Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Helmintologi adalah ilmu yang mempelajari parasit berupa cacing. Berdasarkan taksonomi, helmin dibagi menjadi: 1. Nemathelminthes ( cacing giling; nema = benang ) 2. Platyhelminthes ( cacing pipih ). Stadium dewasa cacing yang termasuk Nemathelminthes ( Kelas Nematoda ) berbentuk bulat memanjang dan pada potongan transversal tampak rongga badan dan alat-alat. Cacing tersebut mempunyai alat kelamin terpisah. Dalam Parasitologi Kedokteran nematode dibagi menjadi nematode usus yang hidup di rongga usus dan nematode jaringan yang hidup di jaringan berbagai alat tubuh. Cacing dewasa yang termasuk Platyhelminthes mempunyai badan pipih, tidak mempunyai rongga badan dan biasanya bersifat hermafrodit. Platyhelminthes dibagi menjadi Kelas Trematoda ( cacing daun ) dan Kelas Cestoda ( cacing pita ). Cacing trematoda berbentuk daun, badannya tidak bersegmen, mempunyai alat pencernaan. Cacing cestoda mempunyai badan berbentuk pita dan terdiri atas skoleks, leher, dan badan ( strobila ) bersegmen ( proglotid ). Makanan diserap melalui kulit ( kutikulum ) badan.

BAB II LANDASAN TEORI Definisi

Plasmodium

Klasifikasi ilmiah Domain: (tidak termasuk) Filum: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Eukariot Alveolata Apicomplexa Aconoidasida Haemosporida Plasmodiidae Plasmodium

Plasmodium merupakan genus protozoa parasit. Penyakit yang disebabkan oleh genus ini dikenal sebagai malaria. Parasit ini sentiasa mempunyai dua inang dalam siklus hidupnya: vektor nyamuk dan inang vertebra. Sekurang-kurangnya sepuluh spesies menjangkiti manusia. Spesies lain menjangkiti hewan lain, termasuk burung, reptilia dan hewan pengerat. Taksonomi dan Inang Genus Plasmodium dinamakan pada tahun 1885 oleh Marchiafava dan Celli dan terdapat lebih dari 175 spesies yang diketahui berada dalam genus ini. Genus ini pada tahun 2006 perlu dirombak kembali karena terbukti parasit lain yang tergolong dalam genus Haemocystis

dan Hepatocystis kelihatan terkait rapat dengan genus ini. Kemungkinan spesies lain seperti Haemoproteus meleagridis akan dimasukkan ke dalam genus ini setelah diperbaharui kembali. Jenis inang pada urutan mamalia tidak seragam. Sekurang-kurangnya 25 spesies menjangkiti primata; hewan pengerat di luar kawasan tropis Afrika jarang dijangkiti; beberapa spesies diketahui menjangkiti kelelawar, landak dan tupai; karnivora, pemakan serangga dan marsupial tidak pernah diketahui bertindak sebagai inang. Siklus hidup Pada tahun 1898 Ronald Ross membuktikan keberadaan Plasmodium pada dinding perut tengah dan kelenjar liur nyamuk Culex. Atas penemuan ini ia memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 1902, meskipun sebenarnya penghargaan itu perlu diberikan kepada profesor Italia Giovanni Battista Grassi, yang membuktikan bahwa mamalia manusia hanya bisa disebarkan oleh nyamuk Anopheles. Siklus hidup Plasmodium amat rumit. Sporozoit dari liur nyamuk betina yang mengigit disebarkan ke darah atau sistem limfa penerima. Penting disadari bahwa bagi sebagian spesies vektornya mungkin bukan nyamuk. Nyamuk dalam genus Culex, Anopheles, Culiceta, Mansonia dan Aedes mungkin bertindak sebagai vektor. Vektor yang diketahui kini bagi malaria manusia (>100 spesies) semuanya tergolong dalam genus Anopheles. Malaria burung biasanya dibawa oleh spesies genus Culex. Siklus hidup Plasmodium diketahui oleh Ross yang menyelidiki spesies dari genus Culex. Sporozoit berpindah ke hati dan menembus hepatosit. Tahap dorman bagi sporozoit Plasmodium dalam hati dikenal sebagai hipnozoit. Dari hepatosit, parasit berkembang biak menjadi ribuan merozoit, yang kemudian menyerang sel darah merah. Di sini parasit membesar dari bentuk cincin ke bentuk trofozoit dewasa. Pada tahap skizon, parasit membelah beberapa kali untuk membentuk merozoit baru, yang meninggalkan sel darah merah dan bergerak melalui saluran darah untuk menembus sel darah merah baru. Kebanyakan merozoit mengulangi siklus ini secara terus-menerus, tetapi sebagian merozoit berubah menjadi bentuk jantan atau betina (gametosit) (juga dalam darah), yang kemudiannya diambil oleh nyamuk betina.

Dalam perut tengah nyamuk, gametosit membentuk gamet dan menyuburkan satu sama lain, membentuk zigot motil yang dikenal sebagai ookinet. Ookinet menembus dan lepas dari perut tengah, kemudian membenamkan diri pada membran perut luar. Di sini mereka terbelah berkali-kali untuk menghasilkan sejumlah besar sporozoit halus memanjang. Sporozoit ini berpindah ke kelenjar liur nyamuk, di mana ia dicucuk masuk ke dalam darah inang kedua yang digigit nyamuk. Sporozoit bergerak ke hati di mana mereka mengulangi siklus ini. Dalam beberapa spesies jaringan selain hati mungkin dijangkiti. Namun hal ini tidak berlaku pada spesies yang menyerang manusia.

Plasmodium ovale

Plasmodium ovale

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Protista Filum: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Apicomplexa Aconoidasida Haemosporida Plasmodiidae Plasmodium

Spesies: P. ovale Nama binomial Plasmodium ovale


Stephens 1922

Plasmodium ovale adalah spesies protozoa parasit yang menyebabkan malaria tertian pada manusia. Spesies ini berhubungan dekat dengan Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax, yang menyebabkan kebanyakan penyakit malaria. Parasit ini lebih langka daripada dua

parasit lainnya, dan tidak seberbahaya P. falciparum. Penyakit yang disebabkan oleh parasit plasmodium ovale disebut malaria ovale. Distribusi Geografik Plasmodium ovale terutama terdapat di daerah tropik Afrika bagian Barat, Pasifik Barat dan di beberapa bagian lain di dunia. Di Indonesia parasit ini terdapat di Pulau Owi sebelah Selatan Biak di Irian Jaya dan di Pulau Timor. Morfologi dan Daur Hidup Morfologi P.ovale mempunyai persamaan dengan P.malariae tetapi perubahan pada eritrosit yang dihinggapi parasit mirip P.vivax. Trofozoit muda berukuran kira-kira 2 mikron (1/3 eritrosit). Titik Schuffner (disebut juga titik James) terbentuk sangat dini dan tampak jelas. Stadium trofozoit berbentuk bulat dan kompak dengan granula pigmen yang lebih kasar tetapi tidak sekasar pigmen P.malariae. Pada stadium ini eritrosit agak membesar dan sebagian besar berbentuk lonjong (oval) dan pinggir eritrosit bergerigi pada salah satu ujungnya dengan titik Schuffner yang menjadi lebih banyak. Stadium praeritrosit mempunyai periode prapaten 9 hari; skizon hati besarnya 70 mikron dan mengandung 15.000 merozoit. Perkembangan siklus eritrosit aseksual pada P.ovale hampir sama dengan P.vivax dan berlangsung 50 jam. Stadium skizon berbentuk bulat dan bila matang, mengandung 8-10 merozoit yang letaknya teratur di tepi mengelilingi granula pigmen yang berkelompok di tengah. Stadium gametosit betina (makrogametosit) bentuknya bulat, mempunyai inti kecil, kompak dan sitoplasma berwarna biru. Gametosit jantan (mikrogametosit) mempunyai inti difus, sitoplasma berwarna pucat kemerah-merahan, berbentuk bulat. Pigmen dalam ookista berwarna coklat/tengguli tua dan granulanya mirip dengan yang tampak pada P.malariae. Siklus sporogoni dalam nyamuk Anopheles memerlukan waktu 12-14 hari pada suhu 270C. Patologi dan Gejala Klinis Gejala klinis malaria ovale mirip malaria vivax. Serangannya sama hebat tetapi penyembuhannya sering secara spontan dan relapsnya lebih jarang. Parasit sering tetap berada dalam darah (periode laten) dan mudah ditekan oleh spesies lain yang lebih virulen.

P.ovale baru tampak lagi setelah spesies yang lain lenyap. Infeksi campur P.ovale sering terdapat pada orang yang tinggal di daerah tropik Afrika yang endemi malaria. Diagnosis Diagnosis malaria ovale dilakukan dengan menemukan parasit P.ovale dalam sediaan darah yang dipulas dengan Giemsa. Tampilan mikroskopis P. ovale sangat mirip dengan P. vivax dan jika hanya ada sejumlah kecil parasit terlihat, mungkin mustahil untuk membedakan kedua jenis atas dasar morfologi saja. Tidak ada perbedaan antara perlakuan medis P. ovale dan P. vivax , dan karena itu diagnosa laboratorium beberapa laporan "P. vivax / ovale", yang sempurna dapat diterima sebagai pengobatan untuk keduanya sangat mirip. Teman-titik Schffner yang terlihat di permukaan parasitised sel darah merah , tetapi ini lebih besar dan lebih gelap dari di P. vivax dan kadang-kadang disebut "Teman-titik James". Sekitar dua puluh persen dari sel-sel terparasit yang berbentuk oval (maka nama spesies) dan beberapa sel oval juga memiliki fimbriated tepi (yang "sel komet" yang disebut). Para dewasa schizonts P. ovale pernah memiliki lebih dari dua belas inti dalam diri mereka dan ini adalah satu-satunya cara yang dapat diandalkan untuk membedakan antara kedua spesies. P. vivax dan P. ovale yang telah duduk di EDTA selama lebih dari setengah-satu jam sebelum film darah dibuat akan terlihat sangat mirip dalam tampilannya P. malariae , yang merupakan alasan penting untuk memperingatkan laboratorium segera ketika sampel darah diambil sehingga mereka dapat memproses sampel segera setelah tiba. Prognosis Malaria ovale penyakitnya ringan dan dapat sembuh sendri tanpa pengobatan. Epidemiologi Malaria ovale di Indonesia tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat, karena frekuensinya sangat rendah dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Di Pulau Owi, Irian Jaya, Flores dan Timor, parasit ini secara kebetulan ditemukan pada waktu di daerah tersebut dilakukan survei malaria.

Meskipun sering dikatakan bahwa P. ovale sangat terbatas dalam jangkauan yang terbatas pada Afrika Barat, yang Filipina, Timur Indonesia, dan Papua New Guinea, telah dilaporkan dari Bangladesh, Kamboja, India, Thailand dan Vietnam Prevalensi dilaporkan adalah rendah (<5%) dengan pengecualian Afrika Barat, dimana prevalensi di atas 10% telah diamati.

PHIL ID# 1369 P. ovale, cincin ganda eritrosit terinfeksi. 1973

PHIL ID# 1370 P. ovale muda cincin,. 1973

PHIL ID# 1371 P. ovale trofozoit tumbuh dengan inti "cincin". 1973

PHIL ID# 1455 P. ovale microgametocyte.1973

DAFTAR PUSTAKA

y y y

Short, H. E. (1951) Life-cycle of the mammalian malaria parasite" British Medical Bulletin 8(1): pp. 7-9, (PMID 14944807); Baldacci, Patricia and Mnard, Robert (Oct. 2004) "The elusive malaria sporozoite in the mammalian host" Molecular Microbiology 54(2): pp. 298-306, (AN 14621725); Bledsoe, G. H. (December 2005) "Malaria primer for clinicians in the United States" Southern Medical Journal 98(12): pp. 1197-204 (PMID 16440920); http://muse.jhu.edu/journals/bulletin_of_the_history_of_medicine/v079/79.2slater.ht ml ^ HHMI Staff (22 Januari 2006) "Malaria Parasites Develop in Lymph Nodes" HHMI News Howard Hughes Medical Institute "http://id.wikipedia.org/wiki/Plasmodium" Kategori: Parasit
http://www.uu.edu/class/malaria/Ovale.htm http://gsbs.utmb.edu/microbook/ch083.htm

y y y

y y

BAB III PENUTUP

Kesimpulan y Plasmodium ovale adalah spesies protozoa parasit yang menyebabkan malaria tertian pada manusia. Spesies ini berhubungan dekat dengan Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax, yang menyebabkan kebanyakan penyakit malaria. Parasit ini lebih langka daripada dua parasit lainnya, dan tidak seberbahaya P. falciparum. Penyakit yang disebabkan oleh parasit plasmodium ovale disebut malaria ovale. y Stadium gametosit betina (makrogametosit) bentuknya bulat, mempunyai inti kecil, kompak dan sitoplasma berwarna biru. Gametosit jantan (mikrogametosit) mempunyai inti difus, sitoplasma berwarna pucat kemerah-merahan, berbentuk bulat. y Siklus sporogoni dalam nyamuk Anopheles memerlukan waktu 12-14 hari pada suhu 270C.