan lain-lain yang menempel pada dinding akan membentuk deposit biologi yang disebut biofouling. Fouling karena pemadatan. Fouling karena pemadatan terjadi karena jenis kandungan tertentu dalam umpan larutan. Mekanisme pembentukan deposit kerak dalam pelarut air ditunjukkan pada Gambar 1.

311

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

PADATAN TERSUSPENSI

AIR

MINERAL DAPAT LARUT PELARUTAN


Parameter yang mengontrol waktu, suhu, tekanan, pH, faktor lingkungan, ukuran partikel dan kecepatan pengadukan

LEWAT JENUH
Parameter yang mengontrol waktu, suhu, tekanan, pH, faktor lingkungan, ukuran partikel dan kecepatan pengadukan

PENGENDAPAN DAN PEMADATAN

PERTUMBUHAN KRISTAL

KERAK

Gambar 1. Skema umum mekanisme pembentukan deposit kerak air[5] . Deposit endapan tersebut dapat menyebabkan[6] : a. Isolator panas pada permukaan sehingga menyebabkan penurunan transfer panas melewati dinding pipa. Deposit endapan pada dinding menimbulkan tahanan transfer panas yang menyebabkan penurunan nilai luas permukaan transfer panas sehingga panas yang diterima fluida dari sumber panas melewati dinding pipa menjadi menurun. Guna menghindari penurunan luas permukaan transfer panas tersebut sepanjang periode operasional alat penukar panas, pada tahapan perancangan peralatan telah diperhitungkan adanya deposit kerak melalui penggunaan nilai Fouling Factor (Rd) yang dipersyaratkan sehingga luas permukaan transfer panas yang disediakan menjadi berlebih dari nilai yang dibutuhkan saat awal operasi. b. Meningkatkan kekasaran permukaan dinding pipa (permukaan transfer panas) yang menaikan friksi aliran. Deposit endapan pada permukaan dinding pipa akan meningkatkan nilai (kekasaran permukaan dinding) yang menyebabkan faktor friksi f meningkat, sehingga tenaga yang hilang karena friksi meningkat pula. Akibatnya kebutuhan tenaga pemompaan fluida menjadi naik. Menciptakan lingkungan penampang saluran terlokalisir bila korosi yang terjadi. Deposit besi oksida dari korosi yang terakumulasi pada dinding bagian dalam pipa akan menggunung pada penampang dan memperkecil luas penampang pipa sehingga menghambat aliran yang berakibat tenaga pemompaan meningkat untuk pengaliran dengan laju alir yang sama.

c.

Fouling pada sistem alat penukar panas menimbulkan kehilangan energi, Gambar 2 menunjukkan secara kualitatif bagaimana energi hilang dalam bentuk tahanan gesekan fluida atau tahanan transfer panas yang meningkat[6].

312

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

Gambar 2. Kurva hubungan waktu pengoperasian alat penukar panas terhadap indikasi fouling[6]. Di Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif (IPLR), Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR), terdapat beberapa alat penukar panas yang dalam pengoperasiannya menimbulkan fouling yaitu penukar panas E 22001, E 22002, dan E 22003 berbentuk shell and tube, digunakan untuk pengolahan limbah cair melalui pemekatan larutan dengan menguapkan pelarutnya. Limbah yang diolah mempunyai kandungan unsur radioaktif utama Cs 137 dan Co 60, dengan keasaman (pH) sebesar 7, tidak mengandung garam kimia mudah mengendap kecuali kesadahan tetap CaSO4 dan MgSO4 pada rasio 2:1 dengan kadar kurang dari 1,5% fraksi berat[7]. Limbah cair bersuhu kamar pada laju alir 0,75 m3/h dialirkan pada bagian tube yang mengalami pemanasan sehingga mendidih dan menguap serta mengalami pemekatan 50 kali. Di bagian shell mengalir fluida pemanas yang berupa uap air jenuh, panas laten pengembunannya diberikan kepada limbah cair di bagian tube melewati berturut-turut tahanan transfer panas lapisan tipis fluida panas, tahanan transfer panas dinding tube, dan tahanan transfer panas lapisan tipis fluida dingin. Spesifikasi alat penukar panas E 22001 ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Spesifikasi evaporator IPLR dan data operasi dari panel control evaporator[5]. Spesifikasi Evaporator IPLR* - Bahan evaporator - Jumlah tube - Panjang tube - Diameter luar tube - Diameter dalam tube SS 316 L ** 43 buah 2670 mm 42,4 mm 35,05 mm Data operasi dari panel kontrol evaporator - Laju alir steam pemanas (m) - Temperatur steam masuk (T1) - Temperatur embunan steam keluar (T2) - Panas laten pengembunan steam () - Temp. limbah cair masuk (t1) - Temp. Limbah cair keluar (t2) 950 kg/j *** 120oC=248oF 120oC=248oF

1164 Btu/lb*** 28oC=82,4oF 100oC=212oF *Limbah mengalir di bagian tube dan uap pemanas (steam) mengalir di bagian shell. ** Stainless Steel 316 L. *** Satuan j adalah satuan waktu (jam)

313

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

Alat penukar panas E 22002 merupakan kondensor yang mengembunkan uap dari E 22001. Uap tersebut mengalir dan kemudian mengembun sebagai destilat di bagian shell penukar panas E 22002, sedangkan air pendingin mengalir di bagian tube nya. Destilat dari penukar panas E 22002 dialirkan ke bagian tube penukar panas E 22003 yang kemudian mengalami penurunan suhu sampai suhu atmosfir karena pendinginan oleh air pendingin yang dialirkan melalui bagian shell E 22003[8]. Alat penukar panas E 22001 lebih besar mengalami terjadinya fouling dari penukar panas E 22002 dan E 22003, sehingga hanya pengaruh fouling alat penukar panas E 22001 yang dibahas. Keberadaan fouling pada alat penukar panas yang menimbulkan isolator panas, peningkatan kekasaran permukaan transfer panas, dan terlokalisirnya penampang saluran menyebabkan biaya tambahan pada alat penukar panas yang diakibatkan fouling. Oleh karena itu perlu dianalisis biaya tambahan pada alat penukar panas yang diakibatkan fouling.

Panas pengembunan uap air di bagian shell ditransfer ke cairan yang dipekatkan melalui ketebalan dinding pipa sehingga larutan mendidih. Persamaan transfer panasnya adalah sebagai berikut[2] : Q = U D . A.T ............................................. (3) Dimana : = koefisien transfer panas (Btu/j.ft2.oF) UD A = luas permukaan transfer panas (ft2) T = beda suhu fluida panas dan fluida dingin (oF) Pada alat penukar panas yang baru, tahanan transfer panas berasal dari ketebalan pipa, lapisan film cairan dan lapisan film uap. Persamaan tahanan transfer panasnya mengikuti rumus[2,3,4] :

1 1 1 X .................................... (4) = + + Uc h1 h2 k
Dimana : Uc = koefisien transfer panas pada alat baru (Btu/j.ft2.oF) h1 = koefisien transfer panas lapisan fluida pada sisi panas (Btu/j.ft2.oF) h2 = koefisien transfer panas lapisan fluida pada sisi dingin (Btu/j.ft2.oF) X = tebal tube (ft) K = koefisien transfer panas konduksi dinding tube (Btu/j.ft2.oF) Persamaan (4) dapat ditulis dalam bentuk lain sebagai berikut:

II.TEORI II.1. Transfer Panas dan Fouling Pada Alat Penukar Panas Di dalam operasi penguapan, panas yang dibutuhkan meliputi panas untuk menaikkan dari suhu awalnya menjadi suhu didih larutan dan panas penguapan. Panas yang diberikan uap sebesar Q1 secara ideal harus sama dengan panas yang diterima cairan sebesar Q2 apabila tahanan transfer panas dapat diabaikan, persamaannya sebagai berikut:

h + h2 X 1 = 1 + Uc h1 .h2 k

(5)

Bila tahanan transfer panas dari ketebalan pipa dapat diabaikan maka pers. (5) menjadi :

Q = Q1 = Q2 Q = M .1 ................................................... (1) Q2 = panas sensibel + panas laten penguapan Q2 = m.Cp.t + m. 2 ............................... (2)
Dimana: M = massa uap air pemanas (steam) (lb/j) = panas pengembunan steam (Btu/lb), uap 1 dalam bentuk saturated steam. m = massa cairan (lb/j) Cp = panas jenis cairan (Btu/lb.oF) t = beda suhu antara suhu awal cairan dan suhu didih larutan (oF) = panas penguapan cairan (Btu/lb) 2

h + h2 1 = 1 Uc h1 .h2 h h Uc = 1. 2 .. (6) h1 + h2
Pada proses evaporasi dimana steam mengalir di bagian shell dan cairan lewat di bagian tube, h1 adalah koefisien transfer lapisan uap air pada dinding luar tube dan h2 adalah koefisien transfer lapisan cairan pada dinding dalam tube. Harga h1 adalah 1500 (Btu/j.ft2.oF)[4] dan nilai h2 ditentukan dari persamaan:

k C p . hi = J H De k

.............................(7)

314

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

h2 = hi 0 = h1

Harga JH diperoleh dari Figure 24 Kern[2] dengan terlebih dahulu menghitung bilangan Re.

ID .. (8) OD

hd =

kd Xd

................................................... (12)

Re =

Gt .De

................................................. (9)

Deposit endapan ditinjau komponen pembentuknya merupakan penghambat transfer panas seri yang mengikuti persamaan sebagai berikut:

Dimana: = kecepatan alir massa cairan (lb/j.ft2) Gt De = diameter ekivalen tube = viskositas cairan (lb/ft.j) Alat penukar panas setelah dioperasikan dalam waktu yang cukup lama maka akan timbul deposit endapan pada permukaan transfer panas. Deposit endapan tersebut yang antara lain berupa kerak dari kesadahan tetap, merupakan penghambat transfer panas dari uap ke cairan, biasa disebut tahanan transfer panas pengotor. Secara keseluruhan tahanan transfer panas mengikuti persamaan sebagai berikut[2] :

X X X 1 1 = = d = 1 + 2 + ... (13) U d hd kd k1 k2
Dimana: X1 = tebal kerak (ft). k1 = koefisien transfer panas konduksi deposit endapan kerak (Btu/j.ft2.oF). X2 = tebal deposit endapan garam (ft). = koefisien transfer panas konduksi deposit k2 endapan garam.

1 adalah tahanan transfer panas karena deposit Ud


endapan yang biasa disebut sebagai FoulingFactor (Rd). Nilai Rd merupakan penjumlahan dari Rdi dan Rd0, dimana Rdi adalah nilai fouling pada permukaan dinding bagian dalam tube dan Rd0 adalah merupakan nilai fouling pada permukaan dinding bagian luar tube (dalam shell). II.2. Persamaan Aliran Fluida Persamaan aliran fluida dari suatu sistem aliran adalah merupakan persamaan neraca energi, dikenal sebagai rumus Bernoulli dengan persamaan[9] :

1 1 1 = + U D UC Ud

..................................... (10)

Dimana: = koefisien transfer panas keseluruhan UD (Btu/j.ft2.oF)

1 UD

= tahanan transfer panas keseluruhan

j. ft 2 .o F Btu 1 = tahanan transfer panas saat alat UC


penukar panas masih baru

= V 2 + Z = F Ws ..................(14)

j. ft . F Btu
2 o

1 Ud

= tahanan transfer panas pengotor yang

terbentuk selama proses evaporasi. Bila Xd, kd dan Td berturut-turut adalah tebal deposit endapan, koefisien transfer panas konduksi deposit endapan dan beda suhu sebelum dan sesudah deposit endapan, maka persamaan perpindahan panas secara konduksi melalui deposit endapan adalah:

Dimana: P/ = head tekanan, V2= head kecepatan, Z= head statis, F= head tenaga yang hilang karena friksi, dan Ws = head tenaga pemompaan. Satuan head adalah satuan panjang, untuk menjadikannya menjadi satuan tenaga, head harus dikalikan dengan laju alir massa per satuan waktu dan massa/massa force. Tenaga yang hilang karena friksi mengikuti persamaan sebagai berikut[9]:

F =

fLv 2 ............................................... (15) 2g c D

dQ =

k d .dAd .Td Xd

.................................. (11)

Jika dibuat besaran baru untuk koefisien perpindahan panas lewat deposit endapan sebagai hd diperoleh persamaan:

Dimana: f = faktor friksi yang merupakan fungsi bilangan Re (=vD/) dan kekasaran pipa seperti ditunjukkan pada Fig. 125 Brown [9], untuk aliran laminer Re 2100 nilai f = 64/Re, L = panjang pipa, v = laju alir linear, gc = tetapan gravitasi, dan D = diameter pipa.

315

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

II.3. Transfer Panas Dan Fouling Pada Alat Penukar Panas E 22001 data operasional yang Tabel 1, panas Q = M .1 = 23.437.836 Btu/j. Alat penukar panas E 22001 tipe heat exchanger HE 1-1 dengan jumlah tube 43 buah panjang tube 2670mm, diameter luar tube 42,4 mm. Luas permukaan transfer panas A = Nt..DL = 1192,67 ft2 (1m = 3,28 ft)[7]. Melalui penggunaan data temperatur operasi dari Tabel 1, diperoleh nilai Berdasarkan ditunjukkan pada

Nilai Uc untuk alat penukar panas E22001 mempunyai harga 391 Btu/j.ft2.oF[7,8]. Nilai Rdi dan Rd0 merupakan fungsi jenis fluida yang mengalir seperti ditunjukkan pada Tabel 12 Kern. Berdasarkan prediksi nilai fouling dari Tabel 12 Kern[2], untuk limbah radioaktif cair yang mengalir dalam tube Rdi = 0,002 dan uap air (steam) yang mengalir pada shell Rd0 = 0. Jadi nilai Rd = Rdi + Rd0 = 0,002

j. ft 2 .o F atau Btu

T = LMTD =

(T1 t 2 ) (T2 t1 ) = 85 o F
T t ln 1 2 T t 2 1

0,002 Rd = 4,886

j.m 2 .o C kkal j.m 2 .o C kkal

= 0,0004093

0.0005 Fouling Factor 0.0004 0.0003 0.0002 0.0001 0 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 Waktu evaporasi (jam)

Gambar 3. Kurva hubungan waktu evaporasi terhadap fouling factor [7]. Melalui asumsi bahwa operasi pengolahan limbah cair melalui proses evaporasi dilakukan 24 jam sehari selama 300 hari dalam 1 tahun, melalui Gambar 3[7] terlihat bahwa nilai Rd adalah sebesar 0,0004093 j.m2.oC/kkal. Gambar 3 adalah kurva hubungan waktu operasi evaporasi limbah cair (jam) yang berkadar kesadahan < 1,5% terhadap nilai fouling factor ( masa shutdown pabrik dimana deposit kerak dibersihkan sehingga Rd nol kembali.

III. BIAYA TAMBAHAN YANG DIAKIBATKAN ADANYA FOULING Adanya fouling dalam alat penukar panas menimbulkan biaya tambahan yang dapat dirinci dalam 5 komponen biaya dasar sebagai berikut[4] : 1. Biaya Kapital Alat Penukar Panas Yang Mengandung Fouling Biaya kapital alat penukar panas yang mengandung fouling berharga lebih besar dari yang dibutuhkan pada alat tanpa fouling

hasil penelitian terdahulu[7]. Aplikasi nilai Rd tersebut dilakukan pada perancangan alat penukar panas dalam penentuan dimensi alat penukar panas atau luas permukaan transfer panas, sehingga luas permukaannya mencukupi sepanjang periode operasional sampai dengan

j.m 2 .o C ) kkal

316

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

dikarenakan oversizing dari alat yang berfouling (ukuran alat menjadi lebih besar), adanya peralatan cadangan, keperluan bahan yang khusus, dan ukuran desain alat yang tidak standar. Karena adanya fouling terjadilah reduksi kecepatan transfer panas, desainer menaikkan luas permukaan transfer panas dari alat penukar panas dengan menambahkan ketahanan terhadap fouling agar kecepatan transfer panas yang dikehendaki dapat dicapai. Penambahan luas permukaan transfer panas karena fouling ditunjukkan oleh persamaan (3) dan (10). Melalui persamaan (10) dan (13) ditunjukkan bahwa apabila RD semakin besar maka nilai UD akan semakin kecil dan selanjutnya melalui persamaan (3) untuk nilai Q dan T tetap, UD yang semakin kecil akan memberikan nilai A yang semakin besar. Bila alat penukar panas E 22001 tanpa fouling atau Rd = 0, maka luas permukaan transfer panas (A) berharga :

UD =

Q 23.437.846 Btu = = 231,195 A.T 1192,67 x85 j. ft 2 .o F

Nilai Rd bisa dihitung dari persamaan (10) yaitu :

1 UD

1 + Rd UC

1 1 = + Rd 231,195 391 Rd = 0,002 , nilai ini sesuai dengan


prediksi fouling dimana Rd0 = 0 dan Rdi = 0,002. Jadi sewaktu Rd = 0 atau tanpa fouling nilai A = 705,2157 ft2 dan sewaktu Rd = 0,002 nilai A = 1192,67 ft2. Harga alat penukar panas yang mempunyai luas permukaan transfer panas 705 ft2 adalah $ 96600 dan yang luas permukaan transfer panasnya 1193 ft2 adalah $ 161600 [10]. Jadi harga alat yang mempunyai fouling factor Rd = 0,002 mempunyai nilai 1,67 kali harga alat tanpa fouling. Pada Gambar 4 ditunjukkan hubungan antara faktor fouling alat penukar panas dengan konstruksi material berbeda-beda terhadap biaya kapital alat[4].

A=

Q 23.437.846 = = 705,2157 ft 2 U c .T 391x85

Nilai A sesungguhnya adalah 1192,67 ft2, dari persamaan (3) harga UD dapat dihitung

Gambar 4. Hubungan antara faktor fouling alat penukar panas dengan konstruksi material berbedabeda terhadap biaya capital[4].

317

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

2.

Biaya Kebutuhan Energi Tambahan Pada keadaan tanpa fouling dibutuhkan luas permukaan transfer panas dari alat E 22001 sebesar 705,2157 ft2 agar energi yang diterima berharga 23.437.846 Btu/j, dimana nilai koefisien transfer keseluruhan panasnya (=UC) sebesar 391 (Btu/j.ft2.oF). Saat ada fouling dengan nilai Rd 0,002 (j.ft2.oF/Btu) yang memberikan nilai koefisien transfer panas keseluruhan (=UD) sebesar 231,195 391 (Btu/j.ft2.oF) maka energi yang diterima : Btu/j, padahal panas yang diberikan 23.437.846 Btu/j. Oleh karena itu agar panas yang diterima sebesar 23.437.846 Btu/j maka panas yang harus diberikan sebesar: 23.437.846 x 23.437.846 = 39.638.391,4 Btu/j

D1 = 0,866 D
b. Laju alir linear (V) mengikuti persamaan[10] sbb: Keadaan ada fouling:

V1 =

Q Q = A1 3 A 4 4 V1 = V 3

Q = U D . A.T = 231,195 x 705,2157 x85 = 13 .858 .599,2

c.

Faktor friksi (f) dan bilangan Reynold (Re) mengikuti persamaan sbb[9]: Keadaan awal tanpa fouling:

13.858.599,2

f = 64
f1 =
d.

Re

dan Re =

VD

atau 1,6912 x energi awal. Adanya fouling pada alat penukar panas E 22001 pada nilai Rd = 0,002 (j.ft2.oF/Btu), menimbulkan kenaikan biaya kebutuhan energi tambahan sebesar 1,6912 kali biaya energi saat tanpa fouling. 3. Biaya untuk Tenaga Pemompaan yang Semakin Besar Semakin banyak fouling oleh korosi menyebabkan luas penampang aliran menjadi semakin kecil (menyempit) yang menimbulkan tenaga hilang karena friksi semakin besar atau beda tekanan yang melintasi penukar panas jadi naik. Bila diasumsikan deposit fouling menimbulkan penyempitan penampang dengan luas penampang baru sama dengan luas penampang awal dan fluida mengalir secara laminar, maka: a. Luas penampang (A) dan diameter (D) mengikuti persamaan sbb[9]: Keadaan awal tanpa fouling:

Keadaan ada fouling:

64 64 = = 0,87 f Re1 . 4 V .0,866 D 3

Tenaga yang hilang karena friksi (F) pada panjang pipa L mengikuti persamaan (15) sbb[9]: Keadaan awal tanpa fouling:

F=

fLV 2 2g c D
ada fouling:

Keadaan

16 0,87 f .L. V 2 9 F1 = 2.g c .0,866 D


F1 = 1,78 F
Jadi tenaga yang hilang karena friksi pada keadaan ada fouling berharga 1,78 kali tenaga yang hilang karena friksi pada keadaan tanpa fouling. e. Head kecepatan

D 2 A= 4
Keadaan ada fouling:

A1 =

D1 4

mengikuti persamaan sbb[9]: Keadaan awal tanpa fouling: Head Kecepatan =

V 2 2g

3 A1 = A 4 D D1 = 3 2

V V2 = 2g 2g

318

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

Keadaan Kecepatan = f.

ada
2

fouling:
2

Head

persamaan sbb[9]: Asumsi sistem aliran datar :

V1 16 V = x 2g 9 2g P Head tekanan mengikuti P

F maka

sirkuit tersebut dengan asam nitrat. Asam nitrat penghilang kerak dibutuhkan sebanyak 200 liter untuk pengisian sirkuit (perendaman) sirkuit evaporator, dapat digunakan 8 kali perendaman, setelah itu dilimbahkan. Dalam 1 tahun memerlukan asam nitrat sebanyak 1200 liter. Bila harga asam nitrat 10% adalah Rp 20.000,00 per liter maka dalam 1 tahun diperlukan Rp 24 juta untuk penghilangan kerak.

P P = 1,78 1
g. Tenaga pemompaan (-WS) Dari rumus Bernoulli[9] persamaan (14) dengan asumsi Z=0 tenaga pemompaan adalah: Keadaan awal tanpa fouling:

V. KERUGIAN AKIBAT KEHILANGAN WAKTU PRODUKSI Adanya waktu untuk descaling menyebabkan berkurangnya waktu produksi (pengolahan) sehingga terjadi penurunan kapasitas pengolahan. Melalui asumsi dalam 1 tahun alat penukar panas dioperasikan secara shift (24 jam sehari) selama 300 hari maka waktu descaling = 300/7 minggu x 2 hari/minggu = 107 hari. Jadi waktu pengolahan dalam 1 tahun hanya bisa dilakukan selama 193 hari.

(Ws ) =

V 2 fLV 2 + 2g 2gc D
2

Keadaan ada fouling:

( Ws )1 = 1,78 P + V

2g

fLV 2 2gc D

VI. KESIMPULAN Deposit endapan yang disebabkan oleh fouling pada alat penukar panas menimbulkan isolator panas dan peningkatan kekasaran permukaan transfer panas serta penyempitan penampang aliran. Isolator panas yang terdapat pada permukaan transfer panas menyebabkan kehilangan energi karena energi yang ditransfer terhambat oleh isolator dan tidak sepenuhnya sampai ke fluida yang dipanaskan. Kekasaran pada permukaan dinding saluran menyebabkan timbulnya kehilangan tenaga karena gesekan, begitu pula penyempitan luas penampang aliran memberikan tenaga yang hilang lebih besar lagi. Adanya fouling pada nilai Rd =0,002 dalam alat penukar panas E 22001 menyebabkan kenaikan harga alat 1,67 kali harga alat tanpa fouling, biaya kebutuhan energi menjadi naik 1,6912 kali dibanding biayanya saat tanpa fouling, dan kenaikan tenaga pemompaan 1,78 kali tenaga pemompaan pada alat tanpa fouling. Selain itu adanya fouling memerlukan biaya Rp 24 juta per tahun untuk penghilangan kerak dan kehilangan waktu 107 hari dalam 300 hari untuk penghilangan kerak.

Jadi tenaga pemompaan pada keadaan ada fouling berharga 1,78 kali tenaga pemompaan pada keadaan tanpa fouling, maka biaya pemompaan keadaan ada fouling sama dengan 1,78 kali biaya pemompaan pada keadaan tanpa fouling.

IV.

BIAYA TAMBAHAN UNTUK PERAWATAN DAN PEMBERSIHAN KERAK

Kerak yang merupakan tahanan transfer panas harus dibersihkan agar nilai faktor fouling menjadi nol kembali. Pembersihan kerak (descaling) pada bagian tube penukar panas E22001, IPLR, PTLR dilakukan melalui perendaman bagian tube side dengan asam nitrat 10% selama 2,5 hari dari Jumat siang sampai dengan Senin pagi. Pekerjaan tersebut diawali saat setelah selesai operasi evaporasi 24 jam/hari, melalui pengosongan sirkuit limbah cair (bagian tube side) dan kemudian pengisian

319

Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Surakarta, 17 Oktober 2009

ISSN : 0854 - 2910

VII. DAFTAR PUSTAKA 1. ROBERT-FIELD, Chemical Engineering: Introductory Aspects, The Macmilland Press Ltd, London, 1992 2. DONALD Q KERN, Process Heat Transfer, Mc Graw-Hill Book Co, Singapore, 1984 3. SOMERSCALES, E.F.C and KNUDSEN, J.E, Fouling of Heat Transfer Equipment, Hemisphere Publishing Company, Washington, 1979. 4. THACKERY, P.A, The Cost of Fouling in Heat Exchange Plant Effluent and Water Treatment Journal, Vol.20, Washington D.C, 1980. 5. SALIMIN, Z dan GUNANDJAR, Persoalan Fouling dan Solusinya pada Evaporator untuk Pengolahan Limbah Radioaktif Cair, Prosiding Seminar Nasional X, Kimia Dalam Pembangunan, Hotel Grand Mercure Yogyakarta, 21 Juni 2007. 6. TURAKHIA, M, CHARACKLIS, W.G, and ZELVER, N, Fouling of Heat Exchanger Surface, Heat Transfer Engineering, Washington D.C, Vol 5, No. 1-2, 1984. 7. SALIMIN, Z, Identifikasi Tahanan Transfer Panas Deposit Kerak pada Evaporator Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif, Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, P3TM-BATAN, Yogyakarta, 25-26 Juli 2000. 8. SALIMIN, Z, Problem Solving of Evaporator Operation on The Treatment of Radioaktive Liquid Waste in Serpong Nuclear Facilities, Proceedings of The Symposium on Waste Management at Tucson, Arizona, USA, February 27-March 3, 2000. 9. BROWN, G.G Unit Operation, 3 th Ed, Mc. Graw-Hill Book Co, Singapore, 1984. 10. Matches Website

TANYA JAWAB Pertanyaan : 1. Bagaimana metode verifikasi efisiensi bemfer selama fouling ? 2. Mungkinkah penurunan kinerja HE diakibatkan oleh penurunan konduktivitas pipa HE itu sendiri? 3. Untuk instalasi yang sama dan pelaksanaan pembersihan fouling yang sudah berkali-kali, apakah dapat diperoleh persamaan sederhana untuk menghitung kerugian/biaya fouling ? (Roziq Himawan PTRKN) Jawaban : 1. Pada unit evaporasi terdapat pengukuran laju alir massa uap air pemanas (ms), laju alir massa limbah (ml), suhu steam masukn (T1), suhu kondensat keluar (T2), suhu limbah masuk (t1) dan suhu limbah keluar (t2); Q = ms . s ; (s diketahui pada suhu T1), jadi Q diketahui. Jumlah tube Nt, Panjang tube L, dan diameter dalam tube (Di), Diketahui A = luas permukaan, transfer panas = Nt. Di L dapat dihitung; T = ((T1- t2) (T2 t1)) / (ln (T1 t2)/(T2 t1)) - dapat dihitung ; Ud = (Q)/(A. T) Ud dapat dihitung.; 1/Ud = 1/Uc+Rd Nilai Uc diketahui, maka Rd dapat dihitung. ; Pembersihan kerak berhasil bilangan Rd terhitung berharga nol. 2. Tidak mungkin, karena memang dari awal nilai Uc (koef transfer panas kondisi clean) hanya fungsi koef transfr panas lepas tipis fluida pada dinding bagian dalam termodifikasi hi0 dan koef transfer panas lepas tipis fluida pada dinding luar tube ho, nilai x diabaikan karena suhu dibagian dalam dan bagian luar tube dianggap sama.

320