Anda di halaman 1dari 27

CA TIROID

Pembimbing: Dr. Ramadhana, Sp.B

Penyusun:
Era Nurissama

030.05.086
The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again.

Ilmu Penyakit Bedah Rumah Sakit Fatmawati 11 Januari-20 Maret

LEMBARAN PENGESAHAN
The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again.

Nama NIM Judul Referat

: : :

Era Nurissama 030.05.086 Ca Tiroid

Telah Diterima dan disetujui oleh pembimbing pada : Hari.........................tanggal........................................

Jakarta, ............... 2010

Pembimbing : dr. Ramadhana Effendi, Sp.B

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb. Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Kanker Tiroid ini. Gangguan pada organ tiroid merupakan masalah yang banyak ditemukan pada masyarakat, namun untuk saat ini masih belum dimengerti secara luas oleh masyarakat.. Untuk memahami lebih dalam mengenai Ca Tiroid akan penulis bahas dalam referat ini. Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang dalam kepada pembimbing dr. Ramadhana,Sp.B atas bimbingan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan referat ini serta kepada semua pihak yang telah membantu. Semoga referat ini dapat memberikan pemahaman baru bagi mahasiswa kedokteran yang sedang mendalami ilmu Bedah pada khususnya. Penulis sangat menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, penulis mengharapkan kritik dan saran membangun dari para pembaca. Atas perhatiaannya penulis ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb Jakarta, Februari 2010

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I BAB II PENDAHULUAN ANATOMI DAN FISIOLOGI TIROID

BAB III KANKER TIROID Definisi Etiologi Klasifikasi Gejala Klinis Penunjang Diagnosis Penatalaksanaan Prognosis BAB IV KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

BAB I. PENDAHULUAN Sistem endokrin merupakan sistem dan organ yang memproduksi hormon, suatu mediator kimia yang bekerja jauh dari sistem atau organ asalnya 1 Kelenjar tiroid termasuk bagian tubuh yang jarang mengalami keganasan, terjadi 0,85% dan 2,5% dari seluruh keganasan pada pria dan wanita. Tetapi di antara kelenjar endokrin, keganasan tiroid termasuk jenis keganasan kelenjar endokrin yang paling sering ditemukan.2 Angka kekerapan keganasan pada nodul tiroid sebesar 5-10 %. Prevalensi keganasan pada multinodulat tidak jauh berbeda. Gharib H dalam laporannya mendapatkan angka 4,1% dan 4,7% masing-masing prevalensi untuk nodul tunggal dan multipel. Bila dilihat dari jenis karsinomanya, kurang lebih 90% jenis papilare dan folikulare, 5-9% jenis karsinoma medulare, 1-2% jenis karsinoma anaplastik, 1-3% jenis lainnya. Anak-anak usia di bawah 30 tahun dengan nodul tiroid dingin mempunya risiko keganasan 2 kali lebih besar dibanding orang dewasa. Kelompok usia di atas 60 tahun, disamping mempunyai prevalensi keganasan lebih tinggi, juga mempunyai tingkat agresivitas penyakit yang lebih berat, yang terlihat dari seringnya kejadian karsinoma tiroid tidak berdiferensiasi.2 Beberapa pionir bedah di bidang endokrinologi dan pembedahan endokrin ini, antara lain William Bayliss dan Ernest Starling.bahkan, Starling (1905) adalah yang pertama kali menggunakan istilah hormone, yang artinya menstimulasi. Theodore Kocher mendapatkan hadiah nobel dalam pembedahan tiroid dan timbunnya miksedea paskabedah tiroidektimi total. Kemudain Kendall dari klinik Mayob berhasil mengekstrak hormon tiroksin2

BAB II. ANATOMI DAN FISIOLOGI TIROID I. Anatomi Adapun kelenjar tiroid merupakan suatu kelenjar endokrin yang dikelilingi oleh berbagai macam hal penting yang bekerja secara berkesinambungan dengan tiroid.

a. Letak Kelenjar tiroid memiliki dua buah lobus, dihubungkan oleh isthmus, terletak di kartilago krokoidea di leher pada cincin trakea ke dua dan tiga. Kelenjar tiroid terletak di leher, antara fasia koli media dan fasia prevertebralis. Di dalam ruang yang sama terdapat trakea, esofagus, pembuluh darah besar, dan saraf. Kelenjar tiroid melekat pada trakea dan fascia pretrachealis, dan melingkari trakea dua pertiga bahkan sampai tiga perempat lingkaran. Keempat kelenjar

paratiroid umumnya terletak pada permukaan belakang kelenjar tiroid, tetapi letak dan, mungkin juga, jumlah kelenjar ini sering bervariasi.1

b. Histologi Kelenjar tiroid terdiri atas banyak sekali folikel-folikel yang tertutup (diameternya santara 100 sampai 300 mikrometer) yang dipenuhi dengan bahan sekretorik yang disebut koloid dan dibatasi oleh sel epitel koloid yang mengeluarkan hormonnya ke bagian folikel itu. Unsur utama dari koloid adalah glikoprotein tiroglobulin besar, yang mengandung hormon tiroid di dalam molekul-molekulnya.

Begitu hormon yang disekresikan sudah masuk ke dalam folikel, hormon itu harus diabsorpsi kembali melalui epitel folikel ke dalam darah, sebelum dapat berfungsi dalam tubuh. Setiap menitnya jumlah aliran darah di dalam kelenjar tiroid kira-kira lebih besar daripada berat kelenjar tiroid itu sendiri, yang merupakan suplai darah yang sama banyaknya dengan bagian lain dalam tubuh,dengan pengecualian korteks adrenal. 3 c. Vaskularisasi Kelenjar tiroid disuplai oleh arteri tiroid superior, inferior, dan terkadang juga arteri tiroidea ima dari a. brachiocephalica atau cabang aorta. Arterinya banyak dan cabangnya beranastomose pada permukaan dan dalam kelenjar, baik ipsilateral maupun kontralateral.Arteri tiroid superior

menembus fascia tiroid dan kemudian bercabang menjadi

cabang anterior dan posterior. Cabang anterior mensuplai permukaan anterior kelenjar dan cabang posterior mensuplai permukaan lateral dan medial. Arteri tiroid inferior mensupali basis kelenjar dan bercabang ke superior (ascenden) dan inferior yang mensuplai permukaan inferior dan posterior kelenjar. Sistem venanya berasal dari pleksus perifolikular yang menyatu di permukaan membentuk vena tiroidea superior, lateral dan inferior.

II.

Fisiologi Kelenjar tiroid berfungsi untuk pertumbuhan dan mempercepat metabolisme. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama, yaitu tiroksin (T4). Bentuk aktif hormon ini adalah triyodotironin (T3) yang sebagian besar berasal dari konversi hormon T4 di perifer, dan sebagian kecil langsung dibentuk oleh kelenjar tiroid. 1 Hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dibentuk di sel epitel (tirosit) yang mengelilingi kelenjar tiroid. Sintesisnya dicapai dalam beberapa langkah, yang setiap langkahnya dapat mengalami gangguan. Iodin penting dalam sintesis hormon dan harus tersedia dalam makanan. Iodin diambil dari darah dan

dibawa kedalam epitel folikel melalui transporter yang terangkai dengan Na+. Di membran apikal sel, iodin melewati lumen folikel melalui eksositosis dan dioksidasi di tempat ini.4

Pembentukan dan pelepasan T3 dan T4 serta pertumbuhan kelenjar tiroid dirangsang oleh tirotropin (TSH) dari hipofisis anterior. Pelepasan selanjutnya dirangsang oleh tiroliberin (TRH) dari hipotalamus. pelepasan Stress TSH, dan estrogen
4

akan

meningkatkan

sedangkan

glukokortikoid,

somatostatin dan dopamin akan menghambatnya.

Karakteristik triioditironin adalah berjumlah lebih sedikit dalam serum karena reseptornya lebih sedikit dalam protein pengikat plasma di serum tetapi ia lebih kuat karena memiliki banyak resptor pada jaringan. Tiroksin memiliki banyak reseptor pada protein pengikat plasma di serum yang mengakibatkan banyaknya jumlah hormon ini di serum, tetapi ia kurang kuat berikatan pada jaringan karena jumlah reseptornya sedikit. Proses pembentukan hormon tiroid adalah:

10

(a) Proses penjeratan ion iodida dengan mekanisme pompa iodida. Pompa ini dapat memekatkan iodida kira-kira 30 kali konsentrasinya di dalam darah; (b) Proses tiroid; (c) Proses pengoksidasian ion iodida menjadi iodium. Proses ini dibantu oleh enzim peroksidase dan hidrogen peroksidase. (d) Proses iodinasi asam amino tirosin. Pada proses ini iodium (I) akan menggantikan hidrogen (H) pada cincin benzena tirosin. Hal ini dapat terjadi karena afinitas iodium terhadap oksigen (O) pada cincin benzena lebih besar daripada hidrogen. Proses ini dibantu oleh enzim iodinase agar lebih cepat. (e) Proses organifikasi tiroid. Pada proses ini tirosin yang sudah teriodinasi (jika teriodinasi oleh satu unsur I dinamakan monoiodotirosin dan jika dua unsur I menjadi diiodotirosin) Proses coupling (penggandengan tirosin yang sudah teriodinasi). Jika monoiodotirosin bergabung dengan pembentukan tiroglobulin. Tiroglobulin adalah

glikoprotein besar yang nantinya akan mensekresi hormon

diiodotirosin maka akan menjadi triiodotironin. Jika dua diiodotirosin bergabung akan menjadi tetraiodotironin atau yang lebih sering disebut tiroksin. Hormon tiroid tidak larut dalam air jadi untuk diedarkan dalam darah harus dibungkus oleh senyawa lain, dalam hal ini tiroglobulin. Tiroglobulin ini juga sering disebut protein pengikat plasma. Ikatan

protein pengikat plasma dengan hormon tiroid terutama tiroksin sangat kuat jadi tiroksin lama keluar dari protein ini. Sedangkan triiodotironin lebih mudah dilepas karena ikatannya lebih lemah. 3

11

BAB III. KANKER TIROID I. Definisi Karsinoma tiroid berasal dari sel folikel tiroid. Keganasan tiroid dikelompokkan menjadi karsinoma tiroid

berdeferensiasi baik, yaitu bentuk papiler, folikuler, atau campuran keduanya, karsinoma meduler yang berasal dari sel parafolikuler yang mengeluarkan kalsitonin (APUD-oma), dan karsinoma berdeferensiasi buruk/anaplastik. Karsinoma sekunder pada kelenjar tiroid sangat jarang dijumpai. Perubahan dari struma endemik menjadi
1

karsinoma

anaplastik dapat terjadi terutama pada usia lanjut.

12

II.

Prevalensi Karsinoma tiroid agak jarang didapat, yaitu sekitar 3-5% dari semua tumor maligna.Insidensnya lebih tinggi di negara dengan struma endemik, terutama jenis folikuler jenis berdeferensiasi buruk/anaplastik. Karsinoma tiroid didapat pada segala usia dengan puncak pada usia muda (7-20 tahun) dan usia setengah baya (40-60 tahun). Insidens pada pria adalah sekitar 3/100.000/tahun dan wanita sekitar 8/100.000/tahun. Kurang lebih 25% terjadi pada struma nodosa. Fokus karsinoma tampaknya muncul secara denovo di antara nodul dan bukan di dalamnya. 1 Radiasi daerah leher merupakan salah satu faktor risiko yang penting. Lebih kurang 25% dari mereka yang menjalani radiasi di leher pada usia muda, di kemudian hari memperlihatkan adenokarsinoma nodul tiroid, kelenjar terutama tiroid tipe yang papiler. berupa Risiko

mendapatkan karsinoma tiroid akibat radiasi biasanya juga tergantung pada usia penderita. Bila radiasi terjadi pada usia lebih dari 20 tahun, kolerasi risikonya menjadi kurang bermakna.Masa laten mungkin lama sekali sampai puluhan tahun seperti terlihat pada penduduk Hiroshima dan penderita lain yang mengalami radiasi bentuk apa pun pada lehernya. 1 III. Etiologi Karsinoma tiroid berasal dari 2 tipe sel yang berada di kelenjar tiroid. Sel tersebut akan berdiferensiasi menjadi karsinoma papiler, karsinoma folikular, karsinoma medular dan karsinoma anaplastik. Pajanan dari radiasi meningkatkan resiko terjadinya keganasan pada tiroid, terutama karsinoma papiler tiroid. Hal ini diobservasi dari anak-anak yang terpajan radiasi setelah

13

terjadinya bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki saat perang dunia ke 2. Bukti lainnya didapatkan dari percobaan bom atom pada pulau Marshall, setelah kecelakaan pada Chemobyl. Pasien dengan pengobatan terapi radiasi juga beresiko tinggi terjadinya karsinoma tiroid. Diet rendah iodin tidak membuktikan terjadinya karsinoma pada tiroid, namun pada populasi dengan asupan rendah iodin memiliki angka tinggi terjadinya karsinoma folikuler dan anaplastik5 IV. Klasifikasi a. Patologi i. Karsinoma papilar Merupakan jenis keganasan tiroid

berdiferensiasi baik dan paling sering ditemukan (60%). Merupakan karsinoma yang bersifat kronik, tumbuh lambat dan mempunyai prognosis paling baik diantara keganasan tiroid lainnya.1 ii. Karsinoma folikular Adenokarsinoma wanita setengah baya. Merupakan jenis kedua kanker tiroid paling umum, merupakan 5-10 persen dari karsinoma tiroid dan sekitar 15 persen dari karsinoma tiroid berdeferensiasi baik. Lebih agresif (ganas) dari karsinoma papiler, dan terjadi lebih sering pada wanita daripada pria dengan rasio tiga banding satu. Puncaknya onset adalah pada usia 50 tahun. Biasanya tidak menyebar ke kelenjar getah bening, tetapi dapat menyerang vena dan arteri, dan kemudian dapat menyebar (metastasis) ke meliputi sekitar 25%

keganasan tiroid dan didapat terutama pada

14

lain organ. Paling sering metastasis ke paru-paru, tulang, otak, hati, kandung kemih, dan kulit. Kanker ini jarang terjadi pada individu yang telah terpapar radiasi dan lebih jarang terjadi pada anak-anak. Muncul dari sel-sel yang membuat hormon tiroid. Survival rate tergantung pada ukuran tumor dan apakah telah menginvasi pembuluh darah, kelangsungan hidup 10 tahun untuk tumor yang non invasif 86 persen dan untuk yang invasif 44 persen.1 iii. Karsinoma medular Meliputi 5-10% keganasan tiroid dari sel

parafolikuler, atau sel C yang memproduksi tirokalsitonin. Tumor berbatas tegas dan keras pada perabaan. Tumor ini terutama ditemukan pada usia di atas 40 tahun, tetapi juga ditemukan pada usia yang lebih muda bahkan pada anakanak dan biasanya disertai gangguan endokrin lainnya. 1 iv. Karsinoma tidak terdiferensiasi (anaplastik) Jarang ditemukan dibandingkan dengan

karsinoma ang berdiferensiasi baik. Tumor ini sangat ganas, terutama terdapat pada usia tua dan lebih banyak pada wanita. Sebagian tumor terjadi pada struma nodosa yang kemudian membesar dengan cepat. Tumor ini sering disertai nyeri dan nyeri alih ke daerah telinga dan suara serak karena infiltrasi n.rekuren. 1 v. Karsinoma lainnya

15

b. Kalsifikasi klinis TNM karsinoma tiroid : i. T (Tumor primer) T0 Tx T1 T2 T3 tidak terbukti ada tumor tumor tidak dapat dinilai <1cm 2-4 cm masih terbatas pada tiroid > 4 cm terbatas pada tiroid atau tumor

dengan ukuran berapa saja dengan ekstensi ekstra triod yang minimal (misal ke otot

sternotiroid atau jaringan lunak peritiroid) T4a tumor telah berestensi keluar kapsul

tiroid dan menginvasi ke tempat berikut ; jaringan lunak subkutan, laring, trakea, esofagus, n. Laringeus recurren atau karsinoma anaplastik terbatas pada tiroid (intra tiroid) T4b tumor telah menginvasi fasia

prevertebra, pembuluh mediastinal atau arteri carotis atau karsinoma anaplastik berestensi keluar kapsul (ekstra tiroid) ii. N (Kelenjar getah bening regional) Nx N0 kelenjar getah bening tidak dapat dinilai tidak ditemukan metastasis ke kelenjar

getah bening N1 N1a N1b pembesaran (dapat dipalpasi) hanya ipsilateral kontralateral, bilateral, garis tengah,

atau mediastinum iii. M (Metastasis jauh Mx M0 M1 metastasi tidak dapat dinilai tidak terdapat metastasis jauh terdapat metastasis jauh

16

V.

Gejala Klinis. 7 Kecurigaan klnis tiroid didasarkan pada observasi yang dikonfirmasikan dengan pemeriksaan patologis dan dibagi dalam kecurigaan tinggi, sedang dan rendah. 1. Kecurigaan tinggi a. Riwayat neoplasma endokrin multipel dalam keluarga b. Pertumbuhan tumor yang cepat c. Nodul teraba keras d. Fiksasi daerah sekitar e. Paralisis pita suara f. Pembesaran kelenjar limpa regional g. Adanya metastasia yang jauh 2. Kecurigaan sedang a. Usia <20 tahun atau >60 tahun b. Adanya riwayat radiasi di leher c. Jenis kelamin pria dengan nodul soliter d. Tidak jelas adanya fiksasi daerah sekiar e. Diameter lebih besar dari 4cm dan kistik 3. Kecurigaan rendah a. Adanya benjolan di leher b. Tidak adanya gejala seperti yang disebutkan pada kecurigaan tinggi dan sedang

17

VI.

Pemeriksaan Penunjang a. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) FNAB (fine-needle aspiration biposy) adalah

pemeriksaan yang paling penting untuk mengevaluasi nodul pada tiroid. Tekhnik ini tidak mahal dan mudah dilaksanakan, dan dengan sedikit komplikasi. Untuk melakukan FNAB, ekstensikkan leher pasien dan palpasi nodul dengan lembut. Kulit area penusukan harus dibersihkan dengan alkohol terlebih dahulu yang

kemudian diikuti dengan penyuntikan anestesi lokal. Peggunaan jarum juga harus dengan jarum yang besar agar spesimen yang diambil tidak rusak. Diagnosis sitologis sangat tergantung dari benar atau tidaknya proses pengambilan sampel, sehingga

disarankan untuk mengaspirasi di 3 tempat yang berbeda pada nodul untuk kepastian spesimen6 b. Laboratorium Pemeriksaan kadar tiroglobulin serum untuk keganasan tiroid cukup sensitif tapi tidak spesifik. Serum ThyoidStimulating Hormone sangat sensitif untuk mendeteksi hipertiroid ataupun hipotiroid. Namun pada penyakit keganasan, kadar TSH tidak bisa menentukan apakah nodul tersebu ganas atau jinak. Peningkatan serum kalsitonin biasanya menunjukkan karsinoma tiroid tipe medular. Serum kalsitonin, yang biasanya menjadi tolak ukur diagnosis folikular-medular karsinoma tiroid, sekarang digantikan dengan

pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) yang lebih sensitif pada mutasi RET proto-oncogene. Bagaimanapun, kalsitonin dan pentagastrin digunakan

18

sebagai penanda tumor untuk memantau pasien yang menderita karsinoma tiroid medular. 7

c. Pencitraan i. Sintigrafi tiroid Sintigrafi tiroid keganasan hanya memberikan gambaran hipofungsi atau nodul dingin, sehingga dikatakan tidak spesifik dan tidak diagnostik. Sintigrafi dapat dilakukan dengan 2 macam isotop: 1. Iodium radioaktif 2. Techneticum pertechnetate isotop ii. USG Dilakukan untuk menentukan ukuran dan jumlah nodul, meski USG tidak dapat membedakan nodul jinak dari yang ganas. iii. CT scan dan MRI Digunakan untuk mengevaluasi jaringan lunak yang besar dan dicurigai massa yang terdapat pada leher, trakhea atau esofagus dan untuk melihat adanya metastase ke kelenjar limfa di servikal. VII. Diagnosis 6 a. Karsinoma tiroid berdiferensiasi baik i. Karsinoma papiler

19

Karsinoma papiler adalah keganasan tiroid yang paling sering, sekitar 80%. Wanita yang berumur 34-40 tahun tiga kali lebih sering terkena daripada pria. Kasus yang muncul bisa genetik / faktor (poliposis adenomatous familial).

keturunan yang berhubungan dengan sindrom Gardnrer Terekspose radiasi terutama saat masa kanan, berhubungan dengan pmunculnya karsinoma tiroid papiler. Tumor biasanya muncul setelah masa laten sekitar 10-2- tahun. Bagaimanapun, angka kejadian kanker tipe ini juga dihipotesikan Hashimoto.

berhubungan

dengan

tiroiditis

Karsinoma jenis ini adalah tipe tumor yang tumbuh lambat karena T4 dan produksi sel folikular dari tiroid. Sel tersebut sensitif terhadap TSH dan pengambilan iodin. Sel tersebut memproduksi tiroglobulin yang memberi respon pada stimulasi TSH. Hal tersebut memungkinkan menjadi dasar diagnostik dan terapeutik pada penyakit berulang ataupun rekurensi setelah operasi eksisi. Tumor bisa tumbuh ke arah kapsul tiroid yang kemudian menginvasi struktur di sekelilingnya. Pertumbuhan ke arah trakhea bisa memicu terjadinya hemoptisis. Pertumbuhan yang ekstrem bisa juga mengarag ke obstruksi jalan napas. Invasi ke arah lain bisa juga menyebabkan pasien serak, bersuara saat bernapas sampai disfagia.

20

ii. Karsinoma folikular

Karsinoma folikular adalah kedua tersering pada keganasan tiroid, 10% dari kanker tiroid. Kanker folikular muncul saat asupan iodin untuk tiroid rendah. Karsinoma jenis ini juga muncul tiga kali lebih banyak pada wanita dibandingkan dengan pria. Pasien dengan jenis ini biasanya lebih tua daripada karsinoma papiler, sekitar dekade empat sampi enam. Sama seperti karsinoma papiler, karsinoma folikular muncul dari sel folikuler di tiroid. Sel TSH nya pun sensitif, pada pengambilan iodin dan produksi tiroglobulin. Tidak seperti karsinoma pailer, pada karsinoma folikuler jrang bermetastase ke arah servikal, tapi lebih banyak bermetastase ke paru dan tulang.

21

b. Karsinoma sel Hrtle

Karsinoma sel Hurtle adalah tipe keganasan tiroid yang jarang, yang juga terkadang dianggap sebagai varian dari karsinoma folikular. Biasa juga dikenal sebagai

karsinoma onkositik, Askanazy, atau sel besar. 2-3% dari keganasan yang muncul di tiroid. Lebih sering muncul pada wanita dekade kelima. Adapun gejala klinisnya sama dengan keganasan tiroid tipe lainnya. Pada pemeriksaan patologis, sel karsinoma Hurtle, seperti karsinoma folikular, dibedakan dengan adenoma dari adanya invasi kapsuler, invasi vaskular, atau keduanya. identifikasi Karena dengan tumor malignan selular sulit untuk di dan

elemen

sendiri,

pemeriksaan FNAB dapat membedakan ganas / jinak, maka pada penegakan diagnosis perlu dilakukan

pemeriksaan pada spesimen.

22

c. Medullary thyroid carcinoma (MTC)

MTC mengambil peran sekitar 5% dari keganasan yang mungkin terjadi pada tiorid. Tumor ini bisa berasal dari sel parafolikuler di tiroid. Sel C adalah derivat neuralcrest dan juga memproduksi kalsitonin. Sekitar 75% MTC muncul secara sporadik, sedangkan 25% lainnya

berhubungan dengan faktor familial. Kasus sporadik biasanya bermanifestasi sebagai nodul tiroid soliter, seperti pada keganasan tiroid lainnya. Dan juga

munculnya gejala nyeri, dysphagia dan serak yang mengarah pada invasi lokal. d. Karsinoma anaplastik dan karsinoma lainnya.

Karsinoma jenis ini adalah yang paling jarang pada keganasan yang terjadi di tiroid, 1,6 %. Tapi walau bagaimanapun, karsinoma jenis ini memiliki tingkat keberhasilan hidup sangat rendah dibanding yang lain. Seperti keganasan tiroid yang lainnya, pada karsinoma

23

anaplastik

juga

lebih

banyak

menyerang

wanita

dibanding pria. Biasanya menyerang wanita pada dekade 6-7. Karsinoma ini muncul dengan adanya benjolan pada leher yang tumbuh semakin membesar. Suara serak dan dispnea bisa muncul karena efek invasi. Daerah yang biasa menjadi sasaran metastase adalah paru, tulang dan otak.

Sebagian besar pasien dengan kanker tiroid mempunyai massa yang dapat teraba pada leher, tumor intratiroid ataupun limpoadenopati regional yang metastase. Di

beberapa pasien, secara klinis tersamarkan, lesi tidak teraba saat palpasi dan hanya akan dikenali jika menggunakan pemeriksaan gambar dengan resolusi tinggi saat melakukan intervensi sebelum operasi untuk menemukan penyakit jinak pada tiroid.8 Jadi, anamnesis dan pemeriksaan fisik bisa dijadikan dasar untuk menentukan diagnosis definitif dari kanker tiroid. Diagnosis kanker tiroid memerlukan konfirmasi sitologi atau histologi. Biopsi FNA adalah metode paling efektif untuk membedakan tumor jinak sampai ganas pada nodul tiroid secara preoperatif. Diagnosis kanker tiroid harus mencakup pemeriksaan patologi secara hati-hati pada jaringan tiroid. 8 VIII. Penatalaksanaan Untuk adenokarsinoma berdiferensiasi baik pada usia mudam unilateral, dengan diameter kecil tanpa penyebaran ke kelenjar leher ( dengan kemungkinan prognosis baik), dapat dipertimbangkan untuk dilakukan istmolobektomi, yaitu hemitiroidektomi. Bila skor buruk, dianjurkan untuk

tiroidektomi total. Jika telah terdapat pembesaran kelenjar

24

limfe

leher,

kemungkinan

besar

telah

terjadi

penyebaran,maka harus dilakukan tiroidektomi total disertai diseksi kelenjar leher pada sisi yang sama. 1

IX.

Prognosis Prognosis yang bisa ditetapkan tergantung dari tipe

keganasannya. Tipe karsinoma tiroid anaplastik memiliki prognosis yang paling buruk diantara yang lainnya, dengan ketahanan hidup <5 tahun. Yang kemudian diikuti dengan karsinoma meduler, karsinoma folikuler dan karsinoma papiler.7

25

BAB IV Karsinoma

KESIMPULAN tiroid berasal dari folikel tiroid. Keganasan tiroid

dikelompookan menjadi karsinoma tiroid berdiferensiasi baik, yaitu bentuk papiler, folikuler, atau campuran keduanya. Karsinoma meduler yang berasal dari sel parafolikuler yang menghasilkan kalsitonin (APUD-oma), dan karsinoma berdiferensiasi buruk/anaplastik. Karsinoma sekunder pada kelenjar tiroid sangat jarang dijumpai. Perubahan dari struma endemik menjadi karsinoma anaplastik dapat terjadi terutama pada usia lanjut. Kelompok usia di atas 60 tahun, disamping mempunyai prevalensi keganasan lebih tinggi, juga mempunyai tingkat agresivitas penyakit yang lebih berat, yang terlihat dari seringnya kejadian karsinoma tiroid tidak berdiferensiasi. Sebagian besar keganasan tiroid tidak memberikan gejala yang berat kecuali jenis anaplastik yang cepat membesar dalam hitungan minggu. Sebagian kecil pasien khususnya dengan nodul yang besar mengeluhkan penekanan pada esofagus dan trakea. Biasanya nodul tiroid tidak nyeri kecuali adanya perdarahan dalam nodul atau kelainan tiroiditis

akut/subakut. Keluhan lain pada keganasan adalah suara serak. Ada beberapa faktor yang menentukan apakah sebuah nodul tiroid ganas atau tidak. Usia pasien saat pertama kali nodul ditemukan, riwayat radiasi sinar pengion, jenis kelamin merupakan faktor-faktor penentu keganasan. Jenis kelamin laki-laki, meskipun prevalensi lebih rendah, tetapi

kecenderungan menjadi ganas lebih tinggi daripada wanita. Respon terhadap pengobatan dengan hormon tiroid juga dapat digunakan sebagai petunjuk dalam evaluasi nodul tiroid.

26

DAFTAR PUSTAKA 1. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. 691-695. 2. Sudoyo, Aru w, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed. 4. Vol.2.Jakarta; EGC. Juni 2006. Hal 1981 3. Guyton, Arthur C, John E.Hall. Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran. Editor: Irawati S Ed 9 Jakarta: EGC. 1997 Hal.1188 4. Silbernagl, Stefan. Teks dan atlas Patofisiologi. Jakarta: EGC. 2007. Hal 280 5. Sharma, Pramod K. Thyroid Cancer. Jan 2010. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/851968-overview 6. Sharma, Pramod K. Thyroid Cancer. Jan 2010. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/851966-overview 7. Gardner, David G, Dolores Shoback. Lange: Basic and Clinical Endocrinology.International Ed.8th. The McGraw-Hill. 2007. Pg.270278 8. Cobin, Rhoda H. AACE/AAES Medical/Surgical Guidelines for Clinical Practice: Management of Thyroid Carcinoma. June 2001. Available http://www.aace.com/pub/pdf/guidelines/thyroid_carcinoma.pdf at:

27