Anda di halaman 1dari 15

Status bedah hernia scortalis dextra

I. Identitas

Nama Pasien : Tn. G Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 60 tahun Agama : Islam Suku Bangsa : jawa Alamat : kemiling Bandar lampung Pekerjaan : Petani Tanggal Pemeriksaan : 17 januari 2012
II. Anamnesa

A. Keluhan Utama Benjolan di kantung kemaluan kanan B. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien kiriman poli Bedah dengan diagnose Hernia Inguinalis Lateralis dextra. Pasien mengeluh timbul benjolan pada buah zakar kanan sejak 10 bulan yang lalu. benjolan dirasakan dapat keluar dan masuk kembali sejak 10 bulan yang lalu. Benjolan tersebut keluar/timbul terutama saat berdiri, berjalan, batuk, dan mengangkat berat. Benjolan tersebut dapat masuk kembali saat tidur, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama untuk dapat masuk kembali. Pasien juga mengeluh kadang timbul nyeri saat benjolan mulai keluar. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk. Nyeri tersebut menjalar hingga pinggang.

Mual (-), muntah-muntah (-), perut kembung (-), demam (-), batuk (-), pilek (-). BAB (+) jarang, frekuensi 3x seminggu. Riwayat sering susah BAB (-). Riwayat batuk-batuk lama (-). Riwayat sering sesak nafas (-). Riwayat sering mengangkat beban berat (+). Riwayat BAK tidak lancar (-), BAK mengedan (-). C. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat menderita gejala serupa sebelumnya (-). Riwayat kencing manis disangkal. Riwayat HT disangkal. Riwayat gangguan ginjal disangkal. Riwayat TB atau asma disangkal. D. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak terdapat anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama seperti pasien. E. Riwayat Alergi Riwayat alergi makanan (-), riwayat alergi obat (-).
III. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : baik Kesadaran/GCS : Composmentis/ E4V5M6 Tekanan Darah : 130/80 mmHg Nadi : 88x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat Respirasi : 20x/menit Suhu : 36.7 C Pemeriksaan Fisik Umum : a. Kepala

Bentuk kepala simetris Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/Telinga : otorrhea -/Hidung : bentuk simetris, rhinorrhea -/Mulut : faring hiperemis (-). Tonsil : ukuran eutrofi, hiperemis-/b. Leher Pembesaran kelenjar getah bening leher (-) c. Toraks Inspeksi : gerakan nafas dinding dada kiri-kanan simetris, iktus kordis tidak tampak, massa (-) Palpasi : gerakan nafas dinding dada kiri-kanan simetris, iktus kordis teraba pada linea midklavikularis ICS 5 kiri Perkusi : sonor di kedua lapang paru, batas kiri jantung pada linea midklavikularis ICS 5 kiri, batas kanan jantung pada linea parasternalis kanan, batas atas jantung pada ICS 2, batas bawah jantung pada ICS 5 Auskultasi : Paru : vesikuler +/+, rhonkhi -/-, wheezing -/-. Jantung : S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-) d. Abdomen Inspeksi : distensi (-), warna kulit dalam batas normal, massa (-) Auskultasi : bising usus (+) normal

Perkusi : timpani di keempat kuadran abdomen Palpasi : supel, defans muskuler (-), nyeri tekan (-),massa (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba, pemeriksaan bimanual ginjal : tidak teraba. e. Inguinal Inguinal kanan : Inspeksi : tampak benjolan mulai dari inguinal kanan hingga ke skrotum kanan, berbentuk lonjong, warna kulit sama dengan warna sekitar. Palpasi : teraba benjolan, panas (-), konsistensi kenyal, nyeri tekan (-), ukuran 13x6 cm. Auskultasi : bising usus (+) pada benjolan. Inguinal kiri : Massa (-) f. Uro-genital Ginjal : tidak teraba OUE : penyempitan (-), warna kulit normal Skrotum : kulit hiperemis (-), testis kiri-kanan teraba. Tampak benjolan mulai dari inguinal kanan hingga ke skrotum kanan, berbentuk lonjong, warna kulit sama dengan warna sekitar, panas (-), konsistensi kenyal, nyeri tekan (-), ukuran 13x6 cm. Finger test teraba pada ujung jari. Thumb test benjolan tidak keluar. Transiluminasi (-). Bising usus (+) pada benjolan di skrotum. g. Anal-perianal Dalam batas normal

h. Ekstremitas Edema ektremitas (-). Akral hangat (+) Pemeriksaan Fisik Status Lokalis : Inspeksi : tampak benjolan mulai dari inguinal kanan hingga ke skrotum kanan, berbentuk lonjong, warna kulit sama dengan warna sekitar. Palpasi : teraba benjolan mulai dari inguinal kanan hingga ke skrotum kanan, panas (-), konsistensi kenyal, nyeri tekan (-), ukuran 13x6 cm. Finger test teraba pada ujung jari. Thumb test benjolan tidak keluar. Testis kiri-kanan teraba. Transiluminasi (-). Auskultasi : bising usus (+) pada benjolan skrotum.
IV. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 10/5/2010 : Hb : 13,3 g% Leukosit : 8.160/mm3 Trombosit: 284.000/mm3 Hct : 39,6% LED : 43 SGPT : 33 GDS : 98 Albumin : 5,3 BT : 200 Globulin : 3,3 CT :515 Urea : 12 SGOT : 32 Creatinin : 0,5

V. Resume

Laki-laki, 60 tahun, timbul benjolan pada buah zakar kanan sejak 10 bulan yang lalu. benjolan dirasakan dapat keluar dan masuk kembali. Pasien juga mengeluh kadang timbul nyeri saat benjolan mulai keluar. Mual (-), muntah-muntah (-), perut kembung (-), demam (-), batuk (-), pilek (-). BAB (+) jarang. BAK (+) lancar. Keadaan Umum : baik Kesadaran/GCS : Composmentis/ E4V5M6 Tekanan Darah : 130/80 mmHg Nadi : 88x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat Respirasi : 20x/menit Suhu : 36.7 C Inspeksi : tampak benjolan mulai dari inguinal kanan hingga ke skrotum kanan, berbentuk lonjong, warna kulit sama dengan warna sekitar. Palpasi : teraba benjolan mulai dari inguinal kanan hingga ke skrotum kanan, panas (-), konsistensi kenyal, nyeri tekan (+), ukuran 13x6 cm. Finger test teraba pada ujung jari. Thumb test benjolan tidak keluar. Testis kiri-kanan teraba. Transiluminasi (-). Auskultasi : bising usus (+) pada benjolan skrotum.
VI. Diagnosis Kerja

Hernia scrotalis dextra reponible


VII. Diagnosis Banding

Hidrocele Tumor testis

VIII. Usulan Pemeriksaan Penunjang : DL, GDS, GD2JPP, BT, CT, LFT, RFT.
IX. Rencana Terapi

Herniotomy, herniorraphy, dan hernioplasty


X. Prognosis

Baik TINJAUAN PUSTAKA Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Hernia terdiri atas kantung hernia, isi hernia, dan cincin hernia. Pembagian hernia berdasarkan proses terjadinya yaitu hernia kongenital atau bawaan dan hernia yang didapat atau akuisita. Hernia diberi nama menurut letaknya, misalnya diafragma, inguinal, umbilikal, femoral, dan sebagainya. Menurut sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernia keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. Bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga disebut hernia irreponibel. Hernia irreponibel biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantung pada perineum kantong hernia, yang disebut hernia akreta. Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus akibat perlekatan tersebut. Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantung hernia terperangkap dan tidak dapat kembali ke rongga asalnya maka disebut hernia inkarserata atau hernia strangulata. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia irreponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut hernia strangulata. Sebenarnya gangguan vaskularisasi sudah terjadi saat jepitan dimulai, dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis.

Hernia inguinalis adalah suatu keadaan dimana sebagian usus masuk melalui sebuah defek pada dinding perut ke dalam kanalis inguinalis. Kanalis inguinalis adalah saluran yang berbentuk tabung, yang merupakan jalan tempat turunnya testis dari perut kedalam skrotum sesaat sebelum bayi dilahirkan. Kanalis inguinalis merupakan daerah yang dibatasi oleh annulus inguinalis internus, yang merupakan bagian terbuka dari fasia tranversalis dan aponeurosis m.transversus abdominis, di bagian kraniolateral. Di medial bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari aponurosis m.oblikus abdominis eksternus. Atapnya adalah aponeurosis m. oblikus abdominis eksternus, dan didasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali sperma pada pria, dan ligamentum rotundum pada wanita.
KLASIFIKASI

Hernia inguinalis indirek, disebut juga hernia inguinalis lateralis, karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis, dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari annulus inguinalis ekternus. Apabila hernia berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum, ini disebut hernia skrotalis. Kantong hernia berada dalam m.kremaster terlatak anteromedial terhadap vas deferen dan struktur lain dalam tali sperma. Hernia inguinalis direk, disebut juga hernia inguinalis medialis, menonjol langsung kedepan melalui segitiga Hesselbach, daerah yang dibatasi ligamentum inguinal dibagian inferior, pembuluh epigastrika inferior dibagian lateral dan tepi otot rektus dibagian medial. Dasar segitiga hasselbach dibentuk oleh fasia transversal yang diperkuat oleh serat aponeurisis m.tranversus abdominis yang kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial untuk menjafi lemah. Hernia medialis, karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin hernia longgar.
ETIOLOGI

Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia, lebih banyak pada pria ketimbang pada wanita. Berbagai faktor

penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Di samping itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut. Pada masa perkembangan embrional, testis awalnya berlokasi di dalam rongga peritoneum. Saat testis turun melalui kanalis inguinalis untuk masuk ke dalam scrotum, terdapat pula perpanjangan dari peritoneum yang berbentuk seperti kantung yang disebut prosesus vaginalis. Setelah testis turun ke dalam skrotum, prosesus vaginalis akan mengalami obliterasi dan menjadi semacam suatu tali fibrosa tanpa lumen. Ujung distal dari prosesus vaginalis tetap bertahan menjadi suatu membran yang mengelilingi testis yang disebut tunika vaginalis. Jika terdapat prosesus vaginalis yang tetap terbuka (prosesus vaginalis paten) maka akan terdapat hubungan antara rongga peritoneum dengan regio inguinal dan skrotum. Jika ukuran prosesus vaginalis paten kecil, maka hanya cairan saja yang dapat melewatinya, sehingga terbentuk hidrokel komunikantes. Jika ukurannya cukup besar, maka usus, omentum, dan isi rongga peritoneum lain dapat masuk, sehingga terbentuk hernia. Pada orang sehat, terdapat tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur m. Oblikus abdominis internus yang menutup annulus inguinalis internus ketika berkontraksi, dan adanya fasia transversa yang kuat yang menutup trigonum Hesselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hernia. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosessus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan didalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Pada neonatus kurang lebih 90% prosessus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu tahun sekitar 30 % prosessus vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen. Tidak sampai 10% anak dengan prosessus vaginalis paten menderita hernia. Pada lebih dari separuh populasi anak, dapat dijumpai prosessus veginalis paten kontralateral, tetapi insiden hernia tidak melebihi 20%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa adanya prosessus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tapi diperlukan faktor lain seperti anulus inguinalis yang cukup besar.

Tekanan intra abdomen yang meniggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan asites sering disertai hernia inguinalis. Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya. Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal, sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah apendektomi.
GAMBARAN KLINIS

Diagnosis hernia ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Sebagian besar hernia adalah asimtomatik, dan kebanyakan ditemukan pada pemeriksaan fisik rutin dengan palpasi benjolan pada annulus inguinalis superfisialis. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah benjolan di lipatan paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan, dan menghilang setelah berbaring. Dengan berlalunya waktu, sejumlah hernia turun ke dalam skrotum sehingga skrotum membesar. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya di daerah epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium pada waktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. Omentum yang terperangkap di dalam kantung hernia dapat menyebabkan gejala nyeri abdomen yang kronis. Nyeri hebat yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau sudah terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren. Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada inspeksi saat pasien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas kemedial bawah. Kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memberikan sensasi gesekan dua permukaaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau kantong hernia berisi organ maka tergantung isinya, pada

palpasi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia dengan menonjolkan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung jari, berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. Isi hernia pada bayi wanita yang teraba seperti sebuah massa yang padat yang biasanya berisi ovarium. Pemeriksaan transiluminasi dapat digunakan untuk membedakan hidrokel dengan hernia. Bising usus pada auskultasi skrotum akan semakin mengarah pada hernia. Diagnosis banding hernia inguinalis mencakup limfadenopati, varikokel, andesensus

testikulorum, lipoma, hidrokel, epididimitis, orchitis, hematom skrotum, ruptur testikular, dan tumor testis. PENATALAKSANAAN Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulata, kecuali pada pasien anak-anak. Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya k earah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih sering terjadi pada umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis dibandingkan dengan orang dewasa. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedatif dan kompres es diatas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil anak disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera. Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan, sehingga harus dipakai seumur hidup. Cara ini tidak dianjurkan karena mempunyai komplikasi, antara lain merusak kulit dan tonus otot dinding perut di daerah yang

tertekan sedangkan strangulasi tetap mengancam. Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofi testis karena tekanan pada tali sperma yang mengandung pembuluh darah testis. Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional, untuk mencegah inkarserasi kemudian, obstruksi usus dan infark usus. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Pada tahun 1889, Bassini pertama melaporkan hasil yang terusmenerus berhasil dengan perbaikan bedah pada hernia inguinalis. Bassini menggunakan prosedur cermat dengan ligasi tinggi kantong hernia dan pendekatan anatomi cermat bagi conjoined fascia dari muskulus oblikus internus dan transverses abdominis ke ligamentum inguinal (poupart). Halsted, yang tidak menyadari penemuan Bassini sejak dipublikasi dalam jurnal Italia yang tak terkenal, secara bebas menggambarkan tindakan serupa pada tahun 1889. Tindakan Halsted juga terdiri dari penjahitan fasia oblikus internus dan transverses abdominis ke ligamentum inguinale. Dalam tidakan pertamanya, halsted mentransplantasi funikulus spermatikus diatas penutupan fasia oblikus eksternus (Halsted I). Kemudian Halsted melakukan tindakan yang sama, tetapi memungkinkan funikulus spermatikus tetap dalam posisi normalnya dibawah fasia oblikus eksternus (Halsted II). Tindakan Bassini dan Halsted menampilkan kemajuan besar dan zaman penatalaksanaan bedah yang luas dari hernia inguinalis dimulai. Sejak karya peloporan ini, sejumlah variasi tehnik telah diperkenalkan bersama dengan konsep baru, dalam usaha menurunkan angka kekambuhan yang telah rendah. McVay

mempopularisasikan tehnik perapatan conjoint tendon muskulus oblikus internus dan rektus abdominis ke ligamentum cooper, suatu operasi yang pada mulanya digambarkan oleh Lotheissen pada tahun 1889. Shouldice mengenalkan konsep membuka lantai inguinalis dan mengimbrikasi fasia transversalis dengan tehnik jahitan kontinyu. Saat ini operasi yang diuraikan oleh pelopor ini terutama digunakan dalam mengoreksi hernia. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah

terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplastik seperti memperkecil anulus inguinalis internus dangan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Metode McVay dapat digunakan pada kasus hernia inguinalis indirek yang besar. Untuk hernia inguinalis direk, khususnya yang berukuran besar dan berulang, metode McVay umumnya lebih disukai. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis nonabsorbable seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek. Tubuh akan membentuk jaringan granulasi di sekitar mesh yang dianggap tubuh sebagai benda asing, kemudian membentuk jaringan parut dan menciptakan barier tanpa tegangan (tension-free barrier) yang solid sehingga mencegah hernia kambuh kembali.
KOMPLIKASI

Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia irreponibel. Ini dapat terjadi kalau hernia terlalu besar atau terdiri dari omentum, organ ektraperitoneal (hernia geser) atau hernia akreta. Disini tidak timbul gejala klinik kecuali berupa benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulata yang menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana. Sumbatan dapat terjadi total atau parsial seperti pada hernia Richter. Bila cincin hernia sempit, kurang elastis atau lebih kaku seperti pada hernia femoralis dan hernia obturatoria, lebih sering terjadi jepitan parsial. Jarang terjadi inkarserasi retrograd, yaitu dua segmen usus terperangkap didalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berada dalam rongga peritoneum seperti hurup W. Jepitan hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur didalam hernia dan transudasi kedalam kantong hernia. Timbulnya udem menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringa terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia berisi transudat berupa cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri dari usus,

dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan rongga perut. Gambaran klinik hernia inkarserata yang mengandung usus dimulai dengan gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa. Bila sudah terjadi strangulasi karena gangguan vaskularisasi maka dapat terjadi gangguan toksik akibat gangren, dan gambaran klinis menjadi kompleks dan sangat serius. Penderita mengeluh nyeri lebih hebat di tempat hernia, nyeri akan menetap karena rangsangan peritoneum. Pada pemeriksaan lokal yang ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan lagi, disertai nyeri tekan dan tergantung keadaaan isi hernia dapat dijumpai tanda peritonitis atau abses lokal. Hernia strangulata dapat menyebabkan perforasi, peritonitis, sepsis hingga kematian, sehingga merupakan keadaan gawat darurat dan perlu mendapat pertolongan segera. Komplikasi operasi hernia antara lain infertilitas akibat cedera pada vas deferens, atrofi testis akibat cedera pada pembuluh darah testis saat operasi, kriptorchidis sekunder akibat pembentukan jaringan parut berlebihan paska operasi, dan rekurensi hernia.
PROGNOSIS

Perbaikan klasik memberikan angka kekambuhan sekitar 1-3% dalam jarak waktu 10 tahun kemudian. Kekambuhan disebabkan oleh tegangan yang berlebihan pada saat perbaikan, jaringan yang kurang, hernioplasti yang tidak adekuat, dan hernia yang terabaikan. Kekambuhan yang sudah diperkirakan lebih umum dalam pasien dengan hernia inguinalis direk, khususnya hernia inguinalis direk bilateral. Kekambuhan tidak langsung biasanya akibat eksisi yang tidak adekuat dari ujung proksimal kantung. Kebanyakan kekambuhan adalah langsung dan biasanya dalam regio tuberkulum pubikum, dimana tegangan garis jahitan adalah yang terbesar.insisi relaksasi selalu membantu. Perbaikan hernia inguinalis bilateral secara bersamaan tidak meningkatkan tegangan jahitan dan bukan merupakan penyebab kekambuhan seperti yang dipercaya sebelumnya. Hernia rekurren membutuhkan prostesis untuk perbaikan yang berhasil. Kekambuhan setelah hernioplasti prostesis anterior paling baik dilakukan dengan pendekatan preperitoneal atau secara anterior dengan sumbat prostesis.