Anda di halaman 1dari 32

Sabtu, 13 Februari 2010

Askep Pielonefritis ( infeksi ginjal )


Diposkan oleh _Ly_`s pageS di Sabtu, Februari 13, 2010

BAB I KONSEP DASAR

1. Definisi
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan jaringan interstisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% 25% curah jantung, bakteri jarang mencapai ginjal melalui darah; kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3%. Pielonefritis sering sebagai akibat dari refluks uretero vesikal, dimana katup uretrovresikal yang tidak kompeten menyebabkan urin mengalir baik(refluks) ke dalam ureter. Obstruksi traktus urinarius yang meningkatkan kerentanan ginjal terhadap infeksi), tumor kandung kemih, striktur, hyperplasia prostatik benigna, dan batu urinarius merupakan penyebab yang lain. Inflamasi pelvis ginjal disebut Pielonefritis, penyebab radang pelvis ginjal yang paling sering adalah kuman yang berasal dari kandung kemih yang menjalar naik ke pelvis ginjal. Pielonefritis ada yang akut dan ada yang kronis (Tambayong. 200)

2. Etiologi
Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih.

Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal. Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.

Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal adalah:

y y y

kehamilan kencing manis keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Patofisiologi
click here . . .

4. Gejala
Gejala biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah. Beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, yaitu sering berkemih dan nyeri ketika berkemih. Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal. Kadang otot perut berkontraksi kuat.Bisa terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan nyeri hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit untuk dikenali. Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam hilang-timbul atau tidak ditemukan demam sama sekali. Pielonefritis kronis hanya terjadi pada penderita yang memiliki kelainan utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter (pada anak kecil). Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (gagal ginjal).

5. Manifestasi klinis
Pielonefritis akut: pasien pielonefritis akut mengalami demam dan menggigil, nyeri tekan pada

kostovertebrel(CVA), Leokositosis, dan adanya bakteri dan sel darah putih dalam urinselain itu gejala saluran urinarius bawah seperti disuria dan sering berkemihumumnya terjadi. Infeksi saluran urinarius atas dikaitkan dengan selimut antibodi bakteri dalam urin. Ginjal pasien pielonefritis biasanya membesar disertai infiltrasiinterstisial sel-sel inflamasi. Abses dapat di jumpai pada kapsul ginjal dan pada taut kartiko medularis. Pada akhirnya, atrofi dan kerusakan tubulus serta

glomerulus terjadi. Ketika pielonefritis menjadi kronis, ginjal membentuk jaringan parut, berkontraksi dan tidak berfungsi Pielonefritis kronis:biasanya tanpa gejala infeksi, kecuali terjadi eksaserbasi. Tada-tanda utama mencakup keletiah sakit kepala, nafsumakan rendah, poliuria, haus yang berlebihan, dan kehilangan berat badan. Infeksi yang menetap atau kambuh dapat menyebabkan jaringan parut progresif di ginjal disertai gagal ginjal pada akhirnya.

6. Komplikasi
Pielonefritis kronik: penyakit ginjal stadium akhir(mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamasi kronik dan jaringan parut)hipertensi, danpembentukan batu ginjal (akibat organisme pengurai-urea, yang mengakibatkan terbentuknya batu). infeksi kronik disertai

7. Pemeriksaan Penunjang
1. b Urinalisis Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih b Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. 2. Bakteriologis b b b Mikroskopis : satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 102 -103 organisme koliform / mL urin plus piuria Biakan bakteri Tes kimiawi : tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik

3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. 5. Metode tes b b b 6. Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek). 7. Tes- tes tambahan : b Urogram intravena (IVU).

Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate.

Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

7. Penatalaksanaan
Pielonefritis Akut: pasien pielonefritis akut beresiko terhadap bakteremia dan memerlukan terapi antimikrobial yang intensif. Terapi parentral di berikan selama 24-48 jam sampai pasien afebril. Pada waktu tersebut, agens oral dapat diberikan. Pasien dengan kondisi yang sedikit kritis akan efektif apabila ditangani hanya dengan agens oral. Untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri yang tersisa, maka pengobatan pielonefritis akut biasanya lebih lama daripada sistitis. Maslah yangmungkin timbul dlam penanganan adalah infeksi kronik atau kambuhan yang muncul sampai beberapa bulan atau tahun tanpa gejala. Setelah program antimikrobial awal, pasien dipertahankan untuk terus dibawah penanganan antimikrobial sampai bukti adanya infeksi tidak terjadi, seluruh faktor penyebab telah ditangani dan dikendalikan, dan fungsi ginjal stabil. Kadarnya pada terapi jangka panjang. Pielonefritis kronik: agens antimikrobial pilihan di dasarkanpada identifikasi patogen melalui kultur urin, nitrofurantion atau kombinasi sulfametoxazole dan trimethoprim dan digunakan untuk menekan pertumbuhan bakteri. Fungsi renal yang ketat, terutama jika medikasi potensial toksik.

8. Pengobatan
a. Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif. b. Apabila pielonefritis kronisnya di sebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalh-masalah tersebut. c. Di anjurkan untuk dering munum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian pada klien pielonefritis menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu : A. Data biologis meliputi : 1. Identitas Klien

2. Identitas penanggung B. Riwayat kesehatan : 1. Riwayat infeksi saluran kemih

2. Riwayat pernah menderita batu ginjal 3. Riwayat penyakit DM, Jantung C. Pengkajian fisik : 1. Palpasi kandung kemih

2. Infeksi darah meatus a. Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernian urine b. Pengkajian pada costovertebralis D. Riwayat psikososial Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan persepsi terhadap kondisi penyakit mekanisme kopin dan system pendukung E. Pengkajian pengtahuan klien dan keluarga 1. Pemahaman tentang penyebab / perjalanan penyakit

2. Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis

2. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipertermi, perubahan membran mukosa, kurang nafsu makan 2. Nyeri akut b.d proses peradangan / infeksi 3. Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi 4. Ansietas b.d hematuria, kurang pengetahuan tentang penyakit dan tujuan pengobatan 5. Gangguan pola tidur b.d hipertermi, nyeri 6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum 7. Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat

3. Perencanaan

Dp. 1 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipertermi, perubahan membran mukosa, kurang nafsu makan

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nafsu makan bertambah. Batasan karateristik : Subjektif : kram abdomen, melaporkan perubahan sensasi rasa, merasa kenyang setelah mengingesti makanan, merasakan ketidakmampuan mengingesti makanan. Objektif : adanya bukti kekurangan makanan, bising usus hiperaktif, konjungtiva dan membran mukosa pucat, tonus otot buruk. ia Hasil : menunjukkan status gizi : asupan makanan, cairan dan zat gizi. ensi : No Mandiri 1 Pantau / catat permasukan diet Membantu dan mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. Kondisi fisik umum, gajala uremik (contoh : mual, anoreksia, gangguan multiple makanan. rasa) dan pembatasan diet Intervensi Rasionalisasi

mempengaruhi

pemasukan

Tawarkan dengan Berikan

perawatan

mulut

sering/cuci

Mambran pecah.

mukosa menjadi kering dan mulut menyejukkan,

larutan (25%) cairan asam asetat. permen karet, permen keras,

Perawatan

meminyaki dan membantu menyegarkan rasa mulut yang sering tidak nyaman pada uremia dan membatasi pemasukan oral. Pencucian dengan asam asetat membantu menetralkan amonea yang dibentuk oleh perubahan urea.

penyegar mulut diantara makan

Meminimalkan 3 Berikan makanan sedikit tapi sering sehubungan

anoreksia dengan

dan

mual status

uremik/menurunnya paristaltik

Kolaborasi : 4 Konsul nutrisi dengan ahli gizi/tim pendukung

Menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan,dan

mengidentifikasi rute paling efektif dan produknya, contoh tambahan oral, makanan selang hiperalimentasi

Pembatasan 5 Batasi kalium, natrium dan pemasukan fosat sesuai indikasi

elektrolit

ini

dibutuhkan

untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut, khususnya bila dialisis dan tidak atau

menjadi bagian pengobatan, selama fase penyembuhan.

Indikator kebutuhan nutrisi, pembatasan, dan kebutuhan / efektivitas terapi. 6 Awasi pemeriksaan labiratorium, contoh; BUN, albumin serum, transferin, natrium dan kalium.

Dp. 2 : Nyeri akut b.d proses peradangan, infeksi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nyaman dan nyerinya berkurang. teristik: kegelisahan, perilaku melindungi, perilaku menjaga, kandung kemih tegang Subjektif Objektif : keletihan

: perubahan kemampuan untuk meneruskan aktifitas sebelumnya, perubahan pola tidur, penurunan interaksi dengan orang lain, perubahan berat badan. iteria Hasil : Tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih, kandung kemih tidak tegang, tenang, tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah, tidak ada posisi tubuh, tidak ada kegelisahan, tidak ada kehilangan nafsu makan.

Intervensi : No Mandiri : 1 Pantau intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi Intervensi Rasionalisasi

Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran.

Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot otot

Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi

Untuk membantu klien dalam berkemih

Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, bau dan pola berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang

Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang di harapkan

Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan punggung, lingkungan istirahat

Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot

Berikan perawatan parineal 6 Kolaborasi : Konsul dokter bila : sebelumnya kuning 7 gading urine kuning, jingga gelap, berkabut atau keruh. Pla berkemih berubah, sering berkemih dengan jumlah sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih. Nyeri menetap atau bertambah sakit

Untuk mencegah kontaminasi uretra

Temuan temuan ini dapat memberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu

pemeriksaan luas

Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan 8 evaluasi keberhasilannya Analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri Berikan antibiotic. Buat berbagi variasi 9 sediaan minum, termasuk air segar. Akibat dari haluran urin memudahkan berkemih sering dan membantu membilas saluran berkemih

Pemberian air sampai 2400 ml/hari

Dp. 3 : Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam demam pasien berkurang arakteristik : suhu tubu meningkat di atas rentang normal, frekuensi napas meningkat, kulit hangat bila disentuh, kadang merasa mual. eria Hasil :hilangnya rasa mual, suhu tubuh kembali normal, nafas normal dan suhu kulit lembab Intervensi : No Mandiri : 1 Pantau suhu pasien (drajat dan pola) ; perhatikan menggigil/diaforesis Suhu 38,90 41,10 C menunjukkan proses penyakit infeksius akut Intervensi Rasionalisasi

Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi

Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.

Berikan kompres mandi hangat; hindari penggunaan alkohol

Dapat Catatan mungkin

membantu :

mengurangi air

demam.

penggunaan menyebabakan

es/alkohol kedinginan,

peningkatan suhu secara aktual. Selain itu alkohol dapat mengeringkan kulit.

Berikan selimut pendingin Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,50-400 C pada waktu terjadi kerusakan/ gangguan otak. Kolaborasi : Berikan antipiretik, misalnya ASA (aspirin), asetaminofen (tylenol)

Digunakan

untuk

mengurangi

demam

dengan aksi sentralnya pada hipotelamus. Meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme. Dan meningkatkan autodestruksi dari selsel yang terinfeksi

Dp. 4 : Ansietas b.d hematuria, kurang pengetahuan tentang penyakit dan tujuan pengobatan Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam cemas pasien Hilang dan tidak memperlihatkan tandatanda gelisa akteristik : klien gelisah, tidak tenang, tanda vital abnormal, gelisah, ketakutan, gangguan tidur. iteria Hasil : tenang, gelisa berkurang, ketakutan berkurang, dapat beristirahat, frekuensi nafas 12-24/menit

No 1

Intervensi Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya

Rasionalisasi Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan

pengobatan

Pantau tingkat kecemasan

Untuk

mengetahui

berat

ringannya

kecemasan klien

Beri dorongan spiritual

Agar

klien

kembali

menyerahkan

sepenuhnya kepada tuhan YME

Beri penjelasan tentang penyakitnya

Agar klien mengerti sepenuhnya dengan penyakit yang di alaminya.

Dp. 5 : Gangguan pola tidur b.d hipertermi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa tidur dengan nyenyak. Batasan karakteristik : Subjektif : ketidak puasan tidur, keluhan verbal tentang kesulitan untuk tidur, keluhan verbal tentang perasaan tidak dapat beristirahat dengan baik. Objektif : total waktu tidur kurang dari lama tidur normal, bangun 3 kali atau lebih di malam hari iteria Hasil : jumlah jam tidur tidak terganggu, perasaan segar setelah tidur atau istirahat, terjaga denganwaktu yang sesuai ensi : No Intervensi Rasionalisasi

Mandiri : 1 Instruksikan tindakan relaksasi Membantu menginduksi tidur

Hindari mengganggu bila mungkin, mis : membangun untuk obat atau terapi

Tidur tanpa gangguan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun

Tentukan kebiasaan perubahan yang terjadi

tidur biasanya dan

Mengkaji perlunya mengidentifikasi intervensi yang tepat.

Dorong posisi nyaman, bantu dalam megubah posisi

Perubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istirahat

Kolaborasi : 5 Berikan sedatif, hipnotik, sesuai indikasi Mungkin di berikan untuk membantu

pasien tidur/istirahat selama periode dari rumah ke lingkungan baru. Catatan : hindari penggunaan kebiasaan, karena ini menurunkan waktu tidur.

Dp. 6 : Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien toleran aktifitas. Batasan Karakteristik : Subjektif : ketidaknyamanan, melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal Objektif: denyut jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktivitas eria Hasil : mengidentifikasi aktifitas dan atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi aktivitas. si : No Mandiri : 1 Bantu aktivitas perawatan diri yang di perlukan. Berikan kemajuan peningkatan Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan oksigen suplai dan kebutuhan Intervensi Rasionalisasi

aktifitas selama fase penyembuhan.

Evaluasi respon pasien terhadap aktifitas. 2 Catat laporan dispnea, peningkatan

Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pemilihan intervensi.

kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas

Dp. 7 : Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat Batasan Karakteristik : Subjektif : bjektif : penurunan turgor kullit/lidah, konsentrasi urine meningkat, kulit/ mambran mukosa kering. iteria hasil :tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebih, memiliki keseimbangan asupan Dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam. Intervensi : No Mandiri : 1 Ukur dan catat urine setiap kali berkemih Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/output Intervensi Rasionalisasi

Pastikan kontinuitas kateter pirau/ akses

Terputusnya pirau/ akses terbuka akan memungkinkan eksanguinasi

Tempatkan pasien pada posisi telentang/tredelenburg sesui kebutuhan

Memaksimalkan aliran balik vena bila terjadi hipotensi

Pantau mambran mukosa kering, torgor kulit yang kurang baik, dan rasa haus

Hipovolemia/cairian ruang ketiga akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi

Kolaborasi : 5 Awasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi Hb/Ht Menurun karena anemia, hemodilusi atau kehilangan darah aktual. Ketidak seimbangan dapat memerlukan

perubahan dalam cairan dialisa atau tambahan pengganti untuk mencapai Elektrolit serum dan Ph keseimbangan Penggunaan heparin untuk mencegah pembekuan pada aliran darah dan hemofilter mengubah koagulasi dan potensial darah aktif. Waktu pembekuan, contoh ACT, PT/PTT, dan Jumlah trombosit Cairan garam faal/dekstrosa, elektrolit, dan NaHCO3 mungkin diinfuskan dalam sisi vena hemofelter Cav bila kecepatan ultrafiltrasi tinggi digunakan untuk membuang cairan ekstraseluler dan cairan toksik. Volume ekspender mungkin dibutuhkan selama/setelah hemodialisa bila terjadi hipotensi tiba-tiba nya!!

Berikan cariran IV (contoh, garam faal)/ volume ekspender (contoh albumin)selama dialisa sesuai idikasi

BAB III KESIMPULAN

Pielonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan jaringan interstisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% 25% curah jantung, bakteri jarang mencapai ginjal melalui darah; kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3%. Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih.

Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih.

Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal adalah: y y y kehamilan kencing manis keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Pengobatan dapat dilakukan sebagai berikut : y y Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif. Apabila pielonefritis kronisnya di sebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalh-masalah tersebut. y Di anjurkan untuk dering munum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.

Read more: http://sely-biru.blogspot.com/2010/02/askep-pielonefritis-infeksiginjal.html#ixzz1iacNVpn2

http://sely-biru.blogspot.com/2010/02/askep-pielonefritis-infeksi-ginjal.html
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC

ASUHAN KEPERAWATAN PYELONEFRITIS


Posted by nurse87 on 22 November 2009 Posted in: Keperawatan. 1 komentar Definisi Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis. Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436). Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen atau retrograd aliran ureterik (J. C. E. Underwood, 2002: 668) B. Etiologi 1. Bakteri (Escherichia coli, Klebsielle pneumoniac, Streptococus fecalis, dll). Escherichia coli merupakan penyebab 85% dari infeksi (www.indonesiaindonesia.com/f/10918-pielonefritis). 2. Obstruksi urinari track. Misal batu ginjal atau pembesaran prostat 3. Refluks, yang mana merupakan arus balik air kemih dari kandung kemih kembali ke dalam ureter. 4. Kehamilan 5. Kencing Manis 6. Keadaan-keadaan menurunnya imunitas untuk malawan infeksi. C. Manifestasi Klinis Gejala yang paling umum dapat berupa demam tiba-tiba. Kemudian dapat disertai menggigil, nyeri punggung bagian bawah, mual, dan muntah. Pada beberapa kasus juga menunjukkan gejala ISK bagian bawah yang dapat berupa nyeri berkemih dan frekuensi berkemih yang meningkat. Dapat terjadi kolik renalis, di mana penderita merasakan nyeri hebat yang desebabkan oleh kejang ureter. Kejang dapat terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi. Bisa terjadi pembesaran pada salah satu atau kedua ginjal. Kadang juga disertai otot perut berkontraksi kuat. Pada pielonefritis kronis, nyerinya dapat menjadi samar-samar dan demam menjadi hilang timbul atau malah bisa tidak ditemukan demam sama sekali. D. Pemeriksaan Penunjang 1. Whole blood 2. Urinalisis 3. USG dan Radiologi 4. BUN 5. creatinin 6. serum electrolytes E. Komplikasi Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut (Patologi Umum & Sistematik J. C. E. Underwood, 2002: 669): Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah pada area medula akan

terganggu dan akan diikuti nekrosis papila guinjal, terutama pada penderita diabetes melitus atau pada tempat terjadinya obstruksi. Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yang dekat sekali dengan ginjal. Cairan yang terlindung dalam pelvis dan sistem kaliks mengalami supurasi, sehingga ginjal mengalami peregangan akibat adanya pus. Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan meluas ke dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik. Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal stadium akhir (mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamasi kronik dan jaringan parut), hipertensi, dan pembentukan batu ginjal (akibat infeksi kronik disertai organisme pengurai urea, yang mangakibatkan terbentuknya batu) (Brunner&Suddarth, 2002: 1437). F. Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan medis menurut Barbara K. Timby dan Nancy E. Smith tahun 2007: Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat antimikrobial seperti trimethroprimsulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra), gentamycin dengan atau tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro) selama 14 hari. Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan rasa nyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan obat farmakologi tambahan antispasmodic dan anticholinergic seperti oxybutinin (Ditropan) dan propantheline (ProBanthine) Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakan ginjal secara progresif. 2. Penetalaksanaan keperawatan menurut Barbara K. Timby dan Nancy E. Smith tahun 2007: Mengkaji riwayat medis, obat-obatan, dan alergi. Monitor Vital Sign Melakukan pemeriksaan fisik Mengobservasi dan mendokumentasi karakteristik urine klien. Mengumpulkan spesimen urin segar untuk urinalisis. Memantau input dan output cairan. Mengevaluasi hasil tes laboratorium (BUN, creatinin, serum electrolytes) Memberikan dorongan semangat pada klien untuk mengikuti prosedur pengobatan. Karna pada kasus kronis, pengobatan bertambah lama dan memakan banyak biaya yangdapat membuat psien berkecil hati G. Patofisiologi Bakteri naik ke ginjal dan pelvis ginjal melalui saluran kandung kemih dan uretra. Flora normal fekal seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphilococus aureus adalah bakteri paling umum yang menyebabkan pielonefritis akut. E. coli menyebabkan sekitar 85% infeksi. Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Kalik dan pelvis ginjal juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghsilkan fibrosis dan scarring. Pielonefritis kronis muncul stelah periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan degeneratif dan menjadi kecil serta atrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat berkembang menjadi gagal ginjal.

H. Diagnosa Keperawatan a. Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada ginjal. b. Hipertermi berhubungan dengan respon imunologi terhadap infeksi. c. Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia) yang berhubungan dengan infeksi pada ginjal. d. Nyeri yang berhubungan dengan infeksi pada ginjal. e. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah. I. Rencana Keperawatan A. Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada ginjal Intervensi : 1)Kaji suhu tubuh pasien setiap 4 jam dan lapor jika suhu diatas 38,50 C Rasional : Tanda vital menaDefinisi Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis. Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436). Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen atau retrograd aliran ureterik (J. C. E. Underwood, 2002: 668) B. Etiologi 1. Bakteri (Escherichia coli, Klebsielle pneumoniac, Streptococus fecalis, dll). Escherichia coli merupakan penyebab 85% dari infeksi (www.indonesiaindonesia.com/f/10918-pielonefritis). 2. Obstruksi urinari track. Misal batu ginjal atau pembesaran prostat 3. Refluks, yang mana merupakan arus balik air kemih dari kandung kemih kembali ke dalam ureter. 4. Kehamilan 5. Kencing Manis 6. Keadaan-keadaan menurunnya imunitas untuk malawan infeksi. C. Manifestasi Klinis Gejala yang paling umum dapat berupa demam tiba-tiba. Kemudian dapat disertai menggigil, nyeri punggung bagian bawah, mual, dan muntah. Pada beberapa kasus juga menunjukkan gejala ISK bagian bawah yang dapat berupa nyeri berkemih dan frekuensi berkemih yang meningkat. Dapat terjadi kolik renalis, di mana penderita merasakan nyeri hebat yang desebabkan oleh kejang ureter. Kejang dapat terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi. Bisa terjadi pembesaran pada salah satu atau kedua ginjal. Kadang juga disertai otot perut berkontraksi kuat. Pada pielonefritis kronis, nyerinya dapat menjadi samar-samar dan demam menjadi hilang timbul atau malah bisa tidak ditemukan demam sama sekali. D. Pemeriksaan Penunjang 1. Whole blood 2. Urinalisis

3. USG dan Radiologi 4. BUN 5. creatinin 6. serum electrolytes E. Komplikasi Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut (Patologi Umum & Sistematik J. C. E. Underwood, 2002: 669): Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah pada area medula akan terganggu dan akan diikuti nekrosis papila guinjal, terutama pada penderita diabetes melitus atau pada tempat terjadinya obstruksi. Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yang dekat sekali dengan ginjal. Cairan yang terlindung dalam pelvis dan sistem kaliks mengalami supurasi, sehingga ginjal mengalami peregangan akibat adanya pus. Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan meluas ke dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik. Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal stadium akhir (mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamasi kronik dan jaringan parut), hipertensi, dan pembentukan batu ginjal (akibat infeksi kronik disertai organisme pengurai urea, yang mangakibatkan terbentuknya batu) (Brunner&Suddarth, 2002: 1437). F. Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan medis menurut Barbara K. Timby dan Nancy E. Smith tahun 2007: Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat antimikrobial seperti trimethroprimsulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra), gentamycin dengan atau tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro) selama 14 hari. Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan rasa nyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan obat farmakologi tambahan antispasmodic dan anticholinergic seperti oxybutinin (Ditropan) dan propantheline (ProBanthine) Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakan ginjal secara progresif. 2. Penetalaksanaan keperawatan menurut Barbara K. Timby dan Nancy E. Smith tahun 2007: Mengkaji riwayat medis, obat-obatan, dan alergi. Monitor Vital Sign Melakukan pemeriksaan fisik Mengobservasi dan mendokumentasi karakteristik urine klien. Mengumpulkan spesimen urin segar untuk urinalisis. Memantau input dan output cairan. Mengevaluasi hasil tes laboratorium (BUN, creatinin, serum electrolytes) Memberikan dorongan semangat pada klien untuk mengikuti prosedur pengobatan. Karna pada kasus kronis, pengobatan bertambah lama dan memakan banyak biaya yangdapat membuat psien berkecil hati G. Patofisiologi Bakteri naik ke ginjal dan pelvis ginjal melalui saluran kandung kemih dan uretra. Flora normal

fekal seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphilococus aureus adalah bakteri paling umum yang menyebabkan pielonefritis akut. E. coli menyebabkan sekitar 85% infeksi. Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Kalik dan pelvis ginjal juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghsilkan fibrosis dan scarring. Pielonefritis kronis muncul stelah periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan degeneratif dan menjadi kecil serta atrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat berkembang menjadi gagal ginjal. H. Diagnosa Keperawatan a. Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada ginjal. b. Hipertermi berhubungan dengan respon imunologi terhadap infeksi. c. Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia) yang berhubungan dengan infeksi pada ginjal. d. Nyeri yang berhubungan dengan infeksi pada ginjal. e. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah. I. Rencana Keperawatan A. Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada ginjal Intervensi : 1)Kaji suhu tubuh pasien setiap 4 jam dan lapor jika suhu diatas 38,50 C Rasional : Tanda vital menandakan adanya perubahan di dalam tubuh 2)Catat karakteristik urine Rasional : Untuk mengetahui/mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. 3)Anjurkan pasien untuk minum 2 3 liter jika tidak ada kontra indikasi Rasional : Untuk mencegah stasis urine 4)Monitor pemeriksaan ulang urine kultur dan sensivitas untuk menentukan respon terapi. Rasional : Mengetahui seberapa jauh efek pengobatan terhadap keadaan penderita. 5)Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih. Rasional : Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih 6)Berikan perawatan perineal, pertahankan agar tetap bersih dan kering. Rasional : Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra B. Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia) yang berhubungan dengan infeksi pada ginjal. Intervensi : 1)Ukur dan catat urine setiap kali berkemih Rasional :

Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/out put 2)Anjurkan untuk berkemih setiap 2 3 jam Rasional : Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria. 3)Palpasi kandung kemih tiap 4 jam Rasional : Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih. 4)Bantu klien ke kamar kecil, memakai pispot/urinal Rasional : Untuk memudahkan klien di dalam berkemih. 5)Bantu klien mendapatkan posisi berkemih yang nyaman Rasional : Supaya klien tidak sukar untuk berkemih. C. Nyeri yang berhubungan dengan infeksi pada ginjal. Intervensi : 1)Kaji intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri. Rasional : Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi 2)Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran. Rasional : Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot-otot 3)Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi Rasional : Untuk membantu klien dalam berkemih 4)Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi. Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri D. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah. Intervensi : 1)Kaji tingkat kecemasan Rasional : Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien 2)Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan 3)Beri support pada klien Rasional : 4)Beri dorongan spiritual Rasional : Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan YME.Beri support pada klien 5)Beri penjelasan tentang penyakitnya Rasional : Agar klien mengerti sepenuhnya tentang penyakit yang dialaminya.

E. Hipertermi berhubungan dengan respon imunologi terhadap infeksi. Intervensi: 1) Pantau suhu Rasional: Tanda vital dapat menandakan adanya perubahan di dalam tubuh. 2) Pantau suhu lingkungan Rasional: Suhu ruangan dan jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal 3) Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik Rasional: Mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus Diposkan oleh Tulus Andi di 08:58 0 komentar: Poskan ndakan adanya perubahan di dalam tubuh 2)Catat karakteristik urine Rasional : Untuk mengetahui/mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. 3)Anjurkan pasien untuk minum 2 3 liter jika tidak ada kontra indikasi Rasional : Untuk mencegah stasis urine 4)Monitor pemeriksaan ulang urine kultur dan sensivitas untuk menentukan respon terapi. Rasional : Mengetahui seberapa jauh efek pengobatan terhadap keadaan penderita. 5)Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih. Rasional : Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih 6)Berikan perawatan perineal, pertahankan agar tetap bersih dan kering. Rasional : Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra B. Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia) yang berhubungan dengan infeksi pada ginjal. Intervensi : 1)Ukur dan catat urine setiap kali berkemih Rasional : Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/out put 2)Anjurkan untuk berkemih setiap 2 3 jam Rasional : Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria. 3)Palpasi kandung kemih tiap 4 jam Rasional : Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih. 4)Bantu klien ke kamar kecil, memakai pispot/urinal Rasional :

Untuk memudahkan klien di dalam berkemih. 5)Bantu klien mendapatkan posisi berkemih yang nyaman Rasional : Supaya klien tidak sukar untuk berkemih. C. Nyeri yang berhubungan dengan infeksi pada ginjal. Intervensi : 1)Kaji intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri. Rasional : Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi 2)Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran. Rasional : Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot-otot 3)Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi Rasional : Untuk membantu klien dalam berkemih 4)Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi. Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri D. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah. Intervensi : 1)Kaji tingkat kecemasan Rasional : Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien 2)Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan 3)Beri support pada klien Rasional : 4)Beri dorongan spiritual Rasional : Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan YME.Beri support pada klien 5)Beri penjelasan tentang penyakitnya Rasional : Agar klien mengerti sepenuhnya tentang penyakit yang dialaminya. E. Hipertermi berhubungan dengan respon imunologi terhadap infeksi. Intervensi: 1) Pantau suhu Rasional: Tanda vital dapat menandakan adanya perubahan di dalam tubuh. 2) Pantau suhu lingkungan Rasional: Suhu ruangan dan jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal

3) Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik Rasional: Mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus

http://nurse87.wordpress.com/2009/11/22/asuhan-keperawatan-pyelonefritis/

laporan pendahuluan askep Pielonefritis


1. Definisi

Pielonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan jaringan interstisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% - 25% curah jantung, bakteri jarang mencapai ginjal melalui darah; kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3%. Pielonefritis sering sebagai akibat dari refluks uretero vesikal, dimana katup uretrovresikal yang tidak kompeten menyebabkan urin mengalir baik(refluks) ke dalam ureter. Obstruksi traktus urinarius yang meningkatkan kerentanan ginjal terhadap infeksi), tumor kandung kemih, striktur, hyperplasia prostatik benigna, dan batu urinarius merupakan penyebab yang lain. Inflamasi pelvis ginjal disebut Pielonefritis, penyebab radang pelvis ginjal yang paling sering adalah kuman yang berasal dari kandung kemih yang menjalar naik ke pelvis ginjal. Pielonefritis ada yang akut dan ada yang kronis (Tambayong. 200)

2.Etiologi Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal. Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal adalah:

1. kehamilan 2. kencing manis 3. keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

3.Gejala Gejala biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah. Beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, yaitu sering berkemih dan nyeri ketika berkemih. Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal. Kadang otot perut berkontraksi kuat.Bisa terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan nyeri hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit untuk dikenali. Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam hilang-timbul atau tidak ditemukan demam sama sekali. Pielonefritis kronis hanya terjadi pada penderita yang memiliki kelainan utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter (pada anak kecil). Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (gagal ginjal). 4. Manifestasi klinis Pielonefritis akut: pasien pielonefritis akut mengalami demam dan menggigil, nyeri tekan pada kostovertebrel(CVA), Leokositosis, dan adanya bakteri dan sel darah putih dalam urinselain itu gejala saluran urinarius bawah seperti disuria dan sering berkemihumumnya terjadi. Infeksi saluran urinarius atas dikaitkan dengan selimut antibodi bakteri dalam urin. Ginjal pasien pielonefritis biasanya membesar disertai infiltrasiinterstisial sel-sel inflamasi. Abses dapat di jumpai pada kapsul ginjal dan pada taut kartiko medularis. Pada akhirnya, atrofi dan kerusakan tubulus serta glomerulus terjadi. Ketika pielonefritis menjadi kronis, ginjal membentuk jaringan parut, berkontraksi dan tidak berfungsi. Pielonefritis kronis:biasanya tanpa gejala infeksi, kecuali terjadi eksaserbasi. Tada-tanda utama mencakup keletiah sakit kepala, nafsu makan rendah, poliuria, haus yang berlebihan, dan kehilangan berat badan. 6. Pemeriksaan Penunjang 1.Urinalisis Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. 2. Bakteriologis Mikroskopis : satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 102 -103 organisme koliform /

mL urin plus piuria Biakan bakteri Tes kimiawi : tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik 3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4.Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. 5. Metode tes Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. 6. Penyakit Menular Seksual (PMS):Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek). 7. Tes- tes tambahan : Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. 7.Penatalaksanaan Pielonefritis Akut: pasien pielonefritis akut beresiko terhadap bakteremia dan memerlukan terapi antimikrobial yang intensif. Terapi parentral di berikan selama 24-48 jam sampai pasien afebril. Pada waktu tersebut, agens oral dapat diberikan. Pasien dengan kondisi yang sedikit kritis akan efektif apabila ditangani hanya dengan agens oral.Untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri yang tersisa, maka pengobatan pielonefritis akut biasanya lebih lama daripada sistitis. Masalah yangmungkin timbul dlam penanganan adalah infeksi kronik atau kambuhan yang muncul sampai beberapa bulan atau tahun tanpa gejala. Setelah program antimikrobial awal, pasien dipertahankan untuk terus dibawah penanganan antimikrobial sampai bukti adanya infeksi tidak terjadi, seluruh faktor penyebab telah ditangani dan dikendalikan, dan fungsi ginjal stabil. Kadarnya pada terapi jangka panjang. Pielonefritis kronik:agens antimikrobial pilihan di dasarkanpada identifikasi patogen melalui kultur urin, nitrofurantion atau kombinasi sulfametoxazole dan trimethoprim dan digunakan untuk menekan pertumbuhan bakteri. Fungsi renal yang ketat, terutama jika medikasi potensial toksik. 9.Diagnosa Kpererawaytan Yang Mungkin Muncul 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipertermi, perubahan membran

mukosa,kurang nafsu makan 2. Nyeri akut b.d proses peradangan / infeksi 3.Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi 4. Ansietas b.d hematuria, kurang pengetahuan tentang penyakit dan tujuan pengobatan 5. Gangguan pola tidur b.d hipertermi, nyeri 6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum 7. Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat 3.Perencanaan Dp. 1: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhantubuh b.dhipertermi, perubahan membran mukosa, kurang nafsu makan Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nafsu makan bertambah. Batasan karateristik: Subjektif : kram abdomen, melaporkan perubahan sensasi rasa, merasa kenyang setelah mengingesti makanan, merasakan ketidakmampuan mengingesti makanan. Objektif : adanya bukti kekurangan makanan, bising usus hiperaktif, konjungtiva dan membran mukosa pucat, tonus otot buruk. Hasil : menunjukkan status gizi : asupan makanan, cairan dan zat gizi. No Intervensi 1 Mandiri: Pantau / catat permasukan diet Rasionalisasi

Membantu dan mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. Kondisi fisik umum, gajala uremik (contoh : mual, anoreksia, gangguan rasa) dan pembatasan diet multiple mempengaruhi pemasukan makanan 2 Tawarkan perawatan mulut sering/cuci dengan larutan (25%) cairan asam asetat. Berikan permen karet, permen keras, penyegar mulut diantara makan Mambran mukosa menjadi kering dan pecah. Perawatan mulut menyejukkan, meminyaki dan membantu menyegarkan rasa mulut yang sering tidak nyaman pada uremia dan membatasi pemasukan oral. Pencucian dengan asam asetat membantu menetralkan amonea yang dibentuk oleh perubahan urea. 3 Berikan makanan sedikit tapi sering Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik/menurunnya paristaltik 4 Kolaboasi: Konsul dengan ahli gizi/tim pendukung nutrisi Menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan,dan mengidentifikasi rute

paling efektif dan produknya, contoh tambahan oral, makanan selang hiperalimentasi

Dp.2: Nyeriakut b.d proses peradangan, infeksi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nyaman dan nyerinya berkurang. Subjektif : keletihan Objektif :perubahan kemampuan untuk meneruskan aktifitas sebelumnya, perubahan pola tidur, penurunan interaksi dengan orang lain, perubahan berat badan. kriteria Hasil: Tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih, kandung kemih tidak tegang, tenang, tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah, tidak ada posisi tubuh, tidak ada kegelisahan, tidak ada kehilangan nafsu makan No Intervensi Rasionalisasi 1 Mandiri: Pantau intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi 2 Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot otot 3 Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi Untuk membantu klien dalam berkemih

4 Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, bau dan pola berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan 5 Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan punggung, lingkungan istirahat Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot 6 Berikan perawatan parineal Untuk mencegah kontaminasi uretra 7 Kolaborasi: Berikan analgesic sesuai kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya

Analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri

Dp.3: Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam demam pasien berkurang Kakteristik :suhu tubu meningkat di atas rentang normal, frekuensi napas meningkat, kulit hangat bila disentuh, kadang merasa mual. Kritera Hasil :hilangnya rasa mual, suhu tubuh kembali normal, nafas normal dan suhu kulit lembab No Intervensi Rasionalisasi 1 Mandiri: Pantau suhu pasien (drajat dan pola) ;perhatikan menggigil/diaforesis Suhu 38,90 41,10 C menunjukkan prosespenyakit infeksius akut 2 Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. 3 Berikan kompres mandi hangat; hindaripenggunaan alkohol Dapat membantu mengurangi demam. Catatan : penggunaan air es/alkohol mungkin menyebabakan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual. Selain itu alkohol dapat mengeringkan kulit. 4 Berikan selimut pendingin Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,50-400 C pada waktu terjadi kerusakan/ gangguan otak. 5 Kolaboasi: Berikan antipiretik, misalnya ASA (aspirin),asetaminofen (tylenol) Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotelamus. Meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme. Dan meningkatkan autodestruksi dari sel- sel yang terinfeksi Dp.4: Ansietas b.dhematuria, kurang pengetahuantentang penyakit dan tujuan pengobatan Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam cemas pasienHilang dan tidak memperlihatkan tanda- tanda gelisah. karakteristik: klien gelisah, tidak tenang, tanda vital abnormal, gelisah, ketakutan, gangguan

tidur. Kriteria Hasil : tenang, gelisa berkurang, ketakutan berkurang, dapat beristirahat, frekuensi nafas 12-24/menit No Intervensi Rasionalisasi 1 Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan 2 Pantau tingkat kecemasan Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien 3 Beri dorongan spiritual Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada tuhan YME 4 Beri penjelasan tentang penyakitnya Agar klien mengerti sepenuhnya dengan penyakit yang di alaminya

Dp.5 : Gangguan pola tidur b.dhipertermi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa tidur dengan nyenyak. Batasan karakteristik: Subjektif :ketidak puasan tidur, keluhan verbal tentang kesulitan untuk tidur, keluhan verbal tentang perasaan tidak dapat beristirahat dengan baik. Objektif: total waktu tidur kurang dari lama tidur normal, bangun 3 kali atau lebih di malam hari Kiteria Hasil : jumlah jam tidur tidak terganggu, perasaan segar setelah tidur atau istirahat, terjaga denganwaktu yang sesuai

No Intervensi 1 Mandiri : Instruksikan tindakan relaksasi Membantu menginduksi tidur

Rasionalisasi

2 Hindari mengganggu bila mungkin, mis :membangun untuk obat atau terap Tidur tanpa gangguan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun 3 Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi

Mengkaji perlunya mengidentifikasi intervensi yang tepat. 4 Dorong posisi nyaman, bantu dalam megubah posisi Perubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istirahat 5 Kolaborasi: Berikan sedatif, hipnotik, sesuai indikasi Mungkin di berikan untuk membantu pasien tidur/istirahat selama periode dari rumah ke lingkungan baru. Catatan : hindari penggunaan kebiasaan, karena ini menurunkan waktu tidur.

Dp.6: Intoleransiaktivitas b.d kelemahan umum Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien toleran aktifitas. BatasanKarakteristik: Subjektif: ketidaknyamanan, melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal Objektif: denyut jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktivitas Keriteria Hasil : mengidentifikasi aktifitas dan atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi aktivitas. No Intervensi Rasionalisasi 1 Mandiri : Bantu aktivitas perawatan diri yang di perlukan.Berikan kemajuan peningkatan aktifitas selama fase penyembuhan. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen 2 Evaluasi respon pasien terhadap aktifitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pemilihan intervensi

Dp. 7: Resiko kekuranganvolume cairan b.d intaketidakadekuat Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat BatasanKarakteristik: Subjektif : Objektif: penurunan turgor kullit/lidah, konsentrasi urine meningkat, kulit/ mambran mukosa kering. Kriteria hasil :tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebih, memiliki keseimbangan asupan Dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam No Intervensi Rasionalisasi

1 Ukur dan catat urine setiap kali berkemih Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/output

2 Pastikan kontinuitas kateter pirau/ akses Terputusnya pirau/ akses terbuka akan memungkinkan eksanguinasi 3 Tempatkan pasien pada posisi telentang/tredelenburg sesui kebutuhan Memaksimalkan aliran balik vena bila terjadi hipotensi 4 Pantau mambran mukosa kering, torgor kulit yang kurang baik, dan rasa haus Hipovolemia/cairian ruang ketiga akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi http://keperawatanmedikalbedah3.blogspot.com/2011/03/laporan-pendahuluan-askeppielonefritis.html

http://www.scribd.com/doc/36697966/ASUHAN-KEPERAWATAN-PYLEONEFRITIS-3