Anda di halaman 1dari 10

STUDI KONTRIBUSI GREEN CONSTRUCTION TERHADAP OPERASIONAL BANGUNAN

Wulfram I. Ervianto1; Biemo W. Soemardi2; Muhamad Abduh3; Suryamanto4


1

Kandidat Doktor Teknik Sipil, Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Institut Teknologi Bandung, email: wulframervianto@yahoo.com 2 Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, email: b_soemardi@si.itb.ac.id 3 Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, email: abduh@si.itb.ac.id 4 Staf Pengajar Program Studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, email: titus@ar.itb.ac.id

ABSTRAK
Siklus hidup sebuah proyek konstruksi dimulai dari tahap studi kelayakan, perencanaan, pengadaan, laksanaan, operasional, dan dekonstruksi. Sebuah bangunan dapat dinyatakan green apabila setiap tahap dalam siklus hidup proyek konstruksi tersebut memenuhi ketetapan yang telah dibakukan oleh lembaga yang kompeten. Saat ini, sistem rating yang digunakan untuk mengukur green building di Indonesia adalah GREENSHIP Versi 1,0 yang dipublikasikan oleh Green Building Council Indonesia. Pada tataran praktis implementasi dan kontribusi konsep green di setiap tahap terhadap tahap lain dalam siklus hidup proyek konstruksi belum terdefinisi dengan baik. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengkaji aktivitas proses konstruksi yang memberikan kontribusi dalam tahap operasional bangunan gedung. Kajian ini dilakukan melalui wawancara terhadap praktisi dan didasarkan pada data sekunder yang bersumber dari berbagai dokumen. Hasil dari studi ini adalah perlu adanya perencanaan dan pemilihan metoda konstruksi yang tepat dalam konteks green; pemilihan jenis dan kualitas material yang akan digunakan dalam instalasi bangunan gedung; menghindari penggunaan berbagai jenis bahan kimia; manajemen penyimpanan material yang tepat. Kata Kunci: Aktivitas Proses Konstruksi; Bangunan Gedung; Green Building

1. LATAR BELAKANG
Fenomena global warming yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca menjadi topik yang banyak dibahas dalam berbagai forum ilmiah. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Walton dkk., sebagaimana dikutip Arief dkk. (1998) bahwa isu lingkungan yang semula kurang diperhatikan dalam pengelolaan proyek konstruksi, saat ini menjadi isu utama dalam berbagai pertemuan ilmiah. Salim (2010) menyatakan, bila cara-cara pembangunan tetap dilakukan seperti biasanya tanpa perubahan, maka pada tahun 2050 diperkirakan konsentrasi CO2 akan mencapai 500 part per million (ppm) atau menjadi dua kali lipat konsentrasinya bila dibandingkan dengan sebelum revolusi industri. Para ahli sedunia sepakat menetapkan konsentrasi CO2 sebesar 450-550 ppm (Salim, 2010). Dalam Konferensi Tingkat Tinggi ke-13 tentang Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang diselenggarakan di Bali pada bulan Desember 2007, Indonesia sepakat untuk menurunkan konsentrasi CO2 di udara sebesar 26% sampai dengan 41% di akhir tahun 2020 dan disepakati tentang peta jalur hijau dengan pola pembangunan abad ke-21 yang berkadar rendah karbon. Terlepas dari desakan internasional, Indonesia seharusnya tidak terfokus hanya untuk menurunkan konsentrasi CO2 saja, namun tetap melanjutkan aktivitas industri termasuk industri konstruksinya dengan cara-cara yang

Jangan menulis apapun pada header

memperhatikan lingkungan (green) guna menyediakan ruang untuk hidup layak bagi generasi mendatang. Secara internasional baik di Eropa maupun Amerika, konsep green sudah menjadi hal yang umum diterapkan dalam praktik. Oleh karenanya di era globalisasi ini praktik green building pada industri konstruksi menjadi penting terutama bagi perusahaan multinasional. Persyaratan green dikenal dengan penjaminan bagi sebuah gedung yang ramah lingkungan dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Pada waktu yang sama penerapan teknologi menyebabkan industri pendukung untuk mengadakan riset dan inovasi dalam menciptakan green products. Secara tidak langsung hal ini mampu meningkatkan perekonomian dalam menyediakan lapangan kerja baru bagi masyarakat, dan berperan dalam pengentasan kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Sistem rating yang digunakan untuk menilai green building di Amerika adalah Leadership in Energy and Environmental Design (LEED), sistem rating ini dikembangkan oleh United States Green Building Council (USGBC). Versi terbaru dari LEED adalah LEED-NC 2.2 yang dipublikasikan pada tahun 2007 untuk New Conctruction and Major Renovations. Kriteria penilaian dalam LEED didasarkan pada enam kategori dengan total poin 69. Prosentase terbesar diantara enam kategori tersebut adalah efisiensi dan konservasi energi, yaitu 24,64%. Di Indonesia, sistem rating GREENSHIP dikembangkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI) yang dipublikasikan pada tahun 2010. Sistem rating ini merupakan sebuah pedoman bagi pelaku industri konstruksi untuk mencapai standar terukur yang dapat dipahami oleh pengguna bangunan. Standar yang ingin dicapai dalam penerapan GREENSHIP adalah terjadinya suatu bangunan hijau (green building) yang ramah lingkungan dimulai sejak tahap perencanaan, pembangunan, pengoperasi dan pemeliharaan. Kriteria penilaian dalam GREENSHIP didasarkan pada enam kategori dengan total poin 101. Persentase terbesar diantara enam kategori tersebut adalah efisiensi dan konservasi energi, yaitu 25,7%.

Sumber: GBCI, (2010)

Gambar 1. Lingkup penilaian dalam sistem rating GREENSHIP Siklus hidup proyek konstruksi didasarkan pada anggapan bahwa di setiap tahap dalam siklus hidup sebuah proyek konstruksi selalu berkontribusi dan tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Dengan demikian, setiap pihak yang terlibat dalam setiap tahap disyaratkan memahami dan mengetahui dengan pasti apa yang harus dilakukan. Pihak yang berperan di tahap awal siklus hidup proyek konstruksi harus memahami seluruh aktivitas dalam setiap tahap berikutnya. Sedangkan pihak yang berperan di tahap akhir berkewajiban memberikan umpan balik pada tahap sebelumnya (gambar 2).

Please leave the footers empty

Jangan menulis apapun pada header

Demikian juga untuk proyek konstruksi yang dilaksanakan secara green, semua tahap dalam siklus hidup proyek konstruksi hendaknya direncanakan secara menyeluruh untuk mendapatkan manfaat yang maksimal. Konsep green pertama kali dipelajari oleh arsitek dengan tujuan untuk mendapatkan manfaat dari efisiensi energi, kemudian dikenal dengan green architecture. Konsep ini kemudian meluas pada bidang lain seperti pada material bangunan yang ramah lingkungan yang disebut dengan green material. Apabila antara green architecture dan green material disatukan maka dapat disebut dengan green disain. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal tidak tepat jika konsep green ini hanya berhenti pada tahap disain saja, untuk itu perlu dikembangkan pada tahap konstruksi yang kemudian dikenal dengan green construction. Hasil akhir dari proses ini berupa bangunan yang disebut dengan green building. Dalam siklus ini, selalu terjadi umpan balik di setiap tahap, hal ini berfungsi untuk proses perbaikan secara terus menerus sehingga dihasilkan kondisi optimum di setiap tahap.

FEASIBILITY STUDY

DESIGN (Green design)

PENGADAAN (Green procurement)

KONSTRUKSI (Green construction)

OPERASI DAN PERAWATAN (Green building)

PERILAKU PENGGUNA

Gambar 2. Proses umpan balik dalam siklus hidup proyek konstruksi

2. RUMUSAN MASALAH
Proyek konstruksi merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait mulai dari proses disain, pengadaan, konstruksi, operasi dan perawatan, dan dekonstruksi dengan penggunaan berbagai jenis sumberdaya. Sistem inilah yang harus dikelola untuk mencapai prinsip-prinsip dalam sustainable construction. Green construction sebagai bagian dari sustainable construction tentunya akan berdampak terhadap operasional bangunan maupun proses disain berupa umpan balik yang bersumber dari pengalaman konstruksi. Dalam sistem rating GREENSHIP versi 1,0 untuk gedung baru, dinyatakan bahwa besarnya prosentase komposisi item penilaian dalam tahap disain-konstruksi-operasi bangunan adalah 62,2%, 4,4%, dan 33,3%. Komposisi dalam sistem rating ini lebih didominasi oleh tahap disain dan operasi bangunan, sedangkan prosentase pada tahap konstruksi diakomodasi 4,4%, yaitu dalam Building Environment Management (BEM2) tentang polusi dari aktivitas konstruksi. Dalam konsep green, nilai green di setiap tahap dalam siklus hidup proyek konstruksi harus telah didefinisikan secara spesifik dan selanjutnya harus diwujudkan. Nilai green yang telah ditetapkan dalam tahap awal ini kemudian akan dipindahkan kedalam tahap

Jangan menulis apapun pada footer

Jangan menulis apapun pada header

berikutnya. Proses perpindahan nilai green dari tahap ke tahap ini sebaiknya mengalir tanpa hambatan, oleh karenanya diperlukan kejelasan nilai green di setiap tahap agar dapat dipahami oleh eksekutor pada tahap berikutnya. Akumulasi nilai green dari tahap awal hingga tahap terakhir ini akan membentuk suatu produk yang disebut dengan green building.

3. SIGNIFIKANSI PENELITIAN
Dalam paper ini lebih spesifik akan mengkaji nilai green tahap konstruksi dilanjutkan dengan nilai green yang akan diteruskan kepada tahap operasional (gambar 3). Sejauh ini kajian tentang kontribusi nilai tahap konstruksi terhadap tahap operasional dan perawatan bangunan belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian awal tentang nilai green dalam tahap konstruksi sekaligus mengidentifikasi proses konstruksi yang berpotensi memberikan kontribusi terhadap operasional bangunan gedung.

Gambar 3. Lingkup studi

4. PENDEKATAN PENELITIAN
Sintesa aspek green construction yang disampaikan oleh Glavinich (2008), Kibert (2008), P.T. Pembangunan Perumahan, dan Green Building Council Indonesia (2010), adalah: perencanaan dan penjadwalan, sumber dan siklus material, perencanaan perlindungan lokasi pekerjaan, manajemen limbah konstruksi, penyimpanan dan perlindungan material, program kesehatan dan keselamatan kerja, mewujudkan lokasi kerja ramah lingkungan, pemilihan dan pengoperasian peralatan konstruksi, dokumentasi, pelatihan bagi subkontraktor, jejak ekologis tahap konstruksi, kualitas udara tahap konstruksi, konservasi air, tepat guna lahan, efisiensi dan konservasi energi, manajemen lingkungan proyek, kesehatan dan kenyamanan di dalam proyek. Aspek green contruction seperti tersebut diatas tidak lain bertujuan untuk mengurangi pengaruh proses konstruksi terhadap lingkungan. Dalam hasil riset yang dilakukan oleh Li, X., dkk. (2009) dinyatakan bahwa proses konstruksi menimbulkan dampak terhadap lingkungan relatif lebih kecil namun lebih intensif jika dibandingkan dengan tahap operasional dari sebuah bangunan. Dalam Agenda Konstruksi Indonesia 2030 dinyatakan bahwa konstruksi harus menjadi pelopor perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan, dengan agenda menerapkan konsep sustainable construction yang difokuskan pada penghematan bahan dan pengurangan limbah (bahan sisa) serta kemudahan pemeliharaan bangunan pasca konstruksi (LPJKN, 2007). Proses konstruksi seperti tersebut diatas erat hubungannya dengan daya dukung Lingkungan. Dalam UU No 23/1997, definisi daya dukung lingkungan adalah

Please leave the footers empty

Jangan menulis apapun pada header

kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Lenzen (2003) menyatakan bahwa daya dukung lingkungan (Carrying capacity) mengandung pengertian kemampuan suatu tempat dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara optimum dalam periode waktu yang panjang. Khanna (1999), menyatakan bahwa daya dukung lingkungan hidup dapat dikelompokan menjadi dua komponen, yaitu: kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity) dimana kedua hal tersebut sejalan dengan konsep sustainable construction yaitu penghematan bahan dan pengurangan limbah (gambar 4).

Gambar 4. Daya dukung lingkungan Tindakan untuk penghematan bahan dan pengurangan limbah seperti dalam sustainable construction diatas sesuai dengan prinsip lean construction, yaitu meningkatkan value dan mengurangi waste. Selanjutnya, sintesa aspek green construction seperti tersebut diatas dipilah menjadi tiga kelompok, yaitu: (a) tindakan untuk mengurangi waste, (b) tindakan untuk meningkatkan value lingkungan, (c) merupakan perilaku (behavior). Hasil dari pemilahan sintesa aspek green construction tersebut seperti dalam gambar 5 s/d 7.
Manajemen lingkungan proyek Dokumentasi Program kesehatan dan keselamatan kerja Peralatan konstruksi Manajemen limbah konstruksi Pelatihan subkontraktor Kesehatan lingkungan kerja Penyimpanan dan perlindungan material Perencanaan dan perlindungan lokasi Perencanaan dan penjadwalan Jejak ekologis Konservasi air Kualitas udara dan kenyamanan ruangan Sumber dan siklus material Efisiensi dan konservasi energi Tepat guna lahan 20 40 50 60 80 100 0 59 17 40 100 0 33 50 0 0 0 25 29 50 60

Gambar 5. Pemilahan aspek green construction berdasarkan perilaku (dalam%)

Jangan menulis apapun pada footer

Jangan menulis apapun pada header

Manajemen lingkungan proyek Dokumentasi Program kesehatan dan keselamatan kerja Peralatan konstruksi Manajemen limbah konstruksi Pelatihan subkontraktor Kesehatan lingkungan kerja Penyimpanan dan p erlindungan material Perencanaan dan perlindungan lokasi pekerjaan Perencanaan dan penjadwalan Jejak ekologis Konservasi air Kualitas udara dan kenyamanan ruangan Sumber dan siklus material Efisiensi dan konservasi energi Tepat guna lahan 0 20 40 9 0 0 6 0 13

40

50 75 50

67 75 100 60

90

60

80

100

Gambar 6. Pemilahan aspek green construction berdasarkan pengurangan limbah (dalam%)


Manajemen lingkungan proyek Dokumentasi Program kesehatan dan keselamatan kerja Peralatan konstruksi Manajemen limbah konstruksi Pelatihan subkontraktor Kesehatan lingkungan kerja Penyimpanan dan p erlindungan material Perencanaan dan perlindungan lokasi pekerjaan Perencanaan dan penjadwalan Jejak ekologis Konservasi air Kualitas udara dan kenyamanan ruangan Sumber dan siklus material Efisiensi dan konservasi energi Tepat guna lahan 0 20 40 0 14 50 60 80 100 120 0 0 50 70 100 25 25 53 100 50 20 25 67

Gambar 7. Pemilahan aspek green construction berdasarkan maksimum nilai (dalam%) Berdasarkan pemilahan aspek green construction yang dominan dalam meningkatkan value dan terkait pada tahap operasi adalah penyimpanan dan perlindungan material, kualitas udara dan kenyamanan ruangan.

Please leave the footers empty

Jangan menulis apapun pada header

Penyimpanan Dan Perlindungan Material Proses melindungi material yang akan digunakan dalam membentuk green construction dimulai dari tahap persiapan hingga tahap konstruksi. Perencanaan konservasi ini dapat terjadi apabila tim yang terdiri dari perencana bangunan dan kontraktor terlibat sejak tahap awal. Kontraktor berkewajiban menyimpan dan melindungi seluruh material, oleh karenanya kontraktor wajib membuat perencanaan dalam hal menyimpan berbagai jenis material yang akan digunakan dan melindunginya dari berbagai hal yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada saat bangunan dioperasikan. Demikian juga apabila material akan diinstalasi oleh subkontraktor maka kewajiban kontraktor, suplier dan produsen untuk melakukan proses edukasi dalam hal minimasi sisa material dan rencana konservasi material. Material yang perlu mendapatkan perhatian dalam hal penyimpanannya adalah: pipa air bersih, saluran/duct untuk Air Conditioning, Air Conditioning. Cara-cara penyimpanan pipa yang akan digunakan untuk saluran air bersih hendaknya kedua ujung pipa ditutup agar debu dan berbagai kotoran tidak melekat pada bagian dalam pipa. Kualitas Udara Dan Kenyamanan Ruangan Kualitas udara pada tahap operasional bangunan dapat dipengaruhi oleh berbagai jenis material yang digunakan untuk bagian arsitektural maupun struktur bangunan. Perkembangan berbagai jenis bahan bangunan dapat berdampak pada kesehatan penghuni bangunan. Pada jaman dahulu, bahan bangunan alam tradisional misalnya, batu alam, kayu, dan bambu tidak mengandung zat kimia yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Pada saat ini, cara membangun dan teknologi bahan bangunan mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh perkembangan ekonomi, teknologi konstruksi, kebutuhan gedung dengan fungsi baru yang memaksa para engineer untuk menemukan berbagai bahan bangunan baru, misalnya berbagai bahan sintetis, kaca, tegel keramik, pipa PVC, cat kimia, perekat, dan lain sebagainya dimana bahan bangunan tersebut dapat mengganggu kesehatan manusia. Pada penelitian pembangunan dan kesehatan diungkapkan bahwa pencemaran udara oleh limbah gas menjadi alasan gangguan kesehatan manusia yang primer. Pencemaran tersebut harus diperhatikan dengan seksama karena manusia dalam keadaan tidur jauh lebih peka jika dibandingkan waktu bangun dan untuk anak kecil 30 kali lebih peka (Frick, H., 2007). Kibert (2008), menyatakan bahwa kualitas udara pada saat konstruksi merupakan salah satu aspek dalam mewujudkan green construction, oleh karenanya perlu dilakukan identifikasi jenis pekerjaan yang berpotensi mengganggu kesehatan melalui media udara (tabel 1). Tabel 1: Sumber masalah gangguan kesehatan manusia lewat indra penciuman
Jenis pekerjaan Bahan bangunan yang mengganggu kesehatan manusia Bahan bangunan kayu yang dilem Konstruksi kayu yang diawetkan Bahan bangunan yang merupakan sumber masalah Perekat yang mengandung fenol/formaldehide Pengawetan dengan ter (penyulingan batu bara) Jenis penyakit yang bisa timbul Alergi kulit, gangguan selaput lendir Kanker

Pekerjaan kayu

Jangan menulis apapun pada footer

Jangan menulis apapun pada header

Jenis pekerjaan

Bahan bangunan yang mengganggu kesehatan manusia Pekerjaan finishing

Bahan bangunan yang merupakan sumber masalah Penggunaan politur (Etilalkohol) Penggunaan melamin (Urea formaldehide) PVC-Polivinylklorida Amoniak sebagai bahan pencair Tinner sebagai bahan pencair Mengandung timah oksida Etilalkohol sebagai bahan pencair Epoksi mesin

Jenis penyakit yang bisa timbul Alergi kulit, mata, gangguan selaput lendir. Kanker, kalau dibakar menguapkan asam klorida. Penyakit kulit, gangguan pernapasan Mempengaruhi saraf, darah dan pernapasan. Meracuni tulang, gigi, otak. Mengakibatkan kanker Mata buta, gangguan keseimbangan, selaput lendir. Eksim pada kulit, gangguan pernapasan. Asbestose (penyakit paruparu), kanker (dilarang di luar negeri). Kanker, kalau dibakar menguapkan asam klorida. Penyakit hati dan ginjal, kanker Penyakit kulit jika berhubungan lama, dicurigai penguapan jadi karsinogenik Sakit kepala, kelelahan dan depresi, gangguan tingkah laku dan mata, rasa mual, dicurigai penguapan jadi mutagen dan karsinogenik

Cat PVC/emulsi (cat tembok)

Cat sintetis Pekerjaan cat Cat meni (cat besi)

Cat epoksi dan vernis epoksi Lembar gelombang/datar asbes semen Lembar datar semen berserat, gipskarton Pipa-pipa air bersih dari PVC

Pekerjaan langitlangit

Asbes (serat mineral yang sangat halus) Debu dan serat mineral yang sangat halus PVC-Polivinylklorida Lem kontak

Instalasi saniter

Lapisan kedap air Pekerjaan lapisan penahan Lapisan penahan panas/dingin

Bitumen hidrokarbon

Styrol

Sumber: Frick, H. (2007)

Selain kedua hal tersebut diatas, potensi proses konstruksi terhadap tahap operasional dan perawatan bangunan adalah sistem struktur bangunan yang berkelanjutan. Struktur Bangunan Berkelanjutan Sebuah bangunan gedung dapat dibedakan menjadi bagian arsitektural, bagian struktur utama bangunan dan bagian utilitas bangunan. Komponen bangunan yang termasuk dalam bagian arsitektural bangunan diantaranya adalah dinding pemisah, plesteran, penutup lantai, kusen, plafon, seluruh pekerjaan cat. Komponen bangunan yang termasuk dalam struktur utama bangunan gedung dapat dibedakan menjadi struktur bawah dan struktur atas. Seluruh komponen bangunan yang terletak diatas sloof didefinisikan sebagai struktur atas sedangkan sloof dan seluruh struktur dibawahnya

Please leave the footers empty

Jangan menulis apapun pada header

didefinisikan sebagai struktur bawah. Material yang umum digunakan untuk membentuk komponen struktur bangunan bawah maupun atas adalah baja, beton bertulang, atau gabungan antara baja dan beton (komposit). Komponen bangunan yang termasuk dalam utilitas bangunan adalah seluruh pekerjaan perpipaan baik air kotor maupun air bersih, pekerjaan instalasi listrik, instalasi AC. Seluruh sistem struktur seperti tersebut diatas terdiri dari berbagai jenis material, dimana setiap material mempunyai masa pakai yang berbeda satu sama lain. Dalam konsep keberlanjutan, seluruh sistem bangunan yang dibentuk hendaknya berpedoman pada memaksimal nilai dari setiap material pembentuk sistem bangunan. Nilai dari setiap komponen pembentuk bangunan sedikit banyak ditentukan oleh masa pakainya. Informasi masa pakai dari beberapa komponen bangunan seperti dalam tabel 2. Tabel 2: Masa pakai bagian bangunan
Jenis Material Beton bertulang Dinding batu bata Lantai tegel keramik Kosen kayu jati Plafon tripleks Cat bagian dalam Cat bagian luar Pipa PVC Instalasi saluran listrik Sumber: Frick, H. (2007) Perkiraan Masa Pakai (Tahun) 60 30 20 30 10 10 5 10 10

Berdasarkan data masa pakai setiap komponen bangunan maka selanjutnya mengikuti prinsip dimana setiap komponen bangunan yang masa pakainya lebih pendek dibandingkan dengan masa pakai komponen bangunan lainnya dapat diganti tanpa merusak komponen bangunan yang masa pakainya lebih lama, hal ini akan berakibat pada semakin kecilnya biaya untuk perawatan bangunan. Sebagai contoh, seringkali instalasi saluran air yang terbuat dari PVC tertanam dalam struktur utama bangunan gedung. Seandainya pipa tersebut mengalami kerusakan sehingga perlu diganti, maka proses penggantiannya hanya dapat dilakukan dengan cara merusak struktur beton bertulang dimana masa pakainya ( 60 tahun) lebih lama jika dibandingkan dengan masa pakai PVC ( 10 tahun). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara masa pakai berbagai bahan bangunan dengan sistem struktur bangunan. Tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap biaya perawatan bangunan. Berdasarkan paparan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa proses perencanaan, pemilihan sistem struktur bangunan, dan pemilihan jenis dan kualitas material yang akan digunakan berpengaruh terhadap nilai setiap komponen serta biaya perawatan.

5. KESIMPULAN
Berdasarkan paparan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kontribusi aspek green construction terhadap tahap operasional dan perawatan bangunan adalah: (1) Penyimpanan dan perlindungan material, khususnya untuk berbagai jenis material yang pada saat operasional bangunan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, (2) Kualitas udara dan kenyamanan ruangan, yang ditimbulkan oleh berbagai material bangunan sintetis, (3) Struktur kontruksi berkelanjutan, dengan memperhatikan masa pakai setiap

Jangan menulis apapun pada footer

Jangan menulis apapun pada header

material bangunan agar terpenuhi aspek keberlanjutan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa setiap tahap dalam daur hidup proyek konstruksi berkontribusi terhadap tahap berikutnya. Demikian juga untuk tahap konstruksi menciptakan nilai green untuk dirinya sendiri namun juga meneruskan sebagian nilai green-nya terhadap tahap operasional dan perawatan.

6. DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. 4. 5. 6. Arif, M, Egbu, C, Haleem, A, Ebohon, J, & Khalfan, M. (2009) Green construction in India: gaining a deeper understanding, Journal of Architectural Engineering, hh. 10-13. Frick, H & Suskiyanto B, (2007), Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Glavinich, T. E. (2008) Contractors Guide to Green Building Construction, John Wiley, Green Building Council Indonesia (2010) GREENSHIP V 1,0, Jakarta Kibert, C. (2008) Sustainable Construction, John Wiley & Sons, Canada. Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (2007), Konstruksi Indonesia 2030 untuk kenyamanan Lingkungan Terbangun, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional, Jakarta. Li, X., Zhu, Y., dan Zhang, Z., (2010) An LCA-based environmental impact assessment model for construction processes Building and Environment, vol. 45, hh. 766-775.
Pembangunan Perumahan Tbk. Green Contractor assessment sheet, Jakarta

7. 8. 9. 10.

Salim, E. (2010) Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi, Gramedia, Jakarta


Undang Undang No. 23 (1997) tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Please leave the footers empty