Anda di halaman 1dari 28

FLPP

Pengembang Mengaku Rugi Sampai Rp 2 Miliar


Natalia Ririh | Latief | Kamis, 2 Februari 2012 | 01:51 WIB

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengembang mengaku mengalami kerugian sampai Rp 2 miliar akibat mandeknya pembiayaan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hal itu mengemuka berdasarkan laporan para pengembang yang tergabung dalam Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi).

Berdasarkan laporan dari DPD Apersi se-Indonesia, nilai bunga kredit modal kerja maupun kredit konstruksi yang ditanggung pengembang sebesar Rp 1 sampai Rp 2 Miliar setiap provinsi. -- Eddy Ganefo

"Berdasarkan laporan dari DPD Apersi se-Indonesia, nilai bunga kredit modal kerja maupun kredit konstruksi yang ditanggung pengembang sebesar Rp 1 sampai Rp 2 Miliar setiap provinsi," kata ketua DPP Apersi, Eddy Ganefo, kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (1/2/2012). Eddy menyebutkan, selain kerugian tersebut, penghentian FLPP juga menyebabkan akad KPR untuk unit rumah sejahtera tapak banyak tertunda. Rangkuman data Apersi menyebutkan, akad rumah tertunda di Jawa Barat sebanyak 2.124 unit, di Banten 2.726 unit, di Jawa Timur mencapai 3.217 unit, Riau, Lampung, serta Sumatera Selatan rata-rata mencapai 500 unit rumah.

"Ini membuat likuiditas keungan pengembang yang tergolong mikro kecil dan menengah menjadi terganggu. Belum lagi beban bunga yang harus ditanggungnya," ujarnya. Sebelumnya, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengatakan, Program FLPP yang dijanjikan Kementrian Perumahan Rakyat akan berjalan kembali pada akhir Februari ini. Hal itu dikemukakan pada rapat dengar pendapat Kemenpera dengan Komisi V DPR RI di Komplek DPR, Selasa (1/2/2012) kemarin. Pada dengar pendapat itu DPR mendesak pemerintah segera menyelesaikan perjanjian kerja sama operasional (PKO) penyaluran kredit rumah subsidi dengan bank-bank penyalur. "Penundaan ini mengakibatkan banyak kerugian. Tidak saja bagi pengembang, tapi juga konsumen. Kepercayaan publik kepada pengembang dan juga Kemenpera akan merosot bila terus seperti ini," kata anggota Komisi V DPR RI, Hetifah Sjaifudian.
http://properti.kompas.com/index.php/read/2012/02/02/01513572/Pengembang.Mengaku.Rugi.Sampai.Rp.2.Mili ar

FLPP di Simpang Jalan?


Kamis, 2 Februari 2012 08:19 wib

Ilustrasi

PEMERINTAH (Kementerian Perumahan Rakyat/ Kemenpera) menghentikan pembiayaan rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada awal 2012. Lho, ada apa? Kemenpera minta penurunan bunga kredit dari 8,159,95 persen menjadi 6,57 persen dan rasio penempatan dana dari 60:40 menjadi 50:50. Namun,Kemenpera dan bank pelaksana belum mencapai kesepakatan. Bagaimana sebaiknya? Sebelumnya mari kita tengok perkembangan kredit pemilikan rumah (KPR). Menurut Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI) November 2011 yang terbit Januari 2011, KPR kelompok BPR melesat jauh 42,43 persen dari Rp370 miliar per November 2010 menjadi Rp527 miliar per November 2011. Kinerja cemerlang itu diikuti KPR kelompok bank persero yang melejit 29,16 persen dari Rp90,46 triliun menjadi Rp116,84 triliun dan kelompok bank swasta nasional terbang tinggi 23,76 persen dari Rp118,54 triliun menjadi Rp146,71 triliun. Kemudian disusul KPR kelompok BPD yang meningkat 15,19 persen dari Rp22,78 triliun menjadi Rp26,24 triliun dan kelompok bank asing dan campuran 14,87 persen dari Rp6,59 triliun menjadi Rp7,57 triliun pada periode yang sama. Berdasarkan Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 10 Tahun 2011 tanggal 6 Juli 2011 tentang Pengadaan Perumahan melalui Kredit Konstruksi Rumah Sejahtera Murah Tapak dengan Dukungan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), program FLPP melangkah. Yang dimaksud FLPP adalah dukungan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang dikelola Kemenpera. Anggaran FLPP bersumber dari pemerintah dan bank pelaksana dengan menggunakan pola pembiayaan bersama (joint financing) dengan rasio saat ini 60:40.

Tidak seperti KPR biasa, KPR dengan model FLPP ini menawarkan bunga kredit terjangkau dan bunga tetap (fixed rate) sepanjang masa kredit dengan tenor 15 tahun. Artinya, KPR FLPP tidak menggunakan bunga tetap selama satu hingga dua tahun dan dilanjutkan dengan bunga mengambang atau mengikuti bunga pasar (floating rate). Bagaimana realisasi FLPP sepanjang 2011? Data Kemenpera menunjukkan bahwa penyaluran FLPP mencapai 99.699 unit rumah atau 67 persen dari target sekitar 150.000 unit rumah pada 2011 dengan penyediaan dana Rp3,5 triliun. Pencapaian tersebut dapat dianggap kurang menggembirakan kalau dibandingkan dengan kinerja FLPP pada 2010 yang mampu mencapai 108.471 unit rumah dengan penyediaan dana Rp2,6 triliun. Pada 2012, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp4,6 triliun. Terkait dengan buntunya perundingan tentang penurunan bunga dan rasio penempatan dana, bagaimana alternatif solusinya? Pertama, membagi keuntungan.Terlebih dahulu harus disadari bahwa bunga kredit Indonesia dinilai tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Potensi risikonya, kelak bank nasional akan sulit bersaing ketika Masyarakat Ekonomi Asean mulai berlaku pada 2015. Maka untuk menekan bunga kredit,Bank Indonesia (BI) meluncurkan kebijakan suku bunga dasar kredit (SBDK) alias prime lending rate. Kebijakan tersebut berlaku efektif 31 Maret 2011 sehingga bank nasional wajib mengumumkan SBDK melalui laman, koran dan seluruh kantor cabang bank.SBDK merupakan bunga terendah yang digunakan sebagai dasar bagi bank nasional dalam menentukan bunga kredit yang dikenakan kepada nasabah bank nasional. Repotnya, SBDK belum mampu menjadi alat ampuh untuk meminikan bunga kredit secara signifikan meskipun BI Rate sudah meramping dari 6,5 persen menjadi enam persen per November 2011. Namun, jangan alpa bahwa bank nasional masih memiliki wewenang untuk menentukan premi risiko (risk premium) di luar SBDK.Saat ini rata-rata premi risiko bank nasional mencapai sekitar 1,3 persen. Jadi, sekiranya SBDK KPR berada setingkat BI Rate enam persen, itu berarti bunga kredit dengan hitungan kasar akan berada pada level minimal 7,3 persen (enam persen plus premi risiko 1,3 persen). Akibat logisnya, bunga kredit FLPP sulit bin sukar untuk menipis menjadi tujuh persen apalagi 6,5 persen seperti harapan Kemenpera. Lantas, bagaimana jalan keluarnya? Kemenpera dapat minta bank pelaksana untuk menurunkan premi risiko misalnya 20 basis poin (bp) (0,20 persen) menjadi sekitar 1,1 persen sehingga bunga kredit FLPP menjadi minimal 7,1 persen. Ini masih jauh lebih bersaing daripada bunga KPR biasa sekitar 10 persen. Kedua, membagi potensi risiko. Kinerja FLPP pada 2011 yang kurang memuaskan atau hanya mencapai 67 persen dari target itu dapat disebabkan aneka faktor. Katakanlah, faktor keterbatasan daya beli masyarakat mengingat FLPP ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.Selain itu,juga hambatan di lapangan berupa ketidaksiapan pasokan hunian. Nah,mengapa bank nasional masih enggan untuk menerima penurunan rasio penempatan dana dari 60:40 menjadi 50:50? Sungguh, dapat diduga sebagian besar dari 16 bank pelaksana FLPP itu mengalami kesulitan dalam mencari dana untuk jangka panjang mengingat tenor FLPP 10 tahun hingga 15 tahun. Terlebih saat ini bank nasional sedang mengerek modal untuk mampu menghadapi dampak krisis utang Eropa. Bukan hanya itu.Keengganan bank nasional itu pun sebab FLPP dilakukan dengan menggunakan pola executing. Dengan bahasa lebih lugas, pola penyaluran dengan risiko ketidaktertagihan dana FLPP yang ditanggung bank pelaksana. Wah, ini berat! Pemerintah jangan mau enak sendiri. Untuk itu, Kemenpera sudah semestinya juga bersedia membagi

potensi risiko dengan menanggung minimal 25 persen ketidaktertagihan dana FLPP. Dengan pembagian potensi risiko demikian, boleh jadi bank pelaksana akan mempertimbangkan untuk menaikkan rasio penempatan dana menjadi 50:50. Dengan alternatif solusi demikian, kedua belah pihak baik Kemempera dan bank nasional yang bertindak sebagai bank pelaksana FLPP akan saling meraih keuntungan. Akhir tutur, masyarakat berpenghasilan rendah Rp4,5 juta per bulan akan segera dapat mewujudkan mimpi mereka untuk memiliki rumah idaman. PAUL SUTARYONO Pengamat Perbankan http://economy.okezone.com/read/2012/02/02/279/567951/flpp-di-simpang-jalan (Koran SI/Koran SI/wdi)

Pengembang Pertanyakan Kinerja Kemenpera


Kamis, 02/02/2012 - 05:06 Pikiran Rakyat

BANDUNG, (PRLM).- Pengembang-pengembang di Jabar mempertanyakan kinerja Kementerian Perumahan Rakyat (Kemnpera), karena sampai saat ini belum juga menerbitkan peraturan-peraturan turuan dari UU n01 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (UU PKP). Akibatnya, berbagai pembangunan perumahan sejak awal tahun 2012 mengalami kemacetan, karena tak adanya kepastian regulasi. Kondisi tersebut dinilai sangat kontraproduktif dengan angka backlog (defisit rumah dibanding jumlah keluarga) yang terus membengkak. Saya kurang paham, apa sebenarnya prioritas kerja Kemenpera saat ini. Sampai membiarkan sektor perumahan macet begini, hanya gara-gara ketiadaan regulasi, ujar Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Indonesia (AP2ERSI) Ferry Sandiyana, Rabu (1/2). Menurut Ferry diantara regulasi yang dibituhkan tersebut adalah mengenai rumah tipe 36. Dalam UU PKP hanya disebutkan rumah yang dibangun pengembang minimal harus tipe 36. Tanpa dijelaskan ketentuan tersebut berlaku untuk rumah yang mendapat subsidi Pemerintah atau termasuk rumah non subsidi juga. Kondisi tersebut membuat pembangunan rumah murah (tipe 36 ke bawah) menjadi macet total. Para pengembang di segmen tersebut menjadi serba salah, karena sekalipun permintaan pasar tinggi, tapi rumah tetap tak bisa dibangun karena aturannya belum ada. Apalagi FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) yang menjadi program subsidi Pemerintah untuk segmen rumah murah, belum juga ada kepastian sampai saat ini. Sehingga jika memaksakan membangun tipe 36 saja untuk cari aman , tetap akan sulit dijual. Karena harganya akan menjadi lebih tinggi. Sebenarnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), tipe 28 dan 30 lebih sesuai untuk mereka. Karena harganya lebih cocok dengan daya beli mereka. Jadi jika saat ini memaksakan membangun tipe 36, apalagi dengan bunga komersial (tanpa FLPP), dijamin akan sulit laku karena terlalu mahal untuk MBR, katanya. Sementara Ketua Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Jabar, Yana Mulyana mengatakan kekosongan regulasi juga membuat macet pembangunan real estat (rumah mewah). Karena dengan ketentuan UU PKP yang mengharuskan rumah berimbang 1:2:3 (jika membangun 1 rumah mewah harus membangun 2 rumah menengah dan 3 rumah sederhana), mensyaratkan adanya regulasi mengenai rumah sederhana. Saat ini saya dengar di Kemenpera masih juga tarik-menarik mengenai suku bunga FLPP dengan bank pelaksana. Padahal sebelumnya Kemenpera menjanjikan akan menyelesaikan semua aturan yang dibutuhkan, termasuk FLPP, paling lambat akhir bulan Januari 2012, katanya.(A-135/das)*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/175315

BTN Berniat Ikut Program Perumahan Bersubsidi


Tribunnews.com - Rabu, 1 Februari 2012 21:52 WIB

Bank Tabungan Negara TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Bank Tabungan Negara (BTN) masih mempertimbangkan untuk kembali ikut dalam program perumahan bersubsidi menggunakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Program tersebut terkait permintaan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) untuk menurunkan suku bunga FLPP di kisaran 5 - 6 persen. "Kita masih kaji lagi kalau tidak rugi kita ikut, tapi kalau merugikan tentu sulit (ikut FLPP)," kata Dirut BTN Iqbal Latanro di Jakarta, Rabu malam, di sela acara undian "Banjir Emas Di Kantor Pos Sepanjang Tahun" melalui program e-BataraPos dalam rilis yang diterima Tribunnews.com di Jakarta, Rabu (1/2/2011). Menurut Iqbal, penurunan suku bunga ini tergantung pada kebijakan pemerintah dalam hal ini Kemenpera. Menurutnya, BTN juga tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti program penyediaan rumah murah ini. "Dengan porsi pemerintah, bank tetap 60:40 bunga dari kita 7,75 persen. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar (bunganya)," katanya. Penetapan bunga FLPP yang turun drastis, seperti dikehendaki Menpera Djan Faridz tidak masuk hitungan bisnis BTN. Apalagi perseroan merupakan pemegang portofolio terbesar FLPP tahun 2011, dengan porsi hampir 99,4 persen. "Karena itu kita serahkan pada pemerintah sebab ini program pemerintah. Kita tidak berwenang mengatur, dan semua bank bisa memilih (ikut atau tidak), kalau memilih ikut tentu komitmen melakukannya," ujar Iqbal. Dijelaskan Iqbal, pada tahun 2011 awal program FLPP diluncurkan, ada 16 bank yang ikut menandatangani program ini. Dalam perjalanannya, ternyata BTN melakukan penyerapan yang terbesar yakni mencapai 99,4 persen. Sebelumnya FLPP ditetapkan berupa subsidi suku bunga tetap untuk kredit rumah bersubsidi pada kisaran 8,15 - 9,95 persen dengan tenor 15 tahun. Sumber dana berasal dari pemerintah dan bank peserta, dengan komposisi dana penyertaan berbanding 60:40.

Kesepakatan FLPP ini berakhir Januari 2012 dan belum ada kesepakatan baru antara Kemenpera dan Perbankan, terkait permintaan pemerintah menurunkan suku bunga pada kisaran 5-6 persen dengan komposisi 50:50.

Editor: Yulis Sulistyawan Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
http://www.tribunnews.com/2012/02/01/btn-berniat-ikut-program-perumahan-bersubsidi

FASILITAS LIKUIDITAS PEMBIAYAAN PERUMAHAN

Bank tetapkan bunga tinggi karena terbentur biaya

JAKARTA. Bank pelaksana program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bersikeras menetapkan bunga di atas 7%. Mereka menganggap, bunga yang disodorkan pemerintah sebesar 5% - 6% tidak menguntungkan. Perbankan pun mengajukan hitung-hitungan bunganya ke pemerintah. Tiga bank BUMN terlihat paling ngotot menggetok bunga tinggi. Misalnya, Bank Tabungan Negara (BTN) menawarkan tingkat bunga sebesar 8,55%. Ini dengan asumsi, bank dan pemerintah samasama menanggung kebutuhan dana sebesar 50%. Sementara Bank Rakyat Indonesia (BRI) menawarkan tingkat bunga 7,50% dan Bank BNI menawarkan bunga sebesar 7,25%. (Lihat tabel) Evi Firmansyah, Wakil Direktur Utama BTN mengatakan, setiap bank memiliki tingkat biaya dana, risiko dan biaya overhead yang berbeda-beda. Sumber dana BTN misalnya, tentu tidak bisa dibandingkan dengan bank sekelas BRI yang dana murahnya melimpah. Sementara tingkat biaya overhead tinggi karena dalam berbisnis pembiayaan rumah bank membutuhan sumber daya manusia (SDM) yang memahami propeti serta hubungan dengan developer. "Saat ini masih dalam diskusi tingkat suku bunga dan kami tidak pernah mengancam mundur dari program FLPP," tegas Evi, Rabu (1/2). Darmadi Sutanto, Direktur Konsumer dan Ritel BankBNI menuturkan, Kemenpera juga perlu memahami perbankan dalam menyerap dana. Misalnya, dari tingkat biaya dana, setiap bank menawarkan bunga simpanan berbeda-beda. Jangka waktu penyimpanan pun tidak terus menerus jangka panjang. Sumber dana menjadi kekhawatiran bank, karena tenor rumah FLPP selama 15 tahun, sedangkan simpanan nasabah di bank jatuh tempo lebih singkat. Misalnya deposito, hanya memiliki durasi satu bulan atau tiga bulan. Selain itu, fluktuasi inflasi dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) tidak dapat diprediksi. Tri Joko Prihanto, Direktur Keuangan Bank Bukopin, menyampaikan, dalam menyalurkan kredit, bank menargetkan kisaran benefit yang diperoleh. "Harga (tingkat bunga) itu kan perlu menyesuaikan

kondisi pasar," ucap Tri. Bukopin berharap Kemenpera tidak mengubah tingkat bunga FLPP saat ini sebesar 8%. Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz menjelaskan, bunga FLPP bisa ditekan lebih rendah, lagi karena Kemenpera telah menetapkan beberapa kebijakan pendukung yang bisa menjadi insentif bagi industri perbank dan para pengembang. Selain itu, pemerintah juga ikut melakukan urunan dana, sehingga biaya dana bank bisa lebih murah. Dengan harga dan bunga lebih murah, daya beli masyarakat menjadi terangkat. Saat ini, misalnya, pemerintah sedang mengupayakan penurunan harga jual rumah sejahtera. Di antaranya pembebasan biaya melalui sertifikasi tanah, perizinan yang meliputi Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Termasuk pajak pertambahan nilai dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Biaya penyambungan listrik, gambar instalasi listrik dan penyambungan air minum juga akan diminimalkan. "Kami tengah memproses hal tersebut," tutur Djan. Hasil Sementara Perhitungan Suku Bunga Item BTN BRI BNI Biaya dana 4,14% 2,72% 1,75% Giro wajib minimum 0,41% 0,33% 0,17% Overhead 1,50% 1,37% 3,02% Risiko 1,00% 2,08% 1,81% Profit 1,50% 1,00% 0,50% Suku bunga 8,55% 7,50% 7,25% Sumber: Kementerian Perumahan Rakyat
http://keuangan.kontan.co.id/news/bank-tetapkan-bunga-tinggi-karena-terbentur-biaya

Suara Merdeka - 02 Februari 2012

BTN Kaji Rumah Subsidi FLPP


JAKARTA - Bank Tabungan Negara (BTN) masih mempertimbangkan untuk kembali ikut dalam program perumahan bersubsidi menggunakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), terkait permintaan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) untuk menurunkan suku bunga FLPP di kisaran 5-6 persen. Kami masih mengkaji lagi. Kalau tidak rugi kami ikut, tapi kalau merugikan tentu sulit (ikut FLPP), kata Dirut BTN Iqbal Latanro di Jakarta, Rabu malam, di sela acara undian Banjir Emas di Kantor Pos Sepanjang Tahun melalui program e-BataraPos. Menurutnya, penurunan suku bunga ini tergantung pada kebijakan Kemenpera. Selain itu BTN juga tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti program penyediaan rumah murah ini. Dengan porsi pemerintah, bank tetap 60:40 bunga dari kami 7,75 persen. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar (bunganya), katanya. Penetapan bunga FLPP yang turun drastis, seperti dikehendaki Menpera Djan Faridz tidak masuk hitungan bisnis BTN. Apalagi perseroan merupakan pemegang portofolio terbesar FLPP tahun 2011, dengan porsi hampir 99,4 persen. Karena itu kami serahkan pada pemerintah sebab ini program pemerintah. Kami tidak berwenang mengatur, dan semua bank bisa memilih ikut atau tidak. Kalau memilih ikut tentu komitmen melakukannya, ujar Iqbal. Dijelaskan, pada tahun 2011 awal program FLPP diluncurkan, ada 16 bank yang ikut menandatangani program ini. Dalam perjalanannya, ternyata BTN melakukan penyerapan yang terbesar yakni mencapai 99,4 persen. Sebelumnya FLPP ditetapkan berupa subsidi suku bunga tetap untuk kredit rumah bersubsidi pada kisaran 8,15-9,95 persen dengan tenor 15 tahun. Sumber dana berasal dari pemerintah dan bank peserta, dengan komposisi dana penyertaan berbanding 60 persen:40 persen. Kesepakatan FLPP ini berakhir Januari 2012 dan belum ada kesepakatan baru antara Kemenpera dan Perbankan, terkait permintaan pemerintah menurunkan suku bunga pada kisaran 5-6 persen dengan komposisi 50 persen:50 persen. Kantor Pos Mengenai dana nasabah di tabungan e-BataraPos, Direktur Mortgage & Consumer Banking Bank BTN Irman Alvian Zahiruddin mengatakan, pihaknya memperkirakan bisa lebih dari Rp 3,5 triliun melalui setoran di Kantor Pos. Tabungan e-BataraPos per Desember 2010 sudah Rp 1,3 triliun, dan tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp 3,5 triliun, ungkapnya. Program ini untuk memberikan apresiasi kepada nasabah loyal tabungan e-BataraPos yang juga salah satu upaya Bank BTN untuk meningkatkan penghimpunan dana retail dan kerja sama dengan PT Pos Indonesia. Dilihat dana yang berputar di kantor pos, kami perkirakan lebih dari Rp100 triliun lebih. Makanya kami buat kolaborasi ide dua belah pihak ini sebagai suatu momentum. Minat masyarakat tinggi, karena

saya sendiri juga berminat, tambahnya. Irman menjelaskan, tabungan e-BataraPos merupakan produk bersama antara Bank BTN dengan PT Pos Indonesia (Persero), sehingga nasabah akan mendapatkan kemudahan dan keleluasaan dengan tabungan ini, karena transaksi dapat dilakukan di 2.661 kantor pos online dan seluruh outlet Bank BTN. Adapun tabungan ini juga dilengkapi berbagai fitur, antara lain premi asuransi jiwa dan gratis kartu ATM yang dapat digunakan lebih dari 20 ribu mesin ATM, baik ATM BTN maupun jaringan ATM Link dan ATM Bersama.(bn-77)
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/02/175772/BTN-Kaji-Rumah-Subsidi-FLPP

Pengembang Tagih Janji Menpera


Natalia Ririh | Kistyarini | Rabu, 1 Februari 2012 | 16:42 WIB

KOMPAS.com/BANAR FIL ARDHI Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz. JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang yang tergabung dalam Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Rabu (1/2/2012), mendatangi Kemenpera untuk menagih janji Menpera Djan Faridz. Janji tersebut mengenai diberlakukannya kembali program KPR dengan FLPP, yang telah terhenti sejak 6 Januari 2012. "Sesuai janji Menpera pada tanggal 16 Januari 2012 lalu, maka kami datang menagih janji FLPP dijalankan kembali," kata Ketua DPP Apersi, Eddy Ganefo saat dihubungi lewat telepon genggam, di Jakarta. Eddy mengatakan rupanya janji tersebut kembali diingkari, karena Menpera memberi janji lainnya. "Kemarin beliau rapat dengan DPR, hasilnya disepakati batas akhir penundaan FLPP sampai akhir Februari 2012," ujarnya. Artinya, lanjut Eddy, program FLPP akan tertunda lebih lama dua bulan. "Tentunya ini berat bagi kami, karena akan mengakibatkan kerugian sangat besar tidak hanya pengembang dan MBR, tetapi juga para pekerja konstruksi di sektor perumahan dan permukiman," jelasnya. Untuk mengatasi kerugian, Apersi meminta Kemenpera memakai skema FLPP lama sementara PKO (Perjanjian Kerjasama Operasional) dengan bank-bank penyalur masih dalam negosiasi. Sebelumnya, dalam rapat kerja Komisi V DPR RI dengan Kemenpera yang berlangsung kemarin, Menpera mengaku menghentikan PKO dengan bank penyalur karena melihat daftar tunggu permintaan bulan Januari tidak lebih dari 10.000 unit. "Anggaplah tertunda 10 ribu pada bulan Januari, tapi kalau PKO berjalan dalam waktu seminggu bisa terserap sampai 30 ribu unit," kata Djan Faridz. http://properti.kompas.com/index.php/read/2012/02/01/16425395/Pengembang.Tagih.Janji.Menpera

Kamis, 02/02/2012 12:30 WIB

Sebut Rumah Tipe 36 Tak Mahal, Djan Faridz Disentil Pengembang


Whery Enggo Prayogi - detikFinance Browser anda tidak mendukung iFrame

Jakarta - Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mendapat kritikan dari berbagai pihak termasuk perbankan dan pengembang. Setidaknya dalam kasus kisruh bunga kredit Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan perdebatan kewajiban minimal rumah tipe 36. Misalnya pengembang rumah sederhana yang tergabung dalam Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (Apersi) merasa aneh, saat ia mengatakan rumah tipe 36 m2 tidak mahal dan bisa dijual seharga Rp 70 juta per unit. Menurut Apersi, harga sebesar itu tak mungkin tercapai untuk rumah ukuran tipe 36, walaupun pemerintah memberikan janji pembebasan biaya perizinan, termasuk biaya penyambungan listrik. Ketua DPP Apersi, Eddy Ganefo menyatakan, perizinan hanya 5% dari total biaya produksi. Kalaupun ini gratis, sesuai janji pemerintah, pengembang yakin patokan harga Rp 70 juta sangat mustahil "Sekarang saja harga rumah di Tangerang tipe 21/22 harganya sudah Rp 80 juta," kata Eddy saat berbincang dengan detikFinance, Kamis (2/3/2012). "Total biaya perizinan total 5%. Kalau IMB kan memang ada yang sudah gratis. Itu pun hanya mengambil porsi 0,5%. Tapi yang lain-lain tetap bayar," tambahnya. Menurut Eddy, dalam pembebasan perizinan tidak semudah membalikan telapak tangan. Apalagi kekuasaan Kemenpera ada di daerah, sedangkan item perizinan lebih banyak wewenang Pemda. "Izin kan banyak di daerah. Mereka juga tidak mau kehilangan pendapatan asli daerah (PAD). Kalau dihapus kan hilang," paparnya. "Misalkan IMB hilang, pasti daerah akan mainkan. (Perizinan) yang lain akan dinaikkan, supaya PADnya tidak berkurang. Kementerian kan tidak punya kaki di daerah," tegas Eddy.

Sulitnya merealisasikan bangunan 36 m2 seharga Rp 70 juta, juga karena Pemda menetapkan luasan lahan minimal 90 m2. Artinya pengembang harus mengeluarkan dana lebih untuk membeli tanah yang lebih luas. "Daerah tidak bisa. Penetapan untuk tipe 36 m2, tanah harus 90 m2. Tidak bisa 72 m2. Otomatis biaya naik lagi," imbuh Eddy. Sebelumnya Djan Faridz mengatakan pemerintah akan mengupayakan penghapusan biaya-biaya yang selama ini menjadi beban pengembang. Hasilnya, biaya pembangunan rumah menjadi turun dan harga jual tipe 36 m2 pun tetap dikisaran Rp 70 juta. "Untuk tipe 36 ini tidak mahal. Kan ada biaya-biaya yang akan kami pangkas. Seperti perizinan," kata Djan di Jakarta, Selasa (31/1/2012). Selain itu pihaknya berupaya membebaskan pajak pertambahan nilai (PPN), biaya penyambungan listrik, gambar instalasi listrik, hingga penyambungan air minum. Atas dasar ini tidak ada lagi alasan pengembang tidak bisa membangun rumah tipe 36 m2 dengan harga dibawah Rp 70-80 juta. Bangunan rumah tipe 36 m2 untuk rumah tapak, bagi bos Tanah Abang ini adalah yang paling layak. (wep/hen)
http://finance.detik.com/read/2012/02/02/123045/1832321/1016/sebut-rumah-tipe-36-tak-mahal-djan-faridzdisentil-pengembang?f9911033

Nasib FLPP Menggantung, Rakyat Jadi Taruhan Menpera


Hari dan Tanggal : Kamis, 02 Februari 2012 Jakarta Nasib rakyat kini jadi pertaruhan judi Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz lantaran menteri titipan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menghentikan subsidi perumahan berformat Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). NERACA Saat ini, kejelasan soal subsidi sektor perumahan masih tergantung tanpa ada tanda-tanda penyelesaian segera. Pasalnya, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) dan perbankan masih belum menemukan kata sepakat soal besaran suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi. Bukan hanya itu, perbankan juga belum setuju dengan rencana Menpera mengurangi porsi dana APBN di FLPP. Pada tahun 2010 dan 2011, porsi dana FLPP yang digabung dengan dana komersial perbankan adalah 60% berbanding 40%. Tahun ini, Djan Faridz akan mengurangi porsi dana FLPP menjadi 50% berbanding 50%, dan menuntut bank menurunkan tingkat bunga KPR bersubsidi dari 8,15% menjadi 5%-6%. Kondisi ini diperparah dengan langkah Kemenpera yang menaruh dana FLPP di bank non pelaksana penyaluran FLPP. Akibatnya, perbankan harus mengeluarkan modal besar untuk menalangi penyaluran KPR bersubsidi. Menurut Direktur Eksekutif Center for Bank Crisis (CBC) Denni Daruri, tugas menyediakan rumah bagi rakyat adalah tugas pemerintah secara politis. Dengan konsep tersebut, akan banyak perbankan yang bersedia membantu pemerintah. Subsidi bunga kredit untuk perumahan rakyat adalah insentif fiskal dari pemerintah, kata Denni saat dihubungi Neraca, Rabu (1/2). Menurut Denni, sebenarnya konsep FLPP yang kemarin disalurkan sudah bagus. Hanya seharusnyam dana FLPP disimpan di perbankan yang mau menjalankan program tersebut. Denni beralasan, hal itu untuk memberi kesempatan perbankan pelaksana untuk melakukan refinancing atas dana FLPP supaya dapat gain untuk memback-up kredit program tersebut. Sementara pengamat properti Ali Tranghanda menengarai, ada skenario besar dibalik penghentian kucuran FLPP. Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) ini berharap agar kebijakan yang diambil Menpera tidak sampai mengorbankan penyediaan hunian untuk rakyat, lantaran Menpera hanya memperhatikan kepentingan suatu golongan. Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Edy Ganefo mengaku kecewa terhadap pemerintah yang dinilai tidak cekatan. Seharusnya keran FLPP tidak tersendat. Pasalnya, Djan Farid sudah berjanji akan menyelesaikan masalah ini sejak 16 Januari lalu. Namun sampai kini faktanya kucuran FLPP masih dihentikan. Menteri Perumahan sudah berjanji dalam waktu dua minggu yang lalu kucuran cashflow dari FLPP sudah dibuka, keluh Eddy. Dia menambahkan, walau rapat kerja kementerian menghasilkan keputusan akhir Februari dana FLPP bisa dikucurkan, namun tetap saja pengembang sangat dirugikan. Sejak Januari tidak ada transaksi, sedangkan pengeluaran tetap harus dibayar. Satu bulan tidak dapat KPR kerugian kami bisa

mencapai Rp 800 Milliar sampai Rp 1 Trilliun. Setiap bulan kami harus tetap membayar kerugian dari kredit konstruksi 1% dan kewajiban-kewajiban lainnya, jelas Eddy. Dengan dihentikannya FLPP, imbuh Eddy, banyak pengembang yang terpaksa me-lay off para pekerja konstruksinya. Semua kegiatan produksi bergantung dengan cashflow, tegas Edi. Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio mengatakan, dibekukannya FLPP punya dampak sosial sangat besar terhadap para pengembang perumahan dan buruh kasar. Agus mengaku tidak mengerti kenapa FLPP bisa dibekukan. Dia menyebut, apabila dibekukan atau ditiadakan karena ada manipulasi seperti soal izin dan kucuran dananya, maka seharusnya diselesaikan manipulasinya dan tidak harus ditiadakan seperti ini. Jika subsidi rumah untuk rakyat ditiadakan akan membunuh industri perumahan dan akan menambah jumlah penggangguran, ujarnya. Dampak paling menyedihkan dari dibekukan subsidi rumah ini, adalah rakyat kecil kehilangan kesempatan mempunyai rumah yang sesuai dengan tingkat ekonominya. Bank Pelaksana Di sisi lain, Eddy mengaku khawatir terhadap bank pelaksana yang kabarnya akan menjadi penyalur FLPP. Pasalnya, bank seperti BRI dan BNI tidak punya pengalaman menyalurkan FLPP. BNI dan BRI juga belum terbukti memiliki sistem perbankan yang memadai untuk menyalurkan FLPP. Karena tahun lalu, sekitar 99,8% dana KPR FLPP disalurkan oleh BTN. Sebelumnya, Direktur Utama BTN Iqbal Latanro menyebut, bunga yang diinginkan Menpera sebesar 5%-6% akan merugikan BTN karena banyak risiko yang harus ditanggung. BTN sendiri mengaku sanggup menyalurkan KPR dengan tingkat bunga di level 7,75%. Dengan porsi pemerintah bank tetap 60:40 bunga dari kita 7,75%. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar (bunganya), kata Iqbal. Dia menyatakan, penetapan bunga FLPP yang turun drastis, seperti dikehendaki menteri perumahan rakyat tidak masuk hitungan bisnis BTN. Mungkin karena pengetahuan kami luas, buat kami hati-hati. Kami tidak bisa menjalankan bisnis kalau rugi. Itu sulit. Kita punya data, tahun lalu dari bank penyalur berapa yang daftar. Dan realisasinya BTN tetap terbesar, tandas Iqbal. Dari realisasi FLPP 2010-2011, BTN adalah bank penyalur dengan jumlah terbesar. Pada KPR konvensional, perseroan berhasil menyelesaikan akad KPR 114.235 unit senilai Rp 3,81 triliun. KPR syariah BTN 6.184 unit senilai Rp 222,32 miliar. Sementara perbankan lainnya tergolong kecil. Bank Bukopin misalnya, hanya sanggup menyalurkan FLPP senilai Rp 7,3 miliar. Kemudian BNI hanya Rp 3,42 miliar. Tahun ini Kemenpera menargetkan penyaluran FLPP kepada 200.000 unit rumah. Angka ini naik dari target sebelumnya di 170.000 rumah. maya/mohar/yahya/kam (maya/mohar/yahya/kam) http://www.neraca.co.id/2012/02/01/nasib-flpp-menggantung-rakyat-jadi-taruhan-menpera/

Rabu, 01/02/2012 10:56 WIB

BTN Ancam Mundur Sebagai Bank Penyalur KPR Subsidi FLPP


Whery Enggo Prayogi - detikFinance Browser anda tidak mendukung iFrame

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mengancam tidak lagi ikut menyalurkan KPR subsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) tahun 2012. Langkah ini diambil jika pemerintah tetap bersikeras menetapkan bunga FLPP rendah. Bagi perseroan, bunga yang diinginkan Menteri Kementerian Perumahan Rakyat Djan Faridz sebesar 5%-6% akan merugikan BTN karena banyak risiko yang harus ditanggung. Penawaran suku bunga FLPP yang BTN tawarkan sekitar 7,75%. "Dengan porsi pemerintah bank tetap 60:40 bunga dari kita 7,75%. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar (bunganya)," kata Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro di Jakarta, Selasa (31/1/2012). Penetapan bunga FLPP yang turun drastis, seperti dikehendaki menteri perumahan rakyat tidak masuk hitungan bisnis BTN. Apalagi perseroan merupakan pemegang portofolio terbesar FLPP tahun 2011, dengan porsi hampir 99,4%. "Mungkin karena pengetahuan kami luas, buat kami hati-hati. Kami tidak bisa menjalankan bisnis kalau rugi. Itu sulit. Kita punya data, tahun lalu dari bank penyalur berapa yang daftar. Dan realisasinya BTN tetap terbesar," tambahnya. Dari realisasi FLPP 2010-2011, BTN adalah bank penyaluar dengan jumlah terbesar. Pada KPR konvensional, perseroan berhasil menyelesaikan akad KPR 114.235 unit senilai Rp 3,81 triliun. KPR syariah BTN 6.184 unit senilai Rp 222,32 miliar. Perbankan lainnya tergolong kecil. Ambil contoh Bank Bukopin yang hanya menyalurkan FLPP senilai Rp 7,3 miliar. Kemudian BNI hanya Rp 3,42 miliar.

Seperti diketahui, BTN adalah bank penyalur FLPP yang mengajukan bunga paling mahal sebesar 8,55%. Bahkan setelah pemerintah menghapus beban asuransi kepada masyarakat berperngasilan rendah (MBR) bunga BTN tetap paling tinggi 8,22%. Bunga kredit rumah BTN jauh diatas penawaran bank BUMN lain. Misalkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menawarkan bunga FLPP 7,12%, sedangkan BNI 6,35%. Sementara itu, n dalam perjanjian kerjasama operasional (PKO) FLPP baru bank penyalur harus mengikuti kehendak pemerintah, Yakni bunga FLPP berada di kisaran 6%. Tahun ini Kemenpera menargetkan penyaluran FLPP kepada 200.000 unit rumah. Angka ini naik dari target sebelumnya di 170.000 rumah. (wep/hen)
http://finance.detik.com/read/2012/02/01/105656/1831131/1016/btn-ancam-mundur-sebagai-bank-penyalur-kprsubsidi-flpp

DPR Dukung Program Perumahan Bagi Rakyat Kecil


Tribunnews.com - Kamis, 2 Februari 2012 15:13 WIB

Tribun Kaltim Rumah murah yang baru dibangun. Foto diambil, Selasa (20/9/2011). Berita Lainnya TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - DPR mendukung penuh program perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dilakukan oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Dukungan disampaikan oleh salah seorang anggota Komisi V DPR, Yudi Widiana, Kamis (02/02/2012). Yudi menjelaskan, program ini sudah disetujui oleh Komisi V DPR. "Sudah disetujui kemarin. Ini, menjadi salah satu kebijakan yang telah disetujui oleh Komisi V DPR dalam mengatasi backlog rumah. Khususnya, bagi MBR sehingga tersedia dana murah untuk jangka panjang, kata Yudi kepada wartawan, Kamis (02/02/2012). Sebelumnya, dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz mengungkap, kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah masih jauh dari harapan. Kementeriannya berusaha membangun perumahan dengan harganya terjangkau, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dua hal yang melatarbelakangi upaya ini. Adanya angka backlog perumahan tahun 2010 yang mencapai 13,6 juta unit. Kemudian, kendala dalam pemenuhan kebutuhan perumahan. Rendahnya pendapatan masyarakat dan rendahnya partisipasi bank-bank BUMN dalam pembiayaan perumahan bagi MBR, ujar Menpera Djan Faridz. Salah satu cara yang dilakukan adalah program pembiayaan FLPP. Program ini dimaksudkan untuk mengatasi kebutuhan dana murah dalam rangka pembiayaan perumahan bagi MBR. FLPP ini sudah dilakukan oleh walikota Palembang. Di sana, masyarakat yang tak punya penghasilan tetap, diberi keringanan pembayaran.Nah, dana FLPP dicampur dengan dana pihak Ketiga oleh bank pelaksana penerbit KPR untuk menghasilkan KPR dengan suku bunga yang murah dan tetap, selama masa pinjaman," ujarnya seraya menjelaskan pembiayaan perumahan untuk MBR tahun 2010 2014 sebanyak 1.350.000 unit. Pada Oktober 2010 hingga Desember 2011, KPR FLPP telah tersalurkan kepada MBR sebanyak 120.814 unit. Sementara dana FLPP yang telah tersalurkan sebesar Rp 4.050 milyar. Penyebarannya antara lain; Sumatera 19.565 unit, Jawa 81.375 unit, Kalimantan 9.410 unit, Sulawesi 8.235 unit, Bali

dan Nusa Tenggara 1.756 unit, Maluku serta Papua yang baru 473 unit. Untuk meningkatkan kemampuan MBR dalam dalam memperoleh perumahan yang layak, kementeriannya juga sedang mengupayakan penurunan harga jual rumah sejahtera. Salah satunya, membebaskan biaya pembuatan sertifikat tanah (surat sudah dikirimkan ke BPN), membebaskan biaya perijinan yang meliputi SIPPT mau pun IMB, pembebasan Pajak Pertamabahan Nilai (PPN), pembebasan biaya penyambungan listrik, pembebasan gambar instalasi listrik, pembebasan penyambungan air minum. Penulis: Rachmat Hidayat | Editor: Johnson Simanjuntak
http://www.tribunnews.com/2012/02/02/dpr-dukung-program-perumahan-bagi-rakyat-kecil

Menpera Tak Masalah Uji Materi UU Perumahan


Rabu, 1 Februari 2012 | 8:05

Perumahan. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN JAKARTA- Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengatakan, pihaknya tidak ada masalah bila ada pihak yang mengajukan uji materi Undang-Undang No 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (UU Pemukiman). "Tidak ada masalah," kata Djan Faridz di Jakarta, Selasa (31/1), ketika ditanya wartawan tentang gugatan uji materi yang telah dilayangkan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) kepada Mahkamah Konstitusi (MK). Menurut dia, pihaknya tidak begitu mempersoalkan hal tersebut karena meyakini bahwa berbagai hal yang tercantum dalam UU Perumahan memang dimaksudkan untuk memihak kepentingan rakyat dan bukan hanya kepentingan pengembang. Ia mempertanyakan alasan dimasukkannya gugatan uji materi yaitu terkait dengan keberatan para pengembang mengenai ketentuan yang mengharuskan pengembang membangun rumah tipe 36 untuk mendapatkan penyaluran kredit FLPP. "Minimal yang layak itu rumah tipe 36," katanya. Menpera menjelaskan, sebenarnya permasalahan ini adalah mengenai harga yang dibebankan kepada pengembang sehingga pemerintah juga menyadari hal itu dan telah mengirimkan surat ke berbagai pihak terkait untuk meringankan beban pembangunan rumah. Pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat memberikan usulan untuk melakukan pembebasan terhadap sejumlah beban biaya dalam pembangunan rumah sejahtera bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Menpera memaparkan, penurunan harga jual rumah sejahtera itu dilakukan antara lain melalui pembebasan biaya antara lain terkait dengan biaya sertifikasi tanah yang surat dari Menpera sudah selesai dibuat dan telah dikirim ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Selain itu, lanjutnya, sejumlah beban biaya lainnya yang akan diupayakan untuk dibebaskan adalah perizinan yang meliputi SIPPT (Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah) dan IMB (Izin Mendirikan Bangunan), Pajak Pertambahan Nilai (PPn), penyambungan listrik dan gambar instalasi listrik, serta

pembebasan beban biaya untuk pengembangan air minum. Ia juga menuturkan, pihaknya juga akan mengupayakan penurunan harga jual rumah sejahtera tersebut melalui pemberian bantuan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) kepada pengembang. Bantuan PSU tersebut, ujar dia, berupa jalan lingkungan, drainase, jaringan air minum, jaringan listrik, persampahan, dan air limbah yang akan dilaksanakan dengan sistem "reimbursement". Sebelumnya, Apersi telah memasukkan uji materi UU Perumahan ke MK pada tanggal 24 Januari 2012 terkait dengan ketentuan dalam Pasal 22 ayat (3) UU Perumahan yang mengharuskan pengembang membangun rumah dengan tipe 36 untuk mendapatkan penyaluran kredit Fasilitas Likuiditas Pembangunan Perumahan (FLPP).(ant/hrb)
http://www.investor.co.id/property/menpera-tak-masalah-uji-materi-uu-perumahan/29132

Pemerintah Didesak Tekan Suku Bunga Kredit Perumahan


Rabu, 1 Februari 2012 | 8:14

Kredit Perumahan.Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN JAKARTA- Pemerintah didesak oleh Komisi V DPR untuk menekan tingkat suku bunga kredit perumahan terkait dengan penyaluran kredit Fasilitas Likuiditas Pembangunan Perumahan (FLLP) untuk membantu masyarakat mendapatkan rumah. "Mengingat FLPP menggunakan APBN bersama dengan dana perbankan, Komisi V DPR mendesak Kementerian Perumahan Rakyat menekan suku bunga kredit perumahan berkisar pada suku bunga SBI," kata Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Nusyirwan Soejono, saat membacakan kesimpulan rapat kerja antara Komisi V DPR RI dan Kementerian Perumahan Rakyat di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Selasa (31/1). Selain itu, Komisi V DPR juga mendorong Kementerian Perumahan Rakyat untuk meningkatkan jumlah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang mendapatkan fasilitas kredit pembiayaan perumahan setiap tahun. Nusyirwan juga memaparkan, Komisi V DPR mendesak Kementerian Perumahan Rakyat untuk segera menyelesaikan perjanjian kerja sama operasional (PKO) penyaluran KPR FLPP 2012 dengan bank pelaksana selambat-lambatnya akhir Februari 2012. Terkait dengan negosiasi PKO FLPP 2012, Menpera Djan Faridz mengemukakan bahwa pihaknya meyakini bahwa telah akan ada suku bunga KPR baru untuk FLPP dengan kisaran 6 - 7 persen yang disetujui bersama-sama antara pemerintah dengan pihak perbankan pada pekan pertama bulan Februari. Menurut dia, kebijakan penurunan suku bunga akan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membeli rumah sebesar 9 - 10 persen sehingga hal itu juga akan mengurangi jumlah "backlog" (kekurangan perumahan) yang jumlahnya mencapai 13,6 juta unit pada 2011. Djan Faridz juga mengingatkan bahwa, suku bunga SBI telah mengalami penurunan dibanding tahun 2011 yang mencapai 6,5 persen dan pada tahun 2012 ini telah mencapai sekitar 5 persen. Saat ini, negosiasi PKO 2012 terkait FLPP masih dibicarakan karena terdapat satu bank yang meminta suku bunga berada di tingkat 8,5 persen sedangkan terdapat bank lainnya yang telah menyetujui penurunan suku bunga hingga sekitar 6,5 persen.

"Kebijakan penurunan penurunan porsi dana FLPP akan memperbanyak jumlah MBR yang dapat terfasilitasi KPR FLPP sebesar 23 persen, yaitu dari 177.800 unit menjadi 219.000 unit," katanya.(ant/hrb)
http://www.investor.co.id/property/pemerintah-didesak-tekan-suku-bunga-kredit-perumahan/29133

Kamis, 02 Februari 2012 , 15:10:00 Nasional

Program Rumah Murah Didukung DPR


JAKARTA - Program pemenuhan kebutuhan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) didukung penuh Komisi V DPR bidang perumahan. Iya. Itu salah satu kebijakan yang telah disetujui oleh Komisi V DPR guna mengatasi backlog rumah, khususnya bagi MBR sehingga tersedia dana murah untuk jangka panjang, kata anggota Komisi V DPR Yudi Widiyana kepada wartawan, di gedung DPR, Senayan Jakarta, Kamis (2/2). Sebelumnya, dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz mengatakan, kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah masih jauh dari harapan. Karena itu, Kementeriannya akan bekerja keras membangun perumahan yang harganya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama dari masyarakat berpenghasilan rendah. Ada dua hal yang melatarbelakangi upaya ini. Pertama, adanya angka backlog perumahan tahun 2010 yang mencapai 13,6 juta unit. Kedua, adanya kendala dalam pemenuhan kebutuhan perumahan. Yakni, rendahnya pendapatan masyarakat dan rendahnya partisipasi bank-bank BUMN dalam pembiayaan perumahan bagi MBR, ujar Menpera Djan Faridz. Untuk memecahkan kendala tersebut, dalam Raker yang membahas pelaksanaan kebijakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Djan mengusulkan berbagai kebijakan untuk pemenuhan kebutuhan akan perumahan. Salah satunya adalah program pembiayaan FLPP. Program ini dimaksudkan untuk mengatasi kebutuhan dana murah dalam rangka pembiayaan perumahan bagi MBR. Program FLPP ini sudah dilakukan walikota Palembang. Di sana, masyarakat yang tidak punya penghasilan tetap dapat fasilitas pemberian kredit perumahan sesuai kemampuan. Mereka diberi keringanan pembayaran. Bisa dibayarkan harian atau mingguan, kata Djan. Kemudian, lanjutnya, dana FLPP tersebut dicampur dengan dana pihak Ketiga oleh bank pelaksana penerbit KPR guna menghasilkan KPR dengan suku bunga yang murah dan tetap, selama masa pinjaman. Sasaran pembiayaan perumahan untuk MBR 20102014 sebanyak 1.350.000 unit, ujarnya. Menurut Djan, sejak Oktober 2010 hingga Desember 2011, KPR FLPP yang telah tersalurkan kepada MBR sebanyak 120.814 unit. Sementara dana FLPP yang telah tersalurkan sebesar Rp4.050 milyar. Penyebarannya antara lain; Sumatera 19.565 unit, Jawa 81.375 unit, Kalimantan 9.410 unit, Sulawesi 8.235 unit, Bali dan Nusa Tenggara 1.756 unit, Maluku dan Papua baru 473 unit. Djan mengungkap, untuk meningkatkan kemampuan MBR dalam dalam memperoleh perumahan yang layak, kementerian yang dipimpinnya sedang mengupayakan penurunan harga jual rumah sejahtera. Di antaranya dengan membebaskan biaya pembuatan sertifikat tanah (surat sudah dikirimkan ke BPN), membebaskan biaya perizinan yang meliputi SIPPT maupun IMB, pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pembebasan biaya penyambungan listrik, pembebasan gambar instalasi listrik, pembebasan penyambungan air minum. Tak hanya itu, menurut Djan, pemerintah juga memberikan bantuan PSU (Prasaran, Sarana dan

Utilitas Umum). Bantuan ini berupa jalan lingkungan, drainase, jaringan air minum, jaringan listrik, persampahan dan air limbah yang akan dilaksanakan dengan system reimbursement. Suratnya sudah dikirim ke Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/JasaPemerintah/LKPP, ujarnya. Djan menambahkan, berbagai kebijakan lain pun sedang diupayakan. Di antaranya kebijakan penurunan suku bunga. Dengan suku bunga yang rendah akan meningkatkan kemampuan masyarakat sebesar 10 persen. Kebijakan penurunan porsi dana FLPP juga akan memperbanyak jumlah MBR yang dapat terfasilitasi KPR FLPP sebesar 23 persen, yakni dari 177.800 unit menjadi 219.000 unit. Bahkan, pemerintah sudah bernegosiasi dengan BTN dalam penurunan suku bunga. BTN siap menurunkan suku bunga sampai 6 persen dari awalnya 9 persen, paparnya. Namun demikian, masih ada kendala lain yang harus dihadapi pemerintah. Sebab, kebutuhan dana FLPP masih sangat besar sesuai dengan masih besarnya kebutuhan perumahan bagi MBR. Selain terbatasnya kapasitas APBN, perlu juga kepastian dukungan APBN. Ketebatasan inilah yang harus dicarikan solusinya. Karena itu, pemerintah akan terus mencari sumber pendanaan lain. Di antaranya melalui penyelenggaraan tabungan perumahan, ujar Djan. (fas/jpnn)
http://m.jpnn.com/news.php?id=116087

Kamis, 2 Februari 2012 15:41

Wah Bunga KPR Subsidi Mulai Turun Sekarang Dekati BI Rate


watnyus.Com-Tingkat bunga KPR (kredit pemilikan rumah) subsidi yang sekarang kini hanya berkisar 6% sampai 8,25%: lebih dekat dengan tingkat bunga BI Rate yang kini 5%-an. Dengan demikian, turunnya bunga KPR itu bisa menaikkan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah yang berniat membeli rumah murah. Menteri Perumahan Rakyat RI, Djan Faridz, mengatakan hal itu dalam rapat dengan Komisi V DPR RI hari ini di Jakarta.
Sejumlah bank bersedia memberikan bunga KPR sebesar 1%-an di atas BI Rate. watnyus.Com-Tingkat bunga KPR (kredit pemilikan rumah) subsidi yang sekarang kini hanya berkisar 6% sampai 8,25%: lebih dekat dengan tingkat bunga BI Rate yang kini 5%-an. Dengan demikian, turunnya bunga KPR itu bisa menaikkan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah yang berniat membeli rumah murah. Menteri Perumahan Rakyat RI, Djan Faridz, mengatakan hal itu dalam rapat dengan Komisi V DPR RI hari ini di Jakarta.

Menteri Djan Faridz mengatakan bahwa dalam perundingan terakhir, sejumlah bank BUMN (badan usaha milik negara) seperti BRI dan Bank Mandiri bersedia memberikan bunga sebesar 6%-an. Adapun BTN (Bank Tabungan Negara) memberikan bunga sebesar 8,25%.
Ia pun menjelaskan bahwa, nantinya, komposisi dana FLPP berbeda dengan yang terdahulu. Nantinya, komposisi tersebut terdiri dari dana pemerintah sebesar 50%, serta sisanya dari bank yang bersangkutan. Sementara, dulu komposisi dana pemerintah sebesar 62,5%. Dengan komposisi itu, kata Menteri Djan Faridz, jumlah unit rumah subsidi yang bisa didanai oleh pemerintah akan meningkat. Dalam kesimpulan rapat, Komisi V meminta kepada Kementerian Perumahan Rakyat untuk menekan lagi tingkat bunga KPR FLPP mendekati BI Rate. Komisi V pun meminta agar negosiasi tingkat bunga FLPP antara Kementerian Negara Perumahan Rakyat dengan bank penyalur FLPP, bisa selesai selambatnya akhir Februari tahun 2012.[sr] http://www.watnyus.com/baca/118627/wah-bunga-kpr-subsidi-mulai-turun-sekarang-dekati-bi-rate