Anda di halaman 1dari 55

FREKUENSI KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK PERIODE 1 JANUARI 2000 31 DESEMBER 2001 DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh : Bambang Utoyo 99310027

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2003

HALAMAN PENGESAHAN

FREKUENSI KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK PERIODE 1 JANUARI 2000 31 DESEMBER 2001 DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Disusun oleh: BAMBANG UTOYO NIM : 99310027 Telah diseminarkan dan disetujui pada tanggal: 14 Agustus 2003 Dosen Pembimbing

(dr. Hj. Moenginah Parmono Achmad, DSAK)

Mengesahkan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Dekan

(dr. H. Erwin Santosa, Sp.A, M.Kes)

MOTTO

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri . (QS. Ar-Rad [13] : 11)
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....i HALAMAN PENGESAHAN.ii HALAMAN MOTTOiii HALAMAN PERSEMBAHANiii KATA PENGANTARiv DAFTAR ISI..vi DAFTAR TABEL.viii INTISARIix BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang..1 1.2. Perumusan Masalah..3 1.3. Tujuan Penelitian..4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Kejang Demam5 2.2. Angka Kejadian.5 2.3. Klasifikasi Kejang Demam..7 2.4. Etiologi Kejang Demam..12 2.5. Patofisiologi Kejang Demam..15 2.6. Manifestasi Klinis Kejang Demam.17 2.7. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium..18 2.8. Perbedaan Kejang Demam dan Epilepsi.19 2.9. Penatalaksanaan Kejang Demam20 2.9.1. Terapi pada fase akut...20 2.9.2. Pengobatan Profilaksis Terhadap Kambuhnya Kejang Demam22 BAB III CARA PENELITIAN 3.1. Subyek penelitian27 3.2. Pengukuran hasil penelitian27 3.3. Pelaksanaan penelitian28 3.3.1. Pengumpulan data28 3.3.2. Teknik pengolahan data..28 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian...29 4.2. Pembahasan.31 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan.37

5.2. Saran...38 DAFTAR PUSTAKA40 LAMPIRAN...42

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Penyebab demam pada 297 penderita kejang demam.............14 Tabel 2. Data penderita kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiya Yogyakarta tahun 2000..29 Tabel 3. Data penderita kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 200130 Tabel 4. Distribusi frekwensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2000-2001 berdasarkan variabel umur31 Tabel 5. Distribusi frekwensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah yogyakarta tahun 2000-2001 berdasarkan variabel jenis kelamin33

Tabel 6. Distribusi frekwensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2000-2001 berdasakan variabel suhu tubuh dengan metode Group statistics35 INTISARI Kejang demam merupakan salah satu kejadian neurologis yang sering dijumpai pada bayi dan anak. Dari penelitian oleh berbagai pakar didapatkan bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai usia 5 tahun. Peneliti di Jepang bahkan mendapatkan angka kejadian yang lebih tinggi, Maeda dkk,1993, mendapatkan angka 9,7% (pada pria 10,5% dan wanita 8,9%) dan Tsuboi mendapatkan angka sebesar 7%. Dari permasalahan yang terpapar bahwa tingginya frekuensi kejadian kejang demam yang terjadi di masyarakat, dimana obyek dari kejang demam adalah bayi dan anak-anak dan sering terjadi pengulangan serangan (kambuh) kejang demam, menyadarkan penulis untuk membahas tentang frekuensi kejang demam sederhana pada anak yang terjadi di masyarakat. Subyek penelitian yang digunakan adalah anak yang menderita kejang demam sederhana yang dirawat di bangsal anak RSU.PKU Muhammadiyah Yogyakarta .Data penelitian diperoleh dari sub bagian rekam medis RSU.PKU Muhammadiyah Yogyakarta dari tanggal 1 januari 2000 31 desember 2001. Frekuensi kejang demam sederhana yang terjadi di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta dalam kurun waktu antara tahun 2000 sampai tahun 2001 adalah sebagai berikut: pada tahun 2000 berdasarkan kelompok umur anak yaitu umur < 1 tahun 62 orang (49,2%), umur 1-4 tahun 49 orang (38,9%), pada tahun 2001 umur < 1 tahun 68 orang (44,4%), umur 1-4 tahun (47,1%). Berdasarkan kelompok suhu badan anak pada tahun 2000 adalah 38,568oC dan tahun 2001 adalah 38,791oC. Sementara itu berdasarkan kelompok jenis kelamin anak tahun 2000 pada anak laki-laki 69 orang (54,8%) dan anak perempuan 57 orang (45,2%), tahun 2001 pada anak laki-laki 88 orang (57,5%) dan pada anak perempuan 65 orang (42,5%). Dalam penanganan kejang demam sederhana sangat disadari bahwa perlunya pengetahuan pada orang tua atau pengasuh anak tentang penatalaksanaan penanganan kejang demam sederhana sehingga dapat dilakukan pertolongan secara cepat dan tepat, mencegah dan mengurangi angka kejadian kejang demam sederhana. Kata kunci : Kejang Demam Sederhana, umur, suhu badan, jenis kelamin

ABSTRACT Febris convulsion is one of the neurological symptom that usually happens to babies and children. From scientists reseaches, it can be known that approximately 2,2%-5% of children have had febris convulsion before their age of 5 year. The Japanese scientists said that theres higher incidence of febris convulsion, Maeda et al,1993 found that the incidence of 9,7% febris convulsion (10,5% are men and 8,9% are women) and Tsuboi got the percentage of 7%. We know that theres a problem about the high frequency of febris convulsion in our community, as the object of febris convulsion are babies and children, and theres a febris convulsion recurrency. It gives an idea to us to study about the incidence of simple febris convulsion in our community. The subject of this study is the children that suffered from simple febris convulsion in the children unit of RSU PKU Muhammadiyah, Yogyakarta, during January 1st, 2000 December 31st, 2001. The prequency of simple febris convulsion in RSU PKU Muhammadiyah, Yogyakarta, during the year 2000-2001 are: in the year of 2000, based on the group of age < 1 year old (62 children or 49,2 percent), 1-4 years old (49 children or 38,9 percent). In the year of 2001, based on the group of age are < 1 years old (68 children or 44,4 perceent), 1-4 years old (72 children or 47,1 percent). Based on the group of childrens body temperature in the year of 2000 are 38,568oC and in the year of 2001 are 38,791oC. based on childrens sex, in the year of 2000 are 69 boys (54,8 percent) an 57 girls (45,2 percent). In the year of 2001 are 88 boys (57,5 percent) and 65 girls (42,5 percent). In the treatment of simple febris convulsion , we must aware that we need to tell about enough knowledge about this symptom to the parents and the baby sitters. We can tell them about the treatment of simple febris convulsion, so we can help the children who are suffering from febris convulsion exactly and quickly, and we can prevent and decrease the incidence of simple febris convulsion. Keywords : simple febris convulsion, Age, Body temperature, Sex

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bahwa anak dapat mengalami kejang demam bila menderita demam telah lama di ketahui. Hipocrates, Pakar ilmu kedokteran asal Yunani yang hidup pada abad ke empat sebelum Masehi antara lain pernah menulis: kejang dapat terjadi pada anak bila terdapat demam akut sampai usia 7 tahunanak yang lebih tua dan orang dewasa tidak sama mudahnya dicekam serangan kejang, kecuali bila sebelumnya terdapat kelainan yang lebih parah dan buruk (Lumbantobing, 1995). Orang tua manapun biasanya panik bila tiba-tiba anak balitanya mengalami stuip atau kejang demam. Pada umumnya mereka mencari sendok makan yang di balut sapu tangan bersih, lalu gagang sendok tersebut di selipkan diantara gigi atas dan bawah, dengan tujuan agar jalan nafas terbuka dan lidah si anak tidak tergigit sewaktu kejang. Upaya lain, menurunkan suhu badan dengan cara mengoleskan cairan alkohol kebagian dada, tengkuk dan dahi si anak. Sedangkan secara tradisional dengan mengoleskan tumbukan bawang merah di campur jeruk nipis dan sedikit minyak kayu putih pada dada serta perut si anak. Menurut Dwi P Widodo, 2001, tindakan awal yang mesti di lakukan apabila anak terkena kejang demam adalah menempatkan anak pada posisi miring, tidak perlu

memasukan apapun diantara gigi, sedangkan menurut M.V Ghozali, 2001, anak yang sedang demam tinggi jangan di selimuti dengan selimut tebal, karena malah akan menambah demamnya akibat pembebasan panas dari dalam tubuh terhambat, selain itu pakaian yang kencang hendaknya di lepaskan. Mengoleskan alkohol juga bisa menurunkan demam, tetapi kurang di anjurkan karena di khawatirkan bisa mengenai mata. Bagi yang tidak tahan terhadap baunya, anak cukup dikompres air hangat suam-suam kuku dengan harapan saat air hangat menguap, panas dari tubuh si anak ikut terangkat (Nanny Selamihardja, 2001). Serangan kejang demam dapat terjadi satu kali, dua kali, tiga kali selama satu periode demam. Penelitian Lumbantobing angka berulangnya sangat tinggi, yaitu 65,7% selama satu periode demam. Hal itu mungkin disebabkan oleh hal berikut: 1. Sebagian besar anak tidak segera diberikan pengobatan. 2. Mungkin banyak diantara anak yang mengalami satu kali serangan kejang tidak dibawa ke rumah sakit (Lumbantobing, 1995). Kejang demam dapat berkembang sebagai faktor resiko epilepsi. Livingstone, 1980, mendapatkan 3% kejang demam sederhana menjadi epilepsi dan 93% kejang demam kompleks menjadi epilepsi. Prichard & Mc.Greal, 1974, mendapatkan 2% kejang demam sederhana menjadi epilepsi dan 33% kejang demam kompleks menjadi epilepsi. Lumbantobing, 1975, mendapatkan 6% kejang demam menjadi epilepsi (Lumbantobing, 1995).

Beberapa ahli menduga bahwa faktor resiko terjadinya kejang demam adalah adanya riwayat keluarga dengan kejang demam, ganguan kehamilan, persalinan yang sulit, kadar natrium serum darah rendah. Faktor resiko utama yang umumnya menimpa anak balita usia 3 bulan sampai 5 tahun ini adalah demam tinggi (diatas 38oC). Bisa diakibatkan oleh misalnya infeksi tenggorokan atau infeksi lain seperti radang telinga, campak, cacar air, dan lain-lain. Yang paling mengkhawatirkan kalau demam tinggi tersebut merupakan gejala peradangan otak, seperti meningitis atau ensefalitis (Nanny Selamihardja, 2001).

1.2. Perumusan Masalah Setiap dokter pasti pernah menghadapi pasien dengan kejang demam, baik pada saat pasien kejang maupun setelah kejang berhenti. Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua, sehingga sebagai dokter wajib mengatasi kejang dengan cepat dan tepat. Setelah kejang dapat ditanggulangi, sering timbul pertanyaan selanjutnya (Lumbantobing, 1995): 1. Apakah kejang demam dapat merusak otak ? 2. Apakah kejang demam harus segera dihentikan dan bagaimana caranya ? 3. Apakah kejang demam perlu dicegah agar tidak kambuh kembali dan bagaimana caranya ? 4. Seberapa besar kemungkinan penderita kejang demam menjadi epilepsi dikemudian hari ? 5. Apakah penderita kejang demam dapat menjadi bodoh, mempunyai tingkah laku yang tidak wajar ?

1.3. Tujuan Penelitian Dari permasalahan yang terpapar bahwa tingginya frekuensi kejang demam yang terjadi di masyarakat, dimana obyek dari kejang demam adalah bayi dan anak-anak dan sering terjadi pengulangan serangan (kambuh) kejang demam, menyadarkan penulis untuk membahas tentang frekwensi kejang demam sederhana pada anak yang terjadi di masyarakat. Penulis mengambil topik dengan judul Frekuensi Kejang Demam Sederhana pada anak periode 1 januari 2000 - 31 desember 2001 di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta adalah dengan maksud untuk memberikan

gambaran tentang seberapa besar angka kejadian seorang anak dapat terkena kejang demam serta memberikan gambaran tentang penatalaksanaan penanganan kejang demam sehingga dapat dilakukan pertolongan dan pengobatan secara cepat dan tepat bila anak terkena kejang demam, mencegah dan mengurangi angka kejadian kejang demam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Kejang Demam Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu (Soetomenggolo, 1995). Kejang demam merupakan loncatan listrik dari sekelompok neuron di otak, yang timbul secara mendadak, meluas ke neuron disekitarnya, atau meluas dari massa kelabu ke massa putih, dengan manifestasi kejang yang disebabkan oleh karena kenaikan suhu tubuh yang bersumber di luar otak (Freeman op.cit, Mulyani, 1994).

2.2. Angka Kejadian Kejang demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang sering dijumpai pada bayi dan anak. Dari penelitian oleh berbagai pakar didapatkan

bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai usia 5 tahun ( Hauser, 1981 ). Peneliti di jepang bahkan mendapatkan angka kejadian (insidensi) yang lebih tinggi, yaitu: Maeda dkk, 1993, mendapatkan angka 9,7 % (pada pria 10,5% dan pada wanita 8,9%) dan Tsuboi mendapatkan angka sekitar 7% (Lumbantobing, 1995 ). Dari berbagai hasil penelitian didapatkan bahwa kejang demam agak sering di jumpai pada anak laki-laki dari pada anak perempuan, dengan perbandingan berkisar antara 1,4:1 dan 1,2:1. Di dapatkan 42% dari anak berusia 6 tahun yang menderita kejang adalah kejang demam (Patrick & Levy op.cit, Mulyani, 1994). Dari 112 penderita kejang demam yang diteliti oleh Miyake dkk, 1992, 60 adalah laki-laki dan 52 perempuan. Millichap, 1968, telah mengumpulkan 29 laporan mengenai kejang demam dan mendapatkan bahwa dari 4903 penderita kejang demam, perbandingan pria dan wanita adalah 1,4:1. Sampai sekarang kejang demam merupakan kelainan yang banyak terjadi pada bangsal saraf. Kejang demam jarang terjadi pada anak yang berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun. Aicardi, 1986, menyebutkan usia rata-rata penderita kejang demam adalah usia antara 17-23 bulan, sesekali kejang demam juga dijumpai pada usia yang lebih tua yaitu 5-6 tahun. Lumbantobing, 1975, menyebutkan bahwa insiden tertinggi antara usia 6 bulan sampai 1 tahun, dari 297 penderita kejang demam yang di

telitinya. Kurang lebih 3% anak yang berumur 6 bulan sampai 9 tahun pernah menderita satu kali atau lebih serangan kejang demam (Goodridge, 1987). Doeffer dan Wasser, 1987, melaporkan bahwa insidensi kejang demam 240, 8/100000. Di Jepang penelitian yang di kerjakan oleh Tsuboi, 1986, mendapatkan insidensi kejang demam pada balita sebesar 7% (Lumbantobing, 1995). Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2-4% dari jumlah penduduk di AS, Amerika selatan, dan Eropa barat. Namun di Asia dilaporkan jumlah penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% diantara jumlah penderita menderita kejang demam kompleks yang harus ditangani secara teliti. Bila di lihat dari jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak laki-laki (Nanny Selamihardja, 2001).

2.3. Klasifikasi Kejang Demam Umumnya kejang demam dibagi menjadi 2 golongan. Kriteria untuk penggolongan tersebut dikemukakan oleh berbagai pakar. Dalam hal ini terdapat beberapa perbedaan kecil dalam penggolongan tersebut, menyangkut jenis kejang, tingginya demam, usia penderita, lamanya kejang berlangsung, gambaran rekaman otak, dan lainnya. Prichard & Mc.Greal, 1985, membagi kejang demam atas 2 golongan, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam tidak khas (atipikal). Ciri-ciri kejang demam sederhana ialah: 1. Kejangnya bersifat simetris, artinya akan terlihat lengan dan tungkai kiri

yang kejang sama seperti yang kanan

2. 3. 4. 5. 6.

Usia penderita antara 6 bulan sampai 4 tahun Suhu tubuh 100oF (37,78oC) atau lebih Lamanya kejang berlangsung kurang dari 30 menit Keadaan neurologi (fungsi saraf) normal dan setelah kejang juga normal EEG (electro enchepalography-rekam otak) yang dibuat setelah tidak

demam adalah normal. Kejang demam yang tidak memenuhi ketentuan butir tersebut diatas digolongkan sebagai kejang demam tidak khas (atipikal). Livingstone juga membagi kejang demam menjadi 2 golongan, tetapi dengan ciri-ciri yang sedikit berbeda dibanding dengan penggolongan menurut Prichard & Mc.Greal. Penggolongan kejang demam tersebut adalah kejang demam sederhana dan

epilepsi yang dicetuskan oleh demam. Ciri-ciri kejang demam sederhana ialah: 1. Kejang bersifat umum. 2. Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit). 3. Usia waktu kejang demam pertama muncul kurang dari 6 tahun. 4. Frekuensi serangan 1-4 kali dalam satu tahun. 5. EEG normal. Kejang demam yang tidak sesuai dengan ciri tersebut diatas disebut oleh Livingstone sebagai epilepsi yang dicetuskan oleh demam. Contoh epilepsi yang dicetuskan oleh demam menurut Livingstone, adalah: 1. Kejang berlangsung lama atau bersifat fokal/setempat.

2. 3. 4.

Usia penderita lebih dari 6 tahun saat serangan kejang demam pertama. Frekuensi serangan kejang melebihi 4 kali dalam satu tahun. Gambaran EEG, yang dibuat setelah anak tidak demam lagi, adalah abnormal. Bila butir diatas ditemukan pada anak dengan kejang demam maka anak tersebut digolongkan sebagai penderita epilepsi yang dicetuskan oleh demam. Fukuyama juga membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana harus memenuhi ketentuan sebagai berikut, yaitu:

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Dikeluarga penderita tidak ada riwayat epilepsi. Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun. Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan-6 tahun. Lamanya kejang berlangsung tidak lebih dari 20 menit. Kejang tidak bersifat fokal. Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca-kejang. 7. Sebelumnya tidak didapatkan abnormalitas neurologis atau abnormalitas perkembangan.

8.

Kejang tidak berulang dalam waktu singkat. Bila kejang demam tidak memenuhi kriteria tersebut diatas, maka digolongkan sebagai kejang demam jenis kompleks (Lumbantobing, 1995). Klasifikasi yang dibuat oleh Prichard & Mc.Greal, Livingstone, dan Fukuyama antara lain mengacu kepada kemungkinan angka menjadi epilepsi di kemudian hari.

Menurut pengamatan Prichard dan Mc.Greal dari kelompok anak yang menderita kejang demam sederhana kemungkinan menjadi epilepsi dikemudian hari ialah kurang dari 2%, sedangkan pada kelompok yang menderita kejang demam yang tidak khas kemungkinannya adalah sekitar 30%. Livingstone berhasil mengikuti perkembangan 201 anak dengan kejang demam sederhana selama 10 tahun lebih dan menemukan bahwa 6 (3%) diantara kelompok anak yang diamati menjadi penderita epilepsi. Selain itu Livingstone juga mengikuti perkembangan 297 anak dari kelompok epilepsi yang dicetuskan oleh demam selama 10 tahun lebih, dan menemukan fakta bahwa 273 (93%) diantara mereka menjadi epilepsi. Angka yang didapatkan Livingstone ini sangat tinggi yaitu 93%, peneliti lainnya tidak pernah ada yang mendapatkan angka setinggi itu. Di sub bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta, digunakan modifikasi kriteria Livingstone sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan-4 tahun. Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15 menit. Kejang bersifat umum. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbul demam. Pemeriksaan sebelum dan sesudah demam normal. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal

tidak menunjukan kelainan . 7. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria diatas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Kejang demam sederhana tidak meninggalkan gejala sisa, akan tetapi kejang demam kompleks dapat meninggalkan gejala sisa berupa kelainan neurologis. Kelainan neurologis terbanyak adalah Hemiparese, Diplegi, Koreoatetosis, serta retardasi mental 1995). Dengan menggunakan kriteria tersebut diatas ternyata sangat banyak (Lumbantobing, 1995; Soetomenggolo,

penderita yang termasuk golongan epilepsi yang di provokasi demam, dengan konsekuensi bahwa penderita-penderita ini harus mendapat pengobatan rumat. Banyak penderita yang hanya menunjukan kelainan EEG sedangkan kriteria yang lain tidak dipenuhi. Juga sulit sekali untuk menentukan anamnesis berapa lama demam sudah berlangsung sebelum penderita mengalami kejang. Saat ini istilah epilepsi yang diprovokasi demam telah di tinggalkan. Penderita kejang demam tidak lagi dibagi menjadi kejang demam sederhana dan epilepsi yang diprovokasi demam, tetapi dibagi menjadi penderita yang tidak perlu pengobatan rumat dan pengobatan yang memerlukan pengobatan rumat (Soetomenggolo, 1995). Sejak tahun 1995 pembagian kejang demam yang digunakan di sub bagian Saraf Anak, bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta, terdiri atas 3 macam kejang demam, yaitu : 1. Kejang demam kompleks, yaitu kejang demam yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal atau multiple (lebih dari 1 kali kejang per episode demam)

2. Kejang demam sederhana, ialah kejang demam yang tidak memenuhi kriteria kejang demam kompleks 3. Kejang demam berulang, ialah kejang demam yang timbul lebih dari satu episode demam (Soetomenggolo, 1995). Dwi P Widodo, 2001, menguraikan bahwa kejang demam dibedakan atas dua macam. Pertama, kejang demam sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit dan sama sekali tidak menimbulkan kerusakan otak ataupun membahayakan jiwa si anak. Yang kedua adalah kejang demam kompleks yang berlangsung lebih dari 15 menit dan bisa terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam. Pada umumnya kejang demam kompleks si anak mempunyai kelainan neurologi atau riwayat kejang dalam keluarganya. Karena serangannya lebih lama, maka harus segera ditanggulangi. Bila tidak, adakalanya bisa menimbulkan kerusakan otak. Kejang yang berlangsung lama dan terus menerus bisa mengganggu peredaran darah ke otak, kekurangan oksigen, kekurangan keseimbangan air dan elektrolit yang dapat mengakibatkan pembengkakan otak (Nanny Selamihardja, 2001).

2.4. Etiologi Kejang Demam Semua jenis infeksi yang bersumber diluar SSP yang menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran nafas atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, exantema subitum, bronkhitis, dan infeksi saluran kemih (Goodridge, 1987; Hendarto, 1988; Soetomenggolo, 1989).

Ada beberapa faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam, yaitu: 1). Demam itu sendiri. 2). Efek produk toksik daripada mikroorganisme (kuman dan virus) terhadap otak. 3). Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi. 4). Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit. 5). Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan tidak diketahui. 6). Gabungan semua faktor diatas. Infeksi viral paling sering ditemukan pada kejang demam. Hal ini mungkin disebabkan karena infeksi viral memang lebih sering menyerang pada anak, dan mungkin bukan merupakan sesuatu hal yang khusus. Demam yang disebabkan oleh imunisasi juga dapat memprovokasi kejang demam. Anak yang mengalami kejang setelah imunisasi selalu terjadi waktu anak sedang demam. Kejang setelah imunisasi terutama didapatkan setelah imunisasi pertusis (DPT) dan morbilli (campak) (Fenichel GM, 1982). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lumbantobing, 1975, dapat menentukan penyebab demam pada 232 dari 297 penderita. Diagnosis penyebab terutama didasarkan atas bagian tubuh yang terlibat peradangan. Ada penderita yang mengalami kelainan pada lebih dari satu bagian tubuhnya, misalnya tonsilofaringitis dan otitis media akut.

Tabel 1. Penyebab demam pada 297 penderita kejang demam: No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Penyebab demam Tonsillitis dan atau faringitis Otitis media akut (radang liang telinga tengah) Enteritis/gastroenteritis (radang saluran cerna) Enteritis/gastroenteritis disertai dehidrasi Bronkhitis (radang saluran nafas) Bronkhopneumonia (radang paru dan saluran nafas) Morbilli (campak) Varisela (cacar air) Dengue (demam berdarah) Tidak diketahui Jumlah penderita 100 91 22 44 17 38 12 1 1 66

Pada penderita kejang demam ternyata insidensi tonsillitis/faringitis, otitis media akut, dan gastroenteritis cukup tinggi, yaitu berturut 34%, 31%, dan 27%. Insiden infeksi ini memang tinggi pada anak (Lumbantobing, 1995). Millichap, 1968, di Amerika Serikat mendapatkan bahwa pada 144 episode kejang demam pada 110 anak, penyebab demamnya ialah tonsillitis atau faringitis akut 54%, otitis media akut 17%, morbili 7%, bronchitis atau pneumonia akut 6%, gastroenteritis 3%, varisela 2%, roseola infantum 1,5% , mumps

(gondongan) 1,5% , rubella (campak jerman) 0,5% , herpangina 0,5%, dan tidak diketahui 7%.

2.5. Patofisiologi Kejang Demam Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler. Jadi sumber energi di otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar neuron terdapat sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya:

1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler. 2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. 3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan. Dalam keadaan demam, kenaikan suhu 1oC pun akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal (jumlah minimal energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh) sebanyak 10%-15% sementara kebutuhan oksigen pada otak naik sebesar 20% (Nanny Selamihardja, 2001). Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang di sebut neurotransmiter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38oC sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40oC atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang

rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meniggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dan dapat menjadi matang dikemudian hari, sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi (Bagian IKA FKUI, 1985).

2.6. Manifestasi Klinis Kejang Demam Pada umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral, sering kali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tapi

setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat disertai dengan hemiparesis sementara (Hemiparesis Tood) yang belangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang terjadi pertama kali (Soetomenggolo, 1995). Suhu tubuh yang tinggi dengan kejang yang lama dapat menyebabkan nekrosis neuron dan kerusakan otak menetap. Kejang yang lama akan menyebabkan pembentukan jaringan ikat yang kemudian akan berperan sebagai fokus epilepsi. Penderita kejang demam mungkin mengalami kekambuhan, kirakira sepertiga penderita mengalami kambuh lebih dari satu kali. Kemungkinan kekambuhan bisa lebih besar bila kejang demam pertama terjadi pada usia kurang dari satu tahun. Kekambuhan pertama yang terjadi dalam tahun pertama setelah kejang demam awal, dialami oleh 75% kasus, sedangkan dalam dua tahun pertama adalah 90% kasus (Bower, 1974). Wujud kejang dapat pula berupa mata terbalik keatas disertai kekakuan atau kelemahan atau terjadi gerakan sentakan berulang tanpa di dahului kekakuan. Serangan pada umumnya timbul pada awal kenaikan suhu tubuh dan berlangsung kurang dari 10 menit. Kejang seluruh tubuh ini akan berhenti dengan sendirinya setelah mendapat pertolongan pertama. Setelah itu anak tampak capai, mengantuk dan tidur pulas. Begitu terbangun kesadaran sudah pulih kembali. (Nanny Selamihardja, 2001).

2.7. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Pada kejang demam sederhana tidak dijumpai kelainan fisik neurologik, maupun laboratorik. Pada kejang demam kompleks dijumpai kelainan fisik neurologik berupa hemiplegi, diplegi (Goodridge, 1987, Soetomenggolo, 1989, Anonim, 1994). Pada pemeriksaan EEG didapatkan gelombang abnormal berupa gelombanggelombang lambat fokal bervoltase tinggi, kenaikan aktifitas delta, spike, iritatif dengan gelombang tajam (Soetomenggolo, 1989). Perlambatan aktifitas EEG kurang mempunyai nilai prognostik, walaupun penderita kejang demam kompleks lebih sering menunjukan gambaran EEG abnormal. EEG abnormal juga tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi dikemudian hari (Soetomenggolo, 1995).

2.8. Perbedaan Kejang Demam dan Epilepsi Untuk membedakan kejang demam dengan epilepsi tentunya masingmasing mempunyai kriteria khusus tersendiri. Kriteria untuk kejang demam antara lain: 1. 2. 3. 4. Usia timbul biasanya mulai 6 bulan sampai 5 tahun. Sebelum kejang didahului oleh demam yang bersumber dari luar SSP. Sebelumnya penderita belum pernah kejang. Gambaran EEG normal.

Sedangkan kriteria untuk epilepsi diantaranya adalah: 1. Sebelum kejang tidak didahului dengan demam.

2. 3. 4.

Dapat disertai penurunan suhu tubuh, selama dan sesudah kejang. Kejang tanpa demam yang berulang. Walaupun pada saat kejang terdapat demam, tapi sebelumnya pernah

mengalami kejang tanpa demam dan lebih dari satu kali. 5. Gambaran EEG abnormal walaupun sebelum dan sesudah kejang

(Doleranzo,1991; Soetomenggolo, 1995). Epilepsi itu sendiri merupakan faktor bawaan yang disebabkan karena gangguan keseimbangan kimiawi sel-sel otak yang mencetuskan muatan listrik berlebihan di otak secara tiba-tiba. Penderita epilepsi adalah seseorang yang mempunyai bawaan ambang rangsang rendah terhadap cetusan tersebut. Cetusan bisa dibeberapa bagian otak dan gejalanya beraneka ragam. Serangan epilepsi sering terjadi pada saat ia mengalami stress, jiwanya tertekan, sangat capai, atau adakalanya karena terkena sinar lampu yang tajam. Memang, menurut survei ada sekitar 15% kasus epilepsi yang didahului dengan gejala kejang demam. Namun, kurang dari 5% anak kejang demam berkembang menjadi epilepsi. (Nanny Selamihardja, 2001).

2.9. Penatalaksanaan Kejang Demam 2.9.1. Terapi pada fase akut Pada sebagian besar kasus kejang demam, kejang berlansung singkat. Ketika penderita sampai di rumah sakit atau ditempat praktek dokter, kejang telah reda. Dalam hal demikian tindakan yang perlu adalah mencari penyebab demam, memberikan pengobatan yang adekuat terhadap penyebab penyakit tersebut,

misalnya pemberian antibiotik yang sesuai untuk infeksi. Untuk mencegah agar kejang tidak berulang kembali sebaiknya diberi antikonvulsan. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, kejang masih dapat kambuh selama anak masih demam. Pada sebagian kecil kasus, kejang masih berlangsung atau berulang lagi sewaktu anak sampai di poliklinik atau di rumah sakit. Pada anak yang sedang mengalami kejang, dilakukan perawatan yang adekuat. Penderita dimiringkan agar jangan terjadi aspirasi ludah atau lendir dari mulut. Jalan nafas dijaga agar tetap terbuka lega, tujuannya adalah agar suplai oksigen tetap terjamin. Bila perlu berikan oksigen. Fungsi vital, keadaan jantung, tekanan darah, kesadaran perlu diikuti dengan saksama. Bila penderita masih belum sadar dan keadaan tersebut berlangsung lama, harus diperhatikan kebutuhan dan keadaan cairan, kalori dan elektrolit. Suhu yang tinggi harus segera diturunkan dengan kompres dingin atau mandi air dingin atau ditempatkan di kamar ber-AC. Selimut dan pembungkus badan harus dibuka agar pendinginan badan berlangsung baik. Pemberian obat penurun demam seperti asetaminofen atau antipiretik lainnya. Bila kejang sedang berlangsung, harus segera dihentikan, ini adalah untuk mencegah agar tidak terjadi kerusakan pada otak dan meningggalkan gejala sisa atau bahkan kematian. Saat ini diazepam merupakan obat pilihan. Diazepam diberikan secara intravena atau per rektum. Dosis intravena ialah 0,3 mg per kg berat badan dan dosis per rektum ialah 5 mg bila berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg bila berat badan lebih dari 10 kg.

Berikan pula dosis awal luminal suntikan intramuskular (dosis 30 mg untuk neonatus; 50 mg untuk yang berusia 1 bulan-1 tahun, dan 75 mg untuk yang berusia lebih dari 1 tahun). Bila kejang belum juga berhenti, 15 menit kemudian diulangi lagi pemberian diazepam dengan dosis yang sama. Empat jam kemudian diberikan fenolbarbital (luminal) dengan dosis untuk hari pertama dan kedua 8-10 mg/kg berat badan/hari dibagi atas 2 dosis, dan pada hari berikutnya sampai demam reda sebanyak 4-5 mg/kg berat badan/hari dibagi dalam 2 dosis (Lumbantobing, 1995). 2.9.2. Pengobatan Profilaksis Terhadap Kambuhnya Kejang Demam Kambuhnya kejang demam perlu dicegah, karena serangan kejang merupakan pengalaman yang menakutkan dan mencemaskan bagi keluarga. Bila kejang demam berlangsung lama dapat mengakibatkan kerusakan otak yang menetap (cacat). Ada 3 upaya yang dapat dilakukan, yaitu : 1. Profilaksis intermiten, pada waktu demam. 2. Profilaksis terus-menerus , dengan obat antikonvulsan tiap hari. 3. Mengatasi segera bila terjadi serangan. a. Profilaksis intermiten Pada profilaksis intermiten, obat antikonvulsan segera diberi begitu diketahui anak mengalami demam. Untuk itu dibutuhkan obat yang bekerja cepat. Di samping itu orang tua atau pengasuh anak harus mengetahui dengan pasti kapan anak mulai demam.

Dilihat dari kemungkinan efek samping obat, cara profilaksis ini lebih menguntungkan dari pada pemberian obat yang terus menerus. Diazepam yang diberikan melalui mulut (oral) atau rectum dapat diandalkan dalam pengobatan intermiten (yaitu obat yang diberi hanya waktu demam). Dosis per rektum ialah 5 mg untuk penderita kurang dari 3 tahun dan 10 mg bagi yang berusia lebih dari 3 tahun, diulang setiap 12 jam. Secara oral dapat diberi 0,5 mg/kg berat badan/hari dibagi dalam 3 dosis bila penderita sedang demam. Martinez dkk, 1990, menggunakan klonasepam sebagai obat antikonvulsan intermiten. Peneliti itu telah mempelajarinya pada 100 anak (52 wanita, 48 pria) dengan dosis 0,03 mg/kg berat badan/dosis tiap 8 jam selama suhu diatas 37oC dan dilanjutkan selama masih demam. Didapatkannya bahwa kambuh terjadi hanya pada 2,5%. Frekuensi ini lebih kecil dibandingkan dengan yang dilaporkan di kepustakaan bagi penderita tanpa profilaksis. Tachibana dkk, 1985, meneliti khasiat supositoria kloralhidrat (dengan dosis 250 mg bagi berat badan yang kurang dari 15 kg, dan 500 mg bagi yang lebih dari 15 kg) yang diberikan bila suhu diatas 38oC. Kambuh terjadi pada 6,8% penderita yang menggunakan supositoria kloralhidrat, dan 32% pada yang tidak menggunakannya. Mereka berpendapat bahwa supositoria kloralhidrat efektif dalam mencegah kejang demam. Anak yang hanya diberi antipiretik tidak terlindung dari kambuhnya kejang demam. Camfield, 1980, melakukan penelitian secara acak-buta ganda dengan kelola, membandingkan kelompok anak yang diberikan fenolbarbital tiap

hari ditambah antipiretik pada saat demam, dengan kelompok anak yang diberi plasebo (obat kosong) tiap hari ditambah antipiretik saat demam. Pada kelompok anak yang diberi fenolbarbital dan antipiretik tingkat kambuh kejang demam ialah 5%, sedang pada kelompok dengan plasebo dan antipiretik tingkat kambuh ialah 25% (Lumbantobing, 1995). b. Profilaksis Terus menerus (rumat, maintenance) Dari penelitian didapatkan bahwa pemberian fenolbarbital rumat dapat mengurangi kambuhnya sebanyak dua pertiga (dari 30% menjadi 8-12%). Efek profilaksis ini tidak didapatkan bila digunakan fenitoin atau karbamazepin. Obat lain yang dapat juga digunakan untuk profilaksis kejang demam ialah asam valproat. Di Jepang, Matsumo pada tahun 1992, melakukan survei pada dokter anak melalui kuesioner untuk mengetahui obat anti konvulsan yang digunakan sebagai terapi pada kejang demam. Didapatkan 120 responden (62,8%) responden. Ternyata bahwa pada pengobatan rumat 67% menggunakan fenolbarbital (dosis 35 mg/kg berat badan/hari) dan 31% menggunakan asam valproat (dosis 20-40 mg/kg berat badan/hari). Pada pengobatan intermiten, 66% menggunakan diazepam (0,3-0,5 mg/kg berat badan/hari) dan supositoria kloralhidrat digunakan oleh 23%, sedang yang 11% selebihnya menggunakan obat lain termasuk fenolbarbital dan asam valproat. Pada profilaksis terus menerus harus dipertimbangkan antara khasiat obat dan efek sampingnya. Efek samping yang sering dijumpai pada fenolbarbital ialah perubahan watak, gangguan tingkah laku, hiperaktivitas, pada 20-40% anak. IQ

dapat pula menurun. Asam valproat lebih sedikit mengakibatkan gangguan atau perubahan tingkah laku, namun obat ini bersifat hepatotoksik. Untuk itu fungsi hati harus dipantau secara teratur melalui pemeriksaan laboratorium. Dosis fenolbarbital ialah 3-4 mg/kg berat badan/hari dan asam valproat adalah 15-30 mg/kg berat badan/hari. Kadar obat didalam darah yang optimal bagi fenolbarbital ialah 15-25 mkg/l, bagi asam valproat ialah 50-80 mkg/l. Farwell dkk, 1990, melakukan penelitian untuk melihat efek samping fenolbarbital terhadap fungsi intelektual pada penderita kejang demam yang diberi fenolbarbital rumat. Setelah pengobatan selama 2 tahun didapatkan penurunan IQ sebanyak 7 angka pada penderita yang mendapat fenolbarbital dibanding yang mendapat plasebo. Mengingat efek samping obat, hendaknya pengobatan rumat dibatasi pada yang perlu saja, kejang demam yang sederhana tidak membutuhkan pengobatan rumat. Consensus Statement di Amerika Serikat, mengemukakan kriteria yang dapat dipakai untuk pemberian terapi rumat. Profilaksis tiap hari dapat di beri pada keadaan berikut: 1) Bila terdapat kelainan perkembangan neurologi (misalnya cerebral palsy, retardasi mental, mikrosefali). 2) Bila kejang demam berlangsung lebih lama dari 15 menit, bersifat fokal, atau diikuti kelainan neurologis sepintas atau menetap. 3) Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik pada orang tua atau saudara kandung.

Lama pemberian terapi rumat yang dianjurkan ialah sampai sekurangkurangnya 2 tahun, atau sampai 1 tahun sejak kejang terakhir. Penghentian antikonvulsan dilakukan bertahap selama 1-2 bulan. Millichap, 1991, merekomendasikan beberapa hal dalam upaya mencegah dan menghadapi kejang demam, yaitu: 1) Orang tua atau pengasuh anak harus penanganan demam dan kejang. 2) Profilaksis intermiten dengan diazepam per oral dengan dosis 0,5 mg/kg berat badan/hari, dibagi dalam beberapa dosis, bila anak menderita demam. Sebagai alternatif dapat juga diberikan profilaksis terus menerus dengan fenolbarbital. 3) Memberikan diazepam per rectum bila terjadi kejang. 4) Bila sekiranya terdapat indikasi pemberian fenolbarbital rumat, pemberian sebaiknya dibatasi sampai 6-12 bulan kejang tidak kambuh lagi, dan kadar fenolbarbital didalam darah (15 mkg/ml) dipantau tiap 6 minggu-3 bulan, dan juga dipantau keadaan tingkah laku dan psikologis anak (Lumbantobing, 1995). di beri cukup informasi mengenai

BAB III CARA PENELITIAN 3.1. Subyek penelitian Subyek penelitian yang digunakan adalah anak yang menderita kejang demam sederhana yang dirawat di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta . Data penelitian diperoleh dari sub bagian rekam medis RSU PKU

Muhammadiyah Yogyakarta dari tanggal 1 januari 2000 31 desember 2001.

3.2. Pengukuran hasil penelitian 3.2.1. Alat ukur dan cara pengukuran Alat ukur yang digunakan adalah catatan rekam medis RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta, sedangkan cara pengukuran dilakukan dengan cara menghitung prosentase dari hasil data rekam medik. Pengukuran hasil penelitian ini akan menggambarkan jumlah kasus berdasarkan faktor resiko yang diteliti. Gambaran tersebut akan disajikan dalam bentuk tabulasi distribusi frekuensi, karena data yang digunakan berdasarkan catatan rekam medik sehingga validitas dan reliabilitas data sangat tergantung pada metode, alat ukur yang digunakan dan kecermatan penelitian. 3.2.1. Variabel penelitian Variabel-variabel yang dicatat dalam penelitian: Umur anak Suhu badan anak

Jenis kelamin anak

3.3. Pelaksanaan penelitian 3.3.1. Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan melihat kembali kartu status yang ada di catatan bagian pencatatan rekam medik RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Data diambil dan dicatat dari formulir rekam medik mengenai umur anak, suhu badan anak, dan jenis kelamin anak. 3.3.2. Teknik pengolahan data Penelitian ini disajikan dalam bentuk analisis deskriftif dengan menghitung distribusi frekuensi terhadap tiap-tiap variabel dengan menggunakan metode cross sectional dari data sekunder yaitu mengambil data dari rekam medis di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Dari data yang terkumpul, kemudian dilakukan analisis data sebagai berikut: a. Distribusi frekuensi penderita kejang demam sederhana berdasarkan umur anak. b. Distribusi frekuensi penderita kejang demam sederhana berdasarkan jenis kelamin anak. c. Distribusi frekuensi penderita kejang demam sederhana berdasarkan suhu badan anak

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian dari data sekunder di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta diperoleh data sebagai berikut dalam bentuk tabel: Tabel 2. Data penderita kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2000 No Bulan Jumlah Jenis kelamin Umur Kejadian Kasus L P < 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah 7 12 15 14 5 11 5 16 13 12 10 6 126 4 7 9 6 4 7 2 8 6 6 6 4 69 3 5 6 8 1 4 3 8 7 6 4 2 57 5 4 8 8 4 6 2 9 3 5 4 4 62 2 8 5 5 1 5 3 3 6 4 5 2 49 0 0 2 1 0 0 0 4 4 3 1 0 15

Dari tabel 2. tersebut diatas diperoleh data bahwa jumlah penderita kejang demam pada tahun 2000 sebanyak 126 orang, dan terbagi kedalam kelompok jenis kelamin yaitu: 69 orang penderita laki-laki, 57 orang perempuan, serta terbagi kedalam kelompok umur penderita, yaitu: umur < 1 tahun 62 orang, umur 1-4 tahun 49 orang, dan umur 5-14 tahun sebanyak 15 orang.

Tabel 3. Data penderita kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2001 No Bulan Jumlah Jenis Umur kasus Kelamin L P < 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 1 Januari 23 16 7 10 9 4 2 Februari 20 16 4 6 11 3 3 Maret 8 4 4 4 4 0 4 April 12 4 8 4 8 0 5 Mei 15 5 10 7 7 1 6 Juni 16 11 5 5 9 1 7 Juli 15 13 2 8 7 0 8 Agustus 15 4 11 11 3 1 9 September 12 4 8 3 8 1 10 Oktober 5 4 1 4 1 0 11 November 3 2 1 2 1 0 12 Desember 9 5 4 4 4 1 Jumlah 153 88 65 68 72 13 Dari tabel 3. tersebut diatas diperoleh data bahwa penderita kejang demam pada tahun 2001 sebanyak 153 orang. Data ini terbagi kedalam variabel jenis kelamin yaitu terdiri dari 88 orang penderita laki-laki, 65 orang penderita perempuan, dan data ini juga termasuk kedalam variabel umur yaitu: umur < 1 tahun 68 orang, umur 1-4 tahun 72 orang, dan umur 5-14 tahun 13 orang.

4.2. Pembahasan Tabel 4. Distribusi frekuensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2000-2001 berdasarkan variabel umur. a. Dengan menggunakan metode Cross-tab Umur Tahun Total 2000 2001 < 1 tahun Count 62 68 130 % within umur 47,7% 52,3% 100,0% % within tahun 49,2% 44,4% 46,6% 1 4 tahun Count 49 72 121 % within umur 40,5% 59,5% 100,0% % within tahun 38,9% 47,1% 43,4% 5 14 tahun Count 15 13 28 % within umur 53,6% 46,4% 100,0% % within tahun 11,9% 8,5% 10,0% Total Count 126 153 279 % within umur 45,2% 54,8% 100,0% % within tahun 100,0% 100,0% 100,0% Dengan menggunakan metode Cross-tab diatas dapat diketahui bahwa jumlah penderita kejang demam sederhana berdasarkan variabel umur pada tahun 2000 adalah 126 orang, yaitu terdiri dari penderita yang berumur < 1 tahun sebanyak 62 orang (49,2%), umur 1-4 tahun 49 orang (40,5%), dan umur 5-14 tahun 15 orang (11,9%). Sementara itu pada tahun 2001 didapatkan jumlah

penderita kejang demam sederhana sebanyak 153 orang, yang terdiri atas penderita yang berumur < 1 tahun adalah 68 orang (44,4%), umur 1-4 tahun 72 orang (47,1%), dan umur 5-14 tahun sebanyak 13 orang (8,5%). Dengan melihat hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penderita yang mengalami kejang demam sederhana banyak terjadi pada umur < 1 tahun pada tahun 2000 dan umur 1-4 tahun pada tahun 2001, hal ini sesuai dengan klaifikasi kejang demam sederhana menurut sub bagian Saraf Anak FK UI Jakarta yaitu umur anak mengalami kejang demam antara 6 bulan 4 tahun.

Sampai sekarang kejang demam merupakan kelainan yang banyak terjadi pada bangsal saraf. Kejang demam jarang terjadi pada anak yang berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun. Aicardi, 1986, menyebutkan usia rata-rata penderita kejang demam adalah usia antara 17-23 bulan, sesekali kejang demam juga dijumpai pada usia yang lebih tua yaitu 5-6 tahun. Lumbantobing, 1975, menyebutkan bahwa insiden tertinggi antara usia 6 bulan sampai 1 tahun, dari 297 penderita kejang demam yang di telitinya. Kurang lebih 3% anak yang berumur 6 bulan sampai 9 tahun pernah menderita satu kali atau lebih serangan kejang demam (Goodridge, 1987). b. Berdasarkan metode Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Liner-by-linear association N of valid cases 2,199a 2,202 ,029 279 Df 2 2 1 Asymp.Sig. (2-sided) ,333 ,333 ,864

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12,65.

Metode Chi-Square Tests ini digunakan untuk melihat perbandingan frekuensi kejadian kejang demam sederhana pada anak antara tahun 2000 dengan tahun 2001. Dari tabel 4.b. tersebut diatas dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok terjadinya kejang demam sederhana antara tahun 2000 dengan tahun 2001, hal ini dapat dilihat dengan hasil perhitungan dimana nilai p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari kelompok variabel umur antara tahun 2000 dengan tahun 2001 terhadap peningkatan frekuensi kejadian kejang demam sederhana.

Tabel 5. Distribusi frekuensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah yogyakarta tahun 2000-2001 berdasarkan variabel jenis kelamin a. Metode Cross-tab Jenis Tahun Total kelamin 2000 2001 Laki-laki Count 69 88 157 % within jenis kelamin 43,9% 56,1% 100,0% % within tahun 54,8% 57,5% 56,3% Perempuan Count 57 65 122 % within jenis kelamin 46,7% 53,3% 100,0% % within tahun 45,2% 42,5% 43,7% Total Count 126 153 279 % within jenis kelamin 45,2% 54,8% 100,0% % within tahun 100,0% 100,0% 100,0%

Dari tabel 5.a. dengan menggunakan metode Cross-tab didapatkan hasil bahwa frekuensi kejadian kejang demam sederhana pada tahun 2000 adalah 69 orang ( 54,8%) pada anak laki-laki, dan 57 orang (45,2%) pada anak perempuan. Sementara itu pada tahun 2001 didapatkan 88 orang (57,5%) pada anak laki-laki dan 65 orang (42,5%) pada anak perempuan. Dengan melihat hasil tersebut diatas dapat diketahui bahwa jumlah penderita kejang demam sederhana pada anak lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, hal ini sesuai dengan pendapat Miyake dkk, 1992, dimana dari 112 penderita kejang demam yang diteliti diantaranya 60 adalah lakilaki dan 52 perempuan. Millichap, 1968, telah mengumpulkan 29 laporan mengenai kejang demam dan mendapatkan bahwa dari 4903 penderita kejang demam, perbandingan pria dan wanita adalah 1,4:1. Dari berbagai hasil penelitian didapatkan bahwa kejang demam agak sering di jumpai pada anak laki-laki dari pada anak perempuan, dengan perbandingan berkisar antara 1,4:1 dan 1,2:1. Di dapatkan 42 % dari anak berusia

6 tahun yang menderita kejang adalah kejang demam ( Patrick & Levy op.cit, Mulyani, 1994 ). b. Metode Chi-square tests Value Pearson Chi-square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fishers Exact test Linear-by-Lynear Association N of valid Cases ,213b ,116 ,213 ,212 279 Df 1 1 1 1 Asymp. Sig (2-sided) ,644 ,734 ,644 ,645 Exact Sig. (2-sided) Exact sig. (1-sided)

,716

,367

a. Computed only for a 2x2 table. b. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 55,10.

Dari tabel 5.b. tersebut diatas dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok terjadinya kejang demam pada tahun 2000 dengan tahun 2001 berdasarkan penggolongan variabel jenis kelamin, hal ini dapat dilihat dengan hasil perhitungan dimana nilai p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari kelompok variabel jenis kelamin terhadap peningkatan frekuensi kejadian kejang demam sederhana antara tahun 2000 dengan tahun 2001.

Tabel 6. Distribusi frekuensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2000-2001 berdasakan variabel suhu tubuh dengan metode Group statistics Tahun N Mean Std. Std. Error Deviation Mean Suhu 2000 126 38,568 ,916 ,082 Tubuh 2001 153 38,791 ,908 ,074 (oC) Dari tabel 6. tampak bahwa pada tahun 2000 frekuensi suhu tubuh yang dapat menimbulkan gejala kejang demam adalah 38,568oC, sementara itu pada tahun 2001 adalah 38,791oC, hal ini sesuai dengan pendapat Prichard & Mc.Greal, 1985, dimana suhu tubuh yang dapat menimbulkan kejang demam sederhana adalah 100oF (37,78oC) atau lebih., dan juga sesuai dengan pengertian dari kejang demam itu sendiri yaitu bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38oC sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40oC atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. Dalam keadaan demam, kenaikan suhu 1oC pun akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal (jumlah minimal energi yang dibutuhkan untuk

mempertahankan fungsi vital tubuh) sebanyak 10%-15% sementara kebutuhan oksigen pada otak naik sebesar 20% (Nanny Selamihardja, 2001).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. 2. Frekuensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta berdasarkan variabel jenis kelamin adalah sebagai berikut: Tahun 2000 adalah: a. Pada anak laki-laki: 69 orang ( 54,8%). b. Pada anak perempuan: 57 orang (45,2%). Sedangkan pada tahun 2001 adalah: a. Pada anak laki-laki: 88 orang (57,5%). b. Pada anak perempuan: 65 orang (42,5%). 3. Frekuensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta berdasarkan variabel umur adalah sebagai berikut: Tahun 2000 sebagai berikut: a. Umur < 1 tahun adalah 62 orang (49,2%). b. Umur 1-4 tahun adalah 49 0rang (38,9%) c. Umur 5-14 tahun adalah 15 orang (11,9%)

Tahun 2001 sebagai berikut: a. Umur < 1 tahun adalah 68 orang (44,4%). b. Umur 1-4 tahun adalah 72 orang (47,1%). c. Umur 5-14 tahun adalah 13 orang (8,5%). 4. Frekuensi kejang demam sederhana pada anakdi RSU PKU

Muhammadiyah Yogyakarta berdasarkan variabel suhu tubuh adalah sebagai berikut: a. Tahun 2000 adalah 38,568oC. b. Tahun 2001 adalah 38,791oC.

5.2. Saran 1. Diperlukan penelitian yang lebih intensif lagi dengan menggunakan variabel yang lebih banyak dan dalam jangka waktu yang lebih lama sehingga didapatkan data yang maksimal. 2. Tetaplah tenang jika anak terkena kejang demam,berikan obat penurun panas dan kompres saat anak mulai demam, posisi kepala lebih rendah dari kaki, miring kekiri untuk menghindari bahaya aspirasi, bebaskan jalan nafas, jauhkan dari benda keras atau berbahaya, jangan memasukan benda apapun kedalam mulut anak, hindarkan lidah tergigit, segera bawa ke dokter atau ke rumah sakit bila kejang tidak dapat di tanggulangi. 3. Apabila didapatkan anak dengan suhu badan yang tinggi (38oC atau lebih) maka sebaiknya orang tua atau pengasuh waspada dan mengusahakan agar suhu badannya dapat turun.

4. Pada anak yang pernah satu kali atau lebih menderita kejang demam maka orang tua atau pengasuh seharusnya lebih memperhatikan dan siaga dengan menyediakan obat antipieretik dan anti konvulsan (sesuai dengan resep dokter) karena kemungkinan dapat terjadi kejang demam berulang. 5. Untuk anak pada usia antara 6 bulan sampai 5 tahun dari keluarga dengan riwayat kejang tanpa demam (epilepsi) dan kejangnya berlangsung lama (lebih dari 15 menit), perlu mendapat perhatian dan konsultasi ke dokter syaraf.

DAFTAR PUSTAKA

Aicardi, J. 1986, Epilepsy in Children. Raven Press, New York. Anonim, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Surabaya. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, 1985, Kejang Demam, FKUI, Jakarta : 84755. Endy, 2002, Kejang Demam, Bahan Kuliah IKA, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hauser, AW., and Annegers, J.F, 1987, Prognosis of Children with Febrile Seizure. in Wolf, P, Damm, M., Janz, D., and Dreifuss, F.E. eds. Advencees in Epileptology, XVI th Epilepsy international symposium, Reven Press, New York. Livingstone, S. , 1970, Seizure Disorders dalam S.S. Gellis and B.M. Kagen (eds), Current Pediatrics Therapy 6 th, Philadelphia WB. Saunders Company, P. 129. Lumbantobing, 1995, Kejang Demam (Febrile Convulsion), Balai Penerbit FK UI, Jakarta Muhrodji, 1994, Kejang Demam Sederhana, Tugas Akhir sub bagian Neurologi Laboratorium IKA FK UGM UPF Anak RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta Mulyani, NS, 1994, Kejang Demam, Diajukan sub bagian Neurologi Laboratorium IKA FK UGM UPF Anak RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta

Nanny Selamihardja, 2001, Tetaplah Tenang Jika Anak Kejang Demam, www. intisari kesehatan.com. Soetomenggolo, T.S., 1989, Kejang Demam. Dalam Lumbantobing, S.M dan Ismael,H.S eds. Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Demam Pada Anak, FKUI. Jakarta. Soetomenggolo, 1995, Kejang Demam dan Penghentian Kejang, Kelainan Neurologis dalam Praktek Sehari-hari 210-220, Jakarta Yuniarti, Evi, 1999, Kejang Demam, Referat untuk memenuhi syarat dalam Program Studi Kepaniteraan di bagian Ilmu Kesehatan Anak, RSUP Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto Soetomenggolo, T.S., 1989, Kejang Demam. Dalam Lumbantobing, S.M dan Ismael,H.S eds. Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Demam Pada Anak, FKUI. Jakarta.

LAMPIRAN Data penderita kejang demam sederhana tahun 2000 Jenis kelamin Umur (tahun) No L P <1 1-4 1 x x 2 x x 3 x x 4 x x 5 x x 6 x x 7 x x 8 x x 9 x x 10 x x 11 x x 12 x x 13 x x 14 x x 15 x x 16 x x 17 x x 18 x x 19 x x 20 x x 21 x x 22 x x 23 x 24 x x 25 x x 26 x 27 x x 28 x x 29 x x 30 x x 31 x x 32 x x 33 x x 34 x x 35 x x 36 x x 37 x x 38 x x 39 x x 40 x x Suhu badan (oC) 38 39 39 37 38 40 38 38,5 37,5 36,7 39,5 37,3 38 38 39,5 39 38,5 39,5 38,5 39,5 38 39 38 37,5 38 39 38 39 39 36 39 38,5 38,5 39 36,5 38,5 38,5 38,5 38 37,5

5-14 x x -

41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x -

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x

x x x x x x x x x x x x x x x x -

x x x -

39,5 37,5 39 37,5 37,5 38 39 40 39 39 38 37,5 39 38 37 38,5 38 40 38 38 37,5 39 39 40 39 38,5 38 39 39,5 39,5 38 37,7 38 40,3 37,5 39,5 39 37,2 38,2 40,4 41,2 39 40 37,5

85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 Jumlah

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 69

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 57

x x x x x x x x x x x x x x x x 62

x x x x x x x x x x x x x x x x x 49

x x x x x x x x 15

36,5 38,5 38 39 37,8 38,5 39 39,5 38 39 38 39 37,5 39,5 36,5 39,3 41 39 37,5 39 39 39 39,5 37,8 39,5 38 38,5 39 40 38,5 40 39,5 39,5 38,5 38,5 37 39 39,5 38 38 37,7 39 38,568

Data penderita kejang demam sederhana tahun 2001 Jenis kelamin Umur (tahun) No L P <1 1-4 1 x x 2 x x 3 x x 4 x x 5 x x 6 x x 7 x x 8 x x 9 x x 10 x 11 x 12 x 13 x x 14 x x 15 x x 16 x x 17 x x 18 x x 19 x x 20 x x 21 x 22 x x 23 x x 24 x x 25 x x 26 x x 27 x x 28 x x 29 x 30 x x 31 x x 32 x x 33 x x 34 x 35 x x 36 x x 37 x 38 x x 39 x x 40 x x 41 x x

5-14 x x x x x x x -

Suhu badan (oC) 38 38 38,2 39 38 39,5 38,5 39,5 39 37,5 38,7 37 38 37,6 38,5 37 39,5 39,2 38,8 40 39 39 38 39 37 38 38 38 39 40 40,5 39 38 37 40 38 36,8 38,5 38 38,2 38

42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85

x x x x x x x x x x x x x x x x x

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x -

x x x x x x x x x x x x x x x x x -

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x -

x x -

38,5 40 40,5 38,7 38 39 38 40 40 39 39 39 40 39 39,5 39,7 38 40,5 39,5 38 39 38 39 40,5 38 39 38,8 40 39 39 38 39,5 39 39,5 38 37,8 36,5 39 40 39 39,5 38,5 38 39

86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x

x x x x x x x x x x x x x x x x x -

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x -

x x x x x x x x x x x x x x x x x x

x x -

39 39,5 38 40 40,5 39,5 39,5 39 38,5 38 39,6 39 40 38 37,5 40 40 39 39,5 39,5 39 39 39,5 39 39 39 38,5 37,5 37,5 40 39,8 39,5 39 39,5 40 37 39 38 38 38,5 39,6 39,3 40 39

130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 Jumlah

x x x x x x x x x x x x 153

x x x x x x x x x x x x 88

x x x x x x x x x x x x 65

x x x x x x x x x x x 68

x x 72

37 39 38 38,7 38,5 37 39 39 38,7 40 38,5 39 38,5 39,4 40 39,5 40 38 37,9 39 37 36,8 38,5 38,5 38,791

Keterangan: (x) = terjadi (-) = tidak terjadi