Anda di halaman 1dari 9

I.

PENDAHULUAN
Air sebagai faktor ekologi mempunyai sifat-sifat yang khas. Pertama merupakan benda yang mutlak untuk hidup manusia. Orang lebih cepat meninggal karena kehausan daripada kelaparan. Kedua mempunyai mobilitas yang tinggi dalam biosfer ini. Melalui presipitasi, evaporasi, evapotranspirasi dan pengaliran, air berputar terus sepanjang masa. Tetapi yang paling menantang adalah sifat penyebarannya yang tidak merata, baik menurut geografi maupun menurut waktu. Di samping itu kualitasnya pun bervariasi. Sifat air yang demikian memberikan pengaruh yang sangat luas pada ekosistem kita. Di Indonesia sebenarnya terdapat curah hujan yang berlimpah-limpah. Tetapi seringkali jatuh di tempat yang tidak kita kehendaki dan pada waktu yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Demikian pula kualitasnya tidak selalu memenuhi keinginan masyarakat. Kualitas air khususnya sumber air yang dekat dengan aktivitas manusia sebaiknya dijaga dan dilestarikan agar kebersihan dan keindahannya tetap terjaga alami. Tetapi seperti yang kita lihat sekarang ini, masyarakat seenaknya saja membuang sampah ke sungai dan menganggap sungai sebagai tempat sampah gratis yang panjang dan besar. Kurangnya kesadaran dan kedisiplinan akan hidup bersih adalah salah satu faktor utama dalam kerusakan sumber-sumber air di wilayah perkotaan. Hal tersebut menimbulkan akibat kerugian bagi kesejahteraan masyarakat dan pada kualitas kehidupan. Di samping itu cepatnya pertambahan penduduk, meningkatnya kebutuhan pangan yang diimbangi dengan berkembangnya pertanian, bertambah luasnya lapangan kerja dan bertambah majunya gaya hidup masyarakat, semuanya justru meningkatkan jumlah kebutuhan kita akan air. Padahal jumlah air di alam kita ini menurut daur hidrologi adalah tetap. Hal tersebut menyebabkan bahwa pada suatu waktu nanti air akan menjadi benda yang bukannya tidak bias habis. Hal itu berarti, bahwa kondisi alam mengundang campur tangan manusia dalam daur hidrologi itu sedemikian sehingga keadaan yng mencemaskan tersebut hendaknya masih dapat diatur, agar kesejahteraan manusia masih dapat dipelihara. Suatu pendekatan pengelolaan sumber daya air terpadu yang baru harus diciptakan (GWP, 2001; Kodoatie dan Sjarief, 2004 ; Ditjen SDA, 2006) untuk menggantikan sistem pengembangan dan pengelolaan sumber daya air tradisional, dengan ciri-ciri pendekatan : hulu-hilir (upstream-downstream) berwawasan pasok (balancing supply demand), serta pendekatan berbasis teknis dan sektor. Untuk mengatasi kemungkinan terjadinya benturanbenturan kepentingan tersebut, konsep DAS mengenal pendekatan one river, one plan and one management yang perlu diwujudkan secara nyata (Sjarief, 1997). Terbitnya Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang SDA merupakan reformasi bagi peraturan perundang-undangan menuju efektifitas pemerintahan yang amanah (good governance) dalam pengelolaan SDA baik bersifat komponen alami sumber (sungai, DAS, muara, pantai, rawa, danau, mata air) maupun komponen artifisial (waduk, embung, bendungan, bendung, sistem drainase, sistem irigasi, sistem jaringan air bersih, sistem pengendalian banjir, bangunan pengendali erosi dan lain-lain). Salah satu hal yang perlu direformasi khususnya tentang peran kelembagaan pengelolaan SDA pada wilayah sungai maupun kelembagaan terkait lainnya sebagai pengelola DAS. Peran dimaksud antara lain menyangkut yang utama koordinasi kelembagaan, regulator, operator, service provider, user publik dan lain-lain (Rogers dan Onstrom, 1990 dalam Inoguchi, 2003).

II. LATAR BELAKANG

Sungai Deli merupakan salah satu dari delapan sungai yang ada di Kota Medan. Mulanya, pada masa kerajaan Deli, sungai merupakan urat nadi perdagangan ke daerah lain. Saat ini, luas hutan di hulu Sungai Deli hanya tinggal 3.655 hektar, atau tinggal 7,59 persen dari 48.162 hektar areal DAS Deli. Padahal, dengan luas 48.162 hektar, panjang 71,91 kilometer (km), dan lebar 5,58 km, DAS Deli seharusnya memiliki hutan alam untuk kawasan resapan air sedikitnya seluas 140 hektar, atau 30 persen dari luas DAS. Selain itu, kini limbah mencemari sungai. Pencemaran Sungai Deli, 70 persen di antaranya diakibatkan limbah padat dan cair. Limbah domestik padat atau sampah yang dihasilkan di Kota Medan 1.235 ton hari. Kondisi dan keadaan Sungai Deli mengalami kerusakan yang parah salah satunya akibat aktivitas beberapa perusahan yang merubah bentuk alamiah sungai dengan cara melakukan pelurusan, penimbunan, penembokan dan pembangunan didaerah sempadan dan bantaran sungai deli. Beberapa perusahaan tersebut antara lain PT Eka Kesuma Wijaya yang melakukan, penimbunan sempadan dan bantaran sungai deli, tepatnya berlokasi di sebelah barat Brigjen Katamso dan sebelah timur Bandara Polonia dan penimbunan di sungai batuan yang berlokasi di sekitar Gang Alfajar, Gang Merdeka dan Gang Bidan. Berikut juga PT Istana Prima yang bekerjasama dengan PT SJA melakukan penimbunan di bantaran sugai deli guna pembanguna perumahan, kemudian PT Alfinki melakukan pelurusan Sungai Deli dengan membangun perumahan Multatuli Indah serta penimbunan sempadan dan bantaran Sungai Deli yang dilakukan oleh pengusaha SPBU yang berlokasi di Gang Nasional Jalan Brigjen Katamso. Kerusakan yang muncul secara langsung terhadap lingkugan akibat dari prilaku perusahaan yang telah merubah bentuk sungai adalah adanya penyempitan dan pelurusan pada sungai deli yang akibatnya pemukiman warga sekitar acap sekali terendam banjir dan malah sejak adanya aktivitas perusahaan tersebut, dalam kurun waktu selama satu sebulan terhitung sebanyak lima kali pemukiman warga sekitar terendam banjir. Sementara itu dampak social-ekonomi akibat rusaknya lingkungan Sungai Deli turut mengancam kelangsungan hidup warga setempat yang umunya mengantungkan hidup pada pekerjaan indsutri rumah tangga karena rusak dan hilangnya peralatan dan perlengkapan industri rumah tangga akibat banjir. Karenanya, prilaku perusahaan yang semena-mena sehingga rusaknya lingkungan Sungai Deli telah menempatkaan posisi warga setempat tidak memilki pilihan untuk hidup karena kehilangan pekerjaan dan mata pencarian. Mengingat perubahan Sungai Deli dari kondisi awal yang alamiah berubah pada kerusakan lingkungan tersebut WALHI SU, KONTRAS,YLL dan GM3B pada tanggal 12 Maret 2006 telah menyampaikan pengaduan ke Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Dan sebagai respon atas surat tersebut, maka pada tanggal 13 april 2007 Polda Sumatera Utara mengelar kasus tersebut dengan mengundang WALHI SU, KONTRAS SU,YLL, GM3B, Dinas Pengairan Propinsi SU, Bapedalda SU, Kejaiti SU, dinas Lingkungan Hidup Pemko Medan, dan pakar hukum lingkungan Prof Dr. Alfi Sahri prihal gelar perkara dugaan tindak pidana kerusakan lungkungan sungai Deli.

Dalam gelar perkara tersebut terungkap fakta-fakta antara lain sebagai berikut : 1. Bahwa Sungai Deli oleh pemerintah berdasarkan Kepetusan Menteri No 11 Tahun 2006 adalah salah satu sungai strategis nasional dan daerah sempadan, bantaran sungai merupakan kawasan lindung yang harus dilindung, sehingga tidak dibenarkan adanya kegiatan usaha tanpa adanya amdal dan izin dari instansi yang

berwenang 2. Bahwa aktivitas yang dilakukan oleh PT. Eka Kesuma Wijaya, PT SJA, SPBU, dan Alfinky tidak memiliki kajian amdal, dan izin dari pihak yang berwenang, sehingga kegaitan tersebut merupkan kegiatan melanggar dan melawan hukum sesuai Undang-Undang No 23/1997 tentang Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah No.35/1991 tentang Sungai. 3. Bahwa aktivitas tersebut digolongkan merupakan pengrusakan lingkungan hidup yang menimbulkan bencana pada masyarakat, yaitu terjadinya berapa kali banjir dalam setiap bulan di pemukiman masyarakat dimana hal tersebut tidak dialami sebelumnya. 4. Bahwa terungkap fakta Dinas Pengairan Pemprosu telah memberikan teguran kepada pengembang (PT Eka Kesuma Wijaya, PT Sja, Dan SPBU) agar menghentikan aktivitasnya serta mengembalikan sungai kepada posisi semula, namun tidak ditanggapi dan dihormati oleh pengembang tersebut. 5. Bahwa berdasarkan terguran Dinas Pengairan Pempropsu yang tidak ditanggapi oleh pengembang tersebut sesuai azas subsideritas yang memungkinkan pihak kepolisian meliliki alasan secara hukum melakukan penyelidikan dan penyidikan hukum secara tuntas atas perbuatan pengembang yang merusak lingkungan Sungai Deli. III. MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN MASALAH Upaya perbaikan lingkungan DAS Deli hulu guna penyediaan sistem air baku yang berkelanjutan khususnya air bersih untuk penduduk Kota Medan dan pengurangan banjir Kota Medan melalui pembentukan wadah koordinasi Dewan SDA Tingkat Wilayah Sungai sebagai model koordinasi kelembagaan pengelolaan DAS Deli. IV. GAMBARAN SINGKAT KONDISI TATA GUNA LAHAN DAS DELI Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli terletak di Kabupaten Karo, Deli Serdang, dan Kota Medan, Propinsi Sumatera Utara. DAS Deli di sebelah Timur berbatasan dengan DAS Percut, sedangkan di sebelah Barat dengan DAS Belawan. DAS tersebut terdiri dari tujuh Sub DAS yakni Sub DAS Petani, Sub DAS Simai-mai, Sub DAS Deli, Sub DAS Babura, Sub DAS Bekala, Sub DAS Sei Sikambing dan Sub DAS Paluh Besar. Pemberian nama-nama Sub DAS tersebut memperhatikan nama anak-anak sungai yang mengalir di daerah tersebut (untuk jelasnya lihat Rincian Luas DAS per Sub DAS dan Nilai Rc pada Tabel 1 dan Gambar 1).

Tabel 1 Rincian Luas DAS per Sub DAS dan Nilai Rc (BPDAS Wampu-Ular, 2003) Sub DAS Sub DAS Petani Sub DAS Simai-mai Sub DAS Deli Sub DAS Babura Sub DAS Bekala Sub DAS Sei Sikambing Sub DAS Paluh Besar Luas (Ha) 10.187 30.43 8.469 5.911 4.793 4.415 11.344 Persentase (%) 21,15 6,32 17,59 12,27 9,95 9,17 23,55 Nilai Rc 0,38 0,25 0,09 0,16 0,45 0,37 0,48

DAS Deli

48.162

100

0,23

Gambar 1 Penggunaan Lahan SWS Belawan Belumai (Bappedasu, Citra Landsat, 2001)

Sungai Deli dengan panjang 82 km dan daerah tangkapan hujan seluas 48.162 km2 alirannya berawal dari mata air di lereng bagian utara Gunung Pintau, Gunung Sibayak dan pegunungan di sekitarnya yang berketinggian antara 1.400 m 1.800 m mengalir melalui Sungai Deli dengan kemiringan rata-rata dasar sungai 0,00611 (JICA, 1996) melalui Kota Medan dan bermuara di Belawan. Di sekitar pusat Kota Medan (belakang Kantor Walikota Medan saat ini) Sungai Deli bertemu dengan anak-anak sungainya yaitu Sungai Babura dan kemudian Sungai Sikambing. Sungai ini merupakan saluran utama yang mendukung drainase Kota Medan dengan cakupan luas wilayah pelayanan sekitar 51 % dari luas Kota Medan. Meluasnya lahan kritis pada wilayah Sungai Deli hulu, tengah, dan pinggiran Kota Medan akibat perambahan hutan, alih fungsi dan tekanan penduduk, menyebabkan bertambahnya aliran permukaan (Linsley, 1989) menyebabkan perubahan tata guna lahan sebagaimana yang ada pada Tabel 2.

Tabel 2 Data Penggunaan Lahan Pada DAS Deli (Arli, 1998)


Kelas Hutan Belukar Kebun Rakyat Kebun Coklat/Kelapa Sawit/Kelapa Sawah Tanaman Campuran Luas (Ha) 3.655 2.068 285 2.284 8.143 16.154 Luas (%) 7,59 4,29 0,59 4,74 16,91 33,54

Tegalan Perkebunan Tembakau Alang-alang Rawa Pemukiman Lain-lain Jumlah DAS Deli

1.836 5.628 479 69 5.374 2.187 48.162

3,81 11,69 0,99 0,14 11,16 4,54 100

Dari susunan pemanfaatan DAS Deli secara sekilas kelihatan hutan yang seharusnya mempunyai luas 30 % sesuai Undang-undang Kehutanan No. 19 Tahun 2002, pada kenyataannya hanya bersisa 7,59 % (Tabel 2), yang berarti wajarlah Sungai Deli selalu membawa debit banjir 315 m3/det saat musim hujan, dan 10-12 m3/det saat musim kemarau, sebagaimana yang dilihat pada Gambar 3.

DELI RIVER MODE


Gambar 2 Deli River Model dan Prakiraan Neraca Air Thn. 2008 (JICA, 1992, PDAM, Bappedalda SU diolah Hasibuan, 2007)

Selanjutnya upaya yang harus dilakukan agar kiranya kondisi yang sudah kritis itu dapat diperbaiki dan sebaiknya dapat menambah hutan yang ada melalui sistem penataan ruang yang baik dengan melaksanakan watershed management dan pengelolaan DAS Deli secara terpadu. Dari Deli River Model prioritas perbaikan utama adalah pada sub DAS Petani (D1), diikuti oleh sub DAS Simeimei (D2), dan sub DAS Deli (D3), dan Sub DAS Babura (D4) selanjutnya dapat dilihat pada Gambar 2. Dari uraian diatas kenapa perlu dilakukan kajian pengelolaan DAS Deli dan banjir Kota Medan disebabkan banyaknya institusi/kelembagaan/departemen/Dinas Propinsi / Kab/Kota terkait yang melakukan pengelolaan pada DAS Deli, namun jarang berkoordinasi, terbatasnya dana dan masing-masing berjalan sendiri yang berakibat fungsi DAS menurun tajam, karenanya perlu dirumuskan model koordinasi kelembagaan yang paling tepat untuk Pengelolaan Terpadu DAS Deli dan banjir Kota Medan sebagai alat kontrol penataan ruang

regional (Kab. Karo, Kab. Deli Serdang dan Kota Medan) melalui kebijakan Propinsi Sumatera Utara. D. PRAKIRAAN NERACA AIR SUNGAI DELI TAHUN 2008

Dari prakiraan data neraca air Sungai Deli pada Tabel 3 dan ketersediaan air Sungai Deli berdasarkan grafik debit Sungai Deli Tahun 19902004 sebagaimana dilihat pada Gambar 3 cenderung menurun dari rata-rata 17 m3/det (1990) menjadi rata-rata 8-10 m3/det (2004), dan jika diasumsikan rata-rata debit air Sungai Deli adalah 10-12 m3/det (saat ini sampai dengan 2008), sedangkan prakiraan kebutuhan Tahun 2008 adalah 14,5 m3/det, digunakan untuk IPA Deli Tua 1,5 m3/det, Daerah Irigasi (DI) Namorambe 2 m3/det, Medan Floodway 5 m3/det untuk river maintenance, air industri Kota Medan 1 m3/det, dan river maintenance Sungai Deli 5 m3/det, maka terjadi defisit air Sungai Deli 2,5 m3/det. Untuk ini perlu dilakukan segera rencana aksi untuk mengatasi permasalahan defisit air Sungai Deli pada waktu yang akan datang.
Tabel 3 Neraca Air Sungai Deli (JICA dan Bappedalda SU, 2006 diolah Hasibuan, 2007) Ketersediaan (l/detik) 10 12 m3/det (data JICA dan Bappedalda SU, 2006, dan lihat Gambar 3) Kebutuhan (l/detik) 1. PDAM Deli Tua 1,5 m3/det 2. DI. Namorambe 2 m3/det 3. River Maintenance Medan Floodway 5 m3/det 4. Air Industri Kota Medan 1 m3/det 5. River Maintenance Sungai Deli 5 m3/det Jumlah Kebutuhan 14,5 m3/det Keterangan Luas DI. 1.200 Ha

- 2,5 m3/det

2004 1997 1996 1995 1994 1993 1992 1991 1990

20 18 16 14 12

m3/s

10 8 6 4 2 0

Series1

Gambar 3 Grafik Debit Sungai Deli Tahun 1990 2004 (JICA dan Bappedalda SU, 2006)

VI. PERMASALAHAN PADA KAWASAN BANTARAN SUNGAI DELI MEDAN Jika dulu Sungai Deli menjadi jalur pelayaran dan urat nadi terbentuknya kampung Medan yang kemudian berkembang menjadi Kota Medan, maka kini Sungai Deli tak lebih sebagai tempat pembuangan sampah. Tempat sampah kota yang panjang dan murah, sekalipun menambah jorok dan menjadi sumber penyakit. Adapun beberapa hal yang menjadi penyebab rusaknya kawasan Sungai Deli Medan yaitu:

Urbanisasi yang dilakukan masyarakat desa tanpa ada sistem pembatasan dari pemerintah kota sehingga mereka bertahan dengan hidup dalam kondisi miskin dan melarat Pendirian Bangunan dan rumah-rumah penduduk yang tidak sesuai aturan sehingga dapat merusak DAS Tidak disiplinnya masyarakat dalam hal membuang sampah Turunnya kualitas air sehingga tidak layak dikonsumsi masyarakat akibat berbagai macam limbah berbahaya yang dibuang ke sungai Kurangnya perhatian dari Pemerintah kota khususnya Dinas Tata Ruang dan pemukiman dalam mengelola daerah pinggiran sungai, dan lain-lain. Perubahan Tata guna lahan terhadap kualitas dan kuantitas serta di daerah hilir

Adapun beberapa kasus di sungai Deli yang belum terselesaikan yaitu diantaranya pergantian rugi lahan (Land Aqcuisition) sehingga masih banyak masyarakat yang masih memilih untuk tinggal di pinggiran sungai, dan belum jelasnya pemindahan tempat bermukim penduduk. Sumber-sumber air Kota Medan perlu mendapat penanganan yang lebih cepat dan memadai, agar sumber alam yang vital tersebut dapat secara lestari mendukung lingkungan kehidupan dan memenuhi kebutuhan hidup kita sepanjang masa. Di samping itu kita menghadapi masalah merosotnya kualitas air. Sebagaimana diketahui aktivitas manusia maupun aktivitas alamiah dapat mengakibatkan kecenderungan menurunnya kualitas air. Beberapa Penjelasan tentang penyebab rusaknya kawasan Sungai Deli Medan: a. PENURUNAN KUALITAS AIR Erosi akibat dari banjir, meluapnya sungai Aktivitas Industri Aktivitas pemukiman dan pertumbuhan penduduk yang cukup pesat Intensifikasi pertanian a. PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA BANJIR DI DAERAH HILIR

Kejadian banjir menurut Kodoatie (2002) dan Siswoko (2002) disebabkan oleh teknis dan non teknis (man made). Salah satu akibat dari man made adalah adanya perubahan tata guna lahan, urbanisasi, dan penebangan hutan yang pengaruhnya sangat besar terhadap kuantitas banjir (Raudkivi, 1979 ; Subarkah, 1980 ; Schwab dkk., 1981 ; Loebis, 1984 ; dan Linsley, 1989) yang diilustrasikan pada sebuah DAS yang semula berupa hutan mempunyai debit 10 m3/det jika berubah menjadi sawah debit sungainya akan menjadi antara 25 sampai 90 m3/det, ada kenaikan debit sebesar 2,5 atau 9 kali debit semula dan seterusnya bila hutan berubah menjadi kawasan perdagangan/ perindustrian, maka debitnya akan meningkat tajam menjadi 60 sampai 250 m3/det.

Peningkatan Debit Banjir Akibat Perubahan Tata Guna Lahan (Kodoatie dan Syarief, 2006).

Gambar 6 Peningkatan Debit Banjir Akibat Perubahan Tata Guna Lahan (Kodoatie dan Syarief, 2006).

PR B E UA A IB K
Gambar 7 Perubahan Aliran Limpasan (run-off) Akibat Perubahan Tata Guna Lahan (River JICEJapan, 2003 ; Otto Sumarwoto/Sobirin, 2004)

A IR MR S P E EA