Anda di halaman 1dari 20

Esofagus, Anatomi dan Fisiologi

Posted on 15 February 2011 by ArtikelBedah ANATOMI Esofagus merupakan sebuah saluran berupa tabung berotot yang menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Dari perjalanannya dari faring menuju gaster, esofagus melalui tiga kompartemen dan dibagi berdasarkan kompartemen tersebut, yaitu Leher (pars servikalis), sepanjang 5 cm dan berjalan di antara trakea dan kolumna vertebralis. Dada (pars thorakalis), setinggi manubrium sterni berada di mediastinum posterior mulai di belakang lengkung aorta dan bronkus cabang utama kiri, lalu membelok ke kanan bawah di samping kanan depan aorta thorakalis bawah. Abdomen (pars abdominalis), masuk ke rongga perut melalui hiatus esofagus dari diafragma dan berakhir di kardia lambung, panjang berkisar 24 cm 1. Cervikal suprasternal notch 2. Upper Thoracis : Dari suprasternal notch sampai carina (setinggi T4-T5) 3. Mid Thoracis : Dari bifurcatio trachea sampai esofagus punction : Dari bagian bawah kartilago cricoid (settinggi C6) sampai

4. Lower Thoracis : 8 cm panjangnya, meliputi abdominal esofagus. Otot esofagus 1/3 atas adalah otot serat lintang yang berhubungan erat dengan otot-otot faring, sedangkan 2/3 bawah adalah otot polos (otot sirkular dan otot longitudinal). Esofagus menyempit pada tiga tempat : 1. Bersifat sfingter (sfingter faringoesofageal), setinggi tulang rawan krikoid pada batas antara faring dan esofagus (peralihan otot serat lintang -otot polos). 2. Di rongga dada bagian tengah akibat tertekan langsung aorta dan bronkus utama kiri, tidak bersifat sfingter. 3. Di hiatus esofagus diafragma yaitu tempat hiatus esofagus berakhir di kardia lambung, murni bersifat sfingter (sfingter gastroesofageal). Pada orang dewasa, panjang esofagus apabila diukur dari incivus superior ke otot krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm, ke v. pulmonalis inferior, 30-35 cm, dan ke kardioesofagus joint kurang lebih 40-45 cm. Bagian atas esofagus yang berada di leher dan rongga dada mendapat darah dari a. thiroidea inferior beberapa cabang dari arteri bronkialis dan beberapa arteri kecil dari aorta. Esofagus di hiatus esofagus dan rongga perut mendapat darah dari a. phrenica inferior sinistra dan cabang a. gastrika sinistra.

Pembuluh vena dimulai sebagai pleksus di submukosal esofagus. Di esofagus bagian atas dan tengah, aliran vena dari plexus esofagus berjalan melalui vena esofagus ke v. azigos dan v. hemiazigos untuk kemudian masuk ke vena kava superior. Di esofagus bagian bawah, semua pembuluh vena masuk ke dalam vena koronaria, yaitu cabang vena porta sehingga terjadi hubungan langsung antara sirkulasi vena porta dan sirkulasi vena esofagus bagian bawah melalui vena lambung tersebut. Pembuluh limfe esofagus membentuk pleksus di dalam mukosa, submukosa, lapisan otot dan tunika adventitia. Di bagian sepertiga kranial, pembuluh ini berjalan seara longitudinal bersama dengan pembuluh limfe dari faring ke kelenjar di leher sedangkan dari bagian dua per tiga kaudal dialirkan ke kelenjar seliakus, seperti pembuluh limfe dari lambung. Duktus thorakikus berjalan di depan tulang belakang. Esofagus dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis. N. vagus bersifat saraf parasimpatis bagi esofagus, meskipun di bawah leher n. vagus membawa gabungan saraf simpatis dan parasimpatis. Esofagus pars servikalis dipersarafi oleh n. laringeus rekuren yang berasal dari n. vagus. Cabang n.vagus dan n. laringeus rekurens kiri mempersarafi esofagus thorakalis atas. N. vagus kiri dan kanan berjalinan dengan serabut simpatis membentuk pleksus esofagus. Persarafan simpatis berasal dari ganglion servikal superior rantai simpatis, n. splanikus mayor, pleksus aortik thorasikus dan ganglion seliakus. Secara histologis dinding esofagus terdiri atas 4 lapis, yaitu: membran mukosa (tunika mukosa); submukosa; muskularis eksterna dan tunika adventisia. Tidak adanya tunika serosa menyebabkan keganasan pada esofagus lebih cepat menyebar serta membuat anastomosis dan perbaikan dengan pembedahan menjadi lebih sulit. FISIOLOGI Fungsi dasar esofagus adalah membawa material yang ditelan dari faring ke lambung. Yang kedua, refluks gastrik ke esofagus dicegah oleh sfingter bawah esofagus dan masuknya udara ke esofagus pada saat inspirasi dicegah oleh sfingter atas esofagus, sfingter atas normalnya selalu tertutup akibat kontraksi tonik otot krikofaringeus. Ketika makanan mencapai esofagus, makanan akan didorong ke lambung oleh gerakan peristaltik. Kekuatan kontraksi peristaltik tergantung kepada besarnya bolus makanan yang masuk ke esofagus. Gerakan peristaltik esofagus terdiri dari gerakan peristaltik primer dan gerakan peristaltik sekunder. Gerak peristaltik primer adalah gerak peristaltik yang merupakan lanjutan dari gerakan peristaltik pada faring yang menyebar ke esofagus. Gerakan ini berlangsung dengan kecepatan 3-4 cm/ detik, dan membutuhkan waktu 8-9 detik untuk mendorong makanan ke lambung. Gerakan peristaltik sekunder terjadi oleh adanya makanan dalam esofagus. Sesudah gerakan peristaltik primer dan masih ada makanan pada esofagus yang merangsang reseptor regang pada esofagus, maka akan terjadi gelombang peristaltik sekunder. Gelombang peristaltik sekunder berakhir setelah semua makanan meninggalkan esofagus. Esofagus dipisahkan dari rongga mulut oleh sfingter esofagus proksimal atau sfingter atas esofagus (upper esopaheal spinchter/ UES), dan dipisahkan dengan lambung oleh sfingter esofagus distal atau sfingter bawah esofagus (lower esophageal spinchter/ LES). Sfingter

esofagus proksimal terdiri dari otot rangka dan diatur oleh n. vagus. Tonus dari otot ini dipertahankan oleh impuls yang berasal dari neuron post ganglion n. vagus yang menghasilkan asetilkolin. Sfingter esofagus distal yang terletal 2-5 cm di atas hubungan antara esofagus dan lambung merupakan otot polos. Secara anatomis, strukturnya tidak berbeda dengan esofagus tetapi secara fisiologis berbeda oleh karena dalam keadaan normal sfingter selalu konstriksi. Proses menelan dapat di bagi menjadi 3 tahap yaitu : 1. Faseoral, yang mencetuskan proses menelan Fase oral terjadi secara sadar. Makanan yang telah dikunyah dan bercampur dengan liur akan membentuk bolus makanan melalui dorsum lidah ke orofaring akibat kontraksi otot intrinsik lidah. Kontraksi m. levator veli palatini mengakibatkan rongga pada tekukan dorsum lidah diperluas, palatum mole dan bagian atas dinding posterior faring (Passavants ridge) terangkat penutupan nasofaring akibat kontraksi m. levator veli palatine kontraksi m. Palatoglosus ismus fausium tertutup kontraksi m. palatofaring, sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut. 2. Fase faringeal, terjadi secara refleks pada akhir fase oral, membantu jalannya makanan dari faring kedalam esophagus. Faring dan taring bergerak ke atas oleh kontraksi m.stilofaring, m. salfingofaring, m.tirohioid dan m. palatofaring. Aditus laring tertutup oleh epiglotis, sedangkan ketiga sfingter laring, yaitu plika ariepiglotika, plika ventrikularis dan plika vokalis tertutup karena kontraksi m. ariepiglotika dan m. aritenoid obliges penghentian aliran udara ke laring karena refleks yang menghambat pernapasan (bolus tidak akan masuk ke sal.nafas meluncur ke arah esofagus. 3. Fase esofageal, fase involunter lain yang mempermudah jalannya makanan dari esofagus ke lambung. Rangsangan makanan pada akhir fase faringeal relaksasi m. krikofaring introitus esofagus terbuka dan bolus makanan masuk kedalam esofagus. sfingter berkontraksi > tonus introitus esofagus saat istirahat, refluks dapat dihindari. Akhir fase esofageal sfingter ini akan terbuka secara refleks ketika dimulainya peristaltik esofagus servikal untuk mendorong bolus makanan ke distal. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat, maka sfingter ini akan menutup kembali.

TEORI DASAR Otot polos Otot polos terdiri dari sel-sel otot polos yang berbentuk seperti gelendongan. Di bagian tengah adalah daerah tebesar dan kedua ujungnya meruncing. Otot polos memiliki serat yang arahnya searah panjang sel tersebut miofibril. Serat miofibril dan masing-masing miofilamen terdiri dari protein otot yaitu aktin dan miosin. Otot polos bergerak secara teratur,dan tidak cepat lelah. Otot polos bersifat involunter, walaupun tidur otot masih mampu bekerja. Otot polos terdapat pada alat-alat dinding tubuh dalam, misalnya pada diding usus,dinding pembuluh darah, pembuluh limfe, dinding saluran pencernaan, trakea, cabang tenggorok, pada muskulus siliaris mata, otot polos dalam kulit, saluran kelamin dan saluran ekskresi Cara Kerja otot polos Bila otot polos berkontraksi, maka bagian tengahnya membesar dan otot menjadi pendek. Bila otot polos mendapat suatu rangsang (stimulus), maka reaksi (respon) terhadaprangsang berasal dari susunan saraf tak sadar (otot involunter). Oleh karena itu otot polosadalah otot yang bekerja di luar kesadaran.Otot polos juga memberi tanggapan pada hormon seperti epinefrin. Tahap-tahap kontraksi yang terjadi pada otot halus ternyata lebih lambat daripada tahap-tahap yang terjadi untuk otot lurik. Jadi, struktur dan pengaturan kontrol otot halus tepat dengan fungsi yangdiembannya yaitu pengadaan suatu gaya tegang selama rentang waktu cukup lama namunmengkonsumsi ATP dengan laju konsumsi rendah. 1.Kalsium Kalsium masuk tubuh diet, seperti susu, keju, sayur, telur, mentega, kacang-kacangan,wortel, dan jeruk. Banyak pula terkandung dalam air putih biasa. Kalsium sulit diabsorpsi dari usus, hanya lebih kurang separuh dari yang dimakan akan dimanfatkan, selebihnya dibuang lewat tinja. Absorpsi kalsium dalam usus kurang jika tubuh kekurangan vitamin D. Kalsium juga terdapat plasma darah. Sebagian dalam bentuk ion, sebagian lagi bergabung dengan protein. Kadar Ca darah dikontrol tetap oleh hormon paratormon yang disekresikan oleh kelenjar anak gondok. Kelebihan kalsium dalam jaringan dibuang selain lewat tinja, jugalewat saluran kemih. Kalsium berguna untuk membentuk tulang dan gigi.Peranannya yang sangat penting ialah untuk memelihara kelancaran perangsangan saraf dan kerutan otot. Jika terjadi defisiensi kalsium, tulang dan gigi akan rapuh atau lunak. Rambatan perangsangan juga terganggu dan dapat mengakibatkan kejangkejang.Pada wanita hamil dan menyusui, jika pasokan dari makanan kurang, tulang menjadi lunak dan tipis, karena unsur ini banyak diabsorpsi untuk kebutuhan janin atau bayi. Dalam air susu ibu banyak sekali terkandung unsur kalsium, yaitu 1 gram per 1.000 ml. Kalsium juga berperan dalam proses pembekuan darah dan pembekuan susu. Maka jika terjadi defisiensi kalsium menyebabkan pembekuan darah menjadi lambat. Pada bayi air susu sulit bergumpal, sehingga sulit pula dicernakan. Kontraksi Otot polos dipicu oleh Ca2+ Filamen-filamen tipis otot polos memang mengandung Aktin dan Tropomiosin namun tak seberapa mengandung Troponin.

Kontraksi otot polos tetap dipicu oleh Ca2+ karena miosin rantai ringan kinase (=myosin light chain kinase / MLCK ) secara enzimatik akan menjadi aktif hanya jika Ca2+-kalmodulin hadir. MLCK merupakan sebuah enzim yang memfosforilasi rantai ringan miosin sehingga menstimulasi terjadinya kontraksi otot polos. Konsentrasi intraselular [Ca2+] bergantung pada permeabilitas membran plasma sel otot polos terhadap Ca2+. Permeabilitas otot polos tersebut dipengaruhi oleh sistem saraf involunter atau autonomik. Saat [Ca2+] meningkat, kontraksi otot polos dimulai. Saat [Ca2+] menurun akibat pengaruh Ca2+- ATPase dari membran plasma, MLCK kemudian dideaktivasi. Lalu, rantai ringan terdefosforilasi oleh miosin rantai ringan phosphatase dan otot polos kembali berelaksasi. 2.Epinefrin Saraf simpatik pada umumnya bersifat menghambat motilitas usus, kecuali eksitasi padasfingter. Neurotransmitter sistem ini adalah norepinefrin, epinefrin, dan dopamin yang bekerja pada reseptor alfa beta. Inhibisi usus terutama terjadi akibat aktivasi reseptor alfayang menghambat pelepasan asetilkolin pada presinap terminal dan inhibisi neuroneksistatori intramural. Dopamin merupakan stimulan polos saluran cerna, dapat bersifat inhibisi.

BAB 1PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Refluks gastroesophageal atau gastroesophageal reflux

(GER) adalah suatukeadaan kembalinya isi lambung ke esophagus dengan atau tanpa regurgitasi danmuntah. GER merupakan suatu

keadaan fisiologis pada bayi, anakanak danorang dewasa sehat. GER bisa terjadi beberapa kali dalam sehari, dengan episodeterbanyak kurang dari 3 menit,

dan muncul setelah makan dengan sedikit atautanpa gejala. Berbeda dengan GER, jika refluks isi lambung menyebabkangangg uan atau komplikasi,

inilah yang di sebut dengan GERD.


1

Pada bayi, gejala berupa muntah yang berlebih yang terjadi pada 85% pasien selama seminggu pertama kehidupan,

sedangkan 10% lainnya baru timbuldalam waktu 6 minggu. Tanpa pengobatan gejala akan menghilang pada 60% pasien sebelum umur 2 tahun pada posisi

anak sudah lebih tegak dan makanmakanan padat, tetapi sisanya mungkin terus menerus mempunyai gejala sampaisekurang-

kurangnya berumur 4 tahun.


2

Sebuah penelitian di Inggris pada tahun 2000-2005 ditemukan 1700 anak dengan diagnosis GERD, dengan angka

kejadian sekitar 0,84 per 1000 anak per tahun. Insiden rendah pada anak umur 1-12 tahun dan meningkat kejadiannyahingga berumur 16-17 tahun.
3

Pada bayi dan balita, tidak ada gejala kompleks yang dapat menegakandiagnosi s GERD atau memprediksi respon terhadap terapi. Pada anak yang

lebih besar dan remaja, seperti pada pasien dewasa, anamnesa dan pemeriksaan fisik mungkin cukup untuk mendiagnosis

GERD, jika terdapat gejala yang khas. Gejaladapat berupa mual, muntah, regurgitasi, sakit uluhati, gangguan pada saluran pernafasan

dan gejala-gejala lain.


1

Sedangkan komplikasi pada GERD dapat berupa perdarahan, striktur, Barret esophagus yang dapat berkembang

menjadiadenokarsin oma esophagus, dimana semua komplikasi tersebut dapat menggangu pertumb uhan maupun perkembangan anak.
4