Anda di halaman 1dari 11

JURUSAN STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

Tugas Kelompok

EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH

Oleh : Kelompok II

ISMAIL ANASTAS D.J INSDRI SARTIKA. Z. Tasmin

021280018 021280019 021280020 021280014

2011

maillelakisabiji@yahoo.co.id

PENDAHULUAN

Reformasi menghendaki berbagai koreksi kebijaksanaan ekonomi, baik jangka panjang, menengah maupun jangka pendek, harus mampu menjadikan ekonomi nasional lebih efisien dan sekaligus lebih memenuhi rasa keadilan masyarakat. Perekonomian yang tidak efisien, tidak adil, tidak berkelanjutan, sebagaimana yang telah terjadi pada krisis ekonomi Indonesia. Koreksi yang harus dilakukan berupa perubahan radikal dari sistem ekonomi. Berbagai pelanggaran asas ekonomi kerakyatan selama kurun waktu 30 tahun pembangunan ekonomi berakibat pada ketimpangan yang serius dalam pembangunan antar daerah. Daerah-daerah yang kaya akan sumberdaya alam seperti: Aceh, Riau, Irian Jaya, dan Kalimantan Timur, menjadi korban dari orang-orang yang menganggap dirinya tidak berdosa. Tambang atau hutan yang mungkin dieksploitasi dengan menggunakan modal besar dan teknologi tinggi yang juga membutuhkan modal besar. Salah satu kebijakan yang sering dituntut adalah hubungan

pembangunan antara pusat dan daerah yang tidak berimbang. Oleh karena itu, harus diperlukan kebijakan yang dapat merangsang pembangunan daerah-daerah tertinggal agar mau berkembang lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah perubahan sikap kelompok elit di daerah termasuk pejabat pemerintah daerah, anggota DPRD, LSM, dan kalangan perguruan tinggi, guna mengangkat derajat dan martabat masyarakat lapisan bawah di daerah tertinggal. Agar menjadi semangat dan moral pembangunan menuju pemberdayaan seluruh

masyarakat.

maillelakisabiji@yahoo.co.id

PEMBAHASAN

A. Ekonomi Kerakyatan Ekonomi kerkyatan adalah ekonomi yang demokratis yang ditujukan untuk kemakmuran rakyat. Di dalam ekonomi kerakyatan yang demokratis ada pemilihan sepenuh hati dari pemerintah pada yang lemah dan miskin. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi rakyat kecil yang selama 53 tahun kemerdekaan tidak pernah bebas dari penderitaan dan masih harus berjuang untuk bertahan hidup. Pada zaman sekarang pun masyarakat masih seperti itu, adapun istilah yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin 1. Konsep Ekonomi Kerakyatan Bagi Rakyat, tidak penting mengetahui ekonomi kerakyatan atau sistem yang menekankan pada dimensi keadilan dalam penguasaan

sumber daya ekonomi, proses produksi dan konsumsi, atau sistem yang membawa kemakmuran pada banyak orang (rakyat) daripada

kemakmuran orang perorang (individu). Yang paling penting adalah memahami dengan gambling dan apa adanya bahwa apa keuntungan rakyat ketika ekonomi neoliberal

dijalankan dengan begitu, dilihat dari sisi pragmatisnya akan jauh lebih

maillelakisabiji@yahoo.co.id

bermanfaat daripada menyoalkan defenisi ekonomi kerakyatan ataupun ekonomi liberal. Oleh karena itu ketika suara sistem itu bersinggungan langsung dengan kebutuhan hidup rakyat sehari-hari (Basic Needs) seperti

tersedianya lapangan pekerjaan , penghasilan memadai , pendidikan dan kesehatan yang murah, itulah ekonomi yang memihak rakyat. Jadi lebih penting meyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat, bukan ekonomi kerakyatan. 2. Sistem Ekonomi Kerakyatan Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah Sistem Ekonomi Nasional Indonesia yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945, maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. Pengertian demokrasi ekonomi atau

maillelakisabiji@yahoo.co.id

(sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakat lah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ke tangan orangorang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orang-seorang. Sesuai dengan pasal 34 UUD 1945 dibawah ini Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar

kemakmuran rakyat.

maillelakisabiji@yahoo.co.id

3. Tujuan

yang

diharapkan

dari

penerapan

Sistem

Ekonomi

Kerakyatan
a.

Membangun Indonesia yang berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan berkepribadian yang berkebudayaan

b. c. d.

Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan Mendorong pemerataan pendapatan rakyat Meningkatkan efisiensi perekonomian secara nasional]

4. Langkah-langkah urgen dalam memperjuangkan Ekonomi Kerakyatan a. Peningkatan disiplin pengeluaran anggaran dengan tujuan utama memerangi praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya b. Penghapusan monopoli melalui penyelenggaraan mekanisme persaingan yang berkeadilan (fair competition) c. Peningkatan alokasi sumber-sumber penerimaan negara kepada pemerintah daerah d. Penguasaan dan redistribusi pemilikan lahan pertanian kepada petani penggarap e. Pembaharuan UU Koperasi dan pendirian koperasi-koperasi sejati dalam berbagai bidan usaha dan kegiatan. Yang perlu dicermati, peningkatan kesejahteraan rakyat dalam konteks

ekonomi kerakyatan tidak didasarkan pada paradigma lokomatif, melainkan pada paradigma fondasi.

maillelakisabiji@yahoo.co.id

B. Pembangunan Daerah Sebagai mana halnya dengan pengertian pembangunan pada umumnya, pembangunan daerah juga merupakan persoalan yang multidimensi. Banyak aspek yang terkait, banyak pihak yang terlibat, dan karena itu banyak kepentingan, kekuasaan dan kecenderungan dari masing-masing pihak yang berpengaruh dan mesti dipertimbangkan dalam pembahasan pembangunan daerah. Yang perlu dicatat, bahwa yang dimaksudkan dengan daerah disini adalah wilayah dalam lingkup sebuah negara, seperti Provinsi Jawa Barat, Daerah Istimewa Jogyakarta, Daerah Otonomi Khusus NAD dan sebagainya, bukan wilayah (regional) dalam lingkup internasional, seperti ASEAN, AFTA, NAFTA dan lain-lain. Catatan ini diperlukan, karena ada perbedaan yang harus diindahkan berkaitan dengan kewenangan dalam pengaturan dan pendekatan yang dipakai antara daerah dalam lingkup sebuah negara dan wilayah dalam lingkup internasional dimaksud. Karena berada dalam yurisdiksi administrasi satu negara, batas satu daerah dengan daerah lain tidak terlihat secara nyata. Maksudnya, meskipun batas administratif antara satu daerah dengan daerah lain itu ada, namun tidak boleh ada hambatan dalam perjalanan orang dan perpindahan barang antar daerah dalam satu negara. Baik itu batasan dalam bentuk kuota ataupun pengenaan pajak bea masuk dalam perdagangan. Ketentuan ini merupakan konsekwensi dari adanya kesatuan sistem administrasi dan fiscal dalam sebuah negara.

maillelakisabiji@yahoo.co.id

C. Hubungan Ekonomi Kerakyatan dan Pembangunan daerah Sistem ekonomi kerakyatan ini harus menjadi landasan dalam setiap perumusan strategi pembangunan ekonomi daerah. Penerapan strategi tersebut harus memberikan prioritas untuk memberdayakan ekonomi rakyat yang memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat. Dalam penyusunan strategi pembangunan ekonomi daerah diperlukan identifikasi sasaran penyusunan fundamental ekonomi daerah. Untuk itu, dalam Propeda (Program Pembangunan Daerah) maupun Renstra (rencana strategis) perlu ditegaskan apa sasaran yang hendak dicapai oleh suatu daerah. Beberapa sasaran fundamental pembangunan ekonomi daerah diantaranya : (1) Mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan (2) Meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah dan (3) Meningkatkan pendapatan per kapita. Penyusunan konsep maupun indikator fundamental ekonomi daerah merupakan suatu kebutuhan yang mendesak bagi daerah. Fundamental ekonomi daerah pada hakikatnya merupakan indikator yang mencerminkan kondisi riil ekonomi daerah yang meliputi penurunan angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi daerah, dan indeks pembangunan manusia. Dengan indikator ini diharapkan dapat dilakukan identifikasi mengenai profil maupun klasifikasi daerah kabupaten atau kota dalam suatu wilayah provinsi, maupun dalam suatu wilayah negara sehingga dapat dijadikan dasar dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah.

maillelakisabiji@yahoo.co.id

Indikator

lainnya

yang

harus

dirumuskan

dalam

setiap

pemanfaatan sumber daya alam adalah seberapa besar memberi manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Dalam hal ini perlu dipertanyakan apakah pemanfaatan sumber daya alam memberikan dampak dalam penciptaan lapangan pekerjaan? Berapa banyak pekerjaan baru yang dapat diciptakan? Apakah pekerjaan baru tersebut akan meningkatkan

penghasilan rakyat setempat? Berapa banyak pekerjaan baru tersebut akan menarik rakyat setempat? Apakah pemanfaatan sumber daya alam dapat menaikkan taraf hidup dan martabat rakyat setempat? Dalam pemilihan strategi pembangunan ekonomi harus dapat mempertemukan antara berbagai tujuan yang akan dicapai sesuai dengan visi dan misi yang ditetapkan. Untuk itu, penetapan strategi tersebut harus sejalan dengan berbagai strategi yang mendukung pembangunan ekonomi daerah, diantaranya strategi penangulangan kemiskinan.

maillelakisabiji@yahoo.co.id

Kesimpulan Gagasan ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya alternatif dari para ahli ekonomi Indonesia untuk menjawab kegagalan yang dialami oleh negara negara berkembang termasuk Indonesia. Tidak tercapainya tujuan pembangunan yang menginginkan agar kesejahteraan dan

kemakmuran bisa dinikmati sampai pada lapisan masyarakat paling bawah, bahkan kenyataannya bukan hanya tidak menikmati kesejahteraan, lebih buruk, banyak rakyat di lapisan bawah bahkan harus semakin menderita dan semakin terpuruk dalam kesenjangan sosial ekonomi semakin melebar. Dari pengalaman ini, akhirnya dikembangkan berbagai alternatif terhadap konsep pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan.

Pertumbuhan ekonomi tetap merupakan pertimbangan prioritas, tetapi pelaksanaannya harus serasi dengan pembangunan nasional yang berintikan pada manusia pelakunya. Pembangunan yang berorientasi kerakyatan dan berbagai

kebijaksanaan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Dari pernyataan tersebut jelas sekali bahwa konsep, ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya untuk lebih mengedepankan masyarakat. Dengan kata lain konsep ekonomi kerakyatan dilakukan sebagai sebuah strategi untuk membangun kesejahteraan dengan lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat.

maillelakisabiji@yahoo.co.id

REFERENSI

file:// Sistem%20Ekonomi/sistem%20ekonomi/daerah.php.htm file://Ekonomi/sistem/ekonomi-kerakyatan-dan-pembangunan.html file:// ekonomi/pengertian-ekonomi-kerakyatan.htm file:/// Strategi%20pembangunan%20Daerah%20yang%20Berkeadilan.htm file:// /SISTEM%20EKONOMI%20KERAKYATAN%20%C2%AB.htm file://INDIKATOR%20PEMBANGUNAN%20DAERAH%20%C2%AB%20Web site%20Ovalhanif.htm
Akses_tgl_8/5/2011_ (Pkl. 00.47.00 WITA)

maillelakisabiji@yahoo.co.id