MAKALAH
USHUL FIQIH
Tentang
LAFADZ DARI SEGI PENGGUNAANNYA
Disusun Oleh:
Kelompok 11
Salma Putri Maisari 2314010145
Dosen Pengampu:
Ibnu Hasnul., S. H.I., MA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI-D)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
IMAM BONJOL PADANG
1446 H/2024 M
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT dan hidayahnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan penuh keyakinan serta usaha maksimal.
Semoga dengan terselesaikannya tugas ini dapat memberi pelajaran positif bagi kita semua.
Makalah ini berisikan tentang “Lafadz Dari Segi Penggunaannya” penulis harapkan dengan
makalah ini, semoga dapat memberikan pengetahuan dan informasi kepada kita semua. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun serta
mendukung selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Penulis mengucapkan
terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah “Ushul Fiqih” yakni, bpak Ibnu Hasnul., S.
H.I., MA. atas ketersediaan menuntun penulis dalam penulisan makalah ini.
Padang, 21 November 2024
Pemakalah
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................2
C. Tujuan.............................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3
A. Hakikat dan Majaz..........................................................................................................3
1. Pengertian Hakikat dan Majaz..................................................................................3
2. Contoh Contoh Hakikat dan Majaz...........................................................................4
B. Sharih dan kinayah..........................................................................................................5
1. Pengertian Sharih dan Kinayah.................................................................................5
.....................................................................................................................................
2. Contoh Contoh Sharih dan kinayah..........................................................................6
C. Ta'wil...............................................................................................................................7
...........................................................................................................................................
1. Pengertian Ta'wil.......................................................................................................7
2. Contoh Contoh Ta'wil...............................................................................................9
BAB III PENUTUP.................................................................................................................12
A. Kesimpulan...................................................................................................................12
B. Saran..............................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDHULUAN
A. Latar Belakang
Komunikasi merupakan hal yang esensial dalam setiap bentuk interaksi sosial. Dalam
konteks tatap muka, komunikasi tidak hanya diperlihatkan melalui penggunaan bahasa
semata-mata, tetapi juga melibatkan tanda-tanda tubuh yang membutuhkan interpretasi
tentang apa yang dikatakan dan dibuat oleh orang lain1. Komunikasi adalah transmisi
informasi dari seorang individu atau kelompok kepada individu atau kelompok lain, dan
merupakan dasar semua bentuk interaksi sosial. Dalam era modern, komunikasi telah
berkembang dengan pesat, mulai dari media tulisan hingga elektronik seperti radio, televisi,
dan komputer, yang telah mengubah relasi tatap muka dengan cepat. Komunikasi verbal
adalah jenis komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan.
Komunikasi verbal paling banyak dipakai dalam hubungan antar-manusia untuk
mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, fakta, data, dan informasi. Bahasa
merupakan sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer (manasuka) digunakan oleh para
penutur untuk saling berhubungan dan berinteraksi. Fungsi bahasa dalam komunikasi verbal
meliputi mempelajari dunia sekitar, membina hubungan yang baik antarsesama, dan
menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.
Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa, bentuk-bentuk kegiatan, dan
perilaku-perilaku yang berfungsi sebagai model bagi tindakan penyesuaian diri dan gaya
komunikasi. Perbedaan budaya dapat menyebabkan kesalahpahaman antarsuku, agama, dan
ras. Ungkapan makian, contohnya, dapat memiliki makna yang berbeda-beda tergantung
pada budaya masyarakat penuturnya. Makian tidak hanya digunakan untuk mencaci-maki,
tapi juga untuk mengungkapkan pujian atau menciptakan suasana pembicaraan yang akrab.
Setiap orang memiliki gaya komunikasi yang bersifat personal dan unik. Gaya komunikasi
dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan seseorang, serta dapat berubah-ubah
tergantung pada konteks interaksi. Gaya komunikasi juga sangat diperlukan dalam sebuah
organisasi untuk memahami perilaku orang-orang dalam suatu organisasi ketika mereka
melaksanakan tindak berbagi informasi dan gagasan. Kesesuaian gaya komunikasi dengan
situasi tertentu dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi.
1
Komunikasi dalam keluarga sangat penting karena tanpa komunikasi yang baik, tidak
akan tercipta sebuah keluarga yang harmonis. Komunikasi dalam keluarga dapat berlangsung
secara timbal-balik dan silih berganti, baik dari orangtua ke anak atau dari anak ke orangtua.
Pola komunikasi yang dibangun akan mempengaruhi pola asuh orangtua, sehingga kegiatan
pengasuhan anak akan berhasil dengan baik jika pola komunikasi yang tercipta dilembari
dengan cinta dan kasih saying. Dengan demikian, latar belakang lafadz dalam konteks
penggunaannya menyoroti betapa pentingnya komunikasi dalam beragam aspek kehidupan
manusia, mulai dari interaksi sosial hingga hubungan keluarga. Komunikasi yang efektif
membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang bahasa, budaya, dan gaya komunikasi
personal untuk menciptakan interaksi yang harmonis dan produktif1.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Hakikat dan Majaz?
2. Bagaimana Sharih dan kinayah?
3. Bagaimana Ta'wil?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Bagaimana Hakikat dan Majaz.
2. Untuk mengetahui Bagaimana Sharih dan kinayah.
3. Untuk mengetahui Bagaimana Ta'wil.
BAB II
1
Badudu, J.S3. Lafadz dan Peggunaannya. (Jakarta: PT Gramedia. 199) hlm. 67
2
PEMBAHASAN
A. Hakikat dan Majaz
1. Pengertian Hakikat dan Majaz
Pengertian hakikat dan majaz merupakan dua konsep fundamental dalam
linguistik, sastra, dan studi bahasa yang sering digunakan untuk memahami makna lafadz
atau kata. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda dan berperan penting dalam
komunikasi, interpretasi teks, serta analisis bahasa. Berikut ini adalah penjelasan
mendalam tentang pengertian hakikat dan majaz beserta contohnya.
a. Pengertian Hakikat
Hakikat berasal dari bahasa Arab "haqq" yang berarti benar atau kebenaran.
Dalam konteks linguistik, hakikat merujuk pada makna asli atau literal dari suatu kata
atau lafadz. Hakikat adalah penggunaan kata sesuai dengan arti yang ditetapkan oleh
pengguna bahasa pada awalnya. Dengan kata lain, hakikat adalah makna yang
langsung dipahami tanpa ada pengalihan atau kiasan.
Secara etimologis, hakikat ( )حقيقةberasal dari kata "haqqa" yang berarti tetap
atau nyata. Dalam konteks ini, hakikat mengacu pada sifat dasar dari sesuatu yang
tidak dapat dipalsukan atau diubah. Dalam kajian bahasa dan sastra, hakikat sering
kali digunakan untuk menggambarkan makna denotatif, yaitu makna yang jelas dan
tidak ambigu.
b. Pengertian Majaz
Majaz ( )مجازadalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penggunaan
kata atau lafadz dalam konteks yang berbeda dari makna literalnya. Majaz dapat
diartikan sebagai kiasan atau metafora, di mana sebuah kata digunakan untuk
menyampaikan makna lain berdasarkan hubungan tertentu antara makna asli dan
makna baru tersebut. Majaz sering kali digunakan untuk memberikan efek estetis
dalam sastra atau untuk menjelaskan ide-ide kompleks dengan cara yang lebih kreatif.
Dalam kajian bahasa, majaz biasanya dibedakan menjadi beberapa jenis, termasuk
majaz mursal (metonimi) dan majaz isti'arah (metafora). Dalam majaz mursal, satu
kata digunakan untuk menggantikan kata lain berdasarkan hubungan tertentu antara
3
keduanya, sedangkan dalam majaz isti'arah, kata digunakan dalam arti kiasan
berdasarkan kesamaan sifat atau karakteristik2.
2. Contoh Contoh Hakikat dan Majaz
a. Contoh Hakikat
1) Hakikat Manusia: Kata "manusia" dalam konteks hakikat merujuk pada makhluk
hidup yang memiliki akal budi dan kemampuan berbicara. Ini adalah pengertian
langsung dari istilah tersebut.
2) Hakikat Kursi: Dalam penggunaan sehari-hari, kata "kursi" secara hakiki berarti
tempat duduk yang memiliki sandaran dan kaki. Ini adalah definisi literal tanpa
adanya pengalihan makna.
3) Hakikat Hukum: Dalam konteks hukum, istilah "hukum" merujuk pada aturan-
aturan yang mengatur perilaku masyarakat untuk menciptakan ketertiban dan
keadilan. Makna ini bersifat langsung dan tidak memerlukan interpretasi lebih
lanjut.
b. Contoh Majaz
1) Majaz Isti'arah: Dalam ungkapan "Dia adalah singa di medan perang," kata
"singa" tidak merujuk pada hewan secara literal tetapi menggambarkan
keberanian seseorang dalam situasi berbahaya.
2) Majaz Mursal: Kalimat "Dia sudah menghabiskan semua buku di perpustakaan"
menggunakan "buku" untuk merujuk pada pengetahuan atau informasi yang
terkandung dalam buku-buku tersebut, bukan hanya fisik buku itu sendiri.
3) Ungkapan Sehari-hari: Dalam ungkapan "Waktu adalah uang," waktu dianggap
memiliki nilai ekonomi seperti uang, menunjukkan pentingnya memanfaatkan
waktu dengan baik.
c. Perbedaan Antara Hakikat dan Majaz
Perbedaan utama antara hakikat dan majaz terletak pada cara mereka
menyampaikan makna:
1) Hakikat menyampaikan makna secara langsung dan literal; ia menggambarkan
esensi atau sifat dasar dari suatu objek tanpa adanya pengalihan makna.
2
Saputro, Yarno Eko. Hakikat dan Majaz. Jurnal Pendidikan dan Pemikiran, Vol 16 No. 1. (Air Molek:
STAIN Urulfalah. 2021) hlm. 13
4
2) Majaz, di sisi lain, menggunakan pengalihan makna untuk memberikan efek
tertentu atau memperkaya pemahaman. Majaz sering kali bersifat kiasan dan
memerlukan interpretasi lebih lanjut untuk memahami maknanya.
Pemahaman tentang hakikat dan majaz sangat penting dalam kajian bahasa, sastra,
dan komunikasi. Hakikat memberikan kita pemahaman mendalam tentang esensi suatu hal,
sedangkan majaz menawarkan cara kreatif untuk mengekspresikan ide-ide kompleks melalui
kiasan dan metafora. Keduanya berkontribusi pada kekayaan bahasa dan kemampuan kita
untuk berkomunikasi secara efektif dalam berbagai konteks. Dengan memahami kedua
konsep ini, kita dapat lebih menghargai nuansa bahasa serta meningkatkan kemampuan
interpretasi kita terhadap teks-teks sastra maupun komunikasi sehari-hari3.
B. Sharih dan kinayah
1. Pengertian Sharih dan Kinayah
a. Pengertian Sharih
Sharih berasal dari kata arab "sharāh" yang berarti "terang". Ia menjelaskan apa
yang ada dalam hatinya terhadap orang lain dengan ungkapan yang seterang
mungkin. Menurut Abdul Azhim Bin Badawi Al-Khalafi, sharih adalah suatu kalimat
yang langsung dapat dipahami tatkala diucapkan dan tidak mengandung makna lain
dalam pengertian istilah hukum. Sharih adalah lafadz yang tidak memerlukan
penjelasan lagi karena maknanya sudah jelas bagi si pendengar tanpa membutuhkan
berpikir tentang maksud ungkapan tersebut
b. Pengertian Kinayah
Kinayah berasal dari kata arab yang berarti "sindir". Ia merujuk pada lafadz yang
memerlukan penjelasan karena maknanya tidak langsung jelas dari ungkapan itu
sendiri. Menurut Abdul Azhim Bin Badawi Al-Khalafi, kinayah adalah lafal yang
tersembunyi maksudnya, tak bisa difahami tanpa adanya qarinah (keterangan) yang
menunjukkan makna yang sebenarnya, baik makna itu dimaksudkan sebagai makna
haqiqah (nyata) atau makna majazi (metafora).
2. Contoh Contoh Sharih dan kinayah
a. Contoh sharih
3
Ibid, hlm. 34
5
Contoh sharih dapat dilihat dalam kalimat-kalimat yang langsung dan jelas,
misalnya: Kalimat Talak Sharih: "Aku ceraikan kamu dengan talak satu." Dalam
kalimat ini, lafal "talak satu" digunakan secara langsung dan jelas untuk menjatuhkan
talak, tanpa memerlukan penjelasan tambahan.
Contoh Lain: "Aku telah melepaskan (menjatuhkan) talak untuk kamu." Kalimat
ini juga menggunakan lafal yang sharih untuk menjelaskan maksudnya dengan jelas
tanpa ambigu. Sharih memiliki makna yang terbuka dan maksudnya jelas, baik dalam
bentuk haqiqah maupun majaz. Artinya, sharih dapat digunakan dalam situasi-situasi
formal dan resmi, seperti dalam perceraian, di mana kalimat talak sharih dapat
menjatuhkan talak tanpa niat tambahan.
b. Contoh kinayah
Contoh kinayah dapat dilihat dalam kalimat-kalimat yang memerlukan
interpretasi lebih lanjut untuk memahami maknanya, misalnya: Kalimat Sinonim:
"Dia adalah pemberani." Kalimat ini menggunakan metafora ("pemberani") untuk
menggambarkan seseorang yang berani, tapi tidak secara langsung menyampaikan
sifatnya.
Contoh Lain: "Orang itu 'singa' di medan perang." Kata "singa" digunakan
sebagai metafora untuk menggambarkan keberanian seseorang, bukanlah deskripsi
literal tentang seekor singa. Kinayah sering kali digunakan dalam bahasa sehari-hari
untuk memberikan nuansa emosi atau karakteristik yang lebih kompleks daripada
makna literalnya. Misalnya, mengatakan "dia sedang makan tangan" sebagai sinonim
untuk "memperoleh keberuntungan", padahal tidak ada hubungan logis antara dua
istilah tersebut Perbandingan Antara Sharih dan Kinayah
c. Perbedaan utama antara sharih dan kinayah terletak pada cara mereka menyampaikan
makna: Sharih menyampaikan makna secara langsung dan literal; ia menggambarkan
esensi atau sifat dasar dari suatu objek tanpa adanya pengalihan makna. Kinayah, di
sisi lain, menggunakan pengalihan makna untuk memberikan efek estetis atau
memperkaya pemahaman. Makna kinayah tidak langsung jelas dari ungkapan itu
sendiri dan memerlukan interpretasi lebih lanjut untuk dipahami.
Implikasi hukum dari penggunaan sharih dan kinayah juga perlu dipertimbangkan.
Secara hukum, ucapan sharîh disebut ucapan yang sempurna untuk maksud ini,
6
berlakunya apa yang disebut dalam lafaz itu dengan sendirinya tanpa memerlukan
pertimbangan tertentu atau niat. Sedangkan ucapan yang kinayah tidak berlaku dalam hal
yang menyangkut sanksi hukum atau had yang dapat gugur karena adanyaa unsur
ketidakpastian; sehingga sanksi h ad zina itu dapat ditiadakan bila mengandung unsur
ketidakpastian. Pengertian sharih dan kinayah memberikan gambaran yang jelas tentang
cara bahasa digunakan dalam komunikasi dan hukum Islam. Sharih digunakan untuk
menyampaikan makna yang langsung dan jelas, sedangkan kinayah digunakan untuk
memberikan nuansa emosi atau karakteristik yang lebih kompleks. Pemahaman tentang
kedua konsep ini sangat penting dalam analisis bahasa dan implikasi hukumnya dalam
berbagai konteks4.
C. Ta'wil
1. Pengertian Ta'wil
Pengertian ta'wil merupakan konsep penting dalam studi tafsir dan pemahaman
teks-teks keagamaan, khususnya Al-Qur'an. Ta'wil memiliki makna yang luas dan
beragam, tergantung pada konteks penggunaannya. Secara umum, ta'wil dapat diartikan
sebagai penafsiran atau pengalihan makna dari lafadz atau kalimat yang diucapkan ke
dalam makna yang lebih dalam atau berbeda dari makna literalnya. Berikut adalah
penjelasan mendalam mengenai ta'wil, termasuk definisi, tujuan, dan aplikasinya dalam
konteks keagamaan.
a. Definisi Ta'wil
Secara etimologis, kata "ta'wil" berasal dari bahasa Arab yang berarti "kembali"
atau "mengembalikan". Dalam konteks ini, ta'wil merujuk pada proses
mengembalikan suatu lafadz atau kalimat kepada makna yang paling sesuai
berdasarkan konteks dan kaidah tertentu. Dalam istilah, ta'wil sering kali dipahami
sebagai penafsiran yang lebih dalam daripada tafsir, di mana ta'wil berfokus pada
makna batin atau esensi dari teks. Menurut beberapa ahli, ta'wil dapat didefinisikan
sebagai berikut:
1) Mengalihkan Makna: Ta'wil adalah proses mengalihkan makna suatu lafadz
dari makna lahir (literal) kepada makna lain yang lebih mendalam atau sesuai
4
Dajani, Basma Ahmad Sedki.. Teaching Arabic Language: Towards a New Beginning That Stimulates...
European, Journal of Literature, Language and Linguistics Studies, 2019, hlm. 78
7
dengan konteks tertentu. Ini sering dilakukan ketika makna literal tidak
mencukupi untuk menjelaskan maksud yang terkandung dalam teks.
2) Penafsiran Simbolis: Ta'wil juga dapat merujuk pada penafsiran simbolis dari
teks-teks keagamaan. Dalam hal ini, ta'wil mencoba untuk menemukan makna
tersembunyi di balik kata-kata yang digunakan.
3) Kesesuaian dengan Kaidah: Proses ta'wil harus didasarkan pada kaidah-kaidah
tertentu dan tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran
Islam serta sunnah Nabi Muhammad. Dengan kata lain, ta'wil harus dilakukan
dengan hati-hati agar tidak menyimpang dari ajaran yang telah ditetapkan.
b. Tujuan Ta'wil
Tujuan utama dari ta'wil adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih
mendalam tentang teks-teks keagamaan dan untuk menyelaraskan antara pengertian
dalam Al-Qur'an dengan sunnah Nabi Muhammad. Beberapa tujuan spesifik dari
ta'wil meliputi:
1) Memperjelas Makna: Ta'wil bertujuan untuk memperjelas makna ayat-ayat yang
mungkin ambigu atau sulit dipahami jika hanya dilihat dari sisi literalnya. Dengan
melakukan ta’wil, para ulama berusaha untuk menjelaskan maksud sebenarnya
dari ayat tersebut.
2) Menyelaraskan Teks: Dalam beberapa kasus, terdapat ayat-ayat dalam Al-Qur'an
yang tampak bertentangan satu sama lain jika dipahami secara harfiah. Ta’wil
digunakan untuk menyelaraskan ayat-ayat tersebut agar tidak terjadi pertentangan
dalam pemahaman ajaran Islam.
3) Menjawab Tantangan Zaman: Ta’wil juga berfungsi untuk menjawab tantangan
zaman dan kebutuhan masyarakat modern. Dengan melakukan penafsiran yang
relevan terhadap konteks sosial dan budaya saat ini, ajaran Islam dapat tetap
diterima dan diterapkan dengan baik oleh umat.
c. Aplikasi Ta'wil dalam Konteks Keagamaan
Ta’wil memiliki aplikasi luas dalam studi Al-Qur'an dan hadis. Beberapa contoh
penerapan ta’wil meliputi:
1) Tafsir Ayat-Ayat Mutasyabihat: Ayat-ayat mutasyabihat (ayat-ayat yang tidak
jelas atau memiliki banyak kemungkinan makna) sering kali memerlukan ta’wil
8
untuk memahami maksudnya secara lebih tepat. Misalnya, ayat-ayat yang
berbicara tentang sifat Allah sering kali ditafsirkan dengan menggunakan prinsip-
prinsip ta’wil agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai sifat-sifat Ilahi.
2) Penerapan dalam Hukum Islam: Dalam bidang fiqh (hukum Islam), ta’wil
digunakan untuk menafsirkan teks-teks hukum agar sesuai dengan situasi dan
kondisi masyarakat saat ini. Hal ini penting agar hukum Islam dapat diterapkan
secara relevan dan adil.
3) Dialog Antaragama: Ta’wil juga dapat digunakan dalam dialog antaragama untuk
mencari kesamaan pemahaman dan menghargai perbedaan interpretasi antara
berbagai tradisi keagamaan.
Ta’wil adalah proses penting dalam penafsiran teks-teks keagamaan yang bertujuan untuk
memahami makna mendalam di balik lafadz-lafadz yang digunakan. Dengan
mengalihkan makna dari literal ke simbolis atau lebih dalam, ta’wil membantu umat
Islam untuk memahami ajaran agama mereka secara lebih komprehensif dan relevan
dengan konteks zaman. Melalui penerapan kaidah-kaidah tertentu, ta’wil berfungsi
sebagai alat untuk menyelaraskan antara teks-teks suci dengan realitas kehidupan sehari-
hari serta tantangan zaman modern5.
2. Contoh Contoh Ta'wil
Ta'wil adalah proses penafsiran yang digunakan untuk memahami makna yang
terkandung dalam teks-teks keagamaan, terutama dalam Al-Qur'an dan hadis. Proses ini
penting, terutama untuk ayat-ayat yang memiliki makna yang tidak langsung atau
ambigu. Ta'wil dapat dilakukan dengan dua pendekatan utama: ta'wil salaf (metode para
ulama generasi awal) dan ta'wil khalaf (metode para ulama setelahnya). Berikut adalah
beberapa contoh ta'wil yang sering dibahas dalam konteks keagamaan. Contoh Ta'wil
antara lain:
a. Ta'wil Ayat Mutasyabihat
Contoh Ayat: Firman Allah: " ْيِديِهْم
( " الَّلـ َف َق َأTangan Allah di atas
ِه ْو َيُد
tangan mereka) - (Al-Fath 48:10)
5
Tuhfatul Unsi, Baiq. Conversational Method Pada Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Arab.
Murobbu: Jurnal Ilmu Pendidikan. 2020. Hlm. 23
9
1) Ta'wil Salaf: Para ulama salaf berpendapat bahwa kita tidak mengetahui makna
"tangan" di sini dan menyerahkan makna tersebut kepada Allah. Mereka
menegaskan bahwa Allah tidak memiliki anggota seperti makhluk.
2) Ta'wil Khalaf: Ulama khalaf menafsirkan "tangan" sebagai kekuasaan atau
kemampuan Allah. Dengan demikian, ayat tersebut diartikan bahwa kekuasaan
Allah mengatasi kekuasaan mereka.
b. Ta'wil Hadis
Contoh Hadis: Sabda Rasulullah: " أصابع قلب المؤمن بين أصبعين من
( "الرحمنHati orang beriman berada di antara dua jari dari jari-jari Tuhan yang
Maha Pengasih).
1) Ta'wil Salaf: Ulama salaf tidak mengetahui makna "jari" dalam hadis ini dan
menyerahkan maknanya kepada Allah, menegaskan bahwa Allah tidak memiliki
anggota seperti manusia.
2) Ta'wil Khalaf: Ulama khalaf menafsirkan "jari" sebagai pengaturan atau kehendak
Allah terhadap hati orang beriman, menunjukkan bahwa Allah memiliki kontrol
penuh atas hati mereka.
c. Ta'wil Ayat tentang Kebangkitan
Contoh Ayat: Firman Allah: " ( "َوِإَذا اْلَمْوُقوَفُة َقاَمْتKetika orang-orang
yang dibangkitkan berdiri) - (Al-Mudathir 74:48)
1) Ta'wil Salaf: Ulama salaf menegaskan bahwa kita tidak mengetahui bagaimana
kebangkitan itu terjadi dan menyerahkan pemahaman tersebut kepada Allah.
2) Ta'wil Khalaf: Ulama khalaf menjelaskan bahwa kebangkitan di sini merujuk
pada hari kiamat ketika semua manusia akan dibangkitkan untuk dihisab.
d. Ta'wil Ayat tentang Wajah Allah
Contoh Ayat: Firman Allah: "َواإلْكَر اِم "َوَيْبَقى َوْج ُه َر ِّبَك ُذو اْلَج اَل ِل
(Dan akan kekallah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan) -
(Ar-Rahman 55:27)
1) Ta'wil Salaf: Para ulama salaf mengatakan bahwa kita tidak mengetahui makna
"wajah" dan menyerahkan maknanya kepada Allah, serta mengingkari pengertian
fisik.
10
2) Ta'wil Khalaf: Ulama khalaf menafsirkannya sebagai zat Allah, sehingga makna
ayat tersebut adalah "Dan kekallah zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan
kemuliaan."
e. Ta'wil dalam Konteks Hukum
Contoh Ayat: Firman Allah: " الَّطِّيَباُت
ُأ
( " ِح َّل َلُكُمDihalalkan bagi kalian
yang baik-baik) - (Al-Maidah 5:1)
1) Ta'wil Salaf: Ulama salaf memahami hal ini secara literal, yaitu segala sesuatu
yang baik dan halal.
2) Ta'wil Khalaf: Ulama khalaf menekankan bahwa "yang baik" mencakup bukan
hanya makanan tetapi juga tindakan dan perilaku yang sesuai dengan syariat
Islam.
Contoh-contoh ta’wil di atas menunjukkan bagaimana proses penafsiran dapat
memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang teks-teks keagamaan. Ta’wil
memainkan peran penting dalam menjembatani antara makna literal dan esensi spiritual
dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis. Dengan menggunakan pendekatan salaf dan khalaf,
umat Islam dapat memahami ajaran agama mereka secara lebih komprehensif dan relevan
dengan konteks kehidupan sehari-hari6.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Lafadz merupakan elemen fundamental dalam komunikasi yang berfungsi sebagai
perantara untuk menyampaikan pikiran dan makna. Dalam kajian bahasa, lafadz dibedakan
menjadi beberapa kategori, termasuk lafadz mufrad dan murakkab, yang masing-masing
6
Walfajri, Walfajri dan Khotijah Khotijah. 2024. Analysis of Arabic Diglossia in Learning Kalām as Daily
Communication at Markaz Arabiyah Pare, Kediri. Alsinatuna: Journal of Arabic Linguistics and
Education.
11
memiliki karakteristik dan fungsi tersendiri. Lafadz mufrad adalah kata-kata yang berdiri
sendiri dan tidak memiliki bagian, sedangkan lafadz murakkab adalah gabungan dari
beberapa lafadz yang membentuk makna yang lebih kompleks. Penggunaan lafadz juga
mencakup aspek-aspek seperti hakikat dan majaz. Hakikat merujuk pada makna literal atau
asli dari suatu lafadz, sedangkan majaz adalah penggunaan lafadz dalam konteks yang
berbeda dari makna aslinya, sering kali untuk tujuan kiasan atau metafora. Pemahaman
tentang kedua konsep ini sangat penting dalam analisis teks-teks keagamaan dan hukum, di
mana penafsiran yang tepat dapat mempengaruhi pemahaman ajaran.
Dalam praktiknya, pemilihan lafadz yang tepat sangat mempengaruhi kejelasan
komunikasi. Lafadz yang tidak tepat dapat menyebabkan kesalahpahaman, sementara lafadz
yang sesuai dapat memperjelas maksud dan tujuan komunikasi. Oleh karena itu, penting bagi
individu untuk memahami berbagai jenis lafadz dan cara penggunaannya agar dapat
berkomunikasi dengan efektif dan akurat. Secara keseluruhan, kajian lafadz dari segi
penggunaannya memberikan wawasan yang mendalam tentang pentingnya bahasa dalam
menyampaikan ide dan informasi, serta bagaimana pemahaman terhadap makna dapat
mempengaruhi interaksi sosial dan pemahaman keagamaan.
B. Saran
Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah keilmuan
dan bermanfaat bagi kita semua. Dalam pembuatan makalah ini pasti ada kekurangan, maka
dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran nya kepada pembaca, guna memperbaiki
makalah selanjutnya.
12
DAFTAR PUSTAKA
Badudu, J.S. 1993. Lafadz dan Peggunaannya. Jakarta: PT Gramedia.
Saputro, Yarno Eko. 2021. Hakikat dan Majaz. Jurnal Pendidikan dan Pemikiran, Vol 16 No. 1.
Air Molek: STAIN Urulfalah.
Dajani, Basma Ahmad Sedki. 2019. Teaching Arabic Language: Towards a New Beginning That
Stimulates... European, Journal of Literature, Language and Linguistics Studies.
Tuhfatul Unsi, Baiq. 2020. Conversational Method Pada Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Bahasa Arab. Murobbu: Jurnal Ilmu Pendidikan.
Walfajri, Walfajri dan Khotijah Khotijah. 2024. Analysis of Arabic Diglossia in Learning Kalām
as Daily Communication at Markaz Arabiyah Pare, Kediri. Alsinatuna: Journal of Arabic
Linguistics and Education.