Anda di halaman 1dari 25

Bibliografi Beranotasi Adger, C., Wolfram, W., Detwyler, J., & Harry, B. (1993).

Confronting dialect minority issues in special education: reactive and proactive perspectives. National Research Symposium on Limited English Proficient Student Issues (3), 1-46. Makalah ini membahas dialek dan sejumlah isu minoritas lain dalam pendidikan khusus. Penelitian ini dilaksanakan, utamanya, oleh C. Adger dan dirangkum dalam makalah ini. Makalah ini mengemukakan ketidakcocokan bahasa di rumah/sekolah dan masalah yang disebabkan oleh kesenjangan ini pada para siswa. Artikel ini juga membahas fakta bahwa banyak siswa keturunan Afrika Amerika dimasukkan ke pendidikan khusus hanya karena dialek yang mereka gunakan. ditempatkan di pendidikan khusus. Baker, W., Eddington, D., Nay, L. (2009). Dialect identification: The effects of region of origin and amount of experience. American Speech. 84(1), 48-71. Penelitian ini mengamati dua faktor bahasa yang bisa mempengaruhi seberapa bagus orang-orang yang mendengarkan bahasa tersebut bisa membedakan apakah penuturnya berasal dari Utah atau non-Utah, dan apa saja karakteristik yang mereka gunakan untuk membedakannya. Kedua faktor tersebut adalah daerah asal, atau apakah seseorang berasal dari Utah, negara bagian sebelah Barat Amerika atau negara bagian bukan sebelah Barat Amerika, dan jumlah pengalaman untuk orang-orang yang bukan berasal dari Utah (apakah mereka telah tinggal di Utah selama kurang dari setahun, lebih dari setahun dan kurang dari lima tahun, atau lebih dari lima tahun). Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa jika dialek pendengar mirip dengan Bahasa Inggris dengan dialek Utah, mereka lebih mungkin bisa mengenali dialek penutur asal Utah. Penelitian ini juga menemukan bahwa pendengar yang berasal dari Utah menggunakan karakteristik Bahasa Inggris Utah yang tidak terlalu stereotipikal untuk pengidentifikasian tersebut, dibandingkan dengan pendengar yang berasal dari negaranegara bagian sebelah Barat. Para penutur yang memiliki lebih banyak pengalaman akan lebih mungkin mengidentifikasi penutur asal Utah dibandingkan pendengar dengan pengalaman lebih sedikit. Meski penelitian ini khusus daerah Utah, saya merasa Para guru perlu mengingat bahwa ketidakcocokan bahasa di rumah/sekolah tidak otomatis berarti bahwa para siswa harus

bahwa penelitian ini bisa dilakukan di negara bagian lain dan mungkin akan menghasilkan data yang serupa. Blake, R. & Cutler, C. (2003). AAE and variation in teachers attitudes: A question of school philosophy? Linguistics and Education, 14(2), 163-194. Penelitian ini mengamati sikap-sikap berdasarkan keyakinan pedagogis para guru mengenai Bahasa Inggris Afrika Amerika di dalam dan di luar kelas. yang saling bertentangan dalam masyarakat pendidikan. Dengan menggunakan sudut pandang yang unik, Blake membantu mensintesiskan sikap-sikap Selain membahas sudut pandang para pendidik, penelitian ini juga menganalisis pertentangan antara keyakinan guru dan filosofi sekolah mengenai pendidikan bidialektisme (bahasa dengan dua dialek) sehingga bisa memberikan pandangan baru bagi para pendidik masa depan. Bryant, T., Charko, T., Pearson, B., & Velleman, S. (2009). Phonological milestones for African American English-speaking children learning mainstream American English as a second dialect. Language, Speech & Hearing Services in Schools. 40(3), 229-244. Penelitian ini mengamati para penutur Bahasa Inggris berdialek Afrika Amerika (AAE/African American English) yang mempelajari Bahasa Inggris berdialek Amerika (MAE/Mainstream American English) sebagai dialek kedua mereka. The Dialect Sensitive Language Test (Tes Bahasa Peka Dialek) diberikan pada sampel tingkat nasional yang terdiri dari anak-anak usia 4-12 tahun yang sedang tumbuh dengan normal: 537 orang penutur AAE sebagai dialek pertama, dan 317 orang penutur MAE sebagai dialek pertama. Ada hasil yang berbeda dari kedua kelompok ini. Hal ini merupakan tantangan umum yang dihadapi di banyak kelas, dan sebagai guru, kita perlu memahami latar belakang para siswa kita, yang kebanyakan berasal dari komunitas dengan AAE sebagai dialek pertama. Hal ini akan membantu kita untuk menilai para siswa kita dengan lebih adil.

Craig, H., Hensel, S., Lingling, Z., & Quinn, E. (2009). African American English Speaking Students: An Examination of the Relationship Between Dialect Shifting

and Reading Outcomes. Journal of Speech, Hearing and Language Research. 52(4), 839-855. Dalam penelitian ini, para penulis meneliti 165 siswa Afrika Amerika yang sedang tumbuh secara wajar dari kelas satu sampai kelas lima dan dampak status sosio-ekonomi (SES/Socioeconomi Status) mereka terhadap kemampuan berbahasa lisan dan tertulis. Setengah dari jumlah tersebut adalah siswa laki-laki dan setengahnya lagi siswa perempuan, sepertiga berasal dari latar belakang dengan SES rendah dan dua pertiga dari keluarga dengan SES menengah ke atas. Mereka meneliti perubahan dialek dari AAE ke Bahasa Inggris Amerika Standar (SAE/Standard American English) lewat evaluasi lisan dan tertulis. Ditemukan bahwa para siswa yang berbahasa AAE yang belajar menggunakan SAE dalam tugas literasi mereka di kelas akan menunjukkan kinerja lebih baik daripada para siswa yang tidak menggunakan penerapan tersebut. Fogel, H. & Ehri, L. C. (2000). Teaching elementary students who speak Black English vernacular to write in Standard English: Effects of dialect transformation practice. Contemporary Educational Psychology, 25, 212 235. Didasarkan pada kejadian-kejadian masa lalu yang berhubungan dengan dialek, Fogel menyajikan sudut pandang historis mengenai pandangan yang bersifat sosial dan edukasional tentang Bahasa Inggris Standar (Standard English) untuk mengemukakan fakta bahwa masih ada kekurangan dalam pedagogi pengajaran. Dengan berfokus pada tiga bentuk pendekatan pengajaran untuk mengintegrasikan Bahasa Inggris Standar kedalam Bahasa Inggris Berlogat Afrika Amerika pada tulisan para siswa, Fogel menemukan bahwa pajanan terhadap teks, pengajaran strategi Bahasa Inggris Standar, digabungkan dengan praktek dengan panduan dan umpan balik merupakan cara yang paling efektif. Artikel ini memberikan sebuah diskusi dan pandangan menyeluruh mengenai metode-metode yang efektif untuk, serta implikasi dari, pengajaran Bahasa Inggris Standar kepada para siswa yang memiliki dialek berbeda dari Bahasa Inggris Standar. Fox, R., Jacewicz, E., ONeill, C., & Salmons, J. (2009). Articulation rate across dialect, age, and gender. Language Variation & Change. 21(2), 233-256. Penelitian ini mengamatai bagaimana sejumlah bahasa dan dialek non standar bisa

diujarkan (diucapkan) lebih lambat atau lebih cepat daripada bahasa atau dialek lain. Apakah hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam pemahaman bahasa? Kecepatan ujaran terkait dengan penanda ujaran (marking of speech) yang bersifat sosial, fisik, dan psikologis. Daerah juga diteliti dalam penelitian ini, dan ditemukan bahwa tingkat artikulasi sangat berbeda diantara berbagai daerah yang diteliti. Sekelompok orang dari Wisconsin, atau penutur dari Amerika bagian Utara, berbicara jauh lebih cepat daripada sekelompok penutur dari Amerika bagian Selatan, yaitu North Carolina. Remaja yang baru beranjak dewasa (young adult) cenderung membaca lebih cepat daripada orang dewasa yang lebih tua (older adult) di kedua daerah. daripada orang dewasa. Namun, dalam percakapan informal, ditemukan bahwa hanya remaja daerah Utara yang berbicara lebih cepat Gender merupakan faktor yang cukup terbatas dalam mempengaruhi tempo bicara. Godley, A.J., & Minnici, A. (2008) Critical Language Pedagogy in an Urban High School English Class. Urban Education, 43(3), 3191-346. DOI: 10.1177/0042085907311801 Penelitian ini digunakan untuk mengetahui dampak penerapan unit pembelajaran selama seminggu penuh tentang variasi bahasa di kelas yang terdiri dari para siswa yang berbicara menggunakan dialek bahasa Inggris non standar. Lewat diskusi kelas, wawancara, serta kuesioner pra dan pasca tes, para peneliti ini berusaha menemukan pendakatan yang signifikan untuk mengajarkan bahasa bagi para penutur dengan dialek yang terstigmatisasi ini. Unit pembelajaran yang didiskusikan disini memberikan peluang bagi para siswa untuk membandingkan berbagai sudut pandang tentang variasi bahasa dan dialek. Ini merupakan contoh solid mengenai bagaimana metode pendidikan yang mengintegrasikan keberagaman bahasa bisa dilaksanakan dan berbagai peluang pembelajaran yang bisa dimunculkannya. maupun bagi siswa. Godley, A.J., Sweetland, J., Wheeler, R.S., Minnici, A., & Carpenter B.D. (2006) Preparing Teachers for Dialectally Diverse Classrooms. Educational Researcher, 35(8), 30-37. DOI: 10.3102/0013189X035008030 Para penulis artikel ini mengumpulkan berbagai penelitian sebelumnya dan penelitian Hal ini bisa bermanfaat baik bagi guru

mereka sendiri dengan para guru untuk membahas isu-isu persiapan guru dan mendiskusikan bahwa persiapan guru perlu didasarkan pada pemahaman sosiolinguistik dan keragaman dialek. Hampir bisa dipastikan bahwa hampir semua guru akan menghadapi jenis kelas seperti ini (dengan keragaman sosiolinguistik dan dialek). Para penulis ini menjabarkan kerangka untuk mempersiapkan para guru menghadapi keberagaman dialek di kelas. Pada intinya, artikel ini akan sangat bagus bagi semua orang yang ingin membaca tentang isu-isu yang muncul berkaitan dengan keragaman linguistik dan dialek dan bagaimana kita sebagai guru baru bisa menangani berbagai isu ini dengan cara yang bisa memunculkan pembelajaran dan pemahaman mengenai isuisu tersebut. Kennedy, E. (2006) Literacy development of linguistically diverse first graders in a mainstream English classroom: Connecting speaking and writing. Journal of Early Childhood Literacy 6(2)163-189. DOI: 10.1177/1468798406066441 Penelitian dalam artikel ini mengamati lima siswa kelas satu yang berasal dari keluarga dimana Bahasa Inggris bukan merupakan bahasa utama, dan bagaimana diajari di kelas monolingual (yang menggunakan satu bahasa) mempengaruhi perkembangan literasi mereka. Penulis menemukan bahwa hal ini memunculkan dampak negatif terhadap perkembangan kognitif dan emosional anak saat mereka dipaksa hanya membaca dan menulis dalam bahasa Inggris arus utama. Artikel ini mendiskusikan sejumlah isu yang dihadapi oleh anak-anak ini, dan juga memberikan sejumlah ide mengenai cara untuk mengembangkan ruang multi kultural bagi anak-anak dalam situasi-situasi semacam ini sehingga mereka bisa merasa nyaman di kelas, menganggap perbedaan mereka berharga, dan menjadi pembelajar yang aktif dan terlibat.

Laosa, L. (1979). Inequality in the classroom: observational research on teacher student interactions. Aztlan, A Journal of Chicano Studies, 8(1-2), 51-67. Ciri-ciri yang sering muncul diantara para siswa etnis minoritas juga ditemukan menentukan ekspektasi guru terhadap para siswa tersebut dan juga bisa mempengaruhi interaksi mereka dengan para siswa tersebut. Karakteristik-karakteristik yang direpresentasikan secara tidak proporsional para para siswa ini mencakup status

sosioekonomi yang rendah, pencapaian akademis yang rendah, dan juga dialek. Penelitian ini penting bagi kelompok saya karena menunjukkan bahwa kita harus berusaha untuk memfasilitasi semua dialek. Lucas, C., & Borders, D. (1987). Language diversity and classroom discourse. American Educational Research Journal, 24(1), 119-141. Artikel ini membahas sejumlah penelitian sebelumnya serta penelitian yang dilaksanakan oleh para penulis. Para penulis melaksanakan penelitian yang menggali aturan-aturan interaksi dalam kelas dan apa yang dilakukan oleh para guru untuk mempengaruhi gaya interaksi tersebut. Ini bisa sangat berguna bagi topik kelompok saya karena akan menunjukkan cara interaksi guru dengan siswa mempengaruhi pencapaian dan tanggapan mereka. Martinez, G. (2003). Classroom based dialect awareness in heritage language instruction: a critical applied linguistic approach. Heritage Language Journal, 1(1), 1-14. Artikel ini berfokus pada kesadaran dialek, dengan fokus spesifik pada Pelajar Bahasa Spanyol sebagai Warisan Budaya (SHL/Spanish for Heritage Learner). Martinez menyatakan bahwa mengharuskan semua siswa untuk menggunakan dan meniru dialog standar yang diterima secara luas akan mengirimkan pesan pada para siswa bahwa dialek dan cara bicara mereka sendiri tidak cukup bagus. (classroom-based dialect awareness). Samuel, A., & Sumner, M. (2009). The effect of experience on the perception and representation of dialect variants. Journal of Memory & Language. 60(4), 487-501. Mengenali kata-kata lisan secara universal sangat sulit dilakukan, terutama jika kita mempertimbangkan juga variasi dialek yang ada. Penelitian ini mengamati kehidupan di sebuah daerah dialek baru, dan bagaimana pemrosesan perbedaan dialek ini berkurang seiring waktu. Mereka mengamati isu variasi dialek dalam pengenalan katakata lisan, dan melihat bagaimana varian lintas dialek dikenali. Mereka menemukan bahwa penggunaan dialek tidak selalu merupakan representasi dari persepsi dialek, dan Martinez mendukung kesadaran dialek di kelas dan mendorong CBDAkesadaran dialek berbasis kelas

bahwa pengalaman di satu tempat tertentu bisa sangat mempengaruhi kemampuan pendengar untuk mengenali kata-kata ini. Ada manfaat yang bisa didapat dari tinggal lama di suatu tempat yang memiliki dialek yang serupa dengan, atau yang memang, dialek kita sendiri. Lebih mudah mengenali dan merepresentasikan kata-kata lisan dalam situasi ini. Schmidt, R.W., & McCreary, C.F. (1977). Standard and super-standard English: recognition and use of prescriptive rules by native and non-native speakers. TESOL Quarterly, 11(4), 415-429. Para penulis artikel ini melaksanakan sebuah penelitian yang menunjukkan pada akhirnya bahwa Bahasa Inggris standar bukanlah sebuah sistem universal yang terdefinisikan dengan baik sebagaimana yang dikira selama ini. Artikel ini menunjukkan bahwa semua bentuk Bahasa Inggris pada dasarnya non-standar dan bahwa variasi sebenarnya justru merupakan norma (aturan) yang pasti ada. Artikel ini kemudian menyatakan bahwa Bahasa Inggris berstandar super tidak selalu merupakan bahasa Inggris yang fungsional meskipun kebanyakan masyarakat sepertinya berusaha menguasai bahasa tersebut. Artikel ini penting bagi topik kami karena membantu mengungkapkan variasi bahasa Inggris dan bahwa dialek para siswa kami harus dianggap sebagai salah satu variasi dari bahasa yang sama dan tidak boleh diremehkan atau dicemooh.

Siegel, J. (1999). Stigmatized and standardized varieties in the classroom: Interference or separation? TESOL Quarterly, 33(4), 701 728. Mensintesiskan penelitian-penelitian global mengenai dampak implementasi dialek di kelas, Siegel menyajikan sangat banyak bukti yang mendukung penggunaan dialek asli siswa di kelas. Berdasarkan program instrumental, program akomodasi, dan program kesadaran, Siegel mengungkapkan hasil positif penggunaan dialek siswa di berbagai kelas yang berbeda secara budaya. Analisis Siegel atas berbagai penelitian tentang penggunaan dialek asli siswa memberikan pemahaman penting bagi para pembaca mengenai hubungan antara bahasa Inggris dengan dialek siswa dengan pembelajaran. Kajian ini memberikan pandangan mengenai kenapa integrasi berbagai dialek di kelas

sangat penting bagi pembelajaran siswa. Solano-Flores, G. (2006). Language, dialect, and register: Sociolinguistics and the estimation of measurement error in the testing of English language learners. Teachers College Record, 108(11), 2354-2379. Dengan menganalisis artikel-artikel yang dikaji oleh rekan kerja (peer-reviewed) yang membahas bahasa, dialek, register, serta perkiraan kekeliruan dalam pengujian Pembelajar Bahasa Inggris (ELL/English Language Learner), Solano-Flores merangkum bahwa dalam pengujian, bahasa, dialek, dan register merupakan tiga faktor yang terukur tanpa disengaja dan mempengaruhi skor tes. Memfokuskan pada aspek dialek yang relevan dengan topik ini, Solano-Flores menyatakan bahwa terlepas dari bahasa yang disajikan dalam pengujian, variasi dialek bisa memiliki dampak besar terhadap hasil pengujian dan variasi ini seringkali sama pentingnya dengan bahasa saat menguji para siswa ELL. Menggunakan banyak sumber, Solano-Flores mengilustrasikan bias yang terkait dengan variasi dalam bahasa yang merusak hasil pengujian. Yang terakhir, Solano-Flores menyajikan sebuah rangkuman menyeluruh tentang penelitian terkini dan kemungkinan solusi yang bisa membantu menghilangkan bias bahasa, dialek, dan register dalam pengujian.

Solano-Flores, G., Li, M. (2006). The use of generalizability (G) theory in the testing of linguistic minorities. Educational Measurement: Issues and Practice, 25(1), 13 22. Penelitian ini mengamati dampak komposisi dialek dalam pengujian terhadap kinerja ujian siswa. Solano-Flores mengkritik pengujian yang hanya menyediakan Bahasa Inggris Standar dan tidak bisa mengatasi perbedaan bahasa yang penting, dan menyatakan bahwa kinerja siswa sangat tergantung pada dialek yang digunakan dalam perangkat pengujian tersebut. Secara keseluruhan, tulisan ini memberikan sudut pandang unik mengenai pengujian dialek yang memunculkan hasil yang lebih baik dan menggunakan sudut pandang multikultural. Wheeler, R.S., & Swords, R. (2004). Codeswitching: tools of language and culture

transform the dialectally diverse classroom. National Council of Teachers of English, 81(6), 470-481. Pertukaran bahasa (codeswitching) disebut dalam artikel jurnal ini sebagai sebuah perangkat yang bisa mengubah pengajaran literasi (kebahasaan) di kelas. Para guru dalam artikel ini membahas isu-isu yang mereka hadapi saat mengajar para siswa yang memiliki berbagai dialek. Artikel ini mematahkan asumsi umum bahwa variasi bahasa lain tidak memiliki aturan tata bahasa (grammar) yang cukup. Para guru dalam artikel ini berusaha mengubah pengajaran mereka agar lebih bisa memenuhi kebutuhan para siswa mereka di kelas, terutama para siswa Afrika-Amerika, yang memiliki beragam dialek. Tujuannya adalah agar para siswa ini dinilai secara lebih adil dalam tes tingkat negara bagian, dimana rekan-rekan mereka, para siswa Kaukasia, memiliki kinerja lebih baik. Artikel ini penting bagi topik saya karena membantu para guru menyusun ulang kerangka pemikiran yang mereka gunakan untuk memandang bahasa. Wheeler, R.S. (2006) What do we do about student grammar - all those missing -et's and -s's? Using comparison and contrast to teach Standard English in dialectally diverse classrooms. English Teaching: Practice and Critique, 5(1), 1633. Diambil 11 Agustus 2009, dari http://cducation.waikato.ac.nz/rcsearch/files/etpc/2006v5nlartl.pdf Artikel ini menggunakan sudut pandang yang bertentangan, yaitu mengintegrasikan berbagai dialek ke dalam kelas, tapi ada satu masalah penting, yaitu Bahasa Inggris Standar masih harus diajarkan. Penulis mendasarkan pada pengalaman dan hambatan di masa lalu untuk menjelaskan dan mendiskusikan ide-ide mengenai cara penggunaan berbagai perangkat keragaman bahasa dan budaya untuk mengajarkan Bahasa Inggris Standar di daerah urban. Artikel ini memberikan pandangan yang sangat bagus mengenai cara kita menganggap keragaman bahasa di kelas dan bagaimana isu-isu ini bisa dihubungkan dengan pembelajaran dan diintegrasikan dalam pengajaran. Yiakoumetti, A. (2007) Choice of classroom language in bidialectal communities: to include or to exclude the dialect?. Cambridge Journal of Education 37(1), 51-66. DOI: 10.1080/0305764060117904

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bukti yang bisa memberikan informasi mengenai manfaat pendidikan bidialek (dengan dua dialek). Mereka memandang pengajaran dari tiga sudut pandang pengajaran berbeda, yaitu dialek standar sebagai media pengajaran, penggunaan dialek nonstandar sebagai media pengajaran, dan yang terakhir, pengajaran dua dialek (bidialek) yang menggunakan dialek standar dan dialek non standar sekaligus. Artikel ini memberikan pandangan mengenai hasil penggunaan berbagai pendekatan dan manfaat yang muncul dari pengintegrasian berbagai dialek sebagai sarana pengajaran. Meski penelitian ini dilaksanakan di negara lain, implikasi dan hasil yang ditemukan dalam artikel ini patut dipikirkan dan diterapkan pada keragaman linguistik dan masalah yang kita hadapi di kelas terkait dengan isu-isu ini. Ascher, C. Assessing Bilingual Students for Placement and Instruction (ERIC Clearinghouse on Urban Education, #65, May 1990).* Menjelaskan sulitnay menilai bahasa dominan siswa dwibahasa dan pengaruh satu bahasa terhadap bahasa satunya, serta dampak pengaruh ini terhadap penilaian pendidikan dan penilaian psikologis. Membahas kesalahan diagnosis yang disebabkan oleh bias linguistik dalam pengujian. Memperhatikan perbedaan antara kompetensi berbahasa dengan kompetensi komunikasi, dan secara singkat menyajikan penilaian dinamika sebagai alternatif untuk tes terstandarisasi. Baca, L. & Cervantes, H.T. The Bilingual Special Education Interface (Columbus, OH: Merrill, 1989). Terutama berfokus pada kebutuhan utama para siswa LEP**. Memberikan model, kurikulum, dan strategi untuk mendiagnosa dan mendidik para siswa ini. Bab 7 membahas penilaian bahasa, dan Bab 8 membahas prosedur penilaian. Kedua bab ini mencakup kriteria pemilihan tes terstandarisasi untuk para siswa LEP khusus, dampak pengujian para siswa ini dalam Bahasa Inggris, dan metode yang tepat untuk menilai kecakapan berbahasa. Baker, K. & Rossell, C. "An Implementation Problem: Specifying the Target Group for Bilingual Education." Educational Policy (Vol. 1, #2, hal. 249-270, 1987).

Menjabarkan masalah yang tidak diidentifikasi secara tepat mengenai para siswa dwibahasa yang membutuhkan peniddikan dwibasaha transisional. Mengkaji berbagai keputusan pengadilan, aturan, dan perundang-undangan federal terkait dengan penempatan siswa dalam pendidikan dwibahasa. Menemukan penggunaan tes secara serampangan dan ketidaksesuaian dengan peraturan pemerintah federal. Membahas berbagai masalah kesalahan klasifikasi dan menyebutkan status sosioekonomi yang rendah sebagai faktor yang berkontribusi terhadap kesalahan klasifikasi tersebut. Bilingual Education Office, California Department of Education. Assessing Students in Bilingual Contexts: Provisional Guidelines (Sacramento, CA: Author, 1994). Panduan untuk pengujian dan penilaian siswa mengikuti kebanyakan rekomentasi yang diberikan oleh para kritikus penggunan tes terstandarisasi untuk para siswa dengan LEP**, seperti penilaian siswa dalam dua bahasa, tidak menggunakan tes yang diterjemahkan, dan menyusun penilaian terpisah untuk para siswa LEP. Menekankan agar tidak mengecualikan para siswa LEP dari penilaian reguler, meningkatkan pengembangan staf bagi para guru, dan komunikasi yang lebih baik dengan orangtua siswa mengenai pentingnya penilaian dalam dua bahasa. California Learning Record (dalam bentuk Bahasa Spanyol). (El Cajon, CA: Center for Language in Learning, 1994). Dipesan dari 10610 Quail Canyon Rd., El Cajon, CA 92021; 619-443-6320. Mengintegrasikan pengajaran dan penilaian literasi dari sudut pandang bahasa secara keseluruhan. Diadaptasi dari Primary Language Record (Catatan Bahasa Utama), yang disusun untuk digunakan pada populasi sekolah multibahasa. CLR memberikan buku panduan pada para guru di kelas TK-kelas 6 dan di kelas 6-12, format untuk mendokumentasi pembelajaran siswa, dan skala serta arahan untuk mengevaluasi dan mencatat kemajuan siswa. Berbagai format dan skala ini sekarang tersedia dalam bahasa Spanyol, sehingga lebih berguna di kelas-kelas dimana bahasa Spanyol digunakan dan untuk para orangtua siswa yang berbahasa Spanyol. Carpenter, L.J. Bilingual Special Education: An Overview of Issues (National Center for Bilingual Research, Los Alamitos, CA, Agustus 1983).*

Menjelaskan dasar hukum dalam pendidikan khusus dan pendidikan dwibahasa, mendefinsikan populasi yang harus dilayani oleh pendidikan khusus dwibahasa, dan memberikan perkiraan jumlah siswa yang masuk kategori ini. Menjabarkan sejumlah instrumen yang digunakan untuk menilai bahasa dominan dan kecakapan berbahasa. Membahas hakikat interaksi antara tes dengan perbedaan bahasa dan budaya. Mengusulkan arah penelitian lebih lanjut. Cheng, L. "The Identification of Communicative Disorders in Asian-Pacific Students." Journal of Childhood Communication Disorders (Vol. 13, #1, hal. 113-19, 1990). Mengusulkan dan menjabarkan sebuah jenis penilaian baru untuk digunakan pada para siswa Asia-Pasifik untuk menilai gangguan komunikatif. Disebut penilaian etnografis (etnographic assessment), alternatif untuk tes kecakapan berbahasa terstandarisasi ini memungkinkan para siswa melakukan komunikasi asli dalam lingkungan alami untuk tujuan diagnosis.

Cummins, J. "Tests, Achievement, and Bilingual Students." Focus (National Clearinghouse of Bilingual Education, #9, Feb 1982).* Menjelaskan masalah ksalahan penggunaan skor tes untuk mendiagnosis dan melabeli siswa sebagai akibat dari bias linguistik dan bias kultural dalam tes. Menjabarkan sejumlah miskonsepsi umum mengenai cara terbaik untuk mendidik dan menilai para siswa dwibahasa, mendefinisikan kecakapan berbahasa yang terkandung dalam konteks (context-embedded) versus kecakapan berbahasa yang terlepas dari konteks (context-reduced), dan menyajikan sebuah kontinuum yang menunjukkan hubungan antara kecakapan berbahasa dengan pencapaian akademis. Damico, J. "Performance Assessment of Language Minority Students." Dalam Focus on Evaluation (Volume 1, 1992) [lihat dibawah]. Menyimpulkan bahwa penilaian kinerja para siswa dari kalangan minoritas bahasa harus menargetkan dan mengevaluasi kinerja berbahasa asli. memungkinkan penekanan pada perilaku asli (otentik). Menjelaskan kesulitan prosesnya. Mengusulkan pendekatan penilaian kinerja yang lebih deskriptif, sehingga

Duran, R. "Assessment and Instruction of At-Risk Hispanic Students." Exceptional Children (Vol. 56, #2, hal. 154-8, 1989a)* [seluruh terbitan ini membahas pendidikan dan penilaian dwibahasa]. Merangkum masalah-masalah yang ada dalam tes terstandarisasi saat digunakan pada para siswa Hispanik. Memfokuskan pada bias linguistik, kesenjangan antara kemahiran berbahasa yang dinilai dalam tes terstandarisasi dengan kegiatan komunikatif alami, dan kurangnya validitas pengajaran untuk tes terstandarisasi. Menjabarkan dua alternatif, kinerja dengan bantuan (assisted performance) dan penilaian dinamika (dynamic assessment). Summarizes existing problems of standardized tests when used with Hispanic students. Focuses on linguistic bias, discrepancy between language skills assessed in standardized tests versus natural communicative activities, and lack of instructional validity of standardized tests. Describes two alternatives, "assisted performance" and "dynamic assessment." Duran, R. "Testing of Linguistic Minorities." Dalam R. Linn (Ed.), Educational Measurement, Third Edition (New York: Macmillan, 1989b, hal. 573-587). Memberikan gambaran tentang masalah-masalah utama dan kemajuan yang dibuat dalam bidang-bidang penilaian minoritas bahasa berikut: penilaian kecakapan berbahasa, penilaian kognitif, penilaian pencapaian sekolah, penilaian pendidikan khusus, dan penilaian penerimaan perguruan tinggi. Membahas pengaruh kultural dan sosioekonomi terhadap pemikiran dan kinerja saat ujian. Duran, R. "Testing of Hispanic Students: Implication for Secondary Education." (Santa Barbara, CA: Linguistic Minority Research Project and Graduate School of Education, University of California, Santa Barbara, 1988). Menyajikan bukti tentang masalah pengujian siswa Hispanik untuk tujuan penentuan jalur pendidikan. Mendefinsikan implikasi bagi penentuan jalur pendidikan (tracking), membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja tes siswa Hispanik, dan menyajikan data pencapaian pendidikan siswa Hispanik, mencakup data program pengujian wajib dari negara. Menekankan pada kesalahan diagnosis para siswa

Hispanik yang ditempatkan di pendidikan khusus berdasarkan skor tes kecerdasan mereka dan menjabarkan sebuah alternatif, penilaian dinamis. ERIC Clearinghouse on Handicapped and Gifted Children, Assessing the Language Difficulties of Hispanic Bilingual Students (ERIC Abstract #23, Agustus 1989).* Merangkum masalah-masalah penggunaan tes terstandarisasi untuk siswa dwibahasa, dengan penekanan pada ketidakmampuan kebanyakan tes untuk membedakan antara perilaku yang berhubungan dengan pemerolehan bahasa kedua yang normal dengan perilaku yang terkait dengan masalah atau gangguan berbahasa. Membahas kesulitan penilaian bahasa dominan, bahasa yang paling dikuasai oleh siswa dwibahasa, secara akurat. Estrin, E. T. "Alternative Assessment: Issues in Language, Culture, and Equity."Knowledge Brief, #11 (San Francisco: Far West Laboratory, 1993). Rangkuman atas banyak isu penting dalam gerakan reformasi penilaian saat ini. Menyajikan informasi untuk mempertimbangkan isu-isu kesetaraan. bahwa semua penilaian harus melibatkan pengalaman dan Menyatakan nilai kultural.

Merekomendasikan penilaian portofolio dan penilaian kinerja di kelas multibahasa atau multikultural, tapi mewanti-wanti bahwa penilaian semacam ini mungkin tidak sesuai dengan pengalaman sosial dan praktek masyarakat bagi sejumlah siswa. Figueroa, R. A. "Best Practices in the Assessment of Bilingual Children." In A. Thomas & J. Grimes (Eds.), Best Practices in School Psychology (Washington, DC: National Association of School Psychologists, 1990, hal. 93-106). Mengkaji isu-isu historis dan kontemporer yang relevan dengan pengujian siswa dwibahasa. Mengkritik dan mengkaji praktek-praktek pengukuran kecerdasan untuk para siswa dwibahasa. Menyimpulkan bahwa penilaian membutuhkan waktu yang lebih lama untuk para siswa dwibahasa dibandingkan dengan para siswa satu bahasa (monolingual) dan mengandalkan pada pengamatan dan penilaian penguji. Figueroa, R.A. "Psychological Testing of Linguistic-Minority Students: Knowledge Gaps and Regulations." Exceptional Children (Vol. 56, #2, hal. 145-52, 1989) [Terbitan ini membahas pendidikan dan penilaian dwibahasa].

Mengambil sikap bahwa tak seorangpun tahu kapan seorang siswa yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris siap untuk diuji hanya dalam Bahasa Inggris. Membahas penelitian yang berhubungan dengan pemerolehan kecakapan akademis Bahasa Inggris dan dampak bilingualisme terhadap proses mental. Menyatakan bahwa faktor-faktor ini tidak dipertimbangkan dengan cukup baik saat menguji siswa bilingual. First, J.M. & Willshire Carrera, J. New Voices: Immigrant Students in U.S. Public Schools (Boston: National Coalition of Advocates for Students, 1988). Membahas penilaian dan penempatan siswa dwibahasa dan bahaya pengujian terstandarisasi. Menyajikan sejumlah alasan kenapa para siswa imigran yang fasih berbahasa Inggris tidak memiliki skor tes terstandarisasi yang sama baiknya dengan para siswa penutur asli bahasa Inggris. Mencakup komentar dari para guru, peneliti, pengacara, orangtua siswa, dan pihak-pihak lain yang telah menyaksikan dampak pengujian terstandarisasi. Juga menjabarkan: penggunaan skor tes sebagai ukuran pertanggungjawaban, politik yang ada di sekitar kinerja tes, proses penentuan jalur dan ekspektasi yang rendah bagi para siswa imigran oleh personel sekolah, dan penolakan atau penempatan yang tidak cocok bagi para siswa. Focus on Evaluation and Measurement. Proceedings of the Second National Research Symposium on Limited English Proficient Student Issues (Washington, DC: U.S. Department of Education, Office of Bilingual Education and Minority Languages Affairs, 1992, 2 Volume.).* Kompilasi makalah dari Konferensi Penelitian Nasional Kedua (Second National Research Conference) yang disponsori oleh Kementrian Urusan Pendidikan Dwibahasa dan Minoritas Bahasa (Office of Bilingual Education and Minority Languages Affairs). Dokumen-dokumen ini memfokuskan pada peran penilaian dalam hubungannya dengan pertanggungjawaban dan perbaikan program di tingkat daerah, negara bagian, dan federal. Para penulis ini yakin bahwa inti gerakan reformasi sekolah adalah penyebaran inovasi evaluasi dan pengukuran. Makalah oleh Damico, Frenc, Ortiz, Canales, dan Geisinger dituliskan masing-masing secara terpisah dalam bibliografi ini. French, R. "Portfolio Assessment and LEP Students." In Focus on Evaluation (Volume 1, 1992) [lihat diatas].

Menyajikan argumen yang mendukung bentuk penilaian alternatif. Merekomendasikan penggunaan penilaian portofolio dalam evaluasi para siswa LEP**. Mendorong penilaian alternatif yang menunjukkan apa yang diketahui dan mampu dilakukan oleh para siswa LEP. Berhubungan dengan validitas dan pertanggungjawaban penilaian yang digunakan untuk mengevaluasi para siswa dwibahasa. Gndara, P. & Merin, B. "Measuring the Outcomes of LEP** Programs: Test Scores, Exit Rates, and Other Mythological Data." Educational Evaluation and Policy Analysis (Vol. 15, #3, Fall 1993). Meneliti penggunaan data tes, reklasifikasi, dan batas lulus (exit rate) untuk para siswa LEP sebagai sarana untuk menentukan tingkat kemajuan akademis dan pemerolehan bahasa kedua untuk berbagai jenis siswa dengan LEP. Menemukan bahwa tes tidak memadai untuk kebutuhan kebijakan. Merekomendasikan sebuah definisi LEP tingkat nasional, evaluasi otentik berkelanjutan untuk kemajuan akademis tiap anak, dan usaha nasional untuk menyusun dan mengidentifikasi sejumlah penilaian kecakapan berbahasa dan pencapaian akademis untuk program perbandingan. Geisinger, K. F. "Testing Limited English Proficient Students for Minimum Competency and High School Graduation." In Focus on Evaluation (Volume 2, 1992) [lihat diatas]. Menjelaskan bahwa berbagai negara bagian tidak memiliki prosedur yang konsisten (berbeda-beda di tiap daerah) untuk menilai para siswa LEP** pada ujian kompetensi minimum di tingkat daerah atau di tingkat negara bagian. Menyatakan bahwa sebagian besar tes kompetensi tingkat negara bagian mengukur pengetahuan kumulatif, dan dengan demikian, tidak membantu dalam mendiagnosa kemampuan siswa dan dalam pengajaran siswa. Menyatakan bahwa tes kompetensi harus berguna untuk meningkatkan pendidikan para siswa LEP dan harus dikaitkan dengan kurikulum. Mengusulkan agar para penguji dilatih untuk menguji para siswa LEP dan agar mereka mempertimbangkan faktor kemahiran berbahasa, akulturasi, dan sosioekonomi dalam menilai tingkat kemampuan individu siswa. Geisinger, K. F. (Ed.), Psychological Testing of Hispanics (Washington, D.C. : American Psychological Association, 1992).

Buku ini didasarkan pada sebuah konferensi. Memfokuskan pada penggunaan tes yang tepat utuk para siswa Hispanik. Terdiri dari empat bagian: Bagian Satu membahas isuisu teknis, sosial, legal (hukum) dan isu-isu luas lainnya; Bagian Dua, mengenai penilaian pendidikan, membahas bias tes, penerimaan di pendidikan tinggi, dan penilaian alternatif utuk pembelajaran individu; Bagian Tiga membahas pengujian untuk tujuan pekerjaan; sementara Bagian Empat membahas isu penilaian akulturasi dan penilaian klinis. Gnzalez, V., Bauerle, P., & Flix-Holt, M. "Assessment of Language-Minority Students." NABE News (June 15, 1994, hal.13-15). Merangkum cara yang lebih baik untuk menilai para siswa dari kalangan minoritas bahasa, berdasrkan pada Konferensi Asosiasi Nasional Pendidikan Dwibahasa (National Association of Bilingual Education Conference) tahun 1994. Mengajukan enam tesis untuk penilaian siswa dwibahasa: pengujian dalam dua bahasa; penilaian menggunakan pegnalaman sehari-hari yang sudah dikenal dalam item-item pertanyaan tes; penilaian terindividualisasi; penggunaan pengukuran majemuk (lebih dari satu ukuran); mempertimbangkan latar belakang penguji; dan menggunakan prosedur penilaian verbal dan non-verbal. Harris Stefanakis, E. Whose Judgment Counts?: Assessing Bilingual Children, K-3 (Heinemann, 1998). Buku ini memberikan sejumlah kecakapan yang dibutuhkan oleh para guru untuk membuat penilaian yang baik atas para siswa dwibahasapertama, mengamati isu-isu sosial, kultural, dan bahasa, kemudian memfokuskan pada pembelajaran. Ceritanya menyampaikan kerumitan penilaian kelas dan memberikan contoh nyata mengenia apa yang diketahui oleh guru yang efektif tentang penilaian siswa. Hoover, M.R., Politzer, R.L., & Taylor, O. "Bias in Reading Tests for Black Language Speakers: A Sociolinguistic Perspective." (Dalam Hilliard, lihat diatas, hal. 81-98). Merinci bias yang berhubungan dengan bahasa dalam tes terstandarisasi untuk para penutur Bahasa Inggris non standar, mencakup isu fonologi (bunyi), sintaksis (struktur),

dan leksikal (pilihan kata dan kosakata). Konsekuensi dari bias ini mencakup kesalahan penempatan siswa pada program sekolah yang menyebabkan ketidakcocokan pendidikan bagi para siswa yang bukan dari kalangan kulit putih kelas menengah atas. Menghilangkan bias-bias ini sangat penting untuk mengurangi bias pendidikan dan bias sosial yang merugikan anak-anak dari kalangan minoritas dan kelas pekerja. Lacelle-Peterson, M. W. & Rivera, C. "Is It Real for All Kids? A Framework for Equitable Assessment Policies for English Language Learners." Harvard Educational Review (Vol. 64, #1, Musim Semi 1994, hal. 55-73). Membahas pro dan kontra pengujian para siswa dengan instrumen yang tidak divalidasi untuk mereka. Menyatakan bahwa jenis reformasi penilaian yang diusulkan untuk siswa monolingual (satu bahasa) mungkin bukan bentuk reformasi penilaian yang bisa cocok digunakan untuk menilai para pembelajar bahasa Inggris (ELL/English Language Learner). Memberikan peringatan bagi penilaian kinerja, seperti memperhatikan peran bahasa dalam kriteria penentuan skor. Merekomendasikan program dwibahasa yang memberikan peluang bagi para ELL untuk menjadi biliterate (memiliki literasi dwibahasa). Lam, T.C.M. & Gordon, W.I. "State Policies for Standardized Achievement Testing of Limited English Proficient Students." Education Measurement: Issues and Practice (Musim Dingin 1992, hal. 18-20). Analisis survei menunjukkan kurangnya kebijakan dan panduan dari negara bagian mengenai pengujian siswa yang memiliki LEP**, yang kemungkinan menyebabkan bias dalam pengujian para siswa ini. Para siswa seringkali diuji dengan tidak tepat. Menemukan sedikit data tes mengenai kelayakan pengujian bagi para siswa dengan LEP. Merekomendasikan penelitian lebih jauh dan penyusunan panduan. Mestre, J.P. & Royer, J.M. "Cultural and Linguistic Influences on Latino Testing." In G. Keller, J. Deneen, & R. Magallan (Eds.), Advances in Assessment and Their Application to Latino College Students Access (Stony Brook, NY: State University of New York Press, 1988). Mendiskusikan sejumlah cara dimana budaya dan kecakapan berbahasa mempengaruhi

kinerja (pencapaian kognitif). Menjabarkan dampak negatif materi yang tidak familiar secara budaya (bagi siswa) terhadap pembelajaran dan skor tes minoritas, serta membahas status sosioekonomi rendah sebagai faktor tambahan yang perlu dipertimbangkan. Mengajukan sebuah prosedur penilaian untuk para siswa yang sedang dalam proses pemerolehan bahasa kedua, yang disebut Teknik Verifikasi Kalimat (Sentence Verification Technique). siswa dwibahasa. Navarrete, C., Wilde, J., Nelson, C., Martinez, R., & Hargett, G. Informal Assessment in Educational Evaluation: Implications for Bilingual Education Programs (National Clearinghouse for Bilingual Education, Musim Panas 1990, 24 halaman).* Menyajikan sejumlah masalah pengujian terstandarisasi dalam program pendidikan dwibahasa dan menawarkan teknik-teknik penilaian informal sebagai alternatifnya. Mendefinisikan penilaian informal, menjabarkan contoh-contoh penilaian informal baik yang terstruktur maupun yang tidak terstruktur, dan menjelaskan berbagai metode penentuan skor untuk penilaian ini. Memberikan panduan untuk menggunakan portofolio dalam program pendidikan dwibahasa. Menjabarkan masalah pembedaan antara ketidakmampuan pendidikan (gangguan pembelajaran) dengan perbedan budaya atau bahasa. Mengkaji penelitian di bidang ini. Mendefinisikan umum. O'Connor, M.C. "Aspects of Differential Performance by Minorities on Standardized Tests: Linguistic and Sociocultural Factors." Dalam B.R. Gifford (Ed.), Test Policy and Test Performance: Education, Language, and Culture (Norwell, MA: Kluwer, 1989). Kajian komprehensif mengenai berbagai sudut pandang literatur dan penelitian yang ada mengenai tes terstandarisasi. Membahas isu-isu kebijakan, masalah penerjemahan tes, bias linguistik dan kultural dalam item-item pertanyaan, dan pengaruh sosiokultural terhadap pelaksanaan tes. Buku ini mengandung sejumlah bab yang membahas penilaian kaum minoritas di pendidikan tinggi dan di dunia kerja. penilaian non-diskriminatif (nondiscriminatory assessment), menyajikan metode untuk mengurangi bias, dan mendata praktek-praktek penilaian Menjabarkan rasionalisasi, penentuan dan interpretasi skor, pertanggungjawaban dan validitas, serta penggunaan tes ini untuk

Oller, J. W. & Damico, J. S. "Limiting Bias in the Assessment of Bilingual Children." In Hamayan, E. V., & Damico, J.S. (Eds.), Theoretical Considerations in the Assessment of LEP Students (Austin, TX: Proeditions, 1991, hal. 77-110). Mengemukakan teori kecakapan berbahasa berdasarkan tulisan C.S. Pierce, yang mencakup penilaian pembelajar bahasa berdasarkan pengamatan perilaku. Menyatakan bahwa penilaian kinerja para siswa minoritas bahasa harus mentargetkan dan mengevaluasi kinerja berbahasa asli, yang mengharuskan studi empiris rinci. Mengusulkan sebuah pendekatan penilaian kinerja yang lebih deskriptif dan lebih terindividualisasi untuk mengamati perilaku asli berbahasa. Olmedo, E. "Testing Linguistic Minorities." American Psychologist (Vol. 36, #10, hal. 1078-85, 1981). Menunjukkan sejumlah faktor yang perlu disadari saat menguji siswa dari kelompok minoritas bahasa: faktor realita sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi oleh kelompok ini, serta faktor linguistik dan kultural. Menjabarkan Sistem Penilaian Mengkaji variabel Pluralistik Multikultural (SOMPA/System of Multicultural Pluralistic Assessment) sebagai sebuah alternatif untuk pengujian terstandarisasi. penerjemahan ujian, variabel penilaian bahasa dominan, dan variabel penguji. Ortiz, A. "Assessing Appropriate and Inappropriate Referral Systems for LEP Special Education Students." Dalam Focus on Evaluation (Volume 1, 1992) [lihat diatas]. Menjelaskan implikasi dari kurangnya kemajuan pendidikan para siswa Hispanik dan siswa dari kelompok minoritas bahasa lainnya di program pendidikan khusus, yang menyebabkan terlalu banyaknya jumlah siswa LEP** dalam program-program pendidikan untuk anak yang memiliki gangguan pembelajaran. Membahas proses Menunjukkan pengujian perujukan (referral) dan pra-perujukan (prereferral). dan dalam hubungan kolaboratif antara sekolah dan masyarakat. Pennock-Roman, M. The Status of Research on the Scholastic Aptitude Test and Hispanic Students in Postsecondary Education (Educational Testing Service, Princeton, NJ 08541, 1988).

bagaimana proses tersebut bisa dibuat lebih efektif bagi para siswa LEP di kelas reguler

Mengkaji penelitian tentang perbedaan antara kelompok siswa Hispanik dengan kelompok siswa Anglo pada ujian kecakapan akademis (SAT). Membahas faktorfaktor yang berhubungan dengan selisih rata-rata nilai SAT kedua kelompok, format dan isi pertanayan yang menyebabkan perbedaan kinerja kedua kelompok, validitas tes prediksi penerimaan siswa seperti SAT untuk calon mahasiswa keturunan Hispanik, dan perbedaan akses atas persiapan tes untuk kedua kelompok. Penulis meyakini bahwa hambatan terbesar untuk akses ke perguruan tinggi bagi para siswa Hispanik adalah panduan yang tidak layak dan kurangnya sumber daya sebagai akibat dari rendahnya status sosioekonomi dan orangtua yang tidak terdidik. Pennock-Roman, M. "New Directions for Research on Spanish-Language Tests and Test-Item Bias." Dalam M. A. Olivas, M.A. (Ed.), Latino College Students (New York: Teachers' College Press, 1986). Membahas isu-isu kandungan tes untuk siswa Hispanik, termasuk ketidakcocokan tes bebas budaya (culture-free) dan tes budaya khusus (culture-specific) serta tes yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Spanyol. Merangkum penelitian tentang dua tes pencapaian akademis berbahasa Spanyol (The Prueba de Aptitud Academica dan The Prueba de Admision para Estudios Graduados). Menyajikan sejumlah metode untuk mendeteksi item-item yang mengandung kesenjangan, bias dan ketidaksetaraan, serta merangkum penelitian di bidang-bidang tersebut. Royer, J.M. & Carlo, M.S. "Assessing the Language Acquisition Progress of Limited English Proficient Students: Problems and a New Alternative." Applied Measurement in Education (Vol. 4, #2, hal. 85-113, 1991). Mengkaji pengaruh kultural dan linguistik terhadap kinerja tes dan menjabarkan prosedur-prosedur yang saat ini digunakan untuk para siswa dwibahasa. Menekankan perlunya jenis tes baru dab mendeskripsikan Teknik Verifikasi Kalimat (SVT/Sentence Verification Technique). Menyajikan sejumlah metode dan hasil studi menggunakan SVT, dengan pembahasan tentang kemungkinan penggunaannya dalam program pendidikan dwibahasa transisional. Schmitt, A.P. "Language and Cultural Characteristics That Explain Differential Item Functioning for Hispanic Examinees on the Scholastic Aptitude Test." Journal of

Educational Measurement (Vol. 25, #1, Musim Semi 1988). Para peneliti EST menemukan bahwa para siswa Hispanik menunjukkan kinerja lebih baik dalam item-item (pertanyaan) ujian yang berhubungan dengan subjek-subjek yang memang menarik bagi kaum Hispanik, misalnya pertanyaan mengenai para wanita Meksiko-Amerika. Mereka memiliki kinerja lebih baik pada true cognate (kata-kata dari dua bahasa berbeda yang memiliki akar yang sama) dan kinerja lebih buruk pada homograf (kata-kata yang memiliki ejaan atau penulisan serupa tapi memiliki makna berbeda). Membahas item-item yang merugikan para siswa Hispanik yang mengikuti tes tersebut. Sosa, A.S. Assessment of Language Minority Students (San Antonio, TX: Regional Hearing on Education of Hispanics, U.S. Dept. of Education, April 1990). Didapat dari Alicia Salinas Sosa, Intercultural Development Research Association, 5835 Callaghan, Suite 350, San Antonio, TX 78228, (512) 684-8180. Menyajikan bukti dampak negatif pengujian para siswa Hispanik dengan penekanan pada penghilangan peluang pendidikan dan penetapan jalur pendidikan sebagai akibat dari penggunaan tes untuk melabeli, mengkategorisasi, dan mensegregasi (memilahmilah) siswa. Siklus merusak yang berupa rendahnya ekspektasi dan pemenuhan ekspektasi tersebut diperparah oleh praktek pengujian yang ada. Menyimpulkna bahwa prosedur pengujian yang ada sekarang jelas berkontribusi pada mutu pendidikan yang jauh lebih rendah dari yang dibutuhkan dan berhak didapatkan oleh para siswa Hispanik, dan dengan demikian meningkatkan tingkat putus sekolah para siswa tersebut. Mencakup sejumlah implikasi dan rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut. Sosa, A.S. "Bilingual Education: Heading into the 1990s: The U.S. Perspective." The Journal of Educational Issues of Language Minority Students (Vol. 10, Terbitan Khusus, Musim Semi 1992). Membahas berbagai perubahan fokus program pendidikan bilingual (dwibahasa) sejak ditetapkannya UU Pendidikan Dwibahasa (Bilingual Education Act) tahun 1968. Mengemukakan sejumlah perbedaan siswa program-program tersebut saat ini dibandingkan dengan para siswa pada saat UU tersebut pertama kali diberlakukan. Mengidentifikasi sejumlah penelitian terkini dan elemen-elemen serta masalah-masalah

program dwibahasa untuk tahun 1990-an yang perlu diatasi. Mencakup penggunaan tes untuk pelabelan dan pemilahan siswa dan kasus-kasus penolakan yang disebabkan oleh pengunaan tes-tes ini. Merupakan kompilasi abstrak dan kesaksian tertulis yang bagus dari pelaksanaan konferensi mengenai dampak pengujian terhadap para siswa keturunan Hispanik. Abstrak oleh Duran (1988) dan Pennock-Roman (1988) dikutip dalam bibliografi ini. Mencakup serangkaian luas subjek tentang pengujian siswa Hispanik dan implikasi pengujian tersebut. Taylor, O. & Lee, D.L. "Standardized Tests and African Americans: Communication and Language Issues." (Dalam Hilliard, lihat diatas, hal. 76-80). Mengandung pembahasan rinci mengenai sumber dan jenis bias kultural dan bias bahasa dalam teks terstandarisasi. Bias-bias ini menyebabkan para siswa keturunan Afrika-Amerika (terutama dari kalangan kelas pekerja kulit hitam) dan keturunan minoritas lain dinilai secara tidak valid: Sering kali . . . hasilnya tidak bisa Kesimpulannya, merepresentasikan kemampuan [siswa] sebenarnya secara akurat. terstandarisasi perlu diubah dan diperbaiki. Valdez Pierce, L. & O'Malley, J.M. Performance and Portfolio Assessment for Language Minority Students (National Clearinghouse for Bilingual Education, #9, Musim Semi 1992). Memberikan definisi dan rangkuman penilaian alternatif dan dua variasinya, penilaian kinerja dan penilaian portofolio. Merinci kedua variasi tersebut dalam hal tujuan, jenis, rancangan, penerapan, dan penilaiannya dengan penekanan pada penggunaan untuk para siswa dari kalangan minoritas bahasa. Mendata sejumlah masalah umum tentang penilaian portofolio dan memberikan penanggulangan untuk masalah-masalah tersebut. Valencia, R.R. Chicano School Failure and Success: Research and Policy Agendas for the 1990's (New York: The Falmer Press, 1991). Mencakup dua bab mengenai pengujian: The Uses and Abuses of Educational Testing, (Penggunaan dan Penyalahgunaan Pengujian Pendidikan) oleh Richard

. . . asumsi-asumsi dan paradigma-paradigma yang menjadi dasar kebanyakan tes

Valencia dan Sofia Aburto dan An Analysis of Special Education as a Response to the Diminished Academic Achievement of Chicano Students, (Analisis Pendidikan Khusus sebagai Tanggapan atas Penurunan Pencapaian Akademis Para Siswa Chicano) oleh Robert Rueda. Menyatakan bahwa warga Chicano menghadapi masalah-masalah persekolahan berikut: keterpecahan (segregasi), perbedaan kurikulum, dan kesenjangan pendanaan sekolah, yang mengakibatkan rendahnya kinerja tes para siswa. Menyatakan bahwa pendidikan khusus tidak bisa memenuhi kebutuhan para siswa Chicano karena terlalu mengandalkan model medis, alih-alih model keberagaman kultural dan linguistik sebagai faktor pembelajarannya. Valencia, R.R., Henderson, D.W., & Rankin, R.J. "Relationship of Family Constellation and Schooling to Intellectual Performance of Mexican American Children." Journal of Educational Measurement (Vol. 73, hal. 524-32, 1981). Penelitian ini meneliti dampak faktor-faktor seperti urutan kelahiran (anak keberapa), ukuran keluarga (besar atau kecil), dan jarak antara anak terhadap skor tes kecerdasan. Penulis menghipotesiskan bahwa latar belakang budaya anak-anak keturunan MeksikoAmerika dimana keluarga besar lebih disukai dan dihargai memiliki kinerja tes mental (tes kecerdasan atau intelligence) yang rendah. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa faktor pemrediksi kinerja tes mental yang paling bagus adalah faktor bahasa/persekolahan dan bahwa hubungan antara ukuran keluarga dengan kinerja tes mental paling cocok dijelaskan sebagai fungsi status sosioekonomi. Valencia, R.R. & Rankin, R.J. "Evidence of Content Bias on the McCarthy Scales with Mexican American Children: Implications for Test Translation and Nonbiased Assessment." Journal of Educational Psychology (Vol. 77, #2, hal. 197-207, April 1985). Menemukan bias konten (isi) dalam Skala Kemampuan Anak McCarthy

(MSCA/McCarthy Scales of Childrens Abilities), yang diyakini disebabkan oleh bahasa pada tes tersebut. Alasan-alasan untuk bias ini juga diusulkan dan dibahas, serta berbagai implikasi yang menyangkut penerjemahan tes, isu kesetaraan, dan penilaian non-bias. Secara singkat menyebutkan bahwa variabel sosiokultural dan variabel keluarga merupakan faktor dalam kinerja tes. Catatan: artikel ini hanya membahas

MSCA, tapi isu-isunya relevan untuk tes lain juga. Woo, J.Y.T. How to Develop Tests for Chinese Students in the United States. (New York: Department of Special Education, Hunter College of City University of New York, 1991). Menyajikan panduan untuk menyusun tes psikologi, tes kecakapan berbahasa, dan tes pencapaian akademis dalam bahasa China. Sangat menekankan bahwa teori-teori dan istilah-istilah yang umum digunakan dalam penilaian (tes) berbahasa Inggris sering kali tidak bisa diterjemahkan kedalam bahasa China. Menekankan pada perbedaan antar berbagai dialek dan ketiadaan bahasa tulis resmi dalam sejumlah dialek tertentu bahasa China. Lihat juga Handbook on the Assessment of East Asian Students (Buku Panduan Penilaian Siswa Asia Timur), oleh penulis yang sama, yang mengamati berbagai masalah tes (penilaian) secara lebih rinci dan mencakup banyak contoh dari tes-tes terkini; tersedia dari Hunter College hanya untuk orang-orang yang memiliki kualifikasi untuk menggunakan tes pendidikan dan tes psikologi. National Center for Education Statistics. The Health Literacy of Americas Adults: Results from the 2003 National Assessment of Adult Literacy. September 2006. http://nces.ed.gov/pubsearch/pubsinfo.asp?pubid=2006483. The Health Literacy of Americas Adults (Literasi Kesehatan Orang Dewasa Amerika) adalah terbitan pertama hasil penelitian literasi kesehatan National Assessment of Adult Literacy (NAAL/Penelitian Nasional tentang Literasi Dewasa). Hasil ini didasarkan pada tugas-tugas penilaian yang dirancang khusus untuk mengukur literasi kesehatan orang dewasa yang tinggal di Amerika Serikat. Literasi kesehatan dilaporkan berdasarkan empat level kinerja: Dibawah Dasar (Below Basic), Dasar (Basic), Menengah (Intermediate), dan Mahir (Proficient). Mayoritas orang dewasa (53 persen) memiliki literasi kesehatan tingkat menengah. Sekitar 22 persen memiliki literasi kesehatan Dasar, dan 14 persen memiliki literasi kesehatan Dibawah Dasar. Hubungan antara literasi kesehatan dan variabel latar belakang (seperti tingkat pendidikan, usia, ras/etnis, dimana orang dewasa memperoleh informasi mengenai isu-isu kesehatan, dan asuransi kesehatan yang dimiliki) juga diamati dan dilaporkan.