Anda di halaman 1dari 60

1

PENGARUH DIVIDEN PER SHARE (DPS), RETURN ON INVESTMENT (ROI) DAN EARNING PER SHARE (EPS) TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Strata 1 Progdi Ekonomi Akuntansi

Disusun Oleh : NAMA NPM Progdi : TRI SUKMA MUDHITA : 4307500515 : Akuntansi

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan suatu negara memerlukan dana investasi dalam jumlah yang tidak sedikit. Dalam pelaksanaanya diarahkan untuk berlandaskan pada kemampuan sendiri. Oleh sebab itu, perlu ada usaha yang sungguh-sungguh untuk mengarahkan dana investasi yang bersumber dari tabungan masyarakat untuk lebih mengefektifkan kepada sektor-sektor yang produktif. Investasi adalah salah satu bentuk usaha yang dilakukan oleh para investor untuk memanfaatkan dana yang dimilikinya dengan tujuan untuk mendapatkan laba dan keuntungan. Investasi yang berarti pengorbanan dana pada saat sekarang guna memperoleh dana yang lebih besar dimasa yang akan datang. Investasi yang paling umum dilakukan adalah memberikan dana pada perusahaan dengan membeli saham yang diperjualbelikan di Pasar Modal (Capital Market) Menurut Jogiyanto (2004:11), pasar modal adalah tempat bertemunya antara penjual dan pembeli dengan resiko untung dan rugi. Pasar modal merupakan sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham atau mengeluarkan obligasi. Pengalokasian modal selalu dihadapkan pada tiga masalah yang penting dan saling berkaitan, yaitu keputusan investasi, pembelanjaan jangka panjang, dan keputusan dividen yang harus dibagikan pemegang saham.

Manajer perusahaan selain memperhatikan laba perusahaan, juga harus memperhatikan keuntungan yang diterima investor. Keuntungan yang diterima investor biasanya ada dua macam, yaitu laba kapital (Capital Gain) dan dividen. Laba kapital merupakan keuntungan yang diperoleh dari selisih harga beli dan harga jual saham perusahaan. Sedangkan dividen merupakan hasil pembagian profit yang dilakukan oleh perusahaan. Keputusan mengenai dividen ditentukan oleh kebijakan dividen perusahaan dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), Jika seorang investor ingin mendapatkan deviden, maka harus memegang atau memiliki saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama. Pembagian dividen biasanya dilakukan setahun sekali, yaitu setelah perusahaan melakukan tutup buku, sehingga diketahui jumlah laba yang diperoleh selama satu tahun beroperasi. Karena keputusan ini memiliki dampak yang cukup besar terhadap investor dan perusahaan, maka manajemen perusahaan harus dapat mengembangkan kebijakan deviden agar dapat memuaskan investor dengan pembagian keuntungan dan memaksimalkan kekayaan perusahaan yang tercermin dari harga saham. Harga saham dalam suatu bursa efek pada kenyataanya memiliki tingkat ketidakstabilan, sehingga para investor harus melakukan analisis agar kenaikan dan penurunan harga saham yang terjadi pada suatu bursa efek masih dalam batas-batas kewajaran. Model atau variabel perusahaan yang diramalkan (Saldo Laba dan Dividen Per Share) menjadi perkiraan tentang harga saham. Salah satu

dividen yang dapat mempengaruhi harga saham adalah Dividen Per Share, yaitu perbandingan antara jumlah keuntungan yang akan dibagikan perusahaan (Dividen) dengan jumlah saham yang beredar. Oleh karena itu, informasi mengenai Dividen Per Share ini sangat diperlukan untuk mengetahui berapa besar keuntungan setiap lembar saham yang akan diterima oleh para pemegang saham. Nilai sebuah saham sesungguhnya tergantung kondisi fundamental perusahaan serta keinginan investor tertarik membeli saham suatu perusahaan dan memutuskan untuk menanamkan uangnya setelah mempertimbangkan laba yang dibagikan oleh Emiten. Emiten adalah perusahaan yang telah go public dan telah mancatatkan sahamnya di Bursa Efek (Sunariyah, 2006:7). Apabila laba yang dibagikan cenderung stabil dan terus naik maka investor akan membeli saham tersebut. Tingkat pengembalian dari investasi saham dapat diketahui dari Return On Investment (ROI), menunjukan seberapa banyak laba yang diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan. Return On Investment penting untuk diteliti karena berpengaruh terhadap naik turunnya harga saham. Return On Investment mengefisiensikan Earning After Tax (EAT) dengan asset yang ada sehingga investor akan melihat jika asset yang ada mendapatkan EAT yang besar, maka perusahaan dalam kondisi yang baik.

Dengan kondisi yang baik maka para investor akan tertarik untuk membeli saham perusahaan tersebut. Manufaktur adalah perusahaan (Pabrik) yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi, seseorang atau perusahaan menyerahkan modal, peralatan, dan tenaga kerja dalam produksi atau pematangan barang-barang yang belum jadi. Penulis memilih perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagian besar adalah perusahaan manufaktur. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul Pengaruh Dividen Per Share, Return On Investment Dan Earning Per Share terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi pokok permasalahanya adalah sebagai berikut : 1. Apakah Dividen Per Share (DPS), Return On Investment (ROI) dan Earning Per Share (EPS) berpengaruh secara simultan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia? 2. Apakah Dividen Per Share (DPS), Return On Investment (ROI) dan Earning Per Share (EPS) berpengaruh Secara Parsial terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia?

C. Batasan Masalah Untuk lebih memfokuskan pada permasalahan yang akan diteliti, maka dalam penelitian ini diberikan batasan-batasan sebagai berikut : 1. Penelitian ini dibatasi dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2009. 2. Data Laporan Keuangan Tahunan dalam kurun waktu 2007-2009. 3. Penelitian ini hanya memfokuskan pada harga saham pada perusahaan manufaktur. 4. faktor-faktor lain yang berpengaruh pada penelitian ini tidak diperhatikan.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penilitian Tujuan dari penelitian ini adalah a. Untuk mengetahui Dividen Per Share (DPS), Return On Investment (ROI) dan Earning Per Share (EPS) secara stimulan mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan

manufaktur di Bursa Efek Indonesia. b. Untuk mengetahui Dividen Per Share (DPS), Return On Investment (ROI) dan Earning Per Share (EPS) secara parsial mempunyai pengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

2. Manfaat Penelitian a. Bagi Peneliti Menambah pengalaman dan wawasan bagi mahasiswa dengan mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang berbeda dari perkualiahan dengan kenyataan di lapangan sekaligus sebagai tambahan ilmu yang tidak diperoleh di bangku kuliah. b. Bagi Investor /Perusahaan Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan investasi saham di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan pedoman dalam membuat kebijakan dan keputusan bisnis. c. Bagi Universitas Menambah materi bacaan ilmiah yang dapat dimanfaatkan sebagai tambahan pengetahuan bagi pembaca terutama masyarakat akademis dan juga untuk menambah kepustakaan bagi universitas ataupun fakultas Ekonomi UPS Tegal.

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori 1. Pasar Modal a. Pengertian pasar modal Pasar modal (capital market) adalah suatu pasar dimana terdapat instrumen keuangan atau sekuritas jangka panjang yang biasa diperjual belikan dalam bentuk hutang atau modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta (Husnan, 2001:3) Menurut Marzuki (1989:129), pasar modal adalah pelengkap sektor keuangan terhadap dua lembaga lainnya, yaitu bank dan lembaga pembiayaan. Pasar modal memberikan jasanya, yaitu menjembatani hubungan antara pemilik modal dalam hal ini disebut sebagai pemodal (investor) dengan peminjam dana dalam hal ini disebut emiten (perusahaan yang go public). Menurut Sudomo (1990:123), yang dimaksud dengan pasar modal adalah pasar tempat diterbitkan serta diperdagangkan surat-surat berharga jangka panjang, khususnya obligasi dan saham. Definisi ini sudah menyangkut dua jenis pasar yang dikenal secara terpisah, yakni pasar perdana dimana surat-surat berharga itu pertama kali diterbitkan, dan pasar sekunder dimana surat-surat berharga itu diperdagangkan. Kemudian yang

dimaksud dengan investor adalah individu atau unit ekonomi yang menanamkan tabunganya dalam bentuk asset dengan harapan memperoleh hasil atau return dimasa yang akan datang. Di Indonesia, pengertian pasar modal adalah sebagaimana tertuang di dalam Keputusan Presiden (Kepres) No. 52 Tahun 1976 tentang Pasar Modal Bab I Pasal 1, dimana disebutkan Pasar Modal adalah Bursa Efek seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang No.15 Tahun 1952 yaitu bursa bursa perdagangan di Indonesia yang didirikan untuk perdagangan uang dan efek. Sedangkan bursa adalah gedung atau ruang yang ditetapkan sebagai kantor dan tempat kegiatan perdagangan efek. Sedangkan pengertian efek disini adalah setiap saham, obligasi atau bukti lainnya, termasuk sertifikat atau surat berharga dan sebagainya. 1) Macam - macam Pasar Modal Penjualan saham kepada masyarakat dan atau investor dilakukan sesuai dengan jenis atau bentuk pasar modal dimana sekuritas tersebut diperdagangkan, selain itu perusahaan yang membutuhkan dana dapat menjual surat berharga di pasar modal. Jenis-jenis pasar modal tersebut adalah sebagai berikut (Sunariyah, 2006:12): 2) Pasar perdana (primary market) Pasar perdana adalah penawaran penjualan efek/sertifikat dari perusahaan yang menerbitkan saham (emiten) kepada investor selama waktu yang telah ditetapkan oleh pihak yang menerbitkan saham sebelum saham tersebut diperdagangkan di pasar sekunder.

10

Berdasarkan pengertian tersebut maka pasar perdana merupakan pasar yang memperdagangkan saham-saham pertama kali sebelum saham tersebut dijual dipasar sekunder 3) Pasar sekunder (secondary market) Pasar sekunder diartikan sebagai tempat perdagangan surat berharga atau saham yang sudah melewati masa penawaran pada pasar perdana dan sudah beredar. Jadi pasar sekunder merupakan pasar dimana saham dan surat berharga lainnya diperdagangkan secar luas setelah melewati pasar perdana. 4) Pasar ketiga (third market) Pasar ketiga adalah tempat perdagangan surat berharga lainnya diluar bursa atau dengan kata lain pasar perdagangan surat berharga dan saham kekedua tutup. Biasanya pasar ketiga dijalankan oleh broker yang mempertemukan antar penjual dan pembeli. 5) Pasar keempat (fourth market) Pasar keempat merupakan bentuk perdagangan surat berharga dan efek antar investor atau institusi berkapasitas besar atau pengalihan saham dari satu pemegang saham yang lain sengaja untuk menghindari atau tanpa melalui perantara pedagang efek atau broker. Pasar modal memilki beberapa fungsi, (Jogiyanto, 2003:11) yaitu: 6) Sebagai sumber penghimpun dana. Apabila perusahaan ingin menggalang dana yang jumlahnya relatif besar, maka perusahaan bisa masuk kepasar modal untuk

11

menggalang dana yang besarnya sesuai dengan yang diharapkan tanpa adanya batasan besarnya dana. a) Sebagai sarana investasi Investasi di pasar modal lebih fleksibel karena setiap investor bisa dengan mudah memindahkan dananya dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Oleh karena itu pasar modal sebagai salah satu alternatif instrument penempatan dana bagi investor selain perbankan atau investasi langsung lainnya. b) Pemerataan pendapatan Dengan go public perusahaan memberikan kesempatan

masyarakat untuk ikut serta memiliki perusahaan. Untuk itu akan memberikan kesempatan masyarakat untuk menikmati keuntungan dari perusahaan berupa pembagian keuntungan atau dividen, sehingga semula yang hanya dinikmati oleh beberapa orang pemilik, akhirnya bisa dinikmati oleh masyarakat, artinya ada pemerataan pendapatan kepada masyarakat. c) Sebagai pendorong investasi Pemerintah tidak akan mampu untuk melakukan investasi sendiri tanpa dibantu oleh pihak swasta nasional dan asing. untuk mendorong agar pihak swasta nasional dan asing mau melakukan investasi baik secara langsung maupun tidak langsung, pemerintah harus mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi mereka. Salah satu iklim yang kondusif adalah likuidnya pasar

12

modal. Semakin likuid pasar modal, semakin banyak investor baik nasional maupun asing yang bersedia menginvestasikan dananya ke Indonesia melalui pembelian surat berharga di pasar modal.

7) Instrumen Pasar Modal Instrumen pasar modal itu terbagi atas dua kelompok besar yaitu instrumen pemilik (equity) seperti saham dan instrumen utang

(obligasi/bond) seperti obligasi perusahaan, obligasi langganan, obligasi yang dapat dikonversikan dengan menjadi saham dan sebagainya. Menurut Anoraga dan Widiyanti Instrumen pasar modal adalah semua surat-surat berharga yang diperdagangkan dibursa efek. Instrument pasar modal tersebut meliputi (Husnan 2001:36) ; 1. Saham adalah bukti tanda kepemilikan atas suatu perusahaan 2. Obligasi adalah surat tanda hutang jangka panjang yang dterbitkan oleh perusahaan ataupun pemerintah. 3. Sertifikat sertifikat lainya seperti sertifikat deposito.

2. Saham a. Pengertian Saham Instrumen pasar modal pada prinsipnya adalah semua surat-surat berharga (efek) yang umum diperjualbelikan melalui pasar modal. Dan yang paling umum adalah saham. Definsi saham adalah surat berharga sebagai bukti penyertaan atau kepemilikan individu maupun institusi dalam suatu perusahaan.wujudnya selembar kertas yang menerangkan

13

bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat tersebut (Anoraga, 2001;58). Menurut Tendelin (2001;18), saham adalah surat bukti atas kepemilikan asset-asset perusahaan yang menerbitkan saham. Manfaat yang diperoleh dari kepemilikan saham adalah ; 1. Dividen, yaitu bagian dari keuntungan yang dibagikan kepada pemilik saham 2. Capital gain, yaitu keuntungan yang diperoleh dari selisih positif harga beli dan harga jual saham. 3. Manfaat Non financial, yaitu mempunyai hak suara dalam aktivitas perusahaan 8) Jenis Saham 1. Saham Biasa (Common Stock) Saham biasa menurut Anoraga dan Pakarti (2001) adalah saham yang tidak memperoleh dividen sepanjang perseroan memperoleh keuntungan. sedangkan menurut Lawrence J. Gitman

(www.google.com), saham biasa merupakan sumber keuangan pertama dan terbesar yang harus ada dalam suatu perusahaan perseroan terbatas. Beberapa elemen penting yang melekat dan menjadi

karakteristik saham.biasa: a. Resiko Pemegang saham biasa merupakan ultimate owner, artinya pemegang saham biasa merupakan orang terakhir yang

14

memikul resiko yang timbul dari operasi perusahaan. Tingkat resiko yang dipikul oleh pemegang saham biasa banyak dipengaruhi oleh tingkat resiko yang dihadapi perusahaan sektor di mana perusahaan bergerak, keputusan investasi yang diambil, keputusan finansial. b. Hak Saham Biasa Hak yang melekat pada saham biasa ada yang bersifat kolektif, dan ada yang bersifat individual. Hak-hak tersebut diatur dalam Anggaran Dasar Perusahaan. Hak yang bersifat kolektif adalah hak untuk mengubah anggaran dasar, hak untuk memilih dewan komisaris atau direksi, hak untuk merger, emisi, memeriksa pembukuan perusahaan, dan lain-lain. Hak individual sendiri adalah hak suara, hak untuk menjual bagian kepemilikan, hak atas pembagian laba, dan nilai residu dengan likuidasi. c. Kontrol Pengawasan perusahaan oleh pemegang saham dapat dilakukan melalui penggunaan hak suara. Pemegang saham biasa memegang ultimate control terhadap perusahaan dalam arti pemegang sahamlah yang pada akhirnya menentukan arah dan tujuan perusahaan.

15

2. Saham Preferen (Preferred Stock) Menurut Anoraga dan Pakarti, saham preferen adalah saham yang memberikan hak untuk mendapatkan dividen atau bagian kekayaan perusahaan pada saat perusahaan dilikuidasi lebih dahulu dari saham biasa. Saham preferen diterbitkan oleh perusahaan untuk tampil lebih menarik dari saham biasa dan dapat menarik calon potensial investor. Karakteristik preferen menunjukkan bahwa saham yang bersangkutan mempunyai hak klaim terlebih dahulu dibandingkan saham biasa terhadap pembagian laba dan sisa aktiva dalam likuidasi. Dengan demikian dilihat dari sudut hak klaim, saham preferen prioritasnya berada di bawah obligasi tetapi di atas saham biasa. Ada beberapa sifat umum yang dimiliki oleh saham preferen menurut Weygandt Kieso (www.google.com) 1. Emiten biasanya wajib membayar dividen minimal kepada pemegang saham preferen sebelum dividen untuk pemegang saham biasa dibayarkan. 2. Dividen saham preferen bersifat kumulatif. Hal ini merupakan perlindungan terhadap para pemegang saham preferen apabila dalam beberapa tahun emiten tidak mampu membayar dividen untuk pemegang saham preferen.

16

3. Perlakuan yang sama kepada dividen dalam bentuk saham (stock dividend) yang dibayarkan kepada pemegang saham preferen. Oleh karena itu, dalam kapitalisasi pemegang saham preferen seringkali berubah menjadi saham biasa. 3. Keuntungan dan Resiko Investasi dalam Saham a) Keuntungan dalam Investasi Saham : 1) Peningkatan harga saham (capital gain), yaitu keuntungan dari Hasil jual beli saham, berupa selisih antara nilai jual yang lebih tinggi daripada nilai beli sahamnya. 2) Pembagian laba oleh perusahaan dalam bentuk dividen. Pembagian dividen sangat terkait dengan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, pembagian dividen seringkali menjadi sebuah ukuran bagi para investor untuk melihat keberhasilan suatu perusahaan. b) Resiko dalam Investasi Saham : 1) Rugi modal / kapital (capital loss) Capital loss merupakan kebalikan dari capital gain, artinya kerugian dari hasil jual beli saham, berupa selisih antara nilai jual yang lebih rendah daripada nilai beli saham. 2) Tidak mendapat dividen Perusahaan akan membagikan dividen jika operasi perusahaan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, perusahaan tidak dapat membagikan dividen jika perusahaan mengalami

kerugian.

17

3) Perusahaan dilikuidasi Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi, pemegang saham akan menempati posisi lebih rendah dibanding kreditor atau pemegang obligasi, artinya setelah asset perusahaan tersebut terjual, hasilnya terlebih dahulu dibagikan kepada kreditor atau pemegang obligasi, dan jika masih ada sisa, baru dibagikan kepada para pemegang saham. 4) Delisting Resiko lain yang dihadapi pemodal adalah saham perusahaan yang dikeluarkan dari pencatatan bursa efek atau di delist. Delisting terjadi karena kinerja yang buruk, tidak aktif diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya, sesuai dengan peraturan pencatatan efek di bursa. 5) Saham di-suspend Saham di-suspend yaitu saham dihentikan perdagangannya oleh otoritas bursa efek. Dengan demikian, pemodal tidak dapat menjual sahamnya hingga suspend dicabut. Suspension

dilakukan otoritas bursa jika, suatu saham mengalami lonjakan harga yang tinggi.

18

4. Terbentuknya Harga Saham Harga saham terbentuk dari proses permintaan dan penawaran yang terjadi di bursa. harga saham akan berfluktuasi sesuai dengan informasi baik yang berasal dari dalam maupun yang berasal dari luar perusahaan. Informasi yang berasal dari dalam perusahaan adalah penilaian kinerja perusahaan, pengumuman laba perusahaan, pergantian pengurus perusahaan, pengumuman pembagian dividen, dan informasi lain yang menyangkut operasi perusahaan. Informasi yang berasal dari luar perusahaan adalah isu-isu politik, situasi keamanan kota atau negara, perkembangan perusahaan pesaing, dan informasi lainnya. a) Dalam penaksiran harga saham dengan analisis fundamental ada beberapa metode pendekatan yaitu: 1) Pendekatan Nilai Sekarang (Present Value) Menurut Jogiyanto (2003:89), pendekatan nilai

sekarang juga disebut dengan Metode Kapitalisasi Laba karena melibatkan proses kapitalisasi nilai-nilai sekarang. Jika investor percaya bahwa nilai dari perusahaan tergantung dari prospek perusahaan tersebut dimasa mendatang dan prospek ini

merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan aliran kas di masa depan, maka nilai perusahaan tersebut dapat ditentukan dengan mendiskontokan nilai-nilai arus kas (cash flow) di masa depan menjadi nilai sekarang sebagai berikut:

19

Po !
t -1

Aruskas (1  k )

Dimana: Po = Nilai sekarang dari perusahaan t = Periode waktu ke t dari t = 1 sampai dengan

k = Suku bunga diskonto atau tingkat pengembalian yang diinginkan. 2) Pendekatan PER (Price Earning Ratio) Price Earning Ratio adalah perbandingan harga pasar saham dengan earning per share (EPS) dari saham yang bersangkutan. PER secara teknis merupakan indikator, apakah harga saham tnggi atau terlalu rendah. Jika PER semakin besar kemungkinan harga saham dinilai terlalu tinggi sehingga cepat atau lambat harga saham tersebut akan terkoreksi, yaitu mengalami penurunan dan jika PER semakin rendah sehingga cepat atau lambat harga saham akan terkoreksi naik. Untuk mengelompokan saham berdasarkan tingkat

pertumbuhanya dapat dilakukan dengan persaamaan sebagai berikut (Husnan, 2001:299):

PER =

P0 (1 - b) = E1 (r - g)

20

Dimana; Po E1 : : Harga saham saat ini Estimasi laba per lembar saham (EPS) pada periode yang akan datang (1- b) : Ratio laba yang dibayarkan sebagai dividen atau payout ratio r g : : Tingkat keuntungan Pertumbuhan dividen

3) Pendekatan EVA (Economic Value Added) EVA adalah pendekatan yang lebih baru dalam penelitian saham. EVA adalah ukuran keberhasilan manajemen perusahaan dalam meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan. Asumsinya adalah jika kinerja manajemen baik atau efektif (dilihat dari besarnya nilai tambah yang diberikan), maka akan tercermin pada peninngkatan harga saham perusahaan. EVA dihitung dengan mengurangkan keuntungan operasi perusahaan dengan biaya modal perusahaan, baik biaya utang maupun modal sendiri. Jika perbedaan itu positif, berarti ada nilai tambah bagi perusahaan dan biasanya akan direspon olah meningkatnya harga saham. Demikian pula sebaliknya jika EVA negatif artinya perusahaan mengalami penurunan kinerja yang biasanya akan direspon dengan penurunan harga saham perusahaan secara matematis.

21

Rumus untuk menghitung EVA suatu perusahaan sebagai berikut: EVA = NOPAT Capital Changes Dimana: EVA adalah laba bersih operasi setelah pajak besarnya biaya modal operasi dalam rupiah setelah dikurangi pajak. NOPAT (Net Operating Profit After Tax) Laba bersih setelah pajak + biaya bunga - Equity Equivalent ( pajak tanggungan ) Capital charges = Aliran kas yang dibutuhkan untuk mengganti para investor atas resiko usaha dari modal yang diterapkan. Faktor-faktor yang menentukan supply dan demand suatu saham adalah : a. Kebutuhan likuidasi investor b. Daya tarik alternatif investasi c. Perubahan harapan hasil di masa yang akan datang dari saham yang diperjualbelikan. 5. Dividen 1. Pengertian Dividen, menurut Weygandt, Kieso, dan Kimmel (2002:602) merupakan pendistribusian laba oleh perusahaan kepada seluruh pemegang saham secara proporsional. Definisi lain mengatakan dividen merupakan pembayaran kepada pemegang saham dari laba perusahaan, baik laba dari periode sekarang atau masa lampau Secara umum, jumlah dividen yang dibagikan bisa dihitung dengan

22

dua cara yaitu sebagai persentase par / stated value dari saham atau jumlah (amount) tertentu untuk setiap lembar sahamnya. 2. Jenis-jenis Dividen a. Cash Dividend Dividen yang dibagikan dalam bentuk uang tunai. Jenis dividen ini merupakan yang paling umum dan diminati oleh investor. b. Property Dividend Dividen yang dibagikan dalam bentuk asset perusahaan seperti merchandise, real estate, investment, dan lain-lain. Jenis dividen ini umumnya dibagikan oleh perusahaaan tambang yang selalu berpindah-pindah lokasi penambangannya c. Liquidating Dividend Dividen yang dibagikan dalam rangka mengembalikan sebagian investasi kepada pemegang saham. Jenis dividen ini merupakan satu-satunya dividen yang membagikan dividen dengan

mengurangi agio saham perusahaan. d. Stock Dividend Dividen yang dibagikan dalam bentuk saham di perusahaan tersebut. Jenis dividen ini biasanya akan dipakai oleh perusahaan yang tidak mempunyai uang tunai yang cukup untuk membagikan dividen tetapi perusahaan tetap ingin membagikan dividen.

23

e.

Scrip Dividend Dividen yang dibagikan dalam bentuk notes payable (surat hutang). Jenis dividen ini sudah jarang dipakai saat itu.

3.

Proses Pembagian Dividen Keputusan pembagian dividen kepada pemegang sahamnya tidak dapat diputuskan oleh satu orang saja, tatapi akan diputuskan oleh rapat dewan direksi perusahaan. Biasanya pada rapat tersebut akan ditentukan jumlah dividen yang akan dibagikan dan beberapa tanggal yang menyangkut dengan pembagian dividen tersebut. Tanggal-tanggal tersebut yaitu: a) Tanggal pengumuman yaitu tanggal di mana perusahaan akan membagikan dividen tunai dengan jumlah tertentu dan pada tanggal tertentu b) Tanggal pencatatan yaitu tanggal di mana perusahaan menutup buku mengenai transfer saham dan menyusun daftar tentang nama pemegang saham menurut keadaan hari itu. c) Tanggal pembayaran yaitu tanggal di mana perusahaan

mengirimkan cek kepada nama-nama yang tercatat pada tanggal pencatatan. d) Periode cum merupakan periode perdagangan saham di mana saham tersebut mengandung hak dividen tunai, dividen saham, dan dividen bonus.

24

e) Tanggal ex - dividen merupakan tanggal di mana perdagangan saham yang dilakukan tidak mengandung hak dividen tunai, dividen saham, dan bonus. Kewajiban perusahaan untuk membayar dividen timbul pada saat pengumuman pembagian dividen dengan demikian pada saat tersebut saldo laba ditahan akan dikurangi dengan jumlah dividen tersebut. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa

(Sunariyah, 2006:130): 1) Dividen tunai, artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham. 2) Dividen saham, artinya apabila dewan komisaris

memutuskan untuk membayar dividen pemegang saham dengan cara menambah saham yang dimilki oleh pemegang saham lama dalam suatu perusahaan.

6. Dividen Per Share (DPS) Dividen Per Share adalah perbandingan antara jumlah

keuntungan yang akan dibagikan perusahaan (dividen) dengan jumlah saham yang beredar ( Sartono, 1996). Dividen per share digunakan untuk mengukur berapa rupiah yang akan diberikan kepada pemilk saham dari keuntungan perusahaan. Investor sebagai pemegang saham

25

mengharapkan dividen yang diberikan jumlahnya besar dan mengalami peningkatan setiap periode. Dengan tingkat pertumbuhan dividen per share yang stabil akan dapat meningkatkan harga saham di pasar modal, karena mempunyai resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan kebijaksanaan dividen per share yang fluktuasi. Dengan diketahuinya dividen per share, maka pemegang saham akan dapat mengetahui keuntungan setiap lembar saham yang dimilikinya. Hubungan dividen juga sangat bergantung pada berapa besarnya laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Peningkatan laba perusahaan akan diikuti oleh peningkatan dividen dan sebaliknya, menurunya laba perusahaan akan diikuti menurunya dividen yang dibagikan.. kondisi yang stabil atas dividen merupakan nilai positif bagi para pemegang saham untuk memilih saham yang diinginkan. Ukuran rasio untuk mengukur dividen per share dirumuskan :

Deviden Per Share !

Deviden yang akan dibagikan Jumlah Lembar Saham yang beredar

7. Return On Investment (ROI) Return on investment adalah perbandingan antara EAT (Earning After Tax) dengan total aktiva, Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk mengukur keuntungan bersih (Alwi, 1994).

26

Harga saham sangat dipengaruhi oleh tingkat pengembalian investasi. Investor melakukan investasi dengan harapan akan

mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih baik dari harga beli. Tingkat pengembalian saham dapat diketahui dari return on investment yang menunjukan kekayaan yang dimilki oleh perusahaan (Husnan, 1996). Return on investment merupakan bentuk rasio profitabilitas yang dimaksud untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva, yamg digunakan dalam operasional perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Dua faktor yang mempengaruhi besarnya return on investment: d. Turnover dari operating asset (Tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk operasi), rasio ini merupakan ukuran mengenai sampai seberapa jauh aktiva ini telah dipergunakkan dalam kegiatan perusahaan. Dinilai efektif jika return on investment yang dicapai minimal sama dengan return on investment yang diharapkan untuk investsi tersebut. Untuk menghitung rasio Return on investment digunakan rumus sebagai berikut:

return on Investment !

earning after tax v 100 0 0 total aktiva

27

Menurut Supriyono (1989:23) keunggulan dan kelemahan Return On Investment adalah: a. Keunggulan ROI : 1) Merupakan metode pengukuran objektif yang didasarkan pada data akuntansi yang tersedia. 2) Merupakan alat pengukuran prestasi yang komprehensif dan sensitif terhadap perubahan faktor penentu rasio laba dan perputaran investasi dalam suatu devisi. 3) Meningkatkan perbandingan prestasi antar divisi meskipun skala kegiatan usaha divisi dan bidang bisnisnya berbeda. 4) Besarnya ROI dapat digunakan sebagai pembanding dengan prestasi biaya modal yang ada di pasar modal. 5) Sebagai alat ukur untuk mendeteksi kemungkinan aktiva yang terlalu besar atau mengangsur.

b. Kelemahan ROI ; 1) ROI terlalu menyederhanakan masalah pengukuran karena hanya menggunakan rasio tunggal 2) Besarnya ROI yang diharapkan dapat berbeda divisi yang menggunakan investasi yang sebanding. 3) Terlalu mendasarkan pada laba Akuntansi, padahal pengukuran prestasi divisi terutama untuk pihak dalam organisasi, sehingga

28

pengukuran investasinya terbatas pada metode harga perolehan mula-mula dan nilai buku. 4) Mudah menimbulkan konflik antar tujuan divisi yang lain, maupun dengan tujuan perusahaan sacara keseluruhan. 5) ROI hanya mengukur salah satu pencapaian tujuan yaitu tujuan yang bersifat keuangan satu divisi.

8. Earning Per Share Earning per share adalah pendapatan perusahaan dari perlembar saham yang dijual. EPS didapatkan dari pembagian antara laba setelah pajak dengan jumlah lembar saham. Dengan memperhatihan EPS maka investor dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi di pasar

modal. EPS dipengaruhi oleh pendapatan perusahaan. Jika pendapatan perusahaan tinggi maka EPS juga akan tinggi, begitu juga sebaliknya. Hal ini yang akan mempengaruhi harga saham, karena pergerakan harga saham pengaruh awalnya adalah pendapatan

perusahaan (Suad Husnan, 1998;287). Besarnya EPS suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan; EPS =

 

 

Adapun rumusnya sebagai berikut : EPS =


  

29

Dimana : P F VC I T N : Penjualan : Fixed Cost (biaya tetap) : Variable Cost (biaya variabel) : Tingkat bunga : Tingkat pajak : Jumlah saham yang beredar Banyaknya teori dan studi empiris yang mendukung pernyataan bahwa terdapat pengaruh faktor-faktor fundamental, utamanya pengaruh EPS dan tingkat bunga terhadap harga saham. Jenning et al. (1997:26) mengatakan bahwa EPS berpengaruh terhadap variasi harga saham. Ketika laba meningkat, maka harga saham cenderung naik. Sedangkan ketika laba menurun, maka harga saham juga ikut menurun. 9. Hasil Penelitian Sebelumnya Penelitian ini pernah dilakukan oleh Yopy Kris Adhita (2009) Pengaruh Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share terhadap Harga Saham pada perusahaan manufaktur di BEI. Hasil penelitianya adalah pengujian secara parsial menunjukan bahwa deviden per share dan return on investment mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, karena masing-masing variabel memilki nilai signifikasi lebih kecil dari 5 %. Perbedaan dengan penelitian sekarang

terletak pada rumusan masalah hanya meneliti dampak pengaruh harga

30

saham secara parsial saja, maka dalam penelitian kali ini mencoba menambahkan dengan cara simultan.

10. Kerangka Berfikir Kerangka berpikir adalah argumentasi dalam merumuskan hipotesis yang merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah yang diajukan. Kerangka pemikiran diperlukan untuk meyakinkan sesama

ilmuan dengan alur pikiran yang logis agar membuahkan kesimpulan berupa hipotesis (Purwanto, 2008:81). a. Dividen Per Share (DPS) mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia b. Return on investment (ROI) mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia c. Earning Per Share (EPS) mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia d. Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia saham pada

31

Gambar 1 Alur Kerangka berfikir

Dividen Per Share (X1) Return On Invesment (X2) Earning Per Share (X3)

Harga Saham (Y)

B. Hipotesis Berdasarkan uraian teori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya maka penulis dapat menarik hipotesis sebagai berikut: 1. Secara Simultan dividen per share (DPS), Return On Investment (ROI) dan Earning Per Share berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia? 2. Secara Parsial dividen per share (DPS), Return On Investment (ROI) dan Earning Per Share berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia?

32

BAB III METODE PENELITIAN

A. Obyek Penelitian Obyek pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. B. Teknik Pengambilan Sampel Sampel adalah sebagian dari elemen populasi yang mewakili seluruh populasi (Indriantoro dan Supomo, 1999). Dalam penelitian ini Populasi yang digunakan sebanyak 150 perusahaan dan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan metode purposive sampling yaitu penelitian

berkelompok atas ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya dan juga didasarkan pada suatu kriteria tertentu. Perusahaan yang dipilih sebagai sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan yang memiliki krteria sebagai berikut: a. Terdaftar sebagai anggota dan memperdagangkan sahamnya melalui Bursa Efek Indonesia. b. Memberikan laporan keuangan secara periodik ke Bursa Efek Indonesia selama periode 2007-2009. c. Perusahaan yang masih aktif diperdagangkan selama periode penelitian d. Adanya kelengkapan data laporan keuangan yang dipublikasikan sehingga dapat digunakan untuk variabel-variabel yang dibutuhkan dalam penelitian.

31

33

Dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sampai dengan tahun 2009 sejumlah 150 Perusahaan, dan perusahaan yang memiliki kriteria tersebut diatas diperoleh sampel akhir sebanyak 25 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dengan kriteria khusus terdapat nilai DPS, ROI, EPS dan Harga saham selama 3 tahun berturut-turut dari tahun 2007-2009.

C. Jenis dan sumber data Data yang diperoleh dari study pustaka, catatan yang ada di perusahaan dan sumber-sumber lainnya yang dapat membantu peneliti yang diperoleh dari Pusat Informasi Pasar Modal Semarang, antara lain: 1) Laporan Keuangan tahunan, nilai harga saham rata-rata masing-masing perusahaan . 2) Nilai Deviden Per Share (DPS) tahunan masing-masing perusahaan 3) Nilai Return On Investmen (ROI) tahunan masing-masing perusahaan 4) Nilai Earning Per Share (EPS) tahunan masing perusahaan

D. Pengukuran Variabel Variabel yang diuji dalam penelitian ini meliputi variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). 1. Variabel Independen (X) Variabel Independent (independent variable) adalah variabel yang tidak mempunyai ketergantungan. Harga dari variabel dependen akan

34

dapat diramalkan (ditentukan) dari harga variabel independent, jika kedua variabel itu mempunyai hubungan signifikan. X1 = Dividen per share X2 = Return on investment X3 = Earning per share Dividen per share adalah perbandingan antara jumlah keuntungan yang akan dibagikan dengan jumlah saham yang beredar selama periode 2007-2009, data mengenai Dividen per share diukur dengan satuan rupiah dan berskala rasio yang dihitung per tahun selama periode penelitian. Return on investment (ROI) ini adalah seberapa banyak laba bersih yang akan diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan selama periode penelitian yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. data mengenai ROI diukur dengan angka persentase dan skala rasio yang dihitung per tahun selama periode penelitian. Earning per share (EPS) adalah merupakan perbandingan laba bersih per lembar saham dengan jumlah saham. Jadi informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. 2. Variabel Dependen (Y) Variabel dependen (Dependent variable) adalah suatu variabel yang mempunyai ketergantungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Variabel dependen pada penelitian ini adalah harga saham yang dijadikan sampel, dimana harga saham yang dimaksudkan

35

disini adalah harga saham rata-rata perusahaan manufaktur yang ada di Bursa Efek Indonesia dengan periode penelitian dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009, data mengenai harga saham diukur dengan satuan rupiah.

E. Tahap Analisis Data 1. Uji Asumsi Klasik Sebelum melakukan pengujian dengan analisis regresi, terlebih dahulu dilakukan uji validitas data dengan berbagai uji asumsi klasik agar dapat dihasilkan kesimpulan yang benar. Adapun uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a) Uji Multikolinieritas dengan matrik korelasi dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) Menurut Ghozali (2005:91), Multikolinieritas adalah pengujian untuk mengetahui bahwa hubungan antara variabel Independen dan Dipenden adalah Linear. Dengan cara matrik korelasi yang terjadi antar variabel independen kurang dari 90% atau 0,9. Bila korelasi yang terjadi diatas 0,9 maka akan terjadi multikolinieritas yang serius. Dengan menggunakan nilai tolerance, nilai yang terbentuk harus di atas 10% dengan menggunakan Varance Inflation Factor (VIF), nilai yang terbentuk harus kurang dari 10, bila tidak maka akan terjadi multikolinieritas dan model regresi tidak dapat digunakan.

36

b) Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson Autokorelasi berarti terdapatnya korelasi antar anggota sampel atau data pengamatan yang diurutkan berdasarkan waktu , sehingga munculnya suatu datum dipengaruhi oleh datum sebelumnya. Dalam penellitian ini bila terjadi Autokorelasi, berarti harga saham selain dipengaruhi oleh variabel independen juga dipengaruhi oleh harga saham pada periode sebelumnya (Ghozali, 2005:95) c) Uji Heteroskedastisitas dengan grafik scatterplot Menurut Ghozali Heteroskedastisitas berarti variasi yaitu variabel tidak sama/ berbeda untuk semua pengamatan sehingga untuk menetukan heteroskedastisitas dengan grafik scaterplot titik yang terbentuk harus menyabar secara acak, baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Bila kkondisi ini terpengaruhi maka tidak terjadi heteroskedastisitas dan model regresi layak digunakan. d) Uji Normalitas Data Uji Normalitas Data bertujuan untuk menguji apakah dengan model regresi terjadi kenormalan data yaitu titik yang terbentuk harus menyebar di sekitar garis lurus serta arah penyebaranya jauh dari garis lurus maka persyaratan normalitas data terpenuhi dan regresi layak digunakan.

37

G. Teknik Analisis Data Analisis ini dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda, yang berfungsi untuk mengetahui pengaruh koefisien dividen per share, return on investment dan earning per share terhadap harga saham, dengan rumus sebagai berikut:
Y ! bo  b1 X 1  b2 X 2  b3 X 3  .e

Dimana: Y bo X1 X2 X3 b1,b2 e : Harga saham : Konstanta : Dividen Per Share : Return On Investment : Earning Per Share : Koefisian regresi parsial : error

H. Pengujian Hipotesis 1. Pengujian secara Simultan (Uji F) Uji simultan dengan F-test ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh bersama-sama variabel independen terhadap variabel dependen. Langkah pengujian hipotesisnya: a) Merumuskan Hipotesis Ho : Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. H1 : Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share secara simultan berpengaruh signifikan terhadap return saham.

38

b) Menentukan tingkat signifikansi ( c) Membandingkan Ftabel dan Fhitung

) yaitu sebesar 5 %

1. Jika Ftabel> Fhitung, maka Ho diterima dan H1 ditolak (tidak signifikan) 2. Jika Ftabel< Fhitung. maka Ho ditolak dan H1 diterima (signifikan)

Fhitung dirumuskan sebagai berikut: Dimana : R (1 - R) n k R 2 /(k  1) (1  R) /(n  k ) : explained sum-squares-ESS : residual sum-squares-RSS : banyaknya observasi : banyaknya variabel F
hitung !

2. Pengujian secara parsial (Uji Signifikasi nilai t) Uji signifiikasi nilai t (Uji parsial) digunakan untuk menguji secara parsial pengaruh Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share terhadap harga saham, atau dengan kata lain untuk menguji seberapa jauh signifikansi masing-masing variabel independen (DPS,ROI, EPS), terhadap variabel dependen (Harga saham). Langkah dalam pengujian hipotesis ini adalah sebagai berikut: a. Menentukan Hipotesis 1. Ho : Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

39

H1 : Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. 2. Ho : Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. H2 : Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. b. Menentukan tingkat signifikansi ( ) sebesar 5 %

c. Membandingkan nilai signifikansi ttabel> thitung 1. Jika ttabel> thitung, maka Ho diterima dan H1 ditolak (tidak signifikan) 2. Jika ttabel < thitung. maka Ho ditolak dan H1 diterima (signifikan) thitung dirumuskan sebagai berikut:
t hitung ! (b  s ) Sb

3. Uji koefisien determinasi (r) Mengukur presentase semua pengaruh variabel independen terhadap pengaruh variabel dependen (koefisien determinasi).

Presentase pengaruh semua variabel Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share terhadap nilai variabel harga saham diketahui dari besarnya koefisien determinasi persamaan regresi. Besarnya koefisien determinasi suatu persamaan regresi , maka

40

semakin kecil pula pengaruh semua variabel Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share terhadap harga saham, sebaliknya semakin mendekati satu besarnya koefisien determinasi suatu persamaan regresi, maka semakin besar pula pengaruh semua variabel Dividen Per Share, Return On Investment dan Earning Per Share terhadap harga saham. Secara sistematis rumus r dapat dicari dengan : r 2 ! (r 2 ) ! (Yc  Y ) 2 (Y  Y ) 2

Dimana: Yc : Nilai taksiran atau perkiraan untuk harga saham Y : Harga saham Y : Harga saham rata-rata

41

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Obyek Penelitian Perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mengambil data dari Pojok Bursa Semarang selama tahun 20072009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: 1. Perusahaan tersebut termasuk dalam kategori manufaktur selama 20072009. 2. Perusahaan tersebut termasuk aktiv menerbitkan laporan keuanganya di BEI selama tahun 2007-2009. 3. Perusahaan tersebut mencantumkan nilai Devidend Per Share, Return On Investment, Earning Per Share dan harga saham selama tahun 20072009 Pada bagian ini akan membahahas pengaruh rasio dividend per share , return on investment, Earning Per Share terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur dengan tujuan untuk mengetahui dan membuktikan apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Dalam menentukan faktor yang mempengaruhi harga saham, Peneliti menggunakan dua variabel bebas (Independent), dan satu variabel terikat (Dependent). Adapun yang menjadi variabel bebas adalah rasio 40

42

devidend per share, return on investmen dan earning per share sedangkan variabel terikat adalah harga saham. Berdasarkan hasil perhitungan dan seleksi berdasarkan kriteria-kriteria diatas maka diperoleh sampel sebanyak 25 perusahaan yang memiliki data lengkap selama periode 2007-2009.berikut adalah perusahaan sampel: Tabel 4.1 Daftar Nama Perusahaan Manufaktur Yang Menjadi Sampel NO KODE PERUSAHAAN 1 ALMI PT Alumindo Light Metal Industry Tbk 2 ASGR PT Astra Graphia Tbk 3 BATA PT Sepatu Bata TbK 4 BRAM PT Branta Mulia Tbk 5 CLPI PT Colorpak Indonesia Tbk 6 CTBN PT Citra Tubindo Tbk 7 FAST PT Fast Food Indonesia Tbk 8 GGRM PT Gudang Garam Tbk 9 GDYR PT Goodyer Indonesia Tbk 10 HEXA PT Hexindo Adiperkasa Tbk 11 IKBI PT IKI Indah Kabel Indonesia Tbk 12 INTP PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 13 LION PT Lion Metal Works Tbk 14 LMSH PT Lionmesh Prima Tbk 15 LTLS PT Lautan Luas Tbk 16 MLBI PT Multi Bintang Indonesia Tbk 17 MLAS PT Multistrada Arah Sarana Tbk 18 MRK PT Merck Tbk 19 MTDL PT Metrodata Electronics Tbk 20 MYOR PT Mayora Indah Tbk 21 SCMC PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk 22 TRSA PT Trias Sentosa Tbk 23 TURI PT Tunas Ridean Tbk 24 UNTR PT United Tractors Tbk 25 UNVR PT Unilever Indonesia Tbk Sumber, PT Manufaktur Bursa Efek Indonesia

43

B. ANALISIS DATA 1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Multikolinieritas Menurut Ghozali (2005:91), untuk menguji mulitikolinieritas dengan menggunakan matrik korelasi ditetapkan korelasi yang terjadi antara variabel independen kurang dari 90 %, bila korelasi yang terjadi diatas 90%, maka terjadi multikolinearitas yang serius. Dengan menggunakan nilai tolerance, nilai yang terbentuk harus diatas 10% dan menggunakan VIF (Variance Inflation Factor), nilai yang terbentuk harus kurang dari 10, bila tidak, maka akan terjadi multikolinearitas dan model regresi tidak layak dipergunakan sebagai alat estimasi. Tabel 4.2 Hasil Uji Mulitikoinearitas Coeffiecients Model DPS ROI EPS Collinearity Statistic Tolerance .912 .912 .912 1.097 1.097 1.097 VIF

Dependent Variable : Harga Saham Hasil perhitungan nilai tolarance diatas menunjukan bahwa tidak ada variabel bebas yang memilki nilai tolerance kurang dari 10% dan juga nenunjukan hal yang sama dimana tidak ada satupun variabel bebas yang

44

memiliki nilai VIF lebih besar dari 10, ini berarti tidak ada korelasi antar variabel bebas. Dari tabel 4.2 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

multikolinearitas antar variabel bebas, sehingga model regresi layak digunakan. b. Uji Autokorelasi Untuk menentukan autokorelasi dengan menggunakan uji DurbinWatson, nilai Durbin-Watson yang terbentuk dibandingkan dengan nilai tabel. Bila nilai Durbin Watson terletak diantara batas atas (d ) dan batas bawah (4-d ), maka tidak terjadi autokorelasi dan model regresi layak digunakan. Uji ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi dalam suatu model regresi antara kesalahan penggangu pada periode tertentu dengan kasalahan periode sebelumnya.(Ghozali, 2005 : 96) Tabel 4.3 Hasil Uji Autokorelasi
b Model Summary

Model 1

R .819a

R Square .671

Adjusted R Square .662

Std. Error of the Estimate 7641.528

DurbinWatson 1.984

a. Predictors: (Constant), ROI, DPS, EPS b. Dependent Variable: Harga Saham

Hasil Uji Durbin-Watson menunjukan nilai sebesar 1,984 dengan demikian d < d < (4-d ) atau bila dinotasikan dengan angka = 1,61 < 1.984 < 2,39, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi, sehingga data layak untuk dimasukan dalam regresi.

45

c, Uji Heteroskedastisitas Untuk menentukan heteroskedastisitas dengan grafik scatterplot, titik-titik yang terbentuk harus menyebar secara acak, baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Bila kondisi ini terpenuhi maka tidak terjadi heteroskedastisitas dan model regresi layak digunakan (Ghozali, 2005: 105). Gambar 4.1 Hasil Uji Heteroskedastisitas (Scatterplot)

Dari hasil tampilan grafik di atas menunjukan bahwa titik-titik tersebar secara acak baik diatas maupun dibawah angka 0 (nol) pada sumbu Y. Hal ini berarti bahwa dalam model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga model regresi layak digunakan. d. Uji Normalitas Data Menurut Santoso (2005 :130) untuk menguji normalitas data dengan uji grafik normal plot. Titik-titik yang terbentuk harus menyebar di

46

sekitar garis diagonal serta arah penyebaranya mengikuti arah garis diagonal, bila tidak maka data yang tersedia tidak terdistribusi dengan normal sehingga model regresi tidak layak digunakan. Hasil Uji normalitas data dengan menggunakan analisis grafik disajikan dalam Gambar 4.2 berikut: Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas Data (Normal P-Plot)

Grafik di atas menunjukan data yang terdistribusi tidak normal, karena data tersebar sepanjang garis diagonal dan mengikut arah garis diagonal.

C. Hasil Penelitian 1. Analisis Persamaan Regresi Linear Berganda. Tabel 4.4 dibawah ini adalah hasil pengujian data dengan alat analisis regresi linear berganda menggunakan bantuan program SPSS 13.0 for windows.

47

Model

Constant DPS ROI EPS

Tabel 4.4 Hasil Uji Regresi Linear Berganda Coeficients Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std. Error Beta -70.708 1310.605 9.209 .908 .718 381.560 114.494 .236 375.200 73.489 .115

Sig

-540 10.138 3.333 2.352

.000 .000 .001 .002

a. Predictors : (Constant), DPS, ROI, EPS b. Dependent Variabel : Harga saham

Berdasarkan output SPSS dapat diinterprestasikan besar Y = a + b1x1 + b2.x2 + b3x3 adalah Y = -70,708 + 9,209 + 381,560 + 375,200 diaman X1 = DPS, X2 = ROI, X3 = EPS Hasil secara keseluruan dari uji regresi linear berganda dapat dilihat pada Lampiran. Dari tabel 4.4 di atas diperoleh hasil-hasil yang dapat dijelaskan untuk masing-masing variabel adalah sebagai berikut: 1. Konstanta sebesar -70.708, dengan tanda negatif, menunjukan harga saham jika tidak dipengaruhi oleh variabel dividend per share, return on investment dan Earning Per Share. 2. Untuk variabel dividend per share (DPS), diperoleh nilai koefisien sebesar 9,209 dengan tanda positif, yang berarti bahwa setiap kenaikan satu nilai rasio dividend per share akan menyebabkan kenaikan harga saham sebesar 9,209 dengan variabel yang lain konstan. 3. Untuk variabel return on investment (ROI), diperoleh nilai koefisien sebesar 381,560 dengan tanda positif, yang berarti bahwa setiap kenaikan satu nilai rasio return on onvestment akan menyebabkan

48

kenaikan harga saham sebesar 381,360 dengan asumsi variabel yang lain konstan. 4. Untuk variabel Earning Per Share (EPS), diperoleh nilai koefisien sebesar 375,200 dengan tanda positif, yang berarti bahwa setiap kenaikan satu nilai rasio Earning Per Share akan menyebabkan kenaikan harga saham sebesar 375,200 dengan asumsi variabel yang lain konstan. Sehingga rumus regresi linear berganda yang diperoleh dari hasil uji regresi linear berganda adalah sebagai berikut: Y = -70,708 + 9,209 X + 381,560 X2 + 375,200X3

b.

Uji Signifikan nilai t (Uji Secara Parsial) Uji signifikansi nilai t atau uji parsial dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel independen yaitu dividend per share, return on investment dan Earning Per Share secara parsial terhadap variabel independen (harga saham). Tabel 4.5 Hasil Uji t Model Unstandardized Coefficients B Std. Error -70.708 1310.605 9.209 .908 381.560 114.494 375.200 73.489 Standardized Coefficients Beta .718 .236 .115 t Sig

Constant DPS ROI EPS

-540 10.138 3.333 2.352

.000 .000 .001 .002

a. Predictors : (Constant), DPS, ROI, EPS b. Dependent Variabel : Harga saham

49

Adapun hasil Uji signifikansi nilai t (Uji Parsial) untuk masingmasing variabel independen dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) Dividend Per Share (DPS) Berdasarkan hasil analisis untuk variabel dividend per share diperoleh t hitung 10,138 dan sig t sebesar 0,000. karena nilai thitung 10,138 (t
/2:72)

lebih besar dari nilai ttabel 1,994 pengujian 2 sisi 5%

pada lampiran dan sig t 0.000 lebih kecil dari nilai

(0.05), maka dapat disimpulkan bahwa H0 berhasil ditolak dan menerima H1, artinya bahwa secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara dividend per share terhadap harga saham. Secara lebih jelas, pengujian ini disampaikan dalam bentuk kurva pengujian nilai t berikut ini:

2) Return On Investment (ROI) Berdasarkan hasil analisis untuk variabel return on investment diperoleh nilai thitung 3,333 sig t 0,001. Karena thitung 3,333 lebih besar dari nilai ttabel pengujian 2 sisi (t nilai sig t lebih kecil dari nilai
/2:72)

1,994 dan

5% (0,05). Maka disimpulkan

bahwa H0 berhasil ditolak dan menerima H2 artinya bahwa secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antar return on investment terhadap harga saham. Secara lebih jelas, pengujian ini disampaikan dalam bentuk kurva pengujian nilai t berikut ini:

50

Dari uji signifikansi nilai t diperoleh hasil bahwa secara parsial variabel independen return on investment mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Hasil ini sesuai dengan pendapat Husni dan Pujiastuti (1996) yang menyatakan bahwa harga saham sangat dipengaruhi oleh tingkat pengembalian investasi. Investor melakukan investasi dengan harapan akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih baik dari harga beli. Tingkat pengembalian saham dapat diketahui dari return on investment menunjukan kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan. 3) Earning Per Share (EPS) Berdasarkan hasil analisis untuk variabel Earning Per Share diperoleh nilai thitung 2,352 sig t 0,001. Karena thitung 2,352 lebih besar dari nilai ttabel pengujian 2 sisi (t t lebih kecil dari nilai
/2:72)

1,994 dan nilai sig

5% (0,05). Maka disimpulkan bahwa H0

berhasil ditolak dan menerima H2 artinya bahwa secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antar Earning Per Share terhadap harga saham. Secara lebih jelas, pengujian ini

disampaikan dalam bentuk kurva pengujian nilai t berikut ini: Dari uji signifikansi nilai t diperoleh hasil bahwa secara parsial variabel independen earning per share mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Hasil ini sesuai dengan pendapat Husni dan Pujiastuti (1996) yang menyatakan bahwa harga saham sangat dipengaruhi oleh tingkat pengembalian

51

investasi. Investor melakukan investasi dengan harapan akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih baik dari harga beli. Tingkat pengembalian saham dapat diketahui dari earning per share menunjukan kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan.

c.

Uji Secara Simultan Uji F (Uji simultan) atau uji secara bersama-sama digunakan untuk menguji ada tidaknya pengaruh secara bersama-sama variabel dividend per share dan return on investment terhadap harga saham. Tabel 4.6 Hasil Uji F Model Regression Residual Total Sum of Squares 9E+009 4E+009 1E+010 df 7 72 74 Mean Square 4291264556 58392947,63 F 73,489 Sig .000

a. Predictors : (Constant), ROI, DPS, EPS b. Dependent Variabel : Harga Saham Dari hasil analisis menunjukan nilai Fhitung sebesar 73,489 dan nilai signifikansi lebih kecil 0,000. Karena nilai signifikansi dari 5% dan nilai Fhitung 73,489 lebih besar dari Ftabel 3,124 Berarti pada uji H0 berhasil ditolak, dan menerima H2 yang berarti bahwa ada pengaruh yang signifikan antara dividend per share, return on investment dan dan Earning Per Share terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Secara lebih jelas pengujian ini digambarkan dalam bentuk kurva pengujian berikut ini

52

d.

Uji Koefisien Determinasi Koefisen determinasi (Adjusted R) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi dari variabel dependen. Nilai persentase tingkat kebenaran prediksi dari pengujian regresi yang dilakukan, semakin besar Adjusted R maka semakin besar variasi dari variabel harga saham yang dapat dijelaskan oleh variabel independen. Model Summary Model 1 R .0819a R Square .671 Adjusted R Square .662 Std. Error of the Estimate 7641.528 Durbin Watson 1.494

9) Predictors : (Constant), ROI, DPS, EPS 10) Dependent variabel : Harga saham

Koefesien determinasi (Adjusted R) yang diperoleh adalah sebesar 0,662 yang berarti bahwa 66,2% variasi atau naik turunya harga saham perusahaan manufaktur dipengaruhi oleh rasio divedend per share, return on investment dan Earning Per share. Sedangkan 33,8% sisanya. (100% - 66,2%) dapat dijelaskan oleh variabelvariabel lain yang tidak diteliti.

53

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil analisis data dan pembahasan pada bab IV, maka dalam bab ini akan ditarik kesimpulan mengenai pengaruh dividend per share dan return on investment terhadap harga saham, yaitu: a) Hasil pengujian Asumsi Klasik (Multikolinearitas, autokorelasi,

heteroskedastisitas, dan normalitas) menunjukan tidak ditemukan adanya penyimpangan asumsi klasik. b) Dari dua variabel independen yaitu dividend per share, return on investment dan Earning Per Share keduanya mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham. c) Hasil pengujian secara parsial menunjukan bahwa dividend per share , return on investment dan Earning Per Share keduanya mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, karena masing-masing variabel memiliki nilai signifikansi lebih kecil dari 5%. Setelah melewati

uji t persamaan regresi yang dihasilkan adalah sebagai berikut: Y = -70,708 + 9,209 X + 381,560 X2 + 375,200X3 d) Hasil pengujian secara bersama (uji simultan) menunjukan bahwa variabel dividend per share, return on investment dan Earning Per Share berpengaruh secara signifikan F (0,000) < (0,05).

52

54

e) Dari hasil pengujian baik uji F dan uji t, diketahui bahwa dividen per share mempunyai pengaruh yang lebih signifikan terhadap harga saham dibandingkan return on investment. Yang ditandai dengan hasil thitung = 10,138 untuk dividend per share dan thitung = 3,333 untuk return on investment dan Earning Per share thitung =2,856 f) Hasil nilai koefisien determinasi (Adjusted R square) diperoleh nilai sebesar 0,662 atau 66,2% yang berarti harga saham dipengaruhi oleh

dividend per share dan return on investment. Sedangkan sisanya 33,8% dipengaruhi oleh variabel-variabel yang tidak diteliti antara lain: dividend payout ratio, earning per share, debt to equity.

B. SARAN a) Variabel yang digunakan oleh penulis belum mewakili semua variabel yang ada dalam akuntansi untuk itu perlu memperbanyak variabel yang ada seperti diveden per share, return on investment, earning per share dan sebagainya. b) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga saham di pasar modal selain faktor-faktor yang diteliti oleh penulis pada penelitian ini, yaitu dengan cara menambah beberapa faktor yang lain. Hal ini dimaksudkan agar diketahui faktorfaktor yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham secara lengkap dan menyeluruh.

55

c. Untuk melihat konsistensi hasil penelitian dari tahun ke tahun dan lebih akuratnya kebenaran hasi penelitian ini, sebaiknya peneliti yang akan datang mengambil periode pengamatan yang lebih luas dan terbaru serta meningkatkan jumlah sampel. d. Untuk perusahaan agar berusaha untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilai dividend per share dan return on investnment. Dividend per share dapat ditingkatkan apabila keuntungan yang akan dibagikan perusahaan itu tinggi. Meningkatnya dividend per share kemungkinan besar akan menarik investor untuk membeli saham perusahaan tersebut yang secara langsung berakibat dapat menaikan harga saham suatu perusahaan di pasar modal. Demikian pula dengan tingkat pengembalian investasi (dengan return on investment) yang tinggi dapat dari net income after tax yang besar maka perusahaan tersebut dalam kondisi yang baik sehingga para investor tertarik membeli saham perusahaan tersebut.

56

DAFTAR PUSTAKA

Adhitya, Yopy Kris. Dividen Per Share dan Return On Investment. Skripsi Akuntansi. UPS. TEGAL Anoraga. 2001. Pengertian Saham. Andi.Yogyakarta Alwi. 1994. Return On Investment. Erlangga : Jakarta Arifin Ali. 2004. Membaca Saham. Andi. Yogyakarta. Atmaja, Setia. Lukas, 1994. Manajemen Keuangan. Andi. Yogyakarta. Brigham Houston, 2001. Manajemen Keuangan. buku 1. Erlangga, Jakarta. Cholid Narbuko. 2004. Metodelogi Penelitian. Bumi Aksara. Jakarta. Eduardus, Tendelilin. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama. BPFE. Yogyakarta. Husein Umar, 2001. Riset Akuntansi. Edisi ketiga. Lembaga penerbit PT. Gramedia. Jakarta. Ghozali, Imam. 2005. Analisis Multivariate dengan program SPSS. Universitas Diponegoro. Semarang. Gitmen Laurence. J. www.google.com. Saham biasa Jenning et.al. Mulyono & Purnomo 1997. Earning Per Share. Rineka Cipta Jakarta Jogiyanto. 2004. metode penelitian Bisnis:salah kaprah dan pengamalan pengalaman. Edisi 2004/2005. Cetakan Pertama. BPFE. Yogyakarta. Kamarudin ahmad. 2004. Dasar-dasar manajemen investasi dan portofolio, Lembaga penerbit Aneka Cipta. Jakarta. Kieso, Weygandt. www.google.com . Saham Preferen Marzuki.1989. Pengertian Pasar Modal. Rineka Cipta. Jakarta Pandji, Anoraga. Puji Pakarta, 2001. pengantar pasar modal. Reneka Cipta. Jakarta.

55

57

Suad, Husnan, 2001. dasar dasar porfolio dan Analisis sekuritas. UUP AMP YKPN. yogyakarta. Sunariah, 2006. pengantar pengetahuan pasar modal. UPP STIM YKPN, Yogyakarta. Tendelin. 2001. Pengertian Saham. Andi. Yogyakarta

58

DAFTAR NAMA PERUSAHAAN MANUFAKTUR PADA BURSA EFEK INDONESIA YANG MENJADI SAMPEL BERDASARKAN KRITERIA

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

KODE ALMI ASGR BATA BRAM CLPI CTBN FAST GGRM GDYR HEXA IKBI INTP LION LMSH LTLS MLBI MLAS MRK MTDL MYOR SCMC TRSA TURI UNTR UNVR

PERUSAHAAN PT Alumindo Light Metal Industry Tbk PT Astra Graphia Tbk PT Sepatu Bata TbK PT Branta Mulia Tbk PT Colorpak Indonesia Tbk PT Citra Tubindo Tbk PT Fast Food Indonesia Tbk PT Gudang Garam Tbk PT Goodyer Indonesia Tbk PT Hexindo Adiperkasa Tbk PT IKI Indah Kabel Indonesia Tbk PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk PT Lion Metal Works Tbk PT Lionmesh Prima Tbk PT Lautan Luas Tbk PT Multi Bintang Indonesia Tbk PT Multistrada Arah Sarana Tbk PT Merck Tbk PT Metrodata Electronics Tbk PT Mayora Indah Tbk PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk PT Trias Sentosa Tbk PT Tunas Ridean Tbk PT United Tractors Tbk PT Unilever Indonesia Tbk

Sumber, PT Bursa Efek Indonesi

59

DAFTAR NILAI DPS, ROI DAN HARGA SAHAM Kode 1. ALMI Tahun 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 Harga Saham (Rupiah) 335 860 950 290 305 590 14.500 14.000 23.000 940 1.900 1.900 405 980 1.520 8.500 17.000 30.000 1.200 1.820 2.450 11.650 10.200 8.500 8.000 6.600 13.000 960 900 740 430 820 1.150 3.550 5.750 8.200 2.000 2.200 2.100 1.900 1.700 DPS (Rupiah) 35 135 50 25 40 32 150 435 6.361 40 12 63 4 5 10 689 1.811 1.884 20 20 45 500 250 250 222 856 88 46 17 21 21 35 100 50 30 40 100 100 125 40 30 ROI (%) 4.64 6.66 2.31 6.95 9.50 11.54 8.20 7.43 10.41 6.99 1.20 2.52 7.30 5.75 5.82 6.91 13.36 13.71 6.99 1.20 2.52 8.54 4.64 6.03 1.46 5.58 13.15 9.14 3.27 3.58 4.33 7.52 13.15 7.02 9.83 14.18 11.53 11.00 11.71 9.75 6.12

2.

ASGR

3.

BATA

4.

BRAM

5.

CLPI

6.

CTBN

7.

FAST

8.

GGRM

9.

GDYR

10. HEXA

11. IKBI

12. INTP

13. LION

14. LMSH

60

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

2007 2.100 LTLS 2005 480 2006 405 2007 440 MRK 2005 24.300 2006 40.000 2007 52.500 MLAS 2005 160 2006 215 2007 215 MLBI 2005 50.000 2006 55.000 2007 55.000 MTDL 2005 70 2006 80 2007 184 MYOR 2005 820 2006 1.620 2007 1.750 SCMC 2005 1.100 2006 1.330 2007 1.450 TRSA 2005 150 2006 145 2007 174 TURI 2005 690 2006 710 2007 1240 UNTR 2005 3.675 2006 6.550 2007 10.900 UNVR 2005 4.275 2006 6.600 2007 6.750 Sumber, PT Bursa Efek Indonesia Pusat Informasi Pasar Modal Pekalongan

50 17 8 28 1.400 2.000 2.300 3 1 1 3.165 2.640 3.600 3 3 3 25 35 40 70 70 30 3 5 5 19 5 55 110 85 150 120 125 167

9.46 3.26 1.62 3.38 26.48 30.61 27.03 5.27 11.86 1.62 15.12 12.05 13.07 1.45 2.80 2.45 3.13 6.02 7.48 8.18 7.67 4.16 0.78 1.28 0.83 4.74 0.78 5.67 9.88 8.27 11.48 37.49 37.22 36.79