Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Kematian ibu bersalin dan ibu hamil sekarang sudah mencapai 25-50% hal ini merupakan masalah besar pada negara berkembang, kematian ini terjadi pada wanita usia subur. Kematian pada wanita bersalin merupakan penyebab kematian terbesar kematian pada usia puncak produktifitasnya. (Arifin, 2003) Menurut Word Health Organization (WHO) memperkirakan ada 500.000 kematian ibu melahirkan di seluruh dunia setiap tahun. 99 persen tejadi di negara berkembang. Dan salah satunegara berkembang adalah indonesia. Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian maternal di indonesia mencapai 248/100.000 kelahiran hidup. Di negara maju hanya 27/100.000 kelahiran hidup. Di negara berkembang Aki kira-kira mencapi 18 kali lebih tinggi. Sekitar 480/100.000 kelahiran hidup,salah satu penyebabnya karena pertolongan persalinan di negara berkembang ,khususnya di indonesia di tolong oleh tenaga dukun. Penyebab utama kematian ibu di negara berkembang adalah faktor obstetri langsung, yaitu perdarahan postpartum, infeksi dan eklamsi (rahmaningtyas, wijayanti, & kokoeh, 2010)

Kelainan perdarahan postpartum yang terjadi pada kala ketiga (kala uri) yaitu retensio plasenta, inversion uteri, dan perdarahan robekan jalan lahir. Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang tejadi dalam waktu 24 jam pertama. Menurut (manuaba, 1998), perdarahan postpartum merupakan perdarahan lebih dari 500-600 ml (Rukiyah & Yulianti, 2010). Perdarahan postpartum merupakan penyebab kematian ibu , kematian ibu ini disebabkan oleh perdarahan postpartum (plasenta previa, solusio plasenta , kehamilan ektopik, plasenta previa, solusio plasenta, rupture uteri) (Sastrawinata & dkk, 2005) Salah satu penyebab perdarahan adalah robekan jalan lahir (rupture perineum).robekan ini dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan karena serviks atau vagina (saifudin, 2001) Ruptur perineum adalah perlukaan jalan lahir yang terjadi pada saat kelahiran bayi baik menggunakan alat maupun tidak menggunakan alat. Ruptur perineum disebabkan paritas, jarak kelahiran, berat badan bayi, pimpinan persalinan tidak sebagaimana mestinya, ekstraksi cunam, ekstraksi fakum, trauma alat dan episiotomi. (Nasution, 2007) Klinik permadani merupakan salah satu klinik yang menerima persalinan dan memiliki alat penanganan ruptur medic lengkap. Hal yang mendasari penelitian dilakukan di klinik permadani karena masih banyak ibu hamil maupun ibu bersalin termasuk ditemukannya rupture perineum pada ibu bersalin, dan peneliti ingin

mengetahui gambaran faktor faktor yang menyebabkan terjadinya rupture perineum pada ibu bersalin. Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan penelitian tentang gambaran faktorfaktor penyebab terjadinya ruptur perineum pada ibu bersalin di klinik permadani tahun 2012.

1.2 Perumusan Masalah Bagaimanakah gambaran faktor-faktor penyebab rupture perineum pada ibu bersalin di klinik permadani tahun 2012. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor-faktor penyebab rupture perineum pada ibu bersalin di klinik permadani tahun 2012. 1.3.2 Tujuan Khusus mengetahui karakteristik ibu bersalin berdasarkan umur,

1. Untuk

pekerjaan,pendidikan, 2. Untuk mengetahui gambaran faktor- faktor yang berhubungan dengan terjadinya rupture perineum pada ibu bersalin di klinik permadani tahun 2012 berdasarkan paritas. 3. Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya rupture perineum pada ibu bersalin di klinik permadani tahun 2012 berdasarkan jarak kelahiran

4. Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya rupture perineum pada ibu bersalin di klinik permadani tahun 2012 berdasarkan berat badan bayi 5. Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya rupture perineum pada ibu bersalin di klinik permadani tahun 2012 berdasarkan riwayat persalinan.

1.4 Manfaat penelitian 1. Bagi praktek pelayanan kebidanan Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat menjadi masukan bagi peraktek pelayanan kebidanan untuk menurunkan angka kejadian rupture perineum 2. Bagi institusi pendidikan Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan dan sebagai aplikasi ilmu yang diperoleh selama perkuliahan. 3. Bagi ibu nifas Sumber informasi yang dapat di jadikan sebagai pedoman manambah ilmu pengetahuan serta mengurangi angka mobilitas bagi ibu masa nifas. 4. Bagi peneliti Penelitian ini menjadi pengalaman bagi peneliti terutama dalam meneliti faktorfaktor yang berhubungan dengan rupture perineum dan bagi peneliti selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan acuan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persalinan 2.1.1 Persalinan Normal Persalinan kajadian fisiologi yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan kejadian sosial bagi ibu dan keluarga. Peran ibu adalah melahirkan , sedangkan peran keluarga adalah memberikan dukungan kepada ibu pada saat persalinan. (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) 2.1.2 Istilah yang berkaitan dengan persalinan Menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) ada beberapa istilah yang berkaitan dengan persalinan yaitu: 1. Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kejalan lahir. 2. Kelahiran adalah proses pengeluaran janin dan ketuban yang keluar melalui jalan lahir. 3. Paritas adalah jumlah janin yang telah dilahirkan dengan berat 500 gram, baik dilahirkan hidup maupun kelahiran mati. 4. Delivery (kelahiran) adalah keluarnya janin termasuk plasenta

5. Gravida

( kehamilan) adalah jumlah kehamilan termasuk abortus,

molahidatidosa dan kehamilan ektopik yang pernah dialami ibu. 6. Persalinan dan kehamilan normal adalah peroses persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 37-42 minggu), lahir dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam waktu 18-24 jam 7. Spontan adalah persalinan terjadi karena dorongan kontaraksi uterus dan kekutan mengejan ibu. 2.1.3 Beberapa Defenisi Persalinan 1. Persalinan menurut (manuaba, 1998) yaitu peroses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat lahir di luar kandungan, melalui jalan lahir ataupun jalan lain dan lahir dengan bantuan atupun tanpa bantuan. 2. Persalinan menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) yaitu proses membuka maupun menipisnya jalan lahir dan janin turun ke jalan lahir. 3. Persalinan Menurut (Fakultas kedokteran Univ Padjajaran Bandung, 1998) yaitu persalinan dengan persentase kepala di dalam waktu 24 jam tanpa menimbulkan kerusakan pada ibu dan anak. 4. Persalinan menurut (T.Y, 2005) yaitu persalinan spontan yang terjadi dalam waktu 8 jam untuk ibu multipara dan 12-13 jam untuk ibu primipara.

2.1.4 Bentuk- Bentuk Persalinan Menurut (manuaba, 1998) ada beberapa bentuk persalinan berdasarkan defenisi adalah sebagai berikut: 1. Persalinan spontan Persalinan spontan adalah seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri 2. Persalinan buatan Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar 3. Persalinan anjuran 2.1.5 Sebab-Sebab Mulainya Persalinan Bagaimana terjadinya persalinan belum diketahui pasti sehingga ada beberapa teori yang berkaitan dengan kekuatan his(kontraksi) Menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) ada beberapa horman yang dominan pada kehamilan, yaitu: 1. Estrogen a. Meningkatkan sensitifitas otot rahim b. memudahkan penerimaan rangsangan dari luar, seperti rangsangan oksitosin, prostaglandin, dan rangsangan mekanis.

2. Progesteron a. Menurunkan sensitivitas otot rahim b. menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar yaitu rangsangan oksitosin, prostaglandin,dan rangsangan mekanis, dan c. menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi. Kedua hormon tersebut bekerja dengan seimbang sehingga kehamilan dapat di pertahankan. (manuaba, 1998) Ada beberapa teori tentang proses persalinan yaitu: 1. Teori keregangan a. Otot rahim yang mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. b. Setelah melewati batas tersebut kontraksi sehingga persalinan dapat mulai c. Contohnya pada hamil ganda sering terjadi kontraksi setelah keregangan tertentu, sehingga menimbulkan persalinan. 2. Teori penurunan progesteron a. Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur hamil 28 minggu,dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. b. Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap oksitosin. c. Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat progesteron tertentu.

3. Teori oksitosin internal a. Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior b. Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitifitas otot rahim, sehingga dapat terjadi braxton hicks. c. Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktifitas, sehingga persalinan dapat mulai 4. Teori prostaglandin a. Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15 miggu, yang dikeluarkan oleh desidua. b. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan konsentrasi otot rahim sehingga hasil konsepsi dapat dikeluarkan. c. Prostaglandin dianggap dapat memicu terjadinya persalinan 5. Teori hipotalamus-pituitari dan glandula suprarenalis a. Kehamila dengan anensefalus dapt menyebabkan keterlambatan persalinan, karena tidak dapat membentuk hipotalamus (linggin,1973) b. Menurut malpar (1933) mengangkat otak kelinci percobaan , hasilnya kehamilan kelinci berlangsung lebih lama. c. Pemberian kortikosteroid menyebabkan maturitas janin, induksi (mulainya) persalinan. d. Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara hipotalmus pituitari dengan mulainya persalinan. e. Glandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan.

2.2 Ruptur Perineum 2.2.1 Defenisi Ruptur Perineum Ruptur perineum menurut kamus kedokteran (Ramali & Pamoentjak, 2005) rupture yaitu koyak, robek. Ruptur perineum adalah koyaknya jaringan perineum pada saat persalinan.Ruptur perineum adalah perlukraan yang terjadi pada saat perslinan (mochtar,1998). Ruptur perineum sering terjadi pada persalinan pertama ataupun persalinan selanjutnya. (manuaba, 1998). Ruptur perineum dapat dihindari dengan menjaga agar dasar panggul tidak dilewati oleh kepala janin. (RUkiyah, 2010) 2.2.2 Derajat Laserasi Jalan Lahir Menurut (Sarwono, 2007) perlukaan jalan lahir dapat dibagi dalam: Tingkat I : bila perlukaan hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulit perineum Tingkat II : perlukaan lebih dalam dari tingkat I yaitu ke vagina dan perineum dengn melukai fasima serta otot-otot diafragma urogonitale Tingkat III : perlukaan lebih luas dari tingkat I dan menyebabkan muskulus sfingter ani eksternus terputus di depan.

Menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) robekan perineum dibagi menjadi: Derajat I Derajat II : mukosa vagina, fauchette posterior, kulit perineum : Mukosa vagina, fauchette posterior, kulit perineum, otot perineum Derajat III : Mukosa vagina, fauchette posterior, kulit perineum, otot perineum, otot spinter ani eksterna. Derajat IV : Mukosa vagina, fauchette posterior, kulit perineum, otot perineum, otot perineum, otot spinter ani eksterna, dinding rektum anterior perlukaan perineum biasanya ada unilateral dan bilateral namun umumnya perlukaan perineum terjadi unilateral. Umumnya perlukaan perineum yang menghadap muka janin. Perlukaan perineum dapat juga mengakibatkan robekan pararektal, sehingga rektum dapat terlepas dari jaringan sekitarnya. (Sarwono, 2007) 2.2.3 Penatalaksanaan Ruptur Perineum 2.2.3.1. Perlukaan Jalan Lahir Derajat 1 a. Perlukaan perineum yang melebihi derajat 1 harus dijahit. Ini dapat dilakukan sebelum plasenta lahir, namun dapat pula di lakukan setelah plasenta keluar.penderita harus pada posisi litotomi dan dilakukan pembersihan antiseptik pada luka dengan cairan antiseptik dan

diobservasi luas robekan ditentukan dengan seksama. (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) b. Menurut (Sarwono, 2007) perlukaan derajat 1 tidak perlu dilakukan penjahitan.bila hanya ada luka lecet. c. Menurut (RUkiyah, 2010) perlukaan derajat 1 umumnya tidak memerlukan penjahitanhanya saja perlu mengkaji ulang prinsip dasar keperawatan, memberikan dukungan emosional, dan memastikan tidak ada alergi terhadap obat lidokain, ataupun obat-obat sejenisnya. 2.2.3.2 Perlukaan Jalan Lahir Derajat II a. Menurut (Sarwono, 2007) dilakukan penjahitan dengan cara cermat. Lapisan otot dijahit simpul dengan katgut no.0 atau 00, dengan mecegah agar tidak ada ruang mati. Ruang mati tersebut dapat menyebabkan pembekuan darah dan terjadi peradangan.lipisan ini dapat dijahit dengan benang katgut atau benang sutera secara simpul. Jahitan diharapkan agar tidak begitu ketat, karena bekas penjahitan tersebut akan menimbulkan edema. b. Menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) setelah diberi anestesia lokal otot-otot diafragma uogenitalis disatukan digaris tengah kemudian luka pada vagina dan kulit perineum, dengan mengikut sertakan jaringan dibawahnya.

c. Menurut (utami, 2009) penjahitan laserasi derajat I dan II jika di lihat bergerigi atau tidak rata, harus diratakan sebelum dilakukan penjahitan. Kemudian catgut dijahit sampai ke selaput 2.2.3.3 Perlukaan Jalan Lahir Derajat III a. menurut (Sarwono, 2007) penanganan pada perlukaan derajat III harus teknis penjahitan khusus. Pertama penanganannya yaitu: menemukan ujung muskulus sfinger ani ekstrnus yang terputus. Kedua ujung otot dijepit dengan cunam Allis, kemudian memerlukan dijahit dengan benang cutgut no.0 atau 00, sehingga sfigner ani daptterbentk kembali. b. Menurut (utami, 2009) penanganan pada perlukaan pada derajat III penjahitan yang pertama pada dinding rektum yang robek,kemudian fasia septum dijahit dengan cutgut kromik sehingga dapat bertemu kembali. 2.2.2.4 Perlukaan Jalan Lahir Derajat IV a. menurut (utami, 2009), ujung-ujung sfinger ani yang terppisah karena robekan harus di satukan kembali dengan cara mengklem pean lurus. Kemudian dijahit dengan jahitan 2-3 dengan catgut kromik sehingga dapat menyatu kembali. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti pada perlukaan jalan lahir derajat I.

2.3 Faktor Faktor Penyebab Ruptur Perineum Menurut (utami, 2009) Pada persalinan seringkali menyebabkan perlukaan jalan lahir seperti pada dasar panggul ibu,servix uteri,ruptur uteri, uterus dan ruptur perineum spontan disebabkan karena beberapa faktor, yaitu faktor ibu, janin,faktor persalinan pervaginam, dan faktor dari penolong, dari faktor-faktor tersebut dapat diuraikan yaitu: 1. Faktor Ibu a. Paritas menurut kamus kebidanan (tiran, 2006) keadaan seorang wanita yang memiliki bayi yang lahir vieble. Sedangkan menurut (BBKBN, 2006) Banyaknya kelahiran hidup yang dimilki seorang wanita. Menurut (Sarwono, 2007) perlukaan jalan lahir pada primigravida tidak dapat dihindarkan. b. Meneran Meneran menurut (utami, 2009) secara fisiologis dorongan ingin meneran akan timbul pada ibu, pada saat pembukaan sudah lengkap. Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam memimpin ibu bersalin melakukan meneran untuk mencegah terjadinya ruptur perineum, diantaranya : 1. Menganjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya selama kontraksi. 2. Tidak menganjurkan ibu untuk menahan nafas pada saat meneran.

3. Mungkin ibu akan merasa lebih mudah untuk meneran jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, menarik lutut ke arah ibu, dan menempelkan dagu kedada. 4. Menganjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran. 5. Tidak melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi. Dorongan ini dapat meningkatkan resiko distosia bahu dan ruptur uteri. 6. Pencegahan ruptur perineum dapat dilakukan saat bayi dilahirkan terutama saat kelahiran kepala dan bahu.

2. Faktor Janin Berat Badan Bayi Lahir Manurut (kusmardani, 2009) bayi besar (makrosomia) yaitu berat badan lahir lebih dari 4000gram. Makrosomia disertai dengan meningkatnya resiko trauma persalinan melalui vagina seperti distosia bahu, kerusakan fleksus brakialis, patah tulang klavikula, dan kerusakan jaringan lunak pada ibu seperti laserasi jalan lahir dan robekan pada perineum. (utami, 2009) a. Presentasi Presentasi adalah bagian terbawah janin yang dapat diketahui pada pemeriksaan kehamilan atau pada pemeriksaan dalam. (utami, 2009).

Ada beberapa persentasi yang dapat menyebabkan ruptur perineum yaitu: 1. persentase muka persentase muka adalah letak kepala dengan defleksi maksmal, hingga occiput mengenai punggung dan muka terarah bawah, jika dilakukan pemeriksaan luar dada akan teraba seperti punggung. Persentase muka ini sering menyebabkan partus lama. Pada dagu yang anterorior mungkin menyebabkan persalinan dengain tejadinya defleksi.

(RUkiyah, 2010) 2. persentase bokong persantase bokong (letak sungsang) adalah letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang tereindah. Letak bokong dapat dibagi menjadi: letak bokong murni (frank breech), letak bokong kaki (complete breech), letak lutut, letak kaki (incomplete breech presentation). 3. persentase dahi menurut (Mochtar, 1998) persentase kepala adalah posisi kepala antara fleksi dahi berada pada posisi terendahdan tetap paling depan. Frekuensi persistan brow presentation jarang ditemukan, yang lebih sering ditemukan pada primi dan multi.

4. faktor persalinan pervaginam a. vakum ekstraksi menurut (Fakhrudin, 2009) Ekstraksi vakum adalah persalinan buatan yang dilakukan dengan cara membuat tekanan negative pada kepala janin sehingga terbentuk kaput buatan dan janin dapat dilahirkan pervaginam

b. ekstraksi cunam/forcep Menurut (Fakhrudin, 2009) Ekstraksi forceps atau ekstraksi cunam adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan tarikan cunam yang dipasang di kepala janin. c. Embriotomi
Menurut (utami, 2009) Embriotomi adalah prosedur penyelesaian persalinan dengan jalan melakukan pengurangan volume atau merubah struktur organ tertentu pada bayi dengan tujuan untuk memberi peluang yang lebih besar untuk kmelahirkan keseluruhan tubuh bayi tersebut.

d. Persalinan presipitatus Menurut (utami, 2009) persalinan presipitatus adalah persalinan berlangsung dengan cepat,dapat terjadi kurang lebih 3 jam. 5. faktor penolong persalinan

penolong persalinan adalah orang yang mampu memberikan persalinan. Pimpinan persalinan yang salah merupakan salah satu penyebab terjadinya ruptur perineum. (utami, 2009)

BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep Adapun yang menjadi kerangka konsep menurut tinjauan teoritis dan tujuan penelitian dapat dilihat pada bagan ini: \ Karakteristik 1. Umur 2. Pendidikan 3. pekerjaan

Penyebab Ruptur perineum

Faktor-faktor penyebab 1. Paritas 2. Jarak kelahiran 3. Berat badan janin 4. Riwayat persalinan

Gambar 3.1 kerangka konsep

3.2 defenisi Operasional 1. penyebab ruptur perineum adalah segala sesuatu yang

menyebabkan terjadinya ruptur perineum yang dilihat berdasarkan: umur, pendidikan, pekerjaan, paritas, jarak kelahiran,berat badan janin dan riwayat persalinan. 2. Umur adalah usia ibu sekarang sampai ulang tahun yang terakhir, dengan kategori: a. < 20 tahun b. 20-35 tahun c. > 35 tahun 3. Pendidikan adalah jenjang pendidikan terakhir yang ditempuh oleh responden, dengan kategori: a. SD b. SMP c. SMA d. PT(perguruan tinggi) 4. Pekerjaan adalah suatu pekerjaan yang dilakukan sehari-hari guna memenuhi kebutuhan dengan kategori: a. PNS b. IRT c. Pegawai Swasta d. Wiraswasta

5. Paritas adalah seseorang yang sudah pernah melahirkan akan mempunyai pengetahuan tentang ruptur perineum yang digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan kategori: a. Primipara b. Skundipara c. Multipara d. Grande multipara 6. Jarak kelahiran yaitu jarak usia antara anak pertama dengan anak kedua atau seterusnya, dengan kategori: a. 1 tahun b. 2 tahun c. 3 tahun d. > 3 tahun 7. Berat badan janin yaitu berat bayi pada saat lahir dengan kategori: a. < 2500 gram b. 2500-3500 gram c. 3500-4000 gram d. < 4000 gram 8. Riwayat persalinan yaitu riwayat cara persalinan yang dilakukan oleh bidan kepada ibu dengan kategori: a. episiotomi b. Ektraksi cunam

c. Vakum ekstraksi d. embriotomit e. persalinan presipitatus 3.3 Desain Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu untuk mengetahui faktor- faktor yang menyebabkan terjadinya ruptur perineum pada ibu bersalin di Klinik Permadani tahun 2012. 3.4 lokasi dan waktu Penelitian 3.4.1 Lokasi Penelitian ini dilakukan di Klinik Bersalin Permadani tahun 2012. 3.4.2 Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan desember 2011 sampai dengan Mei 2012. 3.5 populasi dan sampel 3.5.1 Populasi Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang telah bersalin (ibu nifas) di klinik Permadani tahun 2012, sebanyak 41 orang. 3.5.2 Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan total sampling yaitu

keseluruhan polpulasi yang menjadi sampel dikarenakan jumlah populasinya sedikit, jadi jumlah sampelnya 41 orang. 3.6 Tekhnik Pengumpulan Data 3.6.1 data primer data primer yaitu data yang diperoleh dari responden dengan menggunakan kuesioner truktural berbentuk pilihan berganda, terdiri dari 15 pertanyaan. Setelah selesai kuesioner dikumpulkan kembali oleh peneliti untuk dilanjutkan dengan proses. 3.6.2 data sekunder data sekunder yaitu data yang diperoleh dari Klinik Permadani. 3.7 Metode Pengolahan Data 1. Editing (penyuntingan Data) Hasil wawancara atau angket yang diperoleh dari responden dan dikumpulkan melalui kuesioner dan perlu disunting (edit) terlebih dahulu. (Notoatmodjo, 2010) 2. Membuat Lembaran Kode (Coding Sheet) atau kartu Kode (coding Sheet) Lemebaran atau kartu kode adalah intrumen berupa kolom-kolom digunakan untuk merekam data secara manual. Lembaran kartu kode berisi nomor responden dan nomor pertanyaan. (Notoatmodjo, 2010) 3. Memasukkan data (data Entry)

Yakni mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak lembar kode atau kartu kode sesuai dengan jawaban masing-masing responden. (Notoatmodjo, 2010) 4. Tabulasi Yakni membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti. (Notoatmodjo, 2010) 3.8 aspek pengukuran pengetahuan untuk mengukur pengetahuan ibu bersalin tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ruptur perineum di Klinik Permadani pada tahun 2012. a. Baik soal b. Cukup soal c. Kurang 3.9 Analisa data Data yang telah diolah baik pengolahan secara manual maupun menggunakan bantuan komputer, tidak akan ada maknanya tanpa dianalisis. Pengukuran statistik untuk data numer bisa meliputi ukuran pemusatan( mean, median, modus), atau ukuran penyebaran(dispersi) yang melipuri range atau standar deviasi. : <50% apabila responden menjawab <5 pertanyaan : 50%-75% apabila responden dapat menjawab 5-10 : >75%-100% apabila responden dapat menjawab 11-15

Menggunakan persentase untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan ruptur perineum pada ibu bersalin: N= Keterangan :\ N SP SM = Nilai pengetahuan =Skor yang didapat = Jumlah Reponden (Forbetterhhealth,2009)