Anda di halaman 1dari 65

1992

International Standard Serial Number: 0125 – 913X

Daftar Isi :
2. Editorial

Artikel:

5. Perkembangan Masalah AIDS – Suriadi Gunawan


10. Epidemiologi AIDS – Imran Lubis
13. Pemeriksaan Laboratorium untuk Virus HIV – Imran Lubis
17. Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk Diagnosis Human
Immunodeficiency Virus (HIV) – Muljati Prijanto
20. Artritis yang Berhubungan dengan Penyakit Defisiensi Imun –
Harry Isbagio
23. AIDS, Hubungannya dengan Penyakit Menular Seksual
Lainnya – Jusuf Barakbah, Moh I Ilias
Karya Sriwidodo
26. Masalah Penyimpangan Perilaku Seksual Pemuda Remaja di
Kota-kota Besar di Jawa – Moh Ramly Bandy
32. Aspek Psikologis AIDS – Sarlito Wirawan Sarwono
37. Reaksi Psikologis akibat HIV Positif pada Homoseks
Asimptomatik di Australia – Imran Lubis
40. Petunjuk Pencegahan Penularan HIV (Human Immunodeficiency
Virus (HIV) untuk Petugas Kesehatan – Rachmat Juwono
43. Program AIDS di Australia Suatu Studi Komparatif–Imran Lubis
46. Tanya Jawab mengenai AIDS – Rachmat Juwono

49. Obat yang Disalahgunakan oleh Pasien Ketergantungan Obat


di Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan Inabah – Sudibyo
Supardi, Sarjaini Jamal, Anwar Musadad

52. Instruksi Menteri Kesehatan RI No.72/Menkes/Ins/II/1988 ten-


tang Kewajiban Melapor Penderita dengan Gejala AIDS
59. Keputusan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular
dan Kesehatan Lingkungan Pemukiman No.286–I/PD.03.04 ten-
tang Petunjuk Pelaksanaan Kewajiban Melaporkan Penderita
dengan Gejala AIDS

62. Abstrak
64. RPPIK
Sejak pertama kalinya dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun 1981, AIDS
(Acquired Immunodeficiency Syndrome) telah berkembang luas di seluruh
dunia, sehingga menjadi masalah kesehatan yang utama – terutama di negara-
negara Barat – pada saat ini.
Di Indonesia sendiri, Direktorat Jenderal PPM dan PLP hingga akhir
Desember 1991 telah mencatat 47 kasus terinfeksi AIDS. Kendati relatif masih
kecil bila dibandingkan dengan negara lain, kemungkinan perluasannya harus
sudah mulai dicegah secara dini, apalagi bila diingat bahwa sampai saat ini
belum ditemukan obat ataupun vaksin yang dapat mencegah penyebarannya.
Masalah ini menjadi topik utama Cermin Dunia Kedokteran kali ini, dimulai
dari epidemiologi dan perkembangannya, kemudian masalah diagnosis dan
pemeriksaan laboratorium yang diperlukan untuk deteksi HIV, serta hubungan-
nya dengan penyakit-penyakit lain.
Mengingat AIDS bukan semata-mata masalah medik saja, aspek lain seperti
hubungannya dengan perilaku seksual dan masalah sosial laitinya juga ikut
dibahas. Selain itu disertakanpula artikel mengenai cara-carapencegahan, ter-
utama bagi para petugas kesehatan; dan usaha penanganan masalah AIDS di
negara lain.
Sebagai penutup, disertakan pula Instruksi Menteri Kesehatan RI mengenai
kewajiban melaporkan penderita AIDS beserta Peraturan Pelaksanaannya.

Bila sejawat memperhatikan dengan seksama gambar silhouette yang


menghias lembar editorial, maka akan terlihat bahwa dalam edisi ini (dan
selanjutnya) gambar tersebut tidak ber'cangklong' lagi.
Kami beranggapan bahwa dewasa ini menghirup asap tembakau tidak
selaras lagi dengan anjuran jangan merokok, agar dapat mengurangi bahaya
mendapat penyakit bagi diri sendiri dan mereka yang di sekeliling kita.

OLH

2 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


1992

International Standard Serial Number: 0125 – 913X

KETUA PENGARAH REDAKSI KEHORMATAN


Dr Oen L.H
– Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro – Prof. DR. B. Chandra
KETUA PENYUNTING Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Guru Besar Ilmu Penyakit Saraf
Dr Budi Riyanto W Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,
Jakarta. Surabaya.
PELAKSANA – Prof. Dr. R. Budhi Darmojo
Sriwidodo WS – Prof. Dr. R.P. Sidabutar Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,
ALAMAT REDAKSI Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi Semarang.
Majalah Cermin Dunia Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Dalam – Drg. I. Sadrach
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
P.O. Box 3105 Jakarta 10002 Jakarta.
Lembaga Penelitian Universitas Trisakti,
Telp. 4892808 Jakarta
– Prof. Dr. Sudarto Pringgoutomo – DR. Arini Setiawati
NOMOR IJIN Guru Besar Ilmu Patologi Anatomi Bagian Farmakologi
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta. Jakarta,
Tanggal 3 Juli 1976
PENERBIT
Grup PT Kalbe Farma
PENCETAK REDAKSI KEHORMATAN
PT Midas Surya Grafindo
– DR. B. Setiawan – Drs. Victor S Ringoringo, SE, MSe.
– Drs. Oka Wangsaputra – Dr. P.J. Gunadi Budipranoto
– DR. Ranti Atmodjo – DR. Susy Tejayadi

PETUNJUK UNTUK PENULIS

Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan
aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penelitian di bidang- yang jelas. Bila terpisah dalam lembar lain, hendaknya ditandai untuk meng-
bidang tersebut. hindari kemungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan
Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated
diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran; bila telah pernah dibahas atau Index Medicus dan/atau Uniform Requirements for Manuseripts Submitted
dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan menge- to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9). Contoh:
nai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Basmajian JV, Kirby RL. Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore. London:
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan William and Wilkins, 1984; Hal 174–9.
bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading microorganisms.
berlaku. Istilah media sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology: Mecha-
yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi berhak nisms of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974; 457-72.
mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus di- Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin
sertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Untuk memudahkan para pem- Dunia Kedokt. l990 64 : 7-10.
baca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih,
dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.
berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran
Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ P.O. Box 3105
folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya, lebih Jakarta 10002
disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto. Nama (para) pe- Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu
ngarang ditulis lengkap, disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat secara tertulis.
bekerjanya. Tabel/skema/grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas- Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan
jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi, diberi nomor amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis


dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat
kerja si penulis. Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 3
English Summary
THE PROBLEM OF AIDS POLYMERASE CHAIN REACTION ARTHRITIS ASSOCIATED WITH
FOR DIAGNOSIS OF HIV IMMUNODEFICIENCY DISEASES
Suriadi Gunawan
Communicable Disease Research Muljati Prijanto Harry Isbagio
Centre, Health Research and Develop- Communicable Disease Research Rheumatology Subdivision, Department
ment Board, Department of Health, Indo- Centre, Health Research and Develop- of Internal Medicine, Faculty of Medi-
nesia, Jakarta. ment Board, Department of Health, cine, University of Indonesia/Cipto
Indonesia, Jakarta. Mangunkusumo General Hospital,
Since AIDS was first reported Jakarta, Indonesia.
among homosexual men in Cali- Laboratory diagnosis for HIV is
fornia, USA in 1981, the disease based on two methods: 1. direct Arthritis can be found as a
has already spread into other isolation of virus, and 2. indirect symptom in immunodeficiency
groups, such as hemophiliacs, methods. Among the indirect diseases: such as in X-linked
blood-product receivers, iv-drug methods, the polymerase chain agammaglobulinemia (XLA,
users and people who have reaction can be utilized to screen Bruton-type Agammaglobuline-
sexual contact with AIDS-posi- potential individuals, such as mia, Selective IgA Deficiency,
tives. children of seropositive mothers, Common Variable Immunodefi-
Reports received by WHO intravenous drug-users, indivi- ciency (OVID, Adult Acquired
from all over the world revealed duals living among seropositives, Agammaglobulinemia) and
418 404 cases as in October or those living in a high-risk envi- Aqcuired Immunodeficiency
1991; 1196 among them found ronment. Syndrome (AIDS).
in Asia. Among ASEAN countries, Among HIV-positive indivi-
119 cases were from Thailand, Cermin Dunia Kedokt. 1992; 75: 17-9 duals, the incidence of arthritis
52 from the Philippines, 16 from brw was variable, and can be as
Indonesia, 30 from Singapore, 28 high as 14,5%, depending on
from Malaysia and 2 from Brunei the demographic areas and
Darussalam. progression of the disease. The
The Department of Health, type of arthritis found were
Indonesia - in cooperation with Reiter disease, psoriatic arthritis,
the WHO - has introduced a poly-arthritis, oligoarthritis or
short-term plan (1988-1989) to mono-arthritis.
prevent further dissemination of Arthritis can worsen the prog-
AIDS in Indonesia which comprises nosis of HIV-positive individuals
education and training of me- as it induces the full-blown form
dical personnel, sexual behavior of AIDS.
studies, and improving labora-
Cermin Dunia Kedokt. 1992; 75: 20-2
toryfacilities; and a medium-
Brw
term plan (1991-1993).

Cermin Dunia Kedokt. 1992; 75: 5-9


brw

4 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Artikel

Perkembangan Masalah AIDS


Suriadl Gunawan
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta

PENDAHULUAN pencatatan penderita dan isōlasi dan pengobatan penderita tidak


Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), pertama dapat dilaksanakan untuk menanggulangi AIDS.
kali dilaporkan dalam tahun 1981 dari Amerika Serikat(1). Dalam makalah ini akan ditinjau aspek kesehatan masya-
Kasus-kasus pertama ditemukan path pria homoseksual di rakat dari AIDS dan diajukan beberapa kebijakan untuk meng-
California, namun dalam tahun 1982 sudah ditemukan pula hadapinya di negara kita.
pada penderita hemofilia, penerima transfusi darah, pemakai
obat bius secara intravena dan orang yang berhubungan seksual VIRUS AIDS
dengan kelompok-kelompok tersebut. AIDS kini telah meluas Penyebab AIDS adalah suatu retrovirus yang sejak tahun
menjadi pandemi dan masalah internasional. Pertambahan 1986 disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV) atas reko-
kasus yang cepat di kalangan penduduk (bukan homoseksual) mendasi dari International Committee on Toxonomy of Viruses.
dan penyebaran ke semakin banyak negara serta belum adanya Nama ini mengganti llama lama, yaitu Lymphadenopathy
obat dan vaksin yang efektif terhadap AIDS telah menimbulkan Associated Virus (LAV) yang diberikan oleh L. Montagnier
keresahan dan keprihatinan di seluruh dunia. dan Institut Pasteur di Paris dan Human T-Lymphocyte Virus
Menurut Dr. Jonathan Mann, Direktur pertama dari Type III (HTLV-III) yang diberikan oleh R. Gallo dari US
program AIDS WHO, AIDS meliputi tiga macam epidemi(2). National Cancer Institute(3).
Epidemi yang pertama ialah penyebaran HIV (Human Bila masuk ke dalam tubuh, HIV akan menyerang sel darah
Immunodeficiency Virus). Penularan terjadi melalui hubungan putih, yakni limfosit T4 yang mempunyai peranan penting se-
seksual (homo dan heteroseksual), dari ibu Ice bayi dan melalui bagai pengatur sistem imunitas. HIV mengadakan ikatan dengan
darah yang tercemar (transfusi, produk darah, pemakaian jarum CD4 receptor yang terdapat pada permukaan limfosit T4. Kini
suntik, dan sebagainya). Epidemi ini berlangsung secara diam- diketahui bahwa virus ini juga dapat langsung merusak sel-sel
diam dan mungkin sekali telah dimulai dalam tahun 1950-an. tubuh lainnya yang mempunyai CD4 a.l. sel glia yang terdapat
Darah tertua yang tercemar HIV berasal dari Zaire dalam tahun di otak, makrofag dan sel Langerhans di kulit, saluran
1959. Jumlah orang yang terinfeksi kini telah mencapai sekitar pencemaan dan saluran pernapasan(4). Suatu enzim, reverse
10 juta. transcriptase mengubah bahan genetik virus (RNA) menjadi
Epidemi yang ke dua adalah berjangkitnya AIDS yang DNA yang bisa berintegrasi dengan sel dari hospes.
mulai dikenal sejak tahun 1981 dan kini sudah mencapai lebih Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengandung
dari setengah juta penderita. bahan genetik virus. Infeksi oleh HIV dengan demikian
Epidemi yang ke tiga bersifat sosial, yakni stigmatisasi, menjadi irreversibel dan berlangsung seumur hidup.
prasangka dan diskriminasi yang timbul akibat AIDS. Epidemi Di Afrika Barat dan Eropa Barat telah ditemukan pula suatu
ke tiga ini menimbulkan berbagai dilema dalam masyarakat retrovirus lain, yakni HIV-2 yang juga dapat menyebabkan
yang mempersulit penanggulangan AIDS secara rasional. AIDS. Virus ini mempunyai perbedaan cukup banyak dengan
Langkah-langkah klasik yang umum diambil untuk menang- HIV-1, batik genetik maupun antigenetik, sehingga tidak bisa
gulangi penyakit menular : penemuan penderita, pelaporan dan dideteksi dengan tes serologik yang biasa dipakai. HIV-2 ter-

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 5


nyata mempunyai banyak persamaan dengan SIV (Simian pertumbuhannya diperkirakan agak lambat(10).
Immunodeficiency Virus) yang terdapat pada kera, termasuk 1. Pola 1 (Amerika Utara, Eropa Barat, Australia, New Zea-
keraMacacus di Indonesia dan kera hijau Afrika(5). Ditemukan- land). Penularan terutama terjadi pada pria homoseksual atau
nya HIV-2 akan mempersulit penanggulangan AIDS karena biseksual dan pemakai obat bius secara intravena, sedikit penu-
mempunyai implikasi tmtuk diagnostik, staining donor dan laran heteroseksual dan sedikit penularan perinatal (ibu ke bayi).
pengembangan vaksin. 2. Pola 2 (Afrika, Karibia dan beberapa daerah Amerika
Latin). Penularan terutama heteroseksual, pemakaian jarum
PENULARAN AIDS suntik yang tidak steril, penularan ibu ke anak penting.
Penularan AIDS terjadi melalui : 3. Pola 3 (Asia, Oceania, Timur Tengah, Eropa Timur, dan
1. Hubungan kelamin (homo maupun heteroseksual); beberapa daerah Amerika Latin). Penularan masih baru,
2. Penerimaan darah dan produk darah; terutama penerima produk darah dan hubungan seksual (homo
3. Penerimaan organ, jaringan atau sperma; maupun hetero) dengan orang yang terinfeksi dari daerah pola
4. Ibu kepada bayinya (selama atau sesudah kehamilan). 1 dan 2. Namun bila penularan sudah terjadi secara indigenous,
Kemungkinan penularan melalui hubungan kelamin men- pola 3 cenderung menjadi seperti pola 2.
jadi lebih besar bila terdapat penyakit kelamin, khususnya yang
menyebabkan luka atau ulserasi pada alat kelamin(6). PERJALANAN PENYAKIT AIDS
HIV telah diisolasi dari darah, sperma, air liur, air mata, air Perjalanan penyakit AIDS belum diketahui dengan pasti.
susu ibu, dan air seni, tapi yang terbukti berperan dalam pe- Masa inkubasi diperkirakan 5 tahun atau lebih. Diperkirakan
nularan hanyalah darah dan sperma. Hingga saat ini juga tidak bahwa sekitar 25% dari orang yang terinfeksi akan menunjukkan
terdapat bukti bahwa AIDS dapat ditularkan melalui udara, gejala AIDS dalarn 5 tahun pertama. Sekitar 50% dari yang
minuman, makanan, kolam renang atau kontak biasa (casual) terinfeksi dalam 10 tahun pertama akan mendapat AIDS(11).
dalam keluarga, sekolah atau tempat kerja. Juga peranan se- Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya AIDS pada
rangga dalam penularan AIDS tidak dapat dibuktikan. orang yang seropositif belum diketahui dengan jelas. Menurun-
Risiko bagi petugas kesehatan untuk mendapat AIDS nya limfosit T4 di bawah 200 per ml. berarti prognosis.yang
adalah sangat kecil. Tata kerja yang dilaksanakan untuk buruk. Diperkirakan bahwa infeksi HIV yang berulang dan
mencegah infeksi pada umumnya, misalnya terhadap hepatitis pemaparan terhadap infeksi-infeksi lain mempunyai peranan
B adalah lebih dari cukup untuk menghindari penularan AIDS. penting. Mortalitas pada penderita AIDS yang sudah sakit lebih
Terhadap kemungkinan infeksi dari darah dan beberapa cairan dari 5 tahun mendekati 100%. Survival penderita AIDS rata-
tubuh lainnya perlu dilakukan universal precautions(7). rata ialah 1– 2 tahun.
CDC Atlantamenetapkanklasifikasi infelcsi pada orang
EPIDEMIOLOGI AIDS dewasa sebagai berikut :
Golongan risiko tinggi untuk dapat ditulari AIDS adalah : group I Acute Infection (flu-like disease)
1. Orang yang berpasangan seksual banyak (homo maupun group II Symptomatic infection
heteroseksual); group III Persistent generalized lymphadenopathy
2. Penyalah-guna obat secara intravena; group IV Other disease
3. Penerima darah/produk darah (bila darah tidak diskrin ter- subgroup A Constitutional disease (fever, diarrhoea,
hadap HIV); weight loss)
4. Bayi dari ibu yang telah terinfeksi; subgroup B Neurologic disease (encephalitis/dementic)
Sampai 1 Oktober 1991 telah dilaporkan kepada WHO se- subgroup C Secondary infectious diseases (Pneumocystis
jumlah 418.404 kasus AIDS dan 1.196 diantaranya berasal dari carinii, Cytomegalovirus, Salmonella, etc).
Asia. Yang melaporkan adanya kasus AIDS sudah berjumlah subgroup D Secondary cancers (Kaposi sarcoma, Non-
163 negara. Da negara-negara ASEAN telah dilaporkan 246 Hodgkin lymphoma)
kasus : Thailand 119, Filipina 51, Indonsia 16, Singapura 30, subgroup E Other conditions
Malaysia 28, Brunai 2(8). WHO memperkirakan jumlah kasus Hingga saat ini belum ditemukan obat .atau vaksin yang
AIDS yang sesungguhnya adalah sekitar 1 juta dan orang yang efektif terhadap AIDS. Berbagai obat anti-virus dan immuno-
terinfeksi (seropositif) antara 8 – 10 juta, dengan perkiraan ka- modulator sedang diteliti dan obat yang memberi harapan ialah
sus :1 juta di Amerika Utara,1 juta di Amerika Latin, l/2 juta di Zidovudine (dulu disebut Azidothymidine atau AZT) dan DDI
Eropa, 6 juta di Afrika dan 1/2 – 1 juta di Asia (terutama di (Dedioxyinosine) yang ternyata dapat memperpanjang hidup
Thailand dan India). penderita, sekalipun ada efek sampingnya. Baik AZT maupun
Dalam tahun 2000 jumlah penderita AIDS akan mencapai DDI menghambat replikasi virus .(arena inhibisi dari ensim
5 juta (secara kumulatif), sedangkan orang seropositif sekitar reverse transcriptase(12).
30 – 40 juta. Sebagian besar di Afrika dan Asia(9). WHO mem- Penyakit oportunistik dapat diobati sesuai dengan etiologi-
perkirakan bahwa menjelang tahun 2000 jumlah infeksi HIV di nya dengan kemoterapi, antibiotika, dan sebagainya. Pneumonia
Asia akan lebih besar dari di Afrika.Di Amerika Utara dan Eropa Pneumocystis carinii yang sering menyerang penderita AIDS
akan terjadi stabilisasi pandemi, sedangkan di Amerika Latin dapat diobati dengan Pentamidine atau Cotrimoxazole.

6 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Salah satu hambatan untuk menghasilkan vaksin AIDS ialah 1) AIDS dicurigai pada orang dewasa bila ada paling sedikit
seringnya terjadi mutasi path HIV yang mengakibatkan per- dua gejala mayor dan satu gejala minor dan tidak terdapat
ubahan pada struktur molekular lapisan protein luar dari virus. sebabsebab imunosupresi yang diketahui seperti kanker,
Pengembangan vaksin AIDS sedang dilaksanakan dengan malnutrisi berat, atau etiologi lainnya.
intensif, namun para ahli memperkirakan bahwa dalam lima Gejala mayor :
tahun mendatang belum akan ada vaksin yang efektif(14). a. Penurunan berat badan lebih dari 10%
b. Diare kronik lebih dari 1 bulan
DEFIMSI KASUS AIDS c. Demam lebih dari 1 bulan (kontinu atau intermiten). Gejala
Untuk keperluan surveilans epidemiologi digunakan defi- minor :
nisi kasus AIDS yang disusun oleh US Centers' for Diseases a. Batuk lebih dari 1 bulan
Control (CDC) dan disetujui para ahli yang mengikuti Second b. Dermatitis pruritik umum
Meeting of the WHO Collaborating Centers in AIDS di Geneva c. Herpes zoster rekurens
tanggal 16 -18 Desember 1985. Definisi tersebut telah direvisi d. Candidiasis oro-faring
dalam tahun 1987(14). e. Limfadenopati umum
Definisi yang digunakan untuk surveilans di negara-negara f. Herpes simpleks diseminata yang kronik progresif
dengan fasilitas diagnostik yang cukup adalah sebagai berikut : 2) AIDS dicurigai pada anal( bila terdapat paling sedikit dua
Suatu kasus AIDS adalah kejadian penyakit yang disifatkan gejala mayor dan dua gejala minor dan tidak terdapat sebab-
oleh : sebab imunosupresi yang diketahui seperti kanker, malnutrisi
1. Suatu penyakit yang menunjukkan adanya defisiensi berat, atau etiologi lainnya.
imunoseluler, misalnya sarkoma Kaposi atau satu atau lebih Gejala mayor :
penyakit oportunistik yang di diagnosis dengan cara yang dapat a. Penurunan berat badan atau pertumbuhan lambat yang
dipercaya. abnormal
2. Tidak adanya sebab-sebab immunodefisiensi seluler lain- b. Dian kronik lebih dari 1 bulan
nya (kecuali infeksi HIV). c. Demam lebih dari 1 bulan
Sekalipun kriteria di atas dipenuhi, kasus tidak dianggap Gejala minor :
sebagai AIDS bila tes antibodi serum terhadap HIV adalah a. Limfadenopati umum
negatif, biakan untuk HIV negatif, jumlah limfosit T-helper b. Candidiasis oro-faring
normal atau tinggi dan rasio limfosit T-helper terhadap T- c. Infeksi umum yang berulang (otitis, faringitis, dsb).
supressor normal atau tinggi. d. Batuk persisten
Penyakit yang menjadi petunjuk adanya AIDS a.l. ialah : e. Dermatitis umum
Kaposi sarcoma f. Infeksi HIV maternal
B cell lymphoma (Non-Hodgkin lymphoma) Kriteria tersebut di atas khusus disusun untuk negara-negara
HIV encephalopathy (dementia) Afrika yang mempunyai prevalensi AIDS tinggi dan mungkn
HIV wasting syndrome (s 10% weight loss) tidak sesuai untuk digunakan di Indonesia.
Cryptosporodiosis Untuk keperluan surveilans AIDS di Indonesia sebagai
Cytomegalovirus pedoman digunakan defmisi WHO/CDC yang telah direvisi
Isosporiasis dalam tahun 1987. Sesuai dengan hasil Inter-country Consulta-
Pneumocystis carinii pneumonia tion Meeting WHO di New Delhi, 30-31 Desember 1985, di-
Lymphoid interstitial pneumonia anggap perlu bahwa kasus-kasus pertama yang akan dilaporkan
Progressive muldfocalleucoencephalopathy sebagai AIDS kepada WHO mendapat konfrrmasi dengan tes
Toxoplasmosis ELISA dan Western Blot.
Candidiasis (oesaphagus) Untuk keperluan surveilans di Indonsia, Menteri Kese-
Coccidioidomycosis hatan RI telah mengeluarkan instruksi agar setiap kasus AIDS
Cryptococcosis dilaporkan ke Departemen Kesehatan, sedangkan Direktur
Herpes simplex virus Jenderal PPM-PLP telah mengeluarkan SK no. 286-I/PD.03.04
Histoplasmosis tanggal 2 Jun 1988 yang berisi petunjuk-petunjuk pelaksanaan-
Tuberculosis nya(16).
Other mycobacteriosis
Salmonellosis PEMERIKSAAN LABORATORIK UNTUK DETEKSI
Other bacterial infection INFEKSI HIV
Pada suatu WHO Workshop yang diadakan di Bangui, Pemeriksaan laboratorik untuk deteksi infeksi HIV yang
Republik Afrika Tengah, 22–24 Oktober 1985 telah disusun telah dapat dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo (Bagian
suatu defmisi klinik AIDS untuk digunakan oleh negara-negara Patologi Klinik), Badan Litbangkes (Pusat Penelitian Penyakit
yang tidak mempunyai fasilitas diagnostik laboratorium. Ke- Menular) dan Balai Laboratorium Kesehatan di 15 propinsi ialah
tentuan tersebut adalah sebagai berikut : tes makro ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). Fasili-

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 7


tas untuk tes tersebut semula dikembangkan untuk pemeriksaan 2. AIDS telah menjadi pandemi dan masalah internasional.
calon tenaga kerja ke Arab Saudi, namun. kini dimanfaatkan 3. Infeksi HIV mempunyai konsekuensi penting bagi per-
untuk konfirmasi diagnosa AIDS/ARC, skrining donor organ orangan maupun masyarakat.
atau semen, penentuan prevalensi infeksi HIV pada golongan 4. Obat atau vaksin yang efektif terhadap AIDS tidak akan
risiko tinggi dan evaluasi usaha penanggulangan AIDS. tersedia dalam beberapa tahun mendatang, sehingga penerangan
Laboratorium swasta dapat melakukan pemeriksaan HIV bila dan penyebaran informasi menjadi usaha pencegahan terpenting.
telah mendapat persetujuan Depkes, namun konfirmasi tes 5. Masalah AIDS harus dilihat dalam kaitannya dengan
positif harus ditetapkan laboratorium Patologi Klinik RSCM. prioritas masalah kesehatan lainnya.
Karena konsekuensinya yang serius, pemeriksaan infeksi HIV 6. AIDS harus ditangani dalam sistim pelayanan kesehatan
harus dilaksanakan dengan seijin yang bersangkutan dan yang ada.
disertai konseling. Suatu usaha penanggulangan AIDS yang efektif harus
Tes ELISA mempunyai sensitivitas yang tinggi, namun meliputi :
spesifitasnya agak kurang. Persentase false positives menjadi 1. Pengembangan sistim surveilans penyakit AIDS/infeksi
sangattinggi bilaprevalensi AIDS di suatu daerah sangatrendah. HIV.
Tes ELISA yang. dikembangkan akhir-akhir ini mempunyai 2. Pengembangan kemampuan laboratorik untuk menentukan
spesifisitas yang lebih tinggi. infeksi HIV dan penyakit oportunistik yang berkaitan dengan
Bila prevalensi AIDS misalnya 0,01%, predictive value AIDS.
dari tes ELISA (Abbott) adalah hanya 2,2 – 4,5%. Ini berarti 3. Penerangan dan pendidikan tenaga kesehatan.
bahwa dari setiap 100 tes ELISA yang positif, hanya 2,2 – 4. Penerangan untuk masyarakat.
4,5% yang true positive, sedangkan 97,5 – 95,5% adalah false 5. Peningkatan keamanan transfusi darah dan penggunaan
positive. Maka tes ELISA yang positif (setelah diulang) masih produk darah.
perlu dikonfirmasi dengan tes lain yang lebih spesifik. Untuk 6. Penelitian.
keperluan ini paling suing digunakan metode Immuno 7. Koordinasi melalui suatu panitia atau kelompok kerja ting-
blot/Western blot. Tes ini dapat dilakukan di R.S. Cipto kat nasional maupun daerah.
Mangunkusumo dan Badan Litbangkes di Jakarta. Sejak tahun 1986 di Departemen Kesehatan telah dibentuk
suatu panitia untuk menanggulangi AIDS yang semula diketuai
KEADAAN AIDS DI INDONESIA oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kasus AIDS pertama di Indonsia ditemukan pada tanggal dan kini diketuai DirekturJenderalPemberantasanPenyakit
5 April 1987 di Bali pada seorang wisatawan Belanda. Hingga Menular & Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Panitia ini
bulan Nopember 1991 telah dilaporkan ke Departemen Kese- merupakan wadahkomunikasi/koordinasi sertapēngolahan
hatan sejumlah 16 kasus AIDS, yakni 12 dari Jakarta, 2 dari informasi dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dan
Bali dan 2 dari Surabaya kesiapsiagaan menghadapi AIDS. Adanya panitia ini tidak
Semua penderita adalah pria, sedangkan 6 diantaranya mengurangi wewenang dan tugas dari unit-unit struktural di
ialah orang berkewarganegaraan asing (Belanda, Kanada, Departemen Kesehatan, sesuai dengan bidang masing-masing.
Perancis, Amerika Serikat, Jerman). Cara penularan ialah
hubungan homosexual (9 kasus), hubungan heteroseksual (1 RENCANA JANGKA PENDEK
kasus), pemberian transfusi darah/produk darah (2 kasus). Dengan bantuan WHO telah disusun suatu Rencana Kerja
Lebih dari 164.000 tes serologi terhadap antibodi HIV Jangka Pendek (Short Term Plan) 1988/1989 untuk menanggu-
telah dilaksanakan di Indonsia dan ditemukan 40 kasus yang langi AIDS di Indonsia. Rencana tersebut bertujuan untuk
positif dengan konfirmasi Western Blot (16 di antaranya mencegah penularan AIDS/HIV di kalangan penduduk risiko
penderita AIDS). tinggi, dan meningkatkan usaha-usaha pendidikan dan penyu-
Sejumlah orang asing HIV positif yang sedang berkunjung luhan. Biaya yang disediakan WHO berjumlah US $ 255,000
atau bekerja di Indonesia juga telah ditemukan, al di Bali 5 dan digunakan untuk pendidikan dan latihan tenaga kesehatan,
orang dan di Jakarta seorang. penelitian perilaku seksual, penyuluhan kesehatan, peningkatan
Dari 24 orang yang seropositif, 4 adalah wanita (2 istri kemampuan laboratorium(17).
orang asing dan 2 wanita P).
Faktor risiko penularan yang ditemukan ialah hubungan RENCANA JANGKA MENENGAH (MTP)
homoseksual (10), hubungan heteroseksual (4), pemakaian Rencana Jangka Menengah (Medium Term Plan) selama
faktor VIII/hemofilia (2), pemakaian obat bius (1). tiga tahun untuk tahun 1991–1993 disusun oleh pemerintah
Indonesia bekerjasama dengan WHO pada bulan Agustus 1989.
KEBIJAKSANAAN MENGHADAPI MASALAH AIDS Rencana ini akan dilaksanakan setelah dana yang diperlukan
Dalam penyusunan kebijaksanaan menghadapi masalah disetujui. Untuk menangani penyempurnaan pelaksanaan STP
AIDS perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut : dan mulai persiapan untuk kegiatan MTP untuk memantapkan
1. Indonsia adalah negara yang terbuka, maka terdapat ke- kesinambungan beberapa kegiatan program yang penting,
mungkinan nyata AIDS akan masuk. WHO/GPA telah memberikan dana sebesar $ 485.284 (interim

8 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


plan). yang dikumpulkan untuk pemeriksaan HIV. Kepada para WTS
Rencana telah disusun secara detail untuk 15 propinsi dan lain-lain kelompok risiko tinggi dari 15 propinsi yang di-
dengan dasar adanya kasus/infeksi HIV dan kemungkinan survai/diperiksa darah dan diberikan penyuluhan akan
risiko timbulnya kasus/infeksi HIV di masa yang akan datang. dilakukan pemeriksaan dan pengobatan untuk gonorhoe.
MTP untukl2 propinsilainnyaakan disusundalam tahun pertama 14) Panitia AIDS Nasional akan terus menerus membantu dan
dari tiga tabula periode MTP(18). memberikan petunjuk mengenai kegiatan-kegiatan program
Kegiatan yang penting dalam MTP mencakup : yang dilaksanakan. Demikian pula Panitia AIDS tingkat
1) Penyuluhan kepada penduduk, terutama kepada kelompok propinsi akan dibentuk untuk meningkatkan pelaksanaan
risiko tinggi, pemuka masyarakat, pemuka agama, wartawan, program di daerah.
petugas kesehatan mengenai peningkatan pengetahuan hubung- 15) Dengan mengumpulkan indikator-indikator yang ditentu-
an seksual yang aman dari penyakit AIDS melalui tatap muka, kan kegiatan program MTP akan dimonitor dan dievaluasi
televisi, radio, suratkabar, poster, dan lain-lain. setiap akhir tahun.
2) Promosi penggunaan kondom khususnya di kalangan ke- Untuk melaksanakan MTP tersebut dibutuhkan biaya se-
lompok risiko tinggi dan penyediaannya yang mudah. kitar Rp. 9 miliar atau sekitar Rp. 3 miliar per tahun. WHO sudah
3) Menjamin adanya transfusi darah yang aman: pemberian menyanggupi untuk membantu sekitar Rp. 1 miliar setahun.
informasi kepada para donor darah agar dengan kesadaran sen-
diri tidak menjadi donor bilamana mereka termasuk pada ke-
lompok risiko tinggi, mengurangi jumlah transfusi darah dan
melakukan skrining test untuk HIV pada saat pengumpulan
darah (secara bertahap). KEPUSTAKAAN
4) Peningkatan penggunaan peralatan kesehatan yang aman, 1. Heyward WL, Curran JW. The Epidemiology of AIDS in the U.S. Scient
sterilisasi dari semprit/jarum suntik dan peralatan tusuk kulit Amer. (October) 1988, p. 58-9.
lainnya dan menyesuaikan kebutuhan untuk jarum suntik, sem- 2. Panos Dossier. The 3rd Epidemic. Repercussions of the fear of AIDS. The
prit, dan lain-lain. Panos Institute, 1990.
3. Gallo RC, Montagnier L. The Chronology of AIDS Research. Nature,
5) Penyuluhan dan nasehat terhadap ibu hamil. (April 2) 1987, p. 435-6.
6) Konseling kepada penderita AIDS/HIV positif, partner 4. Weber IN, Weiss RA. HIV Infection : Tyhe cellular picture. Scient Amer.
mereka dan keluarganya. (October) 1988, p. 81–7.
7) Survai serologis pada kelompok masyarakat risiko tinggi 5. Essex M, Kanki PJ. The Origins of the AIDS Vitus. Scient Amer.
(October) 1988, p. 44-51.
dikembangkan dan diperluas pada banyak propinsi dengan 6. Mann J, Chin J, Piot P, Quin Th. The International Epidemiology of AIDS.
menjamin kerahasiaan daripada hasil test pemeriksaan. Scion Amer. (October) 1988, p. 60-8.
8) Pengembangan laboratorium untuk pemeriksaan HIV ter- 7. CDC Atlanta. Recommendations for prevention of HIV transmission in
masuk laboratorium rujukan untuk tingkat nasional, untuk health care settings. MMWR (August 21), 1987; 36(25).
8. Weekly Epidemiological Record, 4 October 1991. Acquired Immuno-
mengatasi kenaikan jumlah serum yang diperiksa. deficiency Syndrome (AIDS) – Data as of 1 October 1991.
9) Meningkatkan kesadaran masyarakat dengan cara mem- 9. Chin T, Sato P, Mann J. Projections of HIV Infections and AIDS Cases to
berikan informasi, penyuluhan/pendidikan dan melalui komu- the Year 2000. Bull WHO 1991; 27(1): 1-11.
nikasi yang sederhana dan mudah diterima. 10. WHO-GPA. Current and future dimensions of the AIDS Pandemic. A
capsule summary. WHO Geneva.
10) Mengumpulkan data mengenai pengetahuan, sikap, 11. Chin J. Global situation of the AIDS epidemic. Presentation at the regional
tingkah laku yang berkaitan dengan kebiasaan seksual untuk meeting of National Programme Managers on AIDS. New Delhi, 28
menyusun langkah-langkah pencegahan penyebaran melalui October -1 November 1991.
hubungan seksual. 12. Yarchoan R, Mitsuya H, Broder S. AIDS Therapies. Scion Amer. (Octo-
ber) 1988; p. 88-97.
11) Membentuk Pusat Informasi AIDS/Penyakit Kelamin dan 13. CDC Atlanta. Classification SyszemforllmVmLAVlnfectiau MMWR,
mempublikasikan serta menyebarluaskan setiap tiga bulan 1986; (35): 334-9.
sekali dengan pesan-pesan khusus kepada grup target. 14. Matthews Th, Bolognesi DP. AIDS Vaccines. Scient Amer. (October)
12) Latihan petugas kesehatan yang terkait dalam penanggu- 1988; p. 98-105.
15. CDC Atlanta. Revision of the case definition for AIDS. MMWR, 1987;
langan AIDS akan dilanjutkan balk pada tingkat nasional mau- 36(Suppl. 1): 3-15.
pun tingkat propinsi. Petunjuk operasional akan dikembangkan 16. Depkes RI. Penanggulangan AIDS. Petunjuk untuk seluruh jajaran ke-
untuk membantu melatih petugas kesehatan sehubungan sehatan di Indonesia. Jakarta, 1988.
dengan tugas dan kewajiban mereka dengan program AIDS. 17. Depkes RI. Short terns plan of action on AIDS prevention apd control in
Indonesia. December 1987.
13) Program PemberantasanPenyakitKelaminakanditingkatkan 18. Depkes RI. Medium term plan of action on AIDS prevention and control in
dengan melakukan test pemeriksaan sifilis bagi seluruh serum Indonesia. August 1989.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 9


Epidemiologi AIDS
Dr. Imran Lubis
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN ini sudah ada 150 negara yang mempunyai Panitia Nasional
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Sin- Pencegahan AIDS dan 151 negara meminta bantuan WHO, 106
droma Kekurangan Kekebalan), pertama kali dilaporkan pada negara telah mendapat bantuan teknis dan finansial, 40
tahun 1981 di Amerika Serikat, dan dalam waktu relatif pertemuan ahli, dan berbagai buku pedoman AIDS.
singkat telah menyebar ke 175 negara di dunia. Jumlah kasus Di Indonesia Panitia Penanggulangan AIDS dibentuk ber-
AIDS yang dilaporkan oleh WHO (1 Desember 1989) adalah dasarkan suatu Surat Keputusan Menteri Kesehatan bulan Juli
189.165 orang (1 Desember 1989) : (Weekly Epidemiological 1987, beranggotakan para pejabat di dalam maupun di luar
Record, WHO, No. 48) tersebar di Amerika 131.250, di instansi Departemen Kesehatan yang terkait, dan telah
Afrika : 36.486, di Eropa : 28.747, di Oseania (Australia, melakukan berbagai kegiatan seminar, lokakarya, studi dan
New Zealand) : 1.701 dan di Asia : 481. Di negara maju penelitian.
dilaporkan kasus AIDS diperkirakan mencapai 80–90%
sedangkan di negara-negara berkembang masih dianggap PATOLOGI KEKURANGAN KEKEBALAN (AIDS) DAN
underreported, underdiagnosed, underrecognized. Sehingga PENULARANNYA
angka sebenamya dari kasus AIDS di dunia diperkirakan Tubuh mempunyai suatu mekanisme untuk membasmi
sudah mencapai 250.000 orang, dengan angka infeksi AIDS 0.5 suatu infeksi dari benda asing, misalnya : virus, bakteri, bahan
– 1.0 juta orang. Dampaknya dalam waktu lima tahun kimia, dan jaringan asing dari binatang maupun manusia lain.
mendatang adalah jumlah kasus AIDS baru dapat mencapai Mekanisme ini disebut sebagai tanggap kebal (immune
angka 1 juta. response) yang terdiri dari 2 proses yang kompleks : yaitu
Situasi AIDS sekarang ini sebenamya merupakan akibat kekebalan humoral dan kekebalan cell-mediated.
dari suatu proses penyebaran virus AIDS (yaitu HIV : Human Virus AIDS (HIV) mempunyai cara tersendiri sehingga
Immunodeficiency Virus) paling tidak semenjak tahun 1970, dapat menghindari mekanisme pertahanan tubuh. "ber-aksi"
(bahkan mungkin semenjak tahun 1959, karena darah pen- bahkan kemudian dilumpuhkan. Virus AIDS (HIV) masuk ke
duduk Zaire pada tahun itu telah positif terhadap AIDS). Virus dalam tubuh seseorang dalam keadaan bebas atau berada di
AIDS ditemukan pertama kali pada tahun 1983 sebagai dalam sel limfosit. Benda asing ini segera dikenal oleh sel T
retrovirus dan disebut HIV–1. Pada tahun 1986 di Afrika helper (T4), tetapi begitu se), T helper menempel pada benda
ditemukan lagi retrovirus baru yang dibeni nama HIV-2. HIV– asing tersebut, reseptor sel T helper .tidak berdaya; bahkan
2 dianggap virus yang kurang patogen dibanding dengan HIV– HIV bisa pindah dari sel induk ke dalam sel T helper tersebut.
1 dan untuk memudahkan keduanya disebut sebagai HIV. Pada Jadi, sebelum sel T helper dapat. mengenal benda asing HIV, ia
tahun 1987 WHO masih menganggap bahwa HIV adalah lebih dahulu sudah dilumpuhkan. HIV kemudian mengubah
"
merupakan suatu retrovirus di alam yang penyebaran fungsi reseptor di permukaan sel T helper sehingga reseptor ini
geografisnya belum diketahui". Tabun 198,8 WHO mulai dapat menempel dan melebur ke sembarang sel lainnya
menangani masalah AIDS dengan membentuk suatu. panitia sekaligus memindahkan HIV. Fungsi T helper dalam
internasional yang mencetuskan GPA (Global Program on mekanisme pertahanan tubuh sudah dilumpuhkan, genom dari
AIDS) yang intinya adalah mencegah penularan baru HIV, HIV – proviral DNA – dibentuk dan diintegrasikan pada DNA
membantu upaya pengobatan penderita dan mengkoordinasi sel T helper sehingga menumpang ikut berkembang biak sesuai
upaya internasional dan nasional pencegahan AIDS. Sekarang dengan perkembangan biakan sel T helper. Sampai

10 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


suatu saat ada mekanisme pencetus (mungkin karena infeksi penyalahguna obat suntikan baru mulai dilaporkan positif.
virus lain) maka HIV akan aktif membentuk RNA, ke luar dari Daerah AIDS yang paling parah dalam arti pencegahannya
T helper dan menyerang sel lainnya untuk menimbulkan adalah Afrika, karena di sanā terdapat campuran dari Pola I, II,
penyakit AIDS. Karena sel T helper sudah lumpuh maka tidak dan III. Hal ini karena tingginya seroprevalensi AIDS di
ada mekanisme pembentukan sel T killer, sel B dan sel fagosit beberapa kelompok masyarakat misalnya survai di Kongo,
lainnya. Kelumpuhan mekanisme kekebalan inilah yang Rwanda, Tanzania, Uganda, Zaire dan Zambia pada golongan
disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) atau Sin umur aktif seksual ditemukan 5–20%, di kalangan pelacur di
droma Kegagalan Kekebalan. Kinshansa, Zaire 27%, di Nairobi, Kenya, 66% dan di Butare,
Penularan AIDS terjadi melalui : Rwanda, 88%. Sekarang ini hampir separuh dari penderita yang
1. Hubungan kelamin (homo maupun heteroseksual) dirawat di RS adalah kasus AIDS. Pada kelompok Wanita Usia
2. Penerimaan darah dan produk darah Subur (WUS) 10–25% seropositif AIDS, dan akan terus
3. Penerimaan organ, jaringan atau sperma meningkat menjadi paling sedikit 25%.
4. Ibu kepada bayinya (selama atau sesudah kehamilan) Masalah yang sekarang sedang dihadapi negara Afrika
HIV telah diisolasi dari darah, sperma, air liur, air mata, air adalah bila AIDS sudah mulai masuk ke daerah rural. Kasus
susu ibu dan air seni; tetapi yang terbukti berperan dalam AIDS yang perlu dirawat di Afrika sekarang sudah mencapai
penularan hanyalah darah dan sperma. Sehingga saat ini juga sekitar 100.000 dan tidak dapat tertampung oleh fasilitas
tidak terdapat bukti bahwa AIDS dapat ditularkan oleh pelayanan kesehatan yang ada, apalagi nanti dalam lima tahun
serangga, minuman, makanan atau kontak biasa (casual) dalam mendatang, diperkirakan kasus sudah me ncapai 400.000.
keluarga, sekolah atau tempat kerja. Berbagai hasil penelitian tentang banyaknya heteroseks di
Afrika yang mengidap AIDS, menunjUkkan bahwa hal tidak ter-
POLA EPIDEMIOLOGI AIDS DI DUNIA
gantung pada ras, peranan kelompok homoseks, peranan kelom-
Hanya berdasarkan suatu hasil survai seroprevalensi HIV pok penyalahguna obat suntikan,peranan transfusi darah,maupun
dan pelaporan kasus AIDS yang akurat dapat diketahui cara kebiasaan misalnya : sunat, tattoo, tetapi lebih cenderung karena
penularan HIV dan penentuan suatu prediksi kasus di masa tingginya faktor: 1). perilaku seks herisiko tinggi yang dilakukan
mendatang. Sampai saat ini baru diketahui tiga Pola Epi- walaupun heteroseks, 2). mempunyai banyak mitra, 3). frekuensi
demiologi AIDS yaitu Pola I, Pola II, dan Pola III (Campuran). hubungan seks dengan para pelacur, 4). PMS (Penyakit
Gambaran AIDS Pola I, letaknya terutama di negara Menular Seksual) yang mengakibatkan ulkus genitalia.
industri dengan kasus AIDS tinggi, seperti : Amerika, Meksiko, Di negara Asia gambaran epidemiologi AIDS berbeda:
Canada, Eropa Barat, Australia, New Zealand, dan sebagian laporan kasus terutama berasal dari kelompok penerima darah
dari Amerika Latin. Diperkirakan penyebaran HIV sudah atau produk darah yang diberikan sebelum tahun 1986,
dimulai semenjak tahun 1970 langsung maupun melalui Haiti. penyalahguna obat suntikan, dan mereka yang melakukan
Korbannya terutama pada kelompok homoseks, lelaki biseks hubungan seks dengan orang asing. Di RRT, 1 dari 50.000
dan penyalah guna obat suntikan. Sedikit ditemukan pada orang yang mendapat transfusi darah mempunyai resiko untuk
kelompok lain seperti heteroseksual (jumlahnya dikhawatirkan positif antibodi AIDS. Seroprevalensi AIDS pada kelompok
dapat terus meningkat), penerima transfusi darah dan produk pelacur masih rendah, paling banyak 1 dari 1.000 orang
darah lain, ibu pengidap AIDS ke bayi yang dilahirkannya. (kecuali di Filipina 0.5% dan India 6%). Selama ini, hasil
Pencegahan AIDS di daerah Pola I telah dilakukan dengan survai antibodi AIDS di masyarakat di Asia masih
cara skrining darah, penerangan pada ibu dan penyalahguna menunjukkan angka yang rendah dan peningkatannyapun
obat suntikan. Perbandingan prevalensi antibodi HIV pada laki sangat kecil. Di Bangkok, Thailand pada kelompok penyalah-
dan perempuan adalah 10 – 15 laid-laki banding satu pada guna obat suntikan, tahun 1986 = 0%, tahun 1987 meningkat =
perempuan, seroprevalensi di masyarakat di bawah 1% tetapi 1% dan tahun 1988 melonjak menjadi 16% dari sekitar 60.000
pada kelompok resiko tinggi dapat setinggi 50% (misalnya : penyalahguna obat suntikan: dalam hal ini harus diingat bahwa
penyalah guna obat dengan memakai suntikan yang tidak steril, selain penyebaran AIDS di kalangan mereka sendiri juga dapat
homoseks dengan banyak mitra). menyebar ke orang lain yang berhubungan dengan mereka.
Gambaran Pola II, terutama pada daerah Afrika Tengah Gambaran di Eropa sama dengan di Amerika yaitu 90%
dan Timur, Amerika Latin (daerah Karibea). Penyebaran diduga kasus terdapat pada penyalahguna obat suntikan, meskipun
semenjak tahun 1970. Terutama menyerang heteroseks dengan terdapat perbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya.
rasio seroprevalensi laid dan perempuan 1 : 1, sehingga penularan Misalnya di California 90% pada homoseks dibanding dengan
dari ibu pengidap AIDS ke bayi yang dilahirkannya tinggi. kurang dari 10% pada penyalahguna obat suntikan, sedangkan
Jarang terdapat pada homoseks dan penyalahguna obat suntikan. di New York masing-masing kelompok 50%. Di Eropa Barat,
Gambaran Pola III atau Pola Campuran, terutama di daerah Denmark, Swedia 70–90% kasus AIDS pada homoseks
Eropa Timur, Afrika Utara, Timur Tengah, Asia (termasuk sedangkan di Italia dan Spanyol penyalahguna obat suntikan
Indonesia) dan Pasifik. Penyebaran diduga dimulai pada tahun menduduki lebih dari separuh dari jumlah kasus AIDS.
1980, kasus masih sedikit terutama pada mereka yang Gambaran pada daerah Karibea agak berbeda, misalnya di
bepergian ke daerah Pola I dan II dan melakukan hubungan Brasil dilaporkan 3.000 kasus AIDS di kalangan homoseks dan
seks di sana. Penduduk asli kelompok homoseks, heteroseks, penyalahguna obat suntikan, tetapi terakhir ini terjadi peningkatan

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 11


laporan kasus dari heteroseks di Dominika dan Haiti melebihi kalangan remaja di Indonesia berkisar antara 2% di Jakarta sam-
kasus pada homoseks dan penyalahguna obat suntikan tadi. pai ke 23% di Bali, dibandingkan dengan Liberia (46% – 66.2%),
Nigeria (38% – 57.3%), USA (46% – 69%), Jepang (7% – 15%)
EPIDEMIOLOGI AIDS DI INDONESIA
dan Meksiko (8% – 42%). Dampak dari premarital intercourse
Mengetahui secara akurat besarnya seroprevalensi AIDS
ini dapat dilihat dari bertambah banyaknya kunjungan ke klinik
pada berbagai kelompok masyarakat di Indonesia masih sangat
PMS dari golongan umur 9–11 tahun; angka abortus yang di-
sulit, karena kelompok resiko tinggi AIDS seperti homoseks,
sebabkan karena indikasi medis hanya 5% saja. sisanya bukan
WTS, PTS, Waria dan lain-lain, masih banyak yang melakukan
karena alasan medis. Kecenderungan ini berhubungan bermakna
praktek secara terselubung, begitu juga pembicaraan mengenai
dengan faktor besarnya jumlah keluarga, pendapatan keluarga,
perilaku seks secara formal dan informal masih dianggap tabu.
pendidikan dan tidak berhubungan dengan faktor agama.
Sampai saat ini laporan kasus AIDS adalah sebagai berikut:
Situasi AIDS di Indonesia, berdasarkan hasil pemantauan
Kasus AIDS pertama adalah seorang wisatawan laki-laki
selama ini, masih dianggap "belum besar", karena peningkatan
Belanda meninggal di Bali, tahun 1987. Ke dua adalah seorang
kasus AIDS masih kecil dan sebagian besar kasus adalah orang
Kanada yang sudah dua tahun tinggal di Indonesia, meninggal
asing, hasil survai seroprevalensi positif AIDS dari berbagai
di Jakarta, tahun 1987. Ketiga adalah seorang Indonesia yang
kelompok resiko tinggi dari waktu ke waktu masih menunjukkan
meninggal di Bali, tahun 1988, seorang homoseksual yang
peningkatan yang rendah, kontrol sosial terhadap penyalah-
hidup bersama dengan seorang Swis. Keempat adalah seorang
gunaan perilaku seks masih kuat. Beberapa masalah yang masih
pria Prancis yang pernah bekerja sebagai konsultan di Indo-
dihadapi adalah belum diketahuinya cara penularan HIV (mode
nesia meninggal tahun 1.988 di Jakarta. Kelima adalah seorang
of transmission),besarnya kelompok-kelompok resiko tinggi AIDS
pria Amerika keturunan Indonesia yang meninggal di Surabaya
termasuk yang berpraktek secara terselubung, masih rendahnya
tahun 1989. Keenam adalah seorang Indonesia pernah belajar 6
pengetahuan tentang AIDS di kalangan tenaga kesehatan, perilaku
tahun di Amerika dan meninggal di Jakarta, tahun 1989.
resiko tinggi dan lain-lain; masyarakat di perkotaan cenderung
Ketujuh adalah seorang Indonesia yang pernah tinggal di luar
menjadi individualisme sehingga kontrol sosial mulai menipis.
negeri dan meninggal di Surabaya, tahun 1990. Jumlah kasus
Pencegahan AIDS dapat dilakukan dengan cara meningkat-
AIDS di Indonesia seluruhnya adalah 7 orang, masih lebih
kan sistem pendidikan terpadu dari orang tua, guru, tokoh agama
rendah dibandingkan dengan di Australia 1.529, di New
dan tokoh masyarakat lain akan norma yang baik dan yang
Zealand 146, Jepang 108, Filipina 26, Hongkong 22, Taiwan
tidak baik khususnya tentang perilaku seks yang bertanggung
14, Papua Nugini 13, Singapura 13, Thailand 25, di India 32,
jawab yaitu monogami dan bagi mereka yang poligami selalu
kecuali di Brunal Darussalam 1.
ingat akan safe sex. Berdasarkan pengalaman dari negara
Panitia Nasional Penanggulangan AIDS, Departemen Ke-
berkembang lain, tanpa tindakan pencegahan maka penderita
sehatan, telah melakukan survai pada berbagai kelompok
AIDS di Indonsia tidak dapat dielakkan akan meningkat, dan
masyarakat. Dari hasiI pemeriksaan terhadap 89.175 orang di
mengingat tingginya harga obat dan vaksin untuk AIDS bila
berbagai tempat ternyata 19 positif antibodi terhadap HIV.
nantinya berhasil ditemukan, maka dapat dibayangkan berapa
Beberapa penelitian dan survai mengenai pengetahuan,
besar kerugian ekonomis yang akan dihadapi kelak.
sikap, kepercayaan dan perilaku seksual di kalangan homoseks,
WTS, Waria bahkan pada kelompok remaja telah dilakukan KEPUSTAKAAN
1. Weber JM, Weiss RA. HIV Infection : the cellular picture. Sci. Am. (Oct)
oleh berbagai pihak termasuk mass media. Mengenai peng- 1988. p. 71–87.
etahuan tentang AIDS, pada umumnya semua kelompok belum 2. Mann JM, Chin J, Piot P, Quinn T. The Epidemiology of AIDS, Sci. Am.
mencapai separuh dari mereka sudah mengetahuinya, dan yang (Oct) 1988. p. 60–69.
paling rendah pengetahuannya adalah dari kelompok WTS. 3. Sarlito WS. Research on behavioural aspect of reproductive sexual health, on
overview. Lokakarya AIDS dalam rangka pengembangan program dan pene-
Sedangkan sikap mereka untuk berhubungan dengan orang litian edukasi informasi di Indonesia, IAKMI, Jakarta, 10 – 11 Januari 1990.
asing paling rendah pada WTS dan tertinggi pada homoseks. 4. Sarlito WS. Aspek perilaku dalam penularan AIDS. Lokakarya AIDS
Pengetahuan WTS tentang kegunaan kondom masih sangat dalam rangka pengembangan program dan penelitian edukasi informasi di
rendah. Rata-rata WTS melakukan pekerjaannya selama 2 tahun, Indonesia, IAKMI, Jakarta, 10 – 11 Januari 1990.
5. Suriadi G. Epidemiologi AIDS' dan upaya penanggulangan AIDS di Indo-
di samping itu mobilitas dan frekuensi hubungan seks mereka nesia, Workshop on Viral Diagnosis. Puslit Penyakit Medlar. Februari 1990.
yang tinggi dan besamya ko faktor penyakit kelamin yang 6. Jim Supangkat, Agung Firmansyah. Seks, AIDS, dan Kita, Tempo 1 Juli
dideritanya, memudahkan mereka menyebarkan PMS (penyakit 1989. hal 70–80.
menular seksual)/AIDS ke orang lain seperti di Afrika. Berbeda 7. Essex M, Kanki PJ.The origin of the AIDS Virus,Sci.Am. (Oct) 1988. p.44–51.
8. Penny R. The natural history of HIV infection, First Asia–Pacific Congress
dengan WTS, kelompok homoseks dan waria masih dapat aktif of Medical Virology, Singapore, 6–11 Nov 1988.
sampai umur lebih tua (35 tahun); walaupun frekuensi dan 9. Chermann JC, Barrie–Sinoussi F. LAV virus, the aetiological agent of
mobilitas rendah, tetapi mengingat perilaku seksual mereka AIDS. Diagnostic Pasteur 1988. p. 5–9.
sangat beresiko tinggi, apalagi bila mereka ini termasuk pada 10. Gadelle S, Rey F. Western–Blot application : detection of LAV/ HTLV III
antibodies. Diagnostic Pasteur, 1988. p. 18–9.
penyalahguna obat suntikan seperti gambaran di Amerika. 11. Departemen Kesehatan RI. AIDS – Petunjuk untuk petugas kesehatan.
Survai perilaku seks pada remaja menunjukkan adanya Ditjen PPM & PLP. Jakarta 1989.
informasi seks yang salah dan penyalahgunaan seks sebelum 12. WHO SEARO DOC : SEA / CD / 93. Acquired Immunodificiency
pernikahan yang cenderung meningkat. Penyalahgunaan seks di Syndrome. Report of an Intercountry Consultation Meaning, New Delhi,
30 – 31 December 1985.

12 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Pemeriksaan Laboratorium untuk
HIV
Dr. Imran Lubis
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

RINGKASAN
HIV (Human Immunodeficiency Virus), virus penyebab penyakit AIDS, melumpuhkan
sistem kekebalan tubuh. Sel Target, T helper (T4) diserang sehingga sel ini tidak mampu
memulai rantai pembentukan antibodi seluler maupun humoral.
Infeksi HIV bersifat laten, seumur hidup. RNA dari HIV membentuk proviral DNA
yang mampu berintegrasi menjadi satu bagian dengan DNA sel induk. Perkembangbiakan
proviral DNA mengikuti perkembangbiakan sel induk. Setelah masa inkubasi 5–10 tahun,
dan akibat dari suatu faktor pencetus yang belurn diketahui sampai sekarang, bagian LTR
genome DNA mulai aktif membentuk RNA dari HIV generasi baru.
Setelah 2–3 bulan infeksi HIV, baru timbul IgM dan IgG anti HIV dalam darah
penderita. Diagnosis klinik penderita AIDS secara dini sangat sulit. Cara yang penting
untuk mengetahui penderita HIV adalah dengan melakukan pemeriksaan laboratorium
serologik, secara ELISA dan Western blot. Hasil pemeriksaan perlu diintcrpretasi secara
hati-hati, karena dapat memberikan hasil false positive maupun false negative.

PENDAHULUAN Bila AIDS telah menyebar di masyarakat, tidak ada cara


Penyakit AIDS (AcquiredImmungdeficiencySyndrome atau yang efektif untuk penanggulangannya. Biaya penanggulangan
Sindrom Kekurangan Kekebalan) disebabkan oleh suatu virus AIDS akan sangat mahal. Angka kematian balita meningkat,
bemama Human Immunodeficiency Virus (HIV). Seperti virus begitu juga angka kematian orang dewasa. Status kesehatan
lainnya, virus ini hanya dapat hidup di dalam suatu sel hidup. yang selama ini telah berhasil ditingkatkan akan kembali
AIDS telah menyebar hampir ke semua negara di dunia. menjadi rendah.
Laporan kasus masih akan terus meningkat dengan tajam setiap
tahunnya. Perilaku seksual risiko tinggi, penggunaan donor MORFOLOGI HIV
darah yang tercemar HIV, penularan dari ibu pengidap AIDS HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan nama
ke bayi yang dilahirkannya, sarana transpor yang cepat, turis umum virus penyebab AIDS yang telah diputuskan olēh WHO.
dan faktor penunjang lain yang belum diketahui sangat Nama lain HIV adalah HTLV III atau LAV. HIV terdiri dari 2
membantu penyebaran AIDS. serotipe yaitu HIV–1 dan HIV–2. Terbanyak ditemukan adalah
Saat ini maupun untuk 5 tahun mendatang, obat maupun HIV–1, sedangkan HIV–2 terutama ditemukan di Afrika. HIV–
vaksin pencegah AIDS masih belum dapat ditemukan. 2 diketahui tidak seganas HIV–1. HIV–1 biasanya cukup
Penderita AIDS alcan diobati selama hidupnya, makin lama disebut sebagai HIV saja.
penyakitnya makin memberat sampai meninggal. HIV termasuk dalam golongan Retrovirus berinti RNA

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 13


(sebagian besar virus lain adalah DNA) dan mempunyai jenis RNA yang penting untuk pembentukan virus HIV
enzim bemama reverse transcriptase yang mampu mengubah generasi baru.
kode genetik dari DNA ke RNA.Virus ini terdiridari inti (core)
dengan lapisan luar bernama amplop (envelope) (Gambar 1). PERJALANAN PENYAKIT AIDS
Virus AIDS (HIV) dapat menghindar bahkan mampu me-
lumpuhkan sistem kekebalan tubuh (immune system), yaitu sis-
tem pertahanan tubuh yang selalu timbul bila tubuh dimasuki
benda asing.
Target sel HIV terutama adalah limfosit T helper, yang
dikenal sebagai sel pemberi komando awal untuk memulai suatu
rantai reaksi kekebalan tubuh. Kalau sel T. helper ini lumpuh
akibat infeksi HIV, maka sistem kekebalan tubuhpun tidak
melakukan reaksi Mau dalam keadaan defisiensi. Akibatnya,
penderita AIDS mudah mendapat infeksi oportunistik (yaitu
suatu kondisi di mana tubuh dapat menderita suatu infeksi oleh
kuman yang normalnya tidak menyebabkan penyakit, misalnya
Pneumocystis carinii, jamur) atau bertambah beratnya suatu
penyakit yang semula hanya ringan saja (tbc). Sehingga pada
permulaan penyakit penderita AIDS sulit didiagnosis secara
Minis, bahkan dapat meninggal tanpa diketahui penyakitnya.
Patogenesis HIV dimulai pada saat virus masuk ke dalam
suatu sel induk(Iimfosit T helper). RNA dari HIV mulai mem-
Gambar : Morfologi Human Immunoddiency Virus (HIV)
bentuk DNA dalam struktur yang belum sempurna, disebut pro-
viral DNA, yang akan berintegrasi dengan genome sel induk
secara laten (lama). Karma DNA dari HIV bergabung/integrasi
dengan genome sel induknya (limfosit T helper) maka setiap
Envelope HIV berfungsi sebagai alat penting untuk me- kali sel induk berkembang biak, genom HIV tersebut selalu.
nempelkan virus tersebut pada sel induk (sel hidup yang di- ikut memperbanyak diri dan akan tetap dibawa oleh sel induk
serang, biasanya sel T helper), kemudian melubangi dinding sel ke generasi berikutnya. Oleh karena itu dapat dianggap bahwa
induk tersebut. sekali mendapat infeksi virus AIDS maka orang tersebut
Envelope terdiri dari banyak komponen glikoprotein dan di selama hidupnya akan terus terinfeksi virus, sampai suatu saat
antaranya yang penting adalah gp 160, gp 140,gp 120. . Pem- (bagian LTR) mampu membuat kode dari messenger RNA
berian nama masing-masing glikoprotein tersebut sesuai (cetakan pembuat gen) dan mulai men jalankan proses
dengan berat molekulnya yang diukur menurut kilo Dalton. pengembangan partikel virus AIDS generasi baru yang mampu
Identifikasi laboratorik terhadap profit glikoprotein ini sangat ke luar dan sel induk dan mulai menyerang sel tubuh lainnya
menunjang diagnosis keberadaan envelope virus dalam tubuh untuk menimbulkan gejala umum penyakit AIDS (full blown).
manusia. Mengingat fungsi envelope ini, maka salah satu upaya Setelah HIV masuk ke dalam tubuh, perjalanan penyakit
pembuatan vaksin adalah dengan membentuk/menimbulkan AIDS dimulai dengan masa induksi (window period), yaitu
antibodi yang mampu mengikat glikoprotein envelope sehingga penderita masih tampak sehat, dan hasil pemeriksaan darah juga
HIV tidak mampu lagi menempelkan dirinya pada sel induk, masihnegatif, Setelah 2–3 bulan,perjalanan penyakitdilanjutkan
dan infeksi tidak terjadi. dengan masa inkubasi, yaitu penderita masih tampak sehat,
Bagian inti (core) HIV berfungsi penting untuk replikasi setapi kalau darah penderita kebetulan diperiksa (test ELISA
virus di dalam sel induk, terdiri dari beberapa komponen dan Western Blot) maka hasilnya sudah positif. Lama masa
protein dan yang paling penting adalah p24, p16, p15 dan inkubasi bisa 5–10 tahun tergantung umur (bayi lebih cepat)
enzim reverse transcriptase. Pada pemeriksaan Western blot, dan cars penularan penyakit (tewat transfusi atau hubungan
penemuan band p24 positif merupakan suatu konfirmasi bahwa seks). Kemudian penderita masuk ke masa gejala klinik berupa
HIV masih aktif. Bila p24 tidak ada atau tidak begitu jelas ARC (AIDS Related Complex) seperti misalnya : penurunan
maka hasil Western blot digolongkan indeterminate. berat badan, diare) dan akhirnya dilanjutkan dengan gejala
Sedangkan enzim reverse transcriptase yang ditemukan dalam AIDS berupa infeksi oportunistik seperti tbc, jam ur, kanker
pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwaHIV sedang kulit, gangguan saraf dan lain-lain sampai meninggal.
dalam fase melakukan replikasi (perkembangan virus).
Obat AIDS golongan AZT dapat melumpuhkan enzim re- PEMERIKSAAN SEROLOGI HIV
verse transcriptase ini sehingga perkembangan virus berhenti
tetapi tidak mematikan. Kalau obat dihentikan maka HIV akan Berdasarkan pengamatan atas penderita AIDS secara terus
mulai'berkembang lagi. Di dalam core terdapat sepasang gen menerus selama sakitnya maka dapat dibuat suatu hipotesa

14 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


mengenai lama dan relatif konsentrasi antigen (HIV) dan anti- punyai cara kerja hampir sama. Pada dasarnya, diambil virus
bodi dalam darah penderita. Gambaran parameter serologi in- HIV yang ditumbuhkan pada biakan sel, kemudian dirusak dan
feksi HIV–1 tampak pada Grafik 1, dan dapat dipakai sebagai dilekatkan pada biji-biji polistiren atau sumur microplate. Se-
patokan dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi HIV. rum atau plasma yang akan diperiksa, diinkubasikan dengan
Grafik 1. Parameter Serologi Infeksi 11IV–1 Konsentrasi Relatif antigen tersebut selama 30 menit sampai 2 jam kemudian
dicuci. Ella terdapat IgG (immunoglobulin G) yang menempel
pada bijibiji atau sumur microplate tadi maka akan terjadi
reaksi pengikatan antigen dan antibodi. Antibodi anti-IgG
tersebut terlebih dulu sudah diberi label dengan enzim (alkali
fosfatase, horseradish peroxidase) sehingga setelah kelebihan
enzim dicuci habis maka enzim yang tinggal akan bereaksi
sesuai dengankadar IgG yang ada, kemudian akan berwarna
bila ditambah dengan suatu substrat. Sekarang ada test EIA
yang menggunakan ikatan dari heavy dan light chain dari
Human Immunoglobulin sehingga reaksi dengan antibodi dapat
lebih spesifik, yaitu mampu mendeteksi IgM maupun IgG.
Sumber : Abbott Diagnostic Div. Pada setiap tes selalu diikutkan kontrol positif dan negatif
Pada bulan pertama setelah terjadi infeksi, dalam darah untuk dipakai sebagai pedoman, sehingga kadardi atas cut-off
penderita masih ditemukan virus HIV (viremia pertama). Pe- value atau di atasabsorbance level spesimen akan dinyatakan
meriksaan untuk isolasi HIV pada periode ini sangat jarang positif. Biasanya lama pemeriksaan adalah 4 jam. Pemeriksaan
berhasil, karena sulit mengetahui kapan infeksi terjadi, lagi ELISA hanya menunjukkan suatu infeksi HIV di masa lampau.
pula viremia hanya berlangsung sebentar, sekitar 2 bulan. Pada Tes ELISA mulai menunjukkan hasil positif pada bulan ke
akhir bulan ke 2 tubuh mulai membentuk antibodi terhadap 2–3 masa sakit. Selama fase permulaan penyakit (fase akut)
envelope dan disusul dengan pembentukan antibodi terhadap dalam darah penderita dapat ditemukan virus HIV/partikel HIV
core (inti). Pada saat itu pemeriksaan antibodi HIV mulai dan penurunan jumlah sel T4 (Gratik). Setelah beberapa hari
menjadi positif untuk jangka waktu lama, kecuali pada antibodi terkena infeksi AIDS, IgM dapat dideteksi, kemudian setelah 3
terhadap core yang dapat menurun setelah beberapa tahun bulan IgG mulai ditemukan. Pada fase berikutnya yaitu pada
kemudian, tergantung dari frekuensi infeksi ulang. Ini berarti waktu gejala major AIDS menghilang (karena sebagian besar
bahwa selama paling sedikit 2 bulan penderita tampak sehat HIV telah masuk ke dalam sel tubuh) HIV sudah tidak dapat
dan dalam darahnya antibodi HIV tidak terdeteksi oleh ditemukan lagi dari peredaran darah dan jumlah $el T4 akan
pemeriksaan serologi; periode ini disebut window period. kembali ke normal.
Setelah 5–10 tahun HIV mulai ditemukan dalam darah Hasil pemeriksan ELISA harus diinterpretasi dengan hati-
untuk kedua kalinya (viremia kedua), di samping itu juga hati, karena tergantung dari fase penyakit. Pada umumnya,
ditemukan antibodi terhadap envelope. Tampak bahwa antibodi hasil akan positifpada lase timbul gejalapertama AIDS (AIDS
terhadap envelope selalu dapat ditemukan dalam darah phase) dan sebagian kecil akan negatif pada fase dini AIDS
dibanding dengan antibodi terhadap core. (Pre AIDS phase).
Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan Beberapa hal tentang kebaikan test ELISA adalah nilai
metoda ELISA/EIA (enzyme linked immunoadsorbent assay). sensitivitas yang tinggi : 98,1% – 100%, Western Blot memberi
ELISA pada mulanya digunakan untuk skrening darah donor nilai spesifik 99,6% – 100%. Walaupun begitu, predictive value
dan pemeriksan darah kelompok risiko tinggi/tersangka AIDS. hasil test positif tergantung dari prevalensi HIV di masyarakat.
Pemeriksaan ELISA harus menunjukkan hasil positif 2 kali (re- Pada kelompokpenderita AIDS,predictive positive value adalah
aktif) dari 3 test yang dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan 100% sedangkan pada donor darah dapat antara 5% – 100%.
pemeriksaan konfirmasi yang biasanya dengan memakai Predictive value dari hasil negatif ELISA pada masyarakat
metoda Western Blot. Test'konfirmasi lain yang jarang dipakai sekitar 99,99% sampai 76,9% pada kelompok risiko tinggi.
lagi adalah RIPA (Radioimmunoprecipitation Assay), IFA (Im- Di samping keunggulan, beberapa kendala path test ELISA
munofluorescence Antibody Technique).Berbagai macam test yang perlu diperhatikan adalah :
konfirmasi tersebut tidak lebih sensitif dari ELISA, sulit diker- 1) Pemeriksaan ELISA hanya mendeteksi antibodi, bukan
jakan, mahal, lama dan masih dapat memberi hasil tidak benar, antigen (akhir-akhir ini sudah ditemukan test ELISA untuk
false positive, false negative, indeterminate. Penggabungan test antigen). Oleh karena itu test uji baru akan positif bila
ELISA yang sangat sensitif dan Western Blot yang sangat penderita telah mengalami serokonversi yang lamanya 2–3
spesifik mutlak dilakukan untuk menentukan apakah seseorang bulan sejak terinfeksi HIV, bahkan ada yang 5 bulan atau lebih
positif AIDS. (pada keadaan immunocompromised). Kasus dengan infeksi
HIV laten dapat temp negatif selama 34 bulan.
Pemeriksaan ELISA/EIA
ELISA dari berbagai macam kit yang ada di pasaran mem- 2) Pemeriksaan ELISA hanya terhadap antigen jenis IgG. Pen-

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 15


derita AIDS pada taraf permulaan hanya mengandung IgM, se- b. Salah satu dari band : p 15, p 17, p24, p31, gp4l, p51, p55,
hingga tidak akan terdeteksi. Perubahan dari IgM ke IgG mem- p66.
butuhkan waktu sampai 41 minggu. 2) Negatif :
3) Pada umumnya pemeriksaan ELISA ditujukan untuk HIV– Bila tidak ditemukan band protein.
1. Bila test ini digunakan pada penderita HIV-2, nilai positifnya 3) Indeterminate
hanya 24%. Tetapi HIV–2 paling banyak ditemukan hanya di Bila ditemukan band protein yang tidak sesuai dengan profil
Afrika. positif.
4) Masalah false positive pada test ELISA. Hasil ini sering Hasil indeterminate .diberikan setelah ditest secara duplo
ditemukan pada keadaan positif lemah, jarang ditemukan pada dan penderita diberitahu untuk diulang setelah 2–3 bulan. Hal
positif kuat. Hal ini disebabkan karena morfologi HIV hasil ini mungkin karena infeksi masih terlalu dini sehingga yang
biakan jaringan yang digunakan dalam test kemurniannya ber- ditemukan hanya sebagian dari core antigen (p17, p24, p55).
beda dengan HIV di alam. Oleh karena itu test ELISA harus Akhir-akhir ini hasil positif diberikan bila ditemukan
dikorfirmasi dengan test lain. paling tidak p24, p31 dan salah satu dari gp41 atau gpl60.
Tes ELISA mempunyai sensitifitas dan spesifisitas cukup Dengan makin ketatnya !criteria Western Blot maka spesi-
tinggi walaupun hasil negatif tesini tidakdapatmenjamin bahwa fisitas menjadi tinggi, dan sensitifitas turun dari 100% dapat
seseorang bebas 100%dari HIV1terutama pada kelompok resiko menjadi hanya 56% karena hanya 60% penderita AIDS mem-
tinggi. punyai p24, dan 83% mempunyai p31. Sebaliknya cara ini
Akhir-akhir ini test ELISA telah menggunakan dapat menurunkan angka false positive pada kelompok risiko
recombinant antigen yang sangat spesifik terhadap envelope tinggi, yang biasanya ditemukan sebesar 1 di antara 200.000
dan core. Antibodi terhadap envelope ditemukan pada setiap test padahal test tersebut sudah didahului dengan test ELISA.
penderita HIV stadium apa saja (Graf k). Sedangkan antibodi Besar false negative Western Blot belum diketahui secara pasti,
terhadap p24 (proten dari core) bila positif berarti penderita tapi tentu tidak not. False negative dapat terjadi karenakadar
sedang mengalami kemunduran/deteriorasi. antibodi HIV rendah, atau hanya timbul band protein p24 dan
p34 saja (yaitu pada kasus dengan infeksi HIV–2). False
Pemeriksaan Western Blot. negative biasanya rendah pada kelompok masyarakat tetapi
Pemeriksaan Western Blot cukup sulit, mahal, interpreta- dapat tinggi pada kelompok risiko tinggi.
sinya membutuhkan pengalaman dan lama pemeriksaan sekitar Cara mengatasi kendala tadi adalah dengan menggunakan
24 jam. recombinant HIV yang lebih murni.
Cara kerja test Western Blot yaitu dengan meletakkan HIV
KESIMPULAN
murni pada polyacrylamide gel yang diberi anus elektroforesis
Penyakit AIDS sulit dikenal dari gejala klinis saja. Masa
sehingga terurai menurut berat protein yang berbeda-beda,
inkubasi penyakit lama, dan selama itu penderita tampak sehat.
kemudian dipindahkan ke nitrocellulose. Nitrocellulose ini
Penyakit baru mulai dikenal setelah sampai pada stadium lanjut
diinkubasikan dengan serum penderita. Antibodi HIV dideteksi
dan sudah sempat menyebar ke banyak orang lain.
dengan memberikan antlbodi anti-human yang sudah dikon-
Pemeriksaan serologi HIV adalah salah satu cara untuk
jugasi dengan enzim yang menghasilkan wama bila diberi suatu
mendeteksi penyakit HIV secara dini.
substrat. Test ini dilakukan bersama dengan suatu bahan
Dua macam pemeriksaan, ELISA dan Western Blot adalah
dengan profil berat molekul standar, kontrol positif dan negatif.
pemerksaan serologi HIV yang dapat dikerjakan di Indonsia
Gambaran band dari bermacam-macam protein envelope dan
dan telah memenuhi kriteria WHO untuk menunjang upaya
core dapat mengidentifikasi macam antigen HIV. Antibodi
konfirmasi kasus, menentukan keadaan pengidap, skrining
terhadap protein core HIV (gag) misalnya p24 dan protein
darah donor dan survei pada kelompok risiko tinggi AIDS.
precursor (p25) timbul pada stadium awal kemudian menurun
pada saat penderita mengalami deteriorasi. Antibodi terhadap KEPUSTAKAAN
envelope (env) penghasil gen (gp160) dan precursor-nya
(gp120) dan protein transmembran (gp4l) selalu ditemukan 1. Weber IN, Weiss RA. HIV Infection : the cellular pricture, Scient Am
pada penderita AIDS pada stadium apa saja. Beberapa protein (Oct) 1988; 61-87.
2. Heseltine WA, Wong-Staal F. The molecular biology of the AIDS virus,
lainnya yang sering ditemukan adalah: p3 I, p51, p66, p14, p27, Scient Am (Oct) 1988; 34-42.
lebih jarang ditemukan p23, p15, p9, p7. 3. Essex M, Kanki PI. The origin of the AIDS virus, Scient Am (Oct) 1988;
Secara singkat dapat dikatakan bahwa bila serum mengan- 44-51.
dung antibodi HIV yang lengkap maka Western blot akan 4. Penny R. The natural history of HIV infection. First Asia-Pacific Congress
of Medical Virology. Singapore, 6-11 Nov 1988.
memberi gambaran profil berbagai macam band protein dari 5. Allain JP. Laboratory diagnosis of HIV infection. First Asia-Pacific Con-
HIV antigen cetakannya. gress of Medical Virology. Singapore, 6-11 Nov 1988.
Definisi hasil pemeriksaan Western Blot menurut profit dari 6. Chermann IC, Barrie-Sinoussi F. LAV virus, the aetiological agent of
band protein dapat bermacam-macam, pada umumnya adalah : AIDS, Diagnostic Pasteur, 1988, p. 5-9.
7. Gadelle S, Rey F. Westem-Blot Application : detection of LAV/HTLVIII
1) Positif : antibodies, Diagnostic Pasteur, 1988, p. 18-9.
a. Envelope : gp4l, gpl2O, gp160 8. Jackson JB, Balfour HH. Practical diagnostic testing for Human Immuno-
deficiency Virus. Clin. Microbiol. Rev. (Jan) 1988; 124-38.

16 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Polymerase Chain Reaction (PCR)
untuk Diagnosis
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Muljati Prijanto
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI., Jakarta

PENDAHULUAN tersebut dapat ditemukan dalam banyak infeksi virus, namun


Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus ada juga yang jumlahnya terlalu kecil untuk uji hibridisasi.
yang menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immuno Defi- Pada infeksi tahap awal yang mungkin ada hanya sejumlah
ciency Syndrome). Saat ini dikenal adanya virus HIV-1 dan kecil partikel dan adanya respon imun. Pada infeksi lanjut,
HIV-2 yang berbeda baik genetik maupun antigenik. mungkin ada integrasi dari DNA virus ke dalam genome
Penyakit AIDS pertama dilaporkan tahun 1981 di Amerika hospes, kadang-kadang dengan genome virus yang sangat
Serikat dan kini meluas menjadipandemi dan masalah inter- sedikit dan tanpa adanya petanda virus. Infeksi virus seperti
nasional. HIV dan HBV mungkin juga menekan sistem imun sehingga
Bi1a HIV masuk ke dalam tubuh, ia akan menyerang sedikit atau tidak ada zat anti spesifik yang dihasilkan terhadap
limfosit T4 yang berperan penting dalam mengatur sistem protein virus. Dalam keadaan seperti ini diperlukan teknik
kekebalan; kini diketahui bahwa virus tersebut juga merusak untuk dapat mendeteksi virus yang jumlahnya sangatkecil. Hal
sel-sel tubuh lainnya. Adanya enzim reverse transcriptase yang ini mungkin dapat dicapai dengan cara isolasi virus dalam
dapat mengubah RNA menjadi. DNA menyebabkan virus dapat kultur jaringan dan juga dengan mengamplifikasi DNA
berintegrasi dengan sel hospes; selanjutnya sel berkembang menggunakan teknik PCR. Isolasi virus adalah cara diagnosis
biak dengan mengandung bahan genetik virus. Infeksi oleh yang tepat, tapi dalam beberapa hal PCR analog dengan
HIV menjadi irreversibel dan berlangsung seumur hidup(1). pertumbuhan virus dalam kultur jaringan.
Diagnosis laboratorium penyakit virus dapat dilakukan Kelebihan yang ada pada PCR adalah bahwa hal-hal
dengan 2 metode yaitu: 1. langsung: secara isolasi virus dari seperti inokulum yang cukup dan persyaratan lain seperti
sampel dan 2. tidak langsung, dengan melihat respon zat anti halnya dalam sistem kultur tidak diperlukan lagi. Inokulum dari
spesifik. Metoda langsung yang umum digunakan antara lain PCR adalah naked ' AN dan tidak lebih hanya spesifik "primer"
elektron mikroskopis dan deteksi antigen virus. dari target sekuendan tidak semua genome harus ada.
Pada tahun-tahun terakhir ini ada perhatian besar pada
metode langsung berdasarkan ditemukannya asam nukleat (AN) LATAR BELAKANG
spesifik dari virus dengan teknik hibridisasi. Teknik ini dalam Uji serologis yang digunakan sekarang memberikan hasil
laboratorium klinik dibuktikan sangat berguna untuk infeksi cepat dan sensitif untuk menapis darah dan produk darah ter-
dengan non cultivated (2). Dasar teknik hibridisasi adalah ikatan hadap adanya zat anti HIV tipe I (HIV-1). Sampel yang reaktif
hidrogen dari AN probe yang di label dengan target genome kemudian diperiksa lebih lanjut dengan cara Western Blot,
virus dan pendeteksian dari ikatan ini dengan menggunakan immunofiuorescentassay(IFA), radioimmunoprecipitationassay
kolorimetri atau zat radioaktif. Untuk deteksi, diperlukan (RIPA).
sedikitnya 104–1O salinan target genome. Jumlah AN virus Walaupun pemeriksaan ini sensitif dan spesifik untuk HIV,

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 17


deteksi virus secara langsung dapat dipertimbangkan meriksaan ini paling baik digunakan untuk tersangka penderita,
mengingat beberapa alasan : yang secara serologi tidak jelas menunjukkan adanya infeksi,
1. Infeksi virus HIV yang laten; uji langsung dapat membantu termasuk anak-anak dari ibu seropositif (De Rossi dkk, 1988;
identifikasi individu yang terinfeksi virus tanpa adanya per- Laure dkk 1988), pasangan yang salah satunya seropositif;
ubahan serologis. pemakai obat secara intravena dan untuk individu yang
2. Mendeteksi HIV pada bayi; zat anti maternal dapat bertahan meskipun tidak secara pasti seropositif tetapi mungkin terkena
sampai 15 bulan sehingga sulit untuk dibedakan dengan zat anti atau tertular infeksi dari retrovirus yang lain.
bayi. Tersangka yang diperiksa dengan PCR menunjukkan hasil
3. Mendeteksi virus secara langsung dapat membantu inenen- positif terhadap HIV 1 dan 2, bukan berarti bahwa ada reaksi
tukan status individu dengan hasil Western Blot negatif ke silang virus, tetapi karena memang tersangka terinfeksi kedua
dalam kelompok risiko tinggi atau rendah. jenis virus tersebut. PCR direkayasa tidak hanya membedakan
4. Berguna untuk membantu pembelahan virus secara aktif antara virus RNA dan DNA, tetapi juga dapat memonitor jenis
maupun laten pada pasien selama pengobatan. virus. Secara nyata dapat ditunjukkan dengan peningkatan anti-
Mengingat sirkulasi virus bebas dalam tingkat rendah, gen atau zat anti pada pasien yang sedang dalam pengobatan.
keberhasilan deteksi bervariasi antara 10% – 75%, namun ada Selain itu dapat untuk memeriksa darah dari sejumlah
beberapa laboratorium melaporkan virus recovery dari besar donor untuk memastikan apakah mereka bebas virus dan
penderita yang mendekati 100%(2). untuk memeriksa kandidat vaksin.
Pada mulanya PCR digunakan untuk mendiagnosis pe-
nyakit genetik keturunan seperti sickle cell anemia (Saiki dkk,
1985). Selanjutnya PCR dapat digunakan untuk mendiagnosis PCR
virus terutama HIV. Pengembangan terhadap virus lain telah PCR adalah cara in vitro untuk memperbanyak target
dilakukan pula. PCR dapat digunakan untuk mendeteksi sekuen sekuen spesifik AN untuk analisis cepat atau karakterisasi,
DNA HIV dari established cell lines dalam jaringan set, semen, walaupun material yang digunakan pada awal pemeriksaan sa-
sel mononuklear dan supernatan dari penderita AIDS atau pen- ngat sedikit. Pada dasarnya PCR meliputi tiga perlakuan yaitu:
derita ARC. (Kwok dkk, 1987). Studi lebih jauh menunjukkan denaturisasi, hibridisasi dari "primer" sekuen DNA pada bagian
adanya kemungkinan untuk mendeteksi HIV dalam DNA tertentu yang diinginkan, diikuti dengan perbanyakan bagian
langsung yang diisolir dari set darah tepi set mononuklear tersebut oleh Tag polymerase; dikerjakan dengan mengadakan
(PBMCs) individu seropositif, tetapi tidak dalam DNA dari campuran reaksi dalam tabung mikro yang kemudian
individu seronegatif(Ou dkk, 1988). Oleh karena itu pemeriksaan diletakkan pada blok pemanas yang telah diprogram pada seri
ini digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV pada anak-anak temperatur yang diinginkan.
(DeRossi dkk, 1988,Laure dkk, 1988) dan selanjutnya digunakan Teknik ini ditemukan oleh Kary Mullis dari Cetus
untuk mengindentifikasi HIV dalam individu seronegatif dalam Corporation (Saiki dkk 1985, Mullis dan Faloona 1987, Saiki
kelompok risiko tinggi (Loche & Mach, 1988) dan DNA HIV dkk 1988) dan sekarang digunakan secara luas dalam penelitian
pada penderita seropositif haemophiliacs (Taylor, 1988). biologi (Orkin 1987, Marx 1988, Schochetman dkk 1988) (1).
Pasangan "primer" yang biasa digunakan untuk HIV-1 dan Pada dasarnya, target DNA diekstraksi dad spesimen dan
HIV-2 atau spesifik untuk masing-masing virus telah digunakan secaraspesifikmembelah dalam tabungsampai diperoleh jumlah
untuk membedakan antara 2 virus yang berhubungan (Raufield cukup yang akan digunakan untuk deteksi dengan cara hibridi-
dkk, 1988). sasi. Replikasi yang mungkin dicapai adalah dalam kelipatan
Spesimen patologis pada umumnya difiksir dengan for- jutaan atau lebih dengan menggunalcan oligonukleotid primer
malin, parafin dan disimpan. Lai Goldman dkk (1988) menun- yang berkomplemen terhadap masing-masing rantai dari target
jukkan bahwa DNA yang diekstraksi dari jaringan tersebut me- sekuen ikatan rangkap. Jarak antara letak ikatan dari 2 primer
rupakan substrat yang cocok untuk PCR HIV. Beberapa ke- menetapkan ukuran produk yang diamplifikasi.
lompok telah memodifikasi protokol PCR dengan memasukkan Target mula-mula didenaturisasi pada suhu 90°–95°C dan
reverse transcriptase; dengan demikian RNA HIV dapat di- didinginkan antara 37°–50°C untuk membiarkan annealing
deteksi seperti halnya DNA. (Byrne dkk, 1988, Hart dkk 1988, spesifik antara primer dan target DNA. Ini membuat cetakan
Murakawa dkk 1988). untuk enzym Taq polimerase yang pada suhu 67°–72°C meng-
Hal ini memungkinkan deteksi virus bebas dalam darah kopi masing-masingrantai. Setiap produkakan terdiri dari sekuen
dan membedakan antara replikasi aktif dan infeksi laten tanpa yang saling melengkapi 1 dari 2 primer dan akan menguatkan
RNA transcriptase dengan memonitor RNA ekstraseluler, RNA dalam lingkaran sintesis berikut. Hubungan antara tingkat ampli-
intraseluler dan DNA intraseluler(1). fikasi (Y) dengan efisiensi reaksi (X) dan jumlah cycle adalah:
Y = ( 1 + 1 )n
INDIVIDU YANG PERLU DIPERIKSA Sebagai contoh: untuk 20 cycles dengan 100% efisiensi
Penggunaan PCR pada sampel yang diketahui mengandung adalah 1.048.576 kali amplifikasi, dengan 80% efisiensi turun
zaf anti HIV, antigen atau kultur positif, bukan merupakan menjadi 127.482, berarti ada 88% produk yang hilang(1).
pemeriksaan penapis yang tepat. Namun secara umum pe- Salah satu hambatan dalam diagnosis PCR adalah adanya

18 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


false negative. Hart dkk (1988) menemukan 1 dari 21 spesimen nemuan HIV dengan PCR pada bayi memiliki korelasi yang
seropositif adalah negatif untuk HIV melalui analisis PCR dari baik dengan perkembangan penyakit.
DNA dan RNA. Ou dkk (1988) menemukan 6 dari 11 spesimen 2) Prosedur telah digunakan untuk menetapkan status infeksi
seropositif adalah negatif untuk HIV dengan PCR. Penggunaan path individu seronegatif. Studi pada golongan risiko rendah,
lebih dari 1 pasang primer merupakan cara untuk menghindari hasil seronegatif menunjukkan bahwa individu tidak terinfeksi.
hasil false negative yang dianjurkan oleh peneliti berikutnya, 3) Prosedur telah digunakan untuk mendeteksi sekuen HIV
juga Laure dkk (1988). Beberapa hasil false negative dapat pada individu seropositif dengan gejala, yang hasilnya negatif
dihindarkan dengan memilih primer dari bagian yang berlawan- dengan uji deteksi langsung lainnya, termasuk dengan cara
an dari genome. Primer SK 38/39 dan SK 68/69 merupakan mengkultur virus.
pilihan yang baik digunakan untuk HIV (Ou dkk, 1988). 4) Telah digunakan untuk mengindentifikasi infeksi pada se-
Pada penggunaan pasangan primer ganda, satu dari masing- jumlah kecil individu berisiko tinggi sebelum serokonversi.
masing secara terpisah diperiksa dengan masing-masing pa- 5) Bila PCR digunakan untuk menapis pasangan seksual se-
sangan, atau 2 atau lebih pasangan primer digunakan pada pe- ronegatif infeksi HIV-1, hemophiliacs, maka talc satupun
meriksaan yang sama; cara kedua tidak selalu mudah dilakukan (0122) ditemukan mempunyai sekuen HIV, menunjukkan
selama pasangan primer mungkin memiliki perbedaan dalam bahwa frekuensi infeksi HIV-1 pada pasangan seksual dengan
annealing, sifat ikatan polimerase yang berbeda dan mungkin zat anti negatif mungkin sangat rendah.
bekerja sebagai penghambat yang bersaing. Dalam hal ini 6) PCR telah digunakan untuk konfirmasi kasus pertama dan
penting untuk menenukan secara empirik primer mana yang HIV-2 di Afrika Barat yang menjalani pengobatan di Amerika
dapat dikombinasikan dalam reaksi yang sama. Serikat (CDC 1988). Sebagai tambahan, kasus yang tercatat di
Pasangan primer SK-38–39 dan atau SK-145–101 telah Afrika Barat telah terinfeksi oleh HIV-1 dan 2 telah
berhasil digunakan untuk mendeteksi HIV pada lebih dari 96% dikonfirmasi dengan PCR (Reyfield dkk,1988).
individu dengan zat anti positif (Ou dkk, 1988, Jackson dkk, 7) PCR telah digunakan untuk mengevaluasi heterogenisitas
Liston dkk). virus dalam HIV yang diisolasi (Goodenow dkk 1989).
PCR dapat mendeteksi molekul tunggal dari target DNA
dan juga mengamplifikasi target yang ada sebagai pasangan
yang tidak komplet; sebaliknya kontaminasi dan campuran
reaksi dengan sejumlah target DNA yang tidak terdeteksi akan
memberikan hasil false positive (Lo dkk, 1988). Ketaatan KEPUSTAKAAN
mengikuti prosedur dapat mengurangi risiko kontaminasi. Cara 1. Clewley JP. The polymerise chain reaction, a review of the practical limita-
yang cepat dan sederhanadalam menyiapkan sampel dapatpula tons for human immunodeficiency virus diagnosis,' VirolMethods 1989; 25:
mengurangi false positive (Kwok, Higurachi,1989) (3). 179-88.
2. Jackson KM. The Polymerase Chain Reaction. Kumpulan makalah sim-
posium DNA probing dan tehnik penerapannya, 1990: 13-14.
PENGGUNAAN PCR 3. Gibson KM, McLean KA, Clewley JP. A simple and rapid method for
Identifikasi HIV dengan PCR telah memberikan sumbangan detecting human immunodeficiency viru s by PCR. J Virol Methods
dalam diagnosis dan penelitian AIDS sebagai berikut(4): 1991;00: 00-00.
1) Prosedur telah berhasil digunakan untuk memeriksa bayi 4. Kellog DE, S Kwok. PCR protocols. A guide to methods and applications.
Part IV Diagnostic and forensics. Detection of human immunodificiency
lahir dari ibu seropositif selama zat anti maternal masih dimiliki virus. Academic Press, 1990; 337-47.
bayi sampai umur 15 bulan, sedangkan diagnosis infeksi HIV 5. Surjadi G. AIDS dan penanggulangannya. Diskusi ilmiah Badan Litbang
secara serologis terhambat. Pada beberapa studi selama ini pe- Kesehatan, 1988. Jakarta; 1-17.

KALENDER PERISTIWA
October 11 – 15, 1992 – Kongres Nasional Ikatan Farmakologi Indonesia ke VIII
Hotel Pangeran Beach, Padang, INDONESIA
Secr..: Laboratorium Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas,
Jl. Perintis Kemerdekaan
Padang 25128, INDONESIA

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 19


Artritis yang Berhubungan dengan
Penyakit Defisiensi Imun
Harry Isbagio
Subbagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
R.S. Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta

PENDAHULUAN ulang bakteri patogen pada usia sangat dini. Pada prinsipnya
Sendi merupakan organ tubuh yang unik, karena dapat ditemukan kadar semua imunoglobulin utama sangat rendah,
terserang atau berhubungan dengan berbagai penyakit. Hingga kegagalan membentuk antibodi spesifik dan penyakit ini di-
saat ini telah dikenal lebih dari 100 penyakit sendi. Sebagian di turunkan secara X-linked resesif(3).
antaranya menyerang langsung komponen sendi, seperti pada Gambaran kliniknya sebagai berikut: Pada awal kehidupan
artritis reumatoid yang menyerang sinovia, penyakit sendi maka neonatus akan tampak sehat selama beberapa bulan oleh
degeneratif (osteoartritis) yang merusak rawan sendi, me- karena masih adanya antibodi maternal yang didapat secara
numpuknya kristal asam urat pada penyakit gout; pada tranplasental. Setelah itu anak aka') mengalami infeksi bakteri
sebagian lain didapatkan sinovitis yang tidak khas dan berbagai patogen berulang seperti pneumokokus, Haemophilus influen-
keadaan lain yang belum jelas gambaran patologiknya. zae, streptokokus dan meningokokus. Terjadi proses infeksi
Penyebab penyakit sendi beraneka ragam; yang telah di- dalam berbagai tingkat seperti septikemia, meningitis, infeksi
ketahui antara lain : proses imunologik yang melibatkan jaring- saluran napas (otitis media, bronkitis dan pneumoni). Akibat
an ikat (Artritis rematoid, SLE, Skelorosis sistemik dan lain- infeksi saluran napas berulang akan terjadi bronkitis kronik dan
lain), yang berhubungan dengan faktor imunogenetik (Spondili- bronkiektasis. Keadaan ini akan menjadi penyebab utama kema-
tis ankilosa; penyakit Reiter, artritis psoriatik, artritis pada pe- tian akibat gagal napas, yang biasanya terjadi pada dekade 3 atau
nyakit intestinal kronik), proses degeneratif (osteoartritis), aid 4. Berbeda dengan defisiensi imunitas humoral lainnya maka
bat infeksi langsung (bakteri, virus, jamur, parasit), akibat pada penyakit ini jarang dijumpai gangguan gastrointestinal.
infeksi tidak langsung (artritis reaktif misalnya : demam Komplikasi lainnyaberupaensefalomielitis yang berakibat fatal,
rematik), akibat kristal (gout, pseudogout), akibat gangguan tetapi dapat diobati dengan pemberian gammaglobulin dosis
endokrin, yang berhubungan dengan penyakit defisiensi imun, tinggi secara intravena.
akibat neoplasma, gangguan neuropatik, berhubungan dengan Artritis dijumpai pada 20 sampai 40 persen kasus. Gam-
penyakit tulang (osteoporosis, osteomalasi), trauma (tendinitis, barannya tidak spesifik, menyerang satu sendi atau lebih.
bursitis) dan lain-lain(1).
Dad sejumlah penyakit defisiensi imun yang dikenal, maka SELECTIVE IgA DEFICIENCY
artritis ditemukan path 4 jenis defisiensi imun, yaitu pada X- Ialah keadaan di mana kadar IgA serum kurang dari 0.05
linked Agammaglobulinemia (XLA, Bruton-type Agammaglo- mg/ ml disertai dengan peningkatan kadar IgG dan IgM. Pada
bulinemia), Selective IgA deficiency, Common Variable Immu- Lupus Eritematosus Sistemik keadaan seperti ini ditemukan 10
nodeficiency (CVID, Adult-Acquired Agammaglobulinemia) kali lebih banyak dari populasi normal(3).
dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) (2). Gambaran kliniknya berupa infeksi berulang pada saluran
napas dan saluran cerna. Tidak seperti pada pasien dengan
X-LINKED AGAMMAGLOBULINEMIA panhipogamaglobulinemia, gangguan saluran napas pada selec-
Ialah keadaan defisiensi imun yang terbatas hanya path tive IgA deficiency tidak sampai menimbulkan destruksi bron-
defek sistem limfosit B yang karakteristik dengan infeksi ber- kopulmoner. Duapertigapenderita mengalami gangguan gastro-

20 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


intestinal, berupa diare kronik dan sindrom malabsorbsi disertai umumnya para peneliti menemukan gejala berupa penyakit Reiter,
penurunan berat badan yang progresif. artritis psoriatik, poliatritis, oligoartritis dan monoartritis.
Artritis sering ditemukan pada penderita ini dan sebaliknya Penyakit Reiter merupakan penyakit yang ditandai dengan
pada artritis juvenile ditemukan insiden selective IgA deficiency frias uretritis, uveitis dan artritis. Winchester dkk (1987) me-
40 kali lebih banyak dari populasi normal. Didapat pula nemukan 13 kasus Reiter pada penderita AIDS, dimana HLA-
insidensi yang tinggi dan antibodi antinuklear (ANA) dan B27 positif pada 9 kasus(9).
antibodi terhadap IgA(2). Arttis psoriatik merupakan artritis yang khas pada pende-
rita penyakit kulit psoriasis. Pada penderita AIDS ditemukan
COMMON VARIABLE IMMUNODEFICIENCY (CVID) tidak sebanyak penyakit Reiter.
CVID merupakan diagnostik umum untuk sekelompok Arttis lainnya memberikan penampilan yang tidak spesifik,
gangguan yang heterogen berupa kegagalan respons antibodi, yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu diagnosis
hipogamaglobulinemia, meningkatnya insidens infeksi dan ber- artritis yang telah dikenal.
bagai tingkat defisiensi imun seluler(3). Calabrese dkk menemukan, bila pasien dengan HIV positif
Gambaran kliniknya berupa infeksi berulang dari kuman timbul gejala artritis maka prognosisnya menjadi lebih buruk,
yang sangat patogen seperti pneumokokus dan Haemophilus terlebih lagi bila menderita penyakit Reiter atau artritis psoriatik;
influenzae. Beberapa pasien juga mengalami infeksi jamur, perjalanan penyakit penderita akan menjadi progresif sehingga
mikobakterium dan jarang sekali infeksi dari Pneumocytis menjadi AIDS yang lengkap dan berakhir dengan kematian.
carinii. Pasien biasanya menderita otitis media kronik, Dalton dkk (1990) melakukan pemeriksaan histologik pada
sinusitis, dan penyakit saluran napas kronik yaitu bronkitis dan jaringan sinovia yang diambil dari sendi lutut kanan 25
bronkiektasis yang dapat menyebabkan kematian karena gagal penderita AIDS yang telah meninggal dan membandingkannya
napas. Pasien menderita gangguan gastrointestinal berupa diare dengan kontrol. Sewaktu masih hidup penderita tidak
kronik dan sindrom malabsorbsi, anemia hemolitik autoimun, mempunyai keluhan nyeri sendi. Hasil dari penelitian tersebut
neutropenia, trombositopenia. menunjukkan perubahan abnormal pada dinding arteri kecil
Gejala artritis sangat mirip dengan artritis reumatoid. Pada berupa pembengkakan endotel, proliferasi fibromuskuler intima
tahun 1960 Good dan Rotstein melaporkan 9 kasus artritis dan fragmentasi atau/dan reduplikasi elastik lamina interna.
rematoid dari 27 penderita CVID, 5 di antaranya menunjukkan Selain itu juga ditemukan fibrosis sinovitis sedang sampai berat
gambaran artritis rematoid klasik(4). Walaupun jarang, dapat di- dan penebalan atau hilangnya permukaan sinovia. Pemeriksaan
temukan pula tenosinovitis,gambaran radiologik berupa penyem- untuk bakteri, jamur, inklusi bodi dan neoplasma memberi hasil
pitan celah sendi, erosi marginal dan osteoporosis periartikuler. negatif. Peneliti menyimpulkan bahwa belum adanya keluhan
Gambaran histologiknya tidak menunjukkan gambaran seperti sendi pada pasien tersebut mungkin disebabkan penderita
pada artritis reumatoid. Sel T menunjukkan peningkatan aktivi- terlalu cepat meninggal sebelum perubahan tersebut
tas supresor.Sel B danreumatoid faktor biasanya negatif. Webster memberikan keluhan(10).
dkk (1976) mencoba pengobatan dengan menggunakan imuno-
globulin yang ternyata memberikan hasil yang memuaskan(5). RINGKASAN
Artritis dapat terjadi pada penyakit defisiensi imun, yaitu
ACQUIRED IMMUNODEFICIENCY SYNDROME (AIDS) pada X-linked Agammaglobulinemia (XLA, Bruton-type
AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi Agammaglobulinemia), Selective IgA deficiency, Common
dari Human Immunodeficiency Virus-1 (HIV). Penyakit ini Variable Immunodeficiency (CVID, Adult Acquired Agamma-
dengan cepat telah menyebar ke seluruh dunia. Dalam tulisan globulinemia) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome
ini, pembicaraan dibatasi pada manifestasi kelainan sendi. (AIDS).
Artritis pada AIDS makin wring dilaporkan sehingga telah Pada X-linked Agammaglobulinemia dan Selective IgA
menarik perhatian para reumatologist untuk menelitinya(6). deficiency gambaran artritisnya tidak 'khas. Pada Common
Ternyata insidens manifestasi artikuler pada AIDS sangat ber- Variable Immunodeficiency gambaran artritisnya menyerupai
variasi. Solinger dan Hess (1990) hanya menemukan 23 pen- artritis rematoid, gejala artritis hilang setelah pemberian
derita dari 1100 pasien dengan HIV positif, sedangkan pusat suntikan imunoglobulin intravena.
penelitian lain menemukan jumlah yang lebih besar, Calabrese Pada penderita dengan HIV positif dapat ditemukan gejala
dkk (1990) menemukan angka sebesar 14,5% dari 117 pasien artritis. Insidens artritis bervariasi dari yang paling rendah sam-
dengan HIV positif. Perbedaan ini mungkin disebabkan bebe- pai 14,5%, kemungkinan tergantung dari demografi dan lama
rapa hal, para ahli berpendapat mungkin oleh karena perbedaan perjalanan penyakit; makin lama menderita penyakit makin
demografi, tetapi Calabrese dkk. berpendapat perbedaan itu besar kemungkinan terserang artritis. Jenis artritis yang ditemu-
terletak pada lamanya melakukan observasi, main lama pasien kan berupa penyakit Reiter, artritis psoriatik, poliartritis, oligo-
tersebut masih hidup dan dapat diikuti perjalanan penyakitnya artritis dan monoartritis. Bila penderita dengan HIV positif
makin besar kemungkinan menderita artritis(7,8). menderita artritis make prognosisnya buruk karena segera akan
Yang menarik ialah gambaran artritis yang ditemukan, menjadi AIDS lengkap dan berakhir dengan kematian. Pada

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 21


penelitian histologik jaringan sinovia yang diambil dari sendi 5. Webster ADB, Loewi G, Dourmashkin RD et al. Polyarthritis associated
with hypogammaglobulinemia and its rapid response to immune globulin
genu kanan penderita AIDS yang meninggal didapatkan telah treatment. Br Med J 1976; 1: 1314-6.
adanya perubahan pada arteri kecil dan sinovia walaupun pen- 6. Sergent JS. Polyarticular Arthritis. In: Textbook of Rheumatology. Kelley
derita di masa hidupnya belum ada keluhan artritis. WN et al (eds). Third ed. Philadelphia, London, Toronto, Montreal,
Sydney, Tokyo: WB Saunders Co. 1988, p. 455.
7. Solinger AM, Hess EV. Rheumatic Diseases and AIDS – is the correlation
true ?. Scient Abstr 54th Annual Meeting American College of Rheuma-
KEPUSTAKAAN tology. Seattle, Washington. October 27–November 1, 1990. p. S87.
8. Calabrese LH, O'Connell M, Kelley DM, Easley KA. A longitudinal study
1. Schumacher HR. Classification of the Rheumatic Diseases. In: Primer on of patients infected with the human immunodeficiency virus (HIV) : The
the Rheumatic Diseases. Schumacher at al (eds). Ninth ed. Atlanta: influence of rheumatic symptoms on the natural history of retroviral
Arthritis Foundation. 1988, p. 81. infection. Scient Abstr 54th Annual Meeting American College of
2. Schumacher HR. Arthritis associated with Immunodeficiency Disease. In: Rheumatology. Seattle, Washington. October 27 November 1, 1990. p.
Primer on the Rheumatic Diseases. Schumacher et al (eds). Ninth ed. S142.
Atlanta: Arthritis Foundation. 1988, p. 239. 9. Winchester R, Bernstein DH, Fischer HD et al. The Co-occurence of
3. Blaese MR, Lane CE. AIDS and Other Immunodeficiency Diseases. In: Reiter 's syndrome and acquired immunodeficiency. Ann Intern Med 1987;
Textbook of Rheumatology. Kelley WN et al (eds). Third ed. Philadelphia, 106: 19–26.
London, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo: WB Saunders Company. 10. Dalton AD, Harcout-WebsteriN, Keat AC. Histopathology of Synovium in
1988, p. 1355. AIDS. Scient Abstr 54th Annual Meeting American College of
4. Good RA, Rotstein J. Rheumatoid arthritis in agammaglobulinemia. Bull Rheumatology. Seattle, Washington. October 27–November 1, 1990. p.
Rheum Dis 1960; 10: 203-6. S142.
AIDS, hubungannya dengan
Penyakit Menular Seksual lain
Jusuf Barakbah, Moch. I. Ilias
Laboratorium/UPF Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin Fakultas Kedokteran
Universitas Airlanga/RSUD Dr. Sutomo, Surabaya

PENDAHULUAN – transfusi darah dan komponen darah (faktor VIII untuk he-
Sejak ditemukannya kasus AIDS pertama di Amerika Seri- mofilia).
kat pada tahun 1981, penyakit ini telah menyebar dengan cepat – alat suntik/jarum suntik yang dipakai berulang-ulang tanpa
ke seluruh dunia sebagai pandemi. Pada 1 Juni 1989 oleh WHO disterilisasi, umumnya pada pecandu obat bius intravena, atau
telah dicatat secara resmi sebanyak 157.191 penderita AIDS jarum akupunktur, tato, tindik.
yang dilaporkan dari 149 negara, 63% dari benua Amerika, – transplantasi organ, janingan dan semen.
16% dari Afrika, 14% dari Eropa dan 1% dari Asia dan 3) Perinatal dari ibu ke janin/bayi.
Oceania. Jumlah kasus sebenamya diperkirakan jauh lebih – selama dalam kandungan
besar yaitu 500.000 penderita yang kebanyakan tidak tercatat. – waktu persalinan
Hingga sekarang dan mungkin dalam beberapa tahun men- − waktu menyusui.
datang masih belum akan ditemukan obat yang dapat menyem- Secara global terdapat tiga pola epidemiologi yang berbeda.
buhkan dengan tuntas penyakit AIDS tersebut maupun vaksin
yang mampu mencegah terjadinya infeksi. Oleh karena itu Pola 1.
satusatunya cara penanggulangan AIDS pada waktu ini ialah Penularan terbanyak terjadi pada pria homoseksual atau
mencegah terjadinya penularan lebih Ian jut. Untuk dapat biseksual dan pecandu obat bius. Hanya sebagian kecil (1%)
melaksakaan pencegahan yang efektif tersebut maka sangat penularan melalui kontak heteroseksual. Perbandingan jumlah
perlu diketahui cara transmisi human immunodeficiency virus kasus pria dengan wanita berkisar antara 10 : 1. Transmisi
(HIV) dari satu penderita ke penderita lainnya, faktor-faktor melalui tranfusi darah atau produk darah sekarang sudah dapat
yang mempermudah terjadinya penularan, serta hubungannya diatasi dengan cara pemeriksaan rutin donor darah.
dengan penyakit menular seksual (PMS) lainnya. Pola epidemi ini terdapat di Amerika Utara, Eropa Barat,
Australia dan Selandia Baru.
EPIDEMIOLOGI Pola 2.
Cara penularan Penularan terjadi kebanyakan melalui kontak
Human immunodeficiency virus (HIV) dapat diisolasi dari heteroseksual; oleh karenanya rasio penderita pria dan wanita
bermaca-macam cairan tubuh, seperti darah, semen (cairan berkisar 1 : 1. Dengan banyaknya kasus wanita, kemungkinan
sperma), air liur, air susu ibu, urin, getah serviks dan vagina. penularan perinatal akan lebih sering dijumpai.
Akan tetapi yang terbukti dapat memberikan penularan Pola ini terdapat di Afrika dan beberapa negara Karibia.
hanyalah darah, semen serta getah serviks dan vagina. Pola 3.
Berdasar pengamatan epidemiologis di seluruh dunia, Transmisi terjadi secara homoseksual dan heteroseksual,
dapat disimpulkan 3 modus transmisi HIV yaitu : dan sebagian kecil melalui transfusi darah atau produk darah
1) Hubungan seksual (homoseksual atau heteroseksual). yang diimpor sebelum tahun 1986.
2) Parenteral Pola ini terdapat di Asia, Eropa Timur dan Timur Tengah.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 23


Penularan melalui hubungan seksual. – Lesi atau mikrolesi yang non-spesifik.
Dari semua kemungkinan cara penularan tersebut di alas, Telah diketahui bahwa limfosit yang mengandung HIV
transmisi seksual adalah yang paling dominan; oleh karena iW pada wanita seropositip ialah pada sekret serviko-vaginal, dan
infeksi HIV erat hubungannya serta sering bersamaan dengan tidak pada sel epite1°. Hal ini penting karena pada tiap
penyakit menular seksual lainnya. peradangan vagina dan serviks seperti GUD, dan juga gonore,
Risiko terjadinya penularan melalui hubungan seksual ter- infeksi C. trachomatis, trikomoniasis, kandidiasis akan
gantung dari beberapa faktor, antara lain : membantu pengeluaran limfosit yang terinfeksi, hingga akan
memberikan risiko transmisi HIV yang jauh lebih besar
Macam hubungan seksual.
dibanding dengan pada vagina dan serviks yang intak.
Homoseksual tampaknya memberikan kemungkinan pe-
Demikian pula dengan uretritis pada pria.
nularan yang lebih besar dibanding dengan heteroseksual bila-
Penjelasan ini dapat sedikit menyingkap misteri mengapa
mana tidak ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
ada perbedaan yang sangat menyolok antara epidemi di Amerika
Beberapa alasan yang dikemukakan ialah: lebih mudah ter-
dan Eropa dengan di Afrika. Lebih dari 70% penderita hetero-
jadi lesi pada hubungan genito - anal, terutama di daerah mukosa
seksual yang datang berobat di klinik PMS di Afrika disebabkan
rektum dengan epitel silindris dibanding mukosa vagina
ulkus pada genitalianya, dibanding 4% di Amerika Serikat. Jos
dengan epitel skuamosa yang tebal. Faktor lain ialah
Bogaerts dkk meneliti 210 penderita dengan ulkus genital, ter-
kemampuan resorbsi semen yang lebih besar oleh mukosa
nyata 21% sifilis, ulkus mole 24%, herpes genitalis 17%, dan
rektum dibanding mukosa vagina.
LGV 11%(4). Penelitian pada pasangan monogami penderita
Setelah ditemukannya kasus-kasus pertama AIDS oleh ka-
hemofilia,dari 24 yang seropositiphanya4 (17%) pasangan yang
rena kontak heteroseksual pada tahun 1983, maka penelitian
tertular setelah sekian tahun lamanya(4), sedangkan dalam
secara seksama dilapukan di banyak negara untuk menguji
penelitian lain pada laki-laki biseksual dengan banyak partner
sampai di mana kontak heteroseksual memegang peranan pe-
yang terjangkit HIV, 50% istri-istri mereka tertular(5). Hal ini
nularan AIDS.
menunjukkan bahwa risiko penularan akan meningkat sesuai
Di Amerika Serikat yang sebagian besar penularan oleh
dengan bertambahnya jumlah partner seksual.
karena kontak homoseksual dan penggunaan obat bias iv. kasus
heteroseksual jarang dijumpai; pada Juli 1986 telah dilaporkan Pada penelitian terhadap pria homoseks yang dilakukan
363 kasus AIDS oleh kontak heteroseksual, terdiri dari 63 kasus akhir-akhir ini dapat dibuktikan pula bahwa terjadinya serokon-
(17%) laki-laki, dan 302 (83%) wanita; tampaknya transmisi versi erat kaitannya dengan adanya ulkus ano-genital, herpes
laki-wanita lebih dominan(1). Akan tetapi Pape dkk. mendapatkan genitalis dan ano-rektalis, serta kondiloma akuminata. Sebalik-
60% pasangan wanita dan 63% pasangan pria dari penderita nya secara epidemiologis dapatdibuktikan bahwa dampak rasa
AIDS di Haiti telah tertular, sehingga menun jukkan takut masyarakat terhadap AIDS, menyebabkan perubahan
kemungkinan penularan laki-wanita dan sebaliknya yang sama. perilaku seksual terutama pada kaum homoseks, hingga dapat
Di Afrika Tengah dan juga Haiti sumber penularan yang menurunkan insidens PMS lainnya; RA Coutinho dkk
penting ialah wanita tuna susila (WTS) melalui kontak hetero- menemukan bahwa insidens sifilis di Amsterdam menurun dari
seksual; penelitian terhadap 90 WTS mendapatkan bahwa 66% 88 per 100.000 menjadi 30 per 100.000 pada tahun 1985.
WTS ekonomi rendah serta 31% dengan status ekonomi yang
Selain hubungan epidemiologis tersebutdi atas, AIDS
lebih tinggi telah terinfeksi HIVo. Prevalensi seropositip pada
sendiri sebagai penyakit yang menghancurkan sistim kekebalan
WTS memang berbeda di bermacam-macam tempat. Data yang
tubuh seseorang, memberikan pengaruh yang besar terhadap
dikumpulkan menunjukkan angka yang bervariasi antara 0% di
perjalanan PMS lainnya yaitu timbulnya gejala klinis yang
London dan Paris hingga 88% di Rwanda(1).
lebih berat, dan lebih resisten terhadap pengobatan.
Infeksi HIV pada WTS dapat terjadi melalui 2 kemungkinan
Herpes genitalismemberikan gejalaklinisyangberat,berupa
yaitu: penggunaan obat bias iv. yang banyak didapatkan di
lesi yang luas, seringkali berupa ulkus yang nyeri, waktu pe-
Amerika Serikat dan Eropa, serta kontak heteroseksual yang
nyembuhan yang lama, resisten terhadap pengobatan, serta
kebanyakan didapatkan di Afrika dan Karibia.
lebih sering kambuh; pada pria homoseksual ulkus sering
Faktor pembantu (co factor). dijumpai pada daerah ano-rektal. Telah dilaporkan adanya saw
Telah menjadi hipotesa bahwa penyakit menular seksual kasus herpes simpleks berupa ulkus yang luas pada bokong kin
lainnya merupakan faktor pembantu dalam meningkatkan yang tidak sembuh dengan bermacam-macam pengobatan.
risiko penularan HIV baik pada wanita maupun pria; faktor Kondiloma akuminata pada penderita AIDS tumbuh cepat,
pembantu utama ialah PMS yang menimbulkan ulkus, yang besar serta luas. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya
disebut GUD (genital ulcer diseases), seperti : sistim kekebalan seluler yang sangat diperlukan untuk penyem-
– Afek primer sifilis (ulkus durum). buhan kondiloma akuminata.
– Sifilis sekunder (kondilomata lata). Moluskum kontagiosum di daerah ano-genital pada orang
– Ulkus mole. dewasa sering ditularkan melalui hubungan seksual, pada pen-
– Herpes genitalis. derita AIDS dapat menjalar ke seluruh wbuh, dengan lesi yang
– Afek primer LGV. besar bahkan sampai di kepala berambut.

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


KESIMPULAN 2. Kreiss JK, Koech D, Plummer FA et al. AIDS viruses infection in Nairobi
prostitutes. Spread of the epidemic to East Africa. N Engi J Med 1986;
Hubungan seksual merupakan cara penularan AIDS yang 314:7.
paling utama. Kontak homoseksual serta heteroseksual mem- 3. Van de Perre P, De Clerco A, Leclerc JC. Detection of HIV p17 antigen in
punyai andil yang besar dalam transmisi HIV, walaupun lymphocytes but no epithelial cells from cervico vaginal secretions of
berbeda tempat. Wanita tunasusila merupakan sumber infeksi women seropositive for HIV; implication for heterosexual transmission of
the virus. Genitourin Med 1988; 30-33.
renting dalam penyebaran AIDS secara kontak heteroseksual. 4. Bogaerts J, Rican CA, Van Dyck E, Piot P. The etiology of genital
Penyakit menular seksual lainnya terutama yang ulceration in Rwanda. Sexually Transmitted Diseases 1989; 16:3.
menimbuI-kan ulkus genitalis (GUD), merupakan faktor 5. Andes WA, Rangan SR, Wulff KM. Exposure of heterosexuals to Human
pembantu yang sangat berperan dalam transmisi HIV. Immunodeficiency Virus and Vircmia. Evidence for continuing risk in
spouses of hemophiliacs. Sexually Transmitted Diseases 1989; 16:2.
Oleh karena epidemiologi AIDS pada akhirnya akan sama 6. Bishop PE, McMillan, Fletcher S. Immunological study of condylomata
dengan PMS yang lain, berbagai cara penanggulangan AIDS acuminate in men infected with HIV.
yang intensif akan berpengaruh pada insidens PMS yang lain. 7. Haverkos HW, Edelman R. The epidemiology of acquired immunodefi-
ciency syndrome among heterosexuals. JAMA 1989; 5 : 46-52.
8. Maan JM. Global AIDS into 1990s. WHO/GPA/DIR/89.2.
9. Quin TC, Cannon RO, Glasser D et al. The association of syphilis with risk
of human immunodeficiency virus infection in patients attending sexually
transmitted disease clinic. Arch Intern Med 1990; 150: 1297-1301.K
KEPUSTAKAAN 10. Rowen D, Came CA. Editorial review; Heterosexual transmission of human
immunodeficiency virus. Intemat J STD & AIDS 1990;1: 239-44.
1. Padian NS. Heterosexual transmission of acquired immunodeficiency 11. Worm AM, Kvinesdal B. Human immunodeficiency virus surveillance at a
syndrome: International perspectives and national projection. Rev Infect Dis sexually transmitted diseases clinic in Copenhagen. Intemat J STD & AIDS,
1987; 9:5. 1990; 1:2.
E

Masalah Penyimpangan
Perilaku Seksual Pemuda Remaja
di Kota-kota Besar di Jawa
Moh. Ramly Bandy, SKM
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

ABSTRAK

Pemuda remaja yang sehat dan kreatif sangat pentingartinya bagi hari depan suatu
bangsa dan negara, karena sebagai insan yang produktif, pemuda remaja merupakan
kekuatan yang memiliki potensi yang besar. Garis-garis Besar Haluan Negara (BHGN)
1988 menegaskan perlunya pembinaan dan pengembangan generasi muda Indonesia
menjadi kader pembangunan yang sehat dan kreatif.
Penyimpangan perilaku seksual di kalangan pemuda remaja di kota-kota besar cukup
mengkhawatirkan para orang tua dan masyarakat Indonesia yang religius, karena tindakan
demikian jelas dilarang oleh agama dan adat istiadat. Dan pada gilirannya akan merusak
atau menghambat pembangunan bangsa dan negara.
Dari hasil beberapa penelitian diketahui bahwa penyimpangan perilaku seksual di
kalanga pemuda remaja cukup tinggi. Mereka yang sudah melakukan senggama sebelum
menikah berkisar dari 6,8% sampai 87,0% di DKI Jakarta dan 6,3% – 26,35% di DI
Yogyakarta. Faktor motivasi melakukan senggama terbesar adalah alasan karena suka
sama suka 74% – 76% dan kebutuhan biologik 10% – 12%. Sedangkan faktor latar
belakang yang paling banyak mempengaruhinya adalah kebiasaan baca buku porno dan
nonton blue film 54,3% dan 49,2%, kemudian faktor kurang taat pada nilai agama 19,8%
dan 26,2%.
Telah terjadi pergeseran nilai atau norma dalam sikap dan perilaku seksual di
kalangan pemuda remaja bila dibandingkan dengan nilai atau norma yang dianut sebagian
besar masyarakat Indonesia yang religius yang taat dan patuh pada ajaran agamanya dan
adat istiadatnya

PENDAHULUAN yang berkualitas, terhindar dari berbagai gangguan kesehatan


serta menunjang kemandirian hidup bersih dan sehat di
Pemuda remaja yang sehat dan kreatif sangat penting artinya kalangan keluarga dan masyarakat(2).
bagi hari depan suatu bangsa dan negara, karena sebagai insan Diperkirakan 30% dari penduduk dunia terdiri dari golong-
yang produktif, pemuda remaja merupakan kekuatan yang an umur 10 – 24 tahun. Bagi bangsa dan negara yang sedang
memiliki potensi yang besar. Garis-garis Besar Haluan Negara berkembang, memperhatikan masalah kesehatan pemuda remaja
(GBHN) 1988 menegaskan perlunya pembinaan dan pengem- adalah penting, karena 77,6% dari keseluruhan penduduk dunia
bangan generasi muda Indonesia menjadi kader pembangunan yang berumur 15 -24 tahun dalam tahun 1980 tinggal di negara
yang sehat dan kreatif dengan berbagai upaya(1). Dalam Pelita V yang sedang berkembang. Angka ini diramalkan meningkat
dilakukan upaya yang diarahkan pada terbinanya generasi muda menjadi 83,5% pada tahun 2000(3).
Tulisan ini bermaksud mereview beberapa hasil penelitian beberapa kota besar di Jawa, Indonesia. Tujuannya adalah
yang menyangkut sikap dan perilaku seksual kaum remaja di untuk mendapatkan gambaran sampai seberapa jauh telah

26 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


terjadi penyimpangan perilaku seksual di kalangan pemuda sebelum menikah di Yogyakarta menunjukkan angka cukup
remaja. Hal itu akan bermanfaat sebagai salah satu bahan tinggi, yaitu 26,3% dari 846 peristiwa pernikahan yang diamati-
masukan bagi strategi pembinaan generasi muda selanjutnya nya. Dari persentase itu, sekitar 50% menyebabkan kehamilan.
agar menjadi insan pembangunan yang sehat dan produktif. Hubungan seks sebelum menikah tersebut dilakukan oleh ge-
Yang dimaksud dengan pemuda remaja dalam karangan ini nerasi muda berpendidikan SMTA sebesar 26,64%, berpendidikan
ialah pemuda remaja yang berusia 15 – 24 tahun, sesuai Akademis 22,54%, dan selebihnya pengangguran(8). Sarwono
batasan WHO(3,4). WS, dalam penelitiannya tahun 1985 mengenai Pengertian,
Sikap dan Praktek Seksualitas Remaja di DKI Jakarta, yang
TINJAUAN KEPUSTAKAAN dilakukan secara angket lewat pendengar Radio Prambors Ra-
Suharso dkk, dari Lembaga Ekologi dan Kemasyarakatan sisonia, Jakarta, memperoleh hasil sebagai berikut:(9)
Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LEKNAS – Dui 283 responden wanita (13 – 24 tahun), 10% mengata-
LIPI) mencatat dalam laporannya mengenai penelitian Aspek kan setuju melakukan hubungan kelamin sebelum menikah asal
Hukum Kenakalan Remaja (1984), bahwa di Jateng 60% kasus sama-sama setuju; 20% menyatakan kegadisan bukan masalah
kejahatan yang diajukan ke pengadilan setempat, pelakunya untuk melangsungkan perkawinan (tabel 1).
adalah mereka yang masih berumur di bawah 18 tahun. Jenis Tabel 1. Persentase jawaban setuju terhadap pertanyaan-pertanyaan sikap.
kenakalan yang paling banyak dilakukan menurut data 1973 –
1979 adalah berturut-turut: pencurian, penganiayaan, peram- Pertanyaan Pria Wanita
No. Taraf hubungan
(keglatan) % %
pokan, perjudian, gangguan terhadap ketertiban umum dan
1. Berciuman Tunangan 96,02 94,03
perkosaan(5).
2. Berciuman Pacar 91,00 88,41
Affandi B. dkk (1980) melaporkan bahwa dari 385 orang 3. Bercumbuan Tunangan 76,21 73,32
remaja yang datang ke kliniknya di Jakarta 87% mengaku 4. Bercumbuan Pacar 60,73 59,86
mendapat pengalaman seksual pertama dari pacarnya sebelum 5. Berciuman Teman akrab 41,44 39,36
kawin. Hal itu 5,6% terjadi pada usia 12 – 15 tahun, antara 16 – 6. Bercumbuan Teman akrab 28,73 25,78
19 tahun – 53,3% dan di alas 20 tahun 41,1%(6,7). Pada 7. Berciuman Tanpa ikatan perasaan 17,04 14,88
g, Bercumbuan Tanpa ikatan perasaan 10,03 4,50
kelompok belum kawin tersebut, 68,8% menyatakan 9. Hubungan kelamin Tunangan 5,62 9,60
pengalaman seksualnya berdasarkan suka sama suka, 13,3% 10. Hubungan kelamin Pacar 3,46 2,42
karena ingin tabu, dan 9,8% karena dipaksa(6). 11. Hubungan kelamin Teman akrab , 2,60 1,99
Moeloek FA dan Loebis AS (1985) melaporkan bahwa 12. Hubungan kelamin Tanpa ikatan perasaan 2,08 1,21
dalam tigatahun (1981–1983), terdapat 3.510 orang remaja (teman biasa)
putri dengan keluhan kelambatan haid di suatu klinik di Puslit Ekologi Kesehatan Badan Litbang Kesehatan pada
Jakarta. Setelah melalui proses konseling dengan pacar, bulan September dan Oktober telah melaksanakan penelitian
keluarga, ahli psikologi, agamawan, 29% temp memutuskan mengenai Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pemuda Remaja
untuk melakukan induksi haid(6,7). tingkat SLTA dan Perguruan Tinggi mengenai masalah ke-
Da suatu sampel penelitian di Jakarta selama 6 bulan dalam sehatan, termasuk masalah seksual di Jakarta dan Yogyakarta
tahun 1984 didapatgambaran, bahwa dari 400 orang remaja yang dengan cara angket. Jumlah responden dengan batasan umur
pernah bersenggama, 0,7% berusia 13 tahun, 1,7% berusia 14 – 15–24 tahun mecakup 1000 siswa SLTA dan 1000 mahasiswa
16 tahun, 76,7% berusia 17 – 20 tahun, dan 5,7% berusia di atas pria dan wanita di masing-masing kota. Hasilnya adalah
20 tahun; menurut pendidikannya,12% dari SD, 80% dari SLTP sebagai berikut : Persentase pemuda remaja yang pernah
dan SLTA dan 8% dari Universitas(6). Ditinjau dari tempat menonton Blue Film (BF) di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta
tinggalnya, 73% tinggal bersama orangtua kandung sendiri, 16% adalah 46,6% dan 28,9%. Karekteristik dan sikap mereka dapat
bersama orangtua tin, dan yang mondok 12%. Tempat mereka dilihat pada Tabel 2.
mengadakan hubungan kelamin: 1% di sekolah, 4% di taman
Tabel 2. Perasaan atau Sikap para Remaja setelah Menonton blue film.
atau mobil, 7% di hotel, dan 64% di rumah sendiri. Pendorong
mereka bersenggama adalah suka sama suka 74%, dibohongi Jakarta Yogyakarta
n =1000 n =1000
13%, diperkosa 3%, merasa sebagai kewajiban pacar 1% dan
Pernah menonton 46.6 % 28.9 %
sebagai alasan untuk perkawinan 9%. Di antara mereka 88%
Usia saat pertama menonton
telah berupaya menggugurkan kandungannya dengan minum 10 – 14 tahun
8.8% 5.9%
jamu atau obat-obatan, dan 12% dengan di urut-urut oleh dukun(6). 15 – 19 tahun 71.2% 66.9%
Penelitian Pusat Studi Kriminologi Universitas Islam Indo- 20 – 24 tahun 20.0 % 27.2 %
nesia (PSK UII) Yogyakarta mengenai masalah hubungan seks Sikap/perasaan setelah menonton
30.8 % 36.6 %
Senang, puas
Ingin melakukan 12.6 % 4.8 %
Merasa berdosa 31.0 % 32.1 %
Biasa,sekedaringin tabu,
19.6 % 14.3 %
menambah pengetahuan

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 27


Mengenai perilaku, tindakan pada waktu pacaran yang di- Tabel 5. Faktor latar belakang yang mempengaruhl Pemuda Remaja
melalukan senggama sebelum menikah di DKI Jakarta dan DI
lakukan oleh pemuda remaja di DKI Jakarta dan DI
Yogyakarta.
Yogyakarta, disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3. Perilaku, tindakan waktu pacaran Pemuda Remaja DKI Jakarta DKI Jakarta DI Yogyakarta DKI + DIY
No. Faktor latar belakan
dan DI Yogyakarta. n n n %
1. Keluarga kurang 4 3,4 5 4,1 9 3,8
DKI Jakarta DI Yogyakarta DKI + DIY harmonis
No. Perilaku, tindakan 2. Kurang taat pada nilai 23 19,8 32 26,2 55 23,1
n % n % n % agama
1. Berkunjung ke rumah, 512 42,9 478 39,8 990 41;3 3. Tempat pelarian, 1 0,9 7 5,7 8 3,3
jalan berduaan, dll kurang pergaulan
2. Cium pipi 141 11,8 147 12,3 288 12,0 4. Orang tua tidak teladan 4 3,4 - - 4 1,7
3. Cium bibir 330 27,6 277 23,1 607 25,4 5. Suka baca buku porno/ 63 54,3 60 49,2 123 51,7
4. Pegang buah dada 86 7,2 143 11,9 229 9,6 nonton BF
5. Pegang alat kelamin 75 6,3 105 8,7 180 7,5 6. Pengaruh teman, kebu- 21 18,1 18 14,8 39 16,4
6. Senggama 50 4,2 50 4,2 100 4,2 tuhan biologik, dli
Jumlah : 1194 100 1200 100 2394 100 Jumlah : 116 100 122 100 238 100
missing : 45 37 missing : 19 3 22

Sedangkan jumlah pemuda remaja yang sudah melakukan dan dengan teman biasa 2,9%. Alasan sikap setuju bersenggama
senggama sebelum menikah di DKI Jakarta menurut hasil pe- sebelum menikah yang dikemukakan oleh kaum pemuda remaja
nelitian Badan Litbangkes tersebut adalah sebanyak 135 orang tersebut adalah menyalurkan cinta - 81,4%, selami hati masing-
dari 1986 yang menjawab pertanyaan (= 6,8%). DI Yogyakarta, masing - 8,4%, cari kepuasan -6,9% dan alasan lain-lain - 3,3%.
datanya adalah 125 orang dari 1985 yang menjawab pertanyaan
(= 6,3%). Untuk kedua daerah (Jakarta + Yogyakarta) hasilnya PEMBAHASAN
adalah 6,5%. Ada beberapa teori individual yang menguraikan tentang
Ditinjau dari usia pertama kali meakkukan senggama se- latar belakang pola tingkah laku pemuda yang menyebabkan
belum menikah bagi pemuda di dua daerah DKI Jakarta dan DI timbulnya kenakalan remaja, termasuk kenakalan seksual; di
Yogyakarta, hasilnya adalah 9,2% pada usia 10 - 14 tahun, antaranya yang penting adalah teori perkembangan. Tokoh-
49,8% pada usia 15 - 19 tahun, antara 41,0% pada usia 20 - 24 tokoh dari cabang psikologi perkembangan berpendapat bahwa
tahun. masa remaja adalah masa transisi dari periode kanak-kanak ke
Faktor pendukung (motivasi) dan faktor latar belakang periode dewasa. Dalam masa transisi ini remaja berusaha men-
yang mempengaruhi meaakukan senggama sebelum menikah di cari pegangan, mencari pedoman kepada nilai atau norma yang
kalangan pemuda remaja di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, berlaku dalam masyarakat. Karena dalam masyarakat terdapat
disajikan dalam Tabel 4 dan Tabel 5. berbagai norma (nilai), maka dalam pencarian nilai itu dapat
Tabel 4. Motivasi melakukan senggama sebelum menikah di kalangan terjadi pelanggaran sehingga remaja dipandang nakal. Dalam
Pemuda Remaja DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. keadaan mencari nilai itu biasanya remaja cenderung untuk
pertama-tama berpatokan pada nilai yang berlaku di kalangan
DKI Jakarta DI Yogyakarta DKI + DIY
No. Motivasi mereka (remaja) sendiri(10).
n % n % n % Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ungkapan teori
1. Suka sama suka 95 76,0 90 75,6 185 75,8 di atas temyata ada benarnya, yang dicoba akan dibahas dalam
2. Dibohongi 8 6,4 7 5,9 15 6,1 tulisan ini.
3. Kewajiban sebagai 3 2,4 4 3,4 7 2,9 Hasil dari beberapa penelitian perilaku seksual di kalangan
pacar
4. Alasan perkawinan 4 3,2 6 5,0 10 4,1 pemuda remaja sebelum menikah menunjukkan angka cukup
5. Kebutuhan biologik 15 12,0 12 10,1 27 11,1 tinggi; sebagai berikut :
Jumlah : 125 100 119 100 244 100
missing : 10 6 16 Persentase Tempat Penelitian Sumber Kepustakaan
6,3 % DI Yogyakarta Litbangkes 11
Tempat pemuda remaja di kedua daerah DKI Jakarta dan
DI Yogyakarta melakukan senggama sebelum menikah, adalah 6,8 % DKI Jakarta Litbangkes 11
di sekolah/kampus (4,2%), di hotel/motel (31,1%), di rumah 26,35 % DI Yogyakarta PSK-UII 8
sendiri/ pacar (28,1%), di tempat kost/rumah teman (21,3%) Yogyakarta
dan di taman, mobil dan lain-lain (15,3%). 87,0 % DKI Jakarta Affandi B dkk 6, 7
Sikap setuju kaum pemuda remaja dan kedua daerah DKI
Jakarta dan DKI Yogyakarta terhadap tindakan senggama se- Perilaku seksual sebelum menikah di kalangan pemuda
belum menikah adalah sebagai berikut : dilakukan dengan tu- remaja dilakukan terbanyak oleh mereka yang berumur 19 tahun
nangan 12,0%, dengan pacar 5,6%, dengan teman akrab 2,8%, ke bawah, yaitu kelompok umur SLTP dan SLTA, yaitu sebesar

28 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


sekitar 50 – 80%. Bila kelompok umur SLTP dan SLTA yaitu 19,8% dan 26,2% masing-masing untuk remaja DKI dan
dipisah, maka terbanyak dilakukan oleh umur SLTA (15 -19 DI Yogyakarta (Tabel 5).
tahun) yaitu sebesar 49,8%(6,7,11). Hal itu besar kemungkinan Mengenai tindakan perilaku pemuda remaja di waktu pa-
ada hubungannya dengan masa pancaroba yang begitu besar caran, Puslit Ekologi dalam penelitiannya tahun 1990 men-
thalami remaja pada usia 15 -19 tahun; pada masa ini remaja dapatkan data yang menggambarkan adanya pergeseran nilai
tumbuh kembang dengan pesat, jasmani maupun rohani, perilaku seksual di kalangan pemuda remaja dibandingkan de-
termasuk rangsangan seksual atau biologik. Masa umur SLTA ngan nilai yang pada umumnya dianut oleh masyarakat Indo-
adalah masa penuh godaan dan kelabilan, atau masa transisi nesia yang religius dan masih taat pada adat istiadatnya,
yang sangat kritis. Apabila pada masa kritis ini, pemuda remaja termasuk kaum pemuda remajanya yang beriman dan bertaqwa.
mendapat atau mengalami pengaruh yang sifatnya negatif, Da 1200 responden di DI Yogyakarta yang menjawab
maka hal itu akan menjadi pendorong yang besar dalam pertanyaan, 23,1% mengaku sudah berciuman bibir di waktu
terjadinya penyimpangan perilaku seksual di kalangan remaja. pacaran, 11,9% sudah memegang buah dada; dan lebih dari itu,
Dari hasil penelitian diketahui, bahwa faktor latar belakang 8,7% sudah pegang alat kelamin, bahkan sudah ada yang
yang paling banyak berpengaruh pada pemuda remaja melakukan melakukan senggama atau hubungan kelamin (4,2%) (Tabel 3).
senggama sebelum menikah adalah karena kebiasaan suka baca Di DKI Jakarta, data yang diperoleh hampir sama, yaitu secara
buku porno dan nonton Blue Film (BF, Film Biru) yaitu sebesar berurutan hasilnya adalah 27,7%, 7,2%, 6,3% dan 4,2%. Sisanya,
54,3% di DKI dan 49,2% di DI Yogyakarta(1). Kemudian hanya melakukan ciuman pipi – 12,3% dan 11,8% dan berjalan-
menyusul faktor latar belakang kurang taat pada nilai agama jalan atau hanya sekedar bersenda gurau sebanyak 39,8% dan
(19,8% dan 26,2%)(") (Tabel 5). Sisanya adalah karena faktor 42,8% masing-masing untuk DI Yogyakarta dan DKI Jakarta.
pengaruh teman (18,1% dan 14,8%), faktor kelurga yang tidak Data tersebut di atas cukup mengkhawatirkan bagi orangtua
harmonis (3,4% dan 4,1%) serta faktor ketidak teladanan orang dan masyarakat Indonesia karena tindakan atau perilaku
tua (3,4%) dan tempat pelarian (0,9% dan 5,7%). seksual pemuda remaja yang demikian itu adalah tindakan
Faktor motivasi yang langsung mendorong pemuda remaja "mendekati zinah", suatu perbuatan yang jelas dilarang oleh
melakukan senggama sebelum menikah terutama adalah faktor ajaran agama (lebih keras lagi oleh agama Islam) yaitu dan
atau alasan karena suka sama suka 74% – 76%(6,7,11), karena berciuman bibir, pegang buah dada, pegang alat kelamin
kebutuhan biologik 10% – 12%dhl), dibohongi 6% – 13%(6,11), mencapai angka total 43,7% dan 41,2% masing-masing untuk
alasan perkawinan 3%–9%(6."), merasa sebagai kewajiban DI Yogyakarta dan DKI Jakarta. Bila ditambah dengan angka
sang pacar 1% – 3,4%(6,11) (Tabel 4). mereka yang sudah bersenggama hasilnya mencapai 47,9% dan
Ditinjau dari tempt melakukan senggama sebelum me- 45,4%. Diperkirakan , data yang sebenarnya bisa lebih besar
nikah, terbanyak dilakukan di rumah sendiri yaitu 24% – dari itu, karena bisa saja dalam penelitian ada responden yang
64%(6,11), di hotel/motel (7% – 34%)(6."), tempat kost/teman tidak berterus terang mengakui perbuatannya.
(21%)("), di taman/mobil (4% – 15%)(6.h1) dan di Tindakan pada waktu pacaran, bila dihubungkan dengan
sekolah/kampus (1% – 4%)(6,11). Data ini menunjukkan antara sikap, pandangan atau pendapat pemuda remaja mengenai per-
lain kurangnya pengawasan orangtua terhadap anaknya. tanyaan kegiatan dalam berhubungan dengan tunangan/pacar/
Data perilaku seksual tersebut di atas dan alasan suka sama teman akrab, atau teman biasa ternyata ada hubungannya.
suka serta faktor latar belakang yan mempengaruhinya, jelas Dan sumber yang sama(11) diperoleh data mengenai sikap
ada hubungannya dengan kebiasaan pemuda remaja membaca setuju dari pemuda remaja di kedua daerah DKI Jakarta dan DI
buku porno atau nonton Film Biru (BF). Yogyakarta tentang hubungan kelamin sebelum menikah, yaitu
Persentase pemuda remaja yang pemah nonton BF di DKI bila dilakukan dengan tunangan 12,0%, dengan pacar 5,6%,
dan DI Yogyakarta adalah 46,6% dan 28,9%. Da jumlah terse- dengan teman akrab 2,8% dan dengan teman biasa 2,9%. Data ini
but yang merasa senang dan puas setelah menonton adalah 30,8% menunjukkan adanya kecenderungan sikap menyetujui hubung-
dan 36,6%, sedang yang ingin mencoba mempraktekkan/ an kelamin sebelum menikah yang semakin besar bila status
melakukan adalah sebesar 12,6% dan 12,2%. Total yang merasa hubungan semakin meningkat, yaitu dari teman biasa, teman
senang, puas dan ingin melakukan adalah 43,4% dan 48,8% akrab, pacar sampai kepada status yang makin 'kokoh' yaitu
masing-masing untuk pemuda remaja DKI dan DI Yogyakarta. tunangan. Dengan kata lain, bisa saja seseorang pemuda bersikap
Mereka yang suka baca buku/gambar porno datanya lebih besar tidak setuju mengadakan hubungan kelamin sebelum menikah
dari angka BF tersebut. Angka ini mendekati atau hampir sama pada teman biasa/teman akrab, tetapi cenderung bersikap setuju
dengan angka faktor latar belakang yang mempengaruhi pemuda bila itu dilakukan dengan pacar atau lebih-lebih dengan tunang-
remaja melakukan senggama sebelum menikah, yaitu faktor an. Alasan sikap setuju melakukan hubungan kelamin sebelum
kebiasaan menonton BF dan baca buku porno (54,3% dan 49,2% menikah menurut pengakuan pemuda remaja di kedua daerah
untuk DKI dan DI Yogyakarta). Hal itu dapat ditafsirkan, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, yang paling banyak dikemukakan
bahwa kebanyakan pemuda remaja yang telah biasa membaca adalah menyalurkan cinta kasih 81,4% dan salami hati masing-
buku porno dan nonton BF, cenderung berniat atau telah masing 8,4%. Sisanya adalah mencari kepuasan 6,9% serta lain-
mem-praktekkannya. Faktor latar belakang kedua terbesar yang lain 3,3%. Data tersebut di atas menunjukkan sekali lagi adanya
mempengaruhinya adalah faktor kurang taat pada nilai agama, pergeseran nilai dalam perilaku seksual di kalangan remaja

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 29


dibandingkan dengan perilaku seksual masyarakat Indonesia pendidikan seksual dimasukkan secara resmi dalam kurikulum
termasuk pemuda remajanya yang beriman dan betaqwa, yang sekolah-sekolah.
taat pada .ajaran agamanya serta memegang teguh tata cara b) Bimbingan dan pengawasan orang tua terhadap anak perlu
pergaulan menurut adat istiadat. ditingkatkan; untuk itu perlu dikembalikan dan ditegakkan de-
Hasil penelitian Puslit Ekologi tersebut, mendukung hasil ngan kokoh lebih dulu fungsi orang tua sebagai pengayom
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sarwono SW pada anak. Anak membūtuhkan orang tua sebagai tempat bertanya
Remaja di DKI Jakarta(9). Persentase jawaban setup terhadap kalau ada persoalan atau berlindung kalau ada ancaman.
pertanyaan sikap mengenai tindakan yang dilakukan pada waktu Selama orang tua masih dapat berfungsi sebagai pengayom
pacaran atau bergaul dengan tunangan, pacar teman Akrab dan anak, maka anak tidak akan menjadi nakal atau jahat.
teman biasa, menunjukkan angka yang cenderung makin besar c) Perlu ditanamkan pendidikan agama lebih dini kepada anak-
sesuai dengan makin eratnya status hubungan (Tabel 1). Yang anak.
setuju mengadakan hubungan kelamin sebelum menikah asal
sama-sama setuju dengan tunangan adalah 5,62% dan 9,60% KESIMPULAN
untuk golongan pria dan wanita. Dengan pacar 3,46% dan 2,42% Dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan di kota-kota
dengan teman akrab 2,60% dan 1,99%, serta dengan teman biasa besar di Jawa, khususnya di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta
2,08% dan 1,21%. Dari penelitian tersebut diperoleh data sikap dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
wanita yang lebih radikal, yaitu terdapat 20% yang menyatakan a). Masalah penyimpangan perilaku seksual di kalangan
kegadisan bukan masalah untuk melangsungkan perkawinan. pemuda remaja cukup tinggi dan perlu diupayakan secara
Sedangkan mereka yang bersikap setuju terhadap tindakan sungguhsungguh pencegahan dan penanggulangannya, demi
berciuman dengan tunangan adalah 96,02% dan 94,03% keselamatan bangsa dan negara di kemudian hari.
masingmasing untuk golongan pria dan wanita. Dengan pacar b). Telah terjadi pergeseran nilai atau norma dalam sikap dan
91,00% dan 88,41%, dengan teman akrab 41,44% dan 39,36%, perilaku seksual di kalangan pemuda remaja bila dibandingkan
serta dengan teman biasa 17,04% dan 14,88%. Golongan pria dengan nilai atau norma yang dianut sebagian besar masyarakat
dan wanita yang bersikap setuju terhadap tindakan bercumbuan Indonesia yang religius (termasuk kaum remajanya), yang taat
dengan tunangan adalah 76,21% dan 73,32%, dengan pacar dan patuh pada ajaran agamanya dan berpegang teguh pada adat-
60,73% dan 59,86%, dengan teman akrab 28,73% dan 25,78% istiadatnya.
dan dengan teman biasa 10,03% dan 4,50% (Tabel 1).
Melihat dan mengkaji data hasil-hasil penelitian tersebut di SARAN
atas, upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi ke- Perlu upaya pencegahan dan penanggulangan yang lebih
nakalan atau penyimpangan perilaku seksual di kalangan dini dan berkesinambungan, antara lain :
pemuda remaja, antara lain adalah :
a) Memberikan pendidikan seksual pada para remaja dan
masyarakat.
Pendidikan seksual menjelaskan pengertian mengenai
kehidupan keluarga fungsi reproduksi, perkawinan, proses
kehamilan, persalinan, susunan tubuh manusia, mengenai bayi,
cinta kasih, sikap menghadapi lawan jenis, risiko terinfeksi
penyakit kelamin, dan lain-lainnya.
Pendidikan seksual merupakan proses sepanjang hidup.
Pendidikan seksual dimulai sejak bayi lahir, diberikan oleh
kedua orang tuanya dan diteruskan pada fase perkembangan
selanjutnya, balita, usia sekolah, akil balig, remaja sampai de-
wasa. Apabila anak bertambah besar, ia harus diajari mengenai
semua aspek kehidupan dengan memberi contoh dan sikap
orang tua yang baik (Hosmer, 1974)(6).
Bila anak mulai sekolah, lingkungan pergaulannya ber-
tambah luas, baik dengan guru atau temannya. Anak mulai ingin
mengetahui keadaan dirinya sendiri termasuk diri lawan jenis-
nya. anak juga ingin mengetahui lebih banyak mengenai alam
kehidupan. Guru mulai berperan dalam pendidikan secara umum
termasuk etika, norma budaya dan agama. Di samping itu juga
dalam pendidikan seksual,disesuaikan dengan kebutuhan, tingkat
perkembangan dan pengetahuan anak. Dengan demikian remaja
akan bertindak seperti orang dewasa dengan penuh tanggung
jawab (Da Costa, 1974; WHO, 1975)(6). Di sinilah perlunya

30 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


a). Memberikan bimbingan dan pendidikan seksual pada para 5. Suharso dkk. Penelitian aspek hukum kenakalan remaja. Lembaga Eko-
nomi dan KemasyarakatanNasional Lembaga BmuPengetahuanIndonesia
remaja dan masyarakat. (LEKNAS – UPI), Jakarta, 1984.
b). Pengawasan dan bimbingan orang tua terhadap anak 6. Subagio Martodipuro. Pengkajian aspek pelayanan kesehatan remaja.
ditingkatkan. Untuk itu fungsi pengayoman orang ttia terhadap Disajikan pada Seminar Badan Litbang Kesehatan Jakarta, 29-8-1989.
anak perlu ditegakkan lebih dulu. 7. Lumenta B, Salan R. Pengkajian Masalah Kesehatan Remaja di Indonesia.
Badan Litbang Kesehatan, Depkes RI. Jakarta, 1989. p. 1–16.
c). Pendidikan agama secara dini. 8. Prioritas. Generasi Muds: kumpul kebo dan seks di antara mahasiswa. 21
KEPUSTAKAAN Desember 1986.
9. Sarwono SW. Pergeseran norma perilaku seksual kaum remaja. Sebuah
1. Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1988. penelitian terhadap kaum remaja di DKI Jakarta.
2. Sugati, dkk. Penyalahgunaan obatpada remaja ditin jau dart segi pengatu- 10. Sarwono SW. Latar belakang tingkah laku pemuda dalam kasus-kasus
ran obat Disajikan pada SeminarBadanLitbang Kesehatan Jakarta, 29-8- kriminalitas dan kenakalan remaja ditinjau dan segi psikologi. Mabes Polri
1988. Dinas Litbang, 1979.
3. World Health Organization. Young peoples' health – a challenge for 11. Puslit Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan Depkes. Laporan
society, Technical Report Series 731, 1986. p. 9 – 13. HasilPenelitian Pengetahuan,Sikapdan Perilaku PemudaMengenaiMasalah
4. Paxman JM, Zuckerman RJ. Laws and policies affecting adolescent health, Kesehatan di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, 1990.
World Health Organization Geneva: WHO; 1987: 1-5.
Aspek Psikososial AIDS
Sarlito Wirawan Sarwono
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta

KESALAH PAHAMAN MASYARAKAT TENTANG


AIDS 5. Kuman AIDS menular melalui kolam renang
AIDS (Acquired Intmuno Deficiency Syndrome) adalah pe- 6. Kuman AIDS menular melalui air kotor
nyakit yang menakutkan umat manusia oleh karena dapat di- 7. Kuman AIDS menular melalui WC Umum
pastikan bahwa penyakit ini akan membawa kematian dan sam- dan sebagainya.
pai sekarang belum diketemukan obatnya. Sebuah penelitian di kalangan mahasiswa di Jakarta me-
Terutama di negara-negara Barat, penyakit ini sangat di- nunjukkan bahwa kepecayaan terhadap salah-informasi itu
takuti oleh karena timbulnya yang mendadak dan penyebarannya masih cukup tinggi('). Tidak mengherankan jika pada mereka
cepat, sementara masyarakat di Barat sudah lama tidak dihadap- terdapat sikap yang lebih mencari selamat kalau ada epidemi
kan dengan penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Reaksi AIDS, yaitu dengan menghindari penderita AIDS, bahkan meng-
spontan masyarakat (termasuk kalangan kedokterannya sendiri) hindari kolam renang dan WC umum. Di pihak lain, pengetahuan
pada masa pertama kali menghadapi penyakit AIDS ini adalah para mahasiswa yang diteliti itu mengenai faktor-faktor pe-
menjauhkan diri dari penderita, berusaha tidak menyentuh pen- nyebab yang sesungguhnya juga sudah cukup tinggi. Hal ini
derita, menggunakan obat-obat pensuci hama dan bila perlu besar sek di kemungkinannya disebabkan oleh pengaruh media
membakar kasur atau pakaian yang bekas dipakai penderita. massa pula yang akhir-akhir ini sudah menyampaikan
Reaksi awal yang bernada panik inilah yang terlanjur tersebar ke informasiinformasi yang lebih akurat tentang penyakit ini.
seluruh dunia melalui media-massa Barat, sehingga sekarang ini Tetapi adanya pengetahuan yang benar ini temyata tidak begitu
di banyak negara di dunia masih berlaku kepercayaan yang salah saja menghapuskan salah-informasi yang sudah terlanjur
tentang AIDS ini, sementara di negara-negara Barat sendiri sikap dipercaya itu. Di pihak lain, informasi yang benar ini juga tidak
masyarakat sudah jauh lebih tenang dan rasional sehubungan dengan sendirinya berpengaruh terhadap sikap para mahasiswa
dengan ditemukannya berbagai sifat dari penyakit ini. itu terhadap perilaku seksual oleh karena pada dasarnya sikap
Sebagai akibat arus informasi yang deras dari pers Barat mereka (seperti juga sikap orang Indonesia pada umumnyā)
tersebut masyarakat di bagian dunia lainnya (termasuk Indo- tidak positif terhadap hubungan seks ekstramarital(1). Sikap
nesia) terlanjur menyerap informasi yang tidak benar. Salah yang sudah negatif itu sudah tidal; akan bertambah negatif lagi
informasi ini pada giljrannya mengendap menjadi semacam walaupun diberi informasi yang akurat tentang bahaya AIDS.
kepercayaan yang tidak mudah untuk dikoreksi kembali. Salah Walaupun demikian, sikap yang negatif itu pada kenyataan-
informasi ini antara lain adalah sebagai berikut : nya tidak selalu berkorelasi dengan tingkah laku nyata. Sudah
1. Kuman AIDS menular melalui kontak kulit lazim di Indonsia ini masyarakat hidup dalam dua dunia. Dunia
2. Kuman AIDS menular melalui udara yang satu adalah yang menentang perilaku yang melanggar
3. Kuman AIDS menular melalui pakaian norma-norma, dunia yang lain adalah yang memberi peluang
4. Kuman AIDS menular melalui serangga untuk melakukan pelanggaran itu sendiri sejauh dapat disembu-
Makalah ini adalah revisi yang kedua kali dari makalah asli yang pernah
dibawakan pada ceramah untuk paramedikdan dokterdi PusdiklatDepkes pada
pertengahan tahun 1989. Revisi yang pertama dimuat dalam beberapa majalah
profesi (dokter, bidan dan ahli kesehatan masyarakat) melalui !AKMI pada
pertengahan tahun 1990.

32 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


nyikan dari mata umum. Hal ini ada kaitannya dengan ketatnya terdapat 5.000 – 10.000 orang di Indonesia(4). Jumlah ini
kontrol sosial dalam masyarakat kita, sementara di sisi lain arus kiranya tidak akan jauh berbeda pada tahun-tahun terakhir ini
informasi melalui berbagai media massa membanjir dengan mengingat kontrol yang ketat dari pemerintah terhadap
deras dan menabrak semua norma yang sedang dipertahankan. penggunaan obatobatan jenis narkotika; aka!) tetapi mengingat
Yang dikhawatirkan dalam hubungan dengan AIDS adalah penularan AIDS yang bisa cepat sekali (pengalaman di
bahwa pengetahuan yang benar tentang AIDS tidak dengan Thailand, peningkatan penderita AIDS terjadi dengan sangat
sendirinyaakan diikuti dengan tindakan positif berupa upaya cepat dalam lima tahun terakhir melalui kombinasi jalur
konkrit mencegah AIDS. Hal ini sudah terbukti dari penelitian penyalahgunaan narkotika dan seks. WHO, 1990), maka para
lain terhadap kelompok risiko tinggi (WTS, homoseks dan penyalahguna narkotika harus dilihat sebagai kelompok risiko
penderita PMS) di Jakarta dan Denpasar, dimana jumlah yang tingggi AIDS yang memerlukan perhatian khusus dari para
menggunakan kondom sangat rendah (WTS: 13%, Homoseks petugas kesehatan, khususnya bagi mereka yang menggunakan
dan PMS: 3%) dibandingkan dengan kenyataan bahwa hampir suntilcan (walaupun di sini tidak begitu lazim).
semua responden mengetahui bahwapenularan PMS dapat Penyalahguna narkotika yang sudah kecanduan berat dan
dicegah dengan kondom(2). kronis biasanya juga mengalami gangguan penyesuaian diri
secara sosial dan biasanya hubungan dengan lingkungannya
CARA PENULARAN AIDS (keluarganya, sekolahnya, teman-temannya) terputus. Ia hanya
berpedoman kepada beberapa orang tertentu yang secara lang-
Dalam ilmu kedokteran sudah diketahui bahwa meskipun
sung berkaitan dengan kecanduannya pada obat/narotika
sulit disembuhkan, AIDS juga bukan penyakit yang mudah
terebut. Untuk golongan ini prosedur pendidikan dan
menular. Media penularan AIDS yang sudah diketahui hanyalah
pemberian informasi sudah tidak banyak lagi manfaatnya. Cara
melalui darah dan sperma. Ada beberapa pendapat yang men-
pencegahan AIDS bagi mereka tidak dapat lagi dilepaskan dari
duga bahwa virus AIDS juga bisa menular melalui sekret
usaha pengobatan dan perawatan yang lazim dilakukan
vagina dan ludah, akan tetapi belum didukung oleh bukti-bukti
terhadap mereka, misalnya: penghentian sama sekali kebiasaan
yang cukup. Oleh karena itu sementara ini yang sudah dapat
menggunakan obat/narkotika sendiri kecuali seizin dokter dan
dipastikan penularan AIDS adalah melalui jalur-jalur berikut:
dilakukan oleh dokter sendiri atau paramedik.
1. Penularan kepada janin dari ibu penderita AIDS
Yang kiranya lebih perlu diperhatikan adalah kelompok-
2. Pemindahan darah yang mengandung kuman AIDS
kelompok yang secara potensial dapat berkembang menjadi
3. Hubungan seksual yang memungkinkan pemindahan virus
penyalahguna obat/narkotika; jumlah mereka cukup besar dan
dari sperma ke darah.
seringkali sulit dibedakan dari kelompok masyarakat lainnya
Dari ketiga jalur itu, jalur pertama sangat kecil
oleh karena perilaku mereka sehari-hari tidak selalu menunjuk-
kemungkinannya tejadi, karena insidens penderita AIDS wanita
kan tanda-tanda kesulitan penyesuaian diri secara sosial (mal-
sangat kecil (wanita : pria = 1 : 9); kalaupun diketahui seorang
adjustment). Tetapi ada beberapa ciri yang merupakan indikasi
penderita AIDS mengandung, maka dapat dikatakan bahwa ada
dari orang yang mempunyai kecenderungan menyalahgunakan
cukup indikasi untuk melaksanakan abortus(3).
obat, yaitu :
KELOMPOK RISIKO TINGGI: PENYALAHGUNA
1. Usianya relatif masih muda (di bawah 30 tahun), karena
NARKOTIKA
dalam usia ini kepribadian seseorang belum cukup mapan
Pemindahan darah yang mengandung virus AIDS dapat dan masih mudah terpengaruh(4).
terjadi melalui transfusi darah dan melalui penggunaan jarum 2. Mempunyai latar belakang kehidupan sosial yang tidak har-
suntik bekas pakai yang tidak disterilkan terlebih dahulu. Pe- monis dan dia sendiri mempunyai berbagai konflik dengan
nularan melalui transfusi darah dicegah dengan mengadakan lingkungannya (keluarga, sekolah, pekerjaan, teman)(4).
3.
pemeriksaan darah donor, sehingga hanya darah yang bebas Pada dasarnya mempunyai kepribadian yang lemah, sering
virus AIDS saja yang dapat ditransfusikan. Sedangkan menghadapi kegagalan, merasa tidak dicintai, merasa rendah
penularan melalui jarum suntik oleh dokter dan paramedik din , mudah berontak, mudah bosan dan tidak mempunyai
dapat diatasi dengan melaksanakan prosedur sterilisasi yang kepercayaan kepada diri sendini (4).
baku atau dengan menggunakan jarum suntik–sekali-pakai 4. Mempunyai keyakinan agama yang rendah(5).
(disposable). Dengan demikian kemungkinan kebocoran Dalam kenyataannya banyak sekali orang yang mempunyai
melalui jalur-jalur pemindahan darah ini secara teknis ciri seperti di atas dan hanya sebagian kecil yang akhimya benar-
sepenuhnya bisa diatasi dan sematamata tergantung kepada benar menjadi penyalahguna obat/narkotika. Dengan demikian,
sikap profesionalisme petugas-petugas kesehatan. usaha pencegahan penularan AIDS kepada kelompok mereka
Walaupun demikian, kemungkinan penularan AIDS melalui tidak akan jauh berbeda dari pencegahan di kalangan masyarakat
darah masih bisa terjadi di antara para penyalahguna obat/ biasa. Tetapi memang upaya pencegahan dalam arti mendidik
narkotika. Kelompok penyalahguna obat/narkotika ini jumlahnya dan memberi informasi paling efektif jika diberikan kepada
sangat terbatas dalam masyarakat. Menurut catatan tahun 1975 kelompok masyarakat biasa.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 33


KELOMPOK RISIKOTINGGI: PENYALAHGUNA SEKS dengan adanya kemungkinan perceraian dan poligami. Dengan
Jalur penularan AIDS yang relatif lebih luas jangkauannya demikian sulit dibedakan tingkat penyalahgunaan seks (seks
adalah melalui hubungan seks. Tetapi jalur inipun tidak seluas ekstramarital) dalam masyarakat yang masih mempertahankan
jalur penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) lainnya oleh norma agama dengan masyarakat yang sudah lebih
karena AIDS hanya menular jika terjadi perpindahan virus dari mengutamakan kepentingan individu. Hal ini terjadi terutama
sperma ke darah. Jadi hanya teknik hubungan seks tertentu saja di kota-kota besar, di mana kontrol sosial sudah berkurang,
yang merupakan perilaku seksual risiko tinggi. Secara teoretis sementara mediamassa menyajikan hal-hal yang merangsang
teknik hubungan seks yang paling rawan ūntuk penularan hasrat seksual yang diikuti pula dengan berbagai sarana dan
AIDS jadinya adalah teknik penis-anal, oleh karena pada teknik prasarana untuk penyalurannya.
inilah paling besar kemungkinan terjadinya perdarahan pada Sementara insidens perilaku seksual ekstramarital di masya-
anus. Karena teknik ini di dunia Barat diperkirakan lebih sering rakat yang masih mentabukannya belum bisa dipastikan per-
dilakukan di kalangan homoseksual (pria), maka dapat bedaannya dengan di masyarakat yang lebih permisif, dalam
dimengerti jika insidens AIDS pada kelompok ini adalah yang masyarakat jenis yang pertama segala sesuatu yang berhubung-
tertinggi. Dalam masyarakat lain, di mana teknik penis-anal ini an dengan seks juga ditabukan. Termasuk di antara yang di-
juga sering dilakukan dalam hubungan heteroseksual, maka tabukan adalah pembicaraan, pemberian informasi dan pendidik-
insidens AIDS di kalangan wanita juga diperkirakan lebih an seks. Akibatnya, jalur informasi yang benar dan bersifat
tinggi (misalnya di negara-negara Afrika Tengah) (3). mendidik sulit untuk dikembangkan untuk mengimbangi jalur
Menilik jalur jalur penularan AIDS yang sangat terbatas informasi yang salah dan menyesatkan yang justru berkembang
itu, maka pada hakikatnya masyarakat Indonesia tidak perlu bebas walaupun tidak legal. Salah satu contoh dari salah-infor-
cemas sepanjang dapat mencegah hubungan seks berisiko masi dalam kehidupan remaja adalah adanya anggapan bahwa
tinggi pada tingkat yang serendah-rendahnya. Masalahnya masturbasi lebih berdosa dan lebih berbahaya dibandingkan
sekarang, bagaimana kita menekan perilaku berisiko AIDS itu dengan sanggama (yang dianggap lebih alamiah) walaupun
serendah mungkin sementara pengetahuan masyarakat sudah yang terakhir ini nyata mengandung risiko PMS (Penyakit
terlanjur diisi dengan informasi-informasi yang keliru tentang Menular Seksual) dan kehamilan. Akibat salah informasi ini
AIDS. Dengan adanya salah informasi ini maka masyarakat banyak remaja yang memilih menyalurkan hasratnya kepada
akan takut kepada faktor-faktor yang sesungguhnya tidak ada sanggama (misalnya dengan WTS) daripada bermasturbasi(6).
hubungannya dengan AIDS, sementara justru kurang waspada Akibat lain dari tidak bisa berkembangnya informasi seksual
terhadap jalurjalur penularan AIDS yang sesungguhnya. yang benar adalah praktek-praktek yang tidak sesuai dengan asas
Tidak seperti dalam penyalahgunaan obat/narkotika yang kesehatan atau perencanaan keluarga. Makan terlalu banyak
berkaitan dengan ciri kepribadian tertentu dan kondisi sosial jenis makanan tertentu atau minum jamu-jamu tertentu yang
tertentu, dalam hal penyalahgunaan seks (bukan penyimpangan diangap bisa memperkuat daya seksual walaupun nyatanya bisa
seks), setiap orang dilahirkan dengan hasrat seksual dan mengganggu kesehatan, cukup banyak dilakukan orang. Se-
bertumbuh-kembang selama dalam keadaan kesehatan yang baliknya penggunaan kondom baik untuk pencegahan penyakit
baik. Jadi pada hakikatnya setiap individu secara potensial maupun untuk KB enggan dilakukan orang karena ada rasa malu
adalah pelaku seks. Potensi ini akan mencapai puncaknya dan untuk membelinya atau dirasakan tidak enak atau di kalangan
membutuhkan penyaluran pada usia remaja. Selama masa WTS karena langganannya menolak untuk memakainya(2). Jika
seksual aktif tersebut, norma-norma masyarakat mengatur pada suatu saat orang terkena (atau merasa terkena) PMS, maka
tingkah laku seksual mana yang boleh dan tidak boleh timbul perasaan enggan ke dokter oleh karena malu. Perasaan
dilakukan. Dalam masyarakat yang mendahulukan kepentingan malu ini juga disebabkan karena berlakunya norma-norma sosial
individu, tidak ada pembatasan terhadap perilaku seksual yang ketat; Karena enggan ke dokter itu mereka mengobati
sejauh tidak mengganggu kepentingan umum. Makahubungan dirinya sendiri, entah dengan minum jamu-jamu tradisional, atau
seks ekstramarital dapatdilakukan dengan lebih leluasa dengan membelinya ke toko-toko obat liar. Biasanya pengobatan seperti
saw pasangan tertentu maupun bergantiganti pasangan. itu bukan hanya tidak menyembuhkan, tetapi juga tidak tuntas,
Dalam masyarakat yang masih lebih mengutamakan karena orang yang bersangkutan cenderung menghentikan
kepentingan umum apalagi yang masih mengutamakan norma- obatnya begitu merasa gejala sakitnya sudah hilang. Obat-
norma agama, hubungan ekstramarital merupakan perbuatan obatan yang diberikan oleh dokterpun (khususnya antibiotika)
yang tercela. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa hubungan seringkali juga tidak dihabiskan(2). Secara teoretis hal ini
ekstramarital itu tidak ada sama sekali, karena hubungan ekstra- mengakibatkan tumbuhnya daya resistensi yang lebih kuat pada
marital tetap berlangsung walaupun tidak secara terbuka (ber- kuman-kuman yang sesungguhnya akan diberantas itu.
bagai penelitian di Indonesia menunjukkan antara 2–20% remaja Walaupun semua manusia secara potensial adalah pelaku
di bawah umur 20 tahun mengaku pemah berhubungan seks; seksual, hanya sebagian saja yang merupakan kelompok risiko
dan sebuah penelitian di Jakarta pemah mengungkapkan bahwa tinggi bagi penularan AIDS, yaitu mereka yang cenderung sering
2 di antara 3 pria pemah melakukan seks di luar nikah). Bahkan melakukan tingkahlaku seksual risiko tinggi. Sesuai dengan cara
dalam hubungan intramaritalpun dapat terjadi pasangan ganda penularan AIDS maka kelompok risiko tinggi ini harus mem-

34 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


punyai salah satu ciri di bawah ini : ke dokter, mengikuti nasihat dokter dan sebagainya). Usaha itu
1) Aktif dalam perilaku seksual. bukan usaha khusus untuk AIDS, melainkan bisa juga
Makin aktif, makin tinggi risikonya. Golongan yang sangat ditujukan untuk setiap jenis PMS yang lain, sebab setiap
aktif adalah WTS, PTS (Pria Tuna Susila) dan pencari kepuasan pencegahan PMS dengan sendirinya akan mencegah AIDS.
seksual ,(pelanggan WTS atau PTS). Ditinjau dari usianya yang Dalam kampanye anti PMS ini mungkin diperlukan bantu-
mempunyai kemungkinan tertinggi untuk berperilaku seksual an berbagai tenaga ahli: psikolog, sosial, ahli komunikasi
aktif adalah orang-orang berusia remaja ke atas. massa, ahli sosiologi, antropolog, ahli kesehatan masyarakat,
2) Kaum biseksual maupun homoseksual. para pendidik, ulama dan para ahli di bidang ilmu kedokteran
Makin sering dia melakukan praktek homoseksual, makin sendiri. Adapun sasarannya adalah setiap anggota masyarakat
tinggi risikonya. yang diduga secara seksual telah aktif (termasuk remaja),
3) Mereka yang suka/pennah melakukan hubungan seks de- khususnya yang tergolong kelompok-kelompok risiko tinggi.
ngan orang asing yang berasal dari daerah-daerah di mana in-
sidens AIDS tinggi. Mereka yang tinggal di daerah turisme atau PENANGANAN TERHADAP KASUS
yang senang melayani turis mempunyai peluang yang lebih Belum banyak yang diketahui tentang dampak konseling
besar untuk tergolong dalam jenis ini. atau psikoterapi terhadap penderita AIDS (full blown AIDS). Di
Seperti halnya kelompok risiko tinggi dari jenis penyalahguna dalam kongresAmericanPsychologicalAssociation(1989) masih
obat/narkotika, kelompok risiko tinggi seksual inipun tidak ter- diperdebatkan apakah bantuan psikologik dan/atau psikiatrik
lalu mudah untuk dipengaruhi secara langsung. Pada dasarnya bisa menunda kematian penderita. Akan tetapi di Amerika Seri-
sebagian besar dari mereka memang sudah tidak peduli lagi kat sendiri bantuan psikologik dan/atau psikiatrik selalu diberi-
terhadap norma-norma yang mengatur kegiatan seksual (walaupun kan dengan tujuan suportif yaitu mempersiapkan mental pen-
dalam bidang lain bisa saja mereka tetap taat). Mereka relatif derita dan keluarganya untuk menghadapi perkembangan-per-
tertutup dan cenderung untuk mencari penyelesaian sendiri. kembangan yang akan terjadi. Dengan demikian penderita dan
Akan tetapi berbeda dari para penyalahguna obat/narkotika keluarganya dikurangi bebannya dalam menghadapi situasi-
yang umumnya mengalami keruntuhan seluruh kepribadiannya, situasi yang tidak terduga. Teknik ini sebetulnya jugabukan
para penyalahguna seksual ini hanya mengalami masalah di khas untuk penderita AIDS saja melainkan berlaku umum
bidang seks saja. Dalam bidang-bidang lainnya mereka masih untuk penderita penyakit-penyakit terminal lainnya.
tetap orang-orang yang mampu menyesuaikan dirinya secara Di Indonsia, jumlah psikolog klinik (psikolog yang khusus
sosial dan masih punya tanggung jawab sosial. Oleh karena itu menangani penderita gangguan jiwa) masih sangat terbatas,
kepada mereka lebih bisa diberikan informasi yang benar apalagi yang berpengalaman menangani penyakit-penyakit ter-
mengenai AIDS dan cara pencegahannya. minal. Karena itu konseling atau psikoterapi di atas akan lebih
mudah diperoleh dari psikiater. Dengan adanya kebiasaan
PENCEGAHAN AIDS kehidupan beragama yang kuat, pada beberapa penderita,
mungkin fungsi itu lebih tepat diisi oleh rohaniwan (sesuai
Sesuai dengan sifat dan cara penularan AIDS itu sendiri,
dengan agama penderita).
maka pencegahan AIDS relatif mudah, yaitu menghindari
Yang masih menjadi masalah dan memerlukan penelitian
pemakaian jarum suntik secara tidak semestinya dan meng-
dan pengamatan lebih lanjut adalah penanganan kasus-kasus
hindari hubungan seks yang berisiko tinggi.
pengidap AIDS (seropositif). Yang sudah jelas dan kasus ini
Pencegahan penularan AIDS melalui jarum suntik di jalur
hanyalah bahwa mereka harus berhati-hati sekali dalam melaku-
profesi kedokteran dapat dilaksanakan dengan peningkatan
kan hubungan seks selanjutnya dan psikolog/psikiater harus
profesionalisme setiap dokter dan paramedik. Sedangkan pen-
berusaha menanamkan rasa tanggung jawab sosial yang besar
cegahan AIDS melalui jalur penyalahgunaan narkotika cukup
pada diri penderita sehingga ia mau melaksanakan seks yang
dilaksanakan melalui program penanggulangan narkotika yang
sehat. Yang harus dihindari adalah perasaan malu, putus asa dan
di Indonsia sudah dikoordinasikan langsung oleh Badan Koor-
ingin membalas dendam kepada setiap orang yang melalukan
dinasi Penanggulangan Narkotika (Bakorlantik).
hubungan seks dengan dirinya. Yang menyulitkan dalam kasus
Pencegahan AIDS melalui jalur seks, pada hakikatnya juga
seropositif ini adalah masa depan yang belum jelas. Ada teori
tidak sukar, karena asasnya tidak berbeda dengan ajaran norma
yang berpendapat bahwa dalam waktu 3–5 tahun mereka juga
agama yang diyakini masyarakat, yaitu bahwa seks yang aman
akan menjadifull blown, tetapi adajuga yang mengatakan
da AIDS adalah seks dengan pasangan tunggal yang setia (seks
bahwa hal itu belum tentu akan terjadi. Karena sifatnya yang
monogami).
belum tentu itu, maka agak sukar buat psikolog/psikiater dalam
Akan tetapi pengawasan dan pengendalian bidang seks ini
menetapkan arah konseling/psikoterapi.
jauh lebih sulitdaripadadalam bidang penyalahgunaan narkotika.
Karena itu lebih banyak diperlukan penyuluhan agar orang tetap KEPUSTAKAAN
melakukan seks yang sehat walaupun menyimpang dari asas
monogami tersebut (memakai kondom, hanya berhubungan 1. Dahsyat dkk. Hasil penelitian kepercayaan dan sikap terhadap AIDS di
dengan orang yang diketahui kesehatannya, memeriksakan diri kalangan mahasiswa dan homoseks di Jakarta. Makalah kepaniteraan-siswa

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 35


pada Jurusan Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi UI (tidak 4. Danny I Yatim, Irwanto (eds.). Kepribadian, Keluarga dan Narkotika, Tin-
dipublikaskan). 1988. jauan Sosial-Psikologis, Arcan, Jakarta, 1986.
2. SarlitoWirawanSarwonodkk.Perilakuseksualkelompokrisikotinggi AIDS di 5. Eiseman S. dkk. (eds). Drug Abuse: Foundation for a Psychosocial Ap-
Jakarta dan Denpasar, lporan penelitian proyek Sahabat Remaja (Badan proach, Haywood Publishing & Co., NY. 1984.
Litbang Depkes/US AIDS, 1989. 6. Sarlito Wirawan Sarwano. Baseline Survey Perilaku Seksual Remaja di
3. Loedin AA. Masalah dan Kebijaksanaan Penanggulangan AIDS di Indo- Medan, Yogyakarta, Surabaya dan Kupang. Laporan Penelitian Proyek
nesia. Makalah dalam seminar sehari Penyakit AIDS dan Tugas Penggem- Sahabat Remaja (UNFPA/BKKBN) : Proyek INS 09/86), 1986.
balaan Gerejawi, 25 Mei 1988. 7. WHO. Workshop on Behavioural Aspects of AIDS, Bangkok, Januari 1990

36 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Reaksi Psikologis akibat HIV Positif
pada Homoseks Asimptomatik
di Australia
Imran Lubis
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN untuk dapat memahami masalah psikologis yang dihadapi


khususnya oleh homoseks dan dapat dipergunakan sebagai ba-
Pada taraf permulaan, infeksi Human Immunodeficiency
han pengarahan usaha konseling di kemudian hari.
Virus (HIV), penyebab AIDS, tidak akan mengakibatkan suatu
Tahapan reaksi psikologis penderita dengan HIV positip
gejala klinik apapun. Orang tersebut masih tampak sehat dan
pernah dikemukakan oleh Kubler-Ross yang menyamakannya
termasuk dalam kategori asimptomatik. Penyakit hanya akan
dengan penderita penyakit kematian misalnya kanker. Tahap
diketahui bila dilakukan suatu pemeriksaan laboratoriurn yang
reaksi psikologis terhadap kemaiian dibagi menjadi lima yaitu:
menunjukkan hasil HIV positif. Penderita ini disebut sebagai
Denial, Isolation, Anger, Bargaining, Depression dan Accep-
asimptomatikHIV positif. Pada umumnya lebih dari setengah
tance.
dari penderita HIV positif akan sampai ke puncak penyakit
Pengalaman di Australia terhadap asimptomatik HIV positif
AIDS dengan gejala klinik berat dan akhirnya meninggal.
homoseks ternyata berbeda dengan pola Kubler-Ross. Karena
Sampai sekarang masih belum ditemukan cara penyem-
infeksi HIV berbeda dengan penyakit kematian dalam hal :
buhan (cure) dan jenis vaksin pencegah penyakit AIDS, se-
1) Infeksi HIV masih dianggap tidak selalu menyebabkan
hingga penyakit AIDS/HIV juga membawa dampak sosial dan
kematian.
psikologis yang hebat padapenderita maupun masyarakat.
2) Biasanya penderita sudah mendapat tekanan (stigma)
Reaksi psikologis penderita HIV positif asimptomatik maupun
sosial sebagai suatu golongan minoritas yaitu homoseks,
pada penderita AIDS full blown hampir sama dan mengalami
pecandu obat narkotika, biseksual, pekerja seks dan belum ada
suatu tahapan proses tertentu. Penderita dapat mengalami suatu
kepastian apakah bisa diobati dan apakah vaksin akan segera
penyakit psikologis (psychological morbidity) misalnya
diciptakan.
depresi, frustrasi atau kematian psikologis (psychological
3) Tekanan tadi diperberat lagi dengan pemberitaan media
mortality) seperti misalnya bunuh diri. Dampak psikologis ini
massa yang memperbesar masalah diskriminasi pada penderita
dapat bermanifestasi lebih berat dari gejala klinik AIDS itu
AIDS.
sendiri atau memperberatgejala AIDS yang sudah ada. Penyakit
ini dikenal dapat menyerang sistem saraf pusat, dan bila Kubler-Ross juga melihat perbedaan antara penderita HIV
ditambah dengan dampak psikologis tersebut maka penderita dan penyakit kematian lainnya berdasarkan adanya depresi ka-
dapat mengalami kelainan neuropsikiatri. rena antar mereka tidak dapat saling berbicara menukar peng-
Di negara Barat penderita infeksi HIV terbanyak pada alaman dan hukuman yang telah dijatuhkan oleh mass media.
homoseks, biseksual dan pekerja seks (sex worker). Mereka ini Selain itu keadaan homoseksualitas yang belum diterima oleh
sudah merupakan suatu kelompok minoritas dengan segala per- masyarakat dapat mengakibatkan juga perasaan homophobia
masalahannya di masyarakat. Suatu pengamatan reaksi psikolo- internal pada diri mereka sendiri.
gis pada penderita HIV positif pada asimptomatik homoseks di Stadium reaksi psikologis penderita HIV pada homoseks
Australia telah dilakukan oleh Michael W. Ross, Wendy E.M. lebih cenderung mengikuti stadium psikologis seseorang untuk
Teble dan Danielle Viliunas. Temuan mereka cukup penting menjadi homoseks oleh Cass model. Cass model menunjukkan

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 37


pola : Identity Confusion, Identity Comparison, Identity Toler- beratnya hukuman yang akan dideritanya kelak, yang menjurus
ance, Identity Acceptance, Identity Pride, Identity Synthesis. ke homofobia. Sullivan (1972) menyatakan bahwa keadaan ini
Reaksi psikologis pada HIV positif asimptomatik homoseks tergantung dari millieu dan structure dari homoseks. Bila
mengikuti reaksi self-identification pada waktu mereka menjadi pemberi konseling itu sendiri sudah anti terhadap homoseks
seorang homoseks itu sendiri. maka mereka akan melakukan reaksi yang lebih keras.Dalam hal
ini sulit dibedakan apakah ini merupakan gejala neurologis AIDS
REAKSI PSIKOLOGIS PADA HIV POSITIF ASIMPTO- atau gejala psikologis. Beberapa penderita penyakit AIDS me-
MATIK HOMOSEKS nunjukkan gejala pertama psikiatrik. Bila sulit membedakannya
Reaksi psikologis pada HIV positif asimptomatik maka penderita harus dikirim ke ahli neuropsikiatri. Gejala de-
homoseks menurut temuan Michael W Ross dkk, mengikuti presi berat biasanya timbul akibat infeksi oportunistik pada
suatu urutan pola tertentu yang dapat dialami secara berbeda susunan saraf pusat atau HIV encephalopathy. Hal ini berbahaya
oleh setiap individu. dan harus dianggap sebagai kelainan organik dulu, bila negatif
baru dipikirkan suatu kelainan psikologis yang berat..
Stadium 1 & 2. Shock, Denial dan Anger
Stadium ini timbul sebagai akibat dari pengaruh gencarnya Stadium 4. Bargaining
kampanye AIDS yang menyebabkan individu tersebut tidak Stadium ini dapat dikenal dengan mudah dan mengikuti
melanjutkan pengobatannya. Orang tersebut akan gelisah, me- Cass model dalam menerangkan proses terjadinya formasi
nyangkal, gugup dan menyalahkan hasil diagnosis. homoseksualitas, yang didasari atas interpersonal security dan
Penyangkalan sebenarnya merupakan suatu mekanisme self-esteem.
pelindung terhadap trauma psikologis yang dideritanya. Secara Stadium ini dapat secara jelas dibedakan menjadi 4 tahap
tidak sadar proses psikologis akan terus berkembang menjadi yaitu :
rasa bersalah dirinya telah terinfeksi,marah terhadap dirinya atau
orang yang menularnya, tidak berdaya, dan hilang kontrol dan Tahap 4 (a); Coming out to significant others
akal sehatnya. Tekanan ini akan diperberat lagi mengingat mereka Penderita sudah mulai memilih siapa yang akan dapat
adalah golongan minoritas dan merasa bahwa HIV adalah menerima keadaan dirinya, kemudian ia akan menceritakan
akibat hubungan seks yang mereka lakukan tanpa kendali. keadaannya. Begitu juga ia akan mulai mengungkapkan
keadaan dirinya sebagai homoseks, pecandu obat narkotik atau
Contoh kasus : pekerja seks. Orang lain yang dipilih bisa keluarganya, atau
Seorang homoseks berumur 34 tahun dan diberitahu bahwa orang yang dipercaya lainnya. Ini merupakan proses bagi
dirinya temyata HIV positif. la yakin bahwa hasil pemeriksaan dirinya agar dapat diterima di suatu masyarakat tertentu dan
tersebut salah, mengancam petugas kesehatan yang memberi- mendapatkan kasih sayang untuk kemudian dapat membagi
tahukannya, dan menolak pemeriksaan lebih lanjut. la pergi beban mentalnya ke orang lain tersebut. Tanggapan orang lain
dengan marah dan tidak mau berhubungan lagi. Seminggu tergantung dari stress yang akan mereka terima, yang biasanya
kemudian ia minta maaf dengan alasan bahwa ia marah karena berupa rejeksi dan konfrontasi. Bila orang lain ini tidak
merasadikucilkan untukkeduakalinyadi samping sudah men menyadari stigma penderita yang telah dideritanya selama ini,
jadi homoseks. maka reaksi penderita akan menjadi lebih negatif.
Contoh kasus :
Stadium 3. Withdrawal dan Depresi Seorang homoseks umur 35 tahun telah tahu bahwa dirinya
Pada saat ini pada penderita timbul kesadaran bahwa HIV positif sebulan yang lalu, dan telah diberi tahu reaksi apa
mereka akan diisolasi secara seksual dan sosial. Mulai saat ini saja bila ia menceritakan hal itu pada orang lain, ikut konseling
mereka merasa akan lebih dikenal oleh masyarakat sebagai beberapakali. Reaksipsikologis padadirinyamengatakanbahwa
seorang homoseks atau pecandu obat narkotika atau pekerja ia harus mengatakan hal ini pada orang lain walaupun ia juga
seks yang sebenarnya tidak ingin diketahui masyarakat. Mereka takut akan akibatnya. Ternyata orang tersebut masih diterima
dalam keadaan tidak menentu dalam menghadapi reaksi orang oleh kekasihnya, dengan pengertian, kesabaran dan dukungan
lain terhadap dirinya. Dasar perilaku ini karena mereka•tidak yang memang diperlukannya.
mampu membicarakan keadaan penyakitnya dengan orang lain
dan takut menulari orang lain (Kubler-Ross, 1987). Tahap 4 (b); Looking for others
Suatu proses mencari teman senasib yang sama-sama
Contoh kasus : dikucilkan oleh masyarakat, seperti yang dialaminya dulu pada
Seorang homoseks umur 29 tahun dengan perilaku waktu akan menjadi seorang homoseks. Secara psikologis ia
pendiam, mengucilkan din, tertutup dan tampak ia sudah mencari dukungan secara sosial dan psikologis dari teman se-
menerima bahwa dirinya HIV positif. Ia merasa ketakutan nasib. Masalah yang timbul adalah ia dapat kehilangan
kalau orang lain juga tahu, dan kesal mengingat stigma yang identitas aslinya sebagai manusia biasa, sekarang ia akan
akan dihadapinya kelak. Secara klinis orang ini mengalami merasa bahwa dirinya adalah menjadi seorang yang cacad
depresi dan takut akan kehijangan pekerjaannya. dengan identitas HIV positif.
Pada keadaan withdrawal yang berat mereka memikirkan Di samping masalah yang dihadapi tadi, sebenarnya pen-
derita sudah mulai mempunyai suatu harapan untuk mengatasi bahwa walaupun dirinya HIV positif tetapi bukan berarti bahwa
situasi terjepitnya. masa depannya selesai. Ia ingin bekerja sebagai penghubung
Contoh Kasus : penderita HIV lainnya, menulis keadaannya secara terbuka di
Seorang homoseks umur 32 tahun setelah menyendiri selama koran, dan secara terbuka mengajak penderita HIV positif lain-
8 bulan mulai ingin bertemu dengan teman senasibnya. Dengan nya bergabung dengannya, dan secara aktif mencari dana di
rasa was-was ia mencoba kemampuannya untuk memperkenal- masyarakat untuk memberantas AIDS.
kan dirinya pada satu dua orang senasibnya dulu. Setelah berhasil
ia berani menghadapi secara langsung ke banyak orang. Ternyata Stadium 5. Acceptance
ia merasa bahwa dirinya diperlukan oleh orang lain dan men- Menurut Kubler-Ross dan Cass akhir dari proses
dapatbantuan yang diperlukannya. Akhirnyatimbulkepercayaan psikologis kelompok ini adalah rasa menerima nasib. Secara
pada dirinya dan menjadi aktif dalam kelompoknya. logis maka proses psikologis akan menerima bahwa HIV
positif adalah merupakan sebahagian dari identitas diri
Tahap 4 (c); Special Status
seseorang. Mungkin pada orang dengan bentuk penyakit AIDS
Tahap ini pada beberapa orang dengan mental yang kuat
lain sebagai akibat suatu infeksi oportunistik, akan mempunyai
akan langsung dicapai tanpa melampaui tahap-tahap sebelum-
identitas yang berbeda-beda.
nya. Tahap dari perasaan tidak mempunyai identitas diri menjadi
Keadaan ini merupakan suatu keadaan seseorang yang
suatu individu yang spesial dan ada orang lain yang membutuh-
hidup dengan penyakitnya dan bukan merupakan suatu akibat
kannya. Masalah yang dapat timbul adalah bila timbul reaksi
dari penyakitnya itu. Masalah yang timbul setelah stadium ini
identitas yang berlebihan (over identificaton) seperti misalnya
masih belum diketahui, apakah orang tersebut akan tetap masa
bahwa mereka menganggap dirinya sebagai orang spesial, me-
bodoh terhadap penularan pada orang lain atau menjadi apatis
rupakan bagian lain dari masyarakat, timbul istilah "mereka
terhadap masalah kesehatan pada umumnya.
dan kita", merasa bahwa proses penyakitnya sudah berhenti,
Contoh Kasus :
dan merasa bahwa kehidupan mereka akan sangat baik jadinya.
Seorang homoseks umur 61 tahun yang telah mengalami
Contoh kasus :
semua proses psikologis di atas, untuk pertama kalinya merasa
Seorang homoseks umur 24 tahun yang selalu ingin
aman dan bahagia dalam hidupnya. Ia merasa sebagai manusia
melakukan hal penting tetapi tidak mempunyai tujuan tertentu.
dengan HIV positif. Sekarang ini dapat menolong orang lain
Ia menyangkal bahwa dengan HIV positif sesuatu yang buruk
yang senasib sekaligus ini merupakan cara hidupnya yang baru.
telah menimpa dirinya, selalu merasa spesial. Ia sangat ingin
Ia menasihati orang lain dengan HIV positif untuk tidak mem-
membantu gerakan pencegahan AIDS, dan tidak malu-malu
buang waktu dan tenaga hanya untuk merasa khawatir saja tapi
menceritakan bahwa dirinya HIV positif.
gunakanlah untuk menerima bahwa status HIV positifnya tidak
Keadaan ini akan lebih meningkatkan self-esteem dan
akan berubah lagi. Perbuatannya ini mungkin dibantu juga oleh
kepercayaan dirinya walaupun kadangkala ia ingin mengetahui
penerimaan dari partnernya dan karena keadaan umurnya yang
apakah seseorang HIV positif atau tidak.
lanjut.
Tahap 4 (d); Altruistic Behaviour
Tahap ini sebagai akibat proses psikologis pada tahap 4 (a) KESIMPULAN
dan 4 (b) yang dilanjutkan dengan perasaan senasib dan se- Proses psikologis di atas telah diobservasi pada seratus
penanggungan dalam satu kelompok yang mendapat orang di Australia. Setiap individu akan mempunyai tahapan
stigmatisasi itu. Dengan pikiran ingin berteman dengan orang tersendiri, dapatyang urutatau melompat, maju kemudian
senasib maka timbal perasaan menyangkal addnya kelompok mundur kembali.
yang terkucil dan stigma itu sendiri. Bila gejala klinik timbul pada kasus AIDS maka orang
Keinginan untuk segera go public akan menyebabkan tersebut dapat kembali ke tahap semula atau mengalami proses
perilaku yang berlebihan dan bersifat mentah. Mereka yang psikologis lain sesuai dengan penderitaannya. Model ini masih
masuk dalam tahap ini sudah mempertimbangkan antara anti belum sempuma mengingat bahwa pengukuran proses psikolo-
dari tujuan hidup mereka yang jauh lebih penting dengan gis yang dialami oleh kaum homoseks, biseksual dan WTS
hambatan yang dihadapi sekarang (HIV positif). Ella timbul masih belum dapat diukur sampai sekarang.
suatu gejala penyakit AIDS maka penderita pada tahap ini KEPUSTAKAAN
dapat menjadi mental' kembali, mundur ke tahap sebelumnya
1. Ross MW, Teble WEM, Viliunas D (1989), Staging of psychological
atau maju ke tahap ke lima. reaction to HIV infection in asymptomatic homosexual men. J Psychol
Contoh kasus : Human Sex 1989; 12 (1) : 93 -104.
Seorang homoseks umur 39 tahun yang semula sangat 2. Cass VC. Homosexual identity formation: A theoretical model, J. Homo
pendiam dan tidak dapat berhubungan dengan orang lain. Setelah 1979; 4 : 219-235.
3. DepartemenKesehatanRL AIDS –Petunjukuntuk petugaskesehatan. Ditjen
beberapa bulan dalam kelompok konseling ia bahkan menjadi PPM & PLP. Jakarta 1989.
frustrasi atas masalah yang dihadapinya maupun yang dihadapi 4. WHOSEARODOC:SEA/CD/93.Acquired Immunodificiepcy Syndrome.
orang lain. Keadaan ini ditemukan juga pada beberapa orang Report of an Intercountry Consultation Meeting, New Delhi, 30-31
lainnya. la ingin langsung ke masyarakat dan menunjukkan Decetnber 1985.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 39


Petunjuk Pencegahan Penularan
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
untuk Petugas Kesehatan
Dr Rachmat Juwono
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Tim Medik AIDS RSUD Dr Soetomo, Surabaya

PENDAHULUAN operasi atau persalinan, mata dilindungi dengan kaca mata


Usaha pencegahan penularan adalah tindakan penting path (kaca mata khusus atau kaca mata biasa), hidung dan mulut
perawatan. Pencegahan penularan HIV pada hakekatnya sama ditutup masker.
dengan pencegahan penularan virus hepatitis B. Penularan dari
Jarum suntik atau benda tajam lain
penderita ke perawat dengan tusukan jarum suntik atau melalui
• Jarum suntik dan instrumen tajam harus digunakan secara
paparan selaput lendir dengan darah sangat jarang terjadi; pe-
hati-hati, supaya perawat tidak tertusuk atau terluka.
nularan dapat terjadi dari satu penderita ke lainnya, misalnya
karena penggunaan jarum suntik yang tidak steril. • Jarum suntik tidak boleh dimasukkan kembali ke dalam
Pencegahan penularan di saran kesehatan terdiri dari : tutupnya.
• Tindakan pengamanan terhadap penularan melalui darah • Jarum suntik dan alat suntik bekas pakai dimasukkan ke
atau cairan tubuh penderita. dalam tempat yang tidak bisa ditembus jarum, misalnya kaleng
atau wadah plastik kecil dan kern udian dibakar.
• Tindakan pengamanan terhadap penularan melalui jarum
suntik atau jarum lain (biopsi, akupunktur, tato, tindik). Resusitasi mulut ke mulut
• Sterilisasi dan disinfeksi. Walaupun HIV dapat ditearukan dalam air liur, tidak ada
bukti bahwa air liur dapat menularkan HIV. Meskipun
TINDAKAN PENGAMANAN demikian, untuk menghindari paparan HIV, sebaiknya
digunakan alat-alat resusitasi. Alat-alat tersebut harus dicuci
Cuci tangan
bersih dan didisinfeksi setelah digunakan.
• Tangan dan bagian lain dark tubuh yang terkontaminasi
darah atau bagian tubuh lain harus dicuci bersih dengan air dan
Isolasi
sabun.
Isolasi atas penderita dengan infeksi HIV tidak perlu, kecuali
• Tangan dicuci segera setelah melepas sarung tangan. bila penderita juga menderita penyakit infeksi lain yang me-
Sarung tangan merlukan isolasi, misalnya tbc paru, demam tifoid dan lain-lain.
• Perawat harus memakai sarung tangan bila menangani Pencegahan penularan melalui suntikan dan jarum-jarm
darah dan cairan tubuh. lain, misalnya jarum biopsi, akupunktur, tato, tindik.
• Bila kekurangan sarung tangan dapat digunakan kantong • Suntikan dibatasi sampai seperlunya.
plastik. • Pakailah jarum dan alat suntik sekali pakai (disposable)
• Bila sarung tangan tidak sekali pakai (disposable), sarung untuk setiap suntikan.
tangan bekas pakai harus dicuci dan didisinfeksi atau • Alat-alat kedokteran yang dipakai ulang harus dicuci dan
disterilkan setelah dipakai. disterilkan atau didisinfeksi.
Baju pelindung Pencegahan penularan melalui spesimen laboratorium
Baju pelindung (skort) harus dipakai bila merawat penderita.
• Perawat harus selalu menggunakan sarung tangan bila
Kaca mata pelindung dan masker mengambil darah guna pemeriksaan laboratorium.
Bila ada kemungkinan pencipratan darah, misalnya waktu • Tangan harus dicuci dengan air dan sabun, segera setelah me-

40 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


nangani spesimen. Sterillsasi dengan pemanasan
• Spesimen dimasukkan ke dalam tempt yang tidak bocor.
CARA SUHUWAKTU
• Diusahakan agar spesimen tidak mengotori bagian luar tem-
pat spesimen. Autoklaf
(Uap dengan tekanan tinggi) 121 15 merit
• Bila spesimen dikirim Ice tempat lain, tempat spesimen se- 136 10 merit
baiknya dari plastik yang tidak bisa pecah.
134 3,5 merit
Pencegahan penularan pada tindakan invasif Oven udara kering 121 16 jam
• Sarung tangan dan masker dipakai untuk semua tindakan 140 3 jam
invasif. 160 2 jam
• Kacamata dipakai untuk tindakan yang dapat menimbulkan 170 1 jam
pencipratan darah atau cairan tubuh. Merebus (air mendidih) 100 10-30 menit
• Baju pelindung dipakai bila ada kemungkinan pencipratan
darah.
• Bidan yang menolong persalinan harus memakai sarung ta- Sampah padat, seperti perban, pembalut wanita
ngan dan baju pelindung bila menangani placenta dan bayi dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan warna khusus
yang baru dilahirkan. dan dibakar dalam insinerator.
• Bila sarung tangan robek waktu dipakai, atau tertusuk jarum
atau teriris pisau, sarung tangan diganti setelah tangan dicuci Penanganan jenazah
dengan air dan sabun. Penanganan jenazah sama seperti merawat penderita.
Jarum atau slat tajam yang menyebabkan kecelakaan ini
harus diganti.
Risiko penularan bagi petugas kesehatan
Pencucian bahan tenun
Risiko penularan HIV bagi petugas kesehatan setelah
• Bahan tenun (sprei dan lain-lain) yang kotor dimasukkan
tertusuk jarum suntik bekas pakai kurang dari 1%.
kantong plastik dengan warm khusus dan dikirim ke tempat
Selain karena tertusuk jarum, penularan juga dapat terjadi
pencucian.
karenākontaklangsung dengan darah pada lukakulitatau selaput
• Bahan tenun ini dicuci dengan air panas paling rendah 71°C lendir mulut, hidung dan mata. Tidak ada risiko penularan
selama 25 menit dalam mesin cuci. Bila digunakan air dengan melalui kulit utuh.
stihu di bawah 7I°C,perlu ditambahkan disinfektan, misalnya Petunjuk pencegahan infeksi HIV sangat mengurangi
Natrium hipoklorit 0,5%. risiko penularan, bila ditaati dengan ketat.
• Waktu menangani bahan tenun yang kotor, perawat harus
memakai sarung tangan dan baju pelindung.
Membersihkan tumpahan darah dan cairan tubuh
• Tumpahan darah dan cairan tubuh dianggap menular dan
dibersihkan segera.
• Pakailah sarung tangan dan baju pelindung.
• Bersihkan tumpahan dengan kertas tissue.
• Buang tissue ke dalam kantong plastik.
• Tuangkan Natrium hipoklorit 0,5% di atas tempat tumpahan
dan bersihkan setelah 30 menit.
Cara lain :
• Kapas dibasahi dengan Natrium hipoklorit 0,5%.
• Hapus tumpahan darah, ulang beberapa kali sampai bersih.
• Buang kapas tersebut ke dalam kantong plastik.
Disinfeksi dan sterilisasi
Disinfektan yang menginaktifkan HIV :
• alkohol
• lisol3%
• formalin 1%, untuk jaringan biopsi 10%
• glutaraldehid 2% (Cidex®)
• natrium hipoklorit 0,5% (larutan 1:10 dari konsentrasi 5,25%
pemutih pakaian Chlorox® atau Bayclin®)
Pembuangan sampah
Bahan cair, seperti darah, urine dan lain-lain dibuang dalam
saluran ke septic tank.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 41


Bila seorang petugas kesehatan terpapar darah atau cairan during invasive procedures. MMWR 1986; 35 : 221-3.
5. Conte JE. Infection with human immunodeficiency virus in the hospital.
tubuh secara parenteral (melalui tusukan jarum atau luka Ann. Intern. Med. 1986; 105 : 730.
irisan), atau tercipratpada selaput lendir mulut, hidung atau 6. Gerberding IL. Occupational health issues for providers of care to patients
mata, tempat paparan tersebut dicuci dengan air (dan sabun). with HIV infection. In: The Medical Manager of AIDS. Sande MA,
Luka dibiarkan berdarah beberapa saat, kemudian dirawat Volberding PA. (Ed.), Philadelphia: WB Saunders Co. 1988. pp 55-63.
7. Hadley WK. Infection of the health care worker by HIV .and other blood
seperti biasanya. Kejadian tersebut harus segera dilaporkan borne vintsses: Risk, protection and education. Am. J. Hosp. Pharm. 1989;
dokter dan dirahasiakan. 46 (Suppl. 3) : S4-S7.
8. Henderson DK, Saah AJ, Zak BJ et al. Risk of nosocomial infection with
KEPUSTAKAAN Human T-cell lymphotropic virus type III/lymphadenopathy-associated
virus in a large cohort of intensively exposed health cam workers. Ann.
1. AIDS Task Force (Australia). Infection control guidelines. AIDS and Intern. Med. 1986; 104: 644.
related conditions, 1988. 9. Mc Evoy M, Porter K, Mortimer P, Simmons N, Shanson D. Prospective
2. Becker CE, Cone JE, Gerberding J. Occupational infection with human study of clinical, laboratory and auxillary.staff with accidental exposures
immunodeficiency virus (HVI). Risk and risk reduction. Ann. Intern. Med. of blood or body fluids from patients infected with HIV. BMJ 1987; 294 :
1989; I10 : 653-6. 1595-7.
3. CDC : Recommendations of prevention of HIV transmission in health care 10. MC Mahon K, Sutterer MG. Safety precautions and hospital practices in
settings. MMWR 1987; 36 (2S), August 21. dealing with seropositive individuals. In: AIDS. Etiology, diagnosis, treat-
4. CDC: Recommendations for preventing transmission of infection with ment and prevention. Ed. DeVita VT, Hellman S, Rosenberg SA (eds.),
human T-Iymphotropic virus type IIUlymphadenopathy-associated virus Philadelphia: JB Lippincou Co. 1988, pp. 397-420.

42 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Program AIDS di Australia
Suatu Studi Komparatif
lmran Lubis

Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,


Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN
Australia sebagai suatu negara yang berdekatan dengan
Indonesia,selama ini telah melaporkan 2.800 kasus AIDS (60%
adalah laki-laki), dan 15.000 HIV positif. Usaha pencegahan
penyakit AIDS di negara ini dinyatakan yang terbaik dan telah
berhasil,karena prevalensi HIV pada homoseks dan biseks
menurun, meskipun pada IVDU (Intravenous Drug User)
masih tetap.
Tertarik akan hal ini maka kami telah dikirim oleh IAKMI
Ratan Ahli Kesehatan Masyarakat) selama 3 minggu ke negara
Kangguru ini untuk mempelajari upaya penanggulangan AIDS
yang telah mereka kerjakan selama ini.
Pengalaman pertama kami dapatkan dari melihat The Syd-
ney Gay and Lesbian Mardi Grass yang setiap tahun selalu
diselenggarakan pada tanggal 16 Februari. Parade terdiri dari
iring-iringan kendaraan hias, drumband, barisan kelompok gay
dan lesbian yang berjalan sambil menari dengan meriah selama
3 jam dan menarik sekali untuk disimak. Pala saw sisi kami
melihat para gay dan lesbian berpesta pora disko di jalanan,
menyatu dengan organisasi masyarakat dah pemerintah yang
membantu kaum ini menanggulangi AIDS. Pada sisi lainnya
terasa bahwa kelompok kecil masyarakat ini tampak sedang
menghadapi suatu masalah yaitu penyakit AIDS yang serius
sehingga penonton mau tidak mau ikut berfikir sejenak. Kami
cukup kaget melihat ada peserta pawai dari Thailand, Jepang
dan Indonesia (Bali) yang tentunya diperagakan oleh orang
Australia.
Kesan kemudian timbul bahwa penyakit AIDS ini bukan
saja masalah di Australia tetapi sudah menjadi masalah bagi
negara di sekitarnya. Peserta pawai saling memakai baju yang
.aneh-aneh seperti misalnya tampak pada gambar (Gambar 1,2). Gambar 1

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 43


STRUKTUR ORANISASI PENANGGULANGAN AIDS
DI AUSTRALIA, 1991

(FamilyPlanningAssociation), APHA(AustralianPublicHealth
Association), AFAO (Austraian Federation of AIDS Organiza-
tion), Universitas dan lain-lain. Organisasi masyarakat ini yang
akan melaksanakan program penanggulangan AIDS pada ke-
Iompoknya.
Pada umumnya aktivitas mereka dapat dibagi menjadi 3
bagian utama yaitu : community support, community service, dan
Gambar 2
information service. Pembagian lebih lanjut ke aktivitas lebih
spesifiktergantungbesarkecilnyaorganisasi tersebut. Sedangkan
Kami ingat bahwa sebagian besar kaum gay di Indonesia pemerintah negara bagian bertugas menentukan policy,
masih sangat tertutup, sebagian waria sudah mulai terbuka. Iden- monitoring dan evaluasi semua kegiatan penanggulangan AIDS
titas diri sebagai gay atau waria masih belum sepenuhnya di daerahnya, yang mendapat bantuan pemerintah.
diterima oleh masyarakat kita. Sehingga pada umumnya mereka Hal ini bisa terjadi mengingat timbulnya AIDS di Australia,
hanya dapat melakukan kontak sosial di dalam kelompoknya yang dimulai pada tahun 1960/70 setelah terjadi perubahan peri-
saja. Proses psikologis sebagai akibat keadaan tersebut dapat laku seksual gay di Sydney dari oral seks menjadi anal seks
berupa frustrasi, depresi bahkan marah. Hubungan dengan ke- sebagai akibat pengaruh gay di Amerika. Pada tahun 1980 di
lompok di luar mereka menjadi lebih sulit karena perilaku kalangan gay sendiri telah tersebar berita mengenai timbulnya
mereka mengarah ke penolakan (rejection), yang menimbulkan penyakit AIDS di Amerika yang menimpa kaum homoseks.
istilah "kita dan mereka". Proses psikologis ini bila menjadi Berita ini menjadi kenyataan pada tahun 1981 dengan ditemukan-
parah dapat berkembang menjadi homophobia baik bagi orang nya kasus pertama AIDS di Australia. Kegelisahan yang telah
luar maupun dirinya yang secara ekstrem dapat cenderung ke memuncak dan melihat pemerintah belum melalukan tindakan,
perbuatan bunuh diri. Keesokan harinya kami mulai mengun- maka terjadilah suatu Big Public Meeting dari semua kelompok
jungi satu persatu berbagai macam organisasi masyarakat maupun risiko tinggi. Mereka berhasil membentuk kelompok-kelompok
pemerintah. Secara garis besar, organisasi penanggulangan masyarakat risiki tinggi AIDS seperti kelompok gay, IVDU
AIDS di Australia dapat dilihat pada bagan dibawah ini. (Intravenous Drug User), Sex Worker (WTS) dan lain-lain.
Dari pemerintah pusat penanganan AIDS dibagi dua yaitu Kelompok ini mempunyai anggota dan ketua yang sangat aktif.
melalui AIDAB dan melalui pemerintah negara bagian (State Kelompok masyarakat risiko tinggi AIDS meminta pemerintah
dan Territory). Melalui AIDAB disalurkan bantuan ke organi- segera mengambil tindakan pencegahan AIDS. Hasilnya mereka
sasi masyarakat seperti ACON (AIDS Council of New South kemudian melalukan pertemuan dengan pemerintah dan me-
Wales), DRIC (Drug Referral and Information Centre), FPA mutuskan bahwa pemerintah akan membantu program kelom-

44 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


pok masyarakat tersebut. Kelompok masyarakat akan mengaju- mampu melakukan kontrol bagi dirinya dalam menghadapi
kan program yang dianggap paling cocok bagi mereka dan tekanan dari germo atau pemilik hotel dan pelanggannya
mereka sendiri yang akan melaksanakannya, sedangkan pe- tentang safer sex / penggunaan kondom.
merintah akan memberikan bantuan tenaga ahli dan pendanaan. 3. NSW Users and AIDS Education (NUAA) : melaksanakan
Sistem ppnanggulangan ini memang istimewa. Penyuluhan bantuan edukasi dan support bagi penyalahguna obat sunti-
antar anggota kelompok (peer group) merupakan cara yang kan narkotik.
paling efektif untuk merubah perilaku seseorang ke arah lebih 4. Prostitutes Collective : memberikan bantuan edukasi bagi
positif. Setiap penyuluhan pada dasarnya memerlukan sedikit street prostitutes dan brothels.
banyak keterlibatan faktor emosi/perasaan senasib. Sehingga 5. CSN (Community Support Network) menyediakan perawat
fasilitator benar-benar dapat paham dan mampu merasakan per- yang melakukan kegiatan Voluntary Home Caring.
masalahan yang dihadapi oleh kelompok secara mendalam. 6. PLWA (NSW) untuk newsletter dan advocacy bagi orang-
Apalagi bila menyangkut pennasalahan hubungan seks yang orang penderita AIDS.
jelas membutuhkan kesepakatan dari dua orang. Lain halnya 7. SACBE Spanish/Latin American AIDS Support Network.
bila melakukan penyuluhan misalnya : anti merokok, diet 8. Youth Peer Education Project (Fun & Esteem Project),
hipertensi, diet gula yang hanya menyangkut diri seseorang Program pendidikan masyarakat yang menekankan bahwa
saja tanpa perlu berkompromi dengan orang lain. safe sex adalah aspek positif dari kehidupan para gay dan
Seseorang dapat segera merubah perilakunya/kebiasannya biseksual muda (< 20 tahun).
untuk berhenti merokok atau melakukan diet hipertensi. 9. Ethnic Gay Men's Project (South East Asian Men);
Sedangkan pada hubungan seks belum tentu perubahan yang melakukan siaran radio dan koran leaflet, information
diinginkan satu pihak untuk memakai kondom misalnya akan work-shops.
disetujui oleh partner-nya. Apalagi mengingat peranan wanita 10. Drug Referral and Information Centre, menyediakan dis-
dalam menentukan suatu keputusan masih belum dianggap posable syringe bagi IVDU.
renting, pembicaraan mengenai seks masih dianggap tabu. Organisasi penunjang kelompok masyarakat (support group
Dalam beberapa seminar yang telah dilakukan di Indonsia organization) masih banyak lagi. Bahkan berkembang menjadi
diungkapkan bahwa kendala terpenting yang dihadapi WTS community service yang ditujukan pada penderita AIDS seperti
untuk melaksanakan safe sex adalah keberatan/penolakan dari misalnya :
pelanggannya, pengkucilan dari mucikari. Sehingga mereka 1. ACON Flat (6 buah) untuk tempat tinggal.
takut akan kehabisan langganan dan lain-lain. Penelitian Sarlito 2. Share Project untuk membagi tempat bernaung.
mengungkapkan bahwa pengehatuan AIDS dapat meningkat 3. Transport ke/dari pusat pengobatan (2 bis) untuk 300 orang/
namun tidak disertai dengan peningkatan pemakaian kondom. bulan.
Masalah ini terdapat di mana-mana, begitu juga di 4. The Guilt Project untuk acara penguburan dan pembuatan
Australia. Tetapi dengan berdirinya suatu organisasi panel.
kelompokrisiko tinggi AIDS seperti homoseks, pekerja seks, 5. Venues Liaison Project, untuk menyediakan kondom dan
maka mereka dapat secara kompak mengatasi berbagai lain-lain.
masalah. Misalnya dalam menghadapi mucikari, pemilik rumah 6. AIDS Trust of Australia untuk mencari dana untuk rise[,
bordil dan pelanggannya. Organisasi seperti ini mampu pendidikan dan pelayanan.
menimbulkan rasa kemampuan pada individu kelompok untuk Program pencegahan AIDS lainnya masih cukup banyak
menentukan mana yang baik dan yang buruk, terutama dalam untuk dikemukakan disini; tentunya ada beberapa bagian dan
pencegahan AIDS. Timbulnya berbagai organisasi kelompok aktivitas di Australia yang dapat disesuaikan dan dipakai
risiko tinggi di Australia ini telah berhasil melindungi mereka sebagai contoh di negara kits. Selain mempelajari•program
dari penularan AIDS. Organisasi tersebut antara lain : penyuluhan, kami juga sempat bertemu dengan beberapa pakar
yang melakukan penelitian di bidang sexual behaviour, sosial-
1. Sex Worker Outreach Project (SWOP) melakukan budaya, virologi, epidemiologi.
aktivitas edukasi dan support pada "prostitusi jalanan". Sebelum kembali ke tanah air kami sempat berkunjung ke
2. Rights for All Male Sex Worker (RAMS) : suatu kegiatan pusat pemerintahan di Canberra, seperti misalnya : Department
untuk membantu young male prostitutes sehingga mereka of Community Service and Health, AIDAB.

First : Plan the work


Then : Work the plan

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 45


Tanya Jawab mengenai AIDS

Rachmat Juwono
Tim Medik AIDS RSUD Dr.Soetomo/Fakultas Kedokteran Unair
Surabaya

PENDAHULUAN adalah hubungan seks reseptif/pasif anal. Hal ini disebabkan


Dalam simposium/seminar mengenai AIDS ada pertanyaan- karena mukosa rektum lebih tipis daripada mukosa vagina,
pertanyaan yang sering ditanyakan, baik oleh petugas kesehatan hingga mudah terjadi luka. Melalui luka ini HIV yang berada
maupun oleh masyarakat umumnya. Di bawah ini akan dijawab dalam semen (sperma) masuk ke dalam aliran darah.
sepuluh pertanyaan, yang mungkin berguna bagi pembaca. Selain pria homoseksual, pada wanita heteroseksual yang
melakukan hubungan seks anal, insidens infeksi HIV dua kali
TANYA JAWAB lebih tinggi daripada yang tidak melakukan hubungan seks anal.
Pada pria homoseksual yang melakukan hubungan seks
1. Mengapa AIDS diresahkan mengingat insidensnya
insertif/aktif anal, risiko infeksi HIV lebih kecil daripada yang
masih sangat rendah di Indonesia?
reseptif/pasif anal. Pada mereka penularan HIV terjadi karena
Walaupun di Indonsia jumlah kasus AIDS masih rendah
HIV yang berada dalam darah yang keluar dari luka-luka di
dan terbanyak mengenai orang asing (kasus "impor"), tetapi
rektum, masuk tubuh melalui uretra yang meradang karena
jumlah orang yang terinfeksi HIV tanpa gejala (seropositit) jauh
penyakit menular seksual, atau melalui lesi pada penis(2).
lebih banyak. Orang-orang ini yang nampaknya sehat dapat
menularkan HIV ke orang lain. 3. Apakah seorang lesbian bisa ketularan HIV?
Di Amerika Serikat, Eropa Barat dan Afrika Tengah untuk Seorang lesbian bisa ketularan HIV, karena suntikan obat
setiap kasus AIDS terdapat 50–100 orang yang terinfeksi HIV bius intravena dengan jarum sumac yang dipakai bergantian
tanpa gejala dan jumlah kasus AIDS meningkat 100% setiap 10 dengan orang lain. Penularan selanjutnya ke partner lesbiannya
bulan. terjadi, bila partnernya melakukan cunnilingus (hubungan seks
Negara-negara yang saat ini jumlah kasus AIDSnya rendah, oro-genital).
masih mempunyai kesempatan untuk mencegah transmisi HIV, Selain cunnilingus lesbian juga melakukan masturbasi ber-
dengan cara penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Kalau sama, kadang-kadang dengan alat permainan seks, yang dapat
ditunggu sampai terjadi epidemi AIDS kita terlambat. menyebabkan perdarahan dan penularan HIV(2).
Keuntungan lain dari penyuluhan kesehatan tentang seks
4. Apakah HIV dapat ditularkan melalui ciuman mulut
yang lebih aman (safer sex) ialah selain mencegah infeksi HIV,
dengan mulut?
juga menurunkan insidens penyakit menular seksual lain dan
Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa HIV lebih
hepatitis virus B. Demikianpun pembatasan transfusi darah dan
jarang ditemukan dalam saliva daripada dalam darah. Selain itu
suntikan sampai seperlunya dan perawatan menurut Petunjuk
eksperimen-eksperimen lain menunjukkan, bahwa saliva
Pencegahan Penularan pada perawatan juga mencegah hepatitis
mengandung zat-zat yang menginaktivasi HIV in vitro.
virus B selain infeksi HIV(1).
Sampai sekarang belum terbukti, bahwa ciuman mulut
2. Mengapa penularan HIV paling mudah pada pria dengan mulut dapat menularkan HIV. Walaupun demikian, deep
homoseksual? kissing dengan kemungkinan perdarahan kecil akibat gigitan,
Faktor risiko seksual yang paling besar untuk infeksi HIV sebaiknya tidak dilakukan, karena teoretis mengandung risiko

46 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


penularan(3). merupakan pemborosan(4).
5. Apakah HIV dapat ditularkan melalui nyamuk? 7. Gejala-gejala apa yang mencurigakan AIDS?
Nyamuk tidak menularkan HIV karena : Pertama-tama perlu diingat bahwa kasus-kasus AIDS ter-
a) HIV tidak berkembang biak dalam sel nyamuk utama ditemukan pada orang-orang dari kelompok risiko
b) HIV tidak bermigrasi dari usus ke kelenjar liur nyamuk tinggi, yaitu pria homo dan biseksual, pecandu obat bius
c) Jumlah darah dan jumlah HIV yang dihisap nyamuk terlalu intravena yang menggunakan jarum/alat suntik secara
sedikit. Diperkirakan bahwa untuk menimbulkan infeksi HIV bergantian, penderita hemofilia yang sering mendapat transfusi
diperlukan paling sedikit 0,1 ml darah. faktor VIII dan IX, penerima transfusi darah atau komponen
Bukti epidemiologis bahwa nyamuk tidak menularkan darah, wanita dan pria tuna susila, orang heteroseksual dengan
HIV, ialah : banyak mitra seksual, partner seksual dari orang-orang tersebut
a) Distribusi umur dan jenis kelamin dari orang-orang yang di atas dan anak yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV.
terinfeksi HIV di Afrika khas untuk penyakit menular seksual. Pada orang dewasa AIDS dapat diduga bila terdapat paling
Bila nyamuk menularkan HIV, insidens pada anak dan orang sedikit dua gejala mayor dan paling sedikit satu gejala minor,
tua akan sama atau lebih tinggi dari pada orang-orang yang tanpa sebab imunosupresi lain yang diketahui, seperti kanker,
berumur 20-40 tahun. malnutrisi atau penyebab lain.
b) Orang-orang yang hidup serumah dengan seorang yang Gejala mayor :
terinfeksi HIV tidak terinfeksi, kecuali suami/isteri atau anak a. penurunan berat badan lebih dari 10%
dari ibu yang terinfeksi HIV(1,3). b. demam lebih dari satu bulan (intenmiten atau kontinu)
c. diare kronik lebih dari satu bulan.
6. Mengapa orang-orang dalam perjalanan internasional
Gejala minor :
tidak diwajibkan mempunyai surat bebas infeksi HIV?
a. batuk lebih dari satu bulan
a) Karen infeksi HIV sudah terdapat di semua benua dan
b. dermatitis pruritik generalisata
hampir semua kota besar di dunia, shining terhadap infeksi
c. herpes zoster rekuren
HIV pada orang-orang dalam perjalanan internasional (baik
d. kandidiasis orofaring
orangorang asing yang masuk ke suatu negara, maupun warga
e. herpes simplex diseminata yang kronik, progresif
negara sendiri yang kembali dari luar negeri) tidak dapat
f. limfadenopati generalisata
mencegah penyebaran infeksiHIV.
Terdapatnya sarkoma Kaposi generalisata atau meningitis
b) Karena tes serologik untuk mendeteksi infeksi HIV belum
cryptococcus saja sudah cukup untuk diagnosis AIDS.
sempuma. Tidak pada semua orang yang terinfeksi HIV tes
Diagnosis kemudian perlu dikonfirmasi dengan tes ELISA
serologik positif. Juga pada orang-orang yang baru terinfeksi
dan Western Blot(1,3,5).
beberapa minggu tes masih negatif (window period), walaupun
sudah menular. Pada keadaan ini tes serologis negatif palsu.
8. Mengapa identitas penderita dengan infeksi HIV/AIDS
Sebaliknya pada orang-orang dari negara-negara dengan
harus dirahasiakan?
insidens infeksi HIV masih rendah, tes serologik lebih sering
Rahasia jabatan tidak berlaku untuk AIDS saja, tetapi
positif, walaupun tidak terinfeksi HIV. Pada keadaan ini tes
untuk semua penyakit. Kurang pengertian dan ketakutan
serologis positif palsu.
masyarakat terhadap AIDS menimbulkan masalah-masalah
c) Karen kesulitan teknis.
sosial yang serius bagi penderita yang diketahui menderita
Setiap tahun beratus-ratus juta orang melintas batas-batas
infeksi HIV/AIDS. Penderita-penderita tersebut menjadi
intemasional dengan pesawat terbang, kapal laut, kereta api,
korban prasangka dan diskriminasi sosial, misalnya :
kendaraan bermotor atau berjalan kaki.
− dikeluarkan dari pekerjaan
Beberapa masalah yang timbul adalah :
− dikeluarkan dari sekolah
− Dimanakah skrining darah harus dilaksanakan, di tempat
pemberangkatan atau tempat kedatangan? − diusir dari tempat tinggalnya
− Apakah shining darah harus dilakukan di semua tempat − ditolak oleh dokter, dokter gigi atau rumah sakit
perbatasan negara (udara, laut, darat)? − teman-teman dan keluarga penderita menjauhinya. Oleh
− Beberapa lama sebelum pemberangkatan tes serologis karena itu penderita dapat bunuh
harus dikerjakan? Hal-hal tersebut tidak perlu terjadi, karena HIV tidak me-
− Beberapa lama surat bebas infeksi HIV berlaku? nular melalui pergaulan sosial sehari-hari(16).
− Tindakan apa yang harus diambil, bila tes serologis di- 9. Bila identitas penderita infeksi HIV/AIDS harus di-
kerjakan waktu tiba dan hasilnya ternyata positif? rahasiakan, apakah tidak membahayakan pasangan
− Bagaimana bila terjadi "perdagangan gelap" surat bebas seksnya dan masyarakat?
infeksi HIV (surat keterangan palsu bebas infeksi HIV)? Seorang yang tertular HIV atau menderita AIDS harus
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab. Oleh diberi konseling (bimbingan), supaya ia tidak menularkan HIV
karena itu WHO menyimpulkan, bahwa skrining HIV pada ke orang lain, yaitu dengan abstinensi, monogami atau
.
orang-orang dalam perjalanan internasional tidak praktis dan memakai kondom bila berhubungan seks.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 47


Pergaulan sehari-hari di rumah, kantor atau sekolah tidak bulnya gejala-gejala penyakit AIDS.
menularkan HIV(17). • Karena kelompok vaksin maupun kelompok plasebo di-
10. Mengapa sampai sekarang belum ada vaksin untuk instruksikan untuk mencegah infeksi HIV, waktu yang diperlu-
infeksi HIV? kan untuk membuktikan efektivitas vaksin akan lama.
Usaha untuk membuat vaksin yang efektif terhadap HIV • Karena sekarang insidens infeksi baru HIV pada pria homo-
mengalami beberapa kesulitan. seksual di Amerika Serikat kurang dari 1%, maka pengujian
a) Sampai sekarang belum ditemukan komponen virus yang vaksin HIV mungkin hanya dapat dilakukan di negara lain
merangsang imunitas yang protektif pada manusia. tertentu dengan insidens infeksi yang masih tinggi(8).
b) Tidak ada binatang percobaan untuk menyelidiki infeksi
HIV dan AIDS. Chimpanzee binatang satu-satunya yang dapat KEPUSTAKAAN
ditulari oleh HIV. Pada binatang ini terjadi infeksi khronis dan
1. International Planned Parenthood Federation (IPPF). AIDS manual.
respons imun yang mirip dengan yang terjadi pada manusia, 2. Glasel M. High risk sexual practices in the transmission of AIDS. In:
tetapi tidak terjadi penyakit AIDS. Oleh karena itu chimpanzee AIDS. Etiology, diagnosis, treatment and prevention. Ed. De Vita Jr VT,
dapat dipakai sebagai model untuk mengembangkan vaksin Hellman S, Rosenberg SA. Second edition. Philadelphia: JB Lippincott Co
yang mencegah infeksi HIV, tetapi tidak dapat dievaluasi 1988, pp. 355-67.
3. Second meeting of the WHO collaborating centres on AIDS.
apakah vaksin ini dapat mencegah penyakit AIDS pada orang Memorandum from a WHO meeting. Bull. WHO 1986; 64: 37-46.
yang sudah terinfeksi. Selain itu kesulitan untuk mendapatkan 4. WHO. Report of the consultation on international travel and HIV
binatang ini dan biaya, perawatan yang tinggi menyebabkan infection. Geneva 1-3 March, 1987. WHO/SPA/GLO/87.1.
binatang ini kurang ideal. 5. Dirjen PPM-PLP Departemen Kesehatan RI. AIDS. Petunjuk untuk
pewgas kesehatan. Ed. Bing Wibisono, 1989. lampiran V, hal. 197-8.
c) Evaluasi efektivitas suatu vaksin mempunyai beberapa 6. Tillett G, Frost G. Social, occupational and legal issues. In: AIDS virus
kesukaran, yaitu : infection. A comprehensive reference manual on the human immuno
• Tidak ada indikator dari imunitas protektif, karena tidak deficiency virus (HIV). Ed. Kay K. New South Wales Department of Health.
ada korelasi antara pembentukan atau menurunnya imunitas 7. Miller D. Councelling. In: ABC of AIDS. Ed. Adler MW. First Ed B M J
1987; pp. 37-40.
dan permulaan atau progresi penyakit. 8. Fauci AS. Development and evaluation of a vaccine for human immuno-
• Lamanya waktu antara permulaan infeksi HIV dan tim- deficiency virus (HIV) infection. Ann. Intern. Med. 1989; 110: 373-85.

48 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Obat yang Disalahgunakan
oleh Pasien Ketergantungan Obat
di Rumah Sakit Ketergantungan Obat
dan Inabah
Sudibyo Supardi, Sarjaini Jamal, Anwar Musadad
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta

ABSTRAK
Penyalahgunaan obat (narkotik dan psikotropik) adalah suatu penggunaan obat di
luar pengawasan medik yang dapat menimbulkan keadaan yang talc terkuasai oleh
individu, atau yang menimbulkan suatu keadaan yang dapat membahayakan/mengancam
masyarakat. Penyalahgunaan obat dapat mengakibatkan ketergantungan obat. Dalam
upaya penyuluhan kesehatan masyarakat, ingin diketahui jenis obat yang disalahgunakan,
tujuan penyalahgunaan dan asal that.
Untuk mendapatkan informasi tersebut, telah dilakukan penelitian deskriptif dengan
metoda wawancara berpedoman pada kuesioner. Responden meliputi semua pasien
ketergantungan obat (lama dan baru) yang telah dapat diwawancarai dan sedang dirawat
di RSKO, Inabah 1 dan Inabah 13 mulai bulan Agustus sampai dengan bulan Oktpber
1990. Selama jangka waktu penelitian didapat 19 pasien di RSKO, 30 pasien di Inabah 1
dan 20 pasien di Inabah 13, semuanya pria.
Dari hasil penelitian diambil kesimpulan :
1. Obat yang disalahgunakan persentase terbesar psikotropikadan penggunaannya
tidak terpisahkan dari minuman keras.
2. Tujuan penyalahgunaan obat pada awalnya karena ingin tahu/mencoba, kemudian
berlanjut menjadi ketergantungan.
3. Asal obat yang disalahgunakan persentase terbesar dari kelompok (gang) dan
sebagian kecil dari memalsu resep/membeli di apotek.

PENDAHULUAN amfetamin dan golongan lain. Penyalahgunaan obat dapat


Yang dimaksud dengan "obat" dalam tulisan ini adalah obat mengakibatkan ketergantungan obat(2).
golongan narkotik dan psikotropik. Penyalahgunaan obat adalah Pengobatan korban ketergantungan obat dapat dilakukan
suatu penggunaan obat di luar pengawasan medik yang dapat secara medik dan secara tradisional. Pengobatan secara medik
menimbulkan keadaan yang talc terkuasai oleh individu, atau antara lain dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa, Rumah Sakit
yang menimbulkan suatu keadaan yang dapat membahayakan/ Ketergantungan Obat dan lembaga non medik seperti Pamardi
mengancam masyarakat(1). Ada 6 golongan obat yang banyak Siwi milik kepolisian dan Khusnul Khotimah milik Departemen
disalahgunakan, yaitu alkohol, sedativa, opioida, kanabis, Sosial(3). Pengobatan secara tradisional antara lain dilakukan

Penelitianini merupakan bagian dari Penelitian Penyalahgunaan Obeli


Golongan Narkotika dan Psikotropik. Oleh Pasien Ketergantungan Obat, yang
dibiayai oleh anggaran proyek penelitian Pus!itbang Farmasi, Badam
Litbangkes tahun 1990/1991.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 49


oleh Pondok Pesantren Suryalaya melalui 24 Inabah putra Tabel 2. Jumlah pasien berdasarkan jenis minuman keras yang
diminum bersama obat
maupun putri yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Singpura dan Malaysia(4). Jumlah
Upaya pencegahan meningkatnya penyalahgunaan obat RSKO Inabah (n=69)
Nama Minuman
(n=19) (n=SO)
dilakukan melalui berbagai upaya, balk yang bersifat preventif,
∑ %
kuratf, rehabilitatif dan promotif. Untuk mengetahui jenis obat Whisky 9 27 36 52,2
yang disalahgunakan, tujuan penyalahgunaan dan asal obat, Mansion 6 10 16 23,2
perlu dilakukan penelitian terhadap pasien ketergantungan obat Bir 3 10 13 18,7
yang sedang dirawat secara medik di Rumah Sakit Anggur orang tua (AO) 4 7 11 15,9
Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta dan secara tradisional di Vodka 3 6 9 13,0
Johnny Walker 6 4 10 14,5
Inaabah 1 Ciamis dan Inabah 13 Yogyakarta. Repponden' adalah Lain-lain 5 6 11 15,9
pasien ketergantungan obat, karena sulit mendapatkan
responden di masyarakat. Seperti diketahui, penyalahgunaan
obat merupakan hal yang dilarang undang-undang dan agama, terima kelompok, melupakan masalah dan menyatakan
serta diagnosisnya sering memerlukan konfirmasi laboratorium. kemerdekaan (tabel 3).
METODA PENELITIAN Tabel 3 Jumlah pasien berdasarkan tujuan pertama menggunakan obat.
Penelitian deskriptif dengan metoda wawancara berpedo-
man pada kuesioner dilakukan terhadap semua pasien ke- Jumlah
RSKO Inabah (n=69)
Nama Minuman
tergantungan obat (lama dan baru) yang telah dapat diwa- (n=19) (n=50)
wancarai dan sedang dirawat di RSKO,Inabah 1 dan Inabah 13 ∑ %
mulai bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 1990. Ingin tahulmencoba 10 23 33 47,8
Ingin diterima kelompok 8 19 27 39,1
Sampling dilakukan secara sensus; didapat 19 pasien di RSKO, Melupakan masalah 8 11 19 27,5
30 pasien di Inabah 1 dan 20 pasien di Inabah 13. Menyatakan kebebasan – 8 8 11,6

HASIL PENELITIAN Obat yang disalahgunakan terutama (53,6%) berasal mem-


Obat yang disalahgunakan oleh seseorang dapat lebih dari bell dari teman/ gang. Ada sebagian pasien yang membeli obat
satu jenis, umumnya dari kelompok psikotropik. Obat yang dari apotik/memalsu resep dan toko obat (tabel 4).
disalahgunakan persentase terbesar (66,7%) berupa pil BK,
kemudian Ganja, Mogadon®, Valium®, Dumolid®, Ro- Tabel 4. Jumlah pasien berdasarkan cars mendapatkan obat
hypnol® dan Lexotan® (tabel 1). lain-lain meliputi obat yang
Jumlah
digunakan oleh kurang dari 10% pasien, yaitu Stesolid®, RSKO Inabah (n=69)
Nama Minuman
Artane®, Stelazine®, Largactil®, Sedatin®, Petidin, Morfin, (n=19) (n=50)
S %
Somnil® dan jamur tahi sapi/babi atau kopi tahi sapi/babi.
Dari teman/gang 7 30 37 53,6
Pengedar 11 16 27 39,1
Tabel 1. Jumlah pasien berdasarkan jenis obat yang disalahgunakan
Dari apotekhesep palsu 9 8 17 24,6
Jumlah Dari toko obat 5 5 10 14,5
RSKO Inabah (n=69)
Janis Obat
(n=19) (n=50)
∑ %
BK 12 34 46 66,7 DISKUSI
Ganja 13 25 38 55,1 Berdasarkan data tahun 1981-1986, jenis obat yang di-
Mogadon® 11 13 24 34,8 salahgunakan umumnya opioidao). Hasil penelitian menunjuk-
Valium® 7 15 22 31,9 kan adanya pergeseran pola penyalahgunaan obat, dari narkotik
Dumolid® 8 8 16 23,2
Rohypnol® 7 7 14 20,3
di masa lalu ke arah psikotropik di masa sekarang. Golongan
Lexotan® 6 6 12 17,4 obat ini seharusnya hanya dapat dibeli di apotik dengan resep
Lain-lain 7 9 16 23,2 dokter. Adanyapenyimpangan distribusipsikotropikmungkin
berkaitan dengan belum adanya undang-undang khusus tentang
Penyalahgunaan obat tidak terpisahkan dari munuman keras; psikotropik, sementara Ordonasi Obat Keras nomor 419/1949
persentase terbesar (52,2%) pasien meminum Whisky, kemu- dinilai sudah tidak sesuai dengan pengaturan psikotropik.
dian Mansion, Bir, Anggur cap orang tua, Vodka dan Johnny Ruang lingkup pengendalian dan pengawasan narkotik dan
Walker (tabel 2). Lain-lain meliputi minuman keras yang psikotropik jalur resmi meliputi impor, produksi, distribusi,
digunakan oleh kurang dari 10% pasien yaitu CognacDrygin, pelayanan dan penggunaaannya. Pada tiap mata rantai ini telah
TKW, Martini, Drop bir dan Castro. dilakukan pengaturan dan pengawasan yang cukup ketat untuk
Tujuan penyalahgunaan obat pads saat pertama, terutama memperkecil kemungkinan kebocoran dan penyimpangan,
(47,8%) karena ingin tahu/mencoba. Lainnya karena ingin di- yaitu :

50 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


a) Impor narkotik dipercayakan hanya kepada importir PT. 1. Obat yang disalahgunakan persentase terbesar adalah go
Kimia Farma(6), sedangkan untuk impor psikotropik, importir longan psikotropik, dan penggunaannya tidal( terpisahkan dar
diharuskan untuk setiap kali memperoleh ijin dari Departemen minuman keras.
Kesehatan(7). 2. Tujuan penyalahgunaan obat pada awalnya karena ingit
b) Produksi narkotik dilakukan hanya oleh PT. Kimia Farma tahu/mencoba.
sebagai produsen tunggal(6), sedangkan untuk produksi 3. Asal obat yang disalahgunakan adalah dari kelompok (gang)
psikotropik diwajibkan menyampaikan laporan bulanan kepada dan sebagian kecil dari memalsu resep/membeli di apotik.
Departemen Kesehatan(8). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar Ditjen PON
c) Distribusi narkotik dilakukan PT Kilnia Farma yang dan Kanwil Depkes meningkatkan sistem pengawasan dan pe
menyalurkan ke apotik rumah sakit dan unit kesehatan lain ngendalian distribusi narkotik dan psikotropik jalur resmi, ter
yang memenuhi persyaratan(6). Distribusi psikotropik masuk minuman keras. Alangkah baiknya bila sistem pelaporat
dilaksanakan oleh PBF yang ditunjuk Menteri Kesehatan(9). narkotik dan psikotropik dari importir, pabrik, PBF, apotik
d) Pelayanan narkotik dan psikotropik kepada pasien oleh rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lain dibuat lebil
apotik, rumah sakit dan unit pelayanan lain yang memenuhi efektif dan efisien
psersyaratan hanya dilakukan berdasarkan resep dokter. Pe-
nyerahan narkotik kepada pasien harus berdasarkan resep asli UCAPAN TERIMA KASIH
dan bukan salinan resep(9). Kami ucapkan terima kepada Kepala Puslitbang. Farmasi alas keper-
cayaan dan bantuan yang telah diberikan dalam penelitian ini. Juga kepada
pimpinan RSKO dan pimpinan Inabah, serta dan teman-teman yang telah ikut
Penyalahgunaan obat tidak terlepas dari minuman keras. membantu penelit ian "Penyalahgunaan Obat Golongan Narkotik dan
Menurut peraturan Menteri Kesehatan nomor 86/Menkes/Per/ Psikotropik Oleh Pasien Kelergantungan Obat ".
IV/77 tentang minuman keras, penjual dan pengecer minuman
KEPUSTAKAAN
keras harus mendapat ijin tertulis dari Menteri Kesehatan, di
1. Kramer IF, Cameron DC. A Manual on Drug Dependence. Geneva: WHO,
samping ijin Menteri Keuangan dan pemerintah daerah se- 1975.
tempat. Dilarang menjual atau menyerahkan minuman keras 2. Pedoman Penggolangan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Edisi
kepada anak di bawah umur 16 tahun, dan tempat penjualan II 1983 (revised). Direktorat Kesehatan Jiwa Depkes, Jakarta, 1985.
minuman keras tidak boleh berdekatan dengan sekolah, rumah 3. Albachri Husin. Proses Penye nbuhan Medis pads Penyalahgunaan Keter-
gantungan Narkotik dan Psikoaktif. Paper RSKO, Jakarta, 1990.
sakit dan tempat-tempat ibadah(11). Namun berdasarkan penga- 4. Harun Nasution. Thoriqot Qoduruyyah Naqsabandiyyah. Sejarah, Asalusul
matan, banyak penjual minuman keras tidak berijin dan dan Perkembangannya. Institut Agana Islam Latifah Mubarokiyah
berlokasi dekat sekolah, sehingga pelajar SD dan SLP dengan (IAILM), Tasikmalaya, 1990.
mudah dapat membelinya. Hal ini menunjukkan peraturan 5. Suwardiono Suryaningrat. Langkah-langkah Komprehensif Multidisipliner
Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Zat
tersebut belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Adiktif Lain di Indonesia. International Conference on Drug Abuse and
Penyalahgunaaan obat oleh responden persentase terbesar Illicit Trafficking, Wina, 17-26 Juni 1987.
adalah dengan coba-coba. Hal ini mungkin ada hubungan de- 6. SK Dirjen Fannasi Depkes RI no. 3242/Dirjen/SK/06/69 tentang Penun-
ngan timbulnya kecemasan yang khas pada usia perkembangan jukan Kinds Farma untuk Melaksanakan Pengolahan, Impor dan Distribusi
Obat Bius untuk Apotik di Indonesia.
(16-25 tahun) dan terpengaruh oleh pengaruh teman-temannya 7. SK Malted Kesehatan RI nomor 983/A/SK/1971 tentang Kewajiban semua
yang telah "menikmati" obat lebih dahulu. Juga didukung oleh Importir, PBF dan Pabrik Fannasi di Seluruh Indonesia untuk mengajukan
keinginan mencari pengalaman, memperlihatkan keberanian Ijin Impon'Khusus Psikotropik.
dan malu diejek dan sebagainya(12). 8. Surat Edaran Dirjen POM no. 7/EE/SE/1976 tentang Laporan Bulanan
Import dan Distriibusi Obat Psikotropik.
Sebagian kecil obat yang disalahgunakan berasal dari 9. Surat Edaran Dirjen POM no. 8/EE/SE/1976 tentang Laporan Bulanan
memalsu resep dokter. Nur Azizah (1986) mendapatkan 21,5% Pemakaian Obat Psikotropik.
penyalahguna obat mendapatkan obatnya dari apotik/memalsu 10. Surat Edaran Dirjen POM no. 9/EE/SE/1976 tenting Laporan Bulanan
resep dokter(13). Oleh karena itu penyimpanan blangko resep Obat Narkotik ke Ditwas Narkoba Ditjen POM dan Kanwil Depkes
setempat.
dokter dan penerimaan resep dokter yang mengandung 11. Peaturan Matted Kesehatan no. 86/Menkes/Per/IV/77 tentang Minuman
psikotropik perlu lebih diperhatikan. Keras.
12. H.H.B. Saanin Dawk Tan Pariaman. Masalah Obat-obat Bius (Narkotik)
KESIMPULAN DAN SARAN dan Penyalahgunaannya. Pusat Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran
UNPAD, Bandung, 1975.
Berdasarkan wawancara terhadap pasien putra di RSKO 13. Siti Nur Azizah,. Penggunaan Mogadon® di Kalangan Pelajar SMA
dan Inabah, maka diambil kesimpulan berikut : Kodya Semarang. Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta, 1986.

Great men never feel great, small men never feel small
Instruksi Menteri Kesehatan RI
No. 72/Menkes/Ins/II/1988 tentang
Kewajiban Melaporkan Penderita dengan
Gejala AIDS

Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Menimbang :
a. bahwa penyakit acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan masalah kesehatan inter-
nasional yang penting dan segera hams ditanggulangi.
b. bahwa penduduk Indoensia perlu dilindungi dari bahaya penyakit tersebut oleh karena itu penanggu-
langannya harus dilaksanakan secara terpadu dart lintas sektoral.
c. bahwa untuk mencegah penularan dan penyebaran AIDS di Indonsia perlu dilakukan upaya me-
nemukan sedini mungkin setiap penderita dengan gejala AIDS di saran pelayanan kesehatan.
d. bahwa untuk menemukan sedini mungkin penderita dengan gejala AIDS di masyarakat perlu
ditingkatkan pengumpulan data yang lengkap dan terus-menerus.

Mengingat :
1. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan (Lembaran Negara Tahun
1960 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2068).
2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah (Lembaran Negara
Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037).
3. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun
1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3273).

Memutuskan :
Menetapkan : Keputusan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Ling
kungan Pemukiman Tentang Petunjuk Pelaksanaan Kewajiban Melaporkan Penderita
dengan Gejala AIDS.

BAB I
Ketentuan Umum
Pasal 1.
Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan :
1. Laporan W1, adalah laporan yang berlaku bagi Puskesmas/Puskesmas Pembantu dan telah biasa
digunakan untuk Kejadian Luar Biasa/Wabah serta diperuntukkan bagi penderita tersangka AIDS
sebagaimana dimaksud dalam Lampiran 1 keputusan ini.
2. Laporan penderita dengan sero-positif, adalah laporan yang berlaku bagi laboratorium yang
digunakan untuk Kejadian Luar Biasa/Wabah serta ditujukan bagi penderita dengan sero positif AIDS
sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II keputusan ini.

52 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


3. Kepala Unit Kesehatan adalah Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat, Kepala Rumah Sakit dan Kepala
Balai Pengobatan milik Pemerintah.
4. Saran pelayanan kesehatan adalah unit kesehatan yang dikelola oleh pemerintah ataupun swasta baik
secara terpadu/kelompok maupun usaha perorangan.
5. Laporan rincian adalah yang disusun secara terinci mengenai kejadian AIDS sebagai lampiran dari
laporan W1 sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Ill keputusan ini.
6. Penyelidikan epidemiologis adalah kegiatan penyelidikan untuk mengenal sifat-sifatpenyebabnya dan
faktoryang dapatmempengaruhinyasertapelacakan baik sumber penularannya maupun "carrier"nya.

BAB II
Maksud dan Tujuan
Pasal 2.
Māksud dan tujuan keputusan ini adalah untuk menemukan sedini mungkin penderita dengan gejala
AIDS di masyarakat dan melakukan penyelidikan epidemiologis sebagai upaya pencegahan terhadap
penularan dan penyebaran AIDS di Indonsia.

BAB III
Tata Cara Pelaporan
Pasal 3.
Prosedur -pelaporan untuk kejadian AIDS (acquired im»u no deficiency syndrome.) menggunakan
formulir laporan kejadian luar biasa Wabah (W1) dan laporan penderita dengan seropositif yang harus
dilaporkan dalam kurun waktu 24 jam dengan dilampiri laporan rincian mengenai kejadian tersebut dalam
bentuk sebagaimana dimaksud dalam lampiran III keputusan ini.

Pasal 4.
Pengisian formulir W1 dan laporan penderita dengan sero-positif AIDS beserta laporan rincian mengenai
kejadian AIDS oleh sarana pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta harus memperhatikan
kerahasiaan pribadai penderita dan keluarganya.

Pasal 5.
1. Laporan W1 tentang penderita tersangka AIDS dan laporan penderita dengan sero-positif AIDS
dialamatkan kepada Kepala Direktorat Epidemiologi dan Imunsasi, Direktorat Jenderal PPM dan PLP,
Jalan Percetakan Negara No. 29, Jakarta Pusat, dengan membubuhkan tanda RAHASIA pada amplop
pengirim laporan tersebut di bagian kiri sebelah atas.
2. Laporan yang dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan melalui Telepon 410611 atau melalui Telex
49310 - PPM - PLP INA.
3. Laporan yang dimaksud dalam ayat (2) harus disusul dengan laporan secara tertulis sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).

Pasal 6.
Tembusan dari laporan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5, ditujukan kepada :
1. Ka Kanwil/Kepala Dinas Kesehatan Dati I Propinsi yang bersangkutan.
2. Ka Kandep/Kepala Dinas Kesehatan Dati II Kabupaten yang bersangkutan.

BAB IV
Rujukan
Pasal 7.
1. Kepada semuaKepala Unit Kesehatan diharuskan melakukan rujukan bagi setiap penderita tersangka
AIDS kepada Laboratorium tertentu untuk menentukan dan menegakkan diagnosis positif AIDS.
2. Daftar laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan AIDSsebagaimana disebut dalam lampir-
an IV keputusan ini.
3. Daftar Laboratorium sebagaimana disebutkan dalam ayat (2) akan terus bertambah sesuai dengan
kemajuan dan perkembangan laboratorium; oleh karena itu daftar ini akan selau ditinjau kembali.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 53


BAB V
Kriteria Klinis Dalam Diagnosis AIDS
Pasal 8.
Kriteria Klinis dalam diagnosis sebagaimana dimaksud dalam lampiran V keputusan ini.

BAB VI
Penderita Dengan Kewarganegaraan Asing
Pasal 9.
Terhadap penderita sero-positif AIDS/tersangka AIDS dengan kewarganegaraan asing diperlukan
tindak lanjut yang menyangkut kepentingān warganegara asing tersebut dengan bekerjasama baik dengan
Kedutaan/Perwakilan Negara yang bersangkutan maupun dengan Departemen Luar Negeri R.I. dalam
upaya memelihara hubungan baik antar bangsa dan negara.

BAB VII
Penutup
Petunjuk pelaksanaan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 2 Juni 1988
Direktur Jenderal PPM dan PLP.

ttd

Dr. S.L. Leimena, MPH


NIP. 140021547

Tembusan Kepada Yth :


1. Bapak Menteri Kesehatan sebagai laporan.
2. Bapak Menteri Dalam Negeri.
3. Bapak Menteri Pertahanan dan Keamanan.
4. Bapak Menteri Perhubungan.
5. Bapak Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi.
6. Markas Besar Palang Merah Indonesia.
7. Para Pejabat Eselon I Departemen Kesehatan.
8. Direktur Jenderal Pariwisata.
9. Gubernur Kepala Daerah Tk I Seluruh Indonesia.
10. Kepaal Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Seluruh Indonesia.
11. Kepala Dinas Kesehatan Tk I Seluruh Indonesia.
12. Direktur Rumah Sakit Seluruh Indonesia.
13. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.
14. Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia.

54 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 55
56 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 57
Collaborating Centers in AIDS di Geneva tgl. 16 - 18 Desember 1985.
1.1. Satu atau lebih penyakit oportunistik yang didiagnosis dengan cara yang dapat dipercaya.
1.2. Tidak adanya sebab-sebab imunodefisiensi seluler lainnya kecuali infeksi HIV.

Catatan :
Sekalipun kriteria di atas dipenuhi, kasus tidak dianggap sebagai kasus AIDS kalau tes terhadap HIV
negatif.

II. Gejala AIDS pada Orang Dewasa


AIDS dicurigai pada orang dewasa bila terdapat dua gejala major dan satu gejala minor dan tidak ada
sebab-sebab immunosupresi yang diketahui seperti kanker, malnutrisi berat atau etiologi lainnya.

Gejala Major
a. Penurunan berat ada lebih dari 10%
b. Diarekronik lebih clari satu bulan
c. Demam lebih dari satu bulan (kontinyu atau intermiten).

Gejala Minor
a. Batuk lebih dari satu bulan
b. Dermatitis pruritik umum
c. Herpes zoster rekurens
d. Kandidiasis orofarings
e. Limfadenopati umum
f. Herpes simpleks diseminata yang kronik progresif.

III.Gejala AIDS pada Anak.


AIDS dicurigai pada anak, bila terdapat paling sedikit dua gejala mayor dandua gejala minor dan
tidak terdapat sebab-sebab immunosupresi yang diketahui seperti kanker, malnutrisi berat, atau
etiologi lainnya.

Gejala Mayor
a. Penurunan berat badan atau pertumbuhan lambat yang abnormal.
b. Diare kronik lebih dari satu bulan.
c. Demam lebih dari satu bulan.

Gejala Minor
a. Limfadenopati umum.
b. Kandidiasis orofarings.
c. Infeksi umum yang berulang (otitis, faringitis dan sebagainya).
d. Batuk persisten.
e. Dermatitis umum.
f. Infeksi HIV maternal.

Definisi di atas khusus untuknegara-negara Afrika yang mungkin tidak sesuai untuk diterapkan di
Indonesia namun dapat digunakan sebagai rujukan.
Untuk keperluan survailans AIDS di Indonesia digunakan definisi WHO/CDC sebagai pedoman. Sesuai
dengan basil Inter Country Consultation Meeting WHO di New Delhi, tgl. 30 - 31 Desember 1985,
dianggap perlu bahwa kasus-kasus pertama yang akan dilaporkan sebagai AIDS kepada WHO harus
mendapat konfirmasi dengan Elisa dan Western Blot.

Friends are more troublesome than enemies

58 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


Keputusan Direktur Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan
Kesehatan Lingkungan Pemukiman
No. 286-I/PD.03.04 tentang Petunjuk
Pelaksanaan- Kewajiban Melaporkan
Penderita dengan Gejala AIDS

DIREKTUR JENDERAL
PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN,

MENIMBANG : Bahwa untuk memenuhi ketentuan sebagaimana tersebut dalam amar ke tiga Instruksi Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 72/Menkes/Inst/II/1988 tanggal 11 Pebruari 1988 tentang
Kewajiban Melaporkan Penderita Dengan Gejala AIDS, perlu ditetapkan Keputusan Direktur Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman tentang Petunjuk Pelak-
sanaan Kewajiban Melaporkan Penderita Dengan Gejala AIDS.
MENGINGAT : 1. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1980 tentang Pokok-pokok Kesehatan.
2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular.
MEMPERHATIKAN : 1. Surat Direktur Jenderal PPM dan PLP Nomor : 3800-II/HM.01.01.ST tanggal 17 September 1985
perihal AIDS.
2. Hasil-hasil pertemuan dan rapat-rapat Panitia Nasional AIDS.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR DAN
PENYEHATAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN KE-
WAJIBAN MELAPORKAN PENDERITA DENGAN GEJALA AIDS.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan :
(1) Laporan W1, adalah laporan yang berlaku bagi Puskesmas/Puskesmas Pembantu dan telah biasa digunakan untuk Kejadian
Luar Biasa Wabah serta diperuntukkan bagi penderita tersangka AIDS sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I Keputusan
ini.

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 59


(2) Laporan penderita dengan sero-positif, adalah laporan yang berlaku bagi laboratorium yang digunakan untuk Kejadian Luar
Biasa/Wabah serta ditujukan bagi penderita dengan sero-positif AIDS sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Keputusan
ini.
(3) Kepala Unit Kesehatan adalah Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu, Kepala Rumah Sakit dan Kepala Balai
Pengobatan milik Pemerintah.
(4) Sarana pelayanan kesehatan adalah unit kesehatan yang dikelola oleh pemerintah ataupun swasta baik secara terpadu/
kelompok maupun usaha perorangan.
(5) Laporan rincian adalah yang disusun secara terinci mengenai kejadian AIDS sebagai lampiran dari laporan W1 sebagaimana
dimaksud dalam Lampiran III.
(6) Penyelidikan epidemiologis adalah kegiatan penyelidikan untuk mengenal sifat-sifat penyebabnya dan faktor yang dapat
mempengaruhinya serta pelacakan baik sumber penularannya maupun carrier-nya.

BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 2
Maksud dan keputusan ini adalah untuk menemukan sedini mungkin penderita dengan gejala AIDS di masyarakat dan melkkukan
penyelidikan epidemiologis sebagai upaya pencegahan terhadap penularan dan penyebaran AIDS di Indonsia.

BAB III
TATA CARA PELAPORAN
Pasal 3
Prosedur pelaporan untuk kejadian AIDS (acquired immuno deficiency syndrome) menggunakan formulir laporan Kejadian Luar
Biasa/Wabah (W 1) dan laporan penderita dengan sero-positif AIDS yang hams dilaporkan dalam kurun waktu 24 jam dengan
dilampiri laporan rincian mengenai kejadian tersebut dalam bentuk sebagaimana dimaksud dalam lampiran III keputusan ini.

Pasal 4
Pengisian formulir W1 dan laporan penderita dengan sero-positif AIDS beserta laporan rinciannya mengenai kejadian AIDS oleh
Sarana Pelayanan Kesehatan baik pemerintah maupun swasta hams memperhatikan kerahasiaan pribadi penderita dan keluarganya.

Pasal 5
(1) Laporan W1 tentang penderita tersangka AIDS dan laporan penderita dengan sero-positif AIDS dialamatkan kepada Kepala
Direktorat Epidemiologi dan Imunisasi, Direktorat Jenderal PPM dan PLP, Jalan Percetakan Negara No. 29, Jakarta Pusat,
dengan membubuhkan tanda RAHASIA pada amplop pengiriman laporan tersebut di bagian kiri sebelah atas.
(2) Laporan yang dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan melalui Telepon 410611 atau melalui Telex 49310 — PPM-PLP NA.
(3) Laporan yang dimaksud dalam ayat (2) hams disusul dengan laporan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

Pasal 6
Tembusan dari laporan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5, ditujukan kepada :
1. Ka Kanwil/Kepala Dinas Kesehatan Dati I Propinsi ybs.
2. Ka Kandep/Kepala Dinas Kesehatan Dati II Kabupaten ybs.

BAB IV
RUJUKAN
Pasal 7
(1) Kepada semua Kepala Unit Kesehatan diharuskan meaakukan rujukan bagi setiap penderita tersangka AIDS kepada
laboratorium tertentu untuk menenukan dan menegakkan diagnosa positif AIDS.
(2) Daftar laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan AIDS sebagaimana disebut dalam lampiran IV keputusan ini.
(3) Daftar laboratorium sebagaimana disebutkan dalam ayat (2).akan terns bertambah sesuai dengan kemajuan dan perkembangan
laboratorium; oleh karena itu daftar akan selalu ditinjau kembali.

BAB V
KRITERIA KLINIS DALAM DIAGNOSA AIDS
Pasal 8
Kriteria Klinis dalam diagnosis sebagaimana dimaksud dalam lampiran V keputusan ini.
BAB VI
PENDERITA DENGAN KEWARGANEGARAAN ASING
Pasal 9
Terhadap penderita positif AIDS/tersangka AIDS dengan kewarganegaraan asing diperlukan tindak lanjut yang menyangkut
kepentingan warganegara asing tersebut dengan bekerjasama baik dengan kedutaan/Perwakilan Negara yang bersangkutan maupun
dengan Departemen Luar Negeri R.I. dalam upaya memelihara hubungan baik antar bangsa dan negara.

BAB VII
PENUTUP
Petunjuk pelaksanaan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 2 Juni 1988

DIREKTUR JENDERAL PPM DAN PLP,

ttd

Dr. S.L. LEIMENA, MPH


NIP. 140021547

Tembusan Kepada Yth. :


1. Bapak Menteri Kesehatan sebagai laporan
2. Bapak Menteri Dalam Negeri
3. Bapak Menteri Pertahanan dan Keamanan
4. Bapak Menteri Perhubungan
5. Bapak Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi
6. Markas Besar Palang Merah Indonesia
7. Para Eselon I Departemen Kesehatan
8. Gubernur Kepala Daerah Tk. I Seluruh Indonesia
9. Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan
10. Kepala Dinas Kesehatan Tk. I Seluruh Indonesia
11. Direktur Rumah Sakit Seluruh Indonesia
12. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
13. Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia.

Doing easyly what others feel difficult is talent,


doing what is impossible for talent is genius

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 61


ABSTRAK
PENTAMIDIN UNTUK INFEKSI ZIDOVUDIN UNTUK ANAK Limabelas obat yang tidak tercan-
PCP Zidovudin merupakan salah satu tum lagi dalam daftar ialah :
Duaratus duapuluh tiga pasien AIDS obat yang diselidiki kegunaannya Beklometason
tanpa PCP (Pneumocystis carinii terhadap AIDS; obit ini juga telah Benzilpenisilin
pneumonia) mengikuti percobaan un- diberikan pada 88 anak dengan infeksi Kalsium glukonat
tuk melihat efektivitas 300 mg. pen- HIV yang telah lanjut. Obat tersebut Asam khromoglikat
tamidin per inhalasi dalam mencegah diberikan selama 24 minggu secara Dehidroemetin
komplikasi infeksi PCP. berobat jalan dengan dosis 180 mg/m2 Efedrin
Ternyata 8 pasien dari kelompok permukaan tubuh/kali pemberian, Homatropin
pentamidin dan 23 pasien dari kelom- diberikan setiap 6 jam per oral. Iohexol
pok placebo mendapatkan infeksi PCP; Da 88 anak tersebut (usia rata-rata Probenesid
meskipun demikian tidak ada yang me- 3,9 tahun, antara 4 bulan sampai 11 Na-stiboglukonat
ninggal dunia dalam 60 hari setelah tahun), 61 anak berhasil menyelesaikan Sulfasetamid
diagnosis infeksi PCP ditentukan. percobaan dan 49 anak di antaranya karena dianggap telah ada penggantinya
Penelitian ini menunjukkan bahwa tetap mendapatkan zidovudin sampai yang efektif dan lebih aman.
300 mg. pentamidin yang diberikan per 90 minggu (lama rata-rata follow-up – Sedangkan obat yang baru dican-
inhalasi (aerosol) setiap 4 minggu telah 56 minggu). tumkan dalam daftar yang terakhir ini
ditoleransi dengan baik dan 60 – 70% Efek samping hematologik berupa ialah :
efektif dalam mencegah infeksi PCP. anemia (Hb < 75 g/1) diderita oleh 23 Albendazol
N Engl J Med 1991; 325: 593-8 (26%) pasien dan netropeni (netrofil < Asam aminobenzoat sp 15
Hk 0.75 x 109/1) pada 42 (48%) pasien. Di Amoksisilin
antara yang mengalami efek samping Antitetanus imunoglobulin
ini, hanya 3 anak yang hams menghen- Benzilperoksid
TRANSMISI HIV-1 tikan pengobatannya, sedang 30 anak Kaptopril
Untuk meneliti kemungkinan trans- memerlukan transfusi atau penurunan Dakarbazin
misi HIV-1 dari ibu ke bayinya setelah dosis zidovudin. Pada akhir percobaan, Hidrogen peroksid
persalinan (postnatal transmission), 212 terdapat perbaikan bermakna dalam hal Vaksin MMR (measles-mumps-
pasang ibu – anak HIV-1 seronegatif di berat badan, fungsi kognitif (terutama rubella)
Kigali,Rwanda, diperiksasecaraberkala pada anak usia < 3 tahun), konsentrasi Mupirocin
setiap 3 bulan dengan metode Western p24 antigen dalam plasma dan cairan Permethrin
Blot dan PCR. otak, dan persentase kultur HIV negatif. Poligelin
Setelah masa follow-up rata-rata Penelitian ini menunjukkan bahwa K-Fe-hexasianoferat
selama 16,6 bulan, 16 dari 212 ibu ter- zidovudin 180 mg/m2 setiap 6 jam Rifampisin + isoriiazid
sebut menjadi HIV-1 seropositif, dan dapat diberikan dengan aman pada Selenium sulfid (shampoo)
di antara anak-anaknya (16 orang), 9 anak-anak HIV positif, dan perbaikan
menjadi seropositif. Serokonversi HIV- yang terjadi serupa dengan pada Lancet 1991; 338: 743-5
Brw
1 terjadi pada 4 dan 5 bayi yang lahir pasien-pasien dewasa.
dari ibu yang menjadi seropositif
dalam 3 bulan postpartum, dan pada 4 N Engl Med.1991; 324: 1018-25
Hk DIAGNOSTIK SINDROM SEPTIK
dari 10 ibu yang menjadi seropositif
Diagnosis sindrom septik ditegakkan
antara bulan ke 4 – 21 postpartum.
OBAT ESENSIAL bila ditemukan :
Penelitian ini menunjukkan bahwa
Baru-baru ini WHO mengeluarkan – Tanda klinis infeksi.
HIV-1 dapat ditularkan selama periode
revisi dan Daftar Obat Esensial. Path – Takipnea (> 20 kali/menit atau > 10
postnatal, mungkin melalui kolostrum
daftar yang terakhir ini (1990) ini ter- 1/menit bila menggunakan ventilasi
dan air susu ibu.
cantum 238 obat esensial (kenaikan mekanik).
N Engl J Med 1991; 325: 593-8 sebesar 4,8%) dan 30 obat komple- – Takikardi (> 90 kali/menit).
Hk
menter. – Hipertermi (> 38,3°C) atau hipotermi

62 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992


ABSTRAK
(> 35,6°C). terhadap siprofloksasin, imipenem dan pula penggunaan cytokines dan vaksi-
– Tanda perfusi inadekuat, termasuk ceftazidine serta peningkatan resistensi nasi.
satu/lebih hal di bawah ini : kuman Mycobacterium tuberculosis dan
∗ Hipoksemi (PaO2/FiO2 280 Mycobacterium leprae. Berbagai virus Market Letter, July 8, 91
VSR
tanpa penyebab paru/kardiovas- juga sudah mulai resisten terhadap
kular) antiviral yang ada. Virus herpes simplex
menjadi resisten terhadap asiklovir dan DIABETES PADA KEHAMILAN
∗ Peninggian laktat dalam plasma
infeksi sitomegalovirus memperberat Pengaruh metabolisme ibu hamil
∗ Oliguri (< 0,5 ml/kg.bb selama terhadap inteligensi anak yang dikan-
minimal 1 jam pada pasien penderita AIDS.
Demikian pula berbagai jamur peng- dungnya, telah diteliti pada 223 wanita;
dengan kateter). 89 wanita dengan pregestational diabe-
Sedangkan syok septik adalah bila infeksi yang semakin "bandel", seperti
Aspergillus dan Cryptosporidia serta tes mellitus, 99 wanita dengan gesta-
adanya gejala-gejala tersebut di atas tional diabetes mellitus dan 35 wanita
diikuti juga dengan hipotensi (sistolik Plasmodium falciparum dan Toxo-
plasma. Beberapa kuman penghasil normal.
<90 mmHg atau penurunan > 40 mmHg Parameter ibu yang diukur ialah ka-
selama minimal 1 jam, tanpa tanda hi- betalaktamase telah diidentifikasi se-
banyak 25 jenis dan telah resisten ter- dar gula darah puasa, kadar HbAlc,
povolemi, penggunaan antihipertensi, episode hipoglikemi, episode asetonuri,
infark miokard ataupun emboli paru). hadap berbagai antibiotika, bahkan ter-
hadap senyawa cefotaxim, ceftriaxone kadar beta-OH butirat dan kadar asam
Lancet 1991; 338: 732 dan ceftazidine sehingga pemakaian lemak bebas. Sedangkan anak yang
Brw carbopenem, imipenem dan pengham- dilahirkan diperiksa dengan skala
bat betaiaktamase generasi baru akan Stanford-Binet pada usia 3, 4 dan 5 ta-
TERAPI ANTIMIKROBIAL PADA semakin penting di masa mendatang. hun, untuk kemudian diambil nilai rata-
TAHUN 2000 Produk-produk baru yang diper- ratanya.
Kemoterapi penyakit infeksi dimulai kirakan akan menjadi that pilihan pada Setelah dikoreksi menurut faktor
di Berlin, Jerman yaitu dengan di- era tahun 2000 yaitu : sosio-ekonomi, ras dan etnik, skala
gunakannya methylene blue i.v. yang 1. Macrolide : azithromycin dengan Bayley pada usia 2 tahun berbanding
secara klinik efektif dalam pengobatan profil kadar jaringan/plasma yang terbalik dengan kadar beta-OH butirat
2 penderita malaria oleh Paul Ehrlich tinggi. Demikian pula produk-pro- ibu pada trimester ke tiga (r = -0,21,p <
pada tahun 1891. Seratus tahun kemu- duk seperti azalide dan streptogamin 0,01). Nilai Stanford-Binet berbanding
than di tempat yang sama diseleng- yang efektif untuk kuman-kuman terbalik dengan kadar beta-OH butirat
garakan Congress of Chemotherapy yang resisten. trimester ke tiga (r = -0,20. p < 0,02)
yang membicarakan trend pengobatan 2. Fluoroquinolone yang dikombinasi- dan dengan kadar asam lemak bebas (r
penyakit infeksi pada tahun 2000. kan dengan sefalosporin oral gene- = -0,27, p < 0,002).
Pengembangan obat baru untuk rasi 3. Diabetes selama kehamilan dapat
penyakit infeksi sangat berkaitan erat 3. Antifungal generasi baru seperti mempengaruhi perkembangan tingkah
dengan pola peningkatan resistensi dari fluconazole. laku dan intelek anak yang sedang di-
kuman penyebab infeksi. Akhir-akhir Pengobatan penderita sepsis dapat kandung.
ini dilaporkan terjadinya peningkatan dilakukan dengan pemberian centroxin, N. Engl. J. Med 1991; 325: 911-6
resistensi dari berbagai kuman'seperti suatu antibodi monoklonal yang dikem- Hk
methicillin-resistant staphylococci bangkan oleh Centocor, walaupun saat
(MRSA), penicillin-resistant pneumo- ini biayanya dirasakan sangat mahal
cocci, endocarditis-causing strepto- yaitu US$ 3,500 per terapi.
cocci, dan Klebsiella sp. yang mampu Pengobatan profilaksis dengan anti-
membentuk enzim yang menyebabkan biotika masih relevan pada penderita
kuman resisten terhadap sefalosporin dan keadaan tertentu seperti pencegah-
generasi 3. Demikian pula terjadi pe- an endokarditis pada penderita yang
ningkatan resistensi Ps. aeruginosa mengalami "bowel surgery", demikian

Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 63


Ruang Penyegar dan
Penambah Ilmu Kedokteran
Dapatkah saudara menjawab
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?
1. Darah tertua yang diketahui telah tercemar HIV berasal 6. Yang tidak termasuk gejala major AIDS :
dari : a) Penurunan berat badan lebih dari 10%
a) Amerika Serikat b) Demam lebih dari satu bulan
b) Haiti c) Diare kronik lebih dari satu bulan
c) Zaire d) Batuk lebih dari satu bulan
d) Uganda e) Semua termasuk
e) Perancis
2. Virus HIV dalam darah menyerang sel : 7. Tes penyaring AIDS menggunakan metode :
a) Netrofil a) ELISA
b) T – limfosit b) Western Blot
c) B – limfosit c) RIPA
d) Sel mast d) Imunfluoresensi
e) Monosit e) Semua digunakan

3. Negara ASEAN yang terbanyak melaporkan kasus AIDS : 8. Desinfektan yang efektif untuk membunuh HIV :
a) Indonesia a) Alkohol
b) Singapura b) Lisol3%
c) Malaysia c) Formalin 1%
d) Thailand d) Na-hipokiorit 0,5%
e) Filipina e) Semua efektif

4. Penularan melalui hubungan homoseksual terutama terjadi 9. Laporan adanya kasus tersangka AIDS dialamatkan ke :
di: a) Menteri Kesehatan
a) Afrika b) Kepala DirektoratJendral PPM dan PLP
b) Haiti c) Kepala DirektoratPenyakit Menular
c) Thailand d) Kepala DirektoratEpidemiologi dan Imunsasi
d) Brazilia e) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kese-
e) Australia hatan

5. Infeksi yang banyak dikaitkan dengan AIDS disebabkan 10. Sterilisasi dengan cara merebus dalam air mendidih harus
oleh : dilakukan minimal selama :
a) Streptokokus a) 5 menit
b) Stafilokokus b) 10 menit
c) Pneumokokus c) 15 menit
d) Kriptokokus d) 20 menit
e) Semua benar e) 30 menit

64 Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992