Anda di halaman 1dari 15

ETER

Struktur Eter Eter berbeda dari alkohol, dimana atom oksigen dari suatu eter terikat pada dua atom karbon. Gugus hidrokarbon dapat berupa alkil, alkenil, vinil, atau aril.

Eter memiliki rumus umum R-O-R atau R-O-R dimana R adalah gugus alkil yang berbeda dari gugus R. Eter = air dimana kedua atom hidrogen diganti dengan gugus alkil.

R O R
atau

R O R
Rumus umum suatu eter

CH3
1100

O CH3

Dimetil eter

H2C O

CH2 O
Tetrahidrofuran (THF) ETER SIKLIK

Gugus fungsional suatu eter

Etilen oksida

TATANAMA ETER

Eter sederhana sering dinamai dengan nama radikofungsional umum. Tuliskan kedua gugus yang terikat pada atom oksigen (sesuai urutan

abjad) dan tambahkan kata eter.

CH3 CH3OCH2CH3
Etil metil eter

CH3CH2OCH2CH3
Dietil eter

C6H5OC CH3

CH3

tert-Butil fenil eter Nama substitutif IUPAC harus dipakai untuk menamai eter yang rumit dan Dalam sistem IUPAC, eter dinamai sebagai alkoksialkana, alkoksialkena, Gugus RO- merupakan suatu gugus alkoksi. Dua eter siklik yang sering dipakai sebagai solven memiliki nama umum

senyawa dengan lebih dari satu ikatan eter. dan alkoksiarena.

tetrahidrofuran (THF) dan 1,4-dioksana.

CH3CHCH2CH2CH3 OCH3
2-Metoksipentana

CH3CH2O

CH3

1-Etoksi-4-metilbenzena

O CH3OCH2CH2OCH3
1,2-Dimetoksietana

O
Tetrahidrofuran (oksasiklopentana)

O
Dioksana (1,4-dioksasikloheksana)

SIFAT FISIK ETER Eter memiliki titik didih yang sebanding dengan hidrokarbon dengan berat Titik didih dietil eter (MW = 74) adalah 34,6C, dan pentana (MW = 72) Molekul-molekul alkohol dapat berikatan satu sama lain melalui ikatan Meskipun demikian, eter juga dapat membentuk ikatan hidrogen dengan Eter memiliki kelarutan dalam air yang sebanding dengan alkohol dengan Sangat berbeda bila dibandingkan dengan hidrokarbon. Dietil eter & 1-butanol memiliki kelarutan yang sama dalam air, sekitar 8 Sebaliknya, pentana secara nyata tidak larut dalam air. molekul yang sama. adalah 36C. hidrogen, sementara eter dan hidrokarbon tidak dapat. senyawa-senyawa seperti air. berat molekul yang sama.

g per 100 mL pada suhu kamar.

ETER PENTING DIETIL ETER Berupa suatu cairan dengan titik didih rendah dan mudah terbakar. Sebagian besar eter bereaksi lambat dengan oksigen melalui suatu reaksi

radikal yang disebut auto-oksidasi membentuk hidroperoksida dan peroksida (ekplosif). Sering digunakan sebagai pelarut ekstraksi. Dipakai sebagai suatu anestetik (pembius) pada pembedahan.

Sintesis Eter 1. Dehidrasi alkohol

Alkohol mengalami dehidrasi membentuk alkena. Alkohol primer dapat juga terdehidrasi membentuk eter. Dehidrasi menghasilkan eter berlangsung pada suhu yang lebih rendah dibanding reaksi dehidrasi membentuk alkena.

Dehidrasi menghasilkan eter dibantu dengan distilasi eter segera setelah terbentuk. Dietil eter dibuat secara komersial melalui reaksi dehidrasi etanol. Dietil eter adalah produk utama pada suhu 140C, sedangkan etana adalah produk utama pada suhu 180C. Reaksi ini kurang berguna pada alkohol sekunder karena alkena mudah terbentuk. Pada alkohol tersier sepenuhnya terbentuk alkena. Tidak berguna pada pembuatan eter non- simetrik dari alkohol primer karena terbentuk campuran produk.
H2SO4 180 0C

CH2

CH2

CH3CH2 OH
H2SO4 140 0C

Etena

CH3CH2 OCH 2 CH3


Dietil eter

CH3CH2

OH

OSO3H OH2

CH3CH2 CH3 CH2

OH2 O H

OSO3 H

CH3CH2 OH + CH3CH2

CH2CH3

H2 O

CH3CH2 OCH 2 CH3 ROR ROH +

H3 O

R'OH

H2SO4

ROR'

alkohol 10

H2 O

R'OR'

2. Sintesis Williamson

Suatu jalur penting pada preparasi eter non-simetrik adalah suatu reaksi substitusi nukleofilik yang disebut reaksi Williamson. Merupakan reaksi SN2 dari suatu natrium alkoksida dengan alkil halida, alkil sulfonat, atau alkil sulfat. Hasil terbaik dicapai jika alkil halida, alkil sulfonat, atau alkil sulfat yang dipakai adalah primer (atau metil). Jika substrat adalah tersier maka eliminasi sepenuhnya merupakan produk reaksi. Pada suhu rendah substitusi lebih unggul dibanding dengan eliminasi.

O Na

R'

R'

Na L

L = Br, I, OSO2R", atau OSO2OR" CH3CH2CH2OH


Propil alkohol

Na

CH3 CH2CH2 O

Na

1/2 H2

Natrium propoksida CH3CH2I

CH3 CH2OCH 2CH2CH3


Etil propil eter (70%)

Na

3. Tert-butil eter dari alkilasi alkohol

Alkohol primer dapat diubah menjadi tert-butil eter dengan melarutkan alkohol tersebut dalam suatu asam kuat seperti asam sulfat dan kemudian ditambahkan isobutilena ke dalam campuran tersebut. (Prosedur ini meminimalkan dimerisasi dan polimerisasi dari isobutilena).

CH3 RCH2 OH
Alkohol 10

CH2

CCH3 CH3

H2SO4

RCH2O

CCH3 CH3

Isobutilena

tert-butil eter

Metode ini sering dipakai untuk proteksi gugus hidroksil dari alkohol primer sewaktu reaksi-reaksi lainnya dilakukan terhadap bagian lain dari molekul tersebut. Gugus proteksi tert-butil dapat dihilangkan secara mudah dengan penambahan larutan asam encer.

4. Trimetilsilil eter (Sililasi)

Suatu gugus hidroksil juga diproteksi dalam larutan netral atau basa dengan mengubahnya menjadi suatu gugus trimetilsilil eter, OSi(CH3)3. Reaksi ini, yang disebut sililasi, dilakukan dengan membiarkan alkohol tersebut bereaksi dengan klorotrimetilsilana dengan kehadiran suatu amina tersier.

OH

(CH3) 3SiCl
Klorometilsilana

(CH3CH2)3N

Si(CH3) 3

Gugus proteksi ini dapat dihilangkan dengan suatu larutan asam.


H3O+ / H 2O

Si(CH3 )3

OH

(CH3 )3 SiOH

Pengubahan suatu alkohol menjadi suatu trimetilsilil eter membuat senyawa tersebut lebih volatil (mudah menguap). Hal ini dikarenakan kenaikan volatilitas (sifat mudah menguap) ini menjadikan alkohol

(sebagai bentuk trimetilsilil-nya) lebih memungkinkan untuk menjalani analisis dengan kromatografi gas-cair. Reaksi-reaksi Eter Dialkil eter bereaksi dengan sedikit pereaksi diluar asam-asam. Eter tahan terhadap serangan nukleofil dan basa. Ketidakkreaktifan dan kemampuan eter men-solvasi kation (dengan

mendonorkan sepasang elektron dari atom oksigen) membuat eter berguna sebagai solven dari banyak reaksi. Eter mengalami reaksi halogenasi seperti alkana. Oksigen dari ikatan eter memberi sifat basa. Eter dapat bereaksi dengan donor proton membentuk garam oksonium.

CH3CH2OCH 2 CH3

HBr

CH3 CH2

O H

CH2CH3 Br

Garam oksonium

Pemanasan dialkil eter dengan asam-asam sangat kuat (HI, HBr,

H2SO4) menyebabkan eter mengalami reaksi dimana ikatan ikatan karbon oksigen pecah.

CH3 CH2 OCH 2 CH3

HBr

2 CH3 CH2 Br

H2 O

Mekanisme reaksi ini dimulai dari pembentukan suatu ion oksonium.

Kemudian suatu reaksi SN2 dengan ion bromida yang bertindak sebagai nukleofil akan menghasilkan etanol dan etil bromida.

CH3CH2OCH 2 CH3

HBr

CH3CH2O H

CH2CH3

+ +

Br

CH3CH2O H
Etanol

CH3 CH2Br
Etil bromida

Pada tahap selanjutnya, etanol yang baru terbentuk bereaksi dengan HBr

membentuk satu mol ekivalen etil bromida yang ke dua.

CH3CH2OH

HBr

Br

CH3CH2

O H

CH3CH2

Br

O H

EPOKSIDA

Epoksida adalah eter siklik dengan cincin tiga anggota. Dalam tatanama

IUPAC, epoksida disebut oksirana. Epoksida paling sederhana memiliki nama umum etilena oksida.

C O

H2C O
1

CH2

Suatu epoksida

IUPAC: Oksirana Umum: Etilena oksida

Metode yang paling umum digunakan untuk mensintesa epoksida adalah

reaksi dari suatu alkena dengan suatu asam peroksi organik, yaitu suatu proses yang disebut epoksidasi.

O RCH CHR
Suatu alkena

O OH
Epoksidasi

R'C O

RHC O

CHR

R'C OH

Suatu asam peroksi

Suatu epoksida (atau oksirana)

Dalam reaksi ini, asam peroksi memberikan suatu atom oksigen kepada alkena. Mekanismenya adalah seperti berikut ini.

C C

O H

C O

R'

C O C

R' C O

+
H

Adisi oksigen pada ikatan rangkap dalam suatu reaksi epoksidasi adalah

adisi syn. Untuk membentuk suatu cincin dengan tiga anggota, atom oksigen harus mengadisi kedua atom karbon dari ikatan rangkap pada sisi yang sama. Asam peroksi yang paling umum digunakan adalah asam peroksiasetat dan asam peroksibenzoat. Sebagai contoh, sikloheksana bereaksi dengan asam peroksibenzoat menghasilkan 1,2-epoksi-sikloheksana dalam jumlah yang kuantitatif.

H
CH2Cl2

C6H5COOH

O H

C6H5COH

Asam peroksibenzoat

1,2-Epoksisikloheksana (100%)

Reaksi antara alkena dengan asam-asam peroksi berlangsung dengan suatu

cara yang stereospesifik. Sebagai contoh, cis-2-butena hanya menghasilkan cis-2,3-dimetiloksirana, sedangkan trans-2-butena hanya menghasilkan trans2,3-dimetiloksirana.

H3C

H C C

CH3
3

+
H

RCOOH

H3C
2

H O
1

H3C

H
cis-2,3-Dimetiloksirana (senyawa meso)

cis-2-Butena

H3C

H C C

CH3 H CH3 H O

CH3

+
CH3

RCOOH

+
O

H CH3

trans-2-Butena

Enantiomer trans-2,3-Dimetiloksirana

Reaksi-reaksi Epoksida Cincin tiga anggota dengan tegangan (strain) yang sangat tinggi dalam molekul epoksida menyebabkan epoksida lebih reaktif terhadap substitusi nukleofilik dibandingkan dengan eter yang lain. Katalisis asam membantu pembukaan cincin epoksida dengan menyediakan suatu gugus pergi yang lebih baik (suatu alkohol) pada atom karbon yang mengalami serangan nukleofilik. Katalisis ini sangat penting terutama jika nukleofilnya adalah suatu nukleofil lemah seperti air atau suatu alkohol: Pembukaan cincin dengan katalis asam

C O

+ H+
_

C O H

H O H

HO

O H

H+

HO

OH

Pembukaan cincin dengan katalis basa

RO
Nukleofil kuat

C O

RO

ROH

HO

C RO

OH

Ion alkoksida

Jika epoksidanya tidak simetris, serangan pembukaan cincin dengan katalis basa oleh ion alkoksida berlangsung terutama pada atom karbon yang kurang tersubstitusi. Sebagai contoh, metiloksirana bereaksi dengan suatu ion alkoksida terutama pada atom karbon primernya:

Atom karbon 1 0 kurang terhalangi

CH3CH2O

H2C O

CHCH3

CH3 CH2OCH 2CHCH3 O CH3 CH2OCH 2CHCH3 OH


1-Etoksil-2-propanol

CH3CH 2OH

Metiloksirana

CH3 CH2 O

Ini adalah apa yang seharusnya diharapkan: Reaksi secara keseluruhan

adalan reaksi SN2, dan seperti telah dipelajari sebelumnya, substrat primer bereaksi lebih cepat melalui reaksi SN2 karena halangan ruangnya kecil.

Pada pembukaan cincin dengan katalis asam dari epoksida tidak simetris,

serangan nukleofil terutama terjadi pada atom karbon yang lebih tersubstitusi. Sebagai contoh:

CH3 CH3 OH

H3 C

C O

CH2

H+

CH3 H3 C C CH2 OH

OCH3

Alasan: Ikatan pada epoksida terprotonasi adalah tidak simetris dengan atom karbon yang lebih tersubstitusi mengemban suatu muatan yang positif sekali. Oleh karena itu, nukleofil menyerang atom karbon tersebut meskipun lebih tersubstitusi.

Atom karbon ini menyerupai karbokation 3 0

CH3 CH3 OH

+ H3C

CH2 O + H

CH3 H3 C C CH2 OH

OCH3 H

Epoksida terprotonasi

Atom karbon yang lebih tersubstitusi mengemban suatu muatan positif

lebih besar karena menyerupai suatu karbokation tersier yang lebih stabil.

H3 C O O H3 C O O

CH3 O

O O CH3 O O CH3 O CH3 CH3

CH3 O O

Nonactin

SULFIDA
Pengertian Sulfida Sulfida adalah suatu bentuk ion dari sulfur dimana satu ion sulfur tersebut membutuhkan 2 elektron lagi pada kulit terluarnya untuk mencapai kestabilannya. Karena membutuhkan 2 ion lagi maka dilambangkan S-2. Contoh senyawa sulfida yaitu H2S (asam sulfida). Sulfida merupakan salah satu toksikan yang dapat dihasilkan dari industri penyamakan kulit, pengilangan minyak, industri gula dan beberapa industri lainnya. H2S merupakan salah satu gas yang sangat berbahaya, menempati kedudukan kedua setelah Hydrogen Sianida dan dengan tingkat racun yang sangat tinggi lima sampai enam kali beracun dari karbon monoksida. Dapat larut dalam air maupun hydrogen cair. Efek yang ditimbulkan Sulfida Mengganggu mata, mengaratkan logam deret elektrokimia, tidak tampak, memiliki berat jenis lebih besar dari udara. Gas ini dapat melumpuhkan sistem pernafasan dan dapat membunuh dalam sekejap. Pada konsentrasi rendah H2S memiliki bau yang menyengat seperti telur busuk. Pada konsentrasi yang tinggi, bau tidak dapat tercium lagi karena gas tersebut secara cepat mematikan indera penciuman dan mematikan sistem syaraf kita. Gejala-gejala yang timbul akibat terhirup gas H2S pada konsentrasi yang rendah baik sendiri-sendiri atau secara bersama-sama sebagai berikut : Pusing, Mual, Rasa melayang, Gelisah, Mengantuk, Batuk-batuk, Rasa kering dan nyeri di hidung, tenggorokan dan dada. Bahaya utama dari gas ini adalah kematian akibat menghirup. Bilamana jumlah gas yang terserap ke dalam sistem peredaran darah melampaui kemampuan oksidasi dalam darah maka akan menimbulkan keracunan terhadap sistem syaraf. Sesak nafas terjadi secara singkat dan diikuti kelumpuhan (paralysis) pernafasan pada konsentrasi yang lebih tinggi. Jika korban tidak segera dipindahkan ke udara segar dan diberikan pernafasan buatan, kematian akan segera terjadi akibat kelemasan (asphyxiation).

H2S terbentuk oleh zat-zat organik yang membusuk, dapat kita temukan di lokasi pengeboran minyak dan gas bumi, geothermal (panas bumi), pada fasilitas fasilitas pertambangan, industri petrokimia, tempat pengolahan dan pembuangan limbah, tempat pembuangan sampah dan fasilitas- fasilitas lainnya. Kimiawi Hidrogen sulfida merupakan hidrida kovalen yang secara kimiawi terkait dengan air (H2O) karena oksigen dan sulfur berada dalam golongan yang sama di tabel periodik. Hidrogen sulfida merupakan asam lemah, terpisah dalam larutan aqueous (mengandung air) menjadi kation hidrogen H+ dan anion hidrosulfid HS: H2S HS + H+ Ka = 1.3107 mol/L; pKa = 6.89. Ion sulfid, S2, dikenal dalam bentuk padatan tetapi tidak di dalam larutan aqueous (oksida). Konstanta disosiasi kedua dari hidrogen sulfida sering dinyatakan sekitar 1013, tetapi sekarang disadari bahwa angka ini merupakan error yang disebabkan oleh oksidasi sulfur dalam larutan alkalin. Estimasi terakhir terbaik untuk pKa2 adalah 192.