Anda di halaman 1dari 3

Satu satunya yang tersisa dari kerhormatan mahasiswa adalah idealisme.

. Ketika Idealisme itu mulai tergadaikan, jangan pernah kita bertanya kenapa?

Idealisme bagi sebagian besar orang tidak lebih dari barang rongsokan yang usang dan layak dibuang dan digantikan dengan barang baru yang bernama pragmatisme, Tulisan ini adalah pengalaman dan pergolakan batin penulis dengan dirinya dan beberapa kawan yang telah melihat orang-orang di Keluarga Mahasiswa-nya menggadaikan isi kepala demi pragmatisme. Entah takut diberi cap kritis, dipandang sebagai kaum minoritas, atau memang telah menyerah pada keadaan.

Idealisme. kompilasi dari dua kata. Kata Ideal dan kata isme. Ideal artinya suatu keadaan yang sempuna dan isme merupakan sebuah paham atau prinsip hidup. Idealisme, yaitu suatu pegangan hidup yang kokoh dijaga agar tidak terpengaruh dan selalu berusaha diwujudkan untuk mendapatkan kepuasan diri sediri ataupun kelompok, dapat juga suatu pemikiran bahwa seharusnya hidup terkondisi pada keadaan yang sebagaimana dibayangkan, agar semua yang dilakukan terasa benar dan sempurna bagi dirinya atau bagi kelompoknya.

Idealisme boleh kita pahami sebagai prinsip kehidupan dimana sang pemilik prinsip selalu ingin mengejawantahkan kesempurnaan. Entah sudah berapa orang yang ikut serta mendefinisikan idealisme. Entah pula sudah berapa lembaran buku yang memuat arti kata idealisme. Yang jelas, di jumlah manusiamanusia yang mulai meninggalkan idealismenya sudah mulai punah dan lebih banyak lagi manusiamanusia yang tidak memiliki idealisme dibandingkan bacaan-bacaan tersebut. Zaman sudah mulai mendekati kondisi dimana idealisme menjadi layaknya barang langka. Yang coba-coba menunjukkan idealismenya siap-siap saja dijaga kelestariannya melalui pengasingan, sanksi sosial ataupun diskriminasi.

Idealisme seringkali dipersaudarakan dengan kritis, anarkis, radikal, extreme dan artian-artian sebangsanya. Tidak heran idealisme menjadi sering disalahartikan dalam banyak ranahnya. Segala hal yang berontak kemudian digelari sikap fundamental pertahanan idealisme. Kekerasan-kekerasan dan spesies-spesiesnya juga demi berbagai macam pembelaan ikut-ikutan numpang selamat pada kata Idealisme. Padahal jika kata idealisme ini kita tarik maka akan keliatanlah dengan jelas lekuk-lekuk akar dan buluh-buluh halus pembuluhnya. Dan tak satupun disana tersemat buku-buku kekerasan. Mustahil sekali sesuatu yang diupayakan bisa sempurna, gaya tatanya berkiblat pada gaya anarkis. Gaya perbaikan disamakan dengan gaya pengerusakan. Kritis dan idealis, yang merupakan potensi penting sebagai

mahasiswa, dianggap hina dan berujung pada diskriminasi sosial. Memang idealisme dalam bentuk alamiahnya cenderung tidak bisa ditawar dan dikompromikan. Namun ternyata idealisme juga berpikir dan hidup. Dinamis. Ia berotak dan bukan sekedar berontak.

Pada kenyataanya seorang yang idealis biasanya punya keyakinan yang kuat tentang kebenaran. Ia adalah sosok agent of change yang akan merubah kondisi sesuai idealismenya. Ia juga tidak mudah menyerah dengan keadaan dan tidak terbawa oleh kondisi yang sedang dirasakan. Terlihat dimana peran mahasiswa sebagai agent of change mempengaruhi arah perubahan suatu bangsa yang pasti selalu lekat dengan dinamika kehidupan mahasiswanya, begitu pun Indonesia. Momentum sejarah terdekat yang dapat dijadikan patokan peran mahasiswa sebagai agent of change adalah reformasi 98. Calon dokter, calon engineer, calon birokrat, calon sosiolog, calon politisi. Semua ada dalam momentum sejarah itu, mahasiswa menunjukkan peran nya sebagai agent of change (agen pembawa perubahan), menumbangkan rezim tirani saat itu dan membawa platform demokrasi dalam dinamikan bangsa ini.

Pragmatisme adalah musuh idealisme. Pragmatisme adalah sebuah kekalahan idealisme dengan mengkompromikan idealismenya. Untuk menjadi orang pragmatime sangatlah mudah dengan mengikuti segala hal yang ada meski berbeda dengan prinsip. Ujian bagi orang yang idealisme adalah ujian status sosial dan kekuasaan. Inilah yang terjadi saat ini tidak saja melanda kalangan aktivis pergerakan kemahasiswaan tapi juga mewabah masuk kedalam ruang-ruang dunia pendidikan. Pendidikan yang dilahirkan atau diciptakan sebagai media pembebasan manusia dari segala bentuk pembodohan.

Pragmatisme yang melanda kalangan pendidik bagaikan gelombang tsunami yang menelan korbannya tanpa belas kasihan sedikitpun, pragmatisme dalam dunia pendidikan atau kemahasiswaan sangat jelas terlihat, para pragmatis biasanya memiliki ketidakmampuan dalam mengatasi godaan-godaan hidup. Mereka biasanya takut kehilangan jabatan, kedudukan, dan status sosial yang selama ini telah dinikmati. Mereka tidak memiliki keyakinan akan hasil dari sebuah perjuangan kondisi ideal yang akan membawa perubahan kondisi organisasi jika mereka benar, jujur, rasional, dan ideal. Dengan berbagai cara, mulai dari penciptaan imaji yang fana, politik pencitraan sampai doktrinasi pragmatisme (kaderisasi politik pragmatis), mereka secara langsung dan tanpa malu telah membuat para peserta didiknya tidak lebih dari sebagai alat politik yang siap mengingkari pendidikan formal perkuliahan dengan perasaan tidak berdosa. Bagi mereka, dunia pendidikan (kaderisasi) adalah dunia yang politis, penuh pencitraan dan ajang untuk mencuci dosa-dosanya.

Kaum pragmatisme dalam perjalan sejarahnya akan selalu bertentangan dengan para idealis yang mungkin tidak sesejahtera kaum pragmatis. Para idealis menginginkan sebuah perubahan karena berpemikiran jernih, tulus, dan berpangkal pada posisi, potensi dan peran mereka sebagai mahasiswa. Mereka berkeinginan untuk memajukan kelompok atau institusi. Mereka meyakini bahwa perubahan institusi merupakan salah satu upaya untuk menuju masa depan yang lebih baik agar dapat dinikmati oleh semua pihak dan generasi yang akan datang.

Mereka sudah terjebak kepada pragmatisme. Dengan dalih hubungan baik ataupun untuk generasi selanjutnya mereka menikmati segala hal fasilitas dan meninggalkan cita-citanya yang dulu dibelanya dengan sebuah idealisme kesejahteraan dan keadilan bagi semua. Kaum pragmatis memiliki kecenderungan besar untuk menjadi oportunis. Oportunis adalah menangkap peluang. namun, jika ini dijadikan sifat kepada seseorang hingga disebut oportunistik, sangatlah berbahaya. Oportunistik menjadi sangat berbahaya karena orang semacam ini tidak bisa dipercaya dan tidak layak dijadikan sahabat. Kaum pragmatis-oportunistik hanya akan bersahabat dengan segala hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Egois adalah ciri khas orang yang bersifat opportunistik.

Mereka yang dulu dengan idealismenya membela dunia marjinalitas dan pendidikan telah tersungkur dengan pragmatisme jabatan dan status sosial mereka. Yang kemarin adalah kawan berubah menjadi lawan karena pengingkaran pada jati diri dan komitmennya.

Mungkin ada benarnya kata Soe Hok Gie Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan

Ryan Arifianto Nugroho 19008144