Anda di halaman 1dari 9

PENGERTIAN TES DAN PENGUKURAN OLAHRAGA y TES : Suatu instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi

tentang seseorang / suatu obyek tertentuk (bentuk atau sasaran) y PENGUKURAN : Suatu proses untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku. (alatnya) y Jadi dapat kita simpulkan bahwa tes dan pengukuran olahraga adalah kumpulan informasi dari dari sesuatu yang diukur, hasilnya hanyalah data-data atau angka-angka hasil pengukuran dan hasil penguukran ini dilakukan untuk evaluasi atau untuk mengembangkan prestasi olehraga. 1. TES ANTROPOMETRI Beberapa pengukuran antropometri pokok/dasar antara lain : Berat Badan ( Body Weight ), Tinggi Badan ( Stature Hight ), Tinggi Duduk ( Sitting Height ), Lebar Bahu ( Bi-acromiale diemeter ), Lebar Pinggul ( Bi-ilium diameter ), Lebar Sendi Siku ( Bi-epicondilar diameter humerus ), Lebar Sendi Lutut (Bi-epicondilar diameter femur ), Tebal Lemak Kulit ( skinfold caliper ), Tes untuk mengetahui komposisi tubuh maupun bentuknya atau pengukuran atas struktur tubuh manusia. tujuan akhir dari pengukuran antropometri adalah menetapkan bentuk atau tipe badan seseorang., Berat badan ( body weight ), tinggi badan ( stature hight ) dengan pengukuran tinggi dan berat badan dapat mengetahui imt ( indeks masa tubuh ). y Prosedur pelaksanaan tes sebagai berikut : a. Berdiri tegak lurus b. Pandangan lurus kedepan c. Saat pengukuran berat badan, atlet atau orang coba menggunakan pakaian seminim mungkin d. Tinggi badan satuan alatnya adalah Cm, berat badan satuan alatnya adalah kilogram (Kg). e. Alat yang digunakan, antropometer, meteran yang sudah ditera dan timbangan yang sudah ditera 2. TES KELENTUKAN ( FLEXIBILITY ) y tes kelentukan atau flexibility meter dilakukan untuk memperoleh data dimana dari data tersebut kita dapat mengetahui tingket kelentukan seseorang. y alat yang digunakan untuk tes kelentukan biasanya yaitu bangku/mistar dengan ukuran 50 cm atau biasa juga yang disebut dengan flexibility meter. y y satuan alat ini yaitu centimeter (cm). ada beberapa macam jenis tes dari tes kelentukan atau flexibility. tapi akan dijelaskan dibawah tentang 2 jenis tes kelentukan, yaitu sit and reach dan standing trunk flexion. y Sit and Reach Prosedur pelaksanaan tes : i Peserta atau orang coba tidak memkai alas kakii i Peserta duduk dengan kaki lurus menyentuh balok tes. i Lutut bagian belakang lurus ( tidak boleh ditekuk ) i Pelan-pelan bungkukkan badan dengan posisi tangan lurus, ujung jari dari kedua tangan menyentuh mistar skala/pengukur. i Tangan yang mendorong harus selalu menempeli di alat tes.

i Dimulai dari angka -20. ( karena tingkat kelentukan masing- masing individu itu berbeda-beda, jadi jika hal ini dimulai dari angka nol, objek sudah tidak mampu ) i Dilakukan 3 x, diambili hasil tes yang terbaik. y Standing Trunk Flexion y Prosedur pelaksanaan tes : i Peserta atau orang coba tidak memakai alas kaki i Peserta berdiri dengan kaki lurus diatas balok tes. i Lutut bagian belakang lurus ( tidak boleh ditekuk ) i Pelan-pelan bungkukkan badan dengan posisi tangan lurus, ujung jari dari kedua tangan menyentuh mistar skala/pengukur. i Tangan yang mendorong harus selalu menempel di alat tes. i Dimulai dari angka -20. ( karena tingkat kelentukan masing- masing individu itu berbeda-beda, jadi jika hal ini dimulai dari angka nol, objek sudah tidak mampu ) i Dilakukan 3 x, diambil hasil tes yang terbaik. 3. TES KELINCAHAN ( AGILITY ) y Tes agility atau yang kita kenal sebagai tes kelincahan terdiri dari bebrapa gabungan komponen fisik yang lain. y Tes agility terdiri dari kelentukan, kecepatan, dan keseimbangan. beberapa contoh jenis tes dari tes kelincahan atau agility, yaitu squat thrust dan shuttle run (lari bolak- balik ). y y Squat thrust Prosedur pelaksanaan tes : i Pelaksanaan tes dilakukan selam 30 detik i Posisi berdiri, kemudian dimulai dengan meloncat keatas dengan tangan diangkat keatas. i Setelah meloncat, ketika turun, langsung ke posisi jongkok dan tangan menyntuh lantai didepan tubuh.dibarengi dengan kaki yang langsung dibuang kebelakang, kaki lurus, begitu juga tangan yang lurus menyentuh lantai, sehingga posisi tubuh Push- up. i Setelah itu posisi kaki dipindah lagi ke posisi jongkok untuk mengambil awalan untuk loncat lagi atau ke posis mulai.. i Dapat dihitung sekali ketika satu loncatan. i Jika tidak sesuai dengan prosedur tes, maka tidak dihitung. y y Shuttle Run Prosedur pelaksanaan tes : i Start berdiri. i Kaki menginjak garis start dan tidak boleh melebihi garis start. i Menunggu aba-aba ( peluit atau ucapan siap, ya i Kedua kaki melewati garis A kemudian lari menuju garis B dan melewatinya, lalu kembali lagi. i Finis, jika salah satu kaki menginjak garis finis. i Alat yang harus disiapkan sebelum tes yaitu, stop watch, peluit, dan 3 garis. 4. TES KESEIMBANGAN ( BALANCE ) y Tes ini dilaksanakan agar penguji atau pengetes dapat mengetahu tingkat keseimbangan orang coba atau atlet.

y Tes ini juga akan bermanfaat untuk pengembangan prestasi, motivasi dan tujuan pengukuran yang lain yang dibutuhkan penguji. y Prosedur Pelaksanaannya sebagai berikut : i Pertama-tama. Alat tes harus On. Tombol On/Off berada dibelakang. i Alat pijakan keseimbangan disatukan dengan alatnya. i Alat tes bisa disesuaikan dengan tinggi badan orang coba. i Setelah itu berdiri diatas alat pijakan dengan satu kaki saja. i Antara kaki yang satu dengan kaki yang lain tidak boleh bersentuhan atau fikasih jarak keduanya. i Tangan direntangkan dan mata dipejamkan. i Alat akan menghitung jika sudah ada tanda mulai brupa bunyi. Sebelumnya alat akan menhitung mundur dari 5. baru akan menghitung. i Satuan alat ini adalah detik i Dilakukan 3 kali, diambil hasil yang terbaik. i Standart hasil tes ini adalah 10 detik. i Semakin banyak semakin bagus. 5. TES REAKSI y Tes reaksi pada dasarnya dilaksanakan untuk mengetahui tingkat reaksi seseorang dalam suatu kondisi tertentu. y y Tes reaksi diantaranya adalah whole body reaction dan speed anticipation reaction. whole body reaction jenis tes ini terdapat dua macam. yaitu visual dan audiovisual. y speed anticipation reactio tes ini dilaksanakan untuk mengetahui kecepepatan dan ketepatan antisipasi seseorang. 6. TES STRENGTH ( KEKUATAN ) y tes strenght atau tes kekuatan sangat dibutuhkan dalam pembinaan prestasi atlelt atau orang coba, kita akan dapat mengetahui seberapa kemampuan kekuatan orang coba latihan dan tes. y y sebenarnya hampir sama, tapi hal ini akan dibedakan pada modivikasi pelaksanaanya saja. bentuk pelaksanaan latihan lebih kreatif dan bervariasi. bentuk tes strenght diantaranya,v sit up, push up, back up, hall squat, grip strength, pull and push,dan back and leg y Sit Up i Tes Sit Up dilakukan untuk mengetahui kekuatan otot perut i Posisi tubuh tidur terlentang i Kaki menutup,menempel satu sama lain i Lutut ditekuk kurang lebih 45 derajat, sehingga membentuk posisi kaki V- Sit Up i Kedua tangan menyentuh belakang telinga. i Setelah itu gerakkan tubuh bagian atas naik turun i Ketika naik, perut dan dada harus sampai menyentuh paha i Ketika turun, kepala tidak boleh sampai menyentuh lantai, tetapi pundak harus menyentuh lantai. i Posisi tangan jari-jari tangan harus tetap menmpel disamping telinga.

i Jika pergerakan atau pelaksanaan tidak sesuai dengan prosedur yang ada. Maka tidak bisa dihitung. i Perhitungan, jika dimulai dari poasisi dibawah, maka duhitung sekali jika sudah turun lagi. Begitu juga sebaliknya. Jika dimulai dari atas, maka dihitung satu jika berada di posisi atas lagi. y Push Up i Tes Push Up dilakukan untuk mengetahui kekuatan otot lengan i Posisi badan tengkurap i Posisi kaki lurus dan tetap menutup atau menempel satu sama lain i Tangan ditekuk, siku ditekuk, telapak tangan menempel dilantai berada di samping ujung lengan. i Setelah itu gerakan tubuh naik turun bertumpu pada kedua tangan dan kedua kaki (jari-jari kaki) i Ketika naik, posisi tangan harus lurus. i Ketika naik, posisi selurh bagian tubuh atas dan bawah tetap lurus selama pergerakan. i Ketieka turun, tangan ditekuk dan posisi badan tidak boleh samapi menyentuh lantai i Perhitungan, jika dimulai dari poasisi dibawah, maka duhitung sekali jika sudah turun lagi. Begitu juga sebaliknya. Jika dimulai dari atas, maka dihitung satu jika berada di posisi atas lagi. i Pada wanita , terdapat satu perbedaan, yaitu pada posisi kaki tidak bertumpu pada ujung telapak atau jari-jari kaki, tetapi memggunakan lutut, sehingga posisi lutu harus ditekuk. y Back Up i Posisi tubuh tidur tengkurap. i Posisi tubuh lurus i Kaki juga lurus i Posisi masing-masing tangan berada di samping, menyentuh belakang masing-masing telinga i Kemudian gerakan tubuh bagian atas naik dan turun. i Ketika naik, posisi tubuh harus naik maksimal. i Perhitungan, dimulai dari poasisi dibawah, maka duhitung sekali jika sudah turun lagi. 7. TES POWER (DAYA LEDAK) y y Tes power adalah gabungan komponen fisik dari kekuatan dan kecepatan. Tes power terdapat berbagai macam jenis tes, seperti explosive power ( daya ledak otot ) (vertikal jump), bike race ( tes power kaki ), atau lari 30 meter dan 50 meter. y Explosive Power ( Daya Ledak Otot ) Daya ledak otot atau Explosive power adalah tenaga yang dapat dipergunakanmemindahkan berat badan/beban dalam waktu tertentu, seperti meloncat / melompat y Untuk mengukur atau megetahui kekuatan loncat seseorang kita bisa menggunakan jenis tes Vertikal jump. y Vertikal Jump i Tes menggunakan alat yang bernama Jump Meter Digital. i Satuan jump MD adalah centimeter (Cm) i Presedurnya, pertama-tama alat harus On. i Lalu alat disabukkan diatas pinggang. i Objek berdiri tegak, wajah menghadap ke depan. i Loncat boleh menggunakan awalan atau tidak, sesuai dengan keinginan orang coba.

i Loncat dimulai dari dalam lingkaran yang telah disediakan, begitu juga dengan mendaratnya badan, kaki harus tetap berada di dalam lingkaran tersebut. ( minimala 1 kaki ) i Jika ketika mendarat kedua kaki berada di luar lingkaran, maka hasil tes gagal atau tidak dianggap/tidak sah. i Dilakukan sebanyak 3 kali. Diambil hasil yang terbaik. 8. PENGUKURAN DENYUT NADI y y Denyut nadi dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisi jantung. Denyut nadi adalah frekuensi irama denyut atau detak jantung yang dapat dipalpasi atau diraba dipermukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. y Jadi pada umumnya frekuensi denyut nadi sama dengan frekuensi denyut atau detak jantung. Denytu nadi terdiri dari denyut nadi istirahat, denyut nadi latihan , denyut nadi maksimal (dnm), denyut nadi recovery y Menghitung tekanan darah Menghitung tekanan darah seseorang menggunakan alat yang bernama tencimeter. Satuan tencimeter adalah milimeter hemoglobin ( mm hg ). y Cara menghitung denyut nadi : y Dengan cara Palpasi. i Nadi dihitung selama 6 detik dikalikan 10 i Nadi dihitung selama 10 detik dikalikan 6 60 detik i Nadi dihitung selama 15 detik dikalikan 4 i Nadi dihitung selama 30 detik dikalikan 2 9. TES ENDURANCE (DAYA TAHAN) y Tes endurance biasanya lebih dikenal dengan tes daya tahan tubuh seseorang. y Beberapa macam tes endurance : 2,4 km lari, 4,8 km jalan, lari 12 menit,lari 15 menit, harvard test, sharky test dan mft multi fitnes test ( mft ) adalah suatu jenis tes daya tahan atau endurance yang bertujuan untuk mengetahui vo 2 max. di indonesia, oramg-orang biasanya menyebutnya tes tung ( bleep test ). y Satuan dari tes ini yaitu cc/kg bb/menit. y Beberapa hal tentang tes MFT : i Pertama kita harus menyiapkan kaset, tape atau VCD. i Menyediakan stop watch, alat tulis, dan lintasan i Jarak lintasan yang akan dilalui adalah 20 meter, tapi kita harus menyiapkan jarak minimal 30 M. i Start bisa dimulai dari garis manapun, tetapi ketika start kaki tidak boleh melebihi garis start. i Ketika pembalikan, salah satu kaki dan setengah dari tubuh harus melewati garis. Jika lebih juga tidak apa-apa. i Dikatakan tes ini selesai atau berhenti jika peserta telah melanggar atau tidak mengikuti perintah dari kaset 2 kali berturut-turut. 10. CONTOH TES CABANG OLAHRAGA SEPAK BOLA selain dituntut mempunyai skil atau kemampuan bermain bola yang bagus, seorang pemain sepak bola juga dituntut untuk mempunyai kondisi fisik yang bagus, oleh karena itu di dalam cabang

olahraga sepak bola tidak hanya dilakukan pelatihan tentang tekhnik bermain dan pembelajaran strategi, tapi juga sangat diperlukan beberapa tahap latihan fisik. bagi pelatih sepak bola, beberapa tahap latihan atau tes yang harus dilakukan pada pemain sepak bola diantaranya yaitu, tes kekuatan, tes kelincahan, tes keseimbangan, tes reaksi, dan yang paling penting adalah tes endurance. VALIDITAS Validitas Tes i Validitas merujuk pada sejauh mana suatu alat ukur mengukur apa yang ingin diukur, atau dengan kata lain, apakah suatu alat ukur sesuai untuk mengukur apa yang hendak diukur. Ada Tiga Jenis Validitas: i Validitas Isi Merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgement. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah sejauh mana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi (dengan catatan tidak keluar dari batasan tujuan ukur) objek yang hendak diukur atau sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur. i Validitas Konstrak Adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979). Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil estimasi validitas konstrak tidak dinyatakan dalam bentuk suatu koefisien validitas. i Validitas Berdasar Kriteria (kriterium) Menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan. Untuk melihat tingginya validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi antara skor tes dengan skor kriteria. Koefisien ini merupakan koefisien validitas bagi tes yang bersangkutan, yaitu rxy, dimana X melambangkan skor tes dan Y melambangkan skor kriteria. RELIABILITAS Reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau di bawah kondisi pengujian yang berbeda. Ada Lima Jenis Reliabilitas: i Reliabilitas Tes Retes Metode paling jelas untuk menemukan reliabilitas skor tes adalah dengan mengulang tes yang sama pada kesempatan kedua. Reliabilitas tes ulang menunjukkan sejauh mana skor pada tes dapat digeneralisasikan untuk berbagai kesempatan yang berbeda; makin tinggi reliabilitasnya, makin rentanlah skor terhadap perubahan sehari-hari yang acak dalam kondisi peserta tes atau lingkungan testing. i Reliabilitas Bentuk Alternatif Satu cara untuk menghindari kesulitan yang ditemukan dalam reliabilitas tes dan tes ulang adalah melalui penggunaan bentuk-bentuk tes lainnya. Dengan demikian, orang yang sama bisa dites dengan

satu bentuk pada kesempatan pertama dan dengan bentuk lainnya yang ekuivalen pada kesempatan kedua. Korelasi antara skor-skor yang didapatkan pada dua bentuk itu merupakan koefisien reliabilitas tes. Perlu dicatat bahwa koefisien reliabilitas semacam itu adalah ukuran stabilitas temporal dan konsistensi respons terhadap berbagai butir soal contoh (atau bentuk-bentuk tes). i Reliabilitas Belah Separuh (Split-Half Reliability) Dengan cara ini, dua skor didapatkan untuk setiap orang dengan membagi tes menjadi paruhanparuhan yang ekuivalen. Jenis reliabilitas ini kadangkala disebut koefisien konsistensi internal, karena hanya dibutuhkan penyelenggaraan tunggal atas satu bentuk tes saja. i Reliabilitas Kuder-Richardson dan Koefisien Alpha Metode ini didasarkan pada konsistensi respons terhadap semua butir soal dalam tes. Konsistensi antar soal ini dipengaruhi oleh dua sumber varians kesalahan, yaitu : 1. Pencuplikan isi (sebagaimana dalam bentuk alternatif dan reliabilitas belah separuh). 2. Heterogenitas dari domain yang disampelkan. Semakin homogen domainnya, semakin tinggilah konsistensi antar soal. i Reliabilitas Pemberi Skor Reliabilitas pemberi skor dapat ditentukan dengan memiliki sampel lembaran tes yang diskor secara terpisah oleh dua penguji. Dengan demikian dua skor yang didapatkan oleh masing-masing peserta tes ini kemudian dikorelasikan dengan cara biasa, dan koefisien korelasi yang dihasilkannya adalah ukuran reliabilitas pemberi skor. Jenis reliabilitas ini umumnya dihitung ketika instrumen-instrumen yang diskor secara subjektif digunakan dalam riset. OBJEKTIVITAS Objektivitas Tes i Sebuah tes dikatakan objektif apabila dilaksanakan dengan tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhinya, terutama terkait dengan skoring yang dilakukan. dengan kata lain dapat diartikan bahwa objektivitas terkait dengan tingkat kesesuaian antar penilai. i Ada Satu Jenis Objektivitas yaitu: Rater Reliability Jika penilai yang satu dengan yang lain (rater reliability) memberikan angka yang relatif sama, maka tes tersebut dianggap objektif. Ini dapat dilakukan dengan cara dua orang penilai (tester) diminta melakukan penilaian terhadap seluruh peserta tes (testee). Kemudian hasil penilaian tester di korelasikan. Semakin tinggi koifisien korelasi maka semakin objektif suatu tes. NORMATIF Normatif Tes i Setiap survei selalu mengumpulkan data mentah dari sekumpulan orang. Tetapi bagaimana Anda menentukan apa sebenarnya dihasilkan dari data tersebut? Interpretasi atas skor tes seseorang memiliki arti jika dibandingkan dengan sebuah nilai kelompok yang lebih besar, dikenal dengan nama normatif population. i Norma adalah satu set skor tes yang memberikan benchmark atas perbandingan ini. Contoh, banyak tes IQ memiliki nilai rata-rata 100; berdasarkan hal ini, memungkinkan untuk menentukan apakah seseorang berada di atas atau di bawah rata-rata. i Untuk membangun norma, alat ukur tersebut harus diuji cobakan pada sampel yang sesuai dengan tujuan alat ukur tersebut.

i Tidak hanya jumlah sampelnya tapi pemilihan sampel juga harus dilakukan dengan hati-hati, termasuk gender, umur, etnis, dan geografi. i Sebagai contoh, sebuah alat ukur yang mengukur sales profile, maka sebaiknya diujicobakan ke orangorang sales dan bukan ke anak sekolah. PERANAN GURU PENDIDIKAN JASMANI TERHADAP KEBUGARAN JASMANI Dalam melaksanakan pengabdian pada masyarakat sebagai tenaga penggerak olahraga (kebugaran jasmani), guru pendidikan jasmani dapat memegang peranan diantaranya : i Motivator i Organisator i Sumber belajar PERANAN PELATIH TERHADAP KEBUGARAN JASMANI Perilaku, Kepemimpinan, Sikap sportif, Pengetahuan dan keterampilan, Keseimbangan emosional, Imajinasi, Ketegasan dan keberanian, Humor, Kesehatan, Administator, Pendewasaan anak, Kegembiraan berlatih, Hargai wasit, Hargai tim tamu, Perhatian pribadi, Berpikir positif, Larang judi, Berbahasa baik dan benar, Mengisukan orang, Menggunakan wewenang, Sikap mental, Hubungan dengan para asisten pelatih PENGERTIAN KEBUGARAN JASMANI y Kebugaran jasmani disebut juga kesegaran jasmani yang artinya kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari dengan mudah tanpa merasa lelah yang berlebihan. y Menurut Prof. Sutarman kebugaran jasmani adalah suatu aspek, yaitu aspek fisik dan kebugaran yang menyeluruh (total fitness) yang memberi kesanggupan kepada seseorang untuk menjalankan hidup yang produktif dan dapat menyesuaikan diri pada tiap pembebanan fisik (physical stress) yang layak. y Menurut Proff. Soedjatmo Soemowardoyo kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh untuk menyesuaikan fungsi alat tubuhnya dalam batas fisologi terhadap lingkungan (ketinggian, kelembapan suhu, dan sebagainya) dan atau kerja fisik dengan yang cukup efisien tanpa lelah secara berlebihan MANFAAT KEBUGARAN JASMANI Secara umum, kebugaran jasmami memiliki dampak terhadap seseorang. Apabila kebugaran jasmaninya baik, akan sanggup bekerja lebih lama. Adapun manfaat lainnya yaitu : mencegah terjadinya cedera otot; sistem pernapasan dan peredaran darah senantiasa lancar meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit; menguatkan mental; badan terasa segar; menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, gesit, dan bersemangat. TUJUAN KEBUGARAN JASMANI y Tujuan utama dari latihan kebugaran jasmani adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat kebugaran jasmani. PENGERTIAN LATIHAN y Latihan adalah suatu proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja yang dilakukan secara berulangulang, sehingga semakin hari jumlah beban latihannya semakin bertambah. y Sistematis adalah terencana dan terprogram menurut jadwal, pola dari yang paling mudah ke yang paling sukar atau latihan secara teratur.

y Berulang-ulang maksud dan tujuannya agar gerakan-gerakan yang pada awal mulanya sukar dilakukan menjadi semakin mudah. PRINSIP-PRINSIP LATIHAN y Untuk mengembangkan dan menggunakan tahap latihan yang tepat bagi respon otot, kita dapat mempelajari prinsip latihan dibawah ini, i Kesiapan, Kekhususan, Keteraturan, Frekuensi, Penyesuaian, Beban Latihan, Ukuran UNSUR-UNSUR KONDISI FISIK Unsur-Unsur / Komponen kondisi fisik terdiri dari: Kekuatan, Daya Tahan Otot, Daya Tahan Jantung dan Paru-Paru (Kardiovaskuler), Fleksibilitas, Kecepatan , Daya Ledak , Kelincahan, Keseimbangan, Koordinasi, Ketepatan, Reaksi