Anda di halaman 1dari 10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Pertumbuhan Jamur Dalam kerja praktek ini digunakan empat spesies jamur sebagai objek

penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui kadar gula pereduksi limbah cair kelapa sawit setelah diberi perlakuan dengan menggunakan kultur campuran (konsorsium) dan dosis inokulum jamur Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum, Phanerochaete chrysosporium, dan Trichoderma viride. Untuk mengetahui kurva pertumbuhan dan kadar gula dilakukan dengan tahap awal yaitu penanaman mikroba atau inokulasi yang selanjutnya digunakan sebagai inokulan. Telah digunakan medium PDA (Potato Dextrose Agar) steril sebagai media tumbuh jamur. Sterilisasi dilakukan untuk menghindari kontaminasi pada saat proses pertumbuhan jamur. Setelah medium steril diberi perlakuan yaitu dengan dicampurkanya 1ml limbah cair kelapa sawit yang sebelumnya telah diberikan masing masing dosis inokulum yaitu 2,5% dan 5% lalu di inkubasi yang selanjutnya dilakukan perhitungan dengan metode TPC (Total Plate Count). Untuk perngukuran kadar gula menggunakan metode DNS (3,5 Dinitrosalicylic Acid). Digunakan alat spektrofotometer yang sebelumnya limbah cair kelapa sawit telah dipisahkan dari supernatannya dengan cara sentrifugasi.

28

Pengamatan kurva pertumbuhan jamur Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum, Phanerochaete chrysosporium, dan Trichoderma viride dengan metode TPC dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1.

2,5% A. niger T. viride P. chrysosporium A. niger P. chrysogenum P. chrysosporium Konsorsiu m 4 jamur A. niger T. viride P. chrysosporium

5% A. niger P. chrysogenum P. chrysosporium Konsorsiu m 4 jamur Kontrol

(k1) H0 H4 H8 H12 H16 H20 19,86 9,21 5,08 13,23 22,73 26,11

(k2) 16,25 3,89 6,98 7,1 7,4 8,54

(k3) 16,71 6,97 5,41 6,81 10,2 12,89

(k1) 22,87 15,05 7,09 12,94 26,75 32,65

(k2) 21,83 16,76 6,52 14,9 19,05 21,65

(k3) 18,92 10,52 4,81 12,99 35,62 47,7 1,1 1,85 2,52 2,59 1,95 3,71

Tabel 4.1 Populasi Jamur (107) (CFU/mL) Selama Biodegradasi

Gambar 4.1 Grafik Jumlah Koloni Jamur Limbah Cair Kelapa Sawit Selama Biodegradasi Keterangan : (k1) Konsorsium jamur Aspergillus niger, Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium.

29

(k2) Konsorsium jamur Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum dan Phanerochaete chrysosporium. (k3) Konsorsium jamur Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum, Phanerochaete chrysosporium, dan Trichoderma viride. (d1) Dosis inokulum 2,5% (d2) Dosis inokulum 5 %

Untuk mengetahui kurva pertumbuhan konsorsium (kultur campuran) jamur selama biodegradasi dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1. Kelebihan dari kultur campuran ini adalah mikroorganisme yang satu dengan yang lain akan saling melengkapi kekurangan masing masing dalam proses biodegradasi limbah cair kelapa sawit. Dengan demikian, kemampuan yang dimiliki keempat mikroorganisme tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan proses biodegradasi. Proses biodegradasi dapat bekerja kurang optimal karena kandungan zat zat dalam limbah cair kelapa sawit terlalu tinggi sehingga dapat menyebabkan beberapa mikroba terhambat pertumbuhannya. Jamur pada umumnya tumbuh dalam waktu 3 x 24 jam atau selama tiga hari. Pada kurva pertumbuhan dari kultur campuran Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum, Phanerochaete chrysosporium, dan Trichoderma viride dilakukan dengan perhitungan jumlah mikroorganisme dari seri pengeceran yang representatif. Berdasarkan tabel dan grafik tersebut jamur mengalami kenaikan yang berkesinambungan mulai dari hari ke- 0 hingga hari ke- 20. Hal ini dapat terjadi karena masing masing jamur pada medium PDA (Potato Dextrose Agar) mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan jamur selama proses pertumbuhan. Fase

30

adaptasi atau fase lambat yang disebut juga sebagai lag phase terjadi pada hari ke- 0 sampai hari ke- 4 pada dosis inokulum 2,5% dan 5%. Fase ini merupakan fase penyesuaian terhadap lingkungan baru, dimana terjadi sintetis enzim baru yang sesuai pada media yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan mikroorganisme. Pada hari ke- 8 sampai dengan hari ke- 20 terlihat adanya kenaikan grafik yang dapat diartikan sebagai pesatnya pertumbuhan jamur dalam proses biodegradasi ini. Fase ini disebut sebagai fase eksponensial dimana fase tersebut adalah fase pertumbuhan cepat dengan setiap sel dalam populasi membelah, aktivitas sel sangat meningkat, dan fase ini merupakan fase paling penting dalam petumbuhan jamur. Selain itu, pada fase ini dihasilkan enzim-enzim dalam jumlah yang banyak. Semakin banyak jumlah koloni jamur saat fase eksponensial, maka akan semakin banyak enzim yang dihasilkan sehingga penguraian senyawa organik oleh enzim akan lebih optimal. Jumlah koloni jamur sangat sedikit jika dilihat pada kontrol karena jamur yang terdapat didalam kontrol hanya sedikit menghasilkan enzim sehingga peran jamur dalam biodegradasi pun tidak maksimal. Hasil terbaik dalam biodegradasi ini diperoleh oleh seluruh perlakuan pada dosis inokulum 5%. Hal ini terjadi karena jumlah jamur yang diinokulasikan lebih banyak daripada perlakuan dengan dosis inokulum 2,5%. Namun pada grafik dapat dilihat pula pada k3d2 merupakan jumlah koloni jamur yang paling tinggi dimana kultur campuran ini terdiri dari Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum, Phanerochaete chrysosporium, dan Trichoderma viride dengan dosis inokulum 5%. Keempat jamur tersebut lebih efektif dalam

mengurai senyawa senyawa organik jika dibandingkan dengan kultur campuran

31

lainnya, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhanya yang lebih pesat bila dibandingkan dengan yang lainnya sehingga dapat disimpulkan juga bahwa enzim yang dihasilkan oleh kultur campuran ini lebih banyak. Berdasarkan hasil yang didapat proses biodegradasi ini baik dilakukan oleh kultur campuran Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum, Phanerochaete chrysosporium, dan Trichoderma viride dengan dosis inokulum 5% . Pada kurva pertumbuhan mikroorganisme biasanya terdapat fase stasioner dimana fase tersebut merupakan fase pertumbuhan mikroorganisme sama dengan laju kematianya, sehingga jumlah mikroorganisme akan tetap. Keseimbangan jumlah mikroorganisme terjadi karena seluruh mikroorganisme akan tetap. Hal ini tidak terjadi pada penelitian ini karena penelitian ini hanya dilakukan selama 20 hari, sedangkan fase pertumbuhan pada hari ke- 20 baru menunjukkan pertumbuhan tertinggi yaitu pada fase eksponensial.

4.2

Kadar Gula Pada Biodegradasi Limbah Cair Kelapa Sawit Limbah cair kelapa sawit mengandung konsentrasi bahan organik yang relatif

tinggi dan secara alamiah dapat mengalami penguraian oleh mikroorganisme menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Kandungan senyawa organik pada limbah cair kelapa sawit sangat tinggi yaitu: selulosa 40%, hemiselulosa 24%, dan lignin 21% (Silva et al., 2005 dalam Irawan dkk., 2008). Selulosa mengandung komponen

32

glukosa lebih dari 10.000 unit sehingga dapat dikonversi menjadi gula-gula sederhana (gula pereduksi). Setelah dilakukan pengukuran kadar gula limbah cair kelapa sawit dengan metode DNS maka didapatkan hasil berupa tabel dan grafik sebagai berikut

2,5% A. niger T. viride P. chrysosporium (k1) H0 H4 H8 H12 H16 H20 3630,07 6161,92 8121,94 7942,27 4350,94 2665,03 A. niger P. chrysogenum P. chrysosporium (k2) 4347,96 6444,44 7371,54 6740,23 5324,79 1691,05 Konsorsium 4 jamur (k3) 3914,35 5474,38 7947,42 5256,77 4149,86 2562,19 A. niger T. viride P. chrysosporium (k1) 4032,64 7004,58 7822,48 8214,62 4865,03 2095,11

5% A. niger P. chrysogenum P. chrysosporium (k2) 4331,7 6081,56 7160,68 6971,67 6561,92 3434,81 Konsorsium 4 jamur (k3) 4376,28 5944,44 7059,34 6546,33 5764,76 3746,33 3460,97 1860,26 2224,11 1622,76 1394,57 1320,86

Kontrol

Tabel 4.2 Kadar Gula Pereduksi (mg/L) Selama Biodegradasi

Tabel 4.3 Kadar Gula Pereduksi (%) Selama Biodegradasi

29

2,5% A. niger T. viride P. chrysosporium (k1) H0 H4 H8 H12 H16 H20 3,63% 6,16% 8,12% 7,94% 4,35% 2,66% A. niger P. chrysogenum P. chrysosporium (k2) 4,34% 6,44% 7,37% 6,74% 5,32% 1,69% Konsorsium 4 jamur (k3) 3,91% 5,47% 7,94% 5,25% 4,14% 2,56% A. niger T. viride P. chrysosporium (k1) 4,03% 7,00% 7,82% 8,21% 4,86% 2,09%

5% A. niger P. chrysogenum P. chrysosporium (k2) 4,33% 6,08% 7,16% 6,97% 6,56% 3,43% Konsorsium 4 jamur (k3) 4,37% 5,94% 7,05% 6,54% 5,76% 3,74% 3,46% 1,86% 2,22% 1,62% 1,39% 1,32%

Kontrol

Gambar 4.2 Grafik Kadar Gula Pereduksi Limbah Cair Kelapa Sawit Selama Biodegradasi Keterangan : (k1) Konsorsium jamur Aspergillus niger, Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium. (k2) Konsorsium jamur Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum dan Phanerochaete chrysosporium. (k3) Konsorsium jamur Aspergillus niger, Penicillium chrysogenum, Phanerochaete chrysosporium, dan Trichoderma viride. (d1) Dosis inokulum 2,5% (d2) Dosis inokulum 5

Berdasarkan penelitian, kadar gula pereduksi tertinggi dapat dilihat pada hari ke- 12 karena fase tersebut merupakan fase eksponensial dimana seluruh jamur dapat

30

menghasilkan enzim secara maksimal dan aktivitas didalam limbah cair kelapa sawit tersebut tinggi oleh jamur. Tingginya aktivitas enzim akan mengakibatkan tingginya aktivitas pemecahan senyawa organik selulosa menjadi glukosa oleh enzim selulase sehingga kadar gula pereduksi pun meningkat. Selulosa merupakan sumber nutrisi bagi jamur maka dari itu, kadar gula mencapai angka maksimal. Setelah fase eksponensial berlangsung pada hari ke- 12 maka dapat dilihat juga adanya penurunan kadar gula dari limbah cair kelapa sawit karena pH limbah cair kelapa sawit meningkat setelah hari ke- 12 sehingga menurunkan aktivitas enzim karena aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh pH. Jika dilihat pada grafik kultur campuran yang paling banyak menurunkan kadar gula didalam limbah cair kelapa sawit adalah k1d2 yaitu kultur campuran dari jamur Aspergillus niger, Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium dengan dosis inokulum sebanyak 5%. Hal ini dapat menujukkan bahwa Aspergillus niger, Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium paling banyak mengkonsumsi seluruh gula yang terdapat pada limbah cair kelapa sawit. Kultur campuran Aspergillus niger, Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium memiliki kemampuan dalam mengurai senyawa senyawa organik seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang terdapat limbah cair kelapa sawit. Aspergillus niger merupakan jamur yang keunggulanya dapat tumbuh dengan cepat dan dalam mengkonsumsi molekul sederhana yang terdapat disekeliling hifa dapat langsung diserap sedangkan molekul yang lebih kompleks harus dipecah dahulu sebelum diserap ke dalam sel, dengan menghasilkan beberapa enzim ekstra seluler,

29

seperti selulosa. Trichoderma viride berperan sebagai mikroorganisme yang mampu menghancurkan selulosa tingkat tinggi dan memiliki kemampuan mensintesis beberapa faktor esensial untuk melarutkan bagian selulosa yang terikat kuat dengan ikatan hidrogen. Trichoderma viride merupakan kelompok jamur selulolitik yang dapat menguraikan glukosa dengan menghasilkan enzim kompleks selulase. Enzim ini berfungsi sebagai agen pengurai yang spesifik untuk menghidrolisis ikatan kimia dari selulosa dan turunannya. Enzim selulase yang dihasilkan Trichoderma viride dan Aspergillus niger mempunyai kemampuan dapat memecah selulosa menjadi glukosa yang sederhana. Keuntungan kedua jamur tersebut sebagai sumber selulase adalah menghasilkan selulase lengkap dengan semua komponen-komponen yang dibutuhkan untuk hidrolisis total selulosa kristal keuntungan dari Trichoderma yang dihasilkan cukup tinggi. Selain Aspergillus niger yang mampu

viride dan

menghidrolisis selulosa ada juga kekurangan dari kedua jamur ini yaitu tidak dapat mendegradasi lignin, dimana lignin ini merupakan salah satu kandungan dari limbah cair kelapa sawit yang tujuanya akan didegradasi. Peran dalam mendegradasi lignin dilakukan oleh jamur Phanerocete chrysosporium yang mampu dalam menghasilkan enzim lignolitik dan selulotik, jamur ini dapat menurunkan kadar lignin. Jumlah lignin yang terdegradasi mempunyai hubungan dengan jumlah miselia yang tumbuh. Miselia jamur akan menembus jaringan sehingga lebih banyak enzim ligninase yang dikeluarkan. Berdasarkan data dari Tabel 4.2 dan Gambar 4.2 dapat diketahui bahwa kultur campuran jamur (k1) Aspergillus niger, Trichoderma viride dan Phanerochaete

30

chrysosporium dengan dosis inokulum sebanyak 5% dapat menurunkan kadar gula pereduksi tertinggi pada limbah cair kelapa sawit yaitu sebanyak 8,12%. Hal ini dapat dibandingkan dengan limbah yang tidak diberi perlakuan atau kontrol yang kadar gulanya tidak mengalami banyak perubahan.

31