Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS

ATRESIA ANI

Disusun oleh: Ratna Eka Puspita Sari 107103002412

Pembimbing: dr. Nanok Edi Sutiono, SpB, SpBA

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah RSUP Fatmawati Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2012

LEMBAR PERSETUJUAN

Presentasi Kasus dengan Judul Atresia Ani Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik ilmu bedah di RSUP Fatmawati periode 19 November 2011 26 Februari 2012

Jakarta, Januari 2012

(dr. Nanok Edi Sutiono, SpB, SpBA)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah presentasi kasus ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun judul yang penulis pilih untuk penulisan makalah presentasi kasus ini adalah Atresia Ani. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah mencurahkan segala pikiran dan kemampuan yang dimiliki. Namun tetap ada hambatan dan kendala yang harus dilewati. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Nanok Edi Sutiono, SpBA selaku pembimbing makalah presentasi kasus dan seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Jakarta, Januari 2012

Penulis

BAB I ILUSTRASI KASUS

1.1 Identitas Pasien Nama No RM Usia Jenis kelamin Alamat Pekerjaan orang tua Agama Bangsa : By. Ny. Nurjanah : 1115536 : 1 hari : Laki-laki : Taman Sari II no.62 : Karyawan : Islam : Indonesia

1.2 Anamnesis Diambil secara Tgl Jam : Alloanamnesis dengan ayah pasien : 05 Januari 2012 : 19.30 WIB

a. Keluhan Utama Tidak memiliki anus sejak lahir b. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RSUP Fatmawati dibawa oleh ayahnya dengan keluhan tidak memiliki anus sejak dilahirkan 21 jam SMRS.Pasien lahir normal, cukup bulan dan ditolong oleh bidan dengan berat lahir 2300 gr dan panjang badan 45 cm. proses

kelahiran sekitar 4 jam. Saat dilahirkan bidan langsung memberitahu keluarga bahwa pasien tidak memiliki anus, setelah itu keluarga langsung membawa pasien ke RSUP untuk ditangani lebih lanjut. 1 hari ini pasien sudah BAK sebanyak 4x, pasien tenang, tidak rewel, dan belum mengkonsumsi ASI.

c. Riwayat Penyakit Dahulu Selama masa kehamilan ibu pasien menyangkal pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, tidak pernah mengalami trauma, dan rutin control ke Bidan. d. Riwayat Penyakit Keluarga Dalam keluarga pasien juga ada pernah mengalami keluhan yang sama dari garis ibu

1.3 Pemeriksaan Fisik Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Gizi Mobilisasi Tanda vital Nadi Pernapasan Suhu tubuh Kulit Kepala Rambut Wajah Kulit Mata Telinga Hidung Leher Paru : 108 kali / menit : 28 kali / menit : 36,7 oC : warna sawo matang, turgor baik : normochepali : warna hitam, distribusi merata : simetris : warna sawo matang, turgor baik : konjungtiva pucat -/-, sclera ikterik -/: normotia : sekret -/-, hiperemis -/: trakea lurus di tengah, KGB tidak membesar : suara napas vesikuler di kedua lapang paru, rhonkii -/-, wheezing -/Jantung : bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-) : Tampak sakit ringan : Compos mentis : Kesan gizi baik : Aktif

Abdomen

Inspeksi Palpasi

: datar : Distensi (-), defans muscular (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi Auskultasi Ekstremitas

: timpani : bising usus (+) normal : akral hangat (+)

Status Lokalis Regio Anus Inspeksi : Tidak tampak adanya anus, fistel (-)

1.4 Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Hematologi Hb Ht Leukosit Trombosit VER/HER/KHER/RDW Nilai Satuan Nilai Normal

18,0 54 23.0 339

g/dl % Ribu/ul Ribu/ul

15,2 23,6 44 72 9,4 34. 0 150 440

VER HER KHER RDW Gol. Darah Glukosa sewaktu Glukosa darah sewaktu Kalium Klorida Fungsi Hati SGOT SGPT APTT Control APTT PT Kontrol APTT INR

10,2 34,1 33,4 15,5 AB/Rh (+) 118 4,41 109 87 8 37.2 34,2 14.0 14,0 1,07

Fl Pg g/dl %

80,0-100,0 26,0-34,0 32,0-36,0 11,5-14,5

mg/dl mmol/L mmol/L U/l U/l Dtk Dtk Dtk Dtk

70 140 3,10 5,10 95 108 0 34 0 40 27,4 - 39,3 11,3 14,7

1.5 Resume Bayi laki-laki, 1 hari datang dengan keluhan tidak memiliki anus sejak dilahirkan 21 jam SMRS.Pasien lahir normal, cukup bulan dan ditolong oleh bidan dengan berat lahir 2300 gr dan panjang badan 45 cm. 1 hari ini pasien sudah BAK sebanyak 4x, pasien tenang, tidak rewel, dan belum mengkonsumsi ASI. Selama hamil ibu pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, tidak pernah mengalami trauma, tidak pernah mengalami sakit berat. Dalam keluarga pasien juga ada pernah mengalami keluhan yang sama dari garis ibu.

Pada hasil pemeriksaan fisik didapatkan semua masih dalam batas normal, kecuali pada: Regio anus didapatkan dari inspeksi: tidak tampak anus. Dari hasil pemeriksaan laboratorium semuanya relative dalam batas normal.

1.6 Diagnosis Kerja Atresia Ani

1.7 Diagnosis Banding 1.8 Pemeriksaan Anjuran Foto rontgen knee chest position

1.9 Penatalaksanaan Kolostomi

3.10 Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan fisiologi anorektum

Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi ecto, derm, sedangkan rectum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal anus dan rectum ini, perdarahan, persarafan serta penyaliran vena dan limfnya. Berbeda juga, demikian pula epitel yang menutupinya. Rectum dilapisi oleh mu kosa glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan dari epitel berlapis gepeng kulit luar.tidak ada yang disebut mukosa anus. Daerah kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel. Kanalis analis dan kulit luar sekitarnya kaya akan persarafan sensoris somatic dan peka terhadap rangsangan nyeri, sedangkan mukosa rectum mempunyai persarafan otonom dan tidak peka terhadap nyeri. (1) Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 cm. sumbunya mengarah ke ventrokranial yaitu kea rah umbilicus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal dengan rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi sudut ini menjadi lebih besar. Batas atas kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata, atau linea dentate. Di daerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara kolumna rect um. Infeksi yang terjadi di sini dapat menimbulkan abses anorektum yang dapat membentuk fistel. Lekukan antar-sfingter sirkuler dapat diraba di dalam kanalis sewaktu melakukan rectal touch dan menunjukkan batas antara sfingter intern dan sfingter ektern (garis hilton). (1) Cincin sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter intern dan sfingter ekstern. Sisi posterior dan lateral cincin ini terbentuk dari fusi sfingter intern, otot longitudinal, bagian tengah otot levator (puborektal) dan komponen sfingter. Otot sfingter internnus terdiri atas serabut otot polos, sedangkan otot sfingter eksternus terdiri atas serabut otot lurik. (1)

Gambar 2.1 Hubungan normal antara kompleks otot striata pelvis dan rectum (2)

2.1.1.

Kontinensia

Kontinensia anus bergantung pada konsistensi feses, tekanan di dalam anus, tekanan di dalam rectum dan sudut anorektal. makin encer feses, makin sulit untuk menahannya di dakam usus. Tekanan pada suasana istirahat di dalam anus berkisar antara 25-100 mmHg dan di dalam rectum 5-20 mmHg. Jika sudut antara rectum dan anus lebih dari 80 derajat, feses sukar dipertahankan. (1)

2.1.2.

Defekasi

Pada suasana normal, rectum kosong . pemindahan feses dari kolon sigmoid ke dalam rectum kadang-kadang dicetuskan oleh makan, terutama pada bayi. Isi sigmoid yang masuk ke rectum akan dirasakan oleh rectum sehingga menimbulkan keinginan untuk defekasi. Rectum mempunyai kemampuan khas untuk mengenal dan memisahkan bahan padat, cairan dan gas . Sikap badan sewaktu defekasi, yaittu sikap duduk atau jongkok, memegang peranan berarti. Defekasi terjadi akibat reflex peristaltis rectum, dibantu oleh mengedan dan relaksasi sfingter usus eksterna. Syarat untuk defekasi normal ialah persarafan sensible untuk sensasi isi rectum dan persarafan sfingter anus untuk kontraksi dan relaksasi yang utuh, peristaltis kolon dan rectum tidak terganggu, dan struktur anatomiorgan panggul yang utuh. (1)

2.2. Kelainan Bawaan y Etiologi dan klasifikasi Kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan , fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaan anus umumnya tidak ada kelainan rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter interna mungkin tidak memadai. Kelainan bawaan terjadi karena adanya gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan perkembanagan septum urorektal yang memisahkannya. (1,2)

Tabel 2.1 Klasifikasi wingspread Laki-laki Kelompok I

Kelainan Fistel urin

Tindakan Kolostomi neonates

Atresia rectum Perineum datar Fistel datar Invertogram: udara > 1 cm dari kulit Kelompok II Kelainan Fistel perineum Membrane anal Stenosis anus Fistel tidak ada Invertogram : udara < 1 cm dari kulit

Operasi definitive Pada usia 4-6 bulan

Tindakan Operasi langsung pada nonatus

Perempuan Kelompok I Kelainan Kloaka Fistel anovestibuler atau rektovestibuler Atresia rectum Fistel tidak ada Invertrogram: udara > 1 cm dari kulit Kelompok II Fistel perineum Stenosis anus Fistel tidak ada Invertrogram: udara > 1 cm dari kulit Operasi langsung pada neonates Tindakan Kolostomi neonates

Gambar 2.2 Gambaran anus imperforate letak rendah pada bayi laki-laki (2)

Penanganan atresia anus dilakukan sesuai dengan letak ujung atresia terhadap otot dasar panggul. Untuk itu, anomaly dibagi menjadi supralevator dan translevator. Pada kelainan rendah (atau distal), rectum menembus otot levator anus sehingga jarak antara kulit dan ujung rectum palinhg jauh 1 cm. kelainan intermedia merupakan kelainan menengah, ujung rectum mencapai tingkat otot levator anus tetapi tidak menembusnya, sedangkan supralevator yang disebut kelainan tinggi (proksimal) tidak mencapai otot levator anus, dengan jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum lebih dari 1 cm.
(1)

Kelainan rendah dapat merupakan stenosis anus yang hanya membutuhkan dilatasi membrane atau merupakan membrane anus tipis yang mudah dibuka segera setelah anak lahir. Agenesis anus yang disertai fistel perineum juga dapat ditangani segera setelah anak lahir. Kelainan tinggi biasanya disertai dengan fistel ke saluran kencing atau ke saluran genital. Untuk menentukran golongan malformasi, dipakai invertogram yang dapat dibuat setelah udara yang ditelan oleh bayi mencapai rektum. Invertogram adalah tehnik pengambilan foto untuk menilai jarak punting distal rectum terhadap tanda timah atau logam lain pada tempat bakal anusdi kulit peritoneum. (1)

Pemeriksaan Pemeriksaan rutin dilakukan untuk kelainan lain. Lebih dari 50% penderita mempunyai kelainan congenital lain. Kelainan yang ditemukan adalah saluran genito-urinal (30%), kelainan jantung vagina. (1) (75%). Pemeriksaan khusus pada perempuan: neonates perempuan

memerlukan pemeriksaan khusus karena sering didapati adanya fistel ke vestibulum atau

Tatalaksana Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindak bedah yang disebut diseksi posterosagital atau plastic anorektal posterosagital. Ada dua kolostomi yang dianjurkan dipakai pada neonates dan bayi, yaitu transversokolostomi dan sigmoidostomi. Prognosis tergantung dari fungsi klinis. Dengan khusus, dinilai pengendalian defekasi, pencemaran pakaian dalam, sensibilitas rectum dan kekuatan kontraksi otot sfingter pada rectal touch. (1)

2. 3. Atresia Ani 2.3.1. Definisi Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus, rectum atau keduanya. Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum, atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus. (2,3) Atresia berasal dari bahasa Yunani artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh,

misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya. (3) Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu: 1. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus 2. Membran anus yang menetap

3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam- macam jarak dari peritoneum 4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung

2.3.2. Epidemiologi Malformasi anorektal dan urogenital jarang berakibat fatal, meskipun beberapa anomali terkait (jantung, ginjal) dapat mengancam kehidupan. Perforasi usus atau komplikasi pasca operasi, septik pada bayi baru lahir dengan anus imperforata dapat mengakibatkan kematian atau morbiditas parah. (3)

Morbiditas umumnya timbul dari 2 sumber berikut: y Malformasi yang berhubungan dengan morbiditas Morbiditas malformasi terkait berhubungan dengan malformasi terkait motilitas dubur, persarafan anorektal, dan otot sphincteric. Morbiditas yang paling umum dalam kategori ini adalah konstipasi. Kebanyakan anak memiliki kelainan ringan yang sering mengakibatkan konstipasi karena alasan yang masih belum jelas. Jika tidak diobati, hasil sembelit kronis di dilatasi dubur, yang memperburuk sembelit. Hal ini menjadi lingkaran setan, yang, jika tidak diobati, hasil dalam melimpah, juga dikenal sebagai encopresis. impaksi tinja dan pseudoincontinensia

Bentuk yang paling parah kelainan terkait morbiditas adalah inkontinensia feses dan inkontinensia urin. Malformasi lebih tinggi, seperti longcommon-channel cloacae dan

prostat atau kandung kemih-leher fistula, yang berhubungan dengan yang sedikit saraf dan pembentukan otot, semua yang meningkatkan kemungkinan inkontinensia feses atau urin. Malformasi yang secara langsung melibatkan mekanisme sfingter ic, dan, khususnya, di mana setiap malformasi rektum atau vagina bergabung dengan saluran kemih pada leher kandung kemih, sering menyebabkan inkontinensia ketidakmampuan untuk menghindarinya. (2,3) atau

2.3.3. Etiologi Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur. 2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan

3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum

bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

2.3.3. Patofisiologi Pada embriogenesis malformasi ini masih belum jelas. Rektum dan anus diyakini berkembang dari bagian dorsal rongga hindgut atau kloaka saat perkembangan lateral mesenkim membentuk septum urorectal di garis tengah. Septum ini memisahkan rektum dan kanalis anal bagian dorsal dari kandung kemih dan uretra. Duktus kloaka adalah komunikasi kecil antara 2 bagian dari hindgut. Perkembangan dari septum urorectal diyakini untuk menutup saluran ini pada usia kehamilan 7 minggu. Selama waktu ini, bagian ventral urogenital memperoleh pembukaan eksternal; membran anus bagian dorsal terbuka setelahnya. Anus berkembang oleh fusi dari tuberkel dubur dan invaginasi eksternal, yang dikenal sebagai proctodeum, yang memperdalam ke arah rektum tetapi dipisahkan oleh membran anus. Pemisahan membran ini harus terrpecah pada usia kehamilan 8 minggu. (3)

Interferensi dengan pengembangan struktur anorektal pada berbagai tahap mengarah ke berbagai anomali, mulai dari stenosis anus, rupture inkomplit dari membran anal, atau agenesis anus untuk menyelesaikan kegagalan bagian atas kloaka untuk turun dan kegagalan proctodeum untuk invaginasi. Komunikasi lanjutan antara saluran urogenital dan bagian dubur dari pelat kloaka menyebabkan fistula atau fistula rectourethral rectovestibular. Sfingter ani eksternal, yang berasal dari mesoderm eksterior, biasanya ada tapi memiliki berbagai tingkat pembentukan, mulai dari otot yang kuat (fistula perineal atau vestibular) dengan hampir tidak ada otot (kompleks lama-umum-saluran kloaka, prostat atau kandung kemih-leher fistula) . (3) Atresia ani atau anus imperforate dapat disebabkan karena : 1) Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik 2) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur 3) Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan 4) Berkaitan dengan sindrom down 5) Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan Terdapat tiga macam letak pada atresia ani: a) Tinggi (supralevator) rektum berakhir di atas M.Levator ani (m.puborektalis) dengan

jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum >1 cm. Letak supralevator biasanya disertai dengan fistel ke saluran kencing atau saluran genital b) Intermediate c) Rendah rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak menembusnya

rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak antara kulit dan ujung

rectum paling jauh 1 cm. Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina/perineum Pada laki-laki umumnya letak tinggi, bila ada fistula ke traktus urinarius.

2.3.4 Klasifikasi Adapun Klasifikasi atresia ani adalah sebagai berikut : 1. Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses tidak dapat keluar. 2. Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus. 3. Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara rectum dengan anus. 4. Rectal atresia adalah tidak memiliki rectum (4,5)

2.3.5. Manifestasi Klinis y y y y y y y Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada fistula). Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam. Pada pemeriksaan rectal touch terdapat adanya membran anal. Perut kembung.

Gambar 2.3 Atresia ani pada bayi tanpa fistel

2.3.6. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain : a. Asidosis hiperkloremia. b. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan. c. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah). d. Komplikasi jangka panjang. - Eversi mukosa anal - Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis) e. Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training. f. Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi) g. Prolaps mukosa anorektal

2.3.7. Diagnosis Berdasarkan gambaran klinis, lesi intermediet diperlakukan sebagai malformasi letak tinggi, dengan demikian dua kelompok tersebut dipertimbangkan secara bersama-sama, karena tindakan pembedahan pada malformasi letak tinggi ataupun intermediet sangat berbeda dari lesi letak rendah. Tujuan diagnosis primer untuk mengetahui apakah pasien dengan anus imperforate tersebut menderita malformasi letak tinggi atau letak rendah. Tujuan diagnostic sekunder untuk mengetahui jenis malformasi anorektal yang lebih spesifik yang berhubungan dengan fistula rectouretral ataupun rectourinary. Bayi dengan anus imperforate juga harus dinilai secara komprehensif sebagai anomaly congenital yang berhubungan. (2,3)

Gambar 2.4 (A) The rectal pouch ends cephalad to the pubococcygeal line This location of the rectourethral fistula is typical (2)

Gambar 2.5 (B) Coronal view showing incomplete development of the rectal pouch within the striated muscle complex. The rectourethral fistula is shown. (2)

2.3.8. Penatalaksanaan a. Pembedahan Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan kelainan. Semakin tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan kolostomi beberapa hari setelah lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12 bulan. Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah baik status nutrisnya. Gangguan ringan diatas dengan menarik kantong rectal melalui afingter sampai lubang pada kulit anal fistula, bila ada harus tutup kelainan membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal membran tersebut dilubangi degan hemostratau skapel. (2,3,4) b. Pengobatan 1) Eksisi membran anal (membuat anus buatan) 2) Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan korksi sekaligus (pembuat anus permanen)

2.3.7. Pemeriksaan Penunjang a) Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik yang umum dilakukan pada gangguan ini. b) Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel mekonium.

c) Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi (teknik wangensteen-rice) dapat menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada mekonium yang mencegah udara sampai keujung kantong rectal. d) Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal kantong. e) Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan jarum tersebut sampai melakukan aspirasi, jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm Derek tersebut dianggap defek tingkat tinggi. f) Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan  Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di daerah tersebut.  Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian baru lahir dan gambaran ini harus dipikirkan kemungkinan atresia reftil/anus impoefartus, pada bayi dengan anus impoefartus. Udara berhenti tiba-tiba di daerah sigmoid, kolon/rectum.  Dibuat foto anteroposterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala dibawah dan kaki diatas pada anus benda bayangan radio-opak, sehingga pada foto daerah antara benda radio-opak dengan dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur.

BAB III ANALISIS KASUS

Pasien adalah seorang bayi laki-laki berusia 1 hari dengan keluhan tidak memiliki anus dan didiagnosis sebagai atresia ani, dimana Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna. Saat dilahirkan, pada daerah anus pasien tidak tampak adanya lubang anus. Pasien lahir dengan proses persalinan normal yang tidak terlalu lama (4 jam), lahir cukup bulan dengan ketuban tidak pecah dini, mekonium tidak keluar dalam 24 jam pasca kelahiran. hal tersebut di atas mengarah kepada tanda dari atresia ani pada bayi tanpa disertai adanya fistel.

Dari hasil pemeriksaan fisik abdomen belum didapatkan adanya distensi abdomen, Bising usus yang meningkat ataupun adanya tanda-tanda obstruksi usus lainnya, hal tersebut dapat terjadi karena jarak antara proses kelahiran dengan pemeriksaan masih di bawah 24 jam

sehingga pasien belum menunjukkan adanya gejala dari obstruksi usus akibat anus imperforate.

Dari data anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien, untuk memperkirakan kemungkinan penyebab ataupun factor resiko terjadinya atresia ani didapatkan selama masa kehamilan ibu pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, namun terdapat riwayat genetic dari keluarga ibu pasien sebelumnya ada yang menderita kelainan yang sama. Sehingga kesimpulan sementara kemungkinan penyebab dari terjadinya anus imperforate pada pasien adalah adanya riwayat genetic yang memicu terjadinya gangguan organogenesis dalam

kandungan, karena ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan.

Untuk menentukan jenis kelainan dari anus imperforata tersebut dapat digunakan pemeriksaan penunjang diataranya dengan adalah:   Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di daerah tersebut. Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian baru lahir dan gambaran ini harus dipikirkan kemungkinan atresia reftil/anus impoefartus, pada bayi dengan anus imporferata. Udara berhenti tiba-tiba di daerah sigmoid, kolon/rectum.  Dibuat foto anteroposterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala dibawah dan kaki diatas pada anus benda bayangan radio-opak, sehingga pada foto daerah antara benda radio-opak dengan dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur. pemeriksaan radiologis yang dapat ditemukan

BAB IV KESIMPULAN

Penegakkan diagnosis atresia ani atau anus imperforate pada pasien ini berdasarkan data anamnesis, dan pemeriksaan fisik serta memperkirakan kemungkinan adanya factor resiko terjadinya atresia ani pada pasien. Untuk menentukan jenis kelainan anus imperforate diajurkan menggunakan pemeriksaan radiologi sekaligus untuk melihat apakah sudah mulai adanya tandatanda obstruksi di dalam usus.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Sjamsuhidayat, R. Jong, WD. Buku ajar ilmu bedah edisi 2: anorektum . Jakarta: EGC. 2003

2. Mulholland, Michael W, Lillemoe, Keith D. Anorectal Malformation in: Greenfield's Surgery: Scintific Principles and Practice, 4th Edition. New York: Mc-Graw Hill.2006

3. Nelson, G Rosen, MD. Pediatric Imperforate Anus. 25 januari 2010 (cited 09 januari 2012). Available from: http://emedicine.medscape.com/article/929904-overview.

4. Carpenito, Lynda Juall. Buku Saku Diagnosa Kedokteran Klinis, Edisi 6. Jakarta : EGC. 2000