Anda di halaman 1dari 5

KARAKTERISTIK LIMBAH TAHU http://nurman20.wordpress.com/2007/07/26/karakteristik-limbah-tahu/ (030911) Limbah cair industri pangan merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan.

Jumlah dan karakteristik air limbah industri bervariasi menurut jenis industrinya. Contohnya adalah industri tahu dan tempe. Industri tahu dan tempe mengandung banyak bahan organik dan padatan terlarut. Untuk memproduksi 1 ton tahu atau tempe dihasilkan limbah sebanyak 3.000 5.000 Liter. Sumber limbah cair pabrik tahu berasal dari proses merendam kedelai serta proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu. Pada Tabel 1 dapat dilihat bagaimana karakteristik pencemar yang berasal dari limbah pabrik tahu. Pada umumnya penanganan limbah cair dari industry ini cukup ditangani dengan system bilogis, hal ini karena polutannya merupakan bahan organic seperti karbohidrat, vitamin, protein sehingga akan dapat didegradasi oleh pengolahan secara biologis. Tujuan dasar pengolahan limbah cair adalah untuk menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi dan bahan terlarut, kadang-kadang juga untuk penyisihan unsur hara (nutrien) berupa nitrogen dan fosfor.

Sungai Kota Tercemar Limbah Tahu


http://www.equator-news.com/lintas-barat/pontianak/sungai-kota-tercemar-limbah-tahu (030911)

Hampir seluruh sungai-sungai kecil di Kota Pontianak yang bermuara ke Sungai Kapuas sudah tercemar limbah berbahaya. Sementara masyarakat menggantungkan hidupnya dari sungai tersebut, khususnya untuk mandi dan mencuci, apalagi diminum. Pontianak. Pemilik industri rumah tangga menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah, khususnya limbah tahu dan tempe. Warga Kota Pontianak, khususnya yang bermukim di lokasi pinggiran sungai terancam diserang berbagai penyakit. Ini dikarenakan akibat dari padatnya aktivitas masyarakat, maupun industri rumah tangga yang kurang respons terhadap lingkungannya, kata Ir Hariadi S Tribowo, Kepala Bidang Pengawasan dan Pentaatan Hukum Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pontianak, kepada wartawan di sela-sela inspeksi mendadak di Jalan Puskesmas Pal Tiga, Kamis (10/3), terkait tercemarnya limbah Sungai Jawi akibat aktivitas industri rumah tangga. Menurutnya, tercemarnya sungai-sungai di Kota Pontianak disebabkan warga yang tinggal di pinggiran sungai membuang limbah industri. Seperti limbah tahu maupun masakan. Air sungai tercemar dan tak layak digunakan untuk mandi maupun mencuci.

Parahnya lagi, kandungan berbahaya seperti COD, NO2 dan FE atau logam berat, mengancam kesehatan warga Kota Pontianak, ungkap Hariadi. Dikatakannya, pencemaran di Sungai Jawi sudah melebihi standar baku mutu, seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 82/2001, tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Makanya, air Sungai Jawi sudah tidak layak dikonsumsi, bahkan untuk keperluan MCK (mandi, cuci, dan kakus). Pencemaran air parit yang mengaliri sebagian wilayah Kecamatan Pontianak Barat dan Pontianak Kota, itu berada di atas ambang baku mutu, tegasnya. Hariyadi mengatakan, normal air sungai di Kota Pontianak masuk kategori kelas satu. Air sungai, menurutnya, digunakan sebagai bahan baku air minum. Namun akibat pencemaran, air otomatis tidak boleh dikonsumsi secara langsung. Air untuk kebutuhan MCK juga harus di-treatment (diolah) terlebih dahulu. Karena cara pengolahan air masyarakat masih terbatas. Kita hanya bisa meminta masyarakat dan kegiatan-kegiatan usaha sekitar sungai tidak lagi membuang sampah di sungai. Limbah domestik tidak boleh langsung dibuang di badan air. Karena kita masih menggunakan air dari parit, papar Hariyadi. Apalagi sebagian masyarakat saat ini belum mengerti cara pengelolaan air sungai, sesuai baku mutu tersebut. Untuk itu, BLH Kota Pontianak mengharapkan kepada para pemilik industri rumah tangga, terutama yang tinggal di pinggiran sungai, untuk tidak membuang limbah ke sungai. Industri tahu dan tempe bahkan rumah makan, agar jangan membuang limbah industrinya ke sungai. Karena dapat melebihi standar baku mutu, akibat air sungai sudah tercemar, tuturnya. Masih banyak usaha-usaha rumahan yang belum mengantongi izin lingkungan. Berbeda dengan industri kecil yang telah memiliki legalitas formal, otomatis memiliki izin lingkungan atau pengolahan limbah. Tindakan pertama yang dilakukan, menghentikan kegiatan usaha tersebut. Kemudian melayangkan surat agar pemilik usaha mengurus izin. Usaha yang masih menggunakan air parit tercemar, adalah pembuatan tempe. Pencucian bahan baku menggunakan air tercemar, sudah melanggar GMP (Good Manufacturing Product). Ini banyak, sudah hampir di sepanjang sungai di Kota Pontianak. Ini tidak boleh, karena bahan baku sudah bercampur dengan air tercemar, papar Hariadi. Jika tidak ingin memperparah pencemaran air sungai, BLH akan menindak tegas usaha industri rumah tangga yang berlokasi di pinggir-pinggir sungai. Apabila terbukti membuang limbah ke sungai, BLH Kota Pontianak tidak segan-segan menutup usaha tersebut. Jika masih terus beroperasi akan ditutup. Kita kenakan pelanggaran Perda Ketertiban Umum dan Undang-Undang Lingkungan, tegasnya. (oen)

KLH Teliti Limbah Tahu dan Tempe http://www.klikgalamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110815024758&idkolom=nasionaldaerah (030911) SUKABUMI,(GM)Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Sukabumi akan segera melakukan penelitian secara khusus terhadap pencemaran berupa limbah cair yang dibuang oleh home industry tahu dan tempe di kawasan Tipar dan Cijangkar, Kec. Citamiang, Kota Sukabumi. Pasalnya hampir sebagian besar home industry tidak memiliki sarana pengolahan limbah produksi.

"Untuk meneliti lebih jauh pencemaran limbah sisa produksi home industry tahu dan tempe, kami akan segera menurunkan petugas ke lapangan guna meneliti pencemaran limbah air Sungai Citamiang," kata Kepala KLH Kota Sukabumi, H. Rudi Juhayat ketika dihubungi "GM", Minggu (14/8).

Guna meneliti potensi pencemaran limbah apakah menunjukkan ambang batas atau tidaknya, petugas akan segera mengambil sampel air sungai untuk diteliti melalui laboratorium. Tujuannya untuk mengetahui apakah pencemaran limbah sisa produksi tahu dan tempe di kawasan tersebut membahayakan bagi masyarakat sekitar.

"Untuk sementara kami belum bisa memastikan apakah pencemaran limbah pada aliran sungai di sekitar lokasi home industry tahu dan tempe di sana membahayakan atau tidak. Jadi tunggu saja, hasil laboratorium mendatang, " ungkapnya.

Diharapkan dengan adanya hasil laboratorium, nantinya bisa diketahui seberapa jauh potensi ambang batas pencemaran limbah sisa produksi home industry tahu dan tempe. "Mudahmudahan dalam waktu dekat hasil penelitian melalui laboratorium sudah bisa diperoleh hasilnya, " harap Rudi.

Ketika disinggung upaya ke depan untuk meminimalisasi pencemaran limbah, pihaknya akan mengusulkan bantuan ke Pemkot Sukabumi atau Pemprov Jabar agar di kawasan tersebut dibuatkan septictank komunal, dikatakan, "Paling tidak, dengan adanya sarana pengelolaan limbah berupa septictank komunal akan mampu meminimalisasi cemaran limbah sisa produksi tahu dan tempe dikawasan tersebut," ungkap Kepala KLH Kota Sukabumi. (B.118)*

Mikroalga
Jumat,

Chlorella
11

Sp

Dapat
Aug

Menormalkan
2000

Limbah

Tahu
09:51:35

http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=102&tbl=kesling (030911) Pdpersi, Jakarta - Perkembangan industri dewasa ini sangat pesat, terutama industri rumah tangga yang sangat membantu dalam menunjang kehidupan masyarakat. Sayangnya, ditinjau dari segi lingkungan, berkembangnya industri rumah tangga sangat membahayakan kehidupan masyarakat, pasalnya, setiap industri rumah tangga ternyata tidak memperhatikan sistem pembuangan limbah. Tidak terkecuali pembuangan limbah tahu. Demikian diungkapkan Staf Pengajar Jurusan Biologi, Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Dr Erlin Nurtiyani, pada presentasinya di Auditorium Lembaga Penelitian dan pengembangan UI, Depok, beberapa waktu lalu. Pencemaran akibat limbah cair tahu oleh pabrik di tengah-tengah pemukiman, kata Erlin, memang berdampak negatif pada keadaan lingkungan di sekitarnya. Bau busuk yang bersumber dari limbah cair tahu yang dibuang melalui saluran, langsung ke badan air penerima. Limbah cair tahu itu pun mengandung nutrien berupa protein, karbohidrat, dan lipida, yang tingkat pencemarannya sangat tinggi yaitu Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biologi Oxygen Demand (BOD). Beban pencemar organik setiap hari pada tingkat yang begitu tinggi menyebabkan kadar oksigen terlarut dalam badan air menurun drastis, atau bahkan mencapai nol. Akibatnya, bau busuk timbul karena terbentuknya amoniak dan sulfida, tutur Erlin. Karena itu, penelitian dengan perlakuan biologi menggunakan Chlorella sp telah dilakukan di Laboratorium Ekologi dan Rumah Kaca Jurusan Biologi, FMIPA-UI. Penelitian itu, tambah Erlin, di dasarkan pada kemampuan Chlorella sp merombak nutrien yang terkandung di dalam limbah cair tahu. Bahkan, Chlorella sp merupakan sumber makanan yang baik. Di negara maju, Chlorella sp malah telah dibiakkan dan diproses menjadi makanan sehat bagi manusia. Mengubah Limbah Tahu

Pada kenyataannya, jelas Erlin, produksi limbah Chlorella sp memerlukan masa optimal 7 hari. Maka, teknologi pembiakan Chlorella sp perlu dikembangkan sedemikian rupa, sehingga secara terus menerus dapat mengubah limbah cair tahu ke dalam biomassa dengan residu nutrien yang belum terolah dibawah ambang batas aman menurut peruntukannya. Itu sebabnya, ujar Erlin, pemisahan biomassa dari limbah yang telah diproses secara biologi, mutlak dilaksanakan. Pasalnya, tanpa pemisahan, limbah tetap mengandung unsur protein yang berpotensi untuk mencemari badan air. Biomassa hasil pemisahan berpotensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein tambahan untuk tumbuhan, ikan dan ternak. Hal itu didasarkan karena mikroalga Chlorella sp mengandung klorofil, vitamin, mineral, serat makanan, asam nukleat, asam amino, berbagai enzim dan Chlorella Growth Factory (CGF), papar Erlin.

Pada penelitian tahap pertama, diperoleh gambaran, bahwa biomassa Chlorella sp yang terbentuk dapat menurunkan beban limbah cair tahu sampai ratusan mg/l, sehingga pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat memecahkan masalah limbah cair tahu yang menimbulkan pencemaran. Protein Bermanfaat

Disisi lain, lanjut Erlin, biomassa mikroalga merupakan protein yang sangat bermanfaat. Sehingga memisahkan biomassa akan mendapatkan manfaat ganda, yaitu sedimen biomassa yang bermanfaat dan air limbah olahan yang memenuhi baku mutu. Proses sedimentasi dengan metode dinamis, pun akan sangat sesuai untuk memisahkan biomassa pada rencana sistem skala kecil pengolahan limbah cair tahu. Terutama sifatnya yang kompak dan kecil serta mudah dioperasikan, kata Erlin. Sedimentasi melalui metode dinamis ini, dilaksanakan dengan menggunakan prinsip gaya sentrifugal yaitu reaksi inersia keluar dari pusat perputaran sedemikian sehingga biomassa yang mempunyai massa jenis lebih besar dari air akan terpisah. Walaupun pemisah sentrifugal (Centrifuge Separator) telah banyak tersedia di pasar, tampaknya akan sangat sulit untuk memperoleh pemisah sentrifugal yang sesuai pada pemisahan mikroalga dengan skala kecil dan murah. Harganya yang mahal, tidak mungkin terjangkau oleh industri kecil, apalagi ditujukan untuk mengolah limbah, kata Erlin.